Artikel Islami Perkembangan Pemikiran Hukum Islam Bidang Ibadah

Advertisement
Artikel Islami 
Perkembangan Pemikiran Hukum Islam Bidang Ibadah
Asrul Muh. Darwis (80100210019)


BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah

Manusia tersusun dari dua unsur, unsur jasmani dan unsur rohani. Tubuh manusia berasal dari materi dan mempunyai kebutuhan-kebutuhan materil sedangkan roh manusia bersifat immateri dan mempunyai kebutuhan spiritual. Badan sebab mempunyai hawa nafsu, bisa membawa pada kejahatan, sedang roh sebab berasal dari unsur yang suci, mengajak kepada kesucian. Kalau seseorang hanya mementingkan hidup kematerian ia mudah sekali dibawa hanyut oleh kehidupan yang tidak bersih bahkan dapat dibawa hanyut kepada kejahatan.

Oleh karena itu pendidikan jasmani manusia harus disempurnakan dengan pendidikan rohani. Pengembangan daya-daya jasmani seseorang tanpa dilengkapi dengan pengembangan daya rohani akan membuat hidupnya berat sebelah dan kehilangan keseimbangan. Orang yang demikian akan menghadapi kesulitan-kesulitan dalam hidup duniawi, apalagi kalau hal itu membawa kepada perbuatan-perbuatan tidak baik dan kejahatan. Ia akan menjadi manusia yang merugi, bahkan manusia yang membawa kerusakan bagi masyarakat. Selanjutnya ia akan kehilangan hidup bahagia di akhirat dan akan menghadapi hidup kesengsaraan di sana. Oleh karena itu, amatlah penting supaya roh yang ada dalam diri manusia mendapat latihan, sebagaimana badan manusia juga mendapat latihan.
Perkembangan Pemikiran Hukum Islam Bidang Ibadah
Ibadah dalam Islam yang memberikan latihan rohani yang diperlukan manusia. Semua ibadah yang ada dalam Islam, salat, puasa, haji dan zakat, bertujuan membuat roh manusia supaya senantiasa tidak lupa pada Tuhan, bahkan senantiasa dekat padaNya. Keadaan senantiasa dekat pada Tuhan sebagai Zat Yang Maha Suci dapat mempertajam rasa kesucian seseorang. Rasa kesucian seseorang yang kuat akan dapat menjadi rem bagi hawa nafsu untuk melanggar nilai-nilai moral, peraturan dan hukum yang berlaku dalam memenuhi keinginannya. Sebagaimana telah diketahui bersama bahwa ibadah itu dilakukan semata berrdasarkan petunjuk yang telah ditetapkan. Semenjak wafatnya Nabi saw. Tidak ada lagi syara’ tentang ibadah. Oleh karena itu, apa yang telah ditetapkan oleh Nabi saw. Pada masanya sama sekali tidak akan mengalami perubahan dalam esensinya. Ibadah itu tidak tunduk kepada perubahan situasi dan kondisi, waktu dan tempat. Kemajuan kehidupan manusia hanya mungkin melakukan perubahan dalam hal di luar dari ibadah itu sendiri seperti bentuk dan cara salat yang diajarkan Nabi saw. Tetap menurut apa adanya sampai akhir zaman.

Walaupun tatacara ibadah telah diwariskan oleh Nabi saw kepada para sahabatnya lewat hadis, namun pemahaman terhadap ajaran tersebut umumnya bersifat zanni. Oleh karena itu, para sahabat sering melakukan ijtihad dalam memaknai tatacara tersebut. Hal ini mengakibatkan munculnya produk-produk pemikiran hukum Islam yang dipelopori oleh sahabat Nabi saw hingga berkembang pada masa imam-imam mazhab.

Hukum Islam dalam arti fikih, fatwa atau ketetapan adalah produk pemikiran ulama secara individual. Mempelajari perkembangan pemikiran hukum Islam berarti mempelajari pemikiran ulama yang telah melakukan ijtihad dengan segala kemampuan yang dimiliki. Oleh karena itu, mempelajari produk pemikiran ulama termasuk dalam hal ibadah dan langkah ijtihadnya menjadi sangat penting karena merupakan upaya konstrutif dalam memahami produk pemikiran dan pola yang digunakan.

