Belajar Menanamkan Materi Pendidikan Tauhid Sejak Dini

Advertisement
Pengertian Tauhid - Kata tauhid berasal dari kata kerja wahhada, yang berarti “mengesakan, menyatakan atau mengakui Yang Maha Esa”.11 Maksudnya ialah keyakinan atau pengakuan terhadap keesaan Allah, Zat Yang Maha Mutlak. Dalam kamus agama dijelaskan tentang pengertian tauhid yaitu Tauhid adalah meng-Esakan Tuhan, suatu kepercayaan yang menegaskan bahwa Tuhan itu Esa, tiada sekutu bagi-Nya, tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, Tuhan yang menciptakan alam semesta beserta segala isinya yang mengatur dan memelihara serta yang membinasakan.

Tauhid menurut pendapat Muhammad Abduh adalah “asal makna tauhid ialah meyakinkan bahwa Allah adalah satu, tidak ada syarikat bagi- Nya”.Keyakinan tentang satu atau Esanya Zat Allah, tidak hanya percaya bahwa Allah ada, yang menciptakan seluruh alam semesta beserta pengaturannya, tetapi haruslah percaya kepada Allah dengan segala ketentuan tentang Allah meliputi Sifat, Asma dan af’al-Nya”.

Dengan demikian, tauhid adalah suatu bentuk pengakuan dan penegasan bahwa Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa, Zat Yang Maha Suci yang meliputi sifat, asma dan af’al-Nya (baca: pengertian tahuhid). 

Pengertian Pendidikan Tauhid

Secara sederhana pendidikan tauhid mempunyai arti suatu proses bimbingan untuk mengembangkan dan memantapkan kemampuan manusia dalam mengenal keesaan Allah. Menurut Hamdani pendidikan tauhid yang dimaksud di sini ialah suatu upaya yang keras dan bersungguh-sungguh dalam mengembangkan, mengarahkan, membimbing akal pikiran, jiwa, qalbu dan ruh kepada pengenalan (ma’rifat) dan cinta (mahabbah) kepada Allah SWT. Dan melenyapkan segala sifat, af’al, asma dan dzat yang negatif dengan yang positif (fana’fillah) serta mengekalkannya dalam suatu kondisi dan ruang (baqa’billah).

Pendidikan yang dimaksud ialah agar manusia dapat memfungsikan instrumen-instrumen yang dipinjamkan Allah kepadanya, akal pikiran menjadi brilian di dalam memecahkan rahasia ciptaan-Nya, hati mampu menampilkan hakikat dari rahasia itu dan fisik pun menjadi indah penampilannya dengan menampakkan hak-hak-Nya.

Pendidikan tauhid yang berarti membimbing atau mengembangkan potensi (fitrah) manusia dalam mengenal Allah ini, menurut pendapat Chabib Thoha, “supaya siswa dapat memiliki dan meningkatkan terus- menerus nilai iman dan taqwa kepada Allah Yang Maha Esa sehingga pemilikan dan peningkatan nilai tersebut dapat menjiwai tumbuhnya nilai kemanusiaan yang luhur”.
Menanamkan Materi Pendidikan Tauhid Sejak Dini
Dengan pendidikan tauhid ini, manusia akan menjadi manusia hamba bukan manusia yang dehumanis kemudian timbul rasa saling mengasihi, tolong menolong, memberikan hartanya yang lebih kepda mereka yang membutuhkan selalu waspada terhadap tipu daya dunia dan manusia zalim, dapat belaku sederhana (zuhud) dan hati yang wara serta sebagainya.

Dengan demikian pendidikan tauhid mempunyai makna yang dapat kita pahami sebagai upaya untuk menampakkan atau mengaktualisasikan potensi laten yang dimiliki oleh setiap manusia, yang dalam bahasa Islamnya potensi laten ini disebut dengan fitrah. Salah satu fitrah manusia adalah fitrah beragama maka dari itu pendidikan tauhid lebih diarahkan pada pengembangan fitrah keberagamaan seseorang sebagai manusia tauhid.

Dengan kata lain pendidikan tauhid adalah usaha mengubah tingkah laku manusia berdasarkan ajaran tauhid dalam kehidupan melalui bimbingan, pengajaran dan pelatihan dengan dilandasi oleh keyakinan kepada Allah semata.

