Makalah Metode Hermeneutik dalam Pensyarahan Hadis

Advertisement

a. Definisi Hermeneutik Hadis dan Konsepnya

Nizar Ali: Upaya untuk menjelaskan, mengungkapkan, memahami dan menelusuri pesan dan pengertian dasar yang mengejawantah dalam redaksi/teks/matn hadis Nabi saw.,sehingga dapat dipahami isi, makna dan maksud terdalam dari sebuah hadis oleh pembacanya. Melalui hermeneutik, pengarang teks dan pembacanya terjembatani, bersambung dan berkomunikasi. Menurutnya, dalam hal ini ada tiga variabel; pengarang, teks sebagi mediator dan pembaca yang membentuk sebuah struktur tiga serangkai (triadic) dalam pemahaman.[1]

Makalah Metode Hermeneutik dalam Pensyarahan Hadis

Suryadi: Proses yang dinamis dalam menafsirkan teks berdasarkan asumsi-asumsi, pengalaman-pengalaman serta terjadinya silang penafsiran antar teks atas teks yang kemudian melahirkan jaringan dan lingkaran interteks. Menurut Suryadi, menyitir pernyataannya Amina Wadud, bahwa  dalam hermeneutik, terdapat tiga aspek yang harus dipertimbangkan yakni; dalam konteks apa suatu teks ditulis, bagaimana komposisi tata bahasa suatu teks dan dalam bentuk apa pengungkapannya serta bagaimana pandangan hidup yang terkandung dalam keseluruhan teks. Menurutnya, dengan mengutip pendapat dari Komaruddin Hidayat, bahwa ada empat agenda dalam memahami sebuah teks yaitu; memiliki persyaratan yang cukup yang diperlukan untuk menangkap gagasan dari luar, memiliki data yang cukup yang berkaitan dengan kualitas pribadi dan intelektual serta kondisi sosio-kultural saat teks tersebut lahir, mengetahui cara menghubungkan teks dengan pengarangnya, dan yang terakhir adalah mengetahui kriteria memehami teks secara tepat dan benar.[2]

M. Al-Fatih Suryadilaga: -dengan memilih hermeneutiknya Gadamer- menurutnya, penafsiran adalalah seni yang memiliki ciri adanya kreatifitas, keindahan, fleksibilitas, imajinasi dan efektifitas. Menurut Al-Fatih, Gadamer menggunakan bentuk pemahaman efective history dalam memahami teks masa lampau. Waktu dalam pandangannya terdiri dari tiga bagian yakni; Pertama masa lampau di mana teks itu dilahirkan atau dipublikasikan. Dari teks masa lampau ini, teks bukan lagi milik si penyusun lagi melainkan milik setiap orang. Mereka bebas menginterpretasikannya. Kedua, present, yang di dalamnya terdapat sekumpulan penafsir yang dipenuhi berbagai prejudice. Prasangka-prasangka seperti ini akan menghasilkan dialog dengan masa sebelumnya sehingga akan muncul penafsiran yang sesuai dengan konteks interpreter. Ketiga, masa depan, di mana di sini terletak efective history yang terdapat nuansa segar yang sifatnya produktif.[3]


Nurun Najwah: Penafsiran dengan ungkapan yang memiliki rentang sejarah atau penfsiran terhadap teks tertulis yang memiliki rentang rentang waktu yang panjang dengan audiencenya. Menurut Nurun, sebagai sebuah teori interpretasi, ia dihadirkan untuk menjembatani keterasingan dalam distansi waktu, wilayah dan sosio kultural Nabi antara teks dan audience (umat Islam dari masa ke masa).[4]

Baca juga Artikel Hadis Lainnya:
  1. Makalah Metode Ijmali dalam Syarah Hadis Nabi SAW
  2. Makalah Metode Komparatif dalam Memahami Hadis Nabi
  3. Makalah Metode Tahlili dalam Kajian Hadis Nabi SAW
  4. Makalah Kajian Hadis Metode Nasikh Mansukh


Langkah Konkrit Metode Hermeneutik


Menurut penulis, dari beberapa pemikir yang dikaji, langkah yang ditawarkan oleh Nurun Najwah lebih representatif dibanding yang lainnya, diantaranya:

1. Memahami dari aspek bahasa
2. Memahami konteks historis
3. Mengkomparasikan secara tematik –komprehensif dan itegral
4.emaknai teks dengan menyarikan ide dasarnya, dengan mempertimbangkan data-data sebelumnya (membedakan wilayah tekstual-kontekstual)[5]

Contoh Makalah Aplikasi Metode Hermeneutik dalam Pensyarahan Hadis

Redaksi Hadis


 حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ قَالَ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ[6]
“Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda “Demi  Tuhan yang menguasai diriku, tidaklah sempurna  iman seseorang di antara kalian hingga saya lebih dicintai daripada orang tua dan anaknya.”

