Tradisi Yasinan: Hukum Bacaan Surat Yasin Analisis Sosio-Antropologi

Advertisement
Hukum Yasinan Dalam Islam -Tradisi sebagaimana dikatakan oleh Dr. Hiroko Horikoshi (1987), yang menyatakan bahwa:

Tradisi mengatur susunan dan contoh dari program dan fungsi lembaga sebagai lembaga sebagai pedoman sasaran ide-ide dan aspirasi-aspirasi mereka dimasa depan. Tradisi juga memberikan garis pedoman bagi berfungsinya lembaga ulama serta mempertahankan gairah agama dan partisipasi sosial keluarga dalam masyarakat.

Tindak lanjut dari “gairah agama” inilah nampaknya yang telah menginspirasi masyarakat yang ditunjukkan dengan prilaku keagamaan seperti halnya tradisi Yasinan. Istilah yasinan seringkali dinisbahkan kepada tradisi membaca yasin yang dilakukan oleh masyarakat. Yasinan (membaca surah Yasin) dapat dibaca saat seorang mengharap rezeki Tuhan, meminta sembuh dar penyakit, menghadapi ujian, mencari jodoh atau hajat lain yang mendesak.

Pada umumnya, Yasinan adalah aktivitas masyarakat yang sudah mentradisi (terlebih) pada malam jum’at ia telah menjadi kebiasaan masyarakat yang biasanya dilakukan dimesjid atau dirumah-rumah masyarakat muslim. 

Hal menarik yang tidak banyak dijumpai ditempat lain adalah tradisi pembacaan surah yasin/ Yasinan Kutai Kartanegara yang memiliki ciri khas membaca kalimat “Salamun Qaulan min Rabb al-Rahim” yang merupakan ayat ke-58 dari surah Yasin. 
 
Tradisi Yasinan: Analisis Sosio-Antropologi

Tradisi membaca yasin dan tahlil, meskipun masih terdapat banyak pertentangan tentang penyelenggaraannya terutama tahlil, tapi kami dalam hal ini ingin melepaskan dari masalah-masalah pertentangan tersebut dan lebih melihat melalui pendekatan sosio antropologi. Kami melihat tradisi yasinan lebih kepada tradisi sosial-keagamaan tanpa melupakan substansi substansi penting lainya. 

Dalam teori sosial dikenal “latent social problem” yaitu hal-hal yang berlawanan dengan nilai-nilai masyarakat. Sebagaimana diketahui masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang ramah dan saling menjaga hubungan sosial antara satu dengan yang lainnya. 

Signifikansi dari tradisi yasinan lebih khusus tradisi yasinan yang dilakukan secara komunal memiliki banyak arti penting. De facto, saat ini masyarakat dihadapkan pada tantangan modernisasi yang membentuk manusia individualis. 

Adalah bahwa tradisi ini menjadi media perekat, memperkuat solidaritas beragama seperti yang diimplikasikan oleh Durkheim bahwa agama sebagai representasi kolektif. Tradisi yasinan yang telah mengakar kuat di pesantren juga di masyarakat merupakan wujud dari agama, tentang hal ini Muhammad Iqbal mengatakan:

Religion is not departmental affair; it is neither mere thought, nor mere feeling, nore mere action; it is the expression of the whole man.

Tradisi Yasinan bagi mereka yang melakukannya, ia bermakna doa. Bagi mereka: membaca Yasin pada malam jum’at dimulai dengan mengirim surah al-Fatihah, kepada Rasul, Datu, nenek moyang serta kerabat lainnya dimaknai dengan doa kepada mereka sehingga istilah doa arwah sangat familiar dikalangan para santri, baik secara personal maupun komunal jika mereka ingin mendoakan kerabat-kerabat mereka yang telah mendahului mereka. hal dilandasi pada hadis nabi saw.:

عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- :« إِنَّ لِكُلِّ شَىْءٍ قَلْباً وَإِنَّ قَلْبَ الْقُرْآنِ يس ، مَنْ قَرَأَهَا فَكَأَنَّمَا قَرَأَ الْقُرْآنَ عَشْرَ مَرَّاتٍ

“Sesungguhnya segala sesuatu memiliki hati, dan sesungguhnya hati al-Qur’an adalah surah Yasin, barang siapa membacanya (surah yasin) sama halnya membaca al-Qur’an sebanyak sepuluh kali.” (H.R. al-Darimi).

Daftar Rujukan

Syamsul Hadi Thubany. “Mendialogkan Budaya Lokal dan Tradisi Santri”, Tashwirul Afkar, edisi no. 26, tahun 2008, hlm. 98.

Munawir Abdul Fattah, Tradisi orang-orang NU. Yogyakarta: LkiS. 2006.
Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Raja Grafindo Persada, hlm. 364.

Mujiburrahman, mengindonesiakan Islam: Representasi dan Ideologi . Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008. hlm. 103
Q. S. Yasin : 58.

Al-Darimi, Sunan al-darimi, Juz 10, no. 3479. Bab. Fi Fadhl Yasin. DVD ROM al-Maktabah al-Syamilah ( Solo: Pustaka Ridwana, 2004) .hlm.360

Ilmu hitam yang merugikan orang lain, lihat: Budiono, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Surabaya: Karya Agung, 2005, hlm. 521.

Demikianlah tulisan singkat seputar analisis sosio antropologi tradisi bacaan surat yasin. Mudahan bermanfaat.