Hal ini sesuai dengan karakteristik ajaran Islam sendiri yaitu, mengesakan Allah dan menyerahkan diri kepada-Nya. Allahlah yang mengatur hidup dan kehidupan umat manusia dan seluruh alam. Dialah yang berhak ditaati dan dimintai pertolongan-Nya.

Menanamkan Materi Pendidikan Tauhid kepada Anak

Islam adalah agama wahdaniyah, yang meliputi beberapa agama samawi. Islam mendokumentasikan ajarannya dalam Al Qur’an, dan tauhid merupakan dasar dari beberapa agama samawi, seperti agama yang dibawa Nabi Ibrahim dan Nabi lainnya yang menegakkan ajaran tauhid.

Ajaran tauhid bukanlah monopoli ajaran Nabi Muhammad akan tetapi ajaran tauhid ini merupakan prinsip dasar dari semua ajaran agama samawi. Para nabi dan rasul diutus oleh Allah untuk menyeru kepada pengesaan Allah dan meninggalkan dalam penyembahan selain Allah.

Walaupun semua nabi dan rasul membawa ajaran tauhid, namun ada perbedaan dalam hal pemaparan tentang prinsip-prinsip tauhid. Hal ini dikarenakan tingkat kedewasaan berfikir masing-masing umat berbeda sehingga Allah menyesuaikan tuntunan yang dianugrahkan kepada para nabi- Nya sesuai dengan tingkat kedewasaan berfikir umat tersebut.

Pemaparan tauhid mencapai puncaknya ketika Nabi Muhammad. diutus untuk melanjutkan perjuangan nabi sebelumnya. Pada masa itu uraian tentang Tuhan dimulai dengan pengenalan perbuatan dan sifat Tuhan yang terlihat dari wahyu pertama turun, yaitu yang diawali dengan kata iqra’(bacalah). Hal ini menunjukkan bahwa nilai-nilai tauhid dalam pendidikan model Islam merupakan masalah pertama dan utama yang dikedepankan sehingga semua orientasi proses pendidikan akhirnya akan bermuara pada pengakuan akan kebesaran Allah SWT. Adapun Materi pendidikan tauhid yaitu 

1. Adanya Wujud Allah

Untuk membuktikan mengenai wujud Allah, yaitu dengan upaya mengingatkan akal pikiran manusia, mengarahkan pandangannya kepada fenomena alam semesta, melakukan perbandingan dengan dimensi yang hak, memperhatikan tatanan dan peraturan alam serta berlangsungnya hukum sebab akibat sehingga manusia dapat sampai kepada suatu konklusi yang meyakinkan bahwa alam semesta ini mempunyi pencipta dan pencipta ini pasti wajibul wujud lagi Maha mengetahui, Maha Bijaksana dan Maha Kuasa.

Bila kita perhatikan alam ini maka timbul kesan adanya persesuaian dengan kehidupan manusia dan makhluk lain. Persesuaian ini bukanlah suatu yang kebetulan melainkan menunjukkan adanya penciptaan yang rapi dan teratur yang berdasarkan ilmu dan kebijaksanaan; sebagaimana siang dan malam, matahari dan bulan, empat musim, hewan dan tumbuhan serta hujan. Semua ini sesuai dengan kehidupan manusia. Hal ini menampakkan kebijaksanaan Tuhan.

Dengan memperhatikan penciptaan manusia, hewan dan lainnya, menunjukkan bahwa makhluk-makhluk tersebut tidak mungkin lahir dalam wujud dengan sendirinya. Gejala hidup pada beberapa makhluk juga berbeda-beda. Misalnya tumbuh-tumbuhn hidup, berkembang dan berubah. Hewan juga hidup dengan mempunyai insting, dapat bergerak, bekembang, makan dan mengeluarkan keturunan. Manusia pun demikian, akan tetapi manusia mempunyai kelebihan yaitu dapat befikir. Hal ini menunjukkan adanya penciptaan yang mengehendaki supaya sebagian makhluk-Nya lebih tinggi daripada sebagian yang lain.Selain itu, seseorang bisa mengetahui keberadaan sesuatu tanpa harus melihatnya secara materi. Dalam kehidupan sehari-hari ini seseorang bisa mengakui bahwa untuk mengetahui adanya angin dapat dengan cara merasakannya dan melihat bekas-bekasnya. Seseorang mengakui adanya nyawa tanpa melihatnya sehingga hal ini cukup menguatkan asumsi bahwa untuk membuktikan adanya Tuhan tidak harus dengan pembuktian material.

pendidikan tauhid dalam Islam

Dalam jiwa manusia sebenarnya telah tertanam suatu perasaan adanya Allah, suatu perasaan naluriah (fitrah) yang diciptakan oleh Allah pada diri manusia sendiri; sebagaimana Firman Allah dalam Surat Ar Ruum ayat 30, yang artinya Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah), (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) Agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (QS. Ar Ruum : 30).

