Biografi Karya dan Pemikiran Ahmad bin Hanbal di Bidang Hadis

Advertisement
Biografi Karya dan Pemikiran Ahmad bin Hanbal
di Bidang Hadis

Para Ulama’ sudah bersepakat bahwasanya dasar hukum Islam itu ada empat macam, yakni al-Qur’an, Hadits, Ijma’, dan Qiyas. Mereka mengira dalam sumber tersebut tidaklah ditemukan hal yang kontroversi di dalamnya, padahal setelah diselami secara mendalam, maka hukum tidaklah bersifat Ilahiyah karena sudah kita ketahui bersama dalam kaidah ushul fiqh kalau hukum itu berjalan sesuai dengan illatnya. Dapat difahami secara singkat bahwa hukum itu sifatnya berubah.

Di antara ulama’ fiqh yang terkenal dengan sebutan Madzahib al-Arba’ah adalah Imam Abu Hanifah, Imam Syafi’i, Imam Hanbali, dan Imam Malik. Empat Ulama’ tersebut mayoritas dianut oleh masyarakat Indonesia, mereka dalam menetapkan hukum sangat berbeda, akan tetapi mereka mempunyai argument masing-masing itu merupakan hal yang wajar. Apakah dikarenakan lokasi mereka yang tidak sama atau memang waktunya dalam menerapkan hukum tersebut? Karena fiqh itu salah satu sifatnya adalah lokalistik.

Imam Hanbali adalah Imam yang termuda di antara ke empat ulama’ tersebut, beliau bukan hanya ahli di bidang fiqh saja, akan tetapi dalam bidang Hadits. Beliau dikenal sebagai Ulama’ yang terkemuka, Apalagi dalam kitab karangan beliau yang terkenal “Musnad Ahmad bin Hanbal” yang merupakan salah satu kitab Hadits yang bersifat primer (meskipun hanya termasuk al-Kutub al-Tis’ah) karena didalamnya terdapat banyak Hadits-Hadits yang sudah disusun berdasarkan nama Shahabat, bukan dari nomor Haditsnya. Misalnya Shahabat Anas bin Malik, maka di situ akan dicantumkan Hadits-Hadits yang diriwayatkan oleh Anas tersebut.

Biografi Karya dan Pemikiran Ahmad bin Hanbal

Salah satu metode takhrij Hadits adalah melalui nama rawi (Shahabat). Salah satu kitab yang dijadikan rujukan buat mencari data yang ingin kita inginkan adalah kitab-kitab Musnad, di antaranya kitab Musnad Ahmad bin Hanbal. Sementara cara yang lain adalah dengan mengetahui sebagian lafadh, awal lafadh, dan lain-lain, yang kesemuanya itu sudah kita bahas dalam kajian Ulum al-Hadits.

A. BIOGRAFI AHMAD BIN HANBAL

Ia adalah Syaikhul Islam dan Penghulu kaum Muslimin pada masanya, al-Hafizh, al-Hujjah, Imam, Qudwah, orang yang disepakati keagungan kedudukannya oleh yang pro maupun kontra. Nama lengkapnya adalah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal bin Asad bin Idris bin Abdullah bin Hayyan bin Abdullah bin Anas bin Auf bin Qasith bin Mazin bin Syaiban[1] bin Zulal bin Ismail bin Ibrahim. Beliau lahir pada tanggal 20[2] bulan Rabi’ul awal tahun 164 H atau November 780 M di kota Maru/Merv -kota kelahiran ibu- Baghdad. Beliau wafat pada hari jum’at bulan Rabi’ul Awal[3] tahun 241 H (855 M) di kota kelahirannya, Baghdad. Laqabnya adalah al-Syaibany[4] al-Marwazy[5] al-Dzuhly al-Baghdady. Beliau merupakan keturunan Arab dari suku Bani Syaiban, sementara kunyahnya adalah Abu Abdillah. Ibunya bernama Shafiyyah binti Maimunah binti Abdul Malik al-Syaibany.

Ketika beliau baru berumur tiga tahun. Kakek beliau, Hanbal, berpindah ke wilayah Khurasan dan menjadi wali kota Sarkhas pada masa pemeritahan Bani Umawiyyah, kemudian bergabung ke dalam barisan pendukung Bani Abbasiyah dan karenanya ikut merasakan penyiksaan dari Bani Umawiyyah. Disebutkan bahwa beliau dahulunya adalah seorang panglima. Nasab beliau bertemu dengan nasab Nabi pada diri Nizar bin Ma’ad bin Adnan yang berarti bertemu nasab pula dengan Nabi Ibrahim.

