Analisis Penggunaan Ayat-Ayat Al-Qur’ān sebagai Ayat Cinta Pemikat Hati

Advertisement

PEMAHAMAN AYAT-AYAT “PEMIKAT HATI” DIKALANGAN MASYARAKAT BUGIS-MAKASSAR SULAWESI SELATAN 
(Studi Analitis terhadap Penggunaan Ayat-Ayat Al-Qur’ān sebagai “Cenning Rara”)
Oleh: Syihab. M*

A. Pendahuluan; Latar Belakang

Menjadi suatu hal yang lumrah dikalangan ummat islam bahwa al-Qur’ān merupakan sebuah petunjuk bagi seluruh manusia, bukan hanya bagi ummat muslim saja. Hal ini dapat dibuktikan dengan pernyataan al-Qur’ān sendiri bahwasanya al-Qur’ān diturunkan bagi seluruh ummat manusia (Q.S. Al-Baqarah: 185). Selain sebagai petunjuk, ada banyak kata mutiara dalam Al-Qur'an yang dapat dimanfaatakana dalam memotivasi diri. Tidak kalah lagi ketika al-Ghazali dan beberapa ulama’ lainnya mengatakan bahwa seluruh ilmu –apapun itu- tercakup dalam al-Qur’ān. Oleh sebab itu, sejak diturunkannya hingga saat ini dan akan datang, al-Qur’ān akan tetap menjadi rujukan dan tempat curahan hati (curhat) bagi siapa saja khususnya ummat islam sendiri.

Penggunaan ayat-ayat al-Qur’ān baik berupa zimat atau bacaan tertentu, merupakan salah satu fenomena yang terjadi dikalangan ummat islam dalam memahami pesan-pesan yang dikandung oleh teks al-Qur’ān. Hal ini menandakan bahwa al-Qur’ān ketika berinteraksi dengan masyarakat maka ia bebas dimaknai oleh siapa saja, dengan kata lain al-Qur’ān dipahami diluar fungsinya sebagai teks. Namun, sakralitas al-Qur’ān dalam hal ini tidak lepas begitu saja. Sakralitas itu tetap ada dan tetap dipercaya.

Ayat-Ayat Al-Qur’ān sebagai Ayat Cinta Pemikat Hati

Al-Qur’ān dengan dialektikanya dengan masyarakat kemudian dihubungkan dengan berbagai persoalan yang ada. Ketika sebuah ayat memliki kesesuaian dengan sebuah persoalan, serta merta ia digunakan untuk kepentingan hal tersebut. Tidak dapat dipungkiri, fenomena menjadikan al-Qur’ān sebagai pengganti “pelet” merupakan sebuah fakta dimana al-Qur’ān dipahami dan digunakan untuk suatu tujuan tertentu. Terlepas dari adanya dalil yang membolehkan atau tidak namun, al-Qur’ān di mata ummat islam merupakan sarana untuk mencapai tujuan bagaimana seseorang menjadi tertarik kepada lawan jenisnya disebabkan do’a yang digunakannya diambil dari ayat-ayat al-Qur’ān.

B. Sekilas mengenai Bugis-Makassar
Masyarakat Provinsi Sulawesi Selatan secara garis besar terbagi menjadi empat suku yakni Suku Bugis, Makassar, Mandar dan Toraja. Dari keempat suku tersebut, Bugis merupakan suku terbesar yang mana bermukim di daerah Bone, Sopeng, Wajo[1], Barru, Parepare, Sidenreng Rappang (Sidrap), Pinrang dan Palopo. Disamping itu suku Bugis sendiri dikenal sebagai perantau dan pelaut[2]. Hal ini dapat dimaklumi sebab sebagian besar masyarakatnya tinggal di daerah pesisir pantai sehingga kegiatan mereka sehari-hari adalah melaut.

