Makalah Manajemen Pendidikan Kewirausahaan

Advertisement

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Salah satu upaya untuk memberdayakan potensi ekonomi bangsa serta membangun sebuah masyarakat yang mandiri adalah melahirkan sebanyak- banyaknya wirausahawan baru. Asumsinya sederhana, kewirausahaan (entrepreneurship) pada dasarnya adalah kemandirian, terutama kemandirian ekonomis; dan kemandirian adalah keberdayaan. Upaya pembentukan calon wirausahawan baru sangatlah tidak gampang. Hal ini dikarenakan kewirausahaan memuat nilai-nilai yang diwujudkan dalam perilaku seseorang sebagai dasar sumber daya, tenaga penggerak, tujuan, siasat, kiat, proses, dan tujuan hasil yang diharapkan. Jiwa kewirausahaan ini ada pada setiap orang yang menyukai perubahan, pembaharuan, kemajuan, dan tantangan resiko.

Makalah Manajemen Pendidikan Kewirausahaan 02

Dalam konteks ini maka seorang pemimpin harus memiliki jiwa entrepreneurship yang dibutuhkan untuk mengelola sumber daya yang dimiliki. Begitupun bagi seorang pemimpin pendidikan. Bahkan boleh dikatakan syarat mutlak seorang pemimpin adalah harus memiliki jiwa kewirausahaan. Dengan demikian seorang pemimpin tersebut terbentuk keberanian, keutamaan, dan keperkasaan dalam memenuhi kebutuhan serta mampu memecahkan permasalahan dengan kekuatan yang ada pada dirinya melalui pemberdayaan sumber daya para bawahan. Kewirausahaan menyangkut semua aspek kehidupan manusia, tidak hanya terbatas pada kehidupan ekonomi. Melainkan juga semua aspek-aspek kehidupan lainnya, termasuk kepemimpinan.

Hubungan antara pendidikan dan ekonomi adalah sangat erat. Peranan ekonomi dalam pendidikan cukup menentukan, tetapi bukan pemegang peranan utama. Fungsi ekonomi dalam dunia pendidikan adalah untuk menunjang kelancaran proses pendidikan. Bukan merupakan modal untuk dikembangkan, bukan untuk mendapatkan keuntungan. Ekonomi pendidikan sama fungsinya dengan sumber-sumber pendidikan yang lain, seperti guru, kurikulum, alat peraga dan sebagainya untuk menyukseskan misi pendidikan, yang semuanya bermuara pada perkembangan peserta didik. Ekonomi merupakan salah satu bagian sumber pendidikan yang membuat anak mampu menciptakan lapangan kerja sendiri, cinta pada pekerjaan halus maupun kasar, memiliki etos kerja, dan bisa hemat.4 Di sinilah letak manajemen kewirausahaan pendidikan diperlukan kiprahnya.

Selain sebagai penunjang proses pendidikan, ekonomi pendidikan juga berfungsi sebagai materi pelajaran dalam masalah ekonomi dalam kehidupan manusia. Seperti diketahui, anak-anak jika dewasa kelak, hidupnya tidak akan bisa lepas dari masalah-masalah ekonomi. Karena itu, salah satu tugas perkembangan yang harus mereka laksanakan adalah mengembangkan diri bertalian dengan ekonomi, seperti telah disebutkan di atas tadi. Untuk mencapai sasaran itu pendidikan perlu menyiapkan materi atau lingkungan belajar yang mengandung nilai perekonomian. Kedua hal ini, yakni konsep manajemen pendidikan berbasis kewirausahaan, dan muatan nilai-nilai materi pembelajaran yang terkait perekonomian harus mendapatkan perhatian serius. Baik dari pemerintah selaku pengambil kebijakan, praktisi pendidikan yang bertindak sebagai perumus ide, dan juga para pengelola lembaga pendidikan yang sekaligus merealisasikan konsep pemikiran itu di lapangan lembaga pendidikan formal, nonformal, maupun informal. Perhatian masyarakat akan pentingnya ekonomi pendidikan dalam pengelolaan lembaga pendidikan di Indonesia kurang serius. Hal ini terlihat jelas dalam praktik manajemen sekolah. Kebanyakan sekolah mengandalkan kucuran dana dari pemerintah, dan membebankan biaya pendidikan seluruhnya ke wali murid. Ini tentu bertolak belakang dengan cita-cita pendidikan nasional. Hingga pada akhirnya pendidikan cuma milik mereka yang berkantong tebal. Rakyat miskin sulit mengenyam pendidikan secara utuh.

Pesantren adalah corak asli pendidikan Indonesia. Dalam sejarahnya pesantren telah melahirkan beberapa tokoh-tokoh bangsa, tokoh politik, pakar pendidikan, ulama, da’i dan wirausahawan. Namun masih jarang mencetak tokoh bisnis (businessman). Hal ini disebabkan masih berkutatnya pesantren menggeluti keilmuan yang bersifat teoritis murni. Artinya, sentuhan kurikulum kecakapan hidup belum sepenuhnya terjamah. Pesantren kebanyakan mementingkan ranah kognitif dan afektif. Untuk psikomotor masih belum terasah tuntas. Apalagi yang berkaitan dengan unsur keduniawian. Tujuan ukhrawi tetap mendapatkan tempat prioritas utama.

Memang titik pusat pengembangan keilmuan di pesantren adalah ilmu- ilmu agama. Tetapi setidaknya, ilmu agama tidak akan berkembang dengan baik tanpa ditunjang ilmu-ilmu lain (ilmu sosial, humaniora, teknik, dan kealaman). Maka sebaiknya ilmu-ilmu tersebut bisa diajarkan oleh sebagian pesantren. Ilmu tersebut sebagai penunjang bagi ilmu-ilmu agama. Ilmu agama tetap jadi orientasi keilmuan pesantren, sementara ilmu umum harus dipandang sebagai suatu tantangan atau bahkan kebutuhan. Tantangan untuk mengkolaborasikan keilmuan umum dan agama itu merupakan salah satu tugas berat yang harus dilaksanakan pesantren. Sebagai contoh, ilmu kewirausahaan bernuansa agama Islam.

