Memahami Hadis Kodrat Wanita: Kurang Akal dan Agamanya

Advertisement
حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ أَبِي مَرْيَمَ قَالَ أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ قَالَ أَخْبَرَنِي زَيْدٌ هُوَ ابْنُ أَسْلَمَ عَنْ عِيَاضِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أَضْحَى أَوْ فِطْرٍ إِلَى الْمُصَلَّى فَمَرَّ عَلَى النِّسَاءِ فَقَالَ يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ تَصَدَّقْنَ فَإِنِّي أُرِيتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ فَقُلْنَ وَبِمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ تُكْثِرْنَ اللَّعْنَ وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ مَا رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِينٍ أَذْهَبَ لِلُبِّ الرَّجُلِ الْحَازِمِ مِنْ إِحْدَاكُنَّ قُلْنَ وَمَا نُقْصَانُ دِينِنَا وَعَقْلِنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ أَلَيْسَ شَهَادَةُ الْمَرْأَةِ مِثْلَ نِصْفِ شَهَادَةِ الرَّجُلِ قُلْنَ بَلَى قَالَ فَذَلِكِ مِنْ نُقْصَانِ عَقْلِهَا أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ قُلْنَ بَلَى قَالَ فَذَلِكِ مِنْ نُقْصَانِ دِينِهَا[1]

Dari Abi Said al-Khudri RA, dia berkata: Rasulullah SAW keluar pada Id Adhha atau Fithr menuju tempat shalat, Beliau melewati para wanita, seraya berkata: “Wahai sekalian wanita, bersedekahlah karena aku melihat kamu sekalian sebagai mayoritas penghuni neraka. Mereka bertanya: “Karena apa, wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Karena kalian banyak melaknat (mendoakan buruk terhadap orang lain) dan ingkar (tidak tahu berterima kasih akan kebaikan suami). Aku tidak melihat wanita-wanita yang kurang akal dan agamanya di antara salah satu kalian yang dapat meluluhkan hati seorang laki-laki yang teguh hatinya.” Mereka bertanya lagi: “Apakah kekurangan agama dan akal itu?” Rasulullah menjawab: “Bukankah kesaksian seorang wanita seperti setengah kesaksian seorang laki-laki?” Mereka menjawab: “Benar.” Rasulullah berkata: “Itulah yang dimaksud kekurangan akal. Kemudian bukankah jika haid, tidak shalat dan puasa?” Mereka menjawab: “Benar.” Rasulullah berkata: “Itulah kekurangan agama.” (HR. al-Bukhari) 

Analisa Matan Hadis Wanita: Kurang Akal dan Agamanya

Dilihat dari segi kandungannya, matan hadis tentang kodrat wanita di atas dan takhrijnya dapat diklasifikasi sebagaimana berikut:[1]

1. Kodrat wanita yang kurang akal dan agamanya ( نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِينٍ ), yaitu yang diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 293) dan Muslim (no.114)

2. Perintah bersedekah ( من يتصدق ), yang diriwayatkan oleh Muslim no. 1472; an-Nasa’i no. 1558 dan 1561; Ibn Majah no. 1278; dan Ahmad no. 10889 dan 10954.

Setelah menganalisa klasifikasi matan hadis di atas, penulis coba mencari titik temu keduanya dan akhirnya didapati kesimpulan bahwa sebenarnya hadis Nabi itu bukan bermaksud mendiskreditkan posisi wanita tetapi lebih menitikberatkan pada anjuran Nabi pada orang-orang baik pria ataupun wanita untuk bersedekah daripada hanya duduk-duduk tak melakukan apa-apa, apalagi di hari ‘Id yang seharusnya diisi dengan kebaikan.

