Makalah Korelasi Pendidikan Agama Islam Pengertian Iman dan Tawakkal

Advertisement

Makalah Korelasi Pendidikan Agma Islam 

Pengertian Iman dan Tawakkal

A. Latar Belakang Makalah


Dalam perkembangannya ilmu pengetahuan tidak bisa dilepaskan dari peranan agama dalam membackup konsep-konsep yang dihasilkan oleh ilmu tersebut, seperti ketika berbicara tentang konsep ketuhanan yang tidak dapat dirasionalkan secara pasti “siapakah Tuhan itu?” dan “seperti apakah wujud Tuhan itu sendiri”, di sinilah peran agama sangat dibutuhkan yaitu sebagai benteng diri dari hal-hal yang dapat merusak keimanan dalam meyakini keberadaan tuhan.

Makalah Pendidikan Agama Islam tentang Iman dan Tawakkal 01
Keberadaan alam semesta beserta isinya merupakan contoh yang tidak dapat dipungkiri dalam memahami keberadaan Tuhan, dapat dianalogikan “sebuah kursi itu ada karena ada yang membuatnya.”

Untuk dapat menerima konsep ketuhanan tersebut, tidak semudah membalik telapak tangan. Tetapi manusia akan senantiasa mencari kebenaran tersebut untuk mencukupi kebutuhan rohani/spiritualnya.

Islam adalah suatu tawaran yang bagus untuk memenuhi kebutuhan spiritual beragama tersebut. Didalamnya disebutkan apa saja yang wajib diimani seseorang dengan tanpa keraguan. Tuhan itu ada, namun akal manusia tidak mampu mendefinisikan wujud-Nya. Ini disebabkan Dzat Tuhan itu unmateriil, sementara apa saja yang dikonsep oleh akal itu selalu bersifat materiil dan rasional. Jadi wajar saja bahwa Dzat Tuhan itu tidak bisa didefinisikan akal.

Tanpa adanya rasa keimanan pada diri seseorang, maka mungkin saja dia menganggap bahwa Tuhan itu tidak nyata dan tidak ada. Sebenarnya bisa saja wujud keberadaan-Nya tersebut diketahui, yaitu dengan melihat berbagai ciptaan-Nya yang bertebaran di muka bumi , tapi itupun bukan dalam artian wujud-Nya secara hakiki karena sehebat-hebatnya akal pun tetap takkan bisa mendeskripsikan-Nya dengan benar. Begitu banyak cara yang bisa dan harus dilakukan oleh orang Mukmin untuk mengaplikasikan keimanannya, dan salah satunya adalah dengan berserah diri kepada Allah SWT atau biasa disebut dengan tawakal.

Berbicara mengenai keimanan dan tawakal, ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan di sini. Pertama, mengenai definisi iman dan tawakal itu sendiri bagaimana. Selanjutnya apa fungsi keimanan pada penerapannya di kehidupan sehari-hari. Untuk itu, pemakalah mengambil beberapa rumusan masalah yang akan menjadi pokok pembahasan kali ini, yaitu:

a. Apakah iman itu?
b. Apakah tawakal itu?
c. Siapakah Mukmin yang ideal itu?
d. Hubungan iman dan tawakal
e. hikmah bertawakal.

BAB II
Makalah Korelasi Pengertian Iman dan Tawakkal

Pengerian Iman

Iman adalah inti dari sifat-sifat positif. “percaya” merupakan sumber dan pencipta nilai-nilai keislaman yang sebenarnya, dan tidak ada nilai yang mungkin ada dalam Islam yang tidak berdasarkan kepercayaan yang sungguh-sungguh kepada Tuhan dan wahyu-Nya. Jadi iman adalah mengucapkan dengan lisan, membenarkan dengan hati, dan mengejakan dengan anggota badan.

Setelah mengetahui definisi iman di atas, maka iman tidak hanya bersifat teologis-filosofis saja, melainkan juga bersifat pratis-aplikatif. [1] Saidina Anas meriwayatkan bahawa Nabi Muhammad bersabda, maksudnya: "Islam itu terang dan nyata, sementara iman itu di dalam hati." Sambil baginda menunjukkan ke dadanya.”

Iman itu sebenarnya lebih khusus daripada Islam. Sebab itu, dalam hadis Jibril ketika datang bertanyakan Rasulullah, dimulai dengan pertanyaan apakah Islam, kemudian apakah iman dan akhirnya apakah ikhsan. Ini jelas menunjukkan bahawa ketiga-tiga istilah itu berbeda pengertiannya, yaitu Islam lebih umum manakala iman lebih khusus dan ihsan lebih khusus lagi.

