Syar'i kah Tradisi Ziarah Kubur??? Bagaiman Hukumnya

Advertisement
Tradisi Bacaan Doa Ziarah Kubur - Hadits bagi kita umat Muslim menjadi sesuatu yang penting karena di dalamnya terungkap tentang semua yang telah dilakukan oleh pribadi Rasulullah. Serta tak kalah pentingnya yaitu mengenai ziarah kubur. Dalam tradisi Islam, ziarah kubur merupakan bagian dari ritual keagamaan. Seluruh umat Islam di seluruh penjuru dunia telah melakukannya. Pada zaman permulaan Islam berkembang Nabi Muhammad SAW melarang kaum muslimin menziarahi kuburan. Larangan ini lantaran kekhawatiran terjadi kesyirikan dan pemujaan terhadap keburan tersebut. Apalagi bila yang mati itu adalah termasuk orang-orang yang saleh. Di samping itu keimanan para sahabat masih lemah dan membutuhkan pembinaan dari Rasulullah SAW.

Peringatan tersebut tidak hanya ditujukan kepada para sahabat saat itu, tetapi juga kepada umat sekarang ini sebagai generasi berikutnya. Ternyata kalau kita perhatikan apa yang dikhawatirkan Rasulullah SAW memang terjadi saat ini. Di zaman ini banyak kaum muslimin yang salah dalam menerapkan ziarah kubur. Mereka melakukan ziarah kubur hanya sekedar mengikuti adat dan tradisi daerah. Sehingga syariat Islam bercampur tradisi yang sesat.

Dasar Landasan Pelaksanaan Tradisi Ziarah Kubur

Saat penulis menanyakan kepada narasumber mengenai landasan pelaksanaan yang terangkai dalam tradisi ini, narasumber menjelaskan bahwa semua rangkaian tradisi ini tidak terlepas dari spirit dalam menyayangi keluarga yang telah meninggal dunia. Untuk acara selamatan sendiri narasumber hanya mengungkapkan bahwa itu tidak lain hanyalah bentuk syukur atas diperkenankannya untuk kembali berjumpa dengan bulan Ramadlan, tanpa menyebutkan satu dalilpun yang tadinya penulis kira menjadi sebuah argumen dasar atas dilaksanakannya tradisi selamatan ini.

Sedangkan untuk tradisi ziarahnya sendiri, menjadi sebuah tindak lanjut dari pemahaman akan hadits yang tengah diajarkan oleh para ulama di desa itu pada dahulu kala yaitu :


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ يَعْنِي الْمَوْتَ

Hadits tersebut berisi anjuran untuk banyak mengingat kematian sebagai pemutus dari segala kenikmatan yang ada di dalam dunia ini. Maka, momen ziarah ini sebagai bentuk dari pemahaman masyarakat desa tersebut dalam rangka mengingat kematian (yang pada awalnya pemahaman ini diajarkan oleh ustadz setempat). Dan adapun landasan yang dipakai dalam ritual membawa air yang nantinya disiramkan pada makam ini sebetulnya berawal dari kisah Nabi yang menancapkan pelepah kurma pada satu makam yang pada waktu itu terdengar dari dalamnya suara seperti orang yang sedang disiksa yang kemudian kisah ini terabadikan dalam suatu hadits. Lebih lengkapnya, hadits tersebut berbunyi:
حَدَّثَنِي أَبُو سَعِيدٍ الْأَشَجُّ وَأَبُو كُرَيْبٍ مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ وَإِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ قَالَ إِسْحَقُ أَخْبَرَنَا وَقَالَ الْآخَرَانِ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ قَالَ سَمِعْتُ مُجَاهِدًا يُحَدِّثُ عَنْ طَاوُسٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ مَرَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى قَبْرَيْنِ فَقَالَ أَمَا إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ وَأَمَّا الْآخَرُ فَكَانَ لَا يَسْتَتِرُ مِنْ بَوْلِهِ قَالَ فَدَعَا بِعَسِيبٍ رَطْبٍ فَشَقَّهُ بِاثْنَيْنِ ثُمَّ غَرَسَ عَلَى هَذَا وَاحِدًا وَعَلَى هَذَا وَاحِدًا ثُمَّ قَالَ لَعَلَّهُ أَنْ يُخَفَّفُ عَنْهُمَا مَا لَمْ يَيْبَسَا [1]

Melalui cerita yang terukir dalam hadits inilah kemudian masyarakat turut mempraktekkan bagaimana cara Nabi untuk berusaha meringankan siksaan yang tengah diderita oleh sang mayit di alam kubur. Walau media yang digunakan adalah air, namun masyarakat memahami bahwa memang dalam air terdapat unsur untuk mendinginkan api yang notabene sebagai bahan bakar yang digunakan untuk menyiksa di alam kubur sana. Kedua hadits yang dijadikan dasar atas dua fenomena di atas memang sudah diketahui oleh seluruh masyarakat yang juga mengamalkan tradisi ini. Jadi mereka melaksanakan tradisi ini tidak hanya ikut-ikutan ataupun taqlid buta saja, melainkan juga mengetahui dasar yang dijadikan dalam suatu bentuk tradisi ini.

Sedangkan dalam pembacaan surat Yasin yang terdapat baik dalam acara selamatan maupun ziarah kubur itu sendiri, narasumber mengatakan bahwa surat Yasin sendiri memang sudah umum diketahui oleh khalayak sebagai surat yang mengandung banyak fadilah. Walau pada kali ini beliau tampak tidak menyebutkan dalil yang mendasari hal ini.

Sedangkan untuk punggahan atau menu daging yang ada di rangkaian acara selametan juga tidak memiliki suatu dasar apapun. Hal ini menurut ibu Nisa hanya sebagai bentuk rasa syukur yang kemudian diwujudkan dalam pemberian hidangan yang tidak biasa yaitu dalam bentuk menu daging.

Asal Usul Bacaan Ziarah Kubur
Tidak jelas, kapan tradisi ini mulai muncul di desa Padang Tualang. Menurut hasil wawancara salah satu penduduk desa ini tradisi ziarah kubur ini memang sudah mengakar kuat dari nenek moyang mereka dahulu kala. [2] Ibu Nisa, selaku warga penduduk desa ini mengungkapkan bahwa sejak beliau kecil sudah biasa mengikuti acara ini setiap tahunnya. Namun, beliau mengatakan bahwa sebenarnya tradisi ini juga tidak terlepas dari ajaran para ulama desa setempat yang mengajarkan untuk berkirim-kirim doa kepada sanak saudara yang telah meninggal dunia. Hingga sekarang, tradisi ini masih tetap eksis tidak hanya di desa Padang Tualang saja, tetapi juga mayoritas desa-desa yang terdapat di Medan seperti desa Paya Perupuk, Payaremis, dan juga desa Babussalam.

Syar'i kah Tradisi Ziarah Kubur??? Bagaiman Hukumnya

Lebih mendalam lagi untuk desa Babussalam sendiri, yang mana desa ini terkenal dengan sebutan desa yang didalamnya banyak orang-orang yang sufi dan alim, tradisi ini sudah mengental dikalangan desa tersebut, apalagi di sana terdapat makam seorang yang dianggap wali Allah, yaitu makam syeikh Abdul Wahab Rokan. Di desa tersebut ketika masuk bulan Ramadhan dan i’dul Fitri, selalu dipadati orang-orang dari berbagai daerah, guna mengenang beliau dan memberikan do’a bagi beliau.

Teknis Pelaksanaan Doa Ziara Kubur

Tradisi ziarah kubur ini dilakukan tepat sebelum bulan Sya’ban berakhir. Tepatnya pada akhir bulan Sya’ban sehari sebelum bulan Ramadlan tiba. Namun, sebelum acara ini dilakukan, beberapa hari sebelumnya masyarakat menggelar acara selamatan pada tiap-tiap rumah. Pada acara ini, diadakan pembacaan surat Yasin yang sengaja dihadiahkan kepada sanak saudara yang telah meninggal dunia. Selanjutnya, acara ini akan diteruskan dengan pembacaan doa yang nantinya ditutup dengan acara makan-makan. Dalam acara selamatan ini, turut diundang pula para tokoh masyarakat dan juga para ulama di desa tersebut.