Dalam upaya memahami hadis tentang kecintaan kepada Rasulullah saw.,ini, agar didapatkan pemahaman yang proporsional dan komprehensif, penulis mengunakan metode pemahaman hermeneuitik sebagaimana yang diuraikan oleh Nurun Najwah[7] dengan melalui beberapa aspek yang perlu dikaji diantaranya: Dengan memperhatikan redaksi hadis yang variatif sebagaimana yang tertera di atas, maka dapat diketahui bahwa hadis tetang kecintaan kepada Rasulullah saw., tersebut, diriwayatkan secara makna (al-riwayah bi al-ma’na), hal ini bisa dibuktikan dengan adanya  perbedaan redaksi sebagai berikut:

1. Sebagaian teks menggunakan lafadz   فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ (hadis riwayat Bukhari, no. 13 dan al-Nasa’i, no. 4929) sedangkan riwayat yang lain tidaklah demikian.

2. Beberapa teks hadis menggunakan redaksi

a. مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ  (riwayat al-Bukhari, no. 13 dan Al-Nasa’i, no. 4929)

b. مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ (riwayat riwayat Al-Bukhari, no. 14, Muslim, no. 63, al-Nasa’i, no. 4927, al-Darimi, no. 2797, Ibn Majah, no. 66, Ahmad, no. 12349 & 13402 )

c. حَتَّى يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَحَتَّى يُقْذَفَ فِي النَّارِ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ أَنْ يَعُودَ فِي كُفْرٍ بَعْدَ إِذْ نَجَّاهُ اللَّهُ مِنْهُ .......مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ (riwayat Ahmad, no. 12676 & 13449)

d. مِنْ مَالِهِ وَأَهْلِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ (riwayat Al-Nasa’i, no. 4928).

Pada permulaan, lafadz hadis tersebut  berbunyi   فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِه Ibn Al-Tiin berkata bahwa ketika sebuah hadis Nabi saw., menggunakan redaksi sumpah wa ladzy nafsy bi yadihi, maka menunjukan bahwa hadis tersebut shahih, benar-benar berasal dari ucapan  Beliau saw.[8] kemudian dilanjutkan dengn lafadz   لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ yang maknanya mengisyaratkan penegasan akan kesempurnaan keimanan seseorang di antara umatnya. Meski pada jalur riwayat lain ada yang redaksinya lebih panjang yakni حَتَّى يَكُونَ اللَّهُ  ....... وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ menurut penulis, hadis ini posisinya sebagai syarah dari hadis yang lainnya.[9] Sehingga menurut penulis, redaksi matan hadis ini tidaklah janggal dan mengindikasikan bahwa ia benar-benar dari Nabi saw., meski ada beberapa perbedaan lafadz sebagai implikasi dari periwayatannya secara makna.

a. Konteks Historis dalam Metode Hermeneutik

Dalam kitab Syarh Arba’in al-Nawawiyah diterangkan tentang peristiwa yang melatarbelakangi Rasulullah saw., bersabda demikian (sabab wurud al-hadits), yaitu:

Pada suatu hari, terjadi perbincangan antara Umar dengan Nabi saw. Umar ra., bertanya kepada Nabi saw., wahai Rasulullah saw.,! sungguh engkau amat saya cintai dibandingkan kecintaanku kepada segala sesuatu, kecuali cintaku kepada diriku sendiri. Kemudian Rasulullah saw., menjawab: “Tidak, tidak demikian wahai Umar! Demi jiwaku yang berada dalam genggaman-Nya (kekuasaan-Nya), -hendaklah engkau mencintaiku- hingga aku menjadi orang yang paling dicintai dibandingkan dirimu sendiri.” Lantas Umar berkata: “Sungguh demi Allah, semenjak sekarang, engkau adalah orang yang paling saya cintai dibanding kecintaanku kepada diriku sendiri.” Kemudian Rasulullah saw., bersabda: “Sungguh sekarang ini,  cintamu telah sempurna.”[10]