B. Rumusan Masalah

Agar pembahasan makalah ini tidak meluas, maka penulis akan membatasinya pada beberapa pokok pembahasan, sebagai berikut:

1. Apa makna konsep ibadah?
2. Bagaimana hasil pemikiran ulama dalam bidang ibadah?

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Ibadah

Ibadah berasal dari kata عبد memiliki dua makna asal yang saling bertolak belakang yaitu; pertama, lembut dan hina. Kedua, keras. Kata ini juga berarti pengabdian, penyembahan, ketaatan, merendahkan diri dan doa. Perbuatan yang dilakukan sebagai usaha menghubungkan dan mendekatkan diri kepada Allah swt sebagai Tuhan yang disembah.

Menurut Ibn Manzur, ibadah adalah suatu ketaatan, penghambaan diri dengan ketundukan dan kerendahan diri. Sedangkan menurut Al-Ragib al-Asfahani, dalam hal ini beliau membedakan antara ubudiyah dan ibadah, namun perbedaan tersebut hanya pada tingkatnya bukan pada dasarnya. Menurut Al-Ragib al-Asfahani, ubudiyah adalah menampakkan kerendahan sedangkan ibadah adalah puncak dari kerendahan dan tidaklah seorang beribadah kecuali kepada yang memiliki puncak kemuliaan yaitu Allah swt.

Ulama fikih mendefinisikan ibadah sebagai ketaatan yang disertai dengan ketundukan dan kerendahan diri kepada Allah swt. Redaksi lain menyebutkan bahwa ibadah adalah semua yang dilakukan atau dipersembahkan untuk mencapai keridhaan Allah swt dan mengharapkan imbalan pahala-Nya di akhirat kelak. Yusuf al-Qardawi, mendefinisikan ibadah sebagai nama bagi semua yang akan membuat Allah swt senang dan ridha, baik atas perkataan maupun perbuatan, baik yang bersifat lahir maupun batin.

Menurut Ibn Taimiyah ibadah adalah ketaatan dan ketundukan yang sempurna. Ibn Taimiyah menambahkan pula bahwa ibadah berawal dari suatu hubungan dan keterkaitan yang erat (al-‘alaqah) antara hati dan yang disembah (al-ma’bud), kemudian hubungan dan keterkaitan itu meningkat menjadi kerinduan karena tercurahnya perasaan hati kepadaNya, kemudian rasa rindu itupun meningkat menjadi kecintaan (al-garam) yang kemudian meningkat pula menjadi keasyikan dan akhirnya menjadi cinta mendalam yang membuat orang yang dicintai bersedia melakukan apa saja demi yang dicintainya.

Ibn Taimiyah mengatakan bahwa ibadah mencakup semua aktivitas yang dilakukan manusia yang disenangi dan diridhai Allah swt, baik berupa perkataan maupun perbuatan, baik yang bersifat lahiriah maupun batiniah. Oleh karena itu, Salat, zakat, puasa, haji, berkata jujur dan benar, melaksanakan amanat, berbakti kepada kedua orang tua, menghubungkan silaturahmi, menepati janji, berbuat baik kepada tetangga, anak yatim bahkan berbuat baik kepada binatang adalah bagian dari ibadah.

B. Pemikiran Hukum Islam dalam Bidang Ibadah

1. Wudhu

Para ulama sepakat bahwa rukun wudhu yaitu membasuh muka dan kedua tangan sampai siku, menyapu kepala dan membasuh kedua kaki sampai mata kaki sebagaimana yang terdapat pada QS. Al-Maidah (5): 6: Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan Salat, Maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki

Namun ulama berbeda pendapat tentang al-madmadah (berkumur-kumur) dan al-Istinsyaq (membasuh kedua lobang hidung). Abu Hanifah, Malik dan al-Syafi’i berpendapat bahwa keduanya merupakan sunah wudhu. Di lain pihak Ibn Abi Laila dan Ashab Daud berpendapat bahwa keduanya adalah rukun wudhu, sementara Abu Tsaur, Abu Ubaidah berpendapat bahwa al-madmadah adalah sunah wudhu dan al-Istinsyaq adalah rukun wudhu. Perbedaan pendapat tersebut akibat perbedaan memaknai hadis tentang al-madmadah dan al-Istinsyaq. kelompok yang mengangggap keduanya adalah sunah wudhu berpandangan bahwa hadis tersebut bertentangan dengan zahir nash Alquran yang menjelaskan tentang rukun wudhu sehingga mereka berkesimpulan bahwa al-madmadah dan al-Istinsyaq sebagaimana yang terdapat pada beberapa hadis Nabi saw adalah sunah. Sementara kelompok yang berpendapat bahwa al-madmadah adalah sunah wudhu karena nash hadisnya bersifat fi’liyyah dan al-Istinsyaq adalah rukun wudhu karena nash hadisnya bersifat qauliyyah dengan menggunakan lafaz amr (perintah). Rasulullah saw bersabda:

Sesungguhnya Usman ra. Memasukkan kedua tangannya ke dalam bejana lalu membasuhnya sebanyak tiga kali, kemudian ia memasukkan tangan kanannya ke dalam air dan berkumur-kumur, membasuh lubang hidung dan mengeluarkannya. Kemudian ia membasuh mukanya sebanyak tiga kali dan kedua tangan sampai siku sebanyak tiga kali, kemudian ia menyapu kepalanya dengan air kemudian ia membasuh setiap kaki sebanyak tiga kali. Lalu ia berkata: saya melihat Nabi saw berwudhu seperti saya berwudhu.

Pada riwayat lain, Rasulullah saw bersabda: Dari Abu Hurairah ra., ia berkata, Rasulullah saw telah bersabda: Apabila salah seorang diantara kamu berwudhu hendaklah ia memasukkan air ke dalam hidungnya lalu mengeluarkannya. 

2. Salat

a. Hukum membaca Surah al-Fatihah

Ulama berbeda pendapat tentang hukum membaca surah al-Fatihah dalam salat. Malik dan Syafi’i berpendapat bahwa membaca surah al-Fatihah dalam salat hukumnya wajib. Sementara Abu Hanifah berpendapat bahwa yang wajib adalah cukup membaca ayat Alquran yang dianggap mudah tidak mesti dengan surah al-Fatihah. Kedua golongan ini berbeda pendapat karena perbedaan pemahaman zahir nash Alquran dan hadis. Abu Hanifah melandaskan pandangan dengan ayat Alquran QS. Al-Muzammil (73): 20. Bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Alquran

Dan hadis Nabi saw. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata, Rasulullah saw telah bersabda: apabila kamu berdiri menunaikan salat maka bertakbirlah lalu baca yang mudah bagimu dari Alquran kemudian ruku’ hingga tenang dalam ruku’. Bangunlah dari ruku’ hingga berdiri lurus. Kemudian sujudlah hingga tenang dalam sujud kemudian bangunlah dari sujud hingga tenang dan perbuatlah yang demikian dalam setiap salatmu.

Sedangkan Malik dan Syafi’i melandaskan pendapatnya pada hadis Nabi saw, yaitu: Dari Ubadah Ibn al-S{amit ra., sesungguhnya Rasulullah saw telah bersabda: Tidak sah salat seseorang yang tidak membaca Surah al-Fatihah.

b. Hukum Salat Tarawih secara berjamaah

Pada zaman Rasulullah saw salat Tarawih (qiyam ramadan) dilaksanakan oleh para sahabat secara sendiri-sendiri, atas hasil ijtihad Umar ra., salat Tarawih kemudian dilaksanakan secara berjamaah. Berdasarkan hadis Nabi saw.

Dari Aisyah ra. Ia berkata: Sesungguhnya Rasulullah saw salat pada suatu malam di masjid lalu diikuti oleh sekelompok manusia. Lalu Rasulullah saw salat pada malam berikutnya sehingga banyak manusia berkumpul mengikutinya salat. Kemudian mereka kembali berkumpul pada malam ketiga dan keempat namun Rasulullah saw tidak keluar untuk salat. Lalu pada pagi hari Rasulullah saw bersabda: “Saya memperhatikan apa yang kalian lakukan (di belakangku), dan bukan itu yang membuat aku tidak datang ke masjid. Sesungguhnya saya khawatir kalian menganggapnya salat wajib dan itu terjadi pada Bulan Ramadan.