Iman itu pula bercabang-cabang dan berperingkat-peringkat, tidak sama antara seseorang dengan yang lain. Ia kadang kala bertambah dan berkurang, kuat dan lemah, hidup dan mati. Sabda Rasulullah bermaksud: "Iman itu 60 lebih cabangnya. Yang paling tinggi ialah kata-kata: La Ilaha Illallah (tiada tuhan melainkan Allah) manakala yang paling rendah adalah membuang duri daripada jalan.

Orang Beriman yang Ideal

Bagaimanakah orang beriman menurut al-Qur’an? Apakah atau bagaimana seharusnya, ciri-ciri khas dari keimanan? Singkatnya, orang beriman ideal, yang diharapkan, dalam konteks kemasyarakatan dan dalam konteks kehidupan keagamaan?

Allah berfirman dalam al-Qur’an, maksudnya: "Sesungguhnya orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gementarlah hati mereka dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (kerananya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakal (iaitu) orang yang mendirikan solat dan yang menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh darjat ketinggian di sisi Tuhannya dan keampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia." - (Al-Anfal: 2-4).

Menerusi ayat tadi, Allah menyebut lima sifat yang menjadikan tanda dan bukti mukmin sejati. Pertama, hatinya gemetar dan merasa takut ketika menyebut nama Allah yang mengatur sekelian alam ini.

Adapun orang yang tidak merasa gerun dan rendah hatinya ketika menyebut dan mengingati Allah, maka itu adalah tanda hatinya tidak hidup dan aktif, tidak mengetahui sejauh mana kekuasaan dan keagungan Allah. Firman Allah, maksudnya: "Belumkah datang waktunya bagi orang beriman untuk tunduk hati mereka mengingati Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka) dan janganlah mereka seperti orang yang sebelumnya sudah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan daripada mereka adalah orang yang fasik." - (Al-Hadid: 16).

Kedua, apabila mendengar ayat-ayat Allah dibaca, bertambahlah imannya, kuat serta teguh keyakinannya dan meningkat pula ilmunya. Hati seorang mukmin sesungguhnya sentiasa sedar dan insaf dengan berzikir dan menyebut Allah. Terubat jiwanya yang sakit, terselamat tindakannya daripada perkara yang mungkar. Firman Allah bermaksud: "Dan apabila diturunkan suatu surah, maka di antara mereka (orang munafik) ada yang berkata: "Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surah ini?" Adapun orang yang beriman maka bertambah imannya sedang mereka merasa gembira." - (Al-Taubah: 124).

Sebaliknya orang yang jiwanya berpenyakit akan berat mendengar bacaan ayat-ayat Allah. Hati mereka benci daripada berzikir kepada Allah. Merekalah tidak akan mendapat faedah daripada peringatan, malah akan lebih bertambah kekufurannya. Firman Allah bermaksud: "Dan adapun orang yang di dalam hatinya ada penyakit maka bertambah kekufuran mereka di samping kekufurannya (yang ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir." - (Al-Taubah: 125).

Beberapa ayat di atas turut menjelaskan bahawa iman itu bertambah dan berkurang, maju dan mundur, hidup dan mati. Justeru, setiap Muslim seharusnya berusaha kuat secara berterusan demi menyuburkan imannya agar sentiasa segar dan kuat, bertenaga dan aktif.

Ketiga, hendaklah bertawakal kepada Allah. Tawakal bererti bergantung sepenuhnya kepada Allah dalam menyampaikan kepada matlamat dan natijah yang diharapkan daripada segala kerja yang dijalankan. Apabila ia memulai sesuatu kerja maka yakinlah bahawa dia tidak akan dapat memetik buah dan hasilnya kecuali dengan pertolongan Allah, yaitu dengan mempermudahkan segala usahanya ke arah mencapai tujuan dan matlamatnya.

Tawakal bukanlah bermakna tidur di rumah tanpa berbuat sesuatu lalu berkata: "Aku bertawakal kepada Allah namun rezeki akan datang kepadaku. Apa saja yang ditakdirkan Allah untukku, pasti tidak akan ke mana."

Ini sebenarnya bukanlah tawakal tetapi kelemahan dan kemalasan. Diceritakan bahawa Saidina Umar al-Khattab pernah berkata kepada seorang lelaki yang duduk saja tnapa sebarang kerja: "Sesungguhnya kamu tahu bahawa langit tidak akan menurunkan hujan emas dan perak."

