Makalah Filsafat Pengertian Epistemologi Bayani, Irfani dan Burhani

Advertisement
Makalah Pengertian Epistemologi bayani, ‘irfani dan burhani - “Filsafat jika ditelisik menurut tahapannya, yaitu : ontologi (apa), epistimologi (bagaimana) dan aksiologi (untuk apa), akan tampak keterkaitan ~diantara tahapan-tahapan tersebut~ yang saling memberi makna. Ontologi akan menemukan epistimologi yang juga akan menentukan aksiologi. Dan epistimologi adalah unsur utamanya”[1]. Dalam khazanah filsafat Islam dikenal tiga buah metodologi pemikiran : bayani, 'irfani, dan burhani. 

Baca Makalah Filsafat Lainnya:
  1. Contoh Makalah Filsafat Konstruk Paradigma
  2. Contoh Makalah Ontologi Filsafat Ilmu dan Aliran-Alirannya

Bayani adalah sebuah model metodologi berfikir yang didasarkan atas teks. Teks suci lah yang mempunyai otoritas penuh untuk memberikan arah tujuan dan arti kebenaran, sedangkan rasio menurut metodologi ini hanya berperan-fungsi sebagai pengawal bagi keamanan otoritas teks tersebut.

'Irfani adalah model metodologi yang didasarkan atas pendekatan dan pengalaman langsung atas realitas spiritual keagamaan. Berbeda dengan sasaran bayani yang bersifat eksoteris, sasaran bidik 'irfani adalah bagian esoteris (batin) teks, karena itu, rasio berperan sebagai alat untuk menjelaskan berbagai pengalaman spiritual tersebut. 

Burhani adalah metodologi yang tidak didasarkan atas teks maupun pengalaman, melainkan atas dasar runtutan nalar logika, bahkan dalam tahap tertentu, interpretasi teks hanya bisa diterima apabila tidak bertentangan dengan aturan logis.

Masing-masing dari ketiga model metodologi berfikir tersebut dalam lembaran sejarah telah menorehkan prestasinya masing-masing. Nalar bayani telah membesarkan disiplin fiqh dan teologi (ilmu kalam), irfani menelurkan teori besar dalam sufisme dan burhani telah membawa filsafat kepada puncak kegemilangannya.

Dalam makalah ini, penulis ingin melakukan kajian terhadap salah satu dari ketiga epistimologi keislaman yang telah disebutkan, yaitu nalar burhani.

Menyadari banyaknya penjelasan yang seharusnya penulis sertakan dalam makalah ini untuk menyajikan sebuah makalah yang kompleks, ~karena keterbatasan yang ada~ penulis hanya menguraikan beberapa point yang dirasa paling urgen diantara point-point yang lain.

Ironis, ketika ditemukan fakta bahwa sebagian pelajar-akademisi (baca : mahasiswa) banyak yang belum mengerti apa yang “seharusnya dimengerti”. Atau banyak asumsi mereka yang tidak sesuai dengan “yang sebenarnya”. Ujung-ujungnya, miss-understanding seperti ini mempengaruhi hasil pemahaman yang dicapai.

Khusus mengenai epistimologi burhani islam yang akan dibahas dalam makalah ini, penulis terlebih dahulu mengulas kesalahan-kesalahan asumsi-asumsi yang dimaksud.

1. Bahwa “epistimologi Bayani tidak Rasional” 

Banyak kalangan yang masih berpandangan sempit tentang pengertian berpikir rasional dan filosofis. Mereka berasumsi bahwa berpikir rasional adalah “murni” mempekerjakan akal sebagai alat utama penggali hukum-hukum dan ketentuan-ketentuan. Lebih parah lagi, epistimologi bayani ~yang berdasarkan atas teks~ dianggap tidak rasional karena meletakkan otoritas penuh pada teks dan hanya menaruh peran-kan akal atau rasio sebagai pengawal bagi keamanan otoritas teks tersebut.

Akibatnya, kaum tekstualis dari para Imam madzhab fiqih maupun teologi zaman klasik, yang dalam hasil “ijtihad” mereka banyak terpaku pada dzahir teks diposisikan sebagai golongan yang irasional.