Umar berpendapat bahwa Nabi saw tidak melarang kaum muslimin mengikutinya salat pada waktu itu.ketidakhadiran Nabi saw secara terus-menerus selama bulan Ramadan di masjid untuk berjamaah disebabkan oleh kekhawatirannya apabila umat Islam menganggap sebagai salat wajib bagi mereka. Umar menambahkan bahwa yang demikian dianggap sebagai bid’ah lugawiyyah bukan bid’ah syar’iyyah.

3. Zakat

Fukaha sepakat bahwa harta yang wajib dikeluarkan zakatnya yaitu: hewan ternak, emas dan perak, hasil perdagangan, hasil pertanian, buah-buahan dan terpendam (rikaz). namun seiring dengan perkembangan zaman, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa tentang kewajiban zakat penghasilan (profesi). Dalam fatwa ini, yang dimaksud dengan “penghasilan” adalah setiap pendapatan seperti gaji, honorarium, upah, jasa, dan lain-lain yang diperoleh dengan cara halal, baik rutin seperti pejabat negara, pegawai atau karyawan, maupun tidak rutin seperti dokter, pengacara konsultan, dan sejenisnya, serta pendapatan yang diperoleh dari pekerjaan bebas lainnya dengan syarat telah mencapai nisab dalam satu tahun yakni senilai emas 85 gram dan kadar zakat 2,5 %. Fatwa ini didasarkan pada QS. At-Taubah (9): 103. Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka. 

4. Puasa

Puasa Ramadan mulai diwajibkan oleh Allah swt atas umat Muhammad saw pada tanggal 10 Sya’ban, satu setengah tahun sesudah hijrah. Saat itu Nabi Muhammad saw baru saja diperintahkan untuk mengalihkan arah kiblat dari Baitulmakdis (Yerussalem) ke Ka’bah di masjidilharam (Mekah). Pada Ramadan wajib dimulai ketika melihat atau menyaksikan bulan pada awal bulan Ramadan. Apabila langit dalam keadaan berawan yang mengakibatkan bulan tidak dapat dilihat atau disaksikan, maka bulan sya’ban disempurnakan tiga puluh hari. Hal ini didasarkan pada QS. Al-Baqarah (2): 185. Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.

Pandangan para ulama mengenai niat puasa, dalam hal ini terjadi perbedaan, yaitu: menurut mazhab Hanafi, niat yang terbaik bagi semua puasa ialah saat terbit fajar. Sedangkan bagi mazhab Maliki, niat boleh dilakukan pada malam hari dari terbenam matahari sampai terbitnya fajar. Sementara kalangan mazhab Syafi’i dan Hambali mengatakan bahwa niat untuk puasa sunah boleh dilakukan sebelum siang hari. Namun jumhur ulama berpendapat bahwa niat puasa yang dilaksanakan itu harus ditentukan pada malam harinya. Pendapat tersebut didasarkan pada hadis Nabi saw yang mengatakan:

مَن لَم يُجمِعٍ الصيَامَ قبل الفجرِ فلاَ صيَامَ لهُ

Barang siapa yang tidak melakukan niat pada malam harinya sebelum terbit fajar, maka puasanya tidak sah.

5. Haji

Ulama fikih sepakat menyatakan bahwa ibadah haji wajib dilaksanakan bagi setiap mukmin yang mempunyai kemampuan biaya, fisik dan waktu. Namun, mereka berbeda pendapat tentang kapan kewajiban itu dimulai, apakah kewajiban itu bisa ditunda atau harus dilaksanakan segera setelah mampu. Abu Hanifah, Abu Yusuf (sahabat Imam Abu Hanifah), ulama Mazhab Maliki dan pendapat terkuat di kalangan Mazhab Hambali menyatakan bahwa apabila seseorang telah mampu dan memenuhi syarat wajib langsung mengerjakan ibadah haji dan tidak boleh ditunda.

Tuntutan untuk menunaikan ibadah haji itu adalah tuntutan yang sifatnya segera, oleh karena itu tidak boleh ditunda, sebagaimana sabda Rasulullah saw: “Segeralah kamu melaksanakan ibadah haji, karena tidak satu orang pun diantara kamu yang mengetahui apa yang akan terjadi” (HR. Ahmad Ibn Hanbal dari Ibn Abbas).

