Syarat dan Nisab Zakat Barang Hasil Tambang

Advertisement
Syarat dan Nisab Zakat Barang Tambang - Dalam setiap kewajiban yang dibebankan kepada umatnya, ajaran Islam selalu menetapkan standar umum, begitupun dalam penetapan barang tambang menjadi sumber atau obyek zakat terdapat beberapa ketentuan yang harus dipenuhi. Apabila hal tersebut tidak memenuhi salah satu ketentuan, maka harta tersebut belum menjadi sumber atau objek yang wajib dizakati. Adapun persyaratan barang tambang menjadi sumber atau objek zakat adalah sebagai berikut :

Barang tambang yang halal - kriteria pertama ini barang yang haram, baik substansi bendanya maupun cara mendapatkannya jelas tidak dapat dikenakan kewajiban zakat. Sesuai firman Allah dalam QS. An-Nisa : 29

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka diantara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah adalah maha penyayang kepadamu”.

Harta tersebut didapatkan melalui proses pemilikan yang dibenarkan menurut syariat islam, seperti : usaha, warisan, pemberian negara atau orang lain dan cara-cara yang sah. Sedangkan apabila harta tersebut diperoleh dengan cara yang haram, maka zakat atas harta tersebut tidaklah wajib, sebab harta tersebut harus dibebaskan dari tugasnya dengan cara dikembalikan kepada yang berhak atau ahli warisnya.
 Dengan demikian zakat tidak diterima dari barang yang ghulul yaitu barang yang didapatkan dengan cara menipu, kecuali dari hasil usaha yang halal dan bersih. Sebelum melanjutkan bacaan ini, ada baiknya anda membaca kategori harta yang yang dikatakan hasil tambang atau temuan. (baca: pengertian zakat barang tambang)

Barang Tambang Milik penuh

Pada hakekatnya kepemilikan mutlak pada harta adalah Allah SWT, tetapi Allah SWT memberikan hak kepemilikan harta kepada manusia secara terbatas. Harta yang dimiliki manusia secara penuh maksudnya bahwa manusia ia berkuasa memiliki dan memanfaatkannya secara penuh.

Artinya barang tersebut berada dibawah control dan didalam kekuasaan pemiliknya secara penuh, sehingga memungkinkan orang tersebut dapat menggunakan dan mengambil seluruh manfaat dari barang tersebut. Alasan penetapan syarat ini adalah penetapan kepemilikan yang jelas, seperti dalam firman Allah QS. Al-Ma’arij 24-25) 

Dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa- apa (yang tidak mau meminta)

Alasan lain dikemukakan bahwa zakat itu pada hakikatnya adalah pemberian kepemilikan pada para mustahik dari para muzaki, adalah suatu hal yang tidak mungkin apabila seorang muzaki memberikan kepemilikan kepada mustahik sementara dia sendiri bukanlah pemilik yang sebenarnya.

Barang Tambang Produktif (berkembang)

Barang tersebut berkembang atau an-nama' yaitu mengembangkan atau berkembang. Berkembang menurut bahasa adalah bahwa sifat kekayaan itu memberikan keuntungan, bunga, pendapatan atau pemasukan. Artinya barang itu dikembangkan dengan sengaja atau memiliki potensi untuk tumbuh dan berkembang dalam rangka mendapatkan keuntungan bagi pemiliknya. Syarat ini mendorong setiap muslim untuk memproduktifkan barang yang dimilikinya, sehingga barang yang diproduktifkan akan selalu berkembang dari waktu ke waktu, harta produktif adalah harta yang berkembang baik secara konkrit atau tidak. Secara konkrit dengan melalui pengembangan usaha, perdagangan, saham dll. Melalui tangan sendiri atau orang lain. Sedangkan tidak konkrit yaitu harta tersebut berpotensi untuk berkembang.

Barang yang tidak berkembang atau tidak berpotensi untuk berkembang, maka tidak dikenakan kewajiban zakat (baca: perintah kewajiban zakat). Dan untuk barang tambang ini jelas bahwa ia mengalami pertumbuhan. Harta yang tidak berkembang atau tidak berpotensi untuk berkembang maka tidak dikenakan kewajiban zakat. Kuda untuk berperang atau hamba sahaya, di zaman Rasulullah saw termasuk harta yang tidak produktif. Karenanya tidak menjadi sumber atau obyek zakat. Dalam sebuah hadits riwayat Imam Bukhari dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda : Tidaklah wajib sedekah (zakat) bagi seorang muslim yang memiliki hamba sahaya dan kuda.