Penulis belum menemukan penjelasan tentang bagaimana konteks perbincangan antara Umar dengan Nabi saw., pada saat itu. Begitu pula dengan asbab wurud al-hadis makronya. Penulis berpendapat, apabila hadis yang disampaikan Rasulullah saw., itu menyangkut hal keimanan, maka konteksnya bersifat universal, kecuali pada peristiwa tertentu dengan didukung oleh beberapa qorinah . Namun, dari isi dialog yang dilakukan keduanya, dapat diketahui bahwa pada saat itu, umar mengatakan bahwa ia memang mengunggulkan kecintaannya kepada Rasulullah saw., dibandingkan kepada segala sesuatu yang lain. Namun, cintanya kepada dirinya sendiri lebih besar dibanding cintanya kepada Nabi saw. Kemudian Rasulullah saw., menyangkal pernyataannya tersebut dengan ungkapan bahwa Beliaulah (Rasul saw.) yang lebih berhak untuk menjadi sosok yang paling dicintai meski kepada dirinya sendiri. Dan hal ini berlaku juga bagi umat muslim seluruhnya sebab terkait dengan aspek aqidah.

b. Syarah Hadis dalam Metode Hermeneutik

Dalam hadis tersebut, semua redaksinya menggunakan lafadz ahabbu, menurut Al-Khitaby, maksud dari kata ini adalah cinta yang sifatnya ikhtiyari bukan cinta yang sifatnya thabi’y,[11] sebab kecintaan manusia terhadap dirinya dan  keluarganya adalah merupakan sebuah tabi’at dan bukan jalan pilihan bagi kecenderungan hatinya. Menurut Fudhail ibn Iyad dan beberapa tabi’in lain berkata bahwa makna dari hadis ini adalah tidaklah sempurna keimanan seseorang hingga ia mampu menafikan dirinya (untuk memperturutkan hawa nafsunya) dalam ketaatan kepada Rasulullah saw.

Al-Khitaby menjelaskan bahwa cinta (Al-Mahabbah) itu, ada tiga macam  yakni: pertama, mahabbah ijlal wa i’dzam seperti cinta kepada orang tua. Kedua, mahabbah syafaqah wa rahmah semisal cinta kepada anak dan ketiga, mahabbah masyakillah wa istihsan seperti cinta kepada manusia secara umum. Dan Rasulullah saw., mengumpulkan ketiga macam kategori cinta ini dalam kecintaan kepadanya. Ibnu Bathal berkata bahwa maksud yang terkandung dari hadis tersebut adalah bahwasanya bagi siapa yang menginginkan kesempurnaan imannya, maka hendaklah ia tahu, paham, sadar, bahwa Nabi saw, lebih berhak untuk dicintai daripada anaknya, orang tuanya dan manusia  seluruhnya, lalu ia mengimplementasikan rasa cintanya tersebut dalam ketaatan penuh terhadapnya (Rasulullah saw). Hal ini perlu dilakukan karena Beliau saw., adalah orang yang menyelamatkan kita dari api neraka dan menunjukan kita ke jalan yang lurus dari pada jalan yang sesat.[12]

Dalam terminologi ilmu tauhid, cinta (mahabbah) terbagi menjadi dua macam, pertama, cinta yang bernilai ibadah (mahabbah ‘ubudiyah) yaitu perasaan cinta yang berhubungan dengan apa yang dicintai oleh Allah dan Rosul-Nya. Cinta jenis ini, sangatlah bermacam-macam, seperti cinta kepada sang Khaliq, cinta Rasul, cinta kepada Al-Qur’an, cinta kepada ilmu, yang bermanfaat dan suka terhadap sifat-sifat kesempurnaan seperti kehormatan, kemuliaan, menjaga diri, keberanian, sabar dan sifat-sifat terpuji lainnya.

