Pengertian dan Jenis-Jenis Mata Uang

Advertisement
Pengertian dan Jenis-Jenis Mata Uang- Definisi Uang oleh para tokoh ekonomi pada umumnya memberikan definisi yang sama mengenai uang. Mereka mendefinisikan uang sebagai sesuatu yang secara umum diterima sebagai alat pembayaran untuk transaksi jual-beli barang dan jasa, pembayaran utang, pajak dan lainnya.

Definisi yang lain diberikan oleh An-Nabhani yang mengatakan bahwa uang adalah standar kegunaan yang terdapat pada barang dan tenaga yaitu sebagai sesuatu yang dipergunakan untuk mengukur tiap barang dan tenaga.

Weber yang lebih dikenal sebagai seorang sosiolog pun, tidak mau ketinggalan untuk ikut mendefinisikan uang. Ia tidak hanya mendefinisikan uang dari perspektif ekonomi tetapi juga melihat uang dari perspektif sosial. Menurut Weber sebagaimana yang dikutip kembali oleh Nugroho mengatakan bahwa uang adalah sarana yang paling akurat untuk transaksi dan interaksi sosial ekonomi.


Dari definisi-definisi di atas dapat dipahami bahwa sesuatu itu menjadi uang karena pemilihan masyarakat, hukum dan sejarahnya. Hal ini tampak dari definisi-definisi yang diberikan oleh para tokoh di atas, di mana mereka berbeda pendapat dalam mendefinisikan uang karena mereka tidak berada pada situasi dan kondisi yang sama. Keadaan masyarakat baik itu dari segi hukum maupun historisnya sangat mempengaruhi pemikiran mereka. Namun setidaknya ada beberapa kriteria yang dapat dijadikan patokan dalam menentukan sesuatu agar bisa disebut sebagai uang. Criteria-kriteria tersebut antara lain:

pengertian mata uang

a. Acceptability dan Cognizability

Uang harus dapat diterima secara umum dan diketahui secara umum, baik itu sebagai alat tukar, penimbun kekayaan, standar cicilan utang, dan lain-lain.

b. Stability of Value

Uang harus memiliki nilai yang stabil. Kepercayaan seseorang akan nilai uang serta perubahan nilai uang yang terlalu besar, hanya dapat terwujud jika nilai uang terjaga kestabilannya.

c. Elasticity of Supply

Jumlah uang yang beredar harus mencukupi kebutuhan dunia usaha (perekonomian). Kekurangan supplay uang akan menghambat kegiatan perekonomian sehingga mengakibatkan kemacetan perdagangan. Oleh karena itu, otoritas moneter (Bank Sentral) perlu memantau perkembangan perekonomian sehingga elastisitas ketersediaan dana terjaga. 
d. Portability

Uang harus bisa dibawa setiap hari, sehingga transaksi akan berjalan lancar.

e. Durability

Uang harus dijaga nilai fisiknya. Dengan kata lain uang harus relatif tahan lama. Karena kerusakan pada uang akan menurunkan nilai dan merusakkan kegunaan moneter dari uang tersebut.

f. Divisibility

Uang harus memiliki nilai satuan nominal. Dan nilai nominal tersebut harus tetap dijaga untuk menjamin dapat ditukarkannya uang yang satu dengan yang lainnya. Uang memainkan peranan yang sangat penting dalam perekonomian. Beberapa peranan uang tersebut antara lain:

a. Alat tukar-menukar. Uang berfungsi sebagai alat pertukaran. Karena uang merupakan sesuatu yang diterima secara umum untuk pembayaran barang dan jasa.

b. Satuan hitung atau alat pengukur nilai. Uang digunakan sebagai satuan umum untuk mengukur nilai setiap barang dan jasa. Sehingga uang dapat berfungsi sebagai alat yang menciptakan harmoni perekonomian, di mana satuan nilai tersebut disepakati oleh semua orang.

c. Standar pembayaran masa depan. Uang juga berfungsi sebagai standar untuk pencicilan utang atau untuk menyatakan besarnya utang.

d. Alat penimbun kekayaan atau penyimpan nilai. Uang berperan sebagai penyimpan nilai bila dapat menyimpan daya beli selama waktu tertentu.

Jenis-Jenis Mata Uang

Berdasarkan bahan (material), uang dapat dibedakan menjadi:

1) Uang logam. Uang logam ini biasanya terbuat dari emas, perak, dan perunggu.

2) Uang kertas. Uang kertas ini dibagi lagi menjadi dua yaitu uang kartal (currencies) dan uang giral (deposit money).

Berdasarkan nilainya, uang dibedakan menjadi:

1) Uang bernilai penuh (full bodied money), yaitu uang yang nilai bahannya (intrinsik) sama dengan nilai nominalnya.

2) Uang yang tidak bernilai penuh (representative full bodied money) atau yang dikenal sebagai “uang bertanda” (token money), artinya uang yang nilai intrinsiknya lebih kecil daripada nilai nominalnya.

Berdasarkan lembaga atau badan pembuatnya, uang juga dibedakan menjadi:

1) Uang kartal yaitu uang yang dicetak atau dibuat dan diedarkan oleh bank sentral berupa uang kertas dan uang logam.

2) Uang giral, yaitu uang yang dibuat dan diedarkan oleh bank-bank umum (komersial) dalam bentuk demand deposit atau yang lebih dikenal dengan check.

Berdasarkan kawasan atau daerah berlakunya, uang dapat dibedakan menjadi:

1) Uang domestik, yaitu uang yang berlaku hanya di suatu negara tertentu.

2) Uang internasional, yaitu uang yang berlaku tidak hanya dalam suatu negara tetapi mungkin berlaku atau diakui berlaku di berbagai negara atau di seluruh dunia.

Berdasarkan pertimbangan bahwa uang merupakan kekayaan, maka uang dibedakan menjadi:

1) Inside money (uang dalam). Uang jenis ini oleh sektor swasta secara keseluruhan tidak dapat dikategorikan sebagai kekayaan.

2) Outside money (uang luar). Uang jenis inilah yang dapat dikategorikan sebagai kekayaan oleh sektor swasta.

Sedangkan Susilo hanya mengklasifikasikan uang dalam dua golongan uatama, yaitu uang dalam pengertian sempit (narrow money) yang terdiri dari uang kartal dan uang giral serta uang dengan pengertian luas (broad money) yang bisa diartikan dalam dua kelompok. Kelompok pertama terdiri dari narrow money ditambah dengan saving deposit dan time deposit. Kelompok pertama ini biasa diberi notasi M2. kelompok kedua terdiri dari M2 ditambah dengan seluruh simpanan dalam masyarakat pada lembaga keuangan non bank dan biasa diberikan notasi M3.

Daftar Rujukan

Iswardono, Uang dan Bank, Yogyakarta: BPFE, 1999.

William A. Mc Eachern, Economics: A Contemporary Introduction, terj. Sigit Triandaru: “Ekonomi Makro Pendekatan Kontemporer”, Jakarta: Salemba Empat, 2000.

Y. Sri Susilo, et.al., Bank Dan Lembaga Keuangan Lain, Jakarta: Salemba Empat, 2000.

Taqiyuddin An-Nabhani, An-Nidham Al-Iqtishadi Fil Islam, terj. M. Maghfur Wahid: “Membangun Sistem Ekonomi Alternatif”, Surabaya: Risalah Gusti, 2002.

Heru Nogroho, Uang, Rentenir dan Hutang Piutang di Jawa, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001, Cet. I.