Benarkah Kedatangan Dajjal, Tanda dan ciri Kiamat?

Advertisement

Benarkah Kedatangan Dajjal, Tanda Kiamat?

Pendahuluan 

Salah satu diantara sendi-sendi arkan al-iman yang harus dipercayai oleh setiap mukmin adalah percaya akan datangnya hari kimat. Hari kiamat merupakan unsur penting dalam perjalanan kehidupan manusia dan agama. Pada hari itulah keadilan Sang Maha Kuasa dirasakan, pada hari itu pula lah manusia akan merasakan janji-janji yang telah termaktub pada al-Qur’an maupun al-Sunnah. 

Berbicara mengenai hari kiamat, kita tidak bisa memahami bahkan mengimaninya tanpa mengetahui seluk-beluk dan hal-hal lain yang berhubungan dengannya. Kemunculan Dajjal, bangkitnya Isa Al-Masih merupakan dua dari beberapa kejadian yang akan terjadi sebelum datangnya hari akhir.[1]

Ilustrasi-ilustrasi tentang Dajjal, baik dari sisi hakekat maupun karakteristik keberadaannya di muka bumi telah dijelaskan sekian banyak oleh Sang Rasul Al-Amin. Dajjal dengan gelarnya Al-Masih telah merubah keyakinan dan kehidupan umat. Dengan keistimewaan-keistimewaan yang difasilitasi oleh Allah, tidak sedikit hamba yang beriman berbalik menjadi orang-orang yang takluk terhadap fitnahnya. Fitnah yang belum pernah terjadi sebelumnya ini seakan memberikan kekaguman tersendiri yang pada akhirnya ia diyakini sebagai sosok Tuhan yang sebenarnya.
Benarkah Kedatangan Dajjal, Tanda dan ciri Kiamat?

Dalam tulisan ini, pembahasan tentang Dajjal secara keseluruhan akan dipaparkan secara deskriptif-analitik, dengan menggali hadis-hadis yang berkaitan, pembahasan ini diharapkan mampu memberikan sedikit diskursus yang menarik untuk diperbincangkan dan dikembangkan. Selain itu, dengan memahami Dajjal, penulis mengharapkan adanya “tambahan” keyakinan dan kepercayaan bahwa Dajjal sudah di depan mata. Sehingga kita dapat berhati-hati serta menyiapkan diri dalam menghadapai kebohongan yang luar biasa ini. 

A. Sejarah Al-Masih Al-Dajjal

Salah satu diantara tanda-tanda telah begitu dekatnya hari kiamat adalah munculnya seorang dajjal dengan gelar Al-Masih.[2] Lafal Al-Masih dapat berarti Al-Shiddiq (yang benar/yang suka kebenaran)[3] dan Al-Kadzdzab (yang suka berbohong). Kata tersebut dapat diungkapkan untuk Nabi Isa r.a. dan juga untuk Dajjal itu sendiri. Akan tetapi jika digunakan untuk Dajjal maka penisbatan tersebut mengandung beberapa makna.[4]

Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa salah satu alasan penisbatan Al-Masih Al-Dajjal adalah terhapusnya (cacat) mata Dajjal sehingga tidak dapat melihat. Rasullullah SAW bersabda: 

حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ الْمُنْذِرِ حَدَّثَنَا أَبُو ضَمْرَةَ حَدَّثَنَا مُوسَى عَنْ نَافِعٍ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ ذَكَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا بَيْنَ ظَهْرَيْ النَّاسِ الْمَسِيحَ الدَّجَّالَ فَقَالَ إِنَّ اللَّهَ لَيْسَ بِأَعْوَرَ أَلَا إِنَّ الْمَسِيحَ الدَّجَّالَ أَعْوَرُ الْعَيْنِ الْيُمْنَى كَأَنَّ عَيْنَهُ عِنَبَةٌ طَافِيَةٌ وَأَرَانِي اللَّيْلَةَ عِنْدَ الْكَعْبَةِ فِي الْمَنَامِ فَإِذَا رَجُلٌ آدَمُ كَأَحْسَنِ مَا يُرَى مِنْ أُدْمِ الرِّجَالِ تَضْرِبُ لِمَّتُهُ بَيْنَ مَنْكِبَيْهِ رَجِلُ الشَّعَرِ يَقْطُرُ رَأْسُهُ مَاءً وَاضِعًا يَدَيْهِ عَلَى مَنْكِبَيْ رَجُلَيْنِ وَهُوَ يَطُوفُ بِالْبَيْتِ فَقُلْتُ مَنْ هَذَا فَقَالُوا هَذَا الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ ثُمَّ رَأَيْتُ رَجُلًا وَرَاءَهُ جَعْدًا قَطِطًا أَعْوَرَ الْعَيْنِ الْيُمْنَى كَأَشْبَهِ مَنْ رَأَيْتُ بِابْنِ قَطَنٍ وَاضِعًا يَدَيْهِ عَلَى مَنْكِبَيْ رَجُلٍ يَطُوفُ بِالْبَيْتِ فَقُلْتُ مَنْ هَذَا قَالُوا الْمَسِيحُ الدَّجَّالُ تَابَعَهُ عُبَيْدُ اللَّهِ عَنْ نَافِعٍ[5]

Selain itu, gelar Al-Masih disandang oleh Dajjal karena dia memiliki kemampuan menghapus bumi, melangkahinya dengan sekali langkah dan memotongya. Sedang lafal Dajjal memiliki makna tertutup dan tercampur. Penisbatan nama Dajjal kepadanya karena ia mampu menutupi kebenaran dengan kekuatan mistiknya, serta menyelimuti dari manusia dengan pengakuan dan kebohongan.[6] Ada juga yang mengatakan bahwa ia menutupi dengan banyaknya kelompoknya.

Sejarah mencatat, penisbatan nama Dajjal juga digunakan oleh Rasulullah SAW untuk para pendusta agama.[7] Rasulullah SAW menjanjikan menculnya para Dajjal hingga berjumlah 30 pendusta. Dan yang terahir kali keluar adalah raja pendusta Al-Masih Al-Dajal yang akan keluar di akhir zaman.

B. Dajjal yang dijanjikan Rasulullah

Setiap Rasul yang diutus telah memberikan peringatan kepada kaumnya akan bahaya fitnah Dajjal. Namun peringatan Rasulullah SAW kepada umat Islam merupakan peringatan yang tidak pernah disampaikan oleh para nabi sebelumya. Barangkali Rasulullah sendiri yakin bahwa umatnyalah yang akan menghadapi fitnah Dajjal, sebab umat Islam adalah umat terakhir yang akan menghadapi huru-hara akhir zaman. Maka pesan-pesan beliau kepada umatnya tentang Dajjal sedemikian banyak bertebaran pada hadis-hadis tentang fitnah.[8] 

Banyaknya riwayat tersebut menunjukkan agar perhatian umat Muhammad kepada Al-Masih Al-Dajjal banyak dicurahkan untuknya, meski bukan berarti melupakan yang lainnya. Sebagai bukti, bahwa setiap hari kita tidak boleh melupakan Dajjal adalah perintah Rasulullah untuk memohon perlindungan kepada Allah dari fitnah Dajjal setiap akhir shalat. Nabi berdo’a: 

حَدَّثَنِي عَنْ مَالِك عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ الْمَكِّيِّ عَنْ طَاوُسٍ الْيَمَانِيِّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُعَلِّمُهُمْ هَذَا الدُّعَاءَ كَمَا يُعَلِّمُهُمْ السُّورَةَ مِنْ الْقُرْآنِ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ[9]

Kepada Dajjal, Allah memberikan kehendak-Nya, menjadikanya mampu berbuat sesuatu di luar nalar akal manusia. Allah memberikan kekuatan dasyat yang tidak penah diberikan kepada makhluk selainnya. Semua ini dimaksudkan untuk menguji keimanan para hamba-Nya dan mengetahui siapa yang tetap berpegang teguh dengan janji Rasulullah SAW disaat fitnah tiba. Sehingga sangat ironis jika umat Islam tidak berhati-hati akan datangnya Dajjal al-Mau’ud.