Analisa Sosio-Historis Hadis Wanita: Kurang Akal dan Agamanya

Tidak ada sabab al-wurud yang jelas, yang menjelaskan penyebab datangnya hadis. Namun satu yang dapat dipahami, bahwa Nabi SAW menyabdakan hal tersebut pada hari ‘Id. Mengingat hal itu, hadis tersebut tentunya terjadi di Madinah dan yang diajak bicara pastinya adalah kelompok wanita Madinah yang kebanyakan terdiri atas kaum Anshar. Di masa itu, wanita kaum Anshar lebih dominan perannya dibanding laki-laki. Bahkan Aisyah sendiri memuji mereka di hadapan kaum wanita muhajirin bahwa wanita-wanita Anshar sangat suka menuntut ilmu. Fungsi ini berkebalikan dengan keadaan wanita Mekah muhajirin yang lebih didominasi suami-suami mereka. Saat hijrah terjadi, para wanita muhajirin mulai mengikuti perilaku mereka dan membuat Umar gerah sehingga melaporkannya pada Rasul. Rasul hanya menanggapinya dengan senyum.

Kemudian muncul hadis di atas, jika dipahami itu merupakan suatu bentuk kekaguman Rasul pada wanita Anshar dalam hal adanya kontradiksi dominasinya terhadap kaum pria, seakan-akan Rasul menyatakan,” Hai kaum wanita, Tuhan telah mengaruniakan pada kalian kemampuan yang dapat meluluhkan hati kaum pria yang kuat, padahal kalian lemah. Oleh karena itu, bertaqwalah pada Allah dan jangan kalian gunakan kemampuan itu kecuali dalam kebaikan.”[2]

Hadis Kodrat Wanita: Kurang Akal dan Agamanya

Menelaah lebih jauh, sebenarnya banyak kekosongan informasi mengenai kegiatan yang dilakukan perempuan-perempuan yang disebut dalam hadis, apakah mereka itu sebenarnya hanya sekedar berpapasan dengan Rasul karena mau berangkat shalat ‘Id, atau sedang kongkow-kongkow sebagaimana tradisi Arab dahulu, ataukah memang ada kegiatan lain. Banyak kemungkinan yang terjadi.

Baca juga Artikel Hadis Lainnya:
  1. Hadis Hawa Diciptakan dari Tulang Rusuk Adam
  2. Hadis Istri berpuasa Harus Izin Suami
  3. Hadis Istri menolak Ajakan Suami Bersenggama

Namun apabila dilihat dari segi historisnya, bisa jadi kemungkinan para wanita tersebut memang sedang kongkow-kongkow. Apabila memang demikian yang terjadi, sebagaimana kebiasaan masyarakat Arab saat itu[3], tentunya hal ini membuat Nabi gemas. Sudah menjadi hal lumrah kalau orang yang kongkow-kongkow itu pastinya melakukan dan membicarakan hal yang tidak berguna~bisa dikatakan ngrumpi~. Bahkan diketahui bahwa sebagian masyarakat tradisional di kampung-kampung ketika kongkow-kongkow, mereka tidak memenuhi hak jalan, bukannya menahan pandangan tapi mengumbarnya dan menggunjing serta melaknat juga. Apabila ini dilakukan oleh wanita, yang telah disebutkan sebelumnya walaupun lemah mampu menaklukan laki-laki, hal ini tentunya banyak membawa mudharat. Inilah yang menyebabkan wanita masuk neraka. Mereka menyalahgunakan kelebihan mereka untuk hal-hal tidak baik. Lebih-lebih lagi, jika itu dilakukan di hari ‘Id, dimana seharusnya diisi dengan banyak kebaikan~bisa dengan memperbanyak istighfar ataupun memperbanyak sedekah~. Hal ini membuat kegusaran Nabi bertambah. Maka meluncurlah hadis itu. Wajar jika dikatakan mereka itu kurang akal dan agamanya.

Syarh Hadis Wanita: Kurang Akal dan Agamanya

Hadis ini datang saat ‘Id al-Fitri atau ‘Id al-Adha, ketika Nabi menasihati orang-orang yang ditemuinya~hampir semuanya laki-laki~ dan menyuruh mereka untuk bersedekah. Ketika beliau berpapasan dengan sekelompok wanita, beliau secara khusus menyuruh mereka untuk bersedekah sekaligus memberikan peringatan bahwa kebanyakan mereka nantinya akan menjadi penghuni neraka sebagaimana yang pernah dilihat Nabi di malam Isra. Penyebabnya karena sifat-sifat yang ada dalam diri wanita, beberapa terimplementasi pada hal-hal yang salah. Wanita memiliki kecenderungan perasaan yang kuat, ini dianggap sebagai suatu kelemahan dan kekurangan mereka. Jika perasaannya terganggu, niscaya aktivitasnya juga terganggu, ada saja yang dirasa kurang sreg sehingga alih-alih menahannya, wanita malah akan mengeluarkannya dalam bentuk umpatan, akhirnya orang-orang terdekatnyalah yang menjadi sasaran, semisal suami dan anaknya. Usaha suami untuk menyenangkannya juga kadang tidak ditanggapi.