Kesalahan ini ~menurut hemat penulis~ terjadi seputar kesalahan ontologi bagaimana memahami kata “rasional”. Berpikit rasional adalah berpikir sesuai dengan cara-main akal. Jika dalam epistimologi bayani, akal ~dengan berbagai argumentasi~ dianggap memberi ruang lebih pada otorites teks daripada kebebasan ber-rasio. Maka justru disinilah letak ke-rasionalan-nya. Bahwa pengukuhan teks adalah bagian dari perintah akal itu sendiri

Teologi sunnatullah zaman klasik: pemikiran rasional, filosofis dan ilmiah

Menengok sejarah zaman klasik (650 – 1250), kita akan menemukan adanya kemajuan dalam berbagai ilmu pengetahuan, baik yang umum maupun agama. Sejarah mencatat kemunculan para ilmuwan islam di berbagai bidang. Ibnu sina, Jabir dan Al Razi (ilmu kedokteran), Al khawarizmi dan Umar Al khayyam (matematika), Al farazzi dan Al Afghani (astronomi) dan banyak lagi yang lain.

Perkembangan pesat ini disinyalir tumbuh dari pemahaman tentang teologi sunnatullah yang berkembang pada zaman itu. Umat Islam zaman klasik menganut sebuah konsep yang bercirikan :

1. kedudukan akal yang tinggi
2. kebebasan manusia dalam kemauan dan perbuatan
3. kebebasan berpikir hanya diikat oleh ajaran – ajaran dasar dalam al qur’an dan al hadis yang sedikit jumlahnya.
4. Percaya akan adanya sunnatullah dan kausalitas.
5. Mengambil arti metaforis dari teks wahyu.
6. Dinamika dalam setiap sikap dan pemikiran

Perkembangan ini juga menyentuh ilmu ilmu keagamaan. Muncul kemudian Al-Thabari, Al-Zamakhsyari dan Al-Razi dalam bidang tafsir serta Malik, Abu Hanifah, Al-Syafi’i, dan Ibnu Hanbal dalam ilmu fikih. Melalui pemikiran rasional, mereka mempelajari arti ayat ayat Al Qur’an, mempelajari kuat dan tidaknya kedudukan suatu hadis, dan mempelajari hukum hukum yang dapat diambil dari keduanya dalam menghadapi masalah masalah akidah, ibadah dan sosial yang ditimbulkan dalam masyarakat yang berkembang.

Karenanya, Harun nasution dalam bukunya “Islam Rasional” menyebutkan bahwa “Ulama’ zaman klasik memakai metode berpikir rasional, ilmiah, dan filosofis. Karenanya sikap umat islam zaman itu, adalah dinamis dengan orientasi dunia dan akhirat yang berimbang. Tidak mengherankan jika kemudian produktivitas umat dalam berbagai bidang meningkat pesat”[2]

Pembahasan ini jika ditarik benang merahnya terhadap epistimologi bayani, akan jelas bahwa epistimologi ini juga menggunakan pola berpikir yang rasional dan filosofis. Bukan irasional seperti apa yang dituduhkan.

2. Bahwa epistimologi burhani adalah epistimilogi rasionalisme sedang epistimologi bayani adalah epistimologi tradisionalisme.

Makalah Filsafat Pengertian Epistemologi Bayani, Irfani dan Burhani

Selanjutnya, nalar burhani juga sering disalah artikan sebagai bentuk lain dari rasionalisme, seperti halnya epistimologi bayani yang disinonimkan dengan tradisionalisme. Seseorang yang berasumsi demikian akan menemukan banyak kerancuan pada penemuan-penemuan yang ia dapatkan. Lebih buruk lagi, terkesan ada “pem-blender-an” istilah-istilah terkait sehingga sulit dibedakan antara nalar ilmiah untuk islamic studies dengan nalar ilmiah yang bukan untuk islamic studies.

Epistimologi burhani ~seperti yang telah dijelaskan sebelumnya~, dalam posisinya sebagai sebuah pendekatan rasional-argumentatif yang mendasarkan diri pada kekuatan rasio melalui dasar dasar logika, juga tidak bisa melepaskan diri dari bingkai “untuk menafsiri teks”. Artinya, epistimologi burhani tidak serta merta mengabaikan fungsi teks. Teks diposisikan sebagai ke-sakral-an yang memiliki dimensi “rasionalitas”. Dan pengkajian teks yang tidak menggunakan nalar dan logika dianggap menodai teks itu sendiri.