C. Ciri-ciri dan sifat Dajjal dalam Hadis Nabi SaW

Informasi tentang Dajjal hanya bersumber kepada hadis-hadis Rasul, riwayat-riwayat yang menunjukan ciri-ciriya sangat banyak. Setidaknya Abu Fatiah Al-Adnani mencatat tiga belas riwayat yang menunjukakn ciri-ciri Dajjal, yaitu:[10]

1. Dari Ibnu Umar Rasulullah SAW bersabda, “maka aku pergi sambil menoleh , tiba-tiba ada lelaki yang berkulit merah dan rambutnya berombak.”

2. Dari Khudzaifah bin Yaman bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Dajjal adalah orang yang cacat mata kirinya dan rambutnya keriting seperti buih karena lebatnya.”

3. Dalam hadis Khudzaifah disebutkan, “Sesungguhnya Dajjal itu matanya terhapus dan diatasnya terdapat selaput mata yang tebal...”

4. Dari Abu Sa’id Al-Khudhri bahwa Rasulullah bersabda,”dan tidaklah diutus seorang nabi yang diikuti itu kecuali untuk memperingatkan kaumnya terhadap Dajjal. Aku telah menerangkan bahwa ia cacat, sedangkan Tuhan kalian tidaklah cacat. Mata kanannya menonjol dan tidak dapat disembunyikan, seolah-olah dahak yang berada di dinding kapur, sedangkan mata kirinya seperti planet yang bulat..”

5. Dari Umar bahwa Rasulullah SAW bersabda, ”ketika saya sedang tidur, saya bermimpi melakukan thawaf di Baitullah, lalu beliau mengatakan bahwa beliau melihat Isa Ibnu Maryam a.s. kemudian melihat Dajjal dan menyebutkan ciri-cirinya dengan sabdanya,” dia itu seorang laki-laki yang gemuk, berkulit merah, berambut keriting, matanya buta sebelah dan matanya itu seperti buah anggur yang masak (tak bersinar). Para sahabat berkata,”Dajjal ini lebih menyerupai Ibnu Qathan, seorang laki-laki dari Khuza’ah.

6. Dan diantara ciri-cirinya ialah seperti yang disebutkan dalam hadis Fatimah binti Qais mengenai kisah Al-Jasash, dalam riwayat itu Tamim al-Dari berkata,” ......lalu kami berangkat dengan segera sehingga ketika kami sampai di biara tiba-tiba disana ada seorang yang besar (hebat) dan diikat sangat erat...”

7. Dalam hadis Imran bin Husain, ia bekata, saya mendengar Rasulullah SAW bersabda,”semenjak diciptakannya Adam hingga datangnya hari kamat tidak ada makhluk yang lebih besar daripada Dajjal.”

8. Dajjal tidak punya keturunan, sebagaimana diriwayatkan dalam hadis Abi Sa’id Al-Khudri dalam kisahnya bersama Ibnu Shayyad. Ibnu Shayyad berkata kepada Abi Sa’id,”saya bertemu orang banyak dan mereka mengira saya ini Dajjal. Bukankah anda pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda bahwa Dajjal tidak punya anak (keturunan)? Abu Sa’id menjawab , “betul” Ibnu Shayad berkata lagi, “padahal saya punya anak...”

9. Dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah SAW pernah menyebut-nyebut dihadapan orang banyak, lalu beliau bersabda,”sesunguhnya Allah tidak buta sebelah matanya. Ketauhilah, sesungguhnya Al-Masih Al-Dajjal itu buta sebelah matanya yang kanan seakan-akan matanya itu buah anggur yang tersembul.”

10. Ubadah bin Al-Shamit meriwayatkan bahwasanya Rasulullah SAW bersabda,” sesungguhnya Dajjal itu seorang lelaki yang pendek dan gemuk, berambut keribo, buta sebelah matanya, dan matanya itu tidak menonjol serta tidak tenggelam..”