Kecenderungan perasaan wanita secara tidak sadar juga mampu mengendalikan dan membuat banyak orang terjerumus dosa, khususnya laki-laki. Seorang wanita dengan segala sifatnya yang selalu dianggap lemah itu sanggup meluluhkan laki-laki yang teguh hatinya~sebagaimana telah disebutkan dalam hadis di atas~. Jika laki-laki tersebut akhirnya terjerumus dosa akibat pesona yang ditimbulkan wanita, maka diapun ikut berdosa. Jadi, semakin bertumpuklah dosa wanita baik yang secara sadar dilakukan ataupun tidak. Inilah penyebab mengapa banyak wanita di neraka.

Ketika Nabi menyebutkan bahwa tidak ada orang yang kurang akal dan agamanya mampu berbuat demikian pada laki-laki selain mereka para wanita, salah satu wanita tersebut bertanya apa maksud kurang akal dan agamanya itu dengan rasa was-was disebabkan kaget mengetahui kenyataan akan kemampuannya itu. Disini Nabi menjawab dengan bijak, tidak dengan pandangan mencela dan menyalahkan mereka tapi memilih kata-kata yang tepat yaitu kekurangan dari segi akal yakni kesaksian seorang wanita setengah kesaksian lelaki. Di sini Nabi bukan bermaksud mendiskreditkan wanita tapi untuk lebih mengingatkan bahwa wanita itu memiliki kecenderungan perasaan yang kuat, sehingga dalam melakukan persaksian mereka sering terbawa perasaan dan kadang melupakan pertimbangan akal~ini yang dimaksud kurang akal dan agamanya~. Oleh karena itu, diperlukan dukungan kesaksian dari wanita lainnya agar keduanya bisa saling mengingatkan dan kesaksian keduanya lebih valid.

Kemudian dipahami bahwa kurang agama wanita adalah karena mereka tidak shalat dan puasa pada saat haid. Sebenarnya ini hanya untuk menunjukkan bahwa larangan shalat dan berpuasa bagi wanita haid itu sudah merupakan ketetapan hukum syar’i yang sudah ada sebelum majlis itu terjadi, jadi jauh sebelum hijrah ke Madinah dan ini tidak ada hubungannya dengan pemahaman yang selama ini umum didengar bahwa wanita kurang agamanya karena tidak shalat dan puasa pada waktu-waktu tertentu~seperti saat haid dan nifas~. 

Berdasarkan penjelasan Ibn Hajar dalam Fath al-Bari-nya, disimpulkan bahwa signifikansi yang ingin disampaikan Rasul dari hadis di atas adalah disyariatkannya shalat ‘Id di mesjid; perintah pada Imam shalat untuk selalu mengingatkan jamaahnyya bersedekah di hari itu; kehadiran wanita pada shalat ‘Id di mesjid menunjukkan bahwa tidak ada larangan bagi wanita untuk muncul di depan umum, walau kemudian terdapat aturan-aturan tertentu demi menjaganya dari fitnah; seorang Imam boleh menasihati wanita dalam batas-batas tertentu apalagi jika berkenaan dengan ilmu; adanya larangan mengingkari nikmat dan larangan berbicara buruk seperti mengejek dan mengumpat. Menurut Imam an-Nawawi, dua hal terakhir tadi dapat menyebabkan seseorang jauh dari rahmat Allah, bahkan membuat pelakunya menanggung dosa yang bertumpuk-tumpuk yang berasal dari ‘korban’nya.