Yang unik, ada satu istilah yang dirasa hanya ditemukan di Medan yaitu punggahan. Punggahan yang dalam bahasa Medannya berarti “daging”, menjadi hidangan wajib yang harus disajikan pada saat acara ini. Namun, daging disini bersifat umum, terserah pada individu masing-masing akan menyajikan daging apa dalam menu makannya nanti sesuai dengan kemampuan masing-masing keluarga.

Kembali pada ziarah kubur, tradisi ini dilakukan tepat sehari sebelum Ramadlan tiba. Maka, tidak heran jika dari pagi hingga sore suasana pemakaman akan berubah menjadi ramai karena dikunjungi oleh banyak orang. Dalam pelaksanaannya, para peziarah ini juga ikut membawa air di dalam kendil juga bunga yang nantinya akan ditaburkan di atas makam. Juga dalam ziarah tersebut dilakukan pembacaan surat Yasin, atau minimal bagi masyarakat didesa tersebut membaca surat al-Ikhlas sebanyak 99 kali. [3]Ternyata, tradisi ini tidak hanya berhenti sampai saat ini saja, tetapi juga dilanjutkan pada akhir bulan Ramadlan menjelang Idul Fitri. Tentang rangkaian kegiatan di dalamnya sama persis dengan ziarah yang dilakukan menjelang bulan Ramadlan.

Tujuan Pelaksanaan Ziarah Ke Kuburan

Melalui wawancara, didapatkan info mengenai tujuan pelaksanaan dari serangkaian acara dalam tradisi ini. Yang pertama, acara selamatan digelar sebelum Ramadlan dimaksudkan sebagai tanda syukur telah diperkenankan untuk menjumpai bulan Ramadlan. Selain itu acara selamatan ini sebagai tanda atas senangnya penduduk desa tersebut dalam menyambut datangnya bulan Ramadlan yang penuh barakah dan ampunan. Tujuan terakhir dari acara selamatan ini yakni sebagai sedekah kepada sesama penduduk desa tersebut.

Kedua, tradisi ziarah pada awal bulan Ramadlan ini dilaksanakan karena mereka menganggap bahwa melalui ziarah yang di dalamnya terdapat pembacaan surat Yasin dan juga doa-doa, maka semua ini dimaksudkan untuk meringankan siksa si mayit yang ada dalam kubur. Dan yang ketiga, ziarah yang dilakukan pada akhir bulan Ramadlan yang juga tidak terlepas dari maksud sebagai bentuk doa agar siksa si mayit diringankan. Dari ketiga rangkaian tradisi ini, masyarakat meyakini bahwa melalui ketiganya mereka dapat memperoleh pahala sekaligus menjadi media pengingat kematian atas tiap-tiap individu masyarakat tersebut.

Dalam kaitannya antara mengingat kematian dan juga bulan Ramadlan, narasumber mengungkapkan bahwa sebenarnya tradisi ini dilaksanakan pada bulan Ramadlan dimaksudkan untuk selalu berbenah diri dengan sebaik-baiknya di bulan Ramadhan. Jangan sia-siakan kesempatan yang diberikan oleh Allah SWT. Bisa jadi, Ramadhan kali ini adalah Ramadhan yang terakhir buat kita dan tidak akan bertemu Ramadlan tahun depan.