11. Dalam hadis Abu Hurairah Rasulullah bersabda,” adapun Masih kesesatan itu adalah buta sebelah matanya, lebar jidatnya, bidang dadanya bagian atas dan bengkok (kakinya)

12. Dalam hadis Khudzaifah Rasululah bersabda,” Dajjal tu buta matanya sebelah kiri dan lebat rambutnya.”

13. Dalam hadis Anas Rasulullah SAW bersabda,”dan diantara kedua matanya termaktub tulisan “kafir” yang kemudian dia mengejanya ka-fa-ra ­yang dapat dibaca oleh orang muslim.

Perlu diperhatikan bahwa dalam riwayat-riwayat diatas disebutkan bahwa Dajjal buta matanya yang sebelah kanan dan pada riwayat lain dijelaskan bahwa Dajjal buta matanya yang sebelah kiri. Setelah di tarjih, kedua riwayat yang bertentangan tersebut bagi Ibu Hajar riwayat yang menyatakan bahwa riwayat yang menyatakan bahwa Dajjal buta sebelah kiri lebih kuat, karena kuatnya Ibnu Umar. 

D Waktu dan tempat keluarnya dajjal

Tidak banyak ditemukan riwayat-riwayat yang menjelaskan tentang waktu dan tempat keluarnya Dajjal. Bahkan tidak terdapat satupun informasi yang menjelaskannya secara pasti tentang hal tersebut. Hadis Tamim Al-Dari yang diriwatkan oleh Fatimah binti Qais menjelaskan posisi Dajjal berad diluar Yaman. 

Abu Hurairah berkata: saya mendengarkan Abu Al-Qasim berkata,”si buta Dajjal akan keluar dari arah timur pada zaman kegelapan yaitu zaman perpecahan manusia.”[11] Riwayat-riwayat ini tidak menunjukkkan kejelasan yang pasti waktu dan tempat munculnya Dajjal. Dengan demikian para Ulama’ menilai hal ini sebagai hikmah yang terkandung di dalamnya sehingga manusia diharapkan selalu bersiap diri dalam menghadapi kemunculan manusia laknat tersebut.

Secara keseluruhan, riwayat-riwayat yang ada menunjukkan adanya priodesasi kemunculan Dajjal. Priode pertama, Dajjal keluar untuk unjuk kekuatan, mebuat fitnah dan talbis, mencari pendukung, dan menebar propaganda bahwa dirinya adalah manusia yang baik dan bijaksana.[12] Selama masa ini Dajjal mendapatkan kemenangan dan banyak mengalahkan musuh-musuhnya. Priode ini berlangsung cukup panjang. Jika merujuk pada pendapat yang menyatakan bahwa Ibnu Shayyad adalah Dajjal, maka sejak saat itu pula Dajjal sudah keluar. Ada riwayat yang menunjukkan bahwa ia keluar selama 40 hari, akan tetapi hari pertamanya bagai 1 tahun, hari keduanya bagai satu bulan dan hari ketiganya bagai satu pekan.[13] 

Priode kedua, merupakan priode keluarnya Dajjal untuk yang kedua kalinya yaitu masa pertempuran terakhir antara Dajjal dengan kaum muslimin dan itu terjadi setelah kedatangan Al-Mahdi.[14] Pendukung Dajjal adalah Yahudi Ashbahan[15] yang tinggal di sebuah perkampungan Yahudiyyah. Jumlah mereka sebanyak 70.000 orang, semua menggunakan seragam yang sama.[16]

Keluarnya Dajjal dari arah timur ini disebabakan oleh kemarahan, hal itu sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah riwayat; “sesungguhnya Dajjal akan keluar karena suatu kemarahan.”[17] Kedatangan Dajjal ini terjadi setelah Al-Mahdi dan kaum muslimin berhasil menaklukan konstantin.[18]

