Pembacaan Surat Yasin dalam Tradisi Tawassulan

Advertisement

Pembacaan Surat Yasin dalam Tradisi Tawassulan - Salah satu pengalaman beragama yang berharga dan tiada taranya bagi seorang muslim adalah berinteraksi dengan al-Qur’an, yang bisa terungkap dan diungkapkan melalui lisan, tulisan, maupun perbuatan, baik itu berupa pemikiran, pengalaman ataupun pengamalan, emosional ataupun spiritual.[1] 

Bagi umat Islam, al-Qur’an merupakan kitab suci yang menjadi Manhaj al-Hayat, bahkan dalam bahasanya farid Esack, bagi orang Islam al-Qur’an itu hidup seakan-akan mempunyai jiwa layaknya manusia.[2] Dalam realitanya fenomena ‘Pembacaan al-Qur’an’ sebagai respons atau apresiasi umat islam terhadap al-Qur’an sebagai Manhaj al-Hayat-nya sangatlah beragam. terdapat berbagai model pembacaan al-Qur’an mulai yang berorientasi pada pemahaman dan pendalaman maknanya sampai yang sekedar membaca al-Qur’an hanya sebagai media ibadah ritual atau untuk memperoleh ketengangan jiwa.[3] Bahkan terdapat pula model ‘pembacaan al-Qur’an’ yang bertujuan untuk mendatangkan kekuatan magis (supranatural) atau terapi pengobatan.[4]

Dari sekian bentuk apresiasi umat Islam terhadap kitab sucinya -‘al-Qur’an’ diatas menunjukkan satu bentuk ‘kekayaan’ peradaban bagi umat islam itu sendiri. Yang dalam istilah Nashr Hamid Abu Zayd, al-Qur’an kemudian sebagai Muntij al-tsaqafah (Produsen Peradaban) hal ini dilihat dari bagaimana respon masyarakat islam sejak awal, dengan ragam bacaan yang melahirkan ilmu Qira’at, ragam tulisan yang melahirkan ilmu Rasm al-Qur’an dan lain sebagainya.[5]

Selanjutnya, adalah tulisan ini untuk menelisik lebih jauh salah satu model ‘pembacaan al-Qur’an’ atau respon masyarakat yang ada di daerah Kembang Kerang Lombok Timur mengenai salah satu tradisi yang sudah ada dan tetap ditumbuh kembangkan dan terpelihara hingga sekarang, yakni Pembacaan Surat Yasin dalam tradisi Tawasulan. 

Lebih jauh dalam penelitian ini tidak terdapat suatu pen-justifikasian apakah benar atau salah, namun bersifat deskripsi tradisi semata dan lebih jauh mengeksplor bagaimana prosesi pelaksanaan tradisi tawasulan tersebut yang terbagi dalam; pertama Deskripsi tradisi mencakup teknis pelaksanaan, waktu pelaksanaan, pemimpin tradisi, kemudian yang kedua dilihat dari Isi Tradisi, dan ketiga tradisi diungkap dan dilihat dari dua landasan agama Islam al-Qur’an dan al-Hadis, terakhir untuk memudahkan pembaca dalam mencari jawaban dalam tradisi ini dicantumkan analisis dan kesimpulan dari penulis sendiri.

Kehadiran Islam ke Nusantara tidak lepas dengan nuansa dimana Islam itu lahir, sungguhpun demikian ia mampu beradaptasi dengan kebudayaan lokal dimana islam itu datang. Proses persenyawaan keislaman dengan kenusantaraan menjadikan islam yang ada di Nusantara ini lebih mudah diterima oleh masyarakat, tidak ada resistensi, yang ada hanyalah penyambutan, sungguhpun ada modifikasi namun tetap dalam injeksi nilai-nilai keislaman dalam tradisi yang telah ada.