Untuk itu pesantren memerlukan inovasi kurikulum. Inovasi dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu atau untuk memecahkan masalah tertentu. Misalnya, untuk meningkatkan keefektifan pesantren diharapkan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Pesantren (MPMBP); untuk meningkatkan kualitas dan relevansi pesantren diterapkan kurikulum berbasis kompetensi dan pendidikan berorientasi pada kecakapan hidup (life skill), SUMIT (School Using Multiple Intelligence); untuk mengatasi akurasi data pendidikan digunakan data base computer dan sebagainya.Semua itu masih akan berlanjut sejalan dengan dinamika masyarakat global.

Uraian di atas mengisyaratkan bahwa perubahan dan perkembangan pesantren merupakan konsekuensi logis dari dinamika masyarakat yang menjadi kelemahan utama. Kelangsungan pesantren, baik pada lingkup lokal, nasional, dan global. Atas dasar ini kurikulum pesantren dapat dita’rifkan sebagai upaya pembaharuan pesantren di bidang kurikulum sebagai akibat kehidupan masyarakat yang berubah dalam rangka mendukung pendidikan yang dapat memenuhi kebutuhan santri.

Di samping bertujuan meringankan beban biaya wali siswa juga memudahkan lembaga dalam meningkatkan kualitas program pendidikan. Tanpa lagi tersandung masalah keringnya keuangan. Minimnya anggaran di lembaga pendidikan tanah air kita disinyalir menyebabkan mutu yang rendah. Utamanya yang dialami lembaga pendidikan Islam. Meski tidak semuanya.

Berdasarkan latar belakang inilah pemakalah tertarik untuk mengkaji tentang pelaksanaan manajemen kewirausahaan, penerapan nilai-nilai kewirausahaan dalam praktik manajemen pendidikan, dan pemanfaatan potensi ekonomis untuk meningkatkan kualitas pendidikan.


BAB II
MANAJEMEN KEWIRAUSAHAAN DALAM PENDIDIKAN

A. Prinsip-Prinsip Manajemen Kewirausahaan

Setidaknya ada enam prinsip yang harus yang harus ada dalam manajemen kewirausahaan.

1. Percaya diri dan optimis,- Kepercayaan diri merupakan suatu paduan sikap dan keyakinan seseorang dalam menghadapi tugas atau pekerjaan. Dalam praktiknya ini merupakan sikap dan keyakinan untuk menilai, melakukan dan menyelesaikan suatu tugas dan pekerjaan yang dihadapi. Oleh sebab itu kepercayaan diri memiliki nilai keyakinan, optimisme, individualitas, dan tidak ketergantungan seseorang yang memiliki kepercayaan diri cenderung memiliki keyakinan akan kemampuannya untuk mencapai keberhasilan.

2. Berorientasi Tugas dan Hasil,- Seseorang yang selalu mengutamakan tugas dan hasil adalah orang yang selalu mengutamakan nilai-nilai motif berprestasi, berorientasi pada laba, ketekunan dan ketabahan, tekad kerja keras, mempunyai dorongan kuat, energik dan berinisiatif. Berinisiatif artinya selalu ingin mencari dan memulai. Untuk memulai diperlukan niat dan tekad yang kuat, serta karsa yang besar.

3. Keberanian Mengambil Resiko,- Kemauan atau kemampuan untuk mengambil resiko merupakan salah satu nilai utama dalam kewirausahaan. Wirausaha yang tidak mau mengambil resiko akan sukar memulai atau berinisiatif. Orang yang berani menanggung resiko adalah orang yang selalu ingin jadi pemenang dan memenangkan dengan cara yang baik. Keberanian menanggung resiko menjadi nilai kewirausahaan adalah pengambilan resiko yang penuh dengan perhitungan dan realistik. Kepuasan yang besar diperoleh apabila berhasil dalam melaksanakan tugas-tugasnya secara realistik.

4. Kepemimpinan,- Seorang wirausaha yang berhasil selalu memiliki sifat kepemimpinan, kepeloporan dan keteladanan. Ia selalu ingin tampil berbeda, lebih dulu dan lebih menonjol. Dengan menggunakan kemampuan kreativitas dan keinovasiannya, ia selalu menampilkan barang dan jasa-jasa yang dihasilkannya dengan lebih cepat, lebih dulu dan segera berada di pasar. Ia selalu menampilkan produk dengan jasa- jasa baru dan berbeda sehingga ia menjadi pelopor baik dalam proses produksi maupun pemasarannya. Ia selalu memanfaatkan perbedaan sebagai suatu yang menambah nilai. Karena itu perbedaan bagi seseorang yang memiliki jiwa kewirausahaan merupakan sumber pembaharuan untuk menciptakan nilai. Ia selalu ingin bergaul untuk mencari peluang, terbuka untuk menerima kritik dan saran yang kemudian dijadikan peluang dalam karya dan karsanya. Wirausaha selalu ingin tampil baru dan berbeda. Karya dan karsa yang berbeda akan dipandang sebagai sesuatu yang baru dan dijadikan peluang.

5. Berorientasi ke masa depan,- Orang yang berorientasi ke masa depan adalah orang yang memiliki perspektif dan pandangan ke masa depan. Karena ia berpandangan yang jauh ke depan, maka selalu berusaha untuk berkarsa dan berkarya. Kuncinya pada kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda dengan waktu yang sudah ada sekarang. Meskipun dengan resiko yang mungkin terjadi, ia tetap tabah untuk mencari peluang dan tantangan demi pembaharuan masa depan. Pandangan yang jauh ke depan membuat wirausaha tidak cepat puas dengan karsa dan karya yang sudah ada sekarang. Oleh sebab itu ia selalu mempersiapkannya dengan mencari suatu peluang baru.