Diriwayatkan dari Abu Bakar Al-Shiddiq r.a. ia berkata Rasulullah SAW bersabda kepada kami, “Dajjal akan keluar dari bumi ini di bagian timur yang bernama Khurasan.”[19] Ibnu Katsir berkata,”Maka Dajjal akan muncul dari Ashbahan, dari kampung yang bernama Al-Yahudiyyah.”[20] Pendapat ini dapat dibuktikan dari hadis Rasulullah SAW yang berbunyi:

حَدَّثَنَا مَنْصُورُ بْنُ أَبِي مُزَاحِمٍ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ حَمْزَةَ عَنْ الْأَوْزَاعِيِّ عَنْ إِسْحَقَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ عَمِّهِ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَتْبَعُ الدَّجَّالَ مِنْ يَهُودِ أَصْبَهَانَ سَبْعُونَ أَلْفًا عَلَيْهِمْ الطَّيَالِسَةُ[21]

E. Fitnah Dajjal dan cara berlindung darinya

Fitnah Dajjal merupakan fitnah paling besar diantara fitnah-fitnah yang ada semenjak Allah menciptakan Adam hingga datangnya hari kiamat. Hal ini disebabkan Allah memberikan hal-hal luar biasa padanya yang memukau dan membingungkan akal pikiran. Semua yang ditampakkan oleh Dajjal merupakan hal-hal yang sangat luar biasa.

Dari hadis-hadis tetang Dajjal dan keterangan para Ulama’ disimpulkan bahwa diantara fitnah Dajjal adalah sebagai berikut:[22]

1. Dajjal datang dengan membawa surga dan neraka. Siapa yang masuk ke surga Dajjal maka Allah akan mengadzabnya dengan neraka Allah, dan barang siapa yang bersabar denag neraka Dajjal, ia akan masuk surga yang sesungguhnya.

2. Dajjal diberi kemampuan untuk memerintahkan langit agar menurunkan hujan dan memerintahkan bumi untuk mengeluarkan tumbuhan. Sehinggga bagi orang-orang yang mengimaninya, mereka akan mendapatkan harta yang berlimpah.

3. Diantara fitnahnya adalah ia memaksa seorang manusia, lalu membunuh dan memotognya dengan gergaji hingga tubuhnya terbelah menjadi dua, lalu dihidupkan kembali manusia tersebut dan memaksanya agar beriman kepadanya.

4. Dajjal mampu mendatangi sebuah bangunan yang runtuh, kemudian ia meminta agar semua hata simpanannya keluar, maka secara tiba-tiba harta itu akan berterbangan mengikutinya seperti sepasukan lebah yang terbang.

5. Dajjal mampu menghidupkan kembali orang yang telah mati, sehingga banyak orang yang menyangka dialah Tuhan yang sesungguhnya.

Untuk dapat lebih jelasnya, semua fitnah tersebut telah diperingatkan oleh Rasulullah SAW yang direkam oleh para sahabatnya yang dapat kita jumpai di beberapa kitab hadis. Sebagai contoh adalah hadis berikut:

حَدَّثَنِي عَمْرٌو النَّاقِدُ وَالْحَسَنُ الْحُلْوَانِيُّ وَعَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ وَأَلْفَاظُهُمْ مُتَقَارِبَةٌ وَالسِّيَاقُ لِعَبْدٍ قَالَ حَدَّثَنِي و قَالَ الْآخَرَانِ حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ وَهُوَ ابْنُ إِبْرَاهِيمَ بْنِ سَعْدٍ حَدَّثَنَا أَبِي عَنْ صَالِحٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ أَخْبَرَنِي عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ أَنَّ أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ قَالَ حَدَّثَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا حَدِيثًا طَوِيلًا عَنْ الدَّجَّالِ فَكَانَ فِيمَا حَدَّثَنَا قَالَ يَأْتِي وَهُوَ مُحَرَّمٌ عَلَيْهِ أَنْ يَدْخُلَ نِقَابَ الْمَدِينَةِ فَيَنْتَهِي إِلَى بَعْضِ السِّبَاخِ الَّتِي تَلِي الْمَدِينَةَ فَيَخْرُجُ إِلَيْهِ يَوْمَئِذٍ رَجُلٌ هُوَ خَيْرُ النَّاسِ أَوْ مِنْ خَيْرِ النَّاسِ فَيَقُولُ لَهُ أَشْهَدُ أَنَّكَ الدَّجَّالُ الَّذِي حَدَّثَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَدِيثَهُ فَيَقُولُ الدَّجَّالُ أَرَأَيْتُمْ إِنْ قَتَلْتُ هَذَا ثُمَّ أَحْيَيْتُهُ أَتَشُكُّونَ فِي الْأَمْرِ فَيَقُولُونَ لَا قَالَ فَيَقْتُلُهُ ثُمَّ يُحْيِيهِ فَيَقُولُ حِينَ يُحْيِيهِ وَاللَّهِ مَا كُنْتُ فِيكَ قَطُّ أَشَدَّ بَصِيرَةً مِنِّي الْآنَ قَالَ فَيُرِيدُ الدَّجَّالُ أَنْ يَقْتُلَهُ فَلَا يُسَلَّطُ عَلَيْهِ قَالَ أَبُو إِسْحَقَ يُقَالُ إِنَّ هَذَا الرَّجُلَ هُوَ الْخَضِرُ عَلَيْهِ السَّلَام و حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الدَّارِمِيُّ أَخْبَرَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ فِي هَذَا الْإِسْنَادِ بِمِثْلِهِ[23]

Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, peringatan Rasulullah SAW terhadap umatnya akan fitnah Dajjal sangat keras, tidak hanya sekedar menakut-nakuti atau mengancam, tetapi Sang Nabi juga memberikan pengajaran untuk berlindung dari fitnah kubra tersebut. Diantara petunjuk-petunjuk yang diajarkan olehnya adalah:

1. Berpegang teguh kepada din al-Islam dan bersenjatakan iman. Mengetahui nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya dengan baik dan tidak bersekutu padanya dengan seorang pun, sehingga dapat mengidentifikasi bahwa Dajjal adalah manusia biasa yang makan dan minum sedang Allah Maha Suci dari semua itu. Dajjal adalah buta sebelah matanya sedangkan Allah tidak,[24] dan sebagainya. 

2. Memohon perlindungan kepada Allah dari fitnah Dajjal, khususnya pada waktu shalat. Hal ini bayak dimuat hadis-hadis shahih.[25]

3. Berlari dan menjauhi Dajjal. Dalam sebuah hadis dijelaskan bahwa Dajjal tidak akan menginjakkan kakinya di Mekkah dan Madinah.

F. Terbunuhnya Dajjal

Kedigdayaan Dajjal yang berlangsung sekian lama akan mulai tergusur tatkala Isa Al-Masih diturunkan oleh Allah SWT untuk mengembalikan dan menyelamatkan umat manusia kepada agama yang fitrah yaitu agama Islam. Nabi Isa a.s. turun di menara putih di timur Masjid Jami’ Al-Umawi Damaskus. 

Imam Ahmad meriwayatkan dari Jabir bin Abdullah bahwa ia berkata: telah bersabda Rasulullah SAW,” Dajjal akan keluar pada waktu agama sudah tidak diperhatikan dan ilmu (agama) sudah ditinggalkan orang. Kemudian turunlah Isa Ibnu Maryam, lalu beliau menyeru pada waktu sahur dengan mengatakan, “wahai manusia! Apakah yang menghalangi kamu untuk keluar menghadapi pembohong yang buruk ini? “mereka berkata,” Ini seorang lelaki bangsa jin. “lalu mereka keluar, tiba-tiba mereka jumpai Isa bin Maryam, lantas iqamati untuk shalat dan orang-orang pun berkata kepada beliau, “silahkan anda maju untuk menjadi imam, wahai Ruh Allah.” Beliau menjawab, hendaklah imam dari kalian saja yang maju ke depan untuk menjadi imam. “maka ketika beliau selesai menunaikan shalat shubuh, orang-orang keluar menemui beliau. Maka sang pembohong (Dajjal) melihat beliau, dia meleleh seperti melelehnya garam dalam air. Lalu beliau menuju kepadanya dan membunuhnya, hingga pohon-pohon dan batu-batu berkata,” wahai Ruh Allah! Ini ada orang Yahudi! Maka tidak ada seorang yang mengikuti Dajjal melainkan dibunuhnya.”[26]