Namun, melaut bukanlah satu-satunya mata pencaharian mereka. Beberapa daerah juga dikenal sebagai penghasil beras seperti Kabupaten Sidrap sebagai penghasil beras terbesar di Sulawesi Selatan, Kabupaten Pinrang dan Kota Parepare.[3]

Meskipun berbeda suku dan juga bahasa, kebudayaan masyarakat Sulawesi Selatan pada dasarnya sama, terlebih ketika agama islam masuk ke daerah Sulawesi Selatan. Dengan masuknya islam di Sulawesi Selatan (perkiraan abad ke XVI), bukan berarti tradisi dan budaya masyarakat setempat dihapus dari kehidupan mereka namun bagaimana agama dan tradisi masyarakat dapat berjalan bergandengan. Hal ini dapat dilihat dari isi-isi Pangngadareng (aturan-aturan adat) yang memasukkan hukum syari’at (bugis: sara’) di dalam hukum adat, Pappaseng[4] (pesan-pesan orang tua terdahulu) yang memasukkan pesan dan nilai-nilai islam di dalamnya dan juga Siri’ yaitu harga diri atau martabat tinggi yang ada dalam diri seorang manusia Bugis-Makassar.[5]

C. Penggunaan Ayat-Ayat Al-Qur’ān sebagai Do’a
Kata do’a dalam masyarakat Sulawesi Selatan disebut dengan doang. Selain kata doang, kata do’a dalam bahasa bugis-makassar biasa juga disebut dengan baca-baca[6]. Istilah baca-baca seringkali merujuk kepada do’a yang digunakan untuk suatu tujuan tertentu yang biasanya disertai dengan syarat dan gerakan tertentu pula dan menggunakan bahasa bugis-makassar, bahasa Arab (ayat-ayat al-Qur’ān) atau gabungan dari keduanya.

Do’a-do’a yang ada di Sulawesi Selatan biasanya dibuat oleh para ulama’/kyai setempat atau orang yang dianggap pandai baik dalam bidang agama maupun adat. Sebagian besar do’a diambil dari kitab-kitab kuning seperti kitab tafsir maupun kitab hadits dan kitab-kitab yang berkaitan dengan amalan atau berisi keutamaan. Namun, beberapa do’a dibuat sendiri oleh mereka yang sebagian besar berbahasa bugis-makassar yang diakhiri dengan ayat-ayat al-Qur’ān.[7]

Seiring dengan berjalannya waktu, do’a tersebut kemudian diberikan kepada anak-cucu mereka sebagai bekal atau orang yang datang kepadanya untuk suatu keperluan tertentu. Disamping mewariskannya kepada anak-cucu mereka, mereka juga menulisnya di dalam buku catatan mereka. Hingga saat ini do’a-do’a tersebut masih bisa kita dapatkan dari para generasi masyarakat bugis-makassar dan sebagian besar terdapat dalam lontarak.[8]

1. Landasan dan Isyarat Al-Qur’ān untuk Berdo’a

Tak ada sesuatu yang dilakukan oleh ummat muslim melainkan ada dasar yang diketahuinya dari nash-nash agama (baca: al-Qur’ān dan hadīts). Hal ini kembali kepada keyakinan dasar mereka bahwa al-Qur’ān dan hadīts adalah pedoman hidup ummat islam. seperti kata sabar al-Qur'an yang perlu diyakini sebagai peadoman hidupa.

Pada umumnya dasar yang diyakini ummat islam dalam berdo’a telah jelas disebutkan di dalam al-Qur’ān. Hal ini diakui oleh Hajji Mamma’ seorang pegawai KUA di Kecamatan Bacukiki sekaligus orang yang diakui mampu menyembuhkan berbagai penyakit melalui pengobatan tradisional dengan menggunakan ayat-ayat al-Qur’ān, bahwasanya dalil yang dijadikan dasar sebagaimana yang telah diajarkan oleh panrita* adalah:

- ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ(Q.S. Ghāfir: 60)
- وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ(Q.S. Al-Baqarah:186)
- الدعاء مخ العبادة

2. Ciri-ciri Do’a dikalangan masyarakat Sulawesi Selatan
Ditinjau dari segi ciri-ciri redaksi do’a yang sering dibuat dan digunakan oleh masyarakat Sulawesi Selatan, penulis membaginya menjadi dua bagian:

a. Gabungan bahasa bugis-makassar dan bahasa Arab (al-Qur’ān)

Redaksi do’a yang menggunakan bahasa bugis-makassar –baik dicampur dengan ayat al-Qur’ān atau tidak- biasanya dibuat sendiri oleh para kyai atau ulama.