Keempat, mendirikan solat. Solat adalah tiang agama, sesiapa yang meninggalkannya, dia sesungguhnya meruntuhkan agama. Solat itu adalah hubungan di antara hamba dan Tuhan-Nya, sekali gus mendidik jiwa dalam usaha membentengi diri daripada serangan kejahatan dan kemungkaran sehingga Rasulullah pernah bersabda, maksudnya: "Orang yang solatnya tidak mencegah dirinya daripada perbuatan keji dan mungkar, maka dia akan bertambah jauh daripada Allah."

Kelima, membelanjakan rezeki yang diberikan Allah dengan menghulurkan bantuan kepada fakir dan orang yang memerlukan pertolongan. Firman Allah, maksudnya: "Dan pada harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang menahan diri (daripada meminta)." - (Al-Zariyat: 19).

Apabila sempurna kelima-lima sifat itu bagi seorang Muslim, maka dibalas Allah dengan beberapa darjat ketinggian di syurga yang abadi. Darjat yang tidak dapat diukur dengan pangkat kebesaran dunia. Semoga kita juga diberi taufik agar termasuk dalam golongan itu.[2]

Konsep Tawakkal dalam Islam


لو أنكم تتوكلون على الله حق توكله لرزقكم نما يرزق الطير تغدو حماصا و تروح بطانا رواه الترمذي وابن ماجه

Artinya: “jika saja kamu sekalian bertawakal kepada Allah dengan sepenuh hati niscaya Allah akan memberi rizki untukmu sekalian, sebagaimana Ia memberi rizki kepada burung; burung itu pergi dalam keadaan lapar dan pulang dalam keadaan kenyang.” (HR. al-Tirmidzi dan Ibn Majah).

Hadits di atas juga terdapat pada kitab sunan al-Tirmidzi pada bab al-Zuhd ‘an Rasulillah nomor 2266, dan pada kitab musnad Ahmad pada bab musnad al-‘Asyrah al-Mubasysyirin bi al-Jannah pada nomor 348.

Pengertian Tawakkal

Tawakal secara istilah adalah membebaskan hati dari segala ketergantungan kepada selain Allah dan menyerahkan keputusan segala sesuatunya kepada-Nya.

Seorang Muslim hanya boleh bertawakal kepada Allah SWT semata-mata. Allah SWT berfirman : Artinya:”Dan kepunyaan Allah-lah apa yang ghaib di langit dan di bumi dan kepada-Nya-lah dikembalikan urusan-urusan semuanya, Maka sembahlah Dia, dan bertawakkallah kepada-Nya. dan sekali-kali Tuhanmu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan.”(QS. Hud : 123)

Tawakal adalah salah satu buah keimanan. Setiap orang yang beriman bahwa semua urusan kehidupan, dan semua manfaat dan madharat ada di tangan Allah, akan menyerahkan segala sesuatunya kepada-Nya dan akan ridha segala kehendak-Nya. Dia tidak takut menghadapi masa depan, tidak kaget dengan segala kejutan. Hatinya tenang dan tentram, karena yakin akan keadilan dan rahmat Allah SWT. Oleh sebab itu, Islam menetapkan bahwa iman harus diikuti oleh sikap tawakal. Allah SWT berfirman: Artinya: “Berkatalah dua orang diantara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah Telah memberi nikmat atas keduanya: "Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, Maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. dan Hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman". (QS. al-Maidah : 23)

Artinya: “(Dia-lah) Allah tidak ada Tuhan selain Dia. dan hendaklah orang-orang mukmin bertawakkal kepada Allah saja.” (QS. al-Taghabun : 13)

Dalil-dalil al-Qur’an Tentang Perintah Bertawakkal


Allah SWT secara jelas telah memerintahkan kepada setiap orang Mukmin untuk selalu bertawakal kepada-Nya. Adapun ayat-ayatnya adalah sebagai berikut:

1. Dalam QS. Ali Imran : 159 Artinya :”Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah Lembut terhadap mereka. sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu Telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.”(QS. Ali Imran : 159)

Maksudnya: urusan peperangan dan hal-hal duniawiyah lainnya, seperti urusan politik, ekonomi, kemasyarakatan dan lain-lainnya.

