Pengelola Zakat (amil) dan Manajemen Pemberdayaan Zakat dalam Islam

Advertisement
Pengelola Zakat (amil) dan Manajemen Zakat dalam Islam- Pengurus zakat ialah: mereka yang diangkat oleh penguasa atau badan perkumpulan untuk mengurus zakat mereka itu. Badan amalah dibagi kepada empat bagian besar.

1. Jubah atau su'ah juga dinamakan Hasarah. Pekerjaannya mengumpulkan atau memungut zakat dan fitrah dari yang wajib mengeluarkannya. Dan masuk kedalamnya ru'ah (penggembala binatang zakat).

2. Khatabah dan masuk di dalamnya Hasabah. Yang mempunyai tugas mendaftarkan zakat yang diterima dan menghitung zakat atau fitrah.

3. Qasamah mempunyai tugas membagi dan menyampaikan zakat atau fitrah kepada orang yang berhak.

4. Khazanah dan disebut juga Hafadhah. Mempunyai tugas menjaga dan memelihara harta zakat atau fitrah yang telah dikumpulkan.

Baca Juga:
  1. Pengertian Zakat Fitrah
  2. Ketentuan Zakat Mal
  3. Nisab dan Haul Zakat

Adapun yang mengawasi dan mengendalikan pekerjaan mereka adalah penguasa, wakilnya atau badan yang mengangkat badan itu.

Dalam organisasi ini terdiri atas unsur pertimbangan, unsur pengawas dan unsur pelaksana. Unsur pertimbangan dan pertimbangan terdiri dari para ulama', kaum cendekiawan, tokoh masyarakat dan wakil pemerintah. Unsur pelaksana terdiri dari unit administrasi, unit pengumpul, unit pendistribusi dan unit lain sesuai kebutuhan.

Manajemen Pemberdayaan Zakat Dalam Islam

Zakat merupakan potensi sosio- ekonomi masyarakat Islam yang cukup menjanjikan. Sehingga, zakat harus diberdayakan secara optimal untuk menjaga misi utama zakat yaitu mengentas kemiskinan. Paling tidak ada tiga proses dalam aktivitas manajemen pemberdayaan zakat yang telah digariskan oleh Islam dan telah dipraktekkan oleh Rasulullah SAW dan penerusnya yakni para sahabat. Tiga proses tersebut meliputi:

Penghimpunan Harta Zakat

Proses pertama dalam manajemen zakat adalah aktifitas penghimpunan. Aktivitas penghimpunan ini dilakukan oleh para pengurus zakat yang khazanah Islam dikenal dengan sebutan amil, sebagaimana dalam firman Allah SWT: 

Artinya: “Sesungguhnya zakat itu untuk orang-orang fakir, orang- orang yang miskin, pengurus-pengurus zakat” (Q.S. At- Taubah:60)

Dari keterangan ayat diatas jelas bahwa harus ada lembaga atau badan yang menangani masalah zakat yang sering disebut amil. Sementara dalam ayat yang lainnya surat At-Taubah ayat 103 Allah. SWT berfirman: 

Artinya: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan berdo’alah untuk mereka. Sesungguhnya do’a kamu itu menjadi ketentraman jiwa bagi mereka” (Q.S. at-Taubah: 103)

Dengan demikian pemerintah berkewajiban memungut zakat baik dilakukan sendiri maupun diwakilkan oleh lembaga amil zakat. Sebagaimana Nabi telah menunjuk beberapa sahabat untuk menjadi petugas pemungut zakat. Hadits Nabi SAW:

Artinya: “Beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah SWT telah mewajibkan dari sebagian harta-harta mereka untuk disedekahkan, diambil dari orang-orang kaya mereka untuk diberikan kepada orang-orang fakir mereka.” (H.R. Bukhori)

Menurut Syekh Hafiz Ibnu Hajar sebagaimana dikutip Yusuf Qardawi, hadits ini bisa dijadikan alasan yang kuat bahwa penguasa adalah orang-orang yang bertugas mengumpulkan dan mengelola serta mendayagunakan zakat, baik ia sendiri secara langsung atau wakilnya (membentuk amil).

Dalam keterangan yang lain juga diketahui bahwa Nabi pernah mengutus sahabat untuk menjadi petugas zakat antara lain, Ibnu Lutabiah, Ibnu Jahem, Uqbah Ibnu Amir, Dlahhak, ‘Ubadah Ibnu Shamit, Abu Mas’ud dan Ibnu Qais. Adapun tugas dari lembaga amil zakat antara lain adalah:

a. Pendataan para wajib zakat (muzzaki)

b. Menentukan bentuk wajib zakat dan besarnya zakat yang harus dikeluarkan

c. Penagihan zakat para muzakki.

Keterangan-keterangan di atas juga dapat memberikan pemahaman secara rasional kepada kita bahwa pengurus zakat terutama dalam hal penghimpunan terlebih di tengah kompleksitas permasalahan yang muncul disekitar zakat adalah pekerjaan yang memerlukan manajemen meliputi planning, organizing, directing dan controlling.

Pengelolaan Zakat

Pengelolaan adalah proses atau aktivitas yang dilakukan oleh Amil terhadap harta zakat setelah dihimpun. Dengan demikian pengelolaan adalah proses yang dilakukan setelah proses penghimpunan dan sebelum didayagunakan pada mustahik zakat.