Selain hal-hal di atas, hadis di atas juga menyebutkan keutamaan sedekah, bahwa sedekah mampu menolak azab dan menghapus dosa antara sesama manusia. Makna lainnya yang terkandung adalah akal itu bisa bertambah dan bisa berkurang sebagaimana iman. Bukanlah penyebutan kekurangan wanita itu ditujukan untuk mencela keberadaannya karena kekurangan mereka sendiri datang sejak awal diciptakannya dan memang ada maksud lain di baliknya, namun hadis di atas adalah peringatan akan fitnah yang bisa ditimbulkannya. Jadi, azab itu datang karena sikapnya yang kufur dan lainnya sebagaimana disebutkan di atas.[4] 

Kodrat Wanita: Kurang Akal dan Agamanya; Sebuah Tinjauan Kritis

Sudah menjadi rahasia umum bahwa wanita selalu dipandang secara inferior dalam struktur masyarakat. Dalam kehidupan rumah tangga malah selalu dianggap sebagai the second class. Stigma ini muncul disebabkan karena kemampuan dan penalaran wanita dianggap kurang sempurna dibanding pria, pemahaman ini dilegitimasi oleh kehadiran hadis Nabi yang seolah-olah mendiskreditkan wanita, menyebutkan bahwa wanita kurang akal dan agamanya. Sungguh ini merupakan suatu pemahaman yang salah.

Kata akal berasal dari bahasa Arab (‘aqala) artinya “mengikat” dan “menahan”. Orang yang berakal adalah orang yang dapat menahan amarahnya, mengendalikan hawa nafsunya sehingga dapat mengambil sikap dan tindakan yang bijaksana dalam setiap persoalan yang dihadapinya. Kata “akal” tidak ditemukan dalam al-Qur’an, namun bentuk kata kerja (fi’il mudari’) ditemukan kurang lebih 50 kali, tersebar di berbagai surat. Al-Qur’an juga mempergunakan kata yang menggunakan arti berpikir seperti nazara, tafakkara, faqiha, tadabbara, dan tażakkara.[5] Orang-orang yang berpikir atau berakal sering juga disebut sebagai ulul albab dan al-Qur’an memberikan pujian pada mereka yang tidak hanya terbatas pada kaum pria saja, tetapi kaum wanita juga. Ini berarti bahwa kaum wanita juga dapat berpikir, mengingat, memahami, mempelajari, dan kemudian mengamalkan seperti kaum pria.

Banyak kaum wanita yang sangat menonjol pengetahuannya dalam berbagai ilmu, bahkan menjadi rujukan banyak tokoh pria. Sebut saja Aisyah ra.~istri Nabi SAW~, Syaikhah Syuhrah~guru Imam Syafii~, Rabiah al-Adawiyah~guru para sufi~, dan masih banyak lagi.[6]

Melihat begitu banyak tokoh wanita yang terkemuka dengan ilmu dan kontribusinya, maka perlu ada reinterpretasi mengenai hadis Nabi yang menyatakan bahwa wanita kurang akal dan agamanya. Sebenarnya Nabi bersabda demikian apakah dimaksudkan untuk dipahami secara literal atau ada hidden meaning yang perlu diungkap. Jika memang positif secara literal, maka apakah itu dimaksudkan untuk semua wanita atau hanya sebagian tertentu saja.[7]

Telah penulis jelaskan sebelumnya dalam analisa sosio-historis, bahwa kemungkinan hanya wanita-wanita tertentu saja yang dimaksud Rasul akan menghuni neraka. Ini disebabkan perilaku mereka yang buruk baik pada orang di sekitarnya ataupun orang terdekatnya, suka mengumpat, menggunjing dan mengingkari hak suami. Jika memang demikian keadaannya, hadis di atas sebenarnya lebih ditujukan sebagai nasehat ataupun kritik terhadap wanita-wanita yang memiliki perilaku tertentu~sebagaimana yang dijelaskan sebelumnya~.[8]

Adapun untuk memahami pernyataan bahwa wanita kurang akal dan agamanya, ada banyak kemungkinan pemahaman. Menurut hadis, kekurangan akal wanita itu ada dalam hal kesaksian. Dalam Q. S. al-Baqarah: 284 memang ditetapkan bahwa orang yang mengadakan kontrak hutang-piutang diminta untuk menulis dan mempersaksikan kontraknya itu. Persaksian itu bisa diminta dari dua orang laki-laki yang adil atau pada satu orang laki-laki dan dua orang perempuan. Alasan mengapa harus dua orang perempuan dalam ayat tersebut dikatakan أن تضل إحداهما فتذكر إحداهما الأخرى . Sebagian mufassir mengartikan tadilla di atas dengan “lupa” dan sebagian yag lain dengan “salah” sehingga frasa itu berarti jika salah seorang di antara dua perempuan yang menjadi saksi itu lupa atau salah, maka yang lain akan mengingatkannya. Tetapi, apakah lupa dan salah itu hanya menjadi kodrat mereka saja dan kaum laki-laki tidak mengalaminya?