2. Pada QS. Ali Imran : 122 Artinya :”Ketika dua golongan dari padamu[3] ingin (mundur) Karena takut, padahal Allah adalah penolong bagi kedua golongan itu. Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal.” (QS. Ali Imran : 122)

3. Pada surat al-nahl: 99 Artinya:”Sesungguhnya syaitan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya.” (QS. al-Nahl : 99)

Tawakal dan Ikhtiar


Tawakal harus diawali dengan kerja keras dan usaha maksimal (ikhtiar). Tidaklah dinamai tawakal kalau hanya pasrah menuggu nasib sambil berpangku tangan tanpa melakukan apa-apa. Sikap pasrah seperti itu adalah salah satu bentuk kesalah pahaman terhadap tawakal. Rasulullah SAW bersabda :

لو أنكم تتوكلون على الله حق توكله لرزقكم نما يرزق الطير تغدو حماصا و تروح بطانا رواه الترمذي وابن ماجه

Artinya: “jika saja kamu sekalian bertawakal kepada Allah dengan sepenuh hati niscaya Allah akan memberi rizki untukmu sekalian, sebagaimana Ia memberi rizki kepada burung; burung itu pergi dalam keadaan lapar dan pulang dalam keadaan kenyang.” (HR. al-Tirmidzi dan Ibn Majah).

Maksud dari hadits di atas menurut Imam Ahmad adalah : Rasulullah menyebutkan bahwa pulang perginya burung itu justru dalam rangka mencari rizki. Jika burung itu hanya duduk di sarangnya, tentulah rezekinya tidak akan datang. Juga dalam hadits nabi yang lain mengenai seorang Badui yang membiarkan ontanya tidak diikat karena menurut dia itulah cermin sikap tawakal. Rasulullah menegurnya :

و توكل اعقلها

ikat dan tawakallah !” (HR, al-Tirmidzi, Ibn Khuzaimah dan al-Thabrani)[4]

Nasihat Nabi Daud kepada putranya Sulaiman : “hai putraku bukti taqwa seseorang ada tiga, yaitu : bertawakkal secara baik, dalam menempuh sesuatu yang belum tercapai, lega hati terhadap apa yang telah terlaksana (terjadi pada dirinya), sabar dengan lepasnya sesuatu yang telah diraih (dipegang) tanganmu.[5]

Adapun yang menjadi suatu pertanyaan adalah: “Apakah melakukan pencegahan dan persiapan dapat menghilangkan tawakal? Sebagian manusia pada waktu perang, melakukan persiapan dan pencegahan, namun sebagaian mereka tidak melakukannya.Ada yang berkata bahwa melakukan persiapan seperti itu termasuk bertawakal kepada Allah?”

Maka jawabannya adalah sesuatu yang harus dilakukan orang-orang mukmin adalah menyandarkan hatinya kepada Allah dan benar-benar bersandar kepada-Nya untukmendapatkan manfaat dan menolak bahaya, karena hanya Allalah yang memiliki kekuasaan langit dan bumi dan hanya kepada-Nyalah segala urusan dikembalikan, seperti yang difirmankannya, "dan kepunyaan Allah-lah apa yang ghaib di langit dan di bumi dan kepada-Nya-lah dikembalikan urusan-urusan semuanya, Maka sembahlah Dia, dan bertawakkallah kepada-Nya. dan sekali-kali Tuhanmu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan." (Hud: 123).

Berkata Musa,"Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, Maka bertawakkallah kepada-Nya saja, jika kamu benar-benar orang yang berserah diri."

Lalu mereka berkata: "Kepada Allahlah Kami bertawakkal! Ya Tuhan kami; janganlah Engkau jadikan Kami sasaran fitnah bagi kaum yang'zalim, Dan selamatkanlah Kami dengan rahmat Engkau dari (tipu daya) orang-orang yang kafir." (Yunus: 84-86).

Juga firman Allah, "Jika Allah menolong kamu, Maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), Maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal." (Ali Imran: 160).

Serta firman Allah, "Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah Mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu." (Ath-Thalaq:3).