Adapun yang kedua adalah cinta yang tidak bernilai ibadah  (mahabah laisat ‘ubudiyyah) dan jenis cinta ini, terbagi menjadi empat macam yaitu: pertama, mahabbah thabi’iyah seperti kecintaan manusia kepada makanan, minuman, syahwat yang dibolehkan serta kenikmatan-kenikmatan lainnya. Kedua mahabbah ijlal , ketiga mahabbah isyfaq -keduanya sudah diterangkan di atas- dan keempat adalah mahabbah mushohabah yakni mencintai seseorang lantaran pergaulan atau interaksi dengannya, seperti cinta kepada rekan kerja, teman berdagang, teman dalam perjalanan dan sebagainya. Dan kategori cinta yang kedua ini, tidaklah bernilai ibadah karena di dalamnya tidak terdapat ketaatan (tha’ah) dan ketundukan (dzul).[13]

Keimanan dalam beragama, adalah sebuah pondasi yang harus dimiliki oleh setiap orang yang mengaku dirinya sebagai insan yang taat beragama. Dalam Islam dikenal ada konsep doktrin normatif yang bersifat tidak bisa dirasionalkan (ghairu ma’qulah al-ma’na) dan yang bisa diterima oleh akal (ma’qulah al-ma’na). Pada konsep yang pertama, untuk memahaminya, perlu menggunakan pendekatan keimanan (believe approach) meski tidak berarti bahwa akal sama sekali tidak berposisi. Berkenaan dengan masalah ini -memprioritaskan kecintaan kepada Nabi saw., di atas kecintaannya pada segala sesuatu apapun-, maka menurut penulis, ia termasuk doktrin agama yang seakan-akan tidak logis namun bila didekati dengan keimanan dan kesadaran akan begitu besarnya jasa, perjuangan dan usaha Nabi saw., untuk mengentaskan umat manusia dari jalan kejahiliaan, jalan kekafiran dan kesesatan menuju jalan yang lurus (keimanan), maka hal ini bisa diterima oleh akal yang sehat.

c.  Kajian Tematis (Maudlu’i) Metode Hermeneutik

Dalam memahami sebuah hadis, supaya dapat dihasilkan pemahaman yang holistik, menyeluruh, komprehensif, tidak parsial dan proporsional (shalihun li kulli zaman wa makan) maka mengkaji hadis secara tematik dengan mengintegrasikan serta mengkoneksikan dengan ayat-ayat Al-Qur’an, hadis-hadis lain  dan berbagi ilmu yang terkait, sangatlah perlu dilakukan.

a.  Al-Qur’an
Berkenaan dengan hadis tentang anjuran untuk mencintai Nabi saw., di atas kecintaannya kepada selainnya, ada sejumlah ayat Al-Qur’an yang menerangkan hal tersebut. Dikarenakan ayat yang menjelaskan tentang kewajiban untuk beriman, taat dan tunduk kepada Rasulullah saw., begitu banyak, pada bagian ini penulis membatasi pada ayat-ayat yang ada kaitan dengan masalah kecintaan saja, diantaranya:

1. Q.S. Ali Imran Ayat 31


قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Dalam ayat ini, Allah swt., menegaskan bahwa bagi siapa yang mengaku cinta kepada-Nya, maka pengakuannya belum bisa dibenarkan dan perkataannya belum bisa dipercayai, kecuali apabila ia telah mencintai Rasul-Nya (mengikuti). Menurut Ibn ‘Arabi dalam kitabnya Al-Futuhat al-Makiyah menyatakan bahwa cinta itu ada beberapa tingkatan, adapun tingkat yang paling rendah adalah mengikuti (mentaati).[14]

Ibn Katsir dalam tafsirnya Al-Qur’an al-‘Adzim menamakan ayat di atas dengan ayat hakimah karena ayat di atas memberikan penilaian kepada orang yang mengklaim dirinya kepada Allah Azza wa jalla, sedangkan Ibnul Qoyyim dalam kitabnya Madaris al-Salikin menamai ayat tersebut dengan ayat mahabbah.[15]

Ibnu Rajab menerangkan bahwa adalah wajib memprioritaskan kecintaan kepada Rasululah saw., dibandingkan kepada diri sendiri, anak-anak, kerabat dekat, keluarga, harta dan kaum dhu’afa atau kepada selain mereka, karena kecintaan kepada rasulullah sebagai syarat dan penyempurna cinta kepada Allah swt.[16]

Dari ayat di atas, dapat dipahami bahwa mengikuti dan mentaati Rasulullah saw., adalah jalan atau syarat untuk mencapai mahabbah kepada Allah swt. Namun, cinta itu perlu bukti, bukan hanya semata-mata pengakuan dan ucapan di bibir saja, ia harus dibuktikan dengan amal perbuatan yakni mengikuti dan mentaati segala apa yang diperintahkan, membenarkan apa yang dibawahnya dan mencontohnya dalam segala aspek kehidupan.

