Sekilas Sejarah dan Peninggalan Kerajaan Kutai Kartanegara

Advertisement
Sejarah dan Peninggalan Kerajaan Kutai Kartanegara - Kutai adalah kerajaan tertua di Indonesia. Dengan identitasnya sebagai kerajaan Hindu-Buddha sebenarnya kerajaan Kutai sudah cukup akrab dengan ritual-ritual yang telah mentradisi, yang pada gilirannya Islam hadir dan meng-Islamisasi atau paling tidak sedikit demi sedikit memoles nilai-nilai Islam pada tradisi yang sudah ada tanpa harus memberangus tradisi tersebut.[2]

Tercatat ajaran Islam baru dikenal di wilayah ini berkat jasa dua ulama besar: Syekh Abdul Qadir Khatib Tunggal yang bergelar Datok Ri Bandang dan Datok Ri Tiro yang dikenal dengan gelar Tuanku Tunggang Parangan.[3] Keduanya datang ke Jaitan Layar, ibu kota Kutai Kartanegara saat itu, sekarang Kutai Lama, setelah mengislamkan raja dan rakyat Kerajaan Goa-Tallo. Tak beberapa lama, sekitar akhir 1605, raja dan rakyat Kutai menjadi pemeluk agama Islam.

Segera nampak jelas rupanya mengapa pertumbuhan Islam di Kalimantan Timur dan umumnya di luar Jawa lainnya relatif bisa bergerak cepat. Yang segera bisa dibedakan dengan perkembangan Islam di Jawa yang ditempuh oleh para wali melalui apa yang disebut sebagai dakwah kultural, baik melalui perdagangan maupun perkawinan. Yang terakhir ini sering kita dengar berlangsung secara damai dan penuh persahabatan, sementara syiar yang diwartakan lewat pendekatan kekuasaan justru melahirkan kekerasan dan perang.

Agama, dan politik yang bersifat duniawiah itu rupanya memang sulit dipisahkan, manakala keduanya erat bersinggungan. Ajaran agama yang mulanya mewartakan kedamaian, tiba-tiba tumbuh menjadi sosok yang menakutkan ketika bersentuhan dengan kekuasaan. Di tangan para elit politik, kadang yang profan dan duniawi begitu mudahnya dibungkus baju kesakralan dan kesucian. Anehnya di seberang sana, mereka “yang lain”, yang “berbeda” dari keyakinan penguasa lantas dipandang musuh, lawan yang musti disingkirkan.

Sekilas Peninggalan Kerajaan Kutai Kartanegara

Dalam perkembangannya, entah sejak kekuasaan siapa, kehadiran Mahkamah Islam menjadi salah satu simbol penting “manunggal”-nya kekuasaan sultan sebagai kepala pemerintahan, sekaligus pimpinan keagamaan. Melalui lembaga ini Islamisasi bukan hanya digalakkan, tetapi setiap aliran dan paham keagamaan yang berada dalam seluruh lingkup wilayah kerajaan diawasi dan dikontrol. Setiap tempat dan kota ditunjuk penghulu-penghulu sebagai kepanjangan tangan Mahkamah Islam Kerajaan. Seperti di Sanga-Sanga yang terkenal dengan Penghulu KH. Mohammad Nasheer.

Masyarakat Kutai kartanegara, sebenarnya adalah masyarakat yang sinkretis terhadap budaya-budaya baru selama itu masih baik dan membierikan manfaat. Fakta sejarah bahwa mereka secara masyarakat kutai pada (masa awal memeluk agama Islam ) memposisikan diri mereka sebagai masyarakat dan kerajaan yang sinkretis hal ini ditandai dengan penolakan terhadap aliran yang mengancam dan memberangus konstruksi bangunan tradisi yang telah ada. Berikut adalah fakta sejarah perihal ancaman terhadap tradisi yang secara tegas mereka tolak:

“Suatu peristiwa menarik terjadi pada 1928. Seorang ulama lulusan Universitas Al-Azhar Mesir, Argub Ishak diadili dan diusir dari Kutai karena mengajarkan paham yang bertentangan dengan paham resmi kerajaan kutai. Diceritakan Argub Ishak selama beberapa hari memberikan ceramah terbatas kepada sejumlah anak muda. Ia mendakwahkan paham baru yang dibawanya dan dalil-dalil yang memperkuat ajarannya. Disadari ajaran yang didakwahkan berbeda, Ishak lalu dilaporkan kepada H. Aji Pangeran Sosro Negoro, Ketua Mahkamah Islam waktu itu (1926-1935). Setelah melalui serangkaian interogasi yang melelahkan, Ishak diketahui mengajarkan paham Ahmadiyah. Detik itu pula, Argub Ishak dinyatakan bersalah dan diminta meninggalkan tanah Kutai.”

Meskipun dalam perjalanan sejarah masyarakat Kutai terbelah ke dalam dua kategori sosiologis: “Halo” dan “Dayak”. Yang pertama dilekatkan orang Kutai yang memeluk Islam, sementara yang terakhir ditempelkan mereka yang setia pada tradisi lamanya. Entah mengapa pula, Supinah, sang dukun Belian di sebuah dusun di Kutai Kartanegara selalu dibingungkan mengapa “Islam lama” membolehkan praktek Belian[4], sementara “Islam baru” mengharamkannya; mengapa gereja yang satu selalu mengusik profesinya sebagai “praktek orang hutan”, sedangkan gereja yang lain bersikap tak ambil peduli.[5]

Dari fenemona ini dapat dipahami bahwa, masyarakat Kutai dan persinggungan dengan nilai-nilai islam yang tertuang dalam tradisi-tradisinya. Dari analisis historis ini akan dapat dengan mudah terpahami bagaimana sikap masyarakat kutai dengan akulturasi budaya yang berlangsung.

Kerajaan islam kutai kartanegara

Daftar Rujukan Sekilas Sejarah Perkembangan 
dan Peninggalan Kerajaan Kutai

[1] Syamsul Hadi Thubany. “Mendialogkan Budaya Lokal dan Tradisi Santri”, Tashwirul Afkar, edisi no. 26, tahun 2008, hlm. 99.

[2] Sebenarnya tradisi dari Hindu dipahami dengan nilai-nilai Islam untuk tidak memberangus tradisi yang sudah ada, contoh tersebut adalah ‘membakar Dupa (kemenyan)” tradisi ini biasa dilakukan oleh masyarakat muslim kutai dalam acara-acara ritual keagamaan, seperti tahlil, Habsyian (baca: sholawat Nabi), mereka menganggap jika dulu membakar dupa (kemenyan) sebenarnya adalah tradisi yang dilakukan oleh orang hindu maka saat ini pemaknaan yang tepat menurutnya adalah bahwa “membakar dupa” untuk harum-haruman adalah justru sunnah karena berharum-harum adalah bagian dari sunnah Nabi.

[3] Diakui strategi dakwah dua ulama besar ini memang jitu. Yakni mendekati raja atau penguasa setempat terlebih dulu untuk menyakini kebenaran atau kebaikan agama baru. Benar. Ketika Raja Mahkota (1565-1605) memasuki agama Islam, serentak para pembesar kerajaan dan rakyat mengikuti jejak raja Kerajaan Kutai Kartanegara. Islam menjadi agama negara dan nafas sistem pemerintahan, dan sejak itu mulailah era baru pengembangan Islam. Islam diwartakan lewat pendekatan kekuasaan.

[4] Belian atau kenjongan adalah sebuah ritual pemujaan syaithan, dengan meminta pertolongan syaithan, misalnya ada orang yang sakit parah karena guna-guna dengan mengadakan ritual tersebut dengan maksud untuk mengobati si sakit, wawancara dengan saudara Ali Akbar salah seorang santri PPKP yang juga berdarah Dayak. Ribathul Khail, pada tanggal 21 oktober 2009.

[5]Kaltim Post. Minggu, 4 Maret 2007. Lihat juga di situs Desantara: http://desantara.org.

Demikianlah Sekilas Sejarah dan Peninggalan Kerajaan Kutai Kartanegara. Mudahaan dapat dimbil manfaatnya.