Dalam perkembangannya, Islam nusantara dengan wataknya yang moderat dan apresiatif terhadap budaya lokal serta memihak warga setempat menghadapi tantangan. Kecenderungan untuk menutup habis wawasan nusantara dan menggantinya dengan dengan wawasan Timur tengah menjadikan wajah Islam seperti yang berkembang di tanah air ini berjarak dengan tradisi warga setempat, corak beragama yang ada ‘terasa’ asing dengan mayoritas masyarakat islam tak terkecuali Indonesia.[6] 

Di Indonesia sendiri terdapat berbagai macam kebudayaan dan tradisi dalam menjalani ritualitas keberagamaan mereka masing-masing, di Lombok misalnya, dengan tradisi waktu telu-nya yang hanya sholat tiga kali dalam seminggu yakni hari jum’at, dan dua kali dalam satu tahun pada waktu Idul Fitri dan Idul Adha. Tradisi ini merupakan salah satu yang pernah ada dalam sejarah keberagamaan di Kembang kerang Lombok Timur.

Kembang Kerang adalah nama satu tempat yang berkedudukan di Lombok yakni tepatnya jalan Segare Anak kecamatan Aikmel, kabupaten Lombok Timur provinsi Nusa Tenggara Barat, konon penduduk asli dari daerah ini adalah asli masyarakat Sumbawa yang memang penganut asli tradisi waktu telu diatas.[7] 

Namun dengan berjalannya waktu, tradisi waktu telu yang dirasa menyimpang dari ajaran agama Islam ini dihilangkan dan tidak diperagakan lagi, namun semua tradisi yang ada tidak dihapus serta merta melainkan sebaliknya, memperthankan tradisi yang dianggap sudah baik dan diwarnai dengan corak keislaman untuk meneruskan kembali perjuangan dakwah keislaman yang bi al-Hikmah, wa al-mau’idzah dan bi al-Mujadalah. 

Dari sisi keberagamaan nya, masyarakat Kembang Kerang melakukan berbagai aktifitas keagamaan sebagaimana halnya dengan praktik keberagamaan yang dilakukan oleh Nahdliyyin pada umumnya, seperti tahlilan, ziarah kubur, maulidan begitu juga dengan tradisi tawasulan dan yasinan merupakan salah satu tradisi yang memang sudah mengakar dari nenek moyang mereka. Aktifitas keagmaan seperti ini sangat kental sekali ditandai dengan adanya antusias dari masyarakat hingga sekarang.

Mayoritas masyarakat Kembang kerang adalah berorganisasi Nahdlatul Wathan yang lebih akrab dengan sebutan NW,[8] dimana organisasi keislaman ini sama halnya dengan organisasi keislaman semisal Nahdlatul Ulama’, al-Washitiyah yang berpusat di Sumatera, dan Perti (Persatuan Tarbiyah Islam) yang mendasarkan paham keagamaannya pada sumber ajaran islam, yakni al-Qur’an, al-Sunnah (hadis), al-Ijma’, al-Qiyas. Dalam memahami serta menafsirkan islam dari berbagai sumber tersebut, NW juga mengikuti paham Ahlussunnah Wa al-Jama’ah, dengan memakai jalan pendekatan (mazhab).

Deskripsi Tradisi Pembacaan Surat Yasin dalam Tradisi Tawassulan

Untuk lebih detailnya, penulis dalam mendeskripsikan tradisi yasinan ini membaginya dalam tiga poin, pertama; segi makna yang mencakup pada pemknaan dasar dari konsep tawassulan menurut kitab-kitab kamus dan pemikiran ulama’ tentang konsep tawasulan serta pemaknaan masyarakat Kembang kerang umumnya mengenai yasinan . Selanjutnya waktu pelaksanaan dan terakhir adalah prosesi pelaksanaan beserta pemaparan isi dari tradisi yasinan dalam tradisi tawassulan tersebut.