2. Q.S. Al-Taubah ayat 24

قُلْ إِنْ كَانَ آَبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
 
Katakanlah: "Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya dan dari berjihad di jalan nya, Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan Keputusan-Nya". dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.

      Syahhat Ibn Mahmud Al-Shawi dalam kitabnya Mahabbah ilahiyyah menjelaskan bahwa ayat ini menerangkan bahwa cinta kepada Allah, cinta kepada Rasulullah dan cinta kepada jihad fi sabilillah, merupakan cinta yang paling besar yang semestinya menjadi pengendali gerak-gerik kita dan harus menguasai seluruh pribadi kita. Allah meletakan setiap apa yang dicintai manusia di dunia dalam salah satu piring timbangan dan menempatkan mahabbatullah, cinta kepada Rasul-Nya serta jihad pada piring timbangan lain. Lantas Allah swt, memberi keluasan untuk memilih di antara keduanya. Dan menegaskan, sebagai seorang yang beriman, cinta kepada ketiga hal tersebut adalah sebuah keniscayaan meski berat dan sulit adanya.[17]

Ibnu Rajab menjelaskan bahwa mencintai Rasulullah saw., termasuk pondasi dari Iman yaitu sebagai dasar disamping cinta kepada Allah swt. Dan Allah menegaskan bahwa cinta kepada-Nya dan kepada Rasul-Nya harus diprioritaskan dibandingkan cintanya kepada segala sesuatu selainnya, seperti kecintaan kepada kerabat, harta, tanah air dan lain sebagainya.[18]

b. Hadis Lain yang Setema (terkait)

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُونَ هَوَاهُ تَبَعًا لِمَا جِئْتُ بِهِ "[19]

“Dari Abdullah ibn Umar ibn ‘Ash dari Nabi saw.,berkata: “tidaklah sempurna keimanan salah seorang di antara kamu hingga keinginanannya mengikuti apa yang aku bawa”.

Yahya ibn Syarifuddin al-Nawawi menyatakan bahwa hadis ini kualitasnya hasan shahih dengan isnad shahih.[20] Lanjutnya, ia menjelaskan bahwa maksud dari hadis ini adalah sebagai konsekuwensi dari keimanannya, yakni mengikuti apa yang Allah perintahkan melalui Rasul-Nya dan tidak menyertai itu dengan hawa dan keinginan nafsunya, maka seorang mukmin harus mengukur segala amal perbuatan, perkataan dan tingkah lakunya dengan timbangan dan tolak  ukur Al-Qur’an dan sunnah, bukan mengikuti hawa nafsunya.[21]

Bila dikaitkan dengan hadis utama yang kita bahas, maka teranglah bahwa nafsu -bisa dikatakan- identik dengan cinta, ketika seorang muslim, telah mendeklarasikan kecintaannya kepada Rasulullah saw., maka ia harus menserasikan keinginannya dengan apa yang Beliau saw., ajarkan serta berusaha sekuat mungkin untuk menempiskan keinginannya itu bila terang bertentangan dengan ajaran dan ketentuan yang diajarkan oleh Nabi saw.

c. Sekilas Penjelasan yang Berkenaan Dengan Cinta Metode Hermeneutik

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), tidak dijelaskan asal kata cinta, namun kata tersebut menunjukan rasa kasih sayang yang tulus tanpa pamrih. Para ahli bahasa Arab berpendapat bahwa lafadz cinta -dalam bahasa Arab al-hubb- berasal dari kata al-qurt (anting-anting), karena ia selalu bergerak, cenderung terguncang dan bergoyang-goyang ditelinga pemakainya. Demikianlah keadaan seorang yang sedang jatuh cinta, hatinya selalu terguncang, ia tidak tenang, selalu merasa khawatir, grogi, nerveus bila sang kekasih berada didekatnya.[22]

