Makalah Memahami Hadis Nabi dengan Al-Qur'an

Advertisement


Hadis sebagai sumber kedua, nampaknya selalu menarik untuk dikaji, baik yang menyangkut tentang kritik otentitas atau validitas atau kritik matan untuk memahami kandungan hadis itu sendiri. Untuk memahami kandungan hadis dilakukanlah pensyarahan terhadap hadis tersebut. . Para ahli hadis pun dalam karya-karyanya menjelaskan tentang berbagai karakteristik serta ketentuan umum yang sangat esensial guna memahami as sunnah secara proporsional, tidak hanya berhenti pada susunan lahiriahnya saja seraya melupakan jiwa dan semangat yang menjadi tujuannya. Al Adlabi misalnya, ia menyusun sejumlah kriteria kritik matan dalam empat hal sebagai berikut:

Tidak bertentangan dengan al Qur'an.
Tidak bertentangan dengan hadis lain yang lebih kuat.
Tidak bertentangan dengan akal sehat, indra dan fakta sejarah.
Susunan pernyataannya menunjukkan ciri-ciri sabda kenabian.[1]

Pada makalah ini kita akan membahas tentang kriteria yang pertama dalam memahami hadis. Seluruh ulama' hadis sepakat bahwa hadis harus sejalan dengan al Qur'an. Al Quran adalah firman Allah SWT yang di dalamnya terkandung ajaran pokok untuk keperluan seluruh aspek kehidupan. Sunnah adalah segala sesuatu yang di idhafah-kan kepada Muhammad Saw yang berisi petunjuk (pedoman) untuk kemaslahatan hidup umat manusia. Dalam kenyataannya, Nabi saw. merupakan pemberi penjelasan bagi al Qur'an, dan beliau pulalah yang mengaktualisasikan ajaran Islam dengan ucapan dan tindakannya. Sehingga segala yang dilakukan dan diucapkan oleh nabi tidak mungkin bertentangan dengan al Qur'an. Itulah sebabnya al Qur'an menjadi tolok ukur pertama dalam memahami hadis Nabi.

Makalah Memahami Hadis Nabi dengan Al-Qur'an

Pensyarahan Hadis Nabi dengan al Qur’an 

Secara epistemologis, hadis dipandang oleh mayoritas umat Islam sebagai sumber ajaran Islam kedua setelah Al-Qur’an. Sebab ia merupakan bayan (penjelas), terhadap ayat-ayat Al-Qur’an yang masih mujmal (global), ‘am (umum) dan yang mutlaq (tanpa batasan). Bahkan secara mandiri hadis dapat berfungsi sebgai penetap (muqarrir) suatu hukum yang belum ditetapkan oleh Al-Qur’an.[2]

Untuk dapat memahami hadis dengan benar, jauh dari penyimpangan, pemalsuan, dan penafsiran, maka haruslah kita memahaminya sesuai dengan petunjuk al Qur'an, yaitu dalam kerangka bimbingan Ilahi yang pasti benarnya. "Dan telah sempurnalah kalimat Tuhanmu, dalam kebenaran dan keadilannya. Tidak ada yang dapat mengubah-ubah kalimat-Nya dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (al An'am:115). Jelaslah bahwa al Qur'an adalah "ruh" dari eksistensi Islam, dan merupakan asas bangunannya. Ia merupakan konstitusi dasar yang pertama dan paling utama, yang kepadanya bermuara segala perundang-undangan Islam. Sedangkan as Sunnah adalah penjelasanterinci tentang isi konstitusi tersebut, baik dalam hal-hal yang bersifat teoritis ataupun penerapannya secara praktis. Itulah tugas Rasulullah saw., menjelaskan bagi manusia apa yang diturunkan kepada mereka. Oleh sebab itu, tidaklah mungkin sesuatu yang merupakan pemberi penjelasan bertentangan dengan apa yang hendak dijelaskan. Atau dengan kata lain, tidak mungkin cabang berlawanan dengan pokok. Maka penjelasan yang berasal dari Nabi saw. selalu dan senantiasa berkisar seputar al Qur'an, dan tidak mungkin akan melanggarnya. Ini berarti bahwa as sunnah harus dipahami dalam kerangka petunjuk al Qur'an.