6. Keorisinalan: kreatifitas dan keinovasian,- Nilai inovatif, kreatif dan fleksibel, merupakan unsur-unsur keorisinalan seseorang. Wirausaha yang inovatif adalah orang yang kreatif dan yakin dengan adanya cara-cara baru yang lebih baik. Ciri-cirinya adalah tidak pernah puas dengan cara-cara yang dilakukan saat ini meskipun cara tersebut cukup baik, selalu menuangkan imajinasi dalam pekerjaannya, dan selalu ingin tampil berbeda atau selalu memanfaatkan perbedaan. Dan berikut ini adalah ciri-ciri inovasional personality yang kreatif.

a. Openess to experience, yaitu terbuka terhadap pengalaman. Ia selalu berminat dan tanggap terhadap gejala di sekitar kehidupannya dan sadar bahwa yang di dalamnya terdapat individu yang berperilaku sistematik.
b. Creative imagination yaitu kreatif dalam berimajinasi. Wirausaha memiliki kemampuan untuk bekerja dengan penuh imajinasi.
c. Confident and content in ones own evaluation yaitu cakap dan memiliki keyakinan atas penilaian dirinya dan teguh pendirian.
d. Satisfaction in facing and attacking problems in resolving confusion or inconsistency, yaitu selalu memiliki kepuasan dalam menghadapi dan memecahkan persoalan.
e. Has a duty responsibility to achieve, yaitu memiliki tugas dan rasa tanggung jawab untuk berprestasi.
f. Intelligence and energetic, yaitu penuh daya imajinasi dan memiliki kecerdasan.

B. Fungsi-Fungsi Manajemen Kewirausahaan

Manajemen sebagai suatu proses sosial meletakkan pada interaksi orang-orang, baik orang-orang yang berada di dalam maupun di luar lembaga- lembaga formal atau orang-orang yang besar di atas maupun di bawah posisi operasional seseorang. Beberapa orang ahli berargumentasi bahwa proses manajemen sangat halus dan tidak terpisah sehingga tidak dapat dianalisa ke dalam komponen-komponen. Berbagai upaya telah dilakukan untuk menganalisa proses manajemen ke dalam unsur-unsur komponennya. Henry Fayol adalah orang pertama yang menganalisanya ke dalam lima fungsi yaitu merencanakan (planning), mengorganisasi (organizing), memerintah (directing), mengkoordinasi (coordinating), mengawasi (controlling). Akan tetapi ada pengemabangan fungsi-fungsi tersebut yang mengklasifikasikan menjadi 10 fungsi. Yaitu antara lain sebagai berikut:

1. Perencanaan (planning)

Rencana-rencana dibutuhkan untuk memberikan kepada organisasi tujuan-tujuannya dan menetapkan prosedur terbaik untuk pencapaian tujuan-tujuan itu. Rencana memungkinkan organisasi bisa memperoleh dan mengikat sumberdaya yang diperlukan untuk mencapai tujuan-tujuan. Selanjutnya mewakili para anggota organisasi untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan yang konsisten dengan berbagai tujuan dan prosedur terpilih. Dan juga memungkinkan kemajuan dapat terus dimonitor dan diukur sehingga tindakan korektif dapat diambil bila tingkat kemajuan tidak memuaskan. Perencanaan ini terdiri dari beberapa kegiatan.2

a. Menetapkan tentang apa yang harus dikerjakan, kapan dan bagaimana cara melakukannya.
b. Membatasi sasaran dan menetapkan pelaksanaan-pelaksanaan kerja untuk mencapai efektifitas maksimum melalui proses penentuan target.
c. Mengumpulkan dan menganalisa informasi.
d. Mengembangkan alternatif-alternatif.
e. Mempersiapkan dan mengkomunikasikan rencana-rencana dan keputusan-keputusan.

Semua fungsi-fungsi lain sangat tergantung pada fungsi perencanaan ini. Fungsi-fungsi lain tidak akan berhasil tanpa perencanaan dan pembuatan keputusan yang tepat, cermat dan kontinu. Pada dasarnya perencanaan merupakan penentuan faktor-faktor, kekuatan, pengaruh dan hubungan-hubungan dalam pencapaian tujuan yang telah ditetapkan.

2. Pengorganisasian (organizing)
Pengorganisasian didefinisikan sebagai penataan sekumpulan tugas ke dalam unit-unit yang dapat dikelola dan penetapan hubungan formal di antara orang-orang yang diserahi berbagai tugas. Pengorganisasian mencakup dua aspek. Pertama, pembagian kerja dan pembagian beban kerja kepada individu-individu atau kelompok-kelompok individu, misalnya dengan pembentukan departemen-departemen, cabang-cabang, unit-unit dan sebagainya. Kedua, penentuan jenis-jenis komunikasi, kekuasaan dan wewenang di antara individu-individu atau kelompok- kelompok individu yang menangani beban-beban kerja yang telah dibagi- bagi dan menjamin koordinasi dari kegiatan-kegiatan mereka dalam hubungannya dengan sasaran yang telah ditetapkan. Pengorganisasian sama halnya dengan merancang dan mengembangkan suatu organisasi yang akan dapat melaksanakan berbagai program yang direncanakan dengan sukses. Proses ini meliputi:

a. Menyediakan fasilitas-fasilitas, perlengkapan dan tenaga kerja yang diperlukan untuk penyusunan rangka kerja yang efisien dalam melaksanakan rencana-rencana melalui suatu proses penetapan kerja yang diperlukan untuk menyelesaikan rencana-rencana tadi.
b. Mengelompokkan komponen kerja ke dalam struktur organisasi secara teratur.
c. Membentuk struktur wewenang dan mekanisme koordinasi.
d. Merumuskan dan menentukan metode dan prosedur.
e. Memilih, mengadakan latihan dan pendidik tenaga kerja serta mencari sumber-sumber lainnya yang diperlukan.

3. Pengarahan (actuating)

Fungsi pengarahan secara sederhana adalah untuk membuat atau mendapatkan para bawahan melakukan apa yang diinginkan dan apa yang harus mereka lakukan. Fungsi ini melibatkan kualitas, gaya dan kekuasaan pemimpin serta kegiatan-kegiatan kepemimpinan seperti komunikasi, motivasi dan disiplin. Pengarahan sering disebut dengan bermacam-macam istilah antara lain, leading, directing, motivating dan actuating.