Masa Ahmad bin Hanbal Menuntut Ilmu

Beliau menimba ilmu di kota Baghdad sejak kecil. Saat itu, kota Baghdad telah menjadi pusat peradaban dunia Islam, yang penuh dengan manusia yang berbeda asalnya dan beragam kebudayaannya, serta penuh dengan beragam jenis ilmu pengetahuan. Di sana tinggal para qari’, ahli Hadits, para sufi, ahli bahasa, filosof, dan sebagainya. Beliau sudah disekolahkan kepada seorang ahli qira’at, pada usia yang masih dini beliau sudah bisa menghafal al-Qur’an. Pada usia 16 tahun[6] beliau juga berguru pada Abu Yusuf, seorang Ahl al-Ra’yi dan salah satu sahabat Abu Hanifah dalam bidang Hadits. Abu Yusuf adalah seorang hakim agung pada pemerintahan Bani Abbasiyah.

Imam Ahmad tertarik untuk menulis Hadits pada tahun 179 H. saat berumur 16 tahun. Beliau terus berada di kota Baghdad mengambil Hadits dari syaikh-syaikh Hadits kota itu hingga tahun 186 H. Beliau melakukan mulazamah kepada syaikhnya, Hasyim bin Basyir bin Abu Hazim al-Wasithiy hingga syaikhnya tersebut wafat tahun 183 H. Disebutkan oleh putra beliau bahwa beliau mengambil Hadits dari Hasyim sekitar 300.000 Hadits lebih. Beliau mulai melakukan perjalanan (mencari hadits) ke Kufah pada tahun 183 H, ke Bashrah pada tahun 186 H, ke Makkah pada tahun 187 H, kemudian ke Madinah, Yaman, Syria, dan Mesopotamia pada tahun 197 H.

Imam Ahmad tumbuh dewasa sebagai seorang anak yatim. Ibunya, Shafiyyah binti Maimunah binti Abdul Malik al-Syaibaniy, berperan penuh dalam mendidik dan membesarkan beliau. Untungnya, sang ayah, bernama Muhammad yang berasal dari tentara Marwa, yang mana beliau wafat dalam usia muda, 30 tahun meninggalkan untuk mereka dua buah rumah di kota Baghdad. Yang sebuah mereka tempati sendiri, sedangkan yang sebuah lagi mereka sewakan dengan harga yang sangat murah.

Dalam hal ini, keadaan beliau sama dengan keadaan syaikhnya, Imam Syafi’i, yang yatim dan miskin, tetapi tetap mempunyai semangat yang tinggi. Keduanya juga memiliki ibu yang mampu mengantar mereka kepada kemajuan dan kemuliaan. Beliau baru menikah setelah berumur 40 tahun[7] dan memiliki dua orang putera yang terkenal ahli dalam bidang Hadits yaitu Shalih dan Abdullah. Kedua anaknya juga ikut peran andil, yakni memasukkan sejumlah Hadits dalam Musnad ayahnya.

Guru-guru Ahmad bin Hanbal

Guru-gurunya adalah Hasyim, Sufyan bin Uyainah al-Hilaly, Ibrahim bin Sa’d,[8] Jarir bin Abdul Hamid, Yahya al-Qattan dan Waqi’, Abu Daud al-Tayalisy, Abdurrahman bin al-Mahdy,[9] Husyaim bin Basyir,[10] Jawwad, ‘Ubbad bin Ibad al-Mahlaby, Mu’tamar bin Sulaiman al-Taimy, Ayyub bin Najjar, Yahya bin Abu Zaidah, Ali bin Hasyim bin al-Barid, Qarran bin Tamam, Ammar bin Muhammad al-Tsaury, Abu Yusuf, Jabir bin Nuh al-Hammany, Ali bin Gharrab, Umar bin Ubaid al-Thanafisy, dua saudara dari Ya’la, Muhammad, Mutholib bin Ziyad, Yusuf bin al-Majizun, Khalid bin al-Harits, Basyr bin al-Mufadhal, ‘Ibad bin al-Awwam, Abu Bakar bin ‘Iyasy, Muhammad bin Abdurrahman al-Thafawy, Abdul Aziz bin Abdul Shamit al-Ammy, Abdah bin Sulaiman, Yahya bin Abdul Malik bin Abi Ghaniyyah, Nadlar bin Ismail al-Bajaly, Abu Khalid al-Ahmar, Ali bin Tsabit al-Jazary, Abu Ubaidah al-Haddad, Ubaidah bin Humaid al-Hadza’, Muhammad bin Salmah al-Harrany, Abu Muawiyah al-Dlarir, Abdullah bin Idris, Marwan bin Muawiyah, Ghundar, Ibnu ulayyah, Mukhlid bin Yazid al-Harrany, Hafsh bin Ghiyats, Abdul Wahab al-Tsaqafy, Muhammad bin Fudlail, Abdurrahman bin Muhