Pengertian Kesehatan Mental dan Cara Mengatasinya dalam Agama Islam

Advertisement
 
Pengertian Kesehatan Mental - Dari berbagai kepustakaan yang diteliti, peneliti mendapat kesan belum adanya kesepakatan para ahli dalam merumuskan kesehatan mental (mental healt). Hal itu disebabkan antara lain adanya dikhotomi karena adanya berbagai sudut pandang dan sistem pendekatan yang berbeda. Dengan tidak adanya kesatuan pendapat dan pandangan tersebut, menimbulkan adanya perbedaan konsep kesehatan mental. Lebih jauh lagi mengakibatkan terjadinya perbedaan implementasi dalam mencapai dan mengusahakan mental yang sehat. Perbedaan itu wajar dan tidak perlu merisaukan, karena sisi lain adanya perbedaan itu justru memperkaya khasanah ilmu pengetahuan dan memperluas pandangan orang mengenai apa dan bagaimana kesehatan mental (H.Musnamar, 1992: XIII)
 
Istilah kesehatan mental mempunyai pengertian yang cukup banyak, karena mental itu sendiri bersifat abstrak sehingga dapat menimbulkan berbagai penafsiran dan definisi-definisi yang berbeda. Karena itu banyak pengertian dan definisi yang diberikan oleh para ahli sebagai berikut:
 
1. Zakiah Darajat, Kesehatan mental adalah terhindarnya seseorang dari gejala- gejala ganggunan dan penyakit mental, dapat menyesuaikan diri, dapat memanfaatkan segala potensi dan bakat yang ada semaksimal mungkin dan membawa kepada kebahagiaan bersama, serta tercapainya keharmonisan jiwa dalam hidup (Daradjat, 1989: 13-14). Menurut Hanna Djumhana Bastaman definisi ini memasukkan unsur agama yang sangat penting dan harus diupayakan penerapannya dalam kehidupan, sejalan dengan penerapan prinsip- prinsip kesehatan mental dan pengembangan hubungan baik dengan sesama manusia (Bastaman, 1997: 133)
 
2. Abdul Aziz El Qussy, Kesehatan mental adalah keserasian yang sempurna atau integrasi antara fungsi dan jiwa yang bermacam-macam, disertai kemampuan untuk menghadapi kegoncangan-kegoncangan mental yang ringan, yang bisa terjadi pada orang, di samping secara positif dapat merasakan kebahagian dan kemampuan (El Qudssy, 1974: 38)
 
3. Hasan Langgulung, Yang dimaksud kesehatan mental dalam buku teori-teori kesehatan mental adalah keselamatan dan kebahagiaan yang berlaku di dunia dan menurut pandangan Islam kebahagiaan di dunia hanyalah jalan ke arah kebahagiaan akherat, sedang kebahagiaan akherat tidak dapat dicapai tanpa usaha di dunia (Langgulung, 1986: 444).
 
4. Kartini Kartono, Jenny Andari. Kesehatan mental adalah bagaimana cara orang memecahkan segenap keruwetan batin manusia yang ditimbulkan oleh macam-macam kesulitan hidup, serta berusaha mendapatkan kebersihan jiwa, dalam pengertian tidak terganggu oleh macam-macam ketegangan, kekalutan dan konflik terbuka serta konflik batin (Kartono, 1989: 4).
 
Pengertian Kesehatan Mental dan Cara Mengatasinya
 
Dari beberapa keterangan di atas, dapat disimpulkan bahwa kesehatan mental adalah terwujudnya keharmonisan dan keserasian jiwa yang dapat memecahkan segala macam persoalan, untuk selanjutnya akan memunculkan kebahagiaan. Berangkat dari definisi kesehatan mental yang berbeda-beda sesuai dengan bidang dan pandangan masing-masing, maka upaya pencapaiannya juga beragam.
 
3 Prinsip Pokok untuk Mendapatkan Kesehatan Mental
 
Kartini Kartono berpendapat ada tiga prinsip pokok untuk mendapatkan kesehatan mental, yaitu:
 
1. Pemenuhan kebutuhan pokok - Setiap individu selalu memiliki dorongan-dorongan dan kebutuhan-kebutuhan pokok yang bersifat organis (fisik dan psikis) dan yang bersifat sosial. Kebutuhan-kebutuhan dan dorongan-dorongan itu menuntut pemuasan. Timbullah ketegangan-ketegangan dalam usaha pencapaiannya. Ketegangan cenderung menurun jika kebutuhan-kebutuhan terpenuhi, dan cenderung naik/makin banyak, jika mengalami frustasi atau hambatan-hambatan.
 
2. Kepuasan - Setiap orang menginginkan kepuasan, baik yang bersifat jasmaniah maupun yang bersifat psikis. Dia ingin merasa kenyang, aman terlindung, ingin puas dalam hubungan seksnya, ingin mendapat simpati dan diakui harkatnya. Pendeknya ingin puas disegala bidang, lalu timbullah Sense of Importancy dan Sense of Mastery, (kesadaran nilai dirinya dan kesadaran penguasaan) yang memberi rasa senang, puas dan bahagia.
 
3. Posisi dan status social - Setiap individu selalu berusaha mencari posisi sosial dan status sosial dalam lingkungannya. Tiap manusia membutuhkan cinta kasih dan simpati. Sebab cinta kasih dan simpati menumbuhkan rasa diri aman/assurance, keberanian dan harapan-harapan di masa mendatang. Orang lalu menjadi optimis dan bergairah. Karenanya individu-individu yang mengalami gangguan mental, biasanya merasa dirinya tidak aman. Mereka senantiasa dikejar-kejar dan selalu dalam kondisi ketakutan. Dia tidak mempunyai kepercayaan pada diri sendiri dan hari esok, jiwanya senantiasa bimbang dan tidak imbang (Kartono, 1989: 29-30)

Cara Mengatasi Kesehatan Mental dalam Islam
 
Zakiah Darajat berpendapat kehilangan ketentraman batin itu, disebabkan oleh ketidakmampuan menyesuaikan diri, kegagalan, tekanan perasaan, baik yang terjadi dirumah tangga, di kantor ataupun dalam masyarakat. Maka sebagai upayanya Zakiah Daradjat mengutip firman Allah SWT (Daradjat, 1982: 103)

Artinya “……ketahuilah bahwa dengan mengingat Allah itu hati menjadi tentram” (QS. Ar-Ra’du : 28).

Dalam ayat di atas dinyatakan bahwa dzikir itu bisa membentuk hati manusia untuk mencapai ketentraman. Dzikir berasal dari kata dzakara artinya mengingat, memperhatikan sambil mengambil pelajaran, mengenal atau mengerti. Biasanya perilaku dzikr diperlihatkan orang hanya dalam bentuk renungan sambil duduk berkomat-kamit. Al-Qur'an memberi petunjuk bahwa dzikir itu bukan hanya ekspresi daya ingat yang ditampilkan dengan komat-kamitnya lidah sambil duduk merenung, tetapi lebih dari itu, dzikir bersifat implementatif dalam berbagai variasi yang aktif dan kreatif (Daradjat, 1982: 104).

Al-Qur'an menjelaskan dzikir berarti membangkitkan daya ingatan: “dengan mengingat Allah (dzikrullah), hati orang-orang beriman menjadi tenang”. Ketahuilah dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang (al-Ra’ad:28). Dzikir berarti pula ingat akan hukum-hukum Allah: “sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberikan kaum kerabat, dan Allah melarang perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan, dan memberi pengajaran kepada kamu agar kamu dzikir (dapat mengambil pelajaran)” (an- Nahl : 90) (Daradjat, 1982: 104).

Dzikir juga mengambil pelajaran atau peringatan : “Allah memberikan hikmah kepada orang atau siapa saja yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang diberi hikmah, sungguh telah diberi kebajikan yang banyak dan tak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal (ulul albab)” (al- Baqarah : 269) (Daradjat, 1982: 104).

Hasan Langgulung mensyaratkan, bahwa untuk mencapai kebahagiaan ada dua syarat, yaitu : iman dan amal. Iman adalah kepercayaan kepada Allah, Rasul-rasul, Malaikat-malaikat, Kitab-kitab, hari kiamat, dan qodlo qodhar, ini semua berkaitan dengan kebahagiaan akherat. Adapun syarat kedua adalah amal, yakni perbuatan, tindakan, tingkah laku termasuk yang lahir dan yang batin, yang nampak dan tidak tampak, amal jasmaniah ataupun amal rohaniah.

Amal itu ada dua macam, amal ibadah (devational acts), yaitu amal yang khusus dikerjakan untuk membersihkan jiwa, untuk kebahagiaan jiwa itu sendiri. Adapun jenis amal yang kedua ialah yang berkaitan dengan manusia lain, seperti amal dalam perekonomian, kekeluargaan, warisan, hubungan kenegaraan, politik, pendidikan, sosial, kebudayaan dan lain-lain (Langgulung, 1986: 398-399).

Kedua hal tersebut (iman dan amal) akan mendapat balasan dari Allah SWT. Sebagaimana firman-Nya. Artinya : Dan sampaikan berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya ….(QS.Al-Baqoroh : 25)

Dalam sidang WHO pada Tahun 1959 di Geneva telah berhasil merumuskan kriteria jiwa yang sehat. Seseorang dikatakan mempunyai jiwa yang sehat apabila yang bersangkutan itu:

a. Dapat menyesuaikan diri secara konstruktif pada kenyataan, meskipun kenyataan itu buruk baginya.
b. Memperoleh kepuasan dari hasil jerih payah usahanya.
c. Merasa lebih puas memberi dari pada menerima.
d. Secara relatif bebas dari rasa tegang (stress), cemas dan depresi.
e. Berhubungan dengan orang lain secara tolong menolong dan saling memuaskan (Hawari, 2002: 13)
Dari penuturan beberapa ahli diatas, dapat ditarik benang merah bahwa salah satu cara untuk menghindari gangguan yang terjadi dalam pikiran (kesehatan mental) adalah lebih mendekatkan diri ke pada Allah SWT. Baik dengan melakukan segala perintahnya (zikir, sholat, baca al-Quran dll) maupun menghindari segala yang dilarang.
 
Demikianlah artikel Pengertian Kesehatan Mental dan Cara Mengatasinya dalam Agama Islam. Mudahan bermanfaat
 


0 Response to "Pengertian Kesehatan Mental dan Cara Mengatasinya dalam Agama Islam"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!