Dari beberapa uraian di atas dapat dipahami, bahwa untuk meyakinkan adanya Tuhan (wujud Allah.), akal pikiran hendaknya diarahkan pada fenomena alam, namun mata hati manusia jauh lebih tajam dan dapat lebih meyakinkan daripada pandangan kasat mata, karena dalam jiwa manusia sudah tertanam fitrah untuk mengakui adanya Tuhan. Dengan demikian segala sesuatu itu ada pasti ada yang menciptakan, yaitu Allah Zat Yang Maha Pencipta. 

2. Keesaan Allah

Pendidikan tauhid berikutnya yaitu tentang keesaan Allah. Ajaran mengenai keesaan Allah ini, sudah diterangkan oleh para rasul Allah sebelum Nabi Muhammad. Hal ini telihat dari beberapa keterangan yang terdapat dalam Al Qur’an, misalnya seruan Nabi Shaleh, (QS. 11 : 61), ajaran Nabi Syu’aib (QS. 11 : 84), ajaran Nabi Musa (QS. 20 : 13-14), ajaran Nabi Isa (QS. 5 : 72) dan Nabi lainnya semua mengajak kepada keesan Allah.

Keesaan Allah menurut R. Ng. Ranggawarsita adalah Allah itu Zat yang pertama kali ada, Maha Awal, Maha Esa dan Maha Suci yang meliputi sifat, asma dan af’al-Nya.25 Sementara menurut Quraish Shihab yang menganalisa kata ahad (Esa), ia menggolongkan keesaan Allah menjadi empat yaitu : keesaan Zat, keesan sifat, keesaan perbuatan dan keesaan dalam beribadah kepada-Nya.

Yang dimaksud dengan esa pada Zat ialah Zat Allah itu tidak tersusun dari beberapa bagian dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Esa pada sifat berarti sifat Allah tidak sama dengan sifat-sifat yang dimiliki oleh makhluk- Nya. Esa pada af’al berarti tidak seorang pun yang memiliki perbuatan sebagaimana pebuatan Allah. Ia Maha Esa dan tidak ada sesembahan yang patut disembah kecuali Allah.

Dengan demikian dapat dipahami bahwa mulai rasul pertama sampai generasi terakhir Nabi Muhammad hingga pewaris nabi (ulama), telah mengajarkan tauhid yang seragam. Yang dinamakan Esa dalam ajaran Islam adalah tidak atau bukan terdiri dari oknum ganda baik pada nama, sifat maupun zat-Nya. Allah adalah Maha Esa, Zat Yang Maha Suci yang meliputi nama, sifat dan af’al-Nya, tidak ada Tuhan selain Allah. 

3. Hikmah Mengenal Allah

Seseorang yang mengenal sesuatu yang telah memberikan manfaat pada dirinya maka akan mempunyai kesan atau hikmah terhadap sesuatu itu. demikian juga apabila seseorang mengenal Tuhan melalui akal dan hatinya maka ia akan merasakan buah kenikmatan dan keindahan yang tercermin dalam dirinya.

Mengenal (ma’rifat) kepada Allah adalah ma’rifat yang paling agung. Ma’rifat ini menurut Sayid Sabiq adalah asas yang dijadikan standar dalam kehidupan rohani dan untuk mengenal Allah dengan melalui cara : berfikir dan menganalisis makhluk Allah, dan mengenal terhadap nama- nama dan sifat-sifat Allah.

Sifat berkenalan dengan Tuhan menurut penjelasan Sutan Mansur yaitu seseorang merasa berhadapan dengan Tuhan. Keadaan itu terasa benar-benar dalam diri bukan lagi berupa kira-kira atau meraba-raba. seseorang merasakan dalam dirinya dan alam semesta dibawah pengawasan Tuhan dan Tuhan itu memanggilnya supaya berdoa, mengabdikan diri serta mendekatkan diri kepada-Nya. Seseorang datang kepada-Nya dengan mengenal siapa Dia, Zat Yang Maha Kuasa.

