Pendidikan Akhlak Pasca kelahiran Anak

Advertisement
Pendidikan Akhlak Pasca kelahiran Anak - Salah satu kewajiban orang tua adalah memberikan nama yang baik; bahkan Rasul bersabda: Ali bin Hujrin bercerita kepada kami, Ali bin Mushirin bercerita kepada kami dari Ismail bin Muslim dari Hasan dari Samuroh berkata Rasulullah bersabda: seorang anak digadaikan dengan aqiqah yang disembelih untuknya pada hari ke tujuh dan diberi nama dan dicukur rambut kepalanya. (HR. At-Tirmidzi)

Adapun pemberian nama yang baik dan mulia oleh Sayyid Muhammad dikategorikan sebagai akhlak orang tua kepada anaknya. Nama yang mulia dan julukan yang baik merupakan kehormatan bagi pemiliknya. Adapun nama yang paling mulia adalah nama-nama yang sama dengan para Nabi. Ada banyak kebaikan dalam nama-nama itu serta kemuliaan dalam julukan Islam itu bahkan kehormatan dan kehidupan umat serta keridhaan Allah pun terkandung.

Sedangkan menurut Muhammad Suwaid pemberian nama merupakan suatu penghormatan terhadap anak. Menyitir perkataan Zubair, Muhammad Suwaid menjelaskan pula bahwa pemberian nama sebaiknya dengan meniru nama-nama sahabat dengan harapan agar anak- anaknya kelak mengikuti langkah para syuhada’ itu, sehingga meraih syahadah (kesyahidan) di jalan Allah. Bahkan pemberian nama baik kepada anak berarti juga sebagai upaya menyiarkan tauhid.

Hal ini oleh karena secara psikologis, anak terpengaruh dengan nama dan panggilan yang diberikan kepadanya. Ibnu Qayyim dalam Adnan Hasan menyatakan bahwa ada hubungan yang erat antara nama dengan yang dinamai. Bahwa pemberian nama yang baik akan mendorong yang punya nama untuk berbuat sesuai dengan makna yang terdapat dalam namanya. Hal ini dapat terjadi karena anak akan merasa malu apabila ia berbuat yang tidak sesuai dengan makna namanya.
Pendidikan Akhlak Pasca kelahiran Anak
Maka pemberian nama ini dimaksudkan sebagai akhlak orang tua terhadap anaknya. Disamping itu, pemberian nama merupakan upaya pengenalan awal label Islam sebagai bekal bagi anak; karena hal yang paling sering didengar oleh anak adalah namanya. Maka dengan nama yang baik akan melatih anak terhadap hal baik.

Pemberian Suasana dalam Keluarga Pada dasarnya pendidikan dalam keluarga terjadi melalui pengalaman yang dilalui anak. Baik melalui ucapan yang didengarnya, tindakan, perbuatan dan sikap yang dilihatnya maupun perlakuan yang dirasakannya.Adapun keluarga merupakan satu lembaga yang mampu menyuguhkan pola-pola tersebut dalam setiap interaksi dan aktivitas nya yang terjadi secara alamiah. Hal ini diungkapkan oleh Zakiah Daradjat bahwa pendidikan dalam keluarga terjadi secara alamiah tanpa disadari oleh orang tua, namun memiliki pengaruh dan akibat yang sangat besar.

Crow dan Crow dalam Arifin menyatakan bahwa pendidikan pertama anak diterima dalam lingkungan rumah. Keadaan ekonomi serta tingkat kehidupan di rumah, kestabilan emosi orang tua dan keluarga serta cita-cita dan ambisi yang tampak dari tingkah laku anggota-anggota keluarga yang lebih tua umurnya, kesemuanya itu mempengaruhi tingkah laku serta sikap anak secara langsung maupun tidak langsung. Karena pada dasarnya seluruh interaksi dalam keluarga bernilai edukatif. Bahwa pengaruh yang paling kuat dan paling kekal pada diri anak adalah pengaruh yang terjadi pada masa kecil mereka di lingkungan keluarga di mana mereka tumbuh dan dibesarkan.

Maka seluruh interaksi dalam keluarga akan memberikan pengaruh pada anak. Muhammad ‘Athiyah al-Abrasy menyatakan: Sesungguhnya anak dipengaruhi oleh contoh yang ia lihat, lingkungan tempat ia tinggal dan bahasa yang ia dengar.

Nilai pendidikan dalam keluarga diperoleh dari orang tua, saudara dan diri sendiri.

Ki Hadjar Dewantara menyatakan bahwa: Alam keluarga buat tiap-tiap orang adalah alam pendidikan yang permulaan. Pendidikan, di dalamnya pertama kali bersifat pendidikan dari orang tua yang berkedudukan sebagai guru (penuntun), pengajar, dan pemimpin pekerjaan (pemberi contoh). Kedua, di dalam keluarga itu anak-anak saling mendidik. Inilah nampak seterang-terangnya di dalam keluarga apalagi di dalam keluarga yang besar…ketiga, di dalam alam keluarga anak-anak berkesempatan mendidik diri sendiri. Karena di dalam keluarga itu mereka tidak berbeda kedudukannya seperti orang hidup di dalam masyarakat yang seringkali terpaksa mengalami macam-macam kejadian hingga dengan sendirinya menimbulkan pendidikan diri sendiri.

Pada dasarnya faktor identifikasi dan meniru pada anak amat lah besar. Mereka terbina, terdidik dan belajar dari pengalaman langsung bahkan lebih besar pengaruhnya daripada informasi atau pengajaran lewat instruksi (kata-kata). Karena itu maka suasana keluarga, ketaatan ibu-bapak dalam beribadah dan perilaku serta sikap dan cara hidup yang sesuai dengan ajaran Islam akan menjadikan anak yang lahir dan dibesarkan dalam keluarga baik, akan beriman dan berakhlak terpuji. Beberapa artikel juga menjelaskan bahwa pendidikan Tauhid dan akhlak wajib ditanamkan bagi anak sejak dini (baca: Tauhid dan Akhlak Wajib Diajarkan sejak Dini)

Anak yang lahir dalam keluarga yang selalu membiasakan berbuat baik biasanya menghasilkan pribadi anak yang baik pula. Dan sebaliknya anak yang lahir dalam keluarga yang membiasakan perbuatan yang tercela akan menghasilkan pribadi anak yang tercela pula. Keshalehan orang tua merupakan teladan yang baik bagi anak, mengandung pengaruh yang besar terhadap kejiwaan anak. Apabila orang tua mempunyai kedisiplinan untuk bertakwa kepada Allah dan mengikuti jalan Allah dan juga terus ada kerjasama antara kedua orang tua untuk menunaikan hal tersebut maka akan tumbuh pula pada diri anak ketaatan dan kepatuhan kepada Allah karena mencontoh kedua orang tuanya.

Pada kenyataannya, suasana kehidupan keluarga sehari-hari tidaklah monoton bahkan selalu berubah-ubah masing-masing dengan muatan iklim yang bervariasi. Ada kalanya suasana keluarga itu santai, bahkan riang gembira, penuh canda dan kelakar yang mengundang gelak tawa, bahkan tidak jarang terjadi saling melempar ejekan yang ajaibnya tidak mengundang marah atau terhina, akan tetapi malahan lebih menghangatkan suasana.

Semuanya itu mencerminkan suasana keakraban dan keterbukaan antara sesama anggota keluarga. Interaksi antara anggota keluarga itu bisa menimbulkan pertentangan, masalah dan tekanan-tekanan dan di saat yang sama interaksi mereka bisa menghasilkan kebahagiaan, kepuasan dan kesenangan bagi setiap anggota keluarga.

Suasana inilah yang mendukung pendidikan akhlak dalam keluarga. Komunikasi interaktif akan selalu bernilai edukatif. Keluarga yang memiliki budaya komunikasi dengan anak secara baik akan mampu menciptakan pra kondisi bagi tumbuhnya kecerdasan anak-anak. Oleh karena itu orang tua di rumah harus bersedia berinteraksi secara positif dengan cara merespon perilaku anak-anak secara kultural.112 Sehingga tampak bahwa interaksi verbal merupakan bentuk yang sangat penting dan bermanfaat terutama dalam mendorong anak bertanya.

Sebab kualitas hubungan anak dan orang tuanya akan mempengaruhi keyakinan beragamanya di kemudian hari. Apabila ia merasa disayang dan diperlakukan adil, maka ia akan meniru orang tuanya dan menyerap agama dan nilai-nilai yang dianut oleh orang tuanya. Dan jika yang terjadi sebaliknya, maka ia akan menjauhi apa yang diharapkan orang tuanya, mungkin ia tidak mau melaksanakan ajaran agama dalam hidupnya.

Oleh karena setiap interaksi dalam keluarga bersifat edukatif, maka orang tua harus menghiasi diri dengan akhlak dan perilaku yang baik. Hal ini perlu karena orang tua berperan sebagai pendidik. Sedangkan pendidik yang sukses menurut Muhammad Maulawy adalah pendidik yang paham terhadap ilmu-ilmu yang hendak diajarkannya.

Masih menurut Muhammad Maulawy, di samping memiliki pemahaman atas ilmu, pendidik juga harus selalu menghiasi diri dengan kesabaran, welas asih, ramah, penyayang, berpandangan ke depan serta bersikap tegas menurut kondisinya. Hal ini penting karena di antara akhlak- akhlak itu ada yang bersifat positif, efektif, dan langsung serta ada pula yang mempunyai pengaruh negatif dalam interaksi antara orang tua dan anak.

Hal ini dikuatkan oleh Zakiah Daradjat yang menyatakan bahwa apabila anak dididik dengan penuh kasih sayang, lemah lembut, adil dan bijaksana maka akan tumbuh dalam diri anak sikap sosial yang menyenangkan. Anak akan terlihat ramah, gembira, dan mudah akrab dengan orang lain. Sebaliknya ketika orang tua bersikap keras, kurang perhatian, dan sering bertengkar maka anak tersebut akan berkembang menjadi anak yang kurang pandai bergaul, mengisolasi diri dan bersikap antipati terhadap lingkungannya.

Maka nampak sekali bahwa kualitas orang tua sangat berpengaruh terhadap kualitas anaknya. Sebab dari merekalah pertama-tama anak belajar mengenal lingkungan masyarakatnya. Kualitas pribadi yang baik tentu akan memunculkan sebuah keharmonisan. Keharmonisan dan keserasian antara Ibu dan Bapak memiliki pengaruh yang besar terhadap tingkah laku dan intelektualitas anak.

Keharmonisan komunikasi ini terjadi dalam setiap interaksi diantara mereka dan akan bersifat edukatif. Artinya dalam setiap aktivitas nya akan selalu meninggalkan kesan bagi anak. Untuk itu, orang tua menjadi sosok teladan bagi anak; maka mereka harus menghiasi diri dengan akhlak yang mulia. Sebab, kualitas ini, mempengaruhi kualitas anak berikutnya. Demikianlah artikel Pendidikan Akhlak Pasca kelahiran Anak. Mudahan bermanfaat


0 Response to "Pendidikan Akhlak Pasca kelahiran Anak"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!