Secara objektif, jawabannya tentu tidak. Kaum laki-laki atau pria bisa saja lupa dan salah, sebagaimana wanita. Jika memang ayat tersebut menyatakan alasan yang demikian, menurut banyak penafsir, itu dikarenakan wanita terbiasa dengan urusan-urusan domestic dan kurang memahami urusan-urusan publik~seperti masalah keperdataan, hutang-piutang ini~.[9] Menurut Abduh, orang yang tidak terbiasa melakukan suatu urusan, mereka akan cenderung mudah lupa terhadap urusan itu karena mereka tidak begitu menaruh perhatian terhadapnya.[10] Apabila dikembalikan pada konteks sejarah, masalah hutang-piutang bukanlah ‘tanah garapan’ para wanita saat itu~baik dari golongan muhajirin ataupun anshar~. Jadi yang menjadi akar masalah di sini adalah masalah profesionalitas. Saat profesionalitas wanita sudah tidak perlu dipertanyakan lagi, khususnya di bidang bisnis seperti di zaman sekarang ini, maka sudah seharusnya wanita disejajarkan dengan kaum pria dalam hal menjadi saksi.[11]

Apabila hal ini ditinjau dari segi psikis, maka wanita lebih dikuasai oleh insting perasaan karena itu nantinya yang akan membuat keselarasan eksistensi wanita sebagai ibu. Sifat keibuan tidak membutuhkan pada pemikiran, tapi lebih pada perasaan yang bergelora dan kasih sayang teramat lembut. Dominasi perasaan ini sangat kuat pada diri wanita dan terkadang membuatnya cepat emosi, oleh karenanya dalam Islam diatur agar dalam persaksian itu dihadirkan dua orang wanita agar keduanya bisa saling mengingatkan ketika salah dan lupa.[12] Islam mengatur demikian dengan satu tujuan yakni terciptanya maslahah. Hal ini tidak merendahkan wanita, apalagi mengklaimnya sebagai yang kurang akalnya.

Maulvi Mumtaz Ali Khan juga menguatkan dalam karyanya huquq an-Niswan bahwa ayat al-Qur’an tentang kesaksian perempuan di atas dengan cara apapun tidak membuktikan inferioritas perempuan dibanding laki-laki. Al-Qur’an menetapkan kebutuhan dua saksi perempuan sebagai pengganti satu laki-laki, itu hanyalah untuk mengingatkan yang satu jika yang lain lupa atau membuat kesalahan. Dalam hal transaksi dan hutang-piutang, laki-laki lebih kompeten mengingat hal-hal tersebut dibanding perempuan~pernyataan senada sebagaimana yang dilontarkan M. Abduh sebelumnya~.[13]

Maulana Umar Ahmad Utsmani, ahli hukum terkemuka dari Pakistan berargumentasi panjang dalam bukunya Fiqh al-Qur’an bahwa dalam banyak masalah, kesaksian seorang perempuan sendiri diterima tanpa adanya seorang laki-laki. Maulana menyebutkan bahwa dalam berbagai masalah seperti kelahiran anak dan masalah lain yang berkaitan dengan kekurangan seksual perempuan, hanya kesaksian perempuan yang diterima sedang kesaksian laki-laki tidak.[14]

Andai wanita memang kurang akalnya, mengapa para pria selalu menyerahkan tanggung jawabnya mengasuh dan mendidik anak pada mereka sepenuhnya, bahkan dalam mengatur masalah keuangan (belanja) rumah tangga? Kemudian dalam Islam, bukankah wanita mendapat hak penuh untuk mengelola dan menggunakan harta kekayaannya sendiri tanpa campur tangan siapapun, suami atau wali mereka. Andai wanita memang kurang akalnya, tentu Islam pasti sudah memberikan aturan dan pembatasan-pembatasannya. Apabila dikatakan bahwa wanita kurang kemampuan berpikirnya, bukankah dalam sejarah telah banyak ditemukan bahwa banyak pemimpin dan tokoh-tokoh besar yang berasal dari golongan laki-laki, meminta pendapat dan nasihat pada kaum wanita. Bahkan orang pertama yang beriman pada Muhammad adalah seorang wanita yakni Khadijah ra. Al-Qur’an juga untuk pertama kalinya dihimpun dan kemudian diserahkan pada wanita, Hafsah binti Umar.