Oleh sebab itu, tidaklah mungkin al Qur’an dan Hadis memiliki pertentangan. Kalaupun ada sebagian dari kita memperkirakan adanya pertentangan, maka hal itu pasti ada salah satu kemungkinan sebagai berikut: Hadis yang bersangkutan tidak berkwalitas sahih, Pemahaman kita kurang tepat. atau Apa yang kelihatannya bertentangan itu hanyalah bersifat semu, bukan pertentangan hakiki.[3]



Baca juga Artikel Hadis Lainnya:
  1. Makalah Memahami Hadis Nabi SAW dengan Metode Ijtihad
  2. Makalah Memahami hadis Nabi dengan Pendekatan Bahasa
  3. Makalah Metode Hermeneutik dalam Syarah Hadis Nabi SAW
  4. Makalah Metode Ijmali dalam Syarah Hadis Nabi SAW

Pensyarahan Hadis pada Masa Sahabat

Setelah Nabi wafat sahabat kehilangan figure central yang dijadikan sumber dan tempat bertanya mengenai ilmu agama, termasuk di dalamnya untuk mengungkap makna hadis Nabi. Pada masa ini mereka mensyarahi hadis dengan cara mencocokkan kandungannya dengan al Qur'an ataupun dengan hadis yang lain. Dalam memahami hadis, jika tidak ditemukan penjelasannya dalam al Qur’an atau hadis Rasul, sahabat berusaha menggunakan akal mereka untuk memahami hadis tersebut. Dan bisa saja hadis mauquf dan hadis maqthu’ yang kita temui sekarang merupakan salah satu dari syarah atas hadis Nabi. Jadi pada masa ini, sudah muncul syarah hadis dengan ra’yu meskipun tergolong masih sangat sedikit. Hal ini disebabkan rasa takut dari sahabat yang merasa pengetahuannya masih sangat jauh di bawah Nabi. Pada masa ini sahabat sangat berhati-hati dalam pensyarahan hadis.

Pensyarahan Hadis pada Masa Tabi'in & Tabi'it Tabi'in

Setelah masa sahabat (abad ke-2 H) datanglah generasi tabi’in yang memawarisi Sunnah. Mereka tampil dengan mengemban amanah penyampaian risalah kepada seluruh manusia. Di sini penggunaan ra’yu untuk mensyarahi hadis juga terus berjalan, baik itu pendapat dari thabaqat di atas mereka (sahabat) maupun dari golongan mereka sendiri. Namun begitu, mereka tidak pernah melupakan al Qur'an dan hadis Nabi lainnya sebagai tolok ukur untuk menerima dan mensyarahi hadis.

Pensyarahan Hadis pada Periode Selanjutnya

Pada abad ke-4 sampai ke-5 Hijriah inilah mulai muncul ulama’ yang menonjol dalam kegiatan memelihara dan mengembangkan hadis yang telah terhimpun dalam kitab-kitab yang sudah ada. Periode ini dimulai pada masa Khalifah Al Muktadir sampai Khalifah Al-Muktashim. Mereka mempelajarinya, menghafalnya, memeriksa dan menyelidiki sanad-sanadnya, dan memberikan komentar atau penjelasan terhadap kitab-kitab hadis tersebut. Namun sampai abad ini pun penulisan kitab syarah juga masih dikatakan belum marak di kalangan ulama’.

Mulai tahun 656 H inilah ulama’ hadis benar-benar disibukkan dengan kegiatan pensyarahan. Sehingga abad ke-7 H dan seterusnya ini dikenal sebagai asyr as syarh. Kitab-kitab syarah yang muncul pun berbeda-beda metode penulisannya, ada yang tahlili dan ada pula yang ijmali. Namun dari kedua metode tersebut, akan dapat kita temukan pensyarahan hadis dengan ayat-ayat al Qur'an, meskipun itu hanya sekedar untuk menguatkan kebenaran hadisnya.
 
Pensyarahan Hadis di Era Kekinian

Pada masa ini pensyarahan hadis dengan ra'yu berkembang dengan pesat, namun ra'yu yang dimaksud adalah tetap dalam lindungan al Qur'an. Bahkan ulama' kontemporer tidak segan-segan menolak begitu saja hadis yang bertentangan dengan al Qur'an. Perbedaannya dengan ulama' klasik adalah apabila bertemu dengan hadis-hadis shahih yang matannya musykil dan tidak ditemukan jawabannya, maka mereka mendiamkan saja hadis tersebut, sedangkan beberapa di antara ulama' kontemporer ada yang dengan mudah mengatakan hadis tersebut tertolak.

Dengan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pensyarahan hadis dengan al Qur'an sudah muncul dari masa sahabat (bahkan pada masa Nabi, karena apa yang diungkapkan oleh Nabi tidak pernah bertentangan dengan al Qur;an) sampai saat ini.