Sebagian lain ada yang berpendapat bahwa lafadz al-hubb berasal dari kata al-habbab yang berarti gelembung air, karena seorang yang sedang jatuh cinta, hatinya selalu bergejolak ingin selalu berada di samping kekasihnya. Di samping itu, ada yang mengatakan bahwa ia berasal dari kata al-hibriyyah (gayung besar) karena ia tidak dapat diisi lagi bila telah dipenuhi oleh air. Demikianlah hati, jika ia telah dipenuhi dengan cinta, maka ia tidak bisa diisi dengan yang lainnya. Sementara ulama ma’ani berpendapat bahwa cinta itu adalah kecenderungan hati kepada sesuatu, karena keindahan dan kelezatan yang dirasakan oleh orang yang mencinta.[23]

Menurut Kahlil Gibran, cinta adalah keindahan sejati yang terletak pada keserasian spiritual. Sedang menurut John Gray, cinta adalah memberi bukan menerima, cinta jauh dari saling memaksa (kehendak), cinta tidak menuntut, tapi menegaskan lagi menghargai. Adapun menurut para ahli tasawuf, mereka mengatakan bahwa cinta itu meliputi ilham, pancaran, luapan hati, yang tak terbatas dan tak mengenal definisi, bahkan hakikat dan rahasianya pun tak bisa diketahui.[24]

Adapun menurut penulis, setelah membaca berbagai definisi tentang cinta, maka makna cinta itu beraneka ragam, tergantung pada perspektif, arah pandang dan pengalaman mereka yang merasakannya. Adapun untuk mengetahui makna dan hakikatnya secara menyeluruh, menurut penulis, cinta itu sulit untuk diungkapkan, sulit untuk dinyatakan, hal yang memungkinkan untuk mengetahui hakikatnya adalah menyifati atau menggambarkan fenomena-fenomena yang terjadi karena cinta. Sungguh cinta hanya bisa dirasakan dan dimengerti  namun tidak bisa terdefinisi (la ya’rifuha illa man dzaqqoha).

Sebenarnya cinta Rasulullah saw.,  kepada umatnya tidak usah diragukan lagi. Beliau saw, berupaya sekuat tenaga agar kita semua mendapat rahmat Allah. Ia tidak meminta upah dari kita semua. Bahkan segala harta yang dimilikinya habis untuk perjuangan menegakkan agama Allah. Sesungguhnya Nabi saw., bisa kaya jika ia menghendakinya. Akan tetapi ia gunakan kekayaannya untuk mengajak kita masuk ke dalam karunia Allah. Bahkan diakhir hayatnya, ketika nafas sudah di leher ia masih ingat dan mencemaskan umatnya.

Oleh karena itu, amatlah naif kiranya, bila kita sebagai umatnya, tidak membalas kecintaan Beliau saw, dengan sepenuh jiwa dan raga yang kita miliki. Bila kita kaitkan berbagai makna cinta di atas dengan kecintaan seseorang kepada nabinya, maka secara lahir (nahnu nahkumu bidzawahir la bi bawathin), dapat dilihat dari bukti akan keseriusan seseorang dalam mengikuti, membenarkan, mengunggulkan dan mencontohnya dalam berbagi aspek kehidupan sehari-hari.

Kesimpulan

Setelah melakukan beberapa langkah tahapan dalam kritik hadis -baik sanad maupun matan-, maka dapat disimpulkan bahwa hadis tersebut adalah shahih dan maqbul (bisa diterima) dan dapat dijadikan hujjah dalam beramal. Terkait dengan isi kandungannya, melalui hadis ini, Rasulullah saw., menegaskan bahwa syarat dari kesempurnaan keimanan seseorang adalah bilamana ia memprioritaskan kecintaannya kepada beliau saw., di atas kecintaanya terhadap sesuatu apapun. Bahkan cinta, taat dan tunduk kepada Nabi saw., adalah syarat bagi siapa yang mengkaliam dirinya cinta kepada Allah SWT. Adapun hal yang menyebabkan mengapa kita harus menjadikan kecintaan kita kepada Rasulullah saw., di atas kecintaan kita kepada sesuatu apapun adalah karena beliau saw. lah, -sebagai Rasul Allah- yang mendakwahkan ajaran Islam sehingga kita selamat dari kejahiliyahan, kesesatan menuju jalan yang lurus dan keselamatan baik di dunia maupun di akhirat. Sedangkan yang dimaksud dengan cinta di sini, adalah cinta yang bukan hanya semata-mata pengakuan dan ucapan di bibir saja, ia harus dibuktikan dengan amal perbuatan yakni mengikuti dan mentaati segala apa yang diperintahkan, membenarkan apa yang dibawahnya dan mencontohnya -menjadikannya sebagai uswah dan qudwah hasanah- dalam segala aspek kehidupan. Wallahu wa rasulluhu a’lamu bi al-showab..