Adapun ayat al-Qur’ān yang digunakan di akhir do’a-‘do’a pada umumnya adalah لا إله إلا الله dan disertai dengan kalimat كن فيكون, atau juga ditambah kata barakka’ yang artinya “berkah” (barokah). Penggunaan ayat al-Qur’ān diakhir do’a dimaksudkan agar doa tersebut lebih afdhal atau mudah terkabulkan.[9]

Disamping itu kalimat لا إله إلا الله dan كن فيكون memiliki banyak keutamaan. Bagi masyarakat awam yang menerima do’a yang di dalamnya ada 2 kalimat di atas atau hanya salah satunya, mungkin tidak mengetahui apa keutamaan kalimat tersebut. Mereka hanya memahami bahwa kalimat tersebut adalah pengantar agar dikabulkannya do’a. Namun, adapula yang memahaminya bahwa kalimat tersebut adalah bentuk penyerahan atas segala usaha dan do’a kita tetapi ketentuannya ada di tangan Allah swt.

Kalimat لا إله إلا الله bisa dikatakan sebagai kalimat diplomasi dan kalimat كن فيكون sebagai kepastian terkabulnya do’a yang kita panjatkan, karena salah satu syarat kita berdo’a adalah percaya bahwa Allah akan mengabulkannya karena Dia-lah Maha Berkuasa, Maha Mendengar (السمبع) dan Maha Melihat (البصير). Dengan padanan dua kalimat ini semakin memperkuat dan mempercepat terkabulnya do’a yakni pada saat kita ucapkan.[10]

Disamping menggunakan dua kalimat di atas, terkadang mereka menyertakan shawalat kepada Nabi Muhammad saw yang diucapkan setelah dua kalimat di atas.

b. Seluruh Ayat Cinta Pemikat Hati redaksinya berbahasa Arab

Adapun do’a seperti ini, diambil langsung dari kitab-kitab kuning (klasik). Namun, disamping diambil dari kitab kuning, sebagian juga dibuat sendiri dengan cara merangkaikan beberapa kalimat al-Qur’ān sehingga membentuk sebuah do’a.

Adapun ciri-ciri lain dari do’a dikalangan masyarakat Sulawesi Selatan yakni ketika membacanya harus dengan menahan nafas. Tetapi, ini biasanya dilakukan jika do’a yang diucapkan adalah do’a keberanian (pakeang orane). Sebagian do’a pemikat juga memberi syarat tersebut namun, hal ini tergantung guru atau si pembuat do’a.

Disamping hal tersebut ada sebuah kepercayaan bahwa jika do’a (baca-baca) –terutama do’a pemikat dan keberanian- yang kita miliki diketahui oleh orang lain maka do’a tersebut tidak ampuh lagi digunakan. Hal ini dipahami bahwa do’a adalah kekuatan. Apabila do’a tersebut diketahui oleh orang lain atau kita berikan maka sama halnya kita memberikan kekuatan kita kepada orang tersebut. Maka dari itu mereka sangat menjaga do’a yang mereka miliki -terutama do’a yang ditulis di atas kertas- sebelum waktunya untuk memberikan kepada orang lain.

3. Jenis-Jenis Ayat Cinta Pemikat Hati

Adapun jenis-jenis do’a yang kebanyakan diamalkan oleh masyarakat Sulawesi Selatan antara lain:

a. Do’a keberanian (pakeang orane)
b. Do’a tolak balak (pattola’ bala’)
c. Do’a pemikat (cenning rara)

D. Cenning Rara

Kata cenning rara biasa diartikan oleh masyarakat Sulawesi Selatan sebagai “wajah manis”. Kata cenning memiliki arti manis dimana dalam pengertian masyarakat bugis yaitu wajah yang terlihat manis dan menarik. Do’a yang digunakan –tentunya yang dimaknai adanya hubungan dengan masalah cinta dan kasih sayang- digunakan untuk menarik perhatian lawan jenis ketika melihat wajah orang yang menggunakan do’a tersebut.