Cukup satu nisab

Artinya jumlah minimal yang menyebabkan barang tambang terkena kewajiban zakat. Nisab ini merupakan suatu kemaslahatan karena indikator seorang muzaki dapat dilihat dari nisab. Kekayaan yang belum mencapai nisab tidak terkena kewajiban zakat. Karena ketika seseorang belum memiliki kekayaan yang mencapai nisab, berarti masih termasuk kategori miskin dan berhak mendapat zakat. Sedangkan ketika kekayaan mencapai nisab berarti sudah dapat mencukupi untuk kehidupan sehari-hari dalam waktu satu tahun. Sehingga ketika dikenakan zakat tidak akan membahayakan dirinya dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Syarat nisab ini sebagaimana hadits riwayat Imam Bukhari dari Abi Said bahwa Rasulullah saw bersabda : Tidak wajib zakat pada tanaman kurma yang kurang dari lima awaq.
Persyaratan nisab merupakan suatu keniscayaan sekaligus merupakan suatu kemaslahatan, sebab zakat itu diambil dari orang yang kaya (mampu) dan diberikan kepada orang-orang yang tidak mampu. Indikator kemampuan itu harus jelas dan nisablah merupakan indikatornya. Jika kurang dari nisab, ajaran Islam membuka pintu untuk mengeluarkan sebagian dari penghasilan, tanpa adanya nisab yaitu dengan infaq atau sedekah.

Tidak ditentukan haul

Ulama tabi'in dan fuqoha sepakat tentang ketentuan haul pada beberapa harta yang wajib dizakati seperti emas, perak, perdagangan, hewan dan binatang ternak, tanaman dan lain- lain. Dan haul tidak berlaku pada zakat pertanian, rikaz, dan barang tambang.

Zakat barang tambang tidak terkait dengan ketentuan haul, ia harus dikeluarkan pada saat memetiknya atau memanennya jika mencapai nisab, seperti zakat pertanian, Seperti disebutkan dalam surat Al An'am ayat 141: Dan tunaikanlah haknya dihari memetik hasilmu (dengan dikeluarkan zakatnya) 
Berbeda dengan sumber-sumber zakat perdagangan, peternakan, emas dan perak yang ditentukan waktu satu tahun untuk kepemilikan harta tersebut. Hasil tambang zakatnya wajib dibayar ketika barang itu telah digali. Hal ini mengingat bahwa haul disyaratkan untuk menjamin perkembangan harta, sedang dalam hal ini perkembangan tersebut telah terjadi sekaligus, seperti dalam zakat tanaman, jadi zakatnya harus segera dibayar ketika barang tambang itu digali dan dibersihkan karena haul ditetapkan untuk memberikan kesempatan barang itu berkembang dan hal itu telah terpenuhi seperti hasil tanaman dan buah-buahan yang keduanya juga tidak disyaratkan haul.

Ketentuan Nisab Zakat Barang Hasil Tambang (Rikaz)

Zakat berpengaruh besar terhadap berbagai sifat dan cara pemilikan harta, seperti terhadap kekayaan yang ditimbun, hasil pertanian, pajak atas modal dsb. Harta benda tersebut dikenakan zakat jika telah mencapai nisab yaitu jumlah minimal harta yang wajib dizakati berdasarkan ketetapan syar'a, berdasar cara dan kriteria penghitungan yang berbeda, tergantung pada jenis harta benda yang dizakatinya.

Dalam menentukan besarnya nisab ulama banyak berbeda pendapat diantaranya Imam Hanafi yang menyamakan barang tambang dengan rikaz menyatakan bahwa barang tambang tidak terikat dengan nisab dan haul, sehingga berapapun didapat wajib dikeluarkan zakatnya. Sedangkan Imam Malik berpendapat bahwa nisab tetap berlaku sebagaimana emas dan perak, apalagi hasil barang tambang itu berkembang seperti minyak bumi, tambang emas, batu bara dan sebagainya. Sehingga persyaratan kewajiban zakat pada barang tambang ini sama dengan persyaratan pada obyek atau sumber zakat lainnya, hanya saja tidak ada haul, melainkan wajib dikeluarkan zakatnya pada saat dihasilkannya.

Menurut Yusuf al-Qardhawi adalah barang tambang itu mempunyai ketentuan nisab tetapi tidak perlu bermasa satu tahun. Hal tersebut karena maksud nisab diberlakukan supaya dapat diketahui jumlah kekayaan yang dapat tidak dikenakan zakat dan masa satu tahun untuk diketahui apakah kekayaan tersebut mengalami pertumbuhan atau tidak, dan mengenai barang tambang jelas bahwa ia mengalami pertumbuhan, hal ini dapat disamakan dengan hasil tanaman dan buahan yang tidak diperhitungkan masa setahun (baca: syarat zakat terpenuhi). Sebagaimana hadits dari Abi Said bahwa Rasulullah saw bersabda : Tidak wajib zakat pada tanaman kurma yang kurang dari lima awaq.