Bila fungsi perencanaan dan pengorganisasian lebih banyak menyangkut aspek-aspek abstrak proses manajemen, kegiatan pengarahan langsung menyangkut orang-orang dalam organisasi. Fungsi manajemen yang ketiga ini mencakup kerja yang terdiri dari:

a. Menyusun rangka kerja, waktu dan biaya yang terperinci.
b. Memprakarsai dan menampilkan kepemimpinan dalam melaksanakan rencana-rencana dengan pengambilan keputusan- keputusan.
c. Mengeluarkan instruksi-instruksi yang spesifik.
d. Membimbing, memotivasi dan mensupervisi.
4. Pemfasilitasian (Facilitating)

Fasilitating merupakan pelayanan khususnya bagi para karyawan yang bertujuan untuk memberikan kemudahan bagi para karyawan tersebut. Tujuan utamanya bukanlah untuk meningkatkan produksi tetapi gairah dan semangat untuk bekerja. Jasa fasilitatif terdiri atas pelayanan kendaraan, perumahan, kesehatan, kafetaria, potongan atas pembelian, restoran, dan perpustakaan perusahaan. Saat ini banyak perusahaan yang juga memberikan layanan yang meliputi bantuan dan penyuluhan dalam bidang hukum. Dengan pelayanan berupa itu diharapkan agar para karyawan tidak diganggu oleh masalah-masalah yang tidak berhubungan langsung dengan produktifitas. Fasilitating hanya bertujuan untuk memberikan dorongan semangat bagi para karyawan yang terlibat di dalam organisasi.

5. Motivasi (Motivating)

Motivasi berasal dari bahasa Latin “movere” yang berarti “dorongan” atau “daya penggerak”. Motivasi ini hanya berlaku untuk manusia. Motivasi merupakan suatu kemampuan seseorang untuk meberikan kegairahan, kegiatan, pengertian, sehingga orang lain mau mendukung dan bekerja secara suka rela untuk mencapai tujuan organisasi sesuai dengan tugas yang dibebankan kepadanya. Motivasi dapat juga diartikan sebagai keadaan kejiwaan dan sikap mental manusia yang memberikan energi, mendorong kegiatan atau moves dan mengarah atau menyalurkan perilaku ke arah mencapai kebutuhan yang member kepuasan atau mengurangi ketidakseimbangan. Motivasi merupakan masalah yang kompleks dan vital dalam suatu organisasi.

Fungsi motivasi berkenaan dengan perilaku manusia dalam organisasi adalah bagaimana agar manusia itu mau mendukung dan bekerja untuk suatu gagasan tertentu. Perilaku manusia tergantung pada emosi, stamina, semangat, cita-cita, dan adat istiadat yang melatarbelakangi manusia tersebut. Dengan kata lain motivasi merupakan kegiatan yang mengakibatkan, menyalurkan, dan memelihara perilaku manusia agar tetap pada keseimbangan upaya untuk mengarah pada tujuan organisasi. Secara singkat motivasi adalah bagian integral dari jalinan kerja dalam rangka proses pembinaan, pengembangan, dan pengarahan sumber daya manusia dalam suatu organisasi.

Memotivasi sangat sulit. Hal ini dikarenakan adanya kebutuhan- kebutuhan (needs) dan keinginan-keinginan (wants) yang dimiliki manusia. Kebutuhan tersebut timbul akibat adanya berbagai hubungan. Kebutuhan dapat berwujud fisik biologis ataupun sosial ekonomi. Akan tetapi yang lebih penting adalah adanya kebutuhan yang bersifat sosial psikis, seperti penghargaan, pengakuan, keselamatan, perlindungan, keamanan, jaminan sosial, dan lain sebagainya. Teori motivasi Maslow menyebutkan manusia adalah makhluk sosial yang berkeinginan. Ia selalu menginginkan lebih banyak. Keinginan itu terus menerus baru berhenti setelah mati. Suatu kebutuhan yang telah dipuaskan tidak menjadi alat motivasi bagi pelakunya. Hanya kebutuhan yang belum terpenuhi yang menjadi alat motivasi.

Teori Maslow juga menyatakan kebutuhan manusia itu bertingkat- tingkat (hirarki). Antara lain kebutuhan fisik (physciological needs), kebutuhan sosial (social needs/affiliation or acceptance needs), kebutuhan harga diri atau pengakuan dan penghargaan (esteem or status or needs), dan kebutuhan aktualisasi diri (self actualization needs). Di dalam ilmu manajemen motivasi terdiri dari berbagai kegiatan yang antara lain seleksi, komunikasi, partisipasi, appraisal, counseling, coaching, training, compensation, direction, dismissal, dan incentives. Adapun tujuan pemberian motivasi adalah sebagai berikut:

a. Mendorong gairah dan semangat kerja karyawan
b. Meningkatkan moral dan kepuasan kerja karyawan 
c. Meningkatkan produktivitas kerja karyawan
d. Mempertahankan loyalitas dan kestabilan karyawan 
e. Meningkatkan kedisiplinan
f. Mengefektifkan pengadaan karyawan
g. Menciptakan suasana dan hubungan kerja yang baik
h. Meningkatkan kreatifitas dan partisipasi karyawan
i. Mempertinggi tanggung jawab
j. Meningkatkan efisiensi penggunaan alat-alat dan bahan baku
k. Dan lain sebagianya

6. Pemberdayaan (Empowering)
Pada masa yang lalu untuk meningkatkan kemampuan sumber daya manusia organisasi dilakukan melalui pendidikan dan pengembangan. Cara tersebut secara bertahap mulai ditinggalkan karena dinilai terlalu bersifat top-down sehingga kurang mampu mengembangkan kreatifitas dan sumber daya manusia karyawan. Sekarang ini lebih dikenal sebagai pemberdayaan (empowering) sumber daya manusia karena dinilai sebagai pendekatan yang bersifat bottom-up.

Memberdayakan orang berarti mendorong mereka mejadi lebih terlibat dalam keputusan dan aktifitas yang memengaruhi pekerjan mereka. Dengan demikian pemberdayaan berarti memberi mereka kesempatan untuk menunjukkan bahwa mereka dapat memberikan gagasan baik dan mempunyai keterampilan mewujudkan gagasannya menjadi realitas. Pemberdayaan merupakan perubahan yang terjadi pada falsafah manjemen yang dapat membantu menciptakan suatu lingkungan di mana setiap individu dapat menggunakan kemampuan dan energinya untuk meraih tujuan organisasi.31 Seorang karyawan memiliki wewenang dan berinisiatif untuk melakukan sesuatu yang dipandang perlu jauh melebihi tugasnya sehari-hari.

Sementara Newstrom dan Davis menyatakan bahwa pemberdayaan merupakan setiap proses yang memberikan otonomi yang lebih besar kepada pekerja melalui saling menukar informasi yang relevan dan ketentuan tentang pengawasan atas faktor-faktor yang memengaruhi prestasi kerja. Pemberdayaan membantu menghilangkan kondisi yang menyebabkan ketidakberdayaan sambil meningkatkan perasaan self-efficacy karyawan. Self-efficacy adalah suatu perasaan bahwa dirinya mampu menyelesaikan pekerjaan apa saja yang diberikan kepadanya.

Dengan demikian pemberdayaan adalah suatu proses untuk menjadikan orang menjadi lebih berdaya atau lebih berkemampuan menyelesaikan masalahnya sendiri dengan cara memberikan kepercayaan dan kewenangan sehingga menumbuhkan rasa tanggung jawabnya.

7. Organisasi Pembelajaran (Learning Organization)

Learning Organization pada dasarnya merupakan tugas manajer untuk menciptakan iklim kerja yang selalu mengarah pada peningkatan sumber daya manusia untuk menghasilkan mutu dan produktifitas setinggi-tingginya. Pembelajaran ini memiliki peranan yang sangat penting demi majunya organisasi. Seseorang harus selalu mendorong orang- orangnya ke arah perkembangan organisasi yang positif, kreatif dan produktif. Di samping itu juga harus mampu mengantisipasi keperluan- keperluan dan kemungkinan-kemungkinan di masa datang yang selalu berubah akibat kemajuan teknologi, perekonomian dan perubahan sosial. Sebaliknya manajer juga harus mampu memperkirakan kemunduran (cutback) dengan persiapan mental yang cukup. Learning organization atau organisasi pembelajaran adalah sebuah organisasi yang membangun kapasitas menyesuaikan dan berubah secara terus-menerus. Jika suatu organisasi pembelajaran melakukan kesalahan, mereka dapat menempuh apa yang dinamakan single-loop learnig atau double-loop learning.

Dalam hal single-loop learning, apabila terjadi kesalahan, dikoreksi dengan double-loop learning, apabila terdapat kesalahan dikoreksi dengan memodifikasi objektif, kebijakan, dan standar rutin organisasi.

Kreitner dan Kinicki mendefinisikan learning organization sebagai organisasi secara proaktif menciptakan, mendapatkan dan mentransfer pengetahuan dan yang mengubah perilakunya atas dasar pengetahuan dan wawasan baru. Terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan seorang manajer untuk menjadikan organisasinya menjadi learning organization. Antara lain adalah:

a. Menciptakan strategi,- Penciptaan strategi dilakukan agar manajemen bersedia membuat komitmen secara eksplisit terhadap perubahan, melakukan inovasi dan perbaikan terus-menerus.

b. Merancang ulang struktur orgasnisasi,- Ini dilakukan dengan meratakan struktur, membatasi, dan mengkombinasikan departemen, dan meningkatkan penggunaan tim lintas fungsi, saling ketergantungan diperkuat dan batas-batas di antara orang dikurangi.

c. Membentuk kembali budaya organisasi,- Budaya organisasi dibentuk kembali sehingga sebagai learning organization mempunyai karakteristik suka mengambil resiko, memperlihat keterbukaan dan pertumbuhan.

Manajer perlu mempertontonkan tindakan dalam pengambilan resiko dan memberikan peluang untuk kegagalan merupakan sifat yang diinginkan. Artinya menghargai orang yang mengambil kesempatan dan membuat kesalahan. Manajemen perlu mendorong konflik fungsional.

8. Pembaruan (Innovating)


Innovating adalah suatu proses sistematis dalam menerapkan pengetahuan, sarana, sumber daya yang diperlukan untuk memengaruhi perubahan pada orang yang akan terkena dampak dari proses tersebut. Inovasi merupakan jenis perubahan khusus, berbeda dengan “change” yang berarti membuat sesuatu yang berbeda. Inovasi adalah gagasan baru yang diaplikasikan untuk memulai atau memperbaiki produk, proses, atau jasa. Sebagai sumber untuk inovasi adalah variabel struktural. Fungsi manajemen ini ditujukan untuk memberikan solusi bisnis yang diperlukan dengan sukses dengan cara yang terorganisasi dan dengan metode melalui pengelolaan dampak perubahan pada orang yang terlibat di dalamnya. Pengelolaan innovating secara efektif tidak hanya dibutuhkan untuk kelangsungan hidup organisasi tetapi juga sebagai tantangan pengembangan.

Pembaruan organisasi adalah perpindahan ke arah yang lebih baik untuk mempertahankan keberadaan organisasi terhadap tuntutan perubahan zaman. Kebutuhan akan pembaruan dipengaruhi dua faktor, eksternal forces (kekuatan eksternal) dan internal forces (kekuatan internal). Kekuatan eksternal berasal dari luar organisasi. Adapun kekuatan internal merupakan hasil dari faktor-faktor seperti tujuan, strategi, kebijaksanaan manajerial dan teknologi baru, serta sikap dan perilaku para karyawan. Kekuatan eksternal dan internal penyebab pembaruan adalah sering saling berhubungan. Hubungan ini terutama merupakan hasil-hasil perubahan dalam nilai dan sikap yang kemudian memengaruhi orang dalam sistem. Orang-orang dengan berbagai sikap baru memasuki organisasi dan menyebabkan perubahan dari dalam.

9. Pengawasan (controlling)

Pengawasan sebagai unsur manajemen yang keempat adalah proses yang menjamin bahwa semua kegiatan yang dilakukan oleh organisasi dituntun ke arah pencapaian sasaran atau target yang direncanakan. Inti dari proses ini adalah untuk menentukan apakah suatu kegiatan mencapai hasil-hasil yang dikehendaki atau tidak. Dengan kata lain, pengawasan merupakan usaha menghindarkan dan memperkecil penyimpangan- penyimpangan dari sasaran-sasaran atau target yang dikehendaki. Inti sistem pengawasan ada empat pokok yaitu:

a. Susunan/target, rencana kebijaksanaan norma/standar, kriteria/ukuran yang telah dilakukan sebelumnya.
b. Cara menyusun kegiatan, misalnya cara mencari tingkat perkembangan/ kemampuan atau pengarahan gerak ke sasaran.
c. Cara membandingkan kegiatan dengan kriteria. Misalnya, mencari apakah pekerjaan kita sebanding dengan hasil-hasil yang diinginkan.
d. Mekanisme tindakan korektif. Misalnya bagaimana cara mengoreksi penyimpangan-penyimpangan.

Adapun kegiatan yang setidaknya perlu dilakukan dalam fungsi pengawasan ini adalah:

a. Mengevaluasi pekerjaan dibandingkan dengan rencana.
b. Melaporkan penyimpangan-penyimpangan dalam waktu untuk tindakan koreksi dan mengajukan cara tindakan koreksi dengan membuat standar-standar dan sasaran-sasaran.

Secara umum pengawasan dikaitkan dengan upaya untuk mengendalikan, membina dan pelurusan sebagai upaya pengendalian mutu dalam arti luas. Melalui pengawasan roda organisasi, implementasi rencana, kebijakan dan upaya pengendalian mutu dapat dilaksanakan dengan lebih baik.

10. Evaluasi (Evaluating)

Pengevaluasian merupakan fungsi lanjutan dari pengawasan. Evaluasi berupaya untuk mengoreksi kesalahan ataupun kekurangan yang didapat dari hasil pengawasan. Setelah diketahui kekurangan- kekurangannya maka dipikirkan garis umpan balik (feedback line) kemudian diperbaiki untuk kegiatan atau program organisasi selanjutnya. Evaluasi memiliki teknik khusus. Yang intinya menemukan kekurangan- kekurangan suatu program setelah berakhir untuk dicarikan solusi perbaikannya yang dapat digunakan referensi program organisasi yang hendak dilakukan pada masa yang akan datang.

D. Kewirausahaan dalam Pendidikan

Ruang lingkup atau substansi manajemen pendidikan digolongkan atas dua bagian besar, yaitu substansi manajemen pendidikan inti dan substansi manajemen pendidikan ekstensi. Substansi manajemen pendidikan inti tidak berbeda dengan substansi manajemen pendidikan yang telah dikemukakan oleh para pakar yaitu antara lain:

1. Manajemen kurikulum dan pembelajaran
2. Manajemen kelas
3. Manajemen kesiswaan/ peserta didik
4. Manajemen sumber daya manusia (SDM)
5. Manajemen sarana dan prasarana
6. Manajemen keuangan/pembiayaan
7. Manajemen partisipasi masyarakat.

Sedangkan substansi manajemen pendidikan ekstensi adalah substansi manajemen pendidikan yang diperluas, yaitu bidang-bidang garapan di dunia pendidikan yang harus dikelola juga karena mempunyai dampak yang besar terhadap substansi manajemen pendidikan inti. Ruang lingkup kedua ini meliputi:

1. Manajemen waktu
2. Manajemen konflik
3. Manajemen perubahan
4. Manajemen budaya sekolah
5. Manajemen komunikasi dan dinamika kelompok
6. Manajemen sistem informasi manajemen (SIM)
7. Manajemen kewirausahaan
8. Manajemen ketatausahaan

Semua unsur manajemen pendidikan yang telah diinventarisasi di atas sekaligus merupakan ruang lingkup kegiatan manajerial pendidikan yang harus dilakukan oleh kepala pendidikan. Masing-masing kegiatan harus dioperasikan secara terintegrasi dengan mengacu pada pencapaian efektivitas dan efisiensi pengelolaan sistem pendidikan. Dalam merealisasikan kegiatan itu semua seorang pemimpin pendidikan juga perlu memperhatikan jiwa kewirausahaan dalam kepemimpinannya. Hal ini disebabkan adanya hubungan yang positif antara jiwa kewirausahaan dalam kepemimpinannya. Hal ini disebabkan adanya hubungan yang positif antara jiwa kewirausahaan dengan problematika pendidikan di Indonesia terutama dalam hal pembiayaan atau keuangan. Setidaknya kewirausahaan dapat meningkatkan kemandirian, kreatifitas, inovasi, serta efisiensi demi tercapainya tujuan pendidikan.

E. Manajemen Kewirausahaan dalam Pendidikan

Berwirausaha di dunia pendidikan berarti memadukan kepribadian, peluang, keuangan dan sumber yang ada di lingkungan sekitar guna mengambil keuntungan yang dapat digunakan untuk mensukseskan tujuan pendidikan. Kepribadian ini mencakup pengetahuan, ketrampilan, sikap dan perilaku. Jiwa wirausaha bagi personil pendidikan seperti kepala atau manajer, staf ahli, guru, karyawan dan pekerja lainnya dengan menjalankan usaha dengan menggunakan modal dan tenaga pengembangan jiwa wirausaha ini mengandung resiko. Resiko itu bisa datangnya dari sistem yang tidak mendukung, dan juga datangnya dari lingkungan yang tidak familiar dengan jiwa wirausaha diterapkan. Namun pemimpin pendidikan yang tidak mempunyai jiwa wirausaha akan lebih beresiko lagi. Sebab ia akan bekerja atas dasar petunjuk dengan perintah. Jika tidak ada petunjuk dan perintah meskipun hal itu signifikan meningkatkan mutu pemimpin tersebut tidak mau mengambil resiko bagi dirinya. Ia akan membiarkan peluang itu berlaku begitu saja dari waktu ke waktu.

Dengan demikian kepemimpinan wirausaha kepala pendidikan harus berani dan siap menanggung resiko. Salah satu rendahnya mutu pendidikan adalah rendahnya jiwa wirausaha kepala pendidikannya, berbagai penelitian mengungkapkan bahwa kepala pendidikan belum responsif terhadap tuntutan dinamika perubahan yang terjadi, banyak aktivitas pendidikan berlangsung by the way bukan by design dengan ciri perencanaan yang memprihatinkan.

Rendahnya jiwa wirausaha kepemimpinan kepala pendidikan ada indikasi bahwa kepala pendidikan tidak memiliki sense of responsibility sebab kegagalan suatu program dianggap bukan tanggung jawabnya. Kegagalan program ditampakkan pada proses pengelolaan yang bersifat rutinitas belaka.

J. Winardi menjelaskan fungsi entrepreneur adalah mengubah atau merevolusionerkan pola produksi dengan jalan memanfaatkan sebuah penemuan baru (invention). Secara lebih umum adalah sebuah kemungkinan teknologikal untuk memproduksi sebuah komoditas. Atau bisa dikatakan memproduksi komoditas lama dengan cara baru dan membuka sumber suplay bahan-bahan baru. Atau mencari cara penyaluran sumber suplay tersebut dengan yang baru dan mereorganisasi sebuah industri baru.

Adapun Steven C. Brandt mengungkapkan bahwa sejatinya terdapat 10 langkah praktis dalam berwirausaha. Dalam bukunya ia menekankan pentingnya tahapan yang paling operasional termasuk di dalamnya terkait modal, karyawan, ide dan situasi pasar yang melingkupi. Selain itu kepala pendidikan lemah dalam hal aspek metodologi yaitu dalam menganalisis, merancang, mengambil keputusan terhadap alokasi sumber-sumber yang tersedia, penyusunan pedoman, perincian program, dan program evaluasi, kepala pendidikan hanya menekankan aspek prosedural teknis. Dilihat dari proses, maka dapat didefinisikan kepemimpinan kepala pendidikan yang berjiwa wirausaha diartikan sebagai proses wirausaha mentransformasi, mengorganisir dan mensinergikan sumber-sumber usaha untuk mendirikan usaha/program-program baru memajukan sekolah dalam hal kualitas. Agar kepala pendidikan dapat meraih sukses yang memadai dalam mendirikan dan mengembangkan usaha pelayanan belajar atau program baru. Sehingga dapat diperoleh mutu yang ditargetkan, dan memberi kepuasan bagi para siswa, orang tua siswa, dan juga masyarakat luas perlu ada kriteria kepemimpinan berjiwa wirausaha. Karakteristik itu antara lain:

1. Pemimpin yang kreatif dan inovatif
2. Pemimpin yang mampu mengeksplorasikan peluang
3. Internal focus control
4. Pengambil resiko
5. Pekerja keras
6. Percaya diri
7. Kepemimpinan

Jika dikaitkan dengan kegiatan pendidikan, maka kepala harus mampu menafsirkan berbagai kebijakan dari pemerintah sebagai kebijakan umum. Sedangkan operasionalisasi kebijakan tersebut untuk mencapai hasil yang maksimal perlu ditunjang oleh kiat-kiat kewirausahaan. Misalnya jika bantuan dari pemerintah terbatas sedangkan kegiatan yang harus dilakukan cukup banyak oleh karena itu kepala harus mampu mencari peluang untuk mendayagunakan berbagai potensi masyarakat dan lingkungan sekitar. Terdapat beberapa tahap yang sebaiknya diterapkan dalam mengembangkan kewirausahaan di dunia pendidikan agar berhasil dengan baik, yaitu:

1. Mengidentifikasikan tujuan yang akan diucapkan
2. Menyiapkan atas resiko yang akan diterima baik tenaga, uang maupun waktu.
3. Meyakinkan akan kemampuan membuat rencana, mengorganisasi, mengkoordinasi dan melaksanakan program
4. Komitmen terhadap kerja keras sepanjang waktu, dan merasa penting akan keberhasilan usaha.
5. Merasa kreatif dan yakin dapat mengembangkan hubungan baik dengan pelanggan, tenaga kependidikan, orang tua, masyarakat, lembaga sosial, pemerintah dan dunia usaha yang berpengaruh terhadap kegiatan pendidikan.
6. Menerima keuntungan dan penuh tanggung jawab atas keberhasilan dan kegagalannya.

Dalam mempraktekkan manajemen kewirausahaan ini perlu adanya etos kerja yang kuat. Seorang wirausaha perlu bekerja penuh kegigihan, kerja keras, dan kerja cerdas. Al-Qur'an menanggapi masalah ini dalam surah al- An’am ayat 135:

Katakanlah: "Hai kaumku, berbuatlah sepenuh kemampuanmu, Sesungguhnya akupun berbuat (pula). kelak kamu akan mengetahui, siapakah (di antara kita) yang akan memperoleh hasil yang baik di dunia ini. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu tidak akan mendapatkan keberuntungan. (Qs. Al-An’am: 135)

Ayat ini mengandung indikasi tentang keharusan bekerja keras dalam meraih kesuksesan hidup di dunia. Artinya mendorong umat muslim secara khusus dan umat manusia secara umum untuk memiliki etos kerja yang tinggi. Dari keterangan ini maka tidak diragukan lagi bahwa setiap umat muslim baik secara personal ataupun kolektif agar dapat bekerja keras dalam meraih apapun yang menjadi tujuan utamanya. Tak terkecuali yang berada dalam lingkup keorganisasian yaitu pada lembaga pendidikan Islam.

Apabila setiap lembaga pendidikan Islam mampu mempraktikkan manajemen kewirausahaan maka ia akan mampu mengokohkan fungsinya untuk Tafaqquh fiddin, yaitu melestarikan dan menjaga ajaran agama Islam seutuhnya. Pesantren menurut fungsinya ini harus berani mengimplementasikan konsep kewirausahaan dalam menunjang kelangsungan lembaga sehingga secara terus menerus bisa menjalankan program pendidikan di bidang agama Islam. Konsep manajemen kewirausahaan ini pada dasarnya tidak hanya terkait masalah pengelolaan keuangan akan tetapi juga berhubungan dengan kurikulum dan materi kewirausahaan. Dengan demikian pesantren akan menghasilkan mutu pendidikan yang lebih baik yang mampu melahirkan calon ahli di bidang agama Islam dan tidak pernah terkendala masalah keuangan anggaran program. Hal ini sesuai dengan Al-Qur’an surat At-Taubah ayat 122 yaitu:

Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. (QS. At-Taubah:122)

Berdasarkan uraian di atas jika ingin sukses mengembangkan program kewirausahaan di dunia pendidikan maka kepala pendidikan, tenaga kependidikan baik guru maupun non guru dan peserta didik harus dibiasakan berpikir wirausaha. Oleh karena itu stakeholder pendidikan harus dibimbing untuk memahami dan mengembangkan sikap kewirausahaan sesuai dengan tugas masing-masing. Demikian penjelasan tentang manajemen kewirausahaan dalam pendidikan ini.