Tradisi ini selalu diikuti dan dihadiri oleh seluruh lapisan masyarakat baik tua maupun muda. Tak jarang, anak kecilpun ikut andil dalam ziarah ini. Hal ini juga sekaligus bertujuan untuk mengenalkan kepada mereka akan saudara-saudara mereka yang telah meninggal sebelum dijumpai oleh mereka. Setelah melihat sekilas mengenai pendeskripsian yang diperoleh dari narasumber, jelas terlihat bahwa tradisi ini memang mengakar kuat dalam masyarakat Medan umumnya, desa Padang Tualang khususnya. Hal ini dapat dirasakan ketika kita melihat bahwa dari awal hingga saat ini tradisi ini selalu dipertahankan. Selain itu, para keluarga juga berusaha untuk memperkenalkan tradisi ini kepada anak kecil sekalipun tujuannya memang untuk mengenalkan pada sanak saudara yang sudah meninggal. Dan dapat dilihat bahwa secara tidak langsung masyarakat juga mengisyratkan pada generasi seterusnya untuk selalu menjaga tradisi ini.

Hukum ziarah kubur, Bacaan beserta Doanya

Berziarah kubur adalah sesuatu yang disyari’atkan di dalam agama berdasarkan (dengan dalil) hadits-hadits Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam dan ijma’. Dalil dari hadis Rasulullah SAW: dalil-dalil tentang diperbolehkannya ziarah kubur diantaranya: Hadis Buraidah bin al-Hushoib ra dari Rasulullh SAW beliau bersabda:
إِنِّيْ كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُوْرِ فَزُوْرُوْهَا

Artinya:”Sesungguhnya aku pernah melarang kalian untuk menziarahi kubur, maka (sekarang) ziarahilah kuburan”.

Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Muslim no 65 dan 82) dan oleh Imam Abu Daud no 72 dan 131 dengan tambahan lafadz:

فَإِنَّهَا تُذَكِّرُكُمْ الْآخِرَةَ

Sebab ziarah kubur itu akan mengingatkan pada hari akhirat”.

Syariat yang telah disebutkan di atas tentang ziarah kubur adalah disunnahkan bagi laki-laki berdasarkan dalil-dalil dari hadits-hadits maupun hikayat ijma’ tersebut di atas. Adapun bagi wanita maka hukumnya adalah mubah (boleh), makruh bahkan sampai kepada keharaman bagi wanita. Perbedaan hukum antara laki-laki dan wanita dalam masalah ziarah kubur ini disebabkan oleh adanya hadits yang menunjukkan larangan ziarah kubur bagi wanita :

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ لَعَنَ زَائِرَاتِ الْقُبُوْرِ

Artinya:“Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam melaknat wanita-wanita peziarah kubur”.

Hadits ini diriwayatkan Ibnu Hibban di dalam Shohihnya sebagaimana dalam Al- Ihsan no.3178. Dan mempunyai syawahidnya (pendukung-pendukungnya) diriwayatkan oleh beberapa orang Shahabat diantaranya :

Hadits Hassan bin Tsabit dikeluarkan oleh Ahmad no 242, Ibnu Abi Syaibah no 141, Ibnu Majah no 478, Al-Hakim no 374, Al-Baihaqy dan Al-Bushiry di dalam kitabnya Az-Zawa`id dan dia berkata isnadnya shahih dan rijalnya tsiqah.

Hadits Ibnu ‘Abbas : Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah dan Ashhabus Sunan Al-Arba’ah (Abu Daud, An-Nasa`i, At-Tirmidzy dan Ibnu Majah), Ibnu Hibban, Al-Hakim dan Al-Baihaqy.

Hadits dengan lafazh seperti di atas زَائِرَاتِ menunjukkan pengharaman ziarah kubur bagi wanita secara umum tanpa ada pengecualian. Akan tetapi ada lafazh lain dari hadits ini, yaitu :


لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ وَ فِيْ لَفْظٍ لَعَنَ اللهُ زُوَّارَاتِ الْقُبُوْرِ.

Artinya:“Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam dalam lafazh yang lain Allah subhanahu wa ta’ala) melaknat wanita-wanita yang banyak berziarah kubur”.