Dalam kaitan ini dalam khazanah Islam dikenal institusi Baitulmaal sebagai lembaga pengelola harta negara. Harta negera tersebut meliputi empat macam yaitu; harta zakat yang disimpan di Baitulmaal zakat, harta jiz’yah dan kharaj yang disimpan dalam Baitulmaal kharaj, harta ghanimah dan rikaz disimpan pada Baitulmaal ghanimah dan rikaz dan Baitulmaal harta terlantar yang digunakan untuk menyimpan harta tak bertuan.

Pendayagunaan Zakat

Bagian terpenting dalam proses manajemen zakat adalah tahap pendayagunaan, bahkan Al-Qur’an pun lebih memperhatikan tahapan pendayagunaan ini dari pada memperhatikan sumber-sumber dan cara pemungutan zakat (penghimpunan) serta pengelolaannya. Hal ini wajar karena proses inilah yang langsung bersentuhan dengan sasaran penerima zakat (mustahik).

Al-Qur’an telah memberikan ketentuan yang jelas tentang orang-orang yang berhak menerima zakat yaitu sebagaiman terdapat dalam surat at-Taubah ayat 60:

Artinya:“Sesungguhnya zakat itu untuk orang-orang fakir, orang- orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerderkakan) budak, orang-orang yang berhutang pada jalan Allah dan orang-orang yang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (Q.S. at-Taubah: 60).

Para mufasir sepakat bahwa hanya delapan golongan inilah yang berhak mendapatkan zakat. Dengan demikian jelas sudah bahwa zakat hanya berhak diterima dan dimanfaatkan oleh fakir, miskin, amil, muallaf, gharim, sabilillah, untuk memerdekakan budak dan ibnu sabil.

Perhatian Al-Qur’an terhadap proses ini tentunya tidak lepas dari motivasi zakat sebagai sarana pengentas kemiskinan, sehingga fakir dan miskin diletakkan sebagai golongan pertama dan utama diantara delapan golongan penerima zakat.

Hal penting berikutnya berkaitan dengan pendayagunaan zakat untuk mencapai tujuannya adalah berkaitan dengan berapakah dan dalam bentuk apakah zakat sebaiknya diberikan kepada Mustahik zakat.

Hal ini penting karena berkaitan dengan pemanfaatan zakat sehingga benar-benar berguna dan manfaatnya dirasakan mustahik zakat.

Zakat hendaknya diberikan dalam upaya mengikis penderitaan seorang mustahik. Sehingga zakat diberikan untuk mengangkatnya dari jurang kemiskinan dan dapat hidup layak serta tidak lagi berharap dari dana zakat.

Imam Nawawi sebagaimana dikutip Yusuf Qardawi berkata dalam al-Majmu “Masalah kedua dalam menentukan bagian zakat untuk orang fakir dan miskin, sahabat-sahabat kami orang Iraq dan sebagian besar orang-orang khurasan: Apa yang diterima oleh fakir miskin hingga ia berkecukupan. Pendapat imam Syafi’I pemberian zakat hendaknya dapat mencukupi untuk hidup selamanya.
 
Daftar Pustaka

Kamus al-Munawur
T. M Hasby Ash Shidiqiey, Pedoman Zakat, Jakarta: Bulan Bintang.
Syeih Kamil Muhammad ‘Uwaidah, Fiqih Wanita, Jakarta: Pustaka Al- Kautsar, 1998.
Departemen Agama RI, Al-qur’an dan Terjemahannya, Surabaya: Surya Cipta Aksara, 1993.
Imam Muhammad bin Ismail,. Subulus Salam, Semarang: Toha Putra, 1989.
Yusuf Qardawi, Yusuf Qordowi, Hukum Zakat, Jakarta: PT. Pustaka Litera Antar Nusa, 2002.
Syaih Muhammad Amin Kurdi, Tanwirul Qulub, Bairut. Libanon: Darul Kutub, tth.
Ibnu Rusydi, Bidayatul Mujtahid, Semarang: toha Putra, tth.
Faishol bin Abdul Azis, Nailul Authar, Surabaya: PT. Bina Insani, 1985.
Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah Juz I, Bairut, Libanon: Darul Fikr, tth.
Imam Muslim, Shahih Muslim, Semarang: Toha Putra, 1990.
Buaya Hamka, Tafsir Al Azhar Juz x, Jakarta: Pustaka Panji 1983.
Mashuri Sirojuddin Iqbal, al-Minhaajul Mubin fii adillatihin, Bandung: Sinar Baru Algensindo, 1994.
Abi Hasan bin Muhammad bin Habib, Al-Khawi al-Kabir, Juz III, Bairut Libanon: Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah. Tth.
Muhammad bin Ismail, Subulus Salam, Semarang: Toha Putra, 1989.
T. M Hasbi Ash Shiddiqy, Pedoman Zakat, Jakarta: Bulan Bintang.
Suyitno, Heri Junaidi, M. Adib Abdushomad, (eds)., Anatomi Fiqih Zakat, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, cet-I, 2005.
Imam Bukhori, Sahih Bukhari, Dar Al Kutub Libanon.
Yusuf Qordowi, Kiat Islam Mengentaskan Kemiskinan, Jakarta: Gema Insani Pers, 1995.

Demikianlah Pengelola Zakat (amil) dan Manajemen Zakat dalam Islam. Mudahan bermanfaat.
 


0 Response to "Pengelola Zakat (amil) dan Manajemen Pemberdayaan Zakat dalam Islam"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!