BAB III
Penutup

A. Kesimpulan

Kepala sekolah atau pemimpin pendidikan agar bisa mendirikan dan mengembangkan potensi ekonomis yang dimilikinya. Tujuannya agar lembaga bisa mandiri secara keuangan dan tidak saja mengandalkan kucuran dana dari pemerintah dan wali murid. Ataupun lembaga sosial yang lain.

Sebagai produsen ilmu pengetahuan dan yang sekaligus pencetak ilmuwan, perguruan tinggi disarankan agar lebih mengintensifkan perhatiannya pada ilmu manajemen kewirausahaan dalam pendidikan. Karena hal ini menjadi prasyarat tumbuh dan berkembangnya suatu ilmu baik secara teoritik dan praktik. Begitu juga dengan para pakar pendidikan. Mereka yang bertindak selaku penjaga ilmu pengetahuan pun memiliki andil yang sama besar dengan perguruan tinggi untuk melestarikan ilmu dan kebudayaan.

Terakhir yang menerima rekomendasi adalah pemerintah. Pemerintah mendapatkan saran agar lebih produktif lagi dalam menerbitkan kebijakan terkait dukungan berlangsungnya kewirausahaan dalam pendidikan. bias dilakukan misalnya dengan cara menyuntikkan modal agar lembaga pendidikan mampu mengembangkan kewirausahaannya. Selain itu juga perlu dibarengi dukungan berupa moril, tidak saja berwujud materiil. Sehingga pada gilirannya lembaga pendidikan di Indonesia baik formal maupun nonformal bisa meringankan tugas pemerintah dalam mencerdaskan anak bangsa dengan totalitas kemandirian secara keuangan. Hal ini nantinya juga akan mengurangi beban penduduk miskin dalam memperoleh hak pendidikannya secara penuh dan utuh. Terima kasih.

Catatan Kaki
Sebagaimana dikutip Iwa Sukiswa, Dasar-Dasar Manajemen Pendidikan, (Bandung:Tarsito, 1986), hlm. 4.

Magdalene Lumbantoruan, B. Soewartoyo, Ensiklopedi Ekonomi, Bisnis, dan Manajemen, jilid 1, (Jakarta: Delta Pamungkas, 1997), hlm. 370.

T. Hani Handoko, Manajemen edisi 2, (Yogyakarta: BPFE, 2003), hlm. 23.

Komarudin, Ensiklopedia Manajemen (Jakarta: Bumi Aksara, 1994) hlm. 290.

Malayu S.P. Hasibuan, Organisasi dan Motivasi, Dasar Peningkatan Produktivitas, (Jakarta: Bumi Aksara, 2003), hlm. 92

Ek. Mochtar, Manajemen,Suatu Pendekatan Berdasarkan Ajaran Islam, (Jakarta: Bharata Karya Aksara, 1996), hlm. 105.

David Clutterbuck, The Power of Empowerment (Terj.), (Jakarta: Gramedia, 2003), hlm. 4.

Sebagaimana dikutip Wibowo, Manajemen Perubahan (Jakarta: Grafindo, 2006), hlm.

Karwanto Abdullah, Bahan Kuliah Metodologi Penelitian Pendidikan Mahasiswa Program Studi Kependidikan Islam (KI) Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang Tahun Akademik 2008/2009

Dalam kewirausahaan, modal tidak selalu identik dengan modal yang berwujud (tangible) seperti uang dan barang. Tetapi ada juga modal yang tidak berwujud seperti modal intelektual, modal sosial, modal moral dan modal mental yang dilandasi agama. Secara garis besar modal terbagi 4 (empat) jenis: modal intelektual, sosial dan moral, mental dan modal material. Modal intelektual diwujudkan dalam bentuk ide sebagai modal utama yang disertai pengetahuan (knowledge), kemampuan (capability), ketrampilan (skill), komitmen (commitment) dan tanggung jawab (authority). Modal sosial dan moral terwujud dalam bentuk kejujuran, dan kepercayaan. Sehingga terbentuk citra yang positif. Seorang wirausaha yang baik memiliki 10 (sepuluh) etika. Yaitu kejujuran, memiliki integritas, menepati janji, kesetiaan, kewajaran, suka membantu, warga negara yang baik dan taat hukum, mengejar keunggulan dan bertanggung jawab. Sedangkan modal mental adalah kesiapan mental berdasarkan landasan agama (spiritual). Diwujudkan dalam bentuk keberanian untuk menghadapi resiko dan tantangan yang dilandasi keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan YME. Adapun modal material adalah modal berbentuk orang atau barang. Modal ini bukan merupakan modal utama karena modal material dapat terbentuk apabila kita telah memiliki modal-modal lain di atas. Suharno, dalam “Manajemen Kewirausahaan”, Http//sekartajung.blogspot.com.

J. Winardi, Entrepreneur dan Entrepreneurship, (Bogor: Kencana, 2003), hlm. 3.

Steven C. Brandt, Entrepreneurship, 10 Tahapan Menjadi Wiraswastawan Tangguh, (Semarang: Dahara Prize, 1995), hlm. 4

Internal focus control adalah memiliki semangat untuk berhasil dan percaya akan kemampuan mengendalikan kehidupan sendiri. Mampu mengontrol kehidupan bukan dikontrol oleh orang lain (eksternal focus control). Internal focus control bagi kepala pendidikan menggambarkan stabilitas emosi dan kemampuan mengantisipasi berbagai problematika baik internal diri maupun problematika lembaga secara keseluruhan kepala yang demikian ini sebagai gambaran kepemimpinan yang kuat (strong leadership) khususnya dalam menentukan kebijakan dan mengambil keputusan yang benar-benar visioner.

E. Mulyasa, Menjadi Kepala Sekolah profesional, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2006), hlm. 8.

Departemen Agama RI, Al-Qur'an dan Terjemahnya, (Bandung: CV Penerbit Jumanatul Ali art (J-ART), 2005), hlm. 153

Demikianlah Makalah Manajemen Pendidikan Kewirausahaan ini. Terimah kasih berkenan mampir. Mudahan bermanfaat

0 Response to "Makalah Manajemen Pendidikan Kewirausahaan"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!