Makna Tradisi Secara etimologis wasilah merupakan isim masdar dari kata Washala. yang menurut terjemahan harfiyahnya diartikan dengan perantara, jalan, sebab yang mendekatkan diri kepada yang lain.[9] sedangkan tawassul adalah isim mashdar dari kata tawasshala. Namun menurut al-Raghib al-Asfahani, al-Washilah artinya pencapaian sesuatu dengan penuh keinginan.[10] Adapun menurut penelitian yang dilakukan oleh Nashirudin al-Bani, kata tawassul berasal dari bahasa Arab asli, dan disebutkan didalam al-Qur’an, hadis, pembicaraan orang Arab, Syair dan nasr (prosa), yang artinya mendekat (taqarrub) kepada yang dituju dan mencapainya dengan keinginan yang keras.[11]

Dengan demikian yang dimaksud dengan tawassul adalah upaya dan keinginan untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan wasilah (perantara, jalan), mengamalkan amal perbuatan shaleh, mulia serta melakukan sesuatu yang sesuai dengan apa yang diridhai-Nya.

Pembacaan Surat Yasin dalam Tradisi Tawassulan

“Tawasulan” dalam masyarakat Kembang Kerang Lombok Timur dalam kegiatannya dimaknai sebagai “wadah” pengiriman bacaan-bacaan ayat-ayat dan do’a-do’a tertentu yang di khususkan untuk seseorang yang sudah meninggal (baru maupun sudah lama). Kemudian, dalam praktiknya penduduknya yakin akan apa yang mereka sampaikan (bacakan) kepada mayyit akan sampai pahalanya sesuai dengan niat masing-masing pentawassul,[12]

Selanjutnya, yasinan disini pada umumnya dipahami dengan membaca surat Yasin secara bersama-sama didepan maqam kerabat ataupun keluarga yang lain dengan tujuan Si al-marhum dapat diringankan beban siksanya dan sekaligus sebagai ‘ajang’ do’a kepada al-marhum.

Dengan pemahaman masyarakat diatas, tidak heran jika tradisi tawassul ini dijadikan wadah untuk mengingat keluarga yang sudah meninggal, mendo’akan, dan juga sebagai tanda bakti mereka kepada leluhur atau orang tua dan para ulama yang sudah tiada. Dalam prakteknya dalam tawassulan yang dibaca adalah beberapa ayat suci al-Qur’an, terutama surat Yasin.

Waktu Pelaksanaan Pembacaan Surat Yasin dalam Tradisi Tawassulan


Tidak jauh berbeda dengan masyarakat pendahulunya, pembacaan yasinan dalam acara tawassulan ini masih dilaksanakan sebagaimana biasanya. Dalam praktiknya berbeda dengan tahlilan pada umumnya yang dilaksanakan masyarakat pada malam hari yang dimulai pada hari pertama sampai hari kesembilan dan atau ketujuh.[13] 

Yasinan di Kembang kerang biasanya dilaksanakan pada Pagi hari (sebelum matahari belum terbit) yang dimulai pagi pertama sampai pagi kesembilan setelah meniggalnya sesorang dari anggota keluarga atau dari kerabat yang lain.[14] Selain dilakukan beberapa saat setelah wafatnya, tradisi yasinan ini juga dilakukan pada waktu yang lain seperti menjelang dan sesudah Idul fitri. Hal ini dimaksudkan untuk mengingat kembali keluarga yang sudah meninggal (almarhum) dan juga mendo’akannya supaya diberikan selamat dan ampunan dari Allah Swt.[15] 

Kemudian dalam pelaksanaannya, Yasinan ini terbagi dalam empat tahap yakni: Pertama: semenjak si Mayyit meninggal (hari pertama di liang lahat) sampai hari kesembilan dan ini dinamakan istilah “Nyiwak”. Kedua: dilaksanakan pada hari ke empat puluh, kegiatan ini dinamakan Tawasulan Metang Dase. Ketiga dilaksanakan pada hari ke seratus, kegiatan ini dinamakan Tawasulan Nyeratus, dan terakhir dilaksanakan pada hari ke seribu, kegiatan ini dinamakan Tawasulan Nyeribu.[16] 

Menarik untuk diungkap, dalam perayaannya yasinan ini tidak hanya dilakukan ketika ada salah seorang dari keluarga yang baru meninggal dengan tujuan “pengiriman pahala” dan do’a bagi mayyit, tapi tawasulan ini juga dilakukan ketika seseorang yang punya keinginan atau hajatan semisal akan merantau study keluar negeri atau kerja sebagai TKI dan sejenisnya, maka hal ini dilakukan dimakam keluarga pendahulu yang sudah meninggalkan, dan makam para wali atau penghulu agama, Kyai, dengan tujuan tawasulan atau sebagai jalan do’a hajat kepada Allah SWT (bukan do’a kepada si mayit), dengan tujuan agar selamat dan sukses dalam tujuan.

Teknis Pelaksanaan dan Isi Tradisi Pembacaan Surat Yasin dalam Tradisi Tawassulan

Sebagaimana dalam pembahasan awal, dalam pelaksanaannya, kegiatan yasinan ini dilaksanakan ketika matahari belum terbit (setelah subuh), yang memang merupakan tradisi yang sudah ada serta menurut sebagian mereka karena waktu ini waktu masih belum terbebani dengan segala aktifitas keseharian keluarga.

Selanjutnya, dalam pelaksanaannya yasinan ini tidak memakan waktu yang terlalu lama karena hanya sebatas yasinan dan do’a. gambaran pelaksanaannya terbagi dalam beberapa sesi, pertama; pembacaan washilah al-Fatihah oleh pemimpin acara, dalam hal ini seperti biasanya dihususkan pertama kepada kanjeng Nabi Muhammad Saw, kemudian secara berurutan kepada keluarga-keluarga yang telah mendahului, dan terakhir adalah wasilah untuk al-marhum hususnya-mayit.

Kedua, setelah wasilah selesai, kesemua dari peserta yasinan dengan alunan sama dan dengan bacaan murattal membaca yasinan secara bersama-sama hingga seselsai. Dan terakhir sebagai penutup dalam acara ini juga dikumandangkan do’a terhususkan untuk mayit.

Sebagaimana pemaparan diatas kegiatan dalam tradisi ini diisi dengan beberapa prosesi acara yang berlangsung dengan khidmat dan penuh pengharapan atas keharibaan Allah Swt. Sedangkan dilihat dari sisi bacaan, ada beberapa bacaan yang dilantunkan dalam acara ini dimana kesemuanya merupakan surat-surat atau ayat yang dianggap memilki fadhilah masing-masing. Isi atau bacaan dalam tradisi ini antaranya yakni, Surat Yasin, kemudian surat al-Ikhlas dan surat al-Mu’awwidzatain (Q.S al-Falaq dan al-Nas), dengan surat al-Fatihah, surat al-Baqarah ayat 1-5 dilanjutkan dengan ayat kursi dan diakhiri dengan 2 ayat akhir surat al-baqarah dan diakhiri dengan tahlilan.[17] 

Setelah beberapa ayat diatas selesai dibacakan didekat makam, maka dilanjutkan dengan bacaan beberapa shalawat kepada Nabi SAW semisal shalawat Nariyah, al-Thibb Sholawat Nahdlatain, dan sebagainya dan ini semua terkumpul dalam bacaan yang disebut dengan “Hizib Nahdlatul Wathan”,. Terlepas dari berapa dan apa yang dibacakan dalam tradisi ini namun kesemuanya dikenal dengan istilah Yasinan.

Dari beberapa hasil wawancara dengan masyarakat, secara literal dasar teologis yang mereka pakai yang didasarkan dalam al-Qur’an masih belum didapat, namun pertanyaan mengapa dalam pelaksanaannya harus membaca beberapa ayat al-Qur’an terutama surat Yasin mereka dalam hal ini didasari dengan beberapa hadis yang secara literal menganjurkan untuk membacakan surat Yasin dan surat yang lainnya bagi seorang mayit, sebagaimana dalam hadis yang diriwayatkan oleh An-Nasa’i dan Abu Daud dari Ma’qil bin Yasar:
اقرؤا سورة يس على موتاكم

Bacakanlah surat Yasin bagi orang yang telah mendahului kamu.”

Dengan ini terlihat jelas, Dalam pandangan masyarakat, surat yasin dianggap memiliki kelebihan dibandingkan dengan ayat-ayat yang lainnya. Selain hadis diatas, dalam melaksanakan suatu tradisi yang ada dalam masyarakat lombok pada umumnya, sebenarnya lebih dipengaruhi oleh pemahaman agama dari tokoh sentral seperti Tuan Guru (indonesia; Kiyai).

Analisis Pembacaan Surat Yasin dalam Tradisi Tawassulan

Gambaran yasinan dalam tradisi tawassulan dengan segala bentuknya yang di peragakan masyarakat kembang kerang diatas memperlihatkan serta menunjukkan satu dari beberapa bentuk ekspresi terhadap al-Qur’an. Dengan yasinan yang mereka ‘pelihara’ dan kembangkan ini diharapkan keluarga yang telah mendahuluinya minimal diringankan siksanya dengan ‘bantuan’do’a dan yasinan yang mereka panjatkan.

Secara teologis, keyakinan seperti ini memang tidaklah berseberangan dengan syari’at islam baik al-Qur’an dan al-Hadis. Dalam al-Qur’an sendiri Allah telah menggambarkannya dalam surat al-Hasyr ayat 10:

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آَمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ


Artinya: Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: "Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan Saudara-saudara kami yang Telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang."[18]

Secara literal dalam ayat ini Allah SWT menyanjung orang-orang yang beriman karena mereka memohonkan ampun (istighfar) untuk orang-orang beriman sebelum mereka. Ini menunjukkan bahwa orang yang telah meninggal dapat manfaat dari istighfar orang yang masih hidup.

Kemudian, dengan melihat adanya motivasi mereka dalam melaksanakan tradisi ini adalah untuk beribadah dan sekaligus berbuat baik dan berbakti kepada kerabat, menurut masyarakat-Nya merupakan ‘model’ aktualisasi dari hadis Rasulullah Saw dalam pernyataannya yang menerangkan ‘keberlangsungan’ amal sesorang meskipun sudah meninggal dunia. Selengkapnya sebagaimana yang terekam dalam redaksi hadis Nabi : [19]


عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَال: َ إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Artinya: apabila seseorang meninggal maka teputuslah amalnya kecuali tiga perkara: shodaqoh jariyah, Ilmu yang bermanfaat, dan Anak sholeh yang mendoakan kedua orang tuanya.

Dengan adanya dua dalil diatas al-Qur’an dan al-Hadis, dapat dipahami dalam memaknai dan memeperagakan tradisi yang sudah ada masyrakat kembang kerang tidak serta merta melakoni tanpa landasan teologis, selain mereka ittiba’ dengan ulama’ pendahulu lebih jauh mereka juga mengkaji berbagai sumber hukum yang berkenaan denganya sebagaimana dalam pemaparan diatas.

Kemudian, dengan melihat ulang tradisi serta motiv dari terlaksananya yasinan diatas menurut penulis terdapat beberapa hikmah yang selanjutnya menjadi alasan penulis untuk –paling tidak tradisi semacam ini tetap dipertahankan namun dengan catatan tetap berada dalam garis dan asas-asas keislaman. Dengan adanya acara semacam ini menurut penulis ‘menyimpan’ nilai-nilai sosial dan keagamaan, diantaranya; Pertama; ikut Berbagi rasa antar sesama, satu hal yang sangat penting untuk dibangun dalam kehidupan bermasyarakat adalah adanya rasa saling memilki, rasa berbagi antar sesama, dengan kedua asa ini suasana kehidupna kehidupan dalam bermasyarakat akan semakin mudah terjalin. Mengenai hal ini Rasulullah Saw dalam hadisnya pernah menggambarkan gambaran muslim yang satu dengan muslim yang lain bagaikan satu anggota tubuh. Kedua; dengan adanya yasinan ini baik didekat makam secara langsung maupun di tempat lainnya secara tidak langsung memicu kepada pelakunya untuk selalu megingat mati, satu perkara yang tidak bisa menghindar darinya melainkan dicari mati, nilai seperti ini selaras dengan hadis Rasulullah Saw dahulu Aku Melarang Kamu untuk berziarah kubur, maka sekarang ziarah karena dengan nya kamu bisa mengingat mati.

Kesimpulan


Kembang kerang dan masyarakatnya mencatat satu bentuk fenomena interaksi dengan al-Qur’an yang dari makna, tujuan, prosesi pelaksanaan dan tentunya mediator-nya berbeda dengan tradisi-tradisi didaerah nusantara yang lain. Dengan tradisi tawassulan yang nantinya dimodifikasi dengan beberapa ayat dari al-Qur’an semisal Yasinan dan yang lainnya, menunjukkan apresiatif serta respon mereka yang tinggi terhadap nilai dan pemahaman mereka terhadap al-Qur’an.

Singkat menurut penulis, dengan melihat prinsip keberagamaan yang “ditanam” dalam wilayah Kembang kerang menunjukkan sikap ke-Islaman yang senantiasa bersikap “lunak” terhadap beragam nilai dan tradisi yang sudah membudaya dan menyatu dalam masyarakat, yang paling substansial menurut mereka adalah bagaimana agar tradisi itu sesuai dengan islam. Biarlah “kulitnya” masih diwarnai tradisi versi lama, asal “isinya” sudah islam, dengan demikian upaya mempribumikan islam atau lebih husus lagi upaya meng-indonesia-kan islam sebetulnya sudah lama dipraktekkan masyarakat Kembang kerang.

Akhirnya, dari pemaparan tradisi yasinan diatas mulai dari perkembangan keislaman di daerah kembang kerang sampai pada pelestarian pemetaan proses acara yasinan ini menunjukkan bahwa interaksi dengan al-Qur’an tidak hanya sekedar sebagai ‘media’ bacaan dan ‘media’ pemahaman, melainkan juga sebagai ‘media’ bakti tauladan kepada orang tua dan kerabat terdekat serta ‘media’ berbagi rasa antar sesama.dan fenomena jenis ini telah tunjukkan oleh masyarakat Kembang kerang sendiri.

G. Penutup

Kiranya demikianlah sedikit ulasan dari hasil penelitian singkat mengenai seputar fenomena ‘pembacaan Surat Yasin dalam Tradisi Tawassulan’, namun dengan segala kekurangan yang ada, penulis mengakui makalah ini masih jauh untuk dikatakan sempurna, namun hanyalah awal dari kesempurnaan itu sendiri, untuk itu diharapkan adanya penelitian lebih lanjut dengan tema dan atau tradisi yang serupa guna memperluas khazanah keislaman yang ber’wawasan’ Nusantara. Akhirnya kritik dan saran penulis harapkan dari para pembaca untuk perbaikan selanjutnya.