Dengan terbunuhnya Dajjal, maka berakhirlah kegelapan dan kedustaan yang mengungkung umat selama fitnah kubra. Bersamaan dengan itu Allah akan menyelamatkan orang-orang yang beriman dari kejahatannya dan kejahatan para pengikutnya melalui tangan Ruh Allah dan kalimat-Nya, yaitu Isa Ibnu Maryam dan pengikut-pengikut beliau yang beriman. 

Kesimpulan

Setidaknya terdapat beberapa hal yang perlu direnungkan dalam memahami Al-Masih Al-Dajjal. Yaitu:

· Dajjal merupakan makhluk Allah yang diutus untuk menguji ketahanan keimanan umatnya. Ia merupakan suatu peringatan bagi hambanya agar selalu tetap berada pada jalan Allah yaitu al-din al-Islam. Dan merupakan simbol kehancuran dunia.

· Pengetahuan fundamental yang harus dipahami dalam membedakan kedigdayaan Dajjal dan kekuasaan Allah adalah sisi fisikya. Allah tidak akan pernah dilihat oleh mata telanjang hambanya di dunia ini, sedangkan Dajjal dan perawakan dan kebutaannya manusia dapat melihatnya. Dan ia adalah pembohong yang harus ditolak ajakan dan ajarannya. 





Daftar Pustaka

Abdullah, Malik bin Anas Abu. Al-Muwatta’ li Imam Ahmad. CD ROM. Mausuah Kutub Al-Tis’ah.

Al-Adnani, Abu Fatiah. Dajjal sudah Muncul dari Khurasan. Solo: Granada Mediatama, 2006.

Al-Asqalani, Ahmad bin Ali bin Hajar Abu Al-Fadl. Fath Al-Bari fi Syarh Shahih Bukhari. CD ROM Al-maktabah Al-Syamilah.

Al-A’la, Muhammad bin Abdurrahman bin Abdurrahim Abu. Tuhfatul Ahwadzi Fi Syarkhi Jami’ Al-Tirmidzi. CD ROM. Al-Maktabah Al-Syamilah. 

Al-Bany, Muhammad Nashiruddin. Qishshah Al-Masih Al-Dajjal wa Nuzuli Isa Alaihi Al-Salam. al-Maktabah al-Syamilah.

Al-Bukhari, Muhammad bin Ismain Abu Abdullah. al-Jami’ al-Shahih li al-Bukhari. CD ROM Mausuah Kutub Al-Tis’ah

Al-Naisaburi, Abu Al-Husain Muslim bin Al-Hajjaj bin Muslim Al-Qusyairi. Al-Jami’ Al-Shahih li Muslim. CD ROM Al-maktabah Al-Syamilah.

Marzuki, Choiran A.. Qiamat; Surga dan Neraka. Yogyakarta: Mitra Pustaka, 1997.

...Al-Muntaqa Syarkh Muwatta’.








[1] Kejadian-kejadian yang meliputi hari kiamat dapat dipahami dari bab-bab yang terdapat pada kitab hadis yang khusus membicarakan hal tersebut. Biasanya terdapat pada sub bab dengan tema “ma la taqumu al-Sa’ah illa bih” 


[2] Choiran A. Marzuki, Qiamat; Surga dan Neraka, (Yogyakarta: Mitra Pustaka, 1997), hal. 66 


[3] Julukan Al-Masih yang diartikan orang yang suka kepada kebenaran diberikan kepada nabi Isa Ibnu Maryam a.s. 


[4] Ahmad bin Ali bin Hajar Abu Al-Fadl Al-Asqalani, Fath Al-Bari fi Syarh Shahih Bukhari, CD ROM Al-maktabah Al-Syamilah, 20: 132. 