1. Redaksi serta Aplikasi Do’a

a) [11]وَأَلْقَيْتُ عَلَيْكَ مَحَبَّةً مِنِّي وَلِتُصْنَعَ عَلَى عَيْنِي

Artinya: “Dan Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari-Ku dan supaya kamu diasuh di bawah pengawasan-Ku”.(Q.S Thāhā:39)

Ayat ini dibaca ketika seseorang –baik laki-laki maupun perempuan- ingin meluluhkan hati seseorang agar si dia jatuh cinta kepada kita setelah membaca do’a ini.

b) Ali…karawai Fatimah, Fatimah nappi wedding
Dua gi Muhammad, na dua gi napoji “……..”
Allahumma Shalli ‘alā Sayyidina Muhammad wa ‘alā ali sayyidina Muhammad[12]

Artinya:

Ali…peganglah Fatimah, Hanya Fatimah-lah yang pantas,
Apakah dua Muhammad, atau/sehingga dua yang disukai oleh “nama cewek yang disukai”.

Do’a ini dibaca satu kali dan kemudian ditiupkan kejari manis (jari keempat). Setelah itu si laki-laki mencolek bagian samping kanan (selurus dengan “puting payudara”) si perempuan yang disukai dengan menggunakan jari manis tadi.

c) Muhammad makkarawa, Ipatimang ikarawa
Iyapa namanyameng nyawana.”…..”, Ko iya’ naita mata.
Barakka’ Kunfayakun[13]

Artinya:
Muhammad memegang
Fatimah dipegang
Jiwanya “…..” akan tenang
Jika saya yang dilihatnya.
Atas berkahnya….maka jadilah

Do’a tersebut diucapkan sebelum turun dari tangga rumah[14] yang diniatkan di depan pintu rumah atau di depan tangga rumah dengan niat “uniyakengngi upakennai .......” (Artinya: Saya niatkan untuk “nama cewek yang dituju”)

d) [15]وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهِ وَهَمَّ بِهَا لَوْلَا أَنْ رَأَى بُرْهَانَ رَبِّهِ

Artinya: “Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusufpun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya”. (Q.S. Yūsuf:24)

Tidak ada penjelasan mengenai ayat ini. Hanya saja, cukup diamalkan tiap hari.

E. Respon Masyarakat Penggunaan Ayat-Ayat Al-Qur’ān sebagai Ayat Cinta Pemikat Hati

Relitas yang terjadi dikalangan masyarakat Bugis-Makassar sehubungan dengan do’a cenning rara, sebagian besar menerima dan mempercayai hal tersebut. Hal ini terbukti dengan masih banyak masyarakat bugis-makassar baik laki-laki maupun perempuan yang menggunakan do’a-do’a cenning rara dan juga para orang tua yang mewariskan do’a tersebut kepada anak-anak mereka.

Penerimaan serta kepercayaan mereka tentang penggunaan ayat-ayat al-Qur’ān sebagai cenning rara disandarkan dengan informasi dari para orang tua terdahulu yang menggunakan do’a tersebut dan terkabulnya do’a yang digunakan oleh mereka. Disamping itu tidak ada lagi keraguan untuk menolak do’a demikian sebab, redaksi dari do’a tersebut menggunakan ayat-ayat al-Qur’ān.

Adapun yang menolak do’a cenning rara yang menggunakan ayat-ayat al-Qur’ān berpendapat bahwa jodoh sudah diatur oleh Tuhan oleh karena itu hanya perlu diusahakan dan dicocokkan saja. Sebagian ada pula yang berpendapat bahwa orang-orang yang menggunakan do’a tersebut telah menyalahgunakan al-Qur’ān untuk kepentingan untuk mencari pasangan.