Ulama mazhab syafi’i dan Muhammad bin Hasan al-Syaibani (sahabat imam Abu Hanifah) berpendapat bahwa kewajiban haji itu tidak harus segera dilaksanakan, tetapi jika memang sudah mampu dianjurkan atau disunahkan segera melaksanakan dengan maksud agar tanggung jawab atau kewajibannya lepas. Oleh sebab itu, menurut mereka pelaksanaan ibadah haji bagi yang telah mampu dan memenuhi syarat boleh ditunda karena Rasulullah saw sendiri menunda pelaksanaan ibadah haji sampai tahun ke-10 H, sedangkan kewajiban ibadah haji telah disyariatkan pada tahun 6 H menurut mereka, ayat tentang kewajiban melaksanakan haji, yaitu surah al-Baqarah (2): 196-197 diturunkan pada tahun ke-6 H. ulama mazhab syafi’i berpendapat bahwa ibadah haji disyariatkan sejak tahun ke-6 H, berbeda dengan pendapat jumhur ulama fikih yang menyatakan pada tahun ke-9 H. Di samping itu, hadis-hadis yang menyatakan bahwa menunaikan ibadah haji harus segera dilaksanakan jika telah mampu dan memenuhi syarat seluruhnya adalah hadis daif yang tidak bisa dijadikan landasan hukum.
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan

Ibadah secara luas mencakup segala aktivitas manusia yang memenuhi kriteria tertentu untuk mencapai keridhaan Allah swt., sedangkan pengertian ibadah secara khusus dibatasi hanya pada praktek yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw., yang merupakan hak Allah swt atas hambanya, seperti melakukan salat, puasa, zakat dan haji.

Adapun pandangan ulama mengenai ibadah yang merupakan warisan dari Nabi Muhammad saw., secara mutlak kepada para sahabatnya lewat hadis, namun pemahaman terhadap ajaran tersebut umumnya bersifat zanni. Oleh karena itu, para sahabat sering melakukan ijtihad dalam memaknai tatacara tersebut. Hal ini mengakibatkan munculnya produk-produk pemikiran hukum Islam yang berbeda dalam bidang ibadah yang dipelopori oleh sahabat Nabi Muhammad saw., hingga berkembang pada masa Imam-imam Mazhab.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Asfahaniy, Al-Ragib. Mu’jam Mufradat Alfaz Alquran. Beirut: Dar al-Fikr, t.th.
Al-Bukhari, Muhammad Ibn Ismail. Jami’ al-Sahih. Juz I. Makkah: Maktabah al-Nahdah al-Hadisah, 1377 H.
Departemen Agama RI, Alquran dan Terjemahannya; Al-Jumanatul ‘Ali; Seuntai Mutiara yang Luhur. Bandung: J-Art, 2005.
Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam. Jil. 2. Cet. III; Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 1994.
Ibn Faris, Abu al-Husain Ah{mad. Mu’jam Maqayis al-Lugah, Juz IV. Cet. I; Beirut: Dar al-Fikr, 1972.
Ibn Manzur, Muhammad bin Mukrim. Lisan al-‘Arab. Juz III. Cet. I; Beirut: Dar Sadir, t.th.
Ibn Rusyd, Bidayah al-Mujtahid wa Nihayah al-Muqtasid. Juz I. Semarang: Toha Putra, t.th.
Malik Ibn Anas, al-Muwatta’. Juz I. Mesir: Dar Ihya’ al-Kutub al-‘Arabiyyah, 1371 H.
Mubarok, Jaih. Sejarah dan Perkembangan Hukum Islam. Cet. II; Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000.
Nasution, Harun. Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya. Jil. 2. Cet. II; Jakarta: UI Press, 2005.
Al-Sa’alabi, Muhammad Ibn al-Hasan al-Hajwi al-Fikr al-Sami fi Tarikh al-Fiqh al-Islami, Juz II. Fes: al-Baladiyah, t.th.
Salinan Fatwa MUI Nomor 3 Tahun 2003 Tentang Zakat Penghasilan.
Al-Tirmizi,Muhammad Ibn Isa. Sunan al-Tirmizi, Juz 2. Beirut: Dar al-Fikr, 1856.
Al-Zuhaili, Wahbah. al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, Juz III. Cet. II; Beirut: Dar al-Fikr, 1985.


0 Response to "Artikel Islami Perkembangan Pemikiran Hukum Islam Bidang Ibadah"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!