H. Senarai Bacaan

a. RI Al-Qur’an dan Terjemahannya
b. Abdul Mustaqim dkk, Metodologi Penelitian al-Qur’an, ed Sahiron Syamsuddin (Yogyakarta: TH Press. 2007)
c. Farid esack, Samudera al-Qur’an Terj Nuril Hidayah (Yogyakarta: Diva Press, 2002)
d. Zuhri Humaidi dalam Majalah Tashwirul Afkar, Jurnal Refleksi Pemikiran keagamaan dan Kebudayaan Islam Nusantara edisi No 26 tahun 2008 (Jakarta: LAKPESDAM NU)
e. Muhammad Yunus, Kamus Arab-Indonesia (Jakarta: Yayasan Penyelenggara Penterjemah Penafsiran Al-Qur’an, 1973)
f. Al-Raghib al-Asfahani, Mu’ja’m Mufradat al-fadz al-Qur’an (Beirut:Dar al-Fiqri)
g. Nashirudin al-Bani Tawassul, Tej Ainur Rafiq (Jakarta:Pustaka kautsar, 1996)
h. H. Sabaruddin , Mengenal Islam Di Pulau Lombok (Mataram: Nurul Qolam). 2001

Wawancara:
a. Bpk, Sdr. Syamsul Wathoni, warga Kembang Kerang pada tanggal 17 nopember 2009
b. Sdr. Hulaimi, Santri Pondok Pesantren Dar al-Qur’an wa al-Hadis, Kembang Kerang-Lombok Timur. Pada tanggal 15 dan 27 November 2009.
c. H.Sabaruddin, Tokoh Masyarakat setempat.
[1] Muhammad Chirzin, Metodologi Penelitian al-Qur’an, ed Sahiron Syamsuddin (Yogyakarta: TH Press. 2007) cetakan I hlm 10
[2][2] Lebih lanjut, Menurut Farid esack, al-Qur’an itu hidup dapat ditunjukkan dari beberapa keyakinan dari umat islam itu sendiri bahwa diantaranya: al-Qur’an mengawasi kita dan akan memberi kesaksian kelak di hari pembalasan, Selain keyakinan akan memberikan kesaksian pada hari kiamat, Umat islam juga percaya akan kemukjizatan dan kekuatan yang ditimbulkan dari al-Qur’an sebagai contoh, banyak dinegara-negara atau tempat-tempat memakai suatu ayat yang terdapat dalam al-Qur’an sebagai jimat untuk menjauhkan diri dari segala macam penyakit, penolak bala’, sementara ada juga yang memakai beberapa ayat yang ditempelkan baik itu ditemboknya semisal ayat kursi yang mereka sebut sebagai ayat singgasana. Baca Farid esack, Samudera al-Qur’an Terj Nuril Hidayah (Yogyakarta: Diva Press, 2002) cetakan I hlm 41-42
[3] Abdul Mustaqim, Metodologi Penelitian al-Qur’an, ed Sahiron Syamsuddin (Yogyakarta: TH Press. 2007) cetakan I hlm 65.
[4] Ibid....hlm 66
[5] Abdul Mustaqim, Metodologi Penelitian al-Qur’an, ed Sahiron Syamsuddin (Yogyakarta: TH Press. 2007) cetakan I hlm 65.
[6] Zuhri Humaidi dalam Majalah Tashwirul Afkar, Jurnal Refleksi Pemikiran keagamaan dan Kebudayaan Islam Nusantara edisi No 26 tahun 2008 (Jakarta: LAKPESDAM NU) hlm 126
[7] Hasil wawancara dengan Bpk Syamsul Wathoni Santri Pondok Pesantren Dar al-Kamal, Kembang Kerang-Lombok Timur pada Tanggal 15 November 2009.
[8] Nahdlatul Wathan yang lebih akrab dengan sebutan NW adalah merupakan satu organisasi terbesar di daerah Nusa Tenggara Barat, Organisasi ini berdiri sekitar tahun 1936an atau sepuluh tahun setelah berdirinya organisasi Nahdlatul Ulama’. Organisasi ini dipelopori dan sekaligus sebagai pendirinya oleh salah satu pemuka agama pada zamannya yakni Tuan Guru Kiai Haji (TGKH) Zainuddin Abdul Majid, ulama lulusan Madrasah Saulatiyah Makkah Al Mukarromah. Organisasi ini lahir sebagai organisasi dengan manajemen modern pertama di NTB, dari namanya, NW lahir dengan semangat ikut mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara. Lihat Drs Muhammad Ilyas dalam NW Menyebar Islam berwawasan Nusantara majalah al-Afkar Islam Nusantara, edisi No 26 tahun 2008 (Jakarta: LAKPESDAM NU) hlm 127
[9] Muhammad Yunus, Kamus Arab-Indonesia (Jakarta: Yayasan Penyelenggara Penterjemah Penafsiran Al-Qur’an, 1973), hlm. 499
[10] Al-Raghib al-Asfahani, Mu’ja’m Mufradat al-fadz al-Qur’an (Beirut:Dar al-Fiqri) hlm 560-561
[11] Nashirudin al-Bani Tawassul, Tej Ainur Rafiq (Jakarta:Pustaka kautsar, 1996), hlm 20