Pengalaman ketauhidan yang tercermin pada diri manusia disebabkan seseorang telah mengetahui dan menginsafi kebenaran kedudukan Allah, ia menyadari akan keagungan dan kebesaran-Nya sehingga dari sini segala apa yang dilkukan akan mengarahkan tujuan pandangannya ke arah yang baik dan benar.

Buah mengenal (ma’rifat) akan adanya Allah ini, di antaranya akan tersimpul dalam bentuk sikap sebagai berikut:

a. Adanya perasaan merdeka dalam jiwa dari kekuasaan orang lain
b. Adanya jiwa yang berani dan ingin terus maju membela kebenaran
c. Adanya sikap yakin, bahwa hanya Allahlah yang Maha Kuasa memberi rizki
d. Dapat menimbulkan kekuatan moral pada manusia (kekuatan Maknawiah) yang dapat menghubungkan manusia dengan sumber kebaikan dan kesempurnaan (Allah)
e. Adanya ketetapan hati dan ketenangan jiwa.
f. Allah memberikan kehidupan sejahtera kepada orang mukmin di dunia.

Dengan demikian seorang yang yakin akan keesaan Allah, mempunyai sikap hidup optimis yang jauh lebih kuat dibandingkan dengan orang kafir yang menyekutukan Allah, sebagai satu-satunya Rabb, pencipta alam semesta beserta isinya ini. Keimanan akan hal ini apabila sudah menjadi kenyatan yang hebat maka akan dapat merubah dan beralih, yang merupakan suatu tenaga dan kekuatan tanpa dicari akan datang dengan sendirinya dalam kehidupan sehigga keimanan dapat mengubah manusia yang asalnya lemah menjadi kuat, baik dalam sikap, kemauan, maupun keputusan menjadai penuh harap dan harapan ini akan dibuktikan dengan perbuatan nyata.

Daftar Pustaka

M. Shodiq, Kamus Istilah Agama, (Jakarta : Bonafida Cipta Pratama, 1991), hlm. 353.
Syekh Muhammad Abduh, Risalah At Tauhid, terj. H. Firdaus A. N., (Jakarta : Bulan Bintang, 1992), hlm. 3
Zainuddin, Ilmu Tauhid Lengkap, (Jakarta : Rineka Cipta, 1992), hlm. 1
M. Hamdani B. DZ, Pendidikan Ketuhanan dalam Islam, (Surakarta : Muhammadiyah University Press, 2001), hlm. 10
M. Chabib Thoha, Kapita Selekta Pendidikan Islam, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 1996), hlm. 62
Zaky Mubarok Latif, dkk., Akidah Islam, UI Press, Yogyakarta, 1998, hlm. 80
Syekh Muhammad Abu Zahra, Al ‘Aqidah Al Islamiyyah, (ttp : ‘Udhwal Majmu’, 1969), hlm. 18
M. Quraish Shihab, Wawasan Al Qur’an, (Bandung : Mizan, 1996), hlm. 19
Mahmud Junus, Tarjamah Al Qur’an Al Karim, (Bandung : Al Ma’arif, 1990), hlm. 371
Sayid Sabiq, Anshirul Quwwah fil Islam, terj. Haryono S. Yusuf, Unsur-unsur Dinamika dalam Islam, (Jakarta : PT. Intermasa, 1981), hlm. 7
R. Ng. Ranggawarsita, Wirid Hidayat Jati, (Semarang : Dahara Prize, t.t), hlm. 17
M. Yusran Asmuni, Ilmu Tauhid, (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 1993), hln. 17
Sayid Sabiq, Aqidah Islam : Suatu Kajian yang Memposisikan Akal sebagai Mitra Wahyu, (Surabaya : Al Ikhlas, 1996), hlm. 41
A.R. Sutan Mansur, Tauhid Membentuk Pribadi Muslim, (Jakarta : Yayasan Nurul Islam, 1981), hlm 14

Demikianlah artikel islami mengenai Menanamkan Materi Pendidikan Tauhid Sejak Dini. Salam hangat penulis.

0 Response to "Belajar Menanamkan Materi Pendidikan Tauhid Sejak Dini"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!