Hikmah adanya ketentuan nisab yaitu bahwa zakat merupakan kewajiban yang dikenakan atas orang kaya kepada orang miskin dan untuk berpartisipasi bagi kesejahteraan Islam dan kaum muslimin. Oleh karena itu zakat tentulah harus dipetik dari kekayaan yang mampu memikul kewajiban itu.

Zakat hasil tambang itu wajib dikeluarkan segera, tanpa menunggu berlalunya satu haul, jadi dalam hal ini perhitungan nisab tetap disyaratkan, karena dalil-dalil tentang persyaratan nisab itu bersifat umum, tidak membedakan haul karena persyaratan haul pada harta yang lainnya hanyalah agar harta itu dapat dikembangkan untuk memperoleh keuntungan, ini tidak berlaku pada hasil tambang sebab penghasilan itu sendiri sudah merupakan suatu keuntungan.

Untuk barang tambang nisabnya sama dengan emas, perak dan harta perniagaan yaitu 20 mitsqal (20 dinar) atau 200 dirham yang padanannya adalah 90 gram emas (1 dinar =4,5 gr) atau 600 gr perak (1 dirham = 3 gr).

Meskipun para ulama telah sepakat tentang wajibnya zakat barang tambang dan rikaz, tetapi mereka berbeda pendapat tentang jenis-jenis barang tambang yang wajib dikeluarkan zakatnya dan kadar zakat untuk setiap barang tambang dan rikaz. Seperti Abu Hanifah berpendapat bahwa harta yang dikeluarkan dari dalam tanah ada 2 jenis yaitu harta benda kekayaan yang disimpan oleh manusia didalam tanah yang disebut kanz dan yang kedua adalah ma'dan yaitu harta kekayaan yang secara alamiyah sudah ada didalam tanah dan kata-kata rikaz untuk menunjuk kedua jenis harta tersebut, sehingga dalam menentukan kadar zakat hasil tambang pun sama dengan rikaz, sesuai dengan sabda Nabi.

Dalam rikaz itu ada 1/5 bagian yang harus dikeluarkan. (Bukhari)

Imam Syafi’i dan Malik berpendapat kadar zakat yang dikeluarkan untuk barang tambang sebesar 2,5% berdasar kepada zakat uang, sesuai dengan ijma tentang itu.

Dalam menentukan kadar zakat barang tambang al-Qardhawi berpendapat bahwa perbedaan antara 20% dan 2,5% bukanlah perbedaan yang kecil, dalam hal ini al-Qardhawi menyamakannya dengan zakat pertanian dengan ketetapan 10% atau 5% sesuai dengan perbandingan antara barang yang dihasilkan dengan usaha dan biaya yang dihabiskan.

Penganalogian zakat barang tambang dengan hasil pertanian ini dilihat dari pertumbuhannya pada tanaman dan hasil yang konkrit untuk barang tambang. Yang mana barang tambang merupakan lahan sumber penghasilan yang mendatangkan masukan yang besar bagi sementara orang. selain itu spirit untuk membantu sesame tidak terabaikan (baca: hikmah dan tujuan pensyariatan zakat)
Daftar Rujukan

M.A. Mannan, Teori dan Praktek Ekonomi Islam, Yogyakarta : PT. Dana Bakti Wakaf,  1995, hlm. 248 
Lahmudin Nasution, Fiqh I, Jakarta : Logos, 1995, hlm. 166

Wahbah Az-Zuhaili, Al-Fiqhul Islamy wa’adillatuhu, Beirut : Daar el-fikr, 1989, hlm. 758 
Yusuf al-Al-Qardhawi, Al Faqr Wakaifa Aalajaha al-Islam, terj. Safril Halim, Kiat Islam  Mengentaskan Kemiskinan, Jakarta : Gema Insani Press, 1995, hlm. 105 
Adib Bisri, Munawwir AF, Al-Bisri, Surabaya : Pustaka Progresif, 1999, hlm. 141

http://www.pkpu.or.id/z001.php?id=25

Terimah kasih telah meluangkan waktu untuk membaca artikel Syarat dan Nisab Zakat Barang Tambang. bantu kami dengan menshare beberapa tulisan di website ini.