Ini tentu berbeda dengan filsafat rasionalisme. Yaitu doktrin filsafat yang menyatakan bahwa kebenaran haruslah ditentukan melalui pembuktian, logika, dan analisis yang berdasarkan fakta, bukan melalui iman, dan dogma atau ajaran agama[3].

Senada dengan hal ini, Amin Abdullah menuturkan “Filsafat Ilmu yang berkembang di barat seperti rasionalisme, empirisme dan pragmatisme tidak begitu cocok untuk dijadikan kerangka teori dan analisis terhadap pasang surut dan perkembangan Islamic studies. Perdebatan, pergumulan, dan perhatian epistimologi ini terletak pada wilayah natural sciences, dan sebagian terletak pada humanities sciences dan social scientes. Sedangkan Islamic studies dan ulumuddin, khususnya syari’ah aqidah, tasawuf, ulum al qur’an dan ulum alhadis lebih terletak pada wilayah classical sciences.”[4]

Adapun epistimologi bayani, ~lagi-lagi~ karena terkesan eksklusif-defensif dari pemikiran yang “bebas”, seringkali disamakan dengan epistimologi tradisionalisme.

Padahal, menilik definisi dari Al jabiri tentang tradisi, ia mengatakan bahwa “Tradisi adalah sesuatu yang hadir dan menyertai kekinian kita, yang berasal dari masa lalu kita atau masa lalu orang lain, masa lalu tersebut adalah masa yang jauh maupun yang masih dekat”[5]. Maka pengertian tradisionalisme kiranya serupa dengan apa yang disebut Harun Nasution dengan “fundamentalisme” dalam pemaknaan yang tidak benar (baca : salah), yaitu konsep ke”jumud”an yang mengikuti ajaran-ajaran para pelaku tradisi dengan tanpa mengindahkan spirit-keilmuan yang diusung.

Epistimologi bayani, dalam ke-eksklusif-annya mengandung arti yang sama sekali berbeda denga apa yang disebut tradisionalisme. Nalar bayani memposisikan Teks suci sebagai pemilik otoritas penuh untuk memberikan arah tujuan dan arti kebenaran. Dan bukan meletakkan otoritas tersebut pada tangan-tangan tradisi dan pewaris tradisi tersebut.

Epistimologi Fundamentalisme yang benar menurut Islam; pandangan Harun Nasution

Sebagai ulasan tambahan terhadap apa yang disampaikan, berikut penulis sertakan pembahasan mengenai fundamentalisme menurut Harun Nasution.

“Jika Fundamentalisme adalah kembali ke ajaran ajaran dasar agama, seperti yang terkandung dalam arti kata itu. Maka fundamentalisme dalam islam berarti kembali ke ajaran ajaran dasar yang terdapat dalam Al Qur’an dan Al Sunnah. Dan bukan kembali ke ajaran yang sebagai ijtihad para ulama’…..Karena itu, konsep fundamentalisme adalah berprinsip kembali kepada Qur’an dan Hadis dengan tujuan mengadakan interpretasi baru……..Dengan demikian, fundamentalisme berarti modernisme atau pembaharuan. Inilah istilah yang cocok dengan gerakan gerakan yang ada dalam islam……..Ada juga fundamentalisme yang bukan berasal dari isltilah islam. Yang dipertahankan oleh paham yang seperti ini bukanlah ajaran dasar islam, karena di kalangan islam tidak terdapat orang yang ragu akan kebenaran, keabsolutan, dan kekekalan ajaran ajaran dasar yang terdapat dalam Al qur’an dan Hadis mutawatir. Melainkan ada kecenderungan menganggap hasil ijtihad ulama’ terdahulu sebagai sesuatu yang absolut dan kekal.”[6]

Dengan kata lain, epistimologi rasionalisme, fundamentalisme dan tradisionalisme berbeda metodenya dengan epistimologi bayani dan burhani. Epistimologi burhani: Kajian teks dan konteks; Perlunya menggunakan logika (ilmu manthiq) dalam penafsiran teks