Serta orang mukmin harus bersandar kepada Tuhannya, yaitu Tuhan langit dan bumi, serta berprasangka baik kepada-Nya. Tetapi dia juga harus melakukan faktor-faktor baik yang bersifat syari'at maupun tindakan fisik yang diperintahkan Allah, karena melakukan faktor-faktor yang dapat mengantarkan kepada kebaikan dan mencegah dari keburukan termasuk keimanan kepada Allah dan kebijaksanaan-Nya serta tidak bertentangan dengan tawakal. Misalnya saja Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam sendiri adalah pemimpin orang-orang yang bertawakal, tetapi beliau juga melakukan faktor-faktor syari'at dan usaha-usaha tertentu. Beliau melindungi dirinya tatkala tidur dengan surat Al-Ikhlas dan dua surat pelindung (Al-Falaq dan An-Nas), memakai baju besi pada waktu perang, membuat parit di Madinah untuk menjaga diri ketika sekutu-sekutu orang-orang musyrik mengepungnya. Allah telah menjadikan sesuatu yang dapat menjaga seseorang dari kejahatan perang termasuk salah satu nikmat-Nya yang perlu disyukuri. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman tentang Nabi Dawud, "Dan telah Kami ajarkan ajarkan kepada Daud membuat baju besi untuk kamu, guna memelihara kamu dalam peperanganmu; Maka hendaklah kamu bersyukur (kepada Allah)." (Al-Anbiya':80).

Allah Subhanahu wa Ta'ala menyuruh Dawud agar membaguskan kualitas pembuatan baju besinya dan menjadikannya sebagai pelindung bagi seluruh badan, karena hal itu lebih aman dalam menjaga tubuh. Maka dari itu, penduduk negeri yang dekat dari tempat peperangan yang ditakutkan akan menimpanya karena pengaruh perang itu, maka tidak berdosa jika dia berjaga-jaga dengan memakai baju besi yang dapat melindunginya dari peluru yang nyasar ke tubuh mereka atau membuat alat pengaman lainnya yang dapat mencegah bahaya dari rumahnya, karena hal itu termasuk faktor-faktor yang dapat mencegah dari kejahatan dan menjaga dari keterpurukan. Tidak berdosa pula jika dia menyimpan makanan dan lain-lain karena takut mereka akan membutuhkannya lalu tidak menemukan. Jika rasa takut hal dalam hal ini semakin kuat maka diperlukan kehati-hatian yang lebih besar pula. Tetapi mereka harus tetap bertawakal kepada Allah, lalu memakai sebab-sebab itu selama tidak bertentangan dengan syariat dan kebijaksanaan Allah, serta diizinkan oleh Allah, bukan hanya sekedar mempertimbangkan bahwa tindakan itu akan mendapat kebaikan dan menolak bahaya saja. Di samping itu hendaklah mereka bersyukur kepada Allah yang telah memudahkan mereka mencapai sebab-sebab semacam ini dan mengizinkan mereka memakainya. [6]

Hubugan Iman dan Tawakal
Setelah mengetehui tentang pengertian iman, pengertian tawakal, dalil-dalil al-Qur’an, maka sebenarnya sudah sangat jelas hubungan antara iman dan tawakal. Dalam al-Qur’an Allah berfirman : Artinya: “Berkatalah dua orang diantara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah Telah memberi nikmat atas keduanya: "Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, Maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. dan Hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman". (QS. al-Maidah : 23)

Dari ayat di atas, dapat diambil suatu penjelasan tentan hubungan antara iman dan tawakal, yaitu dengan ditunjukkan oleh lafadz (dan Hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman), maksudnya adalah orang yang telah benar-benar bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, maka ia pasti orang yang bena-benar beriman kepada Allah, karena tawakal adalah merupakan salah satu buah dari iman. Jadi orang yang beriman akan senantiasa bertawakal kepada Allah dengan tanpa meninggalkan usaha serta berdoa kepada-Nya.

Dan juga di dalam kriteria orang mukmin yang ideal pada poin ketiga di atas telah disebutkan yaitu hendaklah bertawakal kepada Allah. Tawakal berarti bergantung sepenuhnya kepada Allah dalam menyampaikan kepada matlamat dan natijah yang diharapkan daripada segala kerja yang dijalankan. Apabila ia memulai sesuatu kerja maka yakinlah bahwa dia tidak akan dapat memetik buah dan hasilnya kecuali dengan pertolongan Allah, yaitu dengan mempermudahkan segala usahanya ke arah mencapai tujuan dan matlamatnya.

Tawakal bukanlah bermakna tidur di rumah tanpa berbuat sesuatu lalu berkata: "Aku bertawakal kepada Allah namun rezeki akan datang kepadaku. Apa saja yang ditakdirkan Allah untukku, pasti tidak akan ke mana. Jadi sudah sangat jelas tentang hubungan antara iman dan tawakal. Maka dari itu selanjutnya kami akan membahas tentang hikmah dari pada tawakal.