Daftar Pustaka

Ali, Nizar. Hermeneutika dalam Tradisi Keilmuan Hadis; Studi tentang Tipologi Pemahaman Hadis. Jogjakarta: Proyek Perguruan Tinggi Agama IAIN Sunan Kalijaga,1999.

Al-Ghifari,  Abu.  Bengkel Cinta; Soal Jawab Remaja tentang Cinta, Jodoh dan Seks. Bandung: Mujahid Press, 2006.

___________, Remaja dan Cinta; Memahami Gelora Cinta Remaja dan Menyelamatkannya dari Berhala Cinta. Bandung: Mujahid Press, 2007.

Al-Nawawi, Yahya ibn Syarifuddin, Syarh matn al-‘Arba’in al-Nawawiyah terj. Harwin Murtadho dan Salafuddin. Jakarta: Al-Qowam, 2004.

Ash-Shawi, Syahhat bin Mahmud. Mahabbah Ilahiyyah terj. Nabhani Idris. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2001.

CD Rom, Al-Maktabah al-Syamilah, Solo: Pustaka Ridwana, 2007.

Hamaddah, Abbas Mutawalli.  al-Sunnah wa Makanatuha fi al-Tasyri’ terj. A. Abdussalam. Bandung: Gema Risalah Press, 1997.

Mubarouk, Muhammad Ibrahim. Mauqifu al-Islam mn al-Hubb; Tsaurah dhiddu Madiyyah al-‘Ashr.  terj. Team Azzam. Jakarta: Pustaka Azzam, 2002.

Najwah, Nurun.  Ilmu Ma’anil Hadis; Metode Pemahaman Hadis Nabi: Teori dan Aplikasi. Yogyakarta: Cahaya Pustaka, 2008.

Suryadi, “Rekonstruksi Pemahaman Hadis Nabi,” dalam Esensia Vol. 2 No. 1 Januari 2001.

Suryadilaga, M. Al-Fatih “Metode hermeneutik dalam Pensyarahan Hadis; Ke Arah Pemahaman Hadis yang Ideal dan Komprehensip,” dalam Jurnal Studi Ilmu-Ilmu Al-Qur’an dan Hadis, Vol. 1, No. 2, Januari, 2001.

[1] Nizar Ali, Hermeneutika dalam Tradisi Keilmuan Hadis; Studi tentang Tipologi Pemahaman Hadis (Jogjakarta: Proyek Perguruan Tinggi Agama IAIN Sunan Kalijaga,1999), hlm. 33.

[2] Suryadi, “Rekonstruksi Pemahaman Hadis Nabi,” dalam Esensia Vol. 2 No. 1 Januari 2001, hlm. 99.

[3] M. Al-Fatih Suryadilaga, “Metode hermeneutik dalam Pensyarahan Hadis; Ke Arah Pemahaman Hadis yang Ideal dan Komprehensip,” dalam Jurnal Studi Ilmu-Ilmu Al-Qur’an dan Hadis, Vol. 1, No. 2, Januari, 2001. hlm. 199.

[4] Nurun Najwah, Ilmu Ma’anil Hadis; Metode Pemahaman Hadis Nabi: Teori dan Aplikasi, (Yogyakarta: Cahaya Pustaka, 2008), hlm. 17.

[5] Nurun Najwah, Ilmu Ma’anil Hadis; Metode Pemahaman Hadis Nabi: Teori dan Aplikasi, hlm. 18-19.

[6] Shahih al-Bukhari, juz I, hal. 23. CD Rom, Al-Maktabah al-Syamilah, (Solo: Pustaka Ridwana, 2007)

[7] Nurun Najwah, Ilmu Ma’anil Hadis; Metode Pemahaman Hadis Nabi: Teori dan Aplikasi, hlm. 42.

[8]  Fathul bari’, bab al-Qasamah fi al-Jahiliyah, Juz 11, Hal. 163. CD Rom, Al-Maktabah al-Syamilah, (Solo: Pustaka Ridwana, 2007)

[9] Mengenai pensyarahan, akan dijelaskan pada pembahasan selanjutnya.