[5] Hadis riwayat Imam Bukhari. Lihat: Al-Bukhari, al-Jami’ al-Shahih li al-Bukhari, CD ROM Al-maktabah al-Syamilah. Bab wadzkur fi kitabi Maryam, hadis no: 3184. 


[6] Baca: Al-Muntaqa Syarkh Muwatta’, Juz II, hlm. 2. 


[7] Penggunaan kata Dajjal kemudian dipakai beberapa ahli hadis, khususnya ahli Rijal dalm menilai keburukan/kejelekan seorang perawi 


[8] Dalam pembahasan hadis-hadis tentang fitnah Imam Bukhari yang kemudian diikuti oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani sebagai pensyarah kitab, menuliskan hadis-hadis tersebut dalam satu bab tersendiri yang salah satu sub babnya berbicara tentang fitnah Dajjal. 


[9] Imam Malik, Al-Muwatta’, CD ROM. Mausuah Kutub Al-Tis’ah, nomor: 450. 


[10] Abu Fatiah Al-Adnani, Dajjal sudah Muncul dari Khurasan”, (Solo: Granada Mediatama, 2006), hlm. 70-73. 


[11] Muhammad Nashiruddin Al-Bany, Qishshah Al-Masih Al-Dajjal wa Nuzuli Isa Alaihi Al-Salam, al-Maktabah al-Syamilah. 


[12] Terdapat riwayat yang menunjukkan proses kemunculan Dajjal pertama kali, Rasululah SAW bersabda sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Umamah Al-Bahili,”Di awal kemunculanya ia berkata “Aku adalah Nabi”, padahal tidak ada nabi setelahku. Kemudian ia memuji dirinya sambil berkata , “Aku adalah Rab kalian”, padahal kalian tidak dapat melihat Rabb kalian sehingga kalian mati. 


[13] Muhammad Nashiruddin Al-Bany, Qishshah... 


[14] Sebagaimana dijelaskan dalam berbagai riwayat tentang kemunculan Dajjal setelah penaklukan Baitul Maqdis. 


[15] Ashbahan atau Isfahan adalah nama salah satu kota terkenal di Iran, yang terletak di Syairaz dan Taheran. 


[16] Abu Fatiah Al-Adnani, Dajjal...hlm. 109. 


[17] H.R. Muslim dan Ahmad dari Ibnu Umar. Lihat bab Al-Fitan wa Al-Malahim: 92. 


[18] Lihat Fath Bari: 13. 91. 


[19] Jami’ Al-Tirmidzi dalam Syarahnya Tuhfatul Ahwadzi, VI: 495. 


[20] Al-Nihayah fi Fitan wa Al-Malahim, I: 128. 


[21] H.R. Muslim bab Fi Baqiyyah min Hadis Dajjal, no: 5237. 


[22] Baca: Abu Fatiah Al-Adnani, Dajjal...hlm.127. 


[23] Hadis tersebut menunjukkan keperkasaan fitnah Dajjal dalam membunuh orang mukmin untukm kemudian dihidupkan kembali demi mensukseskan misinya yaitu iman kepadanya. H.R. Muslim bab Fi Shifati Al-Dajjal wa Tahrim Al-Madinah fihi wa Qatlahu Al-Mu’min wa Ihya’uh. CD ROM. Mausuah Kutub Al-Tis’ah, no: 5229. 


[24] Petunjuk ni dapat dipahami dari H.R. Imam Bukhari. Lihat: Al-Bukhari, al-Jami’ al-Shahih li al-Bukhari, CD ROM Al-maktabah al-Syamilah. Bab wadzkur fi kitabi Maryam, hadis no: 3184. 


[25] Sebagaimana do’a nabi yang termuat pada hadis riwayat Bukhari nomor: 789. Yang artinya ”...Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari adzab kubur, dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah Al-Masih Al-Dajjal..” 


[26] Al-Fathur Rabbani Tartib Musnad Ahmad 24: 85-86, dalam, Baca: Abu Fatiah Al-Adnani, Dajjal...hlm.13o.


0 Response to "Benarkah Kedatangan Dajjal, Tanda dan ciri Kiamat?"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!