Macam-Macam Syarah Hadis dengan al Qur’an Berdasarkan Bentuknya

 
1. Dalam bentuk kalimah, tentang ayah nabi Muhammad masuk neraka.[4]


حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا عَفَّانُ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَجُلًا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيْنَ أَبِي قَالَ فِي النَّارِ فَلَمَّا قَفَّى دَعَاهُ فَقَالَ إِنَّ أَبِي وَأَبَاكَ فِي النَّارِ[5]

Yang dimaksud dengan kata أَبِي dalam hadis di atas, bukanlah abdullah bin Abdul Muthalib, karena beliau adalah termasuk golongan transisi, yaitu orang yang hidup setelah wafatnya Nabi Isa dan sebelum kerasulan Muhammad saw. Lafadh أَبِي tersebut diartikan dengan paman nabi yaitu Abu Thalib, berdasarkan Q.S. al Baqarah:133. Ismail adalah paman Ya’qub, namun al Qur’an menyebutnya sebagai salah seorang dari ayah-ayahnya.

أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَهَكَ وَإِلَهَ آَبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ [6]

2. Dalam bentuk jumlah, yaitu hadis tentang taubat yang diriwayatkan oleh Imam Muslim.


و عن أبي هريرة رضي الله عنه قا ل: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : " من تاب قبل أن تطلع الشمس من مغربها تاب الله عليه[7]

Uraian dalam Hadis di atas sesuai dengan firman Allah dalam al-Quran al-Karim, surat Nisa' ayat 18 yang berbunyi:


وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّى إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الْآَنَ وَلَا الَّذِينَ يَمُوتُونَ وَهُمْ كُفَّارٌ أُولَئِكَ أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا[8]

Macam-macam Syarah Hadis dengan al Qur’an Berdasarkan Tujuannya
 
1. Untuk menasakh hadis yang disyarahi, seperti contoh hadis tentang mayat diadzab karena tangisan keluarganya.
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْمَيِّتَ يُعَذَّبُ بِبُكَاءِ أَهْلِهِ عَلَيْهِ[9]

Hadis ini tidak diakui oleh al Ghazali karena dianggap bertentangan dengan Q.S. al Fushilat:30.


إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ[10]
قَالَ لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمْ امْرَأَةً[11]

Masih berdasarkan pendapat al Ghazali, bahwa hadis ini bertentangan dengan Q.S. al Naml:23.


إِنِّي وَجَدْتُ امْرَأَةً تَمْلِكُهُمْ وَأُوتِيَتْ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ وَلَهَا عَرْشٌ عَظِيمٌ [12]

2. Untuk menjelaskan, yaitu hadis yang menjelaskan tentang warisan, maka dijelaskan oleh Allah dalam firman-nya Q.S. an Nisa’:11


حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا وُهَيْبٌ حَدَّثَنَا ابْنُ طَاوُسٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَلْحِقُوا الْفَرَائِضَ بِأَهْلِهَا فَمَا بَقِيَ فَهُوَ لِأَوْلَى رَجُلٍ ذَكَرٍ[13]
يُوصِيكُمُ اللَّهُ فِي أَوْلَادِكُمْ لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْأُنْثَيَيْنِ فَإِنْ كُنَّ نِسَاءً فَوْقَ اثْنَتَيْنِ فَلَهُنَّ ثُلُثَا مَا تَرَكَ وَإِنْ كَانَتْ وَاحِدَةً فَلَهَا النِّصْفُ وَلِأَبَوَيْهِ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا السُّدُسُ مِمَّا تَرَكَ إِنْ كَانَ لَهُ وَلَدٌ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ وَلَدٌ وَوَرِثَهُ أَبَوَاهُ فَلِأُمِّهِ الثُّلُثُ فَإِنْ كَانَ لَهُ إِخْوَةٌ فَلِأُمِّهِ السُّدُسُ مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصِي بِهَا أَوْ دَيْنٍ آَبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ لَا تَدْرُونَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ لَكُمْ نَفْعًا فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا[14]

3. Contoh al Qur’an sebagai syarah yang berfungsi sebagai penguat.
 
” Iman itu adalah perkataan dan perbuatan, dapat bertambah ataupun berkurang.” Hadis tentang bertambah dan berkurangnya iman disyarahi dengan ayat-ayat al Qur'an di bawah ini:

هو الذي أنزل السكينة في قلوب المؤمنين ليزدادوا إيمانا مع إيمانهم ولله جنود السماوات والأرض وكان الله عليما حكيما[15]
نحن نقص عليك نبأهم بالحق إنهم فتية آمنوا بربهم وزدناهم هدى[16]
الذين قال لهم الناس إن الناس قد جمعوا لكم فاخشوهم فزادهم إيمانا وقالوا حسبنا الله ونعم الوكيل[17]

Kesimpulan
Bahwa pensyarahan hadis dengan al Qur'an sudah muncul dari masa sahabat (bahkan pada masa Nabi, karena apa yang diungkapkan oleh Nabi tidak pernah bertentangan dengan al Qur;an) sampai saat ini.
 