Dari hadis diatas, Lafazh زُوَّارَاتِ (wanita yang banyak berziarah) menjadi dalil bagi sebagian ‘ulama untuk menunjukkan bahwa berziarah kubur bagi wanita tidaklah terlarang secara mutlak (haram) akan tetapi terlarang bagi wanita untuk sering melakukan ziarah kubur.
Al-Imam Al-Qurthuby berkata : “Laknat yang disebutkan didalam hadits adalah bagi wanita-wanita yang memperbanyak ziarah karena bentuk lafazhnya menunjukkan “mubalaghah” (berlebih-lebihan). Dan sebabnya mungkin karena hal itu akan membawa wanita kepada penyelewengan hak suami dan berhias diri dan akan munculnya teriakan, erangan, raungan dan semisalnya. Dan dikatakan jika semua hal tersebut aman (dari terjadinya) maka tidak ada yang bisa mencegah untuk memberikan izin kepada para wanita, sebab mengingat mati diperlukan oleh laki-laki maupun wanita”.

Diantara hikmah dilarangnya para wanita memperbanyak (sering)berziarah kubur adalah :

Karena ziarah dapat membawa kepada penyelewengan hak-hak suami akan keluarnya para wanita dengan berhias lalu dilihat orang lain dan tak jarang ziarah tersebut disertai dengan raungan ketika menangis.

Karena para wanita memiliki kelemahan/kelembekan dan tidak memiliki kesabaran maka ditakutkan ziarah mereka akan mengantarkan kepada perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatan yang akan mengeluarkan mereka dari keadaan sabar yang wajib.

Sebab wanita sedikit kesabarannya, maka tidaklah dia aman dari gejolak kesedihannya ketika melihat kuburan orang-orang yang dicintainya, dan ini akan membawa dia pada perbuatan-perbuatan yang tidak halal baginya, hal ini sangat berbeda dengan laki-laki.

Analisis Bacaan doa Tradisi Ziarah Kubur

Setelah memaparkan sedikit tentang tradisi ini, terlihat bahwa memang pengaruh ulama daerah pada masyarakat ini memang dirasa begitu berpengaruh. Terlihat dari awal ketika dipaparkan bahwa sebenarnya spirit dalam melakukan tradisi ini bermula dari hadits-hadits yang disampaikan oleh para ulama ketika menyampaikan suatu pengajian. Oleh karena itu, wajar saja jika memang masyarakat pada umumnya mengetahui landasan yang dijadikan dasar atas sebuah tradisi yang mereka lakukan. Jika memang spirit ditunaikannya tradisi ini pada bulan Ramadlan juga bertujuan untuk mengingat kematian, sesuai dengan hadits yang dijadikan landasan di atas, ternyata hal ini juga turut terukir dalam al-Qur’an yaitu:

Allah Ta’ala berfirman: “Katakanlah, sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu”. (Q.S al-Jumu’ah:6)

Melalui tradisi ini kita menanamkan dalam jiwa masing-masing bahwa ziarah kubur ini adalah untuk mengambil ibroh (pelajaran) akan mengingat mati (li tazkiratil maut). Kita semua hanya tinggal menunggu giliran, mungkin hari ini, esok atau lusa. Karena kita tidak akan pernah tahu kapan ruh akan berpisah dengan jasad kita. Untuk itu dengan berziarah kubur mengingatkan kita untuk selalu bersiap diri dengan amal sholeh, mendekatkan diri kepada Allah SWT. Hal-hal inilah yang menjadi tujuan hakiki dari ziarah kubur. Kemudian bagaimana kaitannya dengan menyambut bulan Ramadhan? Bulan Ramadhan adalah bulan istimewa. Bulan kesempatan bagi setiap muslim untuk meningkatkan imannya sehingga bisa menjadi orang yang bertaqwa.