Dalam nalar ilmiah burhani, teks dan konteks – sebagai dua sumber kajian – berada dalam satu wilayah yang saling berkaitan. Teks tidak berdiri sendiri, ia selalu terkait dengan konteks yang mengiringi dan mengadakannya sekaligus konteks darimana teks itu dibaca dan ditafsirkan. Untuk itu , pemahaman terhadap realitas kehidupan sosial-keagamaan dan sosial keislaman menjadi lebih memadai apabila dipergunakan pendekatan-pendekatan sosiologi (ijtima’iyah), antropologi (antrupulujiyah), kebudayaan (tsaqa fiyah), dan sejarah (tarikhiyah).[7]

Dalam nalar burhani, tidak cukup hanya mendasarkan kepada makna tersurat teks tanpa memperhatikan makna tersiratnya. Karena bahasa dianggap tidak cukup mampu menggali makna-makna yang dikandung teks. Melainkan harus dibantu dengan nalar yang logis. Untuk itulah diperlukan ilmu yang menuntun manusia berpikir “runtut” dalam penggunaan akal atau rasio (ilmu mantik).


Sejak awal kehadirannya di dunia Islam, mantik menyalakan perdebatan sengit di kalangan para ulama, terutama ahli kalam. Mereka sangat anti kepada mantik dan melarang manusia untuk mempelajarinya. Ibn Khaldun berkata bahwa antipati ini lahir karena persinggungan prinsip ilmu kalam dengan mantik yang melahirkan pilihan: terima mantik maka tinggalkan kalam atau terima kalam maka tinggalkan mantik. Logika atau ilmu mantiq, menurut mereka, bukan hanya tidak dibutuhkan, melainkan juga haram (tidak boleh) digunakan untuk memahami teks-teks Islam.

Namun ada ulama’sebagian ulama’ yang berkata lain, Al Ghazali berpendapat bahwa mantik adalah aturan-aturan berpikir yang berfungsi meluruskan akal dalam menarik kesimpulan dan membebaskannya dari campuran prasangka dan imajinasi. Tugas utama mantik dengan demikian adalah menjaga akal dari kesalahan berpikir. Mantik bagi akal sepadan dengan posisi nahwu bagi bahasa Arab dan ilmu ‘Arud bagi ritme puisi (syair). Meminjam analogi Al Farabi, mantik bagi akal ibarat neraca dan takaran yang berfungsi mengukur bobot benda yang tak bisa diketahui ukurannya dengan tepat jika hanya menggunakan indera. Atau ibarat penggaris untuk mengukur panjang dan lebar sesuatu yang indera manusia sering keliru dalam memastikannya.

Al Ghazali bahkan menegaskan bahwa mantik merupakan mukaddimah (organon) seluruh ilmu –-bukan hanya pengantar filsafat. Maka barangsiapa yang tidak menguasai mantik, seluruh pengetahuannya rusak dan diragukan.jadi, logika atau ilmu mantiq itu bukan hanya dibutuhkan, melainkan juga wajib (harus) digunakan untuk memahami teks-teks Islam.

“Pengalaman inderawipun ternyata tidak dapat menjawab apa yang menjadi kegundahan al-Ghazali dalam mengarungi lautan pengetahuan. Indera yang menjadi tulang punggung empirisme ternyata begitu sangat terbatas. Mata misalnya, mata sangat begitu terbatas dalam mengamati objek. Ketika objek begitu jauh, pandangan akan objek inipun menjadi kabur dan ketika semakin jauh semakin hilang pula image yang dilihat oleh mata. Demikian pula bila objek yang dilihat mata terlalu dekat. Mata tak akan dapat melihat rupa sebuah handphone jika handpone ini diletakkan menempel mata. Sebab-sebab inilah yang menjadikan al-Ghazali melirik pada kemampuan akal dalam mengarungi pengetahuan.”[8]

Jadi, logika atau ilmu mantiq itu sangat dibutuhkan sebagai “alat bantu” untuk memahami teks-teks Islam, supaya kita terjaga dari kesalahan-berpikir atau sesat-pikir (fallacy) dan terjaga dari debat-kusir atau jalan buntu (dead lock) yang cenderung menyebabkan ketidakharmonisan hubungan antar sesama muslim. Inilah kiranya yang mendasari “keharusan penggunaan akal sebagai acuan tertinggi pemahaman teks.