Perbedaan pensyarahan ulama' kontemporer dengan ulama' klasik adalah apabila bertemu dengan hadis-hadis shahih yang matannya musykil (salah satunya bertentangan dengan al Qur'an) dan tidak ditemukan jawabannya, maka mereka mendiamkan saja hadis tersebut, sedangkan beberapa di antara ulama' kontemporer ada yang dengan mudah mengatakan hadis tersebut tertolak. Mereka tidak segan-segan menolak begitu saja hadis yang bertentangan dengan al Qur'an.

Daftar Pustaka

 
Al Adlabi, Salahuddin ibn Ahmad. Manhaj Naqd al Matn Ulama' al Hadis al Nabawi terj. Qadirun Nur. Jakarta: Gaya Media Pratama, 2004.
Munawwar, Said Agil Husain dan Abdul Mustaqim. Asbabul Wurud. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001.
Al Qaradhawi, Yusuf. Kaifa Nata’amalu Ma’a Sunnah al Nabawiyah terj. Muhammad al Baqir. Bandung: Karisma, 1993.
Muslim, Imam . Shahih Muslim dalam CD ROM Mausu’ah al Hadis al Syarif Global Islamic Software,
Bukhari, Imam . Shahih Bukhari dalam CD ROM Mausu’ah al Hadis al Syarif Global Islamic Software.




[1] Salahuddin ibn Ahmad al Adlabi, Manhaj Naqd al Matn Ulama' al Hadis al Nabawi terj. Qadirun Nur, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2004), hlm. 209.
[2] Said Agil Husain Munawwar dan Abdul Mustaqim. 2001. Asbabul Wurud. Yogyakarta: Pustaka Pelajar., hal. 24.
[3]Yusuf al Qaradhawi, Kaifa Nata’amalu Ma’a Sunnah al Nabawiyah terj. Muhammad al Baqir, (Bandung: Karisma, 1993), hlm. 93.”
[4] Imam Muslim, Shahih Muslim dalam CD ROM Mausu’ah al Hadis al Syarif Global Islamic Software, no. 302.
[5] Sesungguhnya ayahku dan ayahmu, kedua-duanya di neraka.
[6] Adakah kamu hadir ketika Ya'qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: "Apa yang kamu sembah sepeninggalku?" Mereka menjawab: "Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.
[7] Dari Abu Hurairah r.a., katanya: Rasulullah s.a.w. bersabda: "Barangsiapa bertaubat sebelum matahari terbit dari arah barat, maka Allah menerima taubatnya orang itu." (Riwayat Muslim)
[8] "Taubat itu tidaklah diterima bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan, sehingga di kala salah seorang dari mereka itu telah didatangi kematian - sudah dekat ajalnya dan ruhnya sudah di kerongkongan - tiba-tiba ia mengatakan: "Aku sekarang bertaubat."
[9] Sesungguhnya seorang mayat akan diadzab karena tangis keluarganya terhadapnya.
[10] "Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu."
[11] Pastilah gagal suatu kaum yang menyerahkan urusan mereka kepada perempuan. (Bukhari no. 4073)
[12] "Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar."
[13] Imam Bukhari, Shahih Bukhari dalam CD ROM Mausu’ah al Hadis al Syarif Global Islamic Software, no. 6235.
[14]Allah mensyariatkan kepadamu tentang (pembagian warisan untuk) anak-anakmu,(yaitu) bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan.................
[15] Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana (Q.S. al Fath: 4).
[16] Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk. (Q.S. al Kahfi: 13).
[17] (Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: "Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka", maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: "Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung." ( Q.S. Ali Imran: 173).

Makalah Memahami Hadis Nabi dengan Al-Qur'an ditulis Oleh: Jauharotul Masruroh (07530078). Terimah Kasih



1 Response to "Makalah Memahami Hadis Nabi dengan Al-Qur'an"

  1. Alhamdulillah,moga kefahaman kita didalam islam semakin tinggi

    ReplyDelete

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!