[10] وقال عمر : ( يا رسول الله! لأنت أحب إلي من كل شيء إلا من نفسي، فقال النبي صلى الله عليه وسلم: لا والذي نفسي بيده حتى أكون أحب إليك من نفسك، فقال له عمر : فإنه الآن والله لأنت أحب إلي من نفسي، فقال النبي صلى الله عليه وسلم: الآن يا عمر ! )، أي: الآن كملت المحبة.

Lihat Syarh Arba’in an-Nawawiyah, Juz 83, hal. 7. CD Rom, Al-Maktabah al-Syamilah, (Solo: Pustaka Ridwana, 2007)

[11] Dalam kitabnya yang berjudul Raudlatu al-Muhibbin wa Nuzhatu al-Musytaqin, Imam Ibnu Qoyyim al-Jauziyah menerangkan bahwa secara umum, cinta itu terbagi menjadi dua kategori, yang pertama adalah yang bersifat ikhtiyary, yakni di dalamnya ada upaya untuk memilih sesuai dengan kemauan diri sendiri. Dan yang kedua adalah idhthirary  (thabi’y) yaitu sesuatu yang bersifat niscaya yang berada diluar kehendak dan kemampuan seseorang. Lihat Muhammad Ibrahim Mubarouk, Mauqifu al-Islam mn al-Hubb; Tsaurah dhiddu Madiyyah al-‘Ashr, terj. Team Azzam, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2002), hlm. 68.

[12] Al-dibaz ‘ala Muslim, Juz I, hal. 60. CD Rom, Al-Maktabah al-Syamilah, (Solo: Pustaka Ridwana, 2007)

[13] ‘Ianah al-Mustafid bi Syarh kitab al-tauhid , Juz 3, hal. 54. CD Rom, Al-Maktabah al-Syamilah, (Solo: Pustaka Ridwana, 2007)

[14] Abbas Mutawalli Hamaddah, al-Sunnah wa Makanatuha fi al-Tasyri’ terj. A. Abdussalam (Bandung: Gema Risalah Press, 1997), hlm. 102.

[15] Syahhat bin Mahmud Ash-Shawi, Mahabbah Ilahiyyah terj. Nabhani Idris (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2001), hlm. 40.

[16] Fathu al-Bari’ li Ibn Rajab,kitab al-Iman, Juz 1, hlm. 22. CD Rom, Al-Maktabah al-Syamilah, (Solo: Pustaka Ridwana, 2007)

[17] Syahhat bin Mahmud Ash-Shawi, Mahabbah Ilahiyyah, hlm. 51.

[18] Fathu al-Bari’ li Ibn Rajab,kitab al-Iman, Juz 1, hlm. 22. CD Rom, Al-Maktabah al-Syamilah, (Solo: Pustaka Ridwana, 2007)

[19] Arba’un al-Nawawiyah, Juz I, hlm. 41. CD Rom, Al-Maktabah al-Syamilah, (Solo: Pustaka Ridwana, 2007)

[20] Yahya ibn Syarifuddin al-Nawawi , Syarh matn al-‘Arba’in al-Nawawiyah terj. Harwin Murtadho dan Salafuddin, (Jakarta: Al-Qowam, 2004), hlm. 262.

[21] Yahya ibn Syarifuddin al-Nawawi , Syarh matn al-‘Arba’in al-Nawawiyah, hlm. 363.

[22] Abu al-Ghifari, Bengkel Cinta; Soal Jawab Remaja tentang Cinta, Jodoh dan Seks (Bandung: Mujahid Press, 2006), hlm. 31.

[23] Abu al-Ghifari, Remaja dan Cinta; Memahami Gelora Cinta Remaja dan Menyelamatkannya dari Berhala Cinta (Bandung: Mujahid Press, 2007), hlm. 17.

[24] Abu al-Ghifari, Remaja dan Cinta; Memahami Gelora Cinta Remaja dan Menyelamatkannya dari Berhala Cinta, hlm. 15.

Makalah Metode Hermeneutik dalam Pensyarahan Hadis ditulis Oleh: Asep Setiawan (07530072), mudahan bermanfaat. 
 

0 Response to "Makalah Metode Hermeneutik dalam Pensyarahan Hadis"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!