Fungsi dan kedudukan akal dalam epistimologi burhani

Dalam nalar burhani, Fungsi dan peran akal bukan untuk mengukuhkan kebenaran teks seperti yang ada dalam nalar bayani, tetapi lebih kepada untuk keperluan analisis dan pengujian terus menerus terhadap kesimpulan kesimpulan sementara dan teori yang dirumuskan lewat premis premis logika keilmuan.

Lebih jauh lagi dikatakan, akal manusia, dengan potensinya, bersifat independent. Ia dengan kemampuan nalarnya mampu menjangkau makna yang tak termuat dalam dzahir lafadz.

Sumber dan prinsip dasar epistimologi burhani

Jika sumber ilmu dari corak epistimologgi bayani adalah teks, sedang irfani adalah pengalaman langsung, maka epistimologi burhani bersumber pada realitas atau waqi’ baik realitas alam, sosial, humanitas maupun keagamaan

Adapun prinsip dasar yang dipakai oleh epistimologi ini adalah :
1. Prinsip kausalitas : bahwa di dalam alam ini ada hukum yang menyebutkan bahwa sesuatu ada sebab dan akibatnya. Teks pastilah diturunkan karena “alasan” tertentu dan untuk “alasan” tertentu pula, karenanya memahami konteks teks juga merupakan sesuatu yang prinsipil;

2. Kepastian (certainty): yang berarti bahwa segala sesuatu pasti dapat dicerna dan dipahami oleh akal. dan

3. Kesesuaian antara hukum akal dengan hukum alam,  Metode dan tolak ukur validitasnya

Dalam pendekatan burhani, tercakup metode ta’lili yang berupaya memahami realitas teks berdasarkan rasionalitas; dan metode istislabi yang berusaha mendekati dan memahami realitas obyektif atau konteks berdasarkan filosofi.

"Metode rasionalitas Al Ghazali begitu nampak bila kita membaca Tahafut al-Falasifah. Kebanyakan argumen-argumen yang digunakannya adalah argumen-argumen logis dengan salah satu bagiannya yaitu silogisme. “..ketika para filosof menyatakan bahwa akal murni mengetahui segala sesuatu. Materi adalah penghalang di dalam mengetahui segala sesuatu. Karenanya, begitu materi tidak ada, penghalang juga tidak ada.”Dan al-Ghazali menjawab ini dengan kaidah silogisme juga;“Apabila orang ini ada dalam materi, ia tak akan mengetahui sesuatu. Tetapi ia tidak dalam materi. Karennya ia mengetahui segala sesuatu.”. Dengan demikian al-Ghazali memang benar-benar telah mendalami kaidah-kaidah filsafat dengan ciri khas logika yang ada di dalamnya.”[9]

Tolak ukur validitas epistimologi ini bukanlah “kedekatan teks pada realitas” seperti tolak ukur validitas epistimilogi bayani. Bukan pula “kematangan social skill (simpati dan empati)” seperti pada epistimologi “irfani.

Tetapi tolak ukurnya adalah :

1. korespondensi Yakni kesesuaian antara rumus rumus yang disusun manusia dengan hukuk hukum alam.
2. koherensi (keurutan dan keteraturan berpikir logis)
3. serta pragmatik (terus menerus melakukan perbaikan dan penyempurnaan rumus rumus, serta teori teori yang telah disusun)[10].

Kelemahan – kelemahan nalar burhani

Seperti halnya nalar bayani dan irfani yang memiliki cacat*, epistimologi burhani pun tak luput dari kelemahan-kelemahan yang menyertainya.

1. Meskipun ia rasional, tapi masih lebih berdasar pada model pemikiran induktif-deduktif. Kedua metode tersebut sangat tidak memadai dalam perkembangan pemikiran kontemporer.
2. Rasio juga belum juga dapat menjawab semua secara tuntas. Akal hanya sekedar dapat menjabarkan apa yang ada dalam memori otak, dengan kata lain kaitan antara indera dan akal begitu erat. Akal hanya bisa menjelaskan sesuatu jika itu pernah dijajaki oleh indera.