[12] Hasil wawancara dengan Bpk Syamsul Wathoni Santri Pondok Pesantren Dar al-Kamal, Kembang Kerang-Lombok Timur pada Tanggal 21 November 2009.
[13] Dalam acara tahlilan didesa ini, ada sedikit perbedaan yang khas dengan tempat yang lain pada umumnya, yakni waktu tahlilan bagi anak yang belum baligh dibedakan jumlah harinya dengan mayyit yang umurnya sudah menginjak dewasa. Hal ini disebabkan adanya keyakinan bahwa mayyit yang umurnya masih belum menginjak baligh dianggap belum membuat perkara dosa sebagaimana bagi yang sudah baligh yang tanggungan syari’at sudah ditanggung sendiri. http//www. hupelita. Com.baca.php? id=76508 diakses pada hari sabtu tanggal 21 November 2009.
[14] Mengenai waktu pelaksanaan yang dilakukan sebelum matahari terbit ini, penulis sampai sekarang masih belum medapatkan alasan yang memadai baik dari wawancara yang selama ini dilakukan ataupun data sekunder yang ada.
[15] Hasil wawancara dengan Bpk Hulaimi Santri Pondok Pesantren Dar al-Qur’an wa al-Hadis, Kembang Kerang-Lombok Timur pada Tanggal 21 November 2009.
[16] Hasil wawancara dengan Bpk Syamsul Wathoni pada tanggal 17 nopember 2009 yang merupakan salah satu warga Kembang Kerang
[17] Hasil wawancara dengan Bpk Syamsul Wathoni pada tanggal 17 nopember 2009 yang merupakan salah satu warga Kembang Kerang
[18] Al-Qur’an Surat al-Hasyr ayat 10
[19] Dalam menaggapi sampainya pahala kepada orang yang telah meninggal sampai saat ini masih bersifat debateble yang belum tuntas, masing-masing berdasarkan argumen baik al-Qur’an dan al-Hadis. Namun menurut penulis disini lebih sepakat kepada para ulama yang berpendapat do’a dan pahala orang yang masih hidup sampai kepada mayit. Selain dengan surat al-Hasyr ayat10 diatas, hadis-hadis Nabi juga banyak menyinggung tentangnya, semisal do’a bagi mayit dalam sholat jenazah, begitu juga hadis yang menyatakan adanya do’a bagi mayit setelah dikuburkan, sebagaimana yang diriwayatkan Abu Daud, Rasulullah SAW bersabda: “Dari Ustman bin Affan ra berkata: Adalah Nabi SAW apabila selesai menguburkan mayyit beliau beridiri lalu bersabda: Mohonkan ampun untuk saudaramu dan mintalah keteguhan hati untuknya, karena sekarang dia sedang ditanya” (HR Abu Dawud). Lihat Abu Daud, Sunan Abi Daud CD ROM Mausu’ah Maktabah al-Syamilah, Global Islamic Software.

Penulis artikel Pembacaan Surat Yasin dalam Tradisi Tawassulan adalah Salim al-Diny 0753006. Mudahan bermanfaat.