Namun, masyarakat yang sangat menolak hal ini adalah mereka yang berpendapat bahwa hal ini hanya akan membuat rumah tangga seseorang menjadi hancur sebab orang yang memiliki do’a tersebut kebanyakan telah berumah tangga sehingga tujuan penggunaan do’a tersebut tidak lain adalah untuk mencari pasangan hidup yang lain. Seharusnya do’a ini hanya diperuntukkan bagi mereka yang masih muda saja.

F. Analisis Penggunaan Ayat-Ayat Al-Qur’ān sebagai Ayat Cinta Pemikat Hati

Berangkat dari beberapa keterangan yang didapatkan mengenai do’a cenning rara di masyarakat Sulawesi Selatan penulis melakukan beberapa hal yang perlu diteliti dalam hal ini. Berkenaan masalah sumber yang dijadikan dasar penggunaan ayat-ayat al-Qur’ān sebagai do’a cenning rara pada dasarnya tidaklah salah. Al-Qur’ān tetap menjadi landasan bagi mereka serta penjelasan dari tokoh agama setempat. Melihat historisitas cara memikat hati seseorang yang ada di Sulawesi Selatan pada awalnya melalui perdukunan sehingga datangnya islam cara tersebut dirubah dengan cara yang islami.

Pada dasarnya ada sebuah ajaran yang terkandung dalam hal ini yakni ajaran tauhid yang ingin ditanamkan di jiwa mereka sebagaimana yang diajarkan oleh salah satu dari tiga pembawa islam di daerah ini yaitu Sulaiman, Khatib Sulung, yang kemudian terkenal dengan nama Dato' Patimang, mula-mula bersama Abdul Makmur Khatib Tunggal berdakwah ke Gowa, kemudian kembali dan tinggal di Luwu' dan menyebarkan Islam dengan cara pengutamaan ajaran Tauhid, dengan menggunakan kepercayaan lama -Kepercayaan Sawerigading, De'watasseuae (tuhan yang tunggal)- sebagai cara pendekatan. Dengan begitu perbuatan syirik dengan mempercayai dukun secara perlahan terhapus.

Penggunaan kalimat lā ilāha illallāh sebagai bagian dari sebuah do’a dan sebagai bentuk kepasrahan kepada Yang Maha Kuasa telah disebutkan oleh Ibnu Abbas ra yang memberikan pengertian bahwa lā ilāha illallāh yakni tidak ada yang mendatangkan mudharat dan manfaat dan tidak ada pula yang dapat memberi dan menolak kecuali Allah. Dengan ucapan ini menunjukkan adanya ma’rifah tauhid melalui lisan. Hanya kepada-Nya tempat mengadu dan berharap.

Disamping itu lā ilāha illallāh merupakan sebuah kalimat yang paling mudah diucapkan dan diingat oleh masyarakat. Inti dari semua itu adalah bagaimana ummat islam menghidupkan dan menghadirkan al-Qur’ān di kehidupan sehari-hari mereka dan melandaskan segala perbuatan mereka atas al-Qur’ān. Olehnya itu hal ini nantinya menimbulkan kesadaran bagi ummat islam itu sendiri untuk terus berzikir dan mengingat Allah swt.

Catatan Kaki

* Mahasiswa Semester V Jurusan Tafsir dan Hadits Fakultas Ushuluddin Universitas Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

[1] Tiga kabupaten ini menjadi salah satu nama bagi perusahaan Jusuf Kalla yang disingkat menjadi “Bosowa” yakni Bone, Soppeng dan Wajo.

[2] Keahlian dalam melaut dan keberanian mengarungi samudera dapat dilihat dalam sejarah perjalanan perlawatan ke berbagai pelabuhan di Nusantara bahkan hingga keluara negeri seperti Cina untuk berdagang. Dan ketika datangnya islam perjalanan berhaji dilakukan dengan mengarungi lautan yang lama perjalananan ke Mekkah hingga 3 bulan.