Sebuah potret pemikiran burhani : Madzhab Imam Abu Hanifah


Imam Hanafi disinyalir sebagai ulama yang banyak menerapkan metode burhani dalam istinbath hukumnya. “Beberapa fuqaha’ (misalnya Ibnu Hanbal) menyetujui sunnah-sunnah yang mendorong kepada kebaikan dan mengabaikan akurasi rantai periwayatannya (sanadnya). Sedang Abu Hanifah keberatan dengan penyusunan Sunnah, dan menegaskan bahwa untuk menjawab persoalan – persoalan baru, fuqaha’ seharusnya menggunakan ijtihad atau qiyas (analogi) dan mengikuti cita cita islam”

Contoh dari pola berpikir burhani imam hanafi adalah ketetapan mengenai kafa’ah. Imam Abu Hanifah di baghdad – yang merupakan komunitas campuran Arab, Persia dan Turki – menetapkan peraturan tentang kafa’ah (kesetaraan) dalam hal kekakayaan dan status dalam akad perkawinan. Sementara di madinah, yang tersusun atas masyarakat yang lebih homogen, peraturan pernikahan seperti itu tadi tidak dibutuhkan. Untuk sebuah alasan yang sama, budak memiliki hak atas harta kekayaan di Baghdad, sementara di Madinah mereka tidak memilikinya.

Baca juga: Kajian Epistemologi Barat

Kasus lain terdapat dalam hukum wali pada pernikahan. Berdasarkan apa yang sampai pada kita, Rasulullah besabda " la nikaha illa biwaliyyin". Abu Hanifah di Baghdad tidak mewajibkan adanya wali dalam perkawinan. Ini karena perbedaan yang mencolok antara tsaqafah di Madinah dengan yang di Baghdad. Perempuan – perempuan Baghdad dianggap sudah cukup pengetahuannya tentang laki-laki yang ingin menikahinya karena Baghdad pada waktu itu mengalami masa "terbuka" di mana perempuan dan laki-laki bisa belajar dan beraktifitas bersama. Kultur ini berbeda dengan apa yan terjadi di Madinah, di mana ada sekat yang tak boleh dlanggar dalam pergaulan. antara perempuan dan laki – laki.

Juga tentang keharusan seorang wanita berhaji dengan mahramnya, penedekatan burhani Abu Hanifah menyebutkan bahwa makna mahram dalam hadis terkait adalah adanya keamanan. Maka apabila dalam suatu masa, sudah dapat dipastikan aman-nya perjalana seorang wanita, tida lagi ia harus pergi haji dengan suami, dan atau kerabatnya.

Mu’tazilah, pemikiran burhani-teologis

Mu’tazilah lahir sebagai reaksi terhadap teologi yang dikemukakan oleh khawarij dan golongan murji’ah. Nama Mu’tazilah diambil dari kata I’tazala yang berarti mengasingkan diri. Dalam penafsiran ayat – ayat teologi, mereka banyak menggunakan pemikiran rasional. Begitu tinggi kekuatan yang mereka berikan kepada akal, sehingga timbul anggapan di kalangan umat islam bahwa mereka lebih mengutamakan akal daripada wahyu. Anggapan ini selanjutnya membawa kepada tuduhan bahwa mu’tazialah adalah golongan sesat yang kafir.

Pemikiran rasional memang banyak mempengaruhi kaum mu’tazilah dalam menentukan pendapat pendapat keagamaan mereka. Hal ini karena mereka berpendapat bahwa akal manusia dapat :

1. mengetahui adanya tuhan
2. mengetahui kewajiban manusia berterima kasih kepada Tuhan
3. mengetahui apa yang baik dan apa yang jahat
4. mengetahui kewajiban manusia berbuat baik dan kewajibannya menjauhi perbuatan jahat.