Hikmah Tawakal

Adapun hikmah dari orang Mukmin yang bertawakal kepada Allah SWT adalah seorang Mukmin akan selalu merasa tenang dan yakin di dalam mengahadapi warna-warni kehidupan,karena ia selalu mempersiapkan dirinya dengan selalu berusaha dan berda kepada-Nya, ia selalu bersyukur kepada Allah apabila ia mengalami kesuksesan dan tidak pernah putus asa apabila menghadapi kegagalan karena ia telah berusaha dengan keras, namun semuanya yang menentukan adalah Allah, maka ia akan selalu berbaik sangka kepada Allah dengan menganggap sebuah kegagalan hanyalah sebuah ujian baginya dan dijadikannya suatu bahan renungan untuk selalu memperbaiki diri serta menerimanya dengan lapang dada dan selalu sabar, ia tidak akan smbng dan membanggakan diri, karena ia yakin semua usahanya tidak akan berhasil tanpa izin dari Allah SWT.

Dengan demikian, semua situasi dihadapinya dengan tenang. Bila gagal, bersabar, dan bila berhasil, bersyukur. Bandingkan dengan seseorang yang tidak memiliki konsep tawakal dalam kehidupannya. Kegagalan bisa membuatnya stress dan putus asa, sementara keberhasilan juga bisa membuatnya sombong dan lupa diri.[7]

BAB III
Penutup Makalah Korelasi Pengertian Iman dan Tawakkal

Kesimpulan


˜Iman adalah mengucapkan dengan lisan, membenarkan dengan hati, dan mengejakan dengan anggota badan. Salah satu sifat dari seorang Mukmin yang ideal adalah bertawakal kepada Allah. Tawakal bererti bergantung sepenuhnya kepada Allah dalam menyampaikan kepada matlamat dan natijah yang diharapkan daripada segala kerja yang dijalankan.

˜ Tawakal harus diawali dengan kerja keras dan usaha maksimal (ikhtiar). ˜ Tawakal adalah salah satu buah dari iman. Hikmah dari orang Mukmin yang bertawakal kepada Allah SWT adalah seorang Mukmin akan selalu merasa tenang dan yakin di dalam mengahadapi warna-warni kehidupan.

Akhirnya penulis menyadari makalah ini jauh dari kesempurnaan, maka demi kemajuan makalah selanjutnya penulis sangat mengharapkan saran dan kritik dari para pembaca.

Daftar Pustaka
Al-Utsaimin, Syaikh Muhammad bin Shaleh. 1426 H Fatawa arkaanil Islam atau Tuntunan Tanya Jawab Akidah, Shalat, Zakat, Puasa, dan Haji, terj. Munirul Abidin, Darul Falah.

Ilyas, Yunahar. 1999 Kuliah Akhlaq, Yogyakarta: LPII.

Al-Smarqandy, Abu Laits. 1986, Tanbih al-Ghafilin terj. Abu Imam Taqyudin Surabaya: mutiara ilmu.

Izusu, Toshihiko. 1966, ethico-religious concepts in the Qur’an, terj. Mansuruddin Djoely,Jakarta: pustaka firdaus.

Al-Nawawi, al-Imam Abu Zakaria Yahya bin Syaraf, 1999. Riyad al-Shalihin, terj. Ahmad Sunarto, Jakarta: pustaka amani.

Catatan Kaki

[1] Toshihiko Izusu, ethico-religious concepts in the Qur’an, terj. Mansuruddin Djoely (Jakarta: pustaka firdaus, 1966), hlm. 299
[2] tshihiko Izutsu, etika beragama … hlm. 300
[3]Yakni: Banu Salamah dari suku Khazraj dan Banu Haritsah dari suku Aus, keduanya dari barisan kaum muslimin.
[4] Yunahar Ilyas, Kuliah Akhlaq (Ygyakarta: LPII, 1999), hlm. 44-46
[5] Abu Laits al-Smarqandy, Tanbih al-Ghafilin terj. Abu Imam Taqyudin (Surabaya: mutiara ilmu, 1986), hlm. 459-460
[6] Syaikh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin, Fatawa arkaanil Islam atau Tuntunan Tanya Jawab Akidah, Shalat, Zakat, Puasa, dan Haji, terj. Munirul Abidin, M.Ag. (Darul Falah 1426 H.), hlm. 58 – 60.
[7] Yunahar Ilyas, kuliah ... hlm. 49-50

0 Response to "Makalah Korelasi Pendidikan Agama Islam Pengertian Iman dan Tawakkal"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!