Jadi sebenarnya kurang akal di sana dapat ditafsirkan dengan dua pengertian, yaitu pertama, kurangnya kemampuan akal mengingat kondisi wanita bangsa Arab dulu tidak terdidik, terjajah dalam budaya patriarkhi. Kedua, kurangnya aktivitas akal dimana saat itu sangat langka wanita yang berkemampuan dan berkreasi. Ini dapat dimaklumi mengingat wanita baru mendapat kebebasan hidup dan penghargaan~ketika Islam datang, sejak Muhammad diangkat sebagai Rasul~.[15] 

Mengenai pernyataan tentang kurang agamanya dilihat dari teks hadis, itu adalah suatu hal yang terbatas, hanya berkutat tentang kekurangan shalat dan puasa karena mendapat haid dan nifas. Haid dan nifas bukanlah keadaan yang dikehendaki mereka, tapi itu merupakan pemberian Allah. Karena itu berasal dari-Nya, sudah sewajarnya Dia memberikan dispensasi khusus untuk tidak shalat dan tidak puasa karena dalam kondisi tersebut, wanita menjadi sangat lemah dan menderita. Sungguh Allah itu Maha Adil dan Maha Penyayang.

Hasil riset pakar biologi dan anatomi membuktikan bahwa pada masa haid, wanita mengalami beberapa perubahan sebagai berikut:

1. Daya tahan suhu tubuh semakin menurun sehingga suhu dan temperature tubuhnya rendah.
2. Denyut jantung semakin pelan, tekanan darah menurun, dan sel-sel darah merahnya berkurang.
3. Alat cerna terganggu, pita suara mengalami perubahan, dan kekuatan tarikan nafas melemah.
4. Indera perasa melemah, anggota tubuh terasa tak bergairah.
5. Ingatan dan kecerdasan berkurang, sementara pemusatan pikiran bertambah.[16]

Semua perubahan ini membuat wanita sehat pun seolah-olah sedang sakit. Jadi dengan adanya dispensasi untuk tidak shalat dan tidak puasa, itu membuat wanita merasakan kenyamanan. Inilah letak keadilan-Nya. Kalau itu dianggap sebagai kekurangan agama wanita, mengapa Allah sendiri menghendakinya demikian? Sementara kita mengenal Allah Maha Tahu dan Maha Adil.

Terlebih lagi, seandainya dia tetap senantiasa berdzikir pada-Nya padahal sedang haid atau nifas, dimana letak kurang agamanya? Tidak bisa dijustifikasi bahwa wanita kurang agama karena disebabkan dia mendapat haid dan nifas sehingga tidak shalat dan tidak puasa. Jadi, apakah sebenarnya maksud Nabi berkata demikian, “wanita kurang agamanya”?

Penulis berpendapat bahwa yang dimaksud adalah kekurangan wanita tersebut hanya dari segi melaksanakan rutinitas ibadah mahdah, memang tidah penuh sebagaimana laki-laki karena beberapa alasan syar’i, sangat berbeda dengan kaum lelaki yang bisa shalat dan puasa sepanjang tahun. Inilah yang menjadi indikasi dari kurangnya agama wanita. Tentu tidaklah sama kondisi orang yang bisa melaksanakan shalat sepanjang tahun dan berpuasa Ramadhan sebulan penuh, dengan orang yang tidak shalat selama sekian hari setiap bulannya, serta terhalang shaum Ramadhan selama beberapa hari. Tapi dari segi perolehan pahala tidak ada pembedaan diantara keduanya karena wanita bisa menggantinya dengan melakukan hal-hal lain seperti memperbanyak istighfar dan dzikir saat haid atau nifas, memperbanyak sedekah, dan lain-lain.