Apakah benar kaum mu’tazilah menganggap akal dapat mengetahui segala galanya, dan oleh itu wahyu tidak diperlukan lagi…? Tulisan para dedengkot mu’tazilah menyampaikan hal yang sebaliknya. Keterangan dari mereka ~sebagaimana yang dikaji oleh Harrun Nasution~ menegaskan bahwa akal tidak mengetahui segala hal. Akal masih memerlukan pertolongan wahyu untuk mengetahui perincian dari apa yang dapat diketahui melalui garis besar. Wahyu amat diperlukan juga untuk memperkuat apa yang telah diketahui akal, dengan kata lain, untuk membuat wajib aqli menjadi wajib syar’i dan untuk menetapkan haram aqli menjadi haram syar’I, wahyu didatangkan untuk memperkuat apa yang telah diketahui akal[11]

Dan jika terjadi pertentangan antara akal dengan teks, dalam pendapat kaum mu’tazilah, teks tidak selamanya harus diambil arti harfiahnya. Karena teks disamping mempunyai arti harfiah juga memiliki arti metaforis. Mereka berpendapat bahwa antara akal dan wahyu tidak mesti ada pertentangan. Kalaupun ada, pasti dzahirnya saja, pertentangan antara makna harfi teks denga akal. Dan kalau arti lafdzi ditiadakan dan diambil arti metaforisnya, atau arti majazi, pertantangan tersebut akan hilang dengan sendirinya.

Umpamanya teks al qur’an berkata bahwa tuhan memiliki tangan dan kursi, tetapi akal manusia menolaknya karena ia berpendapat bahwa Tuhan tidak memiliki jasmani layaknya manusia. Dengan demikian arti tangan dan kursi menjadi arti yang metaforik. Yaitu kekuatan dan kekuasaan. Yang mereka lakukan hanyalah meninggalkan atrti lafadz dan mengambil arti metaforis ayat ayat yang bersangkutan dengan pertimbangan akal.[12]

Penutup dan kesimpulan

Dalam khazanah islam, dikenal tiga model epistimologi keilmuan: bayani, irfani, dan burhani. Burhani adalah metodologi yang tidak didasarkan atas teks maupun pengalaman, melainkan atas dasar runtutan nalar logika. Terdapat beberapa asumsi salah ~di kalangan pengkaji keislaman~ yang sering dianggap benar :

1. Bahwa “epistimologi Bayani tidak Rasional”, padahal teologi sunnatullah zaman klasik adalah pemikiran yang rasional, filosofis dan ilmiah 

2. Bahwa epistimologi burhani adalah epistimilogi rasionalisme sedang epistimologi bayani adalah epistimologi tradisionalisme.

Dalam nalar burhani, penggunaan logika (ilmu manthiq) ~ sebagai “alat bantu” untuk memahami teks-teks Islam, supaya kita terjaga dari kesalahan-berpikir atau sesat-pikir (fallacy)~ dianggap urgen.
Fungsi akal yang independent dalam nalar ini adalah untuk keperluan analisis dan pengujian terus menerus terhadap kesimpulan kesimpulan sementara dan teori yang dirumuskan lewat premis premis logika keilmuan.

Burhani bersumber pada realitas atau waqi’ baik realitas alam, sosial, humanitas maupun keagamaan dengan prinsip dasar : Prinsip kausalitas, Kepastian (certainty)dan kesesuaian antara hukum akal dengan hukum alam, Dalam pendekatan burhani, tercakup metode ta’lili yang berupaya memahami realitas teks berdasarkan rasionalitas; dan metode istislabi yang berusaha mendekati dan memahami realitas obyektif atau konteks berdasarkan filosofi.

Tolak ukur validitas epistimologi ini adalah : korespondensi, koherensi serta pragmatic. kelemahan nalar burhani, adalah ke-terjebak-annya pada model pemikiran induktif-deduktif Yang sangat tidak memadai dalam perkembangan pemikiran kontemporer. Juga bahwa Rasio juga belum juga dapat menjawab semua secara tuntas. Akal hanya bisa menjelaskan sesuatu jika itu pernah dijajaki oleh indera.

Imam Hanafi disinyalir sebagai ulama yang banyak menerapkan metode burhani dalam istinbath hukumnya. Ia keberatan dengan penyusunan Sunnah, dan menegaskan bahwa untuk menjawab persoalan – persoalan baru, fuqaha’ seharusnya menggunakan ijtihad atau qiyas (analogi) dan mengikuti cita cita islam”

Pemikiran rasional banyak mempengaruhi kaum mu’tazilah dalam menentukan pendapat pendapat keagamaan mereka. Hal ini karena mereka berpendapat bahwa akal manusia dapat : mengetahui adanya tuhan, mengetahui kewajiban manusia berterima kasih kepada Tuhan, mengetahui apa yang baik dan apa yang jahat dan mengetahui kewajiban manusia berbuat baik dan kewajibannya menjauhi perbuatan jahat.

Menurut mereka, Akal masih memerlukan pertolongan wahyu untuk mengetahui perincian dari apa yang dapat diketahui melalui garis besar. Dan jika terjadi pertentangan antara akal dengan teks, dalam pendapat kaum mu’tazilah, teks tidak selamanya harus diambil arti harfiahnya. Karena teks disamping mempunyai arti harfiah juga memiliki arti metaforis.

Meminjam istilah Amin Abdullah, bahwa “keberagaman Islam sesungguhnya bukanlah peristiwa yang “sekali jadi”. Keberagaman adalah proses panjang (on going process of relegiosity) menuju kematangan dan kedewasaan sikap beragama

Pesan kemanusiaan dan keadilan yang melekat dalam Al qur’an, yang sering disebut dengan rahmatan lil’alamin (universal) hanya dapat dipahami dengan baik jika para penafsir kitab suci kontemporer memahami tiga paradigma epistimologi pemikiran keislaman tersebut dan mampu mendialogkan serta memadukannya dalam satu tarikan nafas pemahaman dan penafsiran.[13] 

Catata Kaki

[1] Moh Shofan, jalan ketiga pemikiran islam, ( yogyakarta : UMG press)2006 hal 368

[2] baca : Harun Nasution, Islam Rasional ,gagasan dan pemikiran, (Bandung : Mizan ) 1996,hal 112 - 114

[3] http://id.wikipedia.org/wiki/Rasionalisme, 25-03-08

[4] Amin Abdullah, Islamic studies di perguruan tinggi, pendekatan integratif-interkonektif (Yogyakarta :pustaka pelajar,2006) hal 201

[5] Moh Shofan, jalan ketiga pemikiran islam, ( yogyakarta : UMG press)2006 hal 369

[6] Harun Nasution, Islam Rasional ,gagasan dan pemikiran, (Bandung : Mizan ) 1996,hal 113

[7] Moh Shofan, jalan ketiga pemikiran islam, ( yogyakarta : UMG press)2006 hal 374

[8]http://muhshodiq.wordpress.com/2007/10/27/perlukah-logika-untuk-memahami-syariat-islam25-03-08

[9] http://sts.um.edu.my/E-Library/Lecture%20Notes/SFES2215/kuliah3(a).pdf

[10] lihat : Amin Abdullah, Islamic studies di perguruan tinggi, pendekatan integratif-interkonektif (Yogyakarta :pustaka pelajar,2006) hal 213-215

* Kelemahan bayani adalah ketika berhadapan dengan teks yang berbeda milik komunitas atau bangsa lain. Karena otoritas terletak ditangan teks sedangkan rasio hanya berfungsi sebagai pengawal, sementara sebuah teks belum tentu diterima oleh komunitas lain, maka pada saat berhadapan dengan pertentangan tersebut nalar bayani biasanya cenderung mengambil sikap dogmatik, defensif dan apologetik, ia demikian tertutup sehingga kadang sulit untuk bisa diajak berdialog yang sehat. Sedangkan dalam metode 'irfani bisa lihat dari ter'baku'kannya term-term semisal ilham, kasyf dan dlamir dalam tarekat-tarekat dengan berbagai wiridnya.

[11] lihat : Harun Nasution, Islam Rasional ,gagasan dan pemikiran, (Bandung : Mizan ) 1996,hal 132

[12] baca : Harun Nasution, Islam Rasional ,gagasan dan pemikiran, (Bandung : Mizan ) 1996,hal 132-135

[13] Moh Shofan, jalan ketiga pemikiran islam, ( yogyakarta : UMG press)2006 hal 380.

Terimah kasih telah membaca Makalah Pengertian Epistemologi Bayani, Irfani dan Burhani. Mudahan Bermanfaat

0 Response to "Makalah Filsafat Pengertian Epistemologi Bayani, Irfani dan Burhani"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!