[3] Kata Parepare diambil dari kata “Pare” yang berarti padi yang merupakan kata lain dari “Ase”. Dikatakan “parepare” karena system bahasa masyarakat Sulawesi Selatan yang jika menunjukkan sesuatu yang banyak maka kata tersebut diulang. Oleh sebab itu, kata ini menunjukkan bahwa Kota Parepare pada saat itu banyak ditanami tanaman padi. Dan saat ini, tempat ini menjadi sebuah kota kecil dan merupakan kota kedua yang ada di Sulawesi Selatan setelah Makassar.

[4] Pappaseng adalah salah satu bentuk sastra lisan yang masih dihayati oleh masyarakat bugis yang merupakan warisan leluhur orang Bugis, diwariskan kepada satu generasi ke generasi beikutnya berisi bermacam-macam petuah yang dapat dijadikan pegangan dalam menghadapi berbagai masalah duniawi maupun ukhrawi antara lain berupa tata pemerintahan yang baik, pendidikan budi pekerti dan nilai-nilai moral keagamaan. Selengkapnya baca: Syamsu Alam dkk, Manfaat Pappaseng Sastra Bugis dalam Kehidupan Bermasyarakat, (Makassar: Zamrud Nusantara, 2005), hlm. 1

[5] H. Kulla Lagousi dan H. Wahyuddin Hamid, Siri: Satu Jati Diri Manusia Bugis-Makassar, (Makassar: Zamrud Nusantara, 2005), hlm. 4

[6] Sebagaimana umumnya bahasa bugis yang seringkali mengulang kata-kata untuk menunjukkan sesuatu yang jumlahnya banyak, maka baca-baca –yang berasal dari baca- merujuk kepada kata-kata, kalimat-kalimat, bacaan-bacaan atau bait-bait do’a yang dibaca atau diucapkan.

[7] Wawancara dengan Rusyaid. M mahasiswa semester VII fakultas Tarbiyah Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Parepare, (tanggal tidak diketahui) bulan September 2009

[8] Lontarak yaitu naskah lama baik berisi budaya/adat tertulis dengan bahasa bugis atau berbahasa arab. Dilihat dari isinya, lontarak terbagi menjadi beberapa bagian antara lain lontarak panggadareng (berisi masalah Adat-istiadat), lontarak hukum, astronomi dan lain-lain. Wawancara dengan Bapak Muhammad Salim, seorang muballigh dan budayawan Sulawesi selatan, tanggal 17 Desember 2009.

* Panrita (bahasa bugis) artinya ulama’

[9] Wawancara dengan Sandy, mahasiswa Fakultas Adab UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, tanggal 27 Nopember 2009

[10] Wawancara dengan ‘Abdul Hamid, Pengurus Masjid Mudaril-Istiqlal Kecamatan Ujung Kota Parepare, tanggal (tanggal tidak diketahui) bulan September 2009

[11] Wawancara dengan Bapak Muhammad Salim, tanggal 17 Desember 2009. Do’a ini diterima langsung oleh beliau dari Alm. K.H. Muhammad Alyafie ayah dari Alm. K. As’ad Alyafie (pendiri Pondok Pesantren Hafidziyah Parepare) dan K.H. Ali Yafie mantan ketua MUI pusat Jakarta.

[12] Baca-baca ini diterima langsung dari Alm. Puang Mullah Desa Jampue, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan pada perkiraan tahun 2006-2007

[13] Wawancara dengan Bapak Muhammad Alyafie (Pimpinan Pondok Pesantren Hafidziyah Parepare Sulawesi Selatan sekarang) 19 Desember 2009. Do’a ini diambil dari Syamsul Bahri salah seorang ustadz Pondok Pesantren DDI Mangkoso, Barru, Sulawesi Selatan

[14] Berhubung karena rumah yang ada di Sulawesi Selatan adalah rumah panggung.

[15] Wawancara dengan Rusyaid. M, (tanggal tidak diketahui) bulan September 2009

0 Response to "Analisis Penggunaan Ayat-Ayat Al-Qur’ān sebagai Ayat Cinta Pemikat Hati"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!