Kemudian, mengenai berdoa kepada Allah SWT untuk keampunan dosa, kelapangan kubur atas si mayit. Sebagai anak, berdoa untuk kelapangan kubur orang tuanya. Ketulusan doa itu membuktikan eksistensi kita sebagai anak sholeh dan berbakti. Doa anak yang sholeh adalah salah satu yang terus mengalir pahalanya. Rasulullah SAW bersabda:


حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُعَاذٍ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ مُحَارِبٍ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ تَزَوَّجْتُ امْرَأَةً فَقَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَلْ تَزَوَّجْتَ قُلْتُ نَعَمْ قَالَ أَبِكْرًا أَمْ ثَيِّبًا قُلْتُ ثَيِّبًا قَالَ فَأَيْنَ أَنْتَ مِنْ الْعَذَارَى وَلِعَابِهَا قَالَ شُعْبَةُ فَذَكَرْتُهُ لِعَمْرِو بْنِ دِينَارٍ فَقَالَ قَدْ سَمِعْتَهُ مِنْ جَابِرٍ وَإِنَّمَا قَالَ فَهَلَّا جَارِيَةً تُلَاعِبُهَا وَتُلَاعِبُك

“Ada 3 hal yang tidak terputus manakala kita sudah meninggal: shodaqah jariyah, doa anak yang sholeh, dan ilmu yang bermanfaat.” [4]

Namun, dalam tradisi ini juga tidak bisa dipungkiri terdapat berbagai penyelewengan dan pelanggaran yang dijadikan oleh beberapa sekelumit orang sebagai sarana untuk menuju kesyirikan, yaitu bukannya mendoa’kan si mayit akan tetapi malah meminta do’a kepadanya. Bahkan ada juga yang menjadikan sebuah pekuburan dijadikan sesembahan untuk mendapatkan banyak reziki dan sebagainya. Hal ini pada dasarnya kembali lagi kepada niat awal peziarah kubur ketika hendak melakukan ziarah kubur tersebut.

Jika pada sebelumnya turut disinggung satu permasalahan ziarah kubur yang dilakukan oleh wanita, kemudian melihat bahwa pada tataran apikasinya di daerah Medan sendiri yang peziarah kuburnya juga turut diikuti oleh wanita, hal ini menunjukkan bahwa sesuatu yang dikhawatirkan jika wanita ikut berziarah kubur tidak terjadi di Medan ini. Namun yang perlu diingat bahwa penduduk yang mempunyai spirit dalam menghidupkan hadits Nabi yang pada nyatanya terbentuk menjadi suatu kebudayaan turun menurun masyarakat Medan.

Penutup dan Kesimpulan

Ziarah kubur jangan hanya menjadi sebuah tradisi sebelum Ramadhan. Tapi, benar-benar mengingatkan kita bersama akan kematian yang lama atau sebentar lagi menghampiri kita. Sehingga kita berbenah diri dengan sebaik-baiknya di bulan Ramadhan. Jangan sia-siakan kesempatan yang diberikan oleh Allah SWT Bisa jadi Ramadhan kali ini adalah Ramadhan yang terakhir buat kita. Kita juga perlu berhati-hati karena ziarah juga dapat menimbulkan kesyirikan, Maka selayaknya setiap muslim berpegang dengan ajaran agamanya, dengan kitabullah dan sunnah nabinya serta menjauhi segala bentuk bid’ah dan khurafat yang tidak pernah diajarkan dalam Islam. sehingga dengan kita kita berziarah kekubur tidak menjadikan kita Musyrik.

Memang sudah kewajiban kita untuk mendo’akan orang-orang yang telah mendahului kita. Oleh karena itu, ziarah di bulan suci Ramadhan ataupun di Hari Raya, sekalipun sebenarnya tidak ada perintah dan tidak ada larangan. Dan karena tidak adanya larangan, orang yang suka ziarah mengambil inisiatif alangkah indahnya jika dapat kirim doa pada hari-hari yang penuh rahmat dan ampunan (hari-hari bulan Ramadhan) dan hari yang bahagia (Idul Fithri). artikel Syar'i kah Tradisi Ziarah Kubur??? Bagaiman Hukumnya ditulis oleh Diyan Yusri, A. Fadliansyah, Sa’adatul Abadiyah, dan Dewi Chodijah.