Hadis tentang kodrat wanita, kurang akal dan agamanya ini tidak bisa dipakai untuk memverifikasi inferioritas wanita bahkan walau dipahami secara literal pun. Satu hal yang perlu digarisbawahi bahwa hadis ini tak sedikitpun membicarakan tentang inferioritas wanita. Bila penerapannya diperluas, maka orang-orang yang dimaksud hadis tersebut tidak hanya khusus wanita, tapi siapapun yang melakukan hal-hal dan memiliki perilaku-perilaku yang telah disebut di atas, baik pria maupun wanita.

Catatan Kaki
[1] Imam al-Bukhari, Shahih Bukhari(CD-Rom Mausuah al-Hadis al-Syarif), No. 293.
[1] Setelah dilakukan pengecekan ulang dalam Mausu’ah al Hadis Al Syarif mengenai hadis kodrat wanita; kurang akal dan agamanya, hanya ada dua hadis yang menyebutkannya secara lengkap yaitu seperti yang diriwayatkan oleh Bukhari no. 293 dari jalur Abi Said al-Khudri dan Muslim no. 114 dari jalur Abdullah ibn Umar. Sementara hadis-hadis dari riwayat lainnya hanya memuat potongannya saja, yaitu tentang perintah Nabi kepada wanita untuk bersedekah, tidak memuat percakapan Nabi dengan para wanita tentang kurang akal dan agama mereka.

[2] Zaitunah Subhan, Tafsir Kebencian: Studi Bias Gender dalam Tafsir Qur’an(Yogyakarta: LKiS, 1999), hlm. 59.

[3] Tradisi ini dapat diketahui dari hadis Rasul dari Abi Said al-Khudry tentang memenuhi hak-hak jalan. Hak-hak itu disebutkan Nabi di antaranya menundukkan pandangan mata, menahan diri dari menyakiti pihak lain, menjawab salam, menganjurkan yang ma’ruf dan melarang yang munkar. (HR. al-Bukhari, Muslim, dan Abu Daud)

[4] Ibn Hajar al-Asqalani, Fath al Bari. Cek di Mausu’ah al-Hadis al-Syarif, Shahih Bukhari no. 293.

[5] Kata nazara berarti melihat secara abstrak(berpikir) terdapat pada 120 ayat. Tafakkara(berpikir) terdapat pada 18 ayat. Kata faqiha(memahami) terdapat pada 20 ayat. Kata tadabbara terdapat dalam 100 ayat.

[6] Tafsir Kebencian: Studi Bias Gender dalam Tafsir Qur’an, hlm. 56-57

[7] Hamim Ilyas, dkk, Perempuan Tertindas; Kajian Hadis-hadis Misoginis(Yogyakarta: eLSAQ, 2005), hlm. 58.

[8] Perempuan Tertindas; Kajian Hadis-hadis Misoginis, hlm. 64.

[9] Perempuan Tertindas; Kajian Hadis-hadis Misoginis, hlm. 59.

[10]Perempuan Tertindas; Kajian Hadis-hadis Misoginis, hlm. 59. Lihat juga: Asghar Ali Engineer, Pembebasan Perempuan(Yogyakarta: LKiS, 2003), hlm. 102.

[11] Abdul Mustaqim, Paradigma Tafsir Feminis(Yogyakarta: Logung Pustaka), hlm. 31.

[12] Majdi Sayyid Ibrahim, 50 Wasiat Rasulullah SAW bagi Wanita(Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 1997), hlm. 20.

[13] Pembebasan Perempuan, hlm. 105.

[14] Pembebasan Perempuan, hlm. 107-108.

[15] Tafsir Kebencian: Studi Bias Gender dalam Tafsir Qur’an, hlm. 62.

[16] Fada Abdur Razak al-Qashir, Wanita Muslimah: Antara Syariat Islam dan Budaya Barat(Yogyakarta: Darussalam, 2004), hlm. 156.

Demikianlah Artikel Memahami Hadis Kodrat Wanita: Kurang Akal dan Agamanya. Mudahan Bermanfaat



0 Response to "Memahami Hadis Kodrat Wanita: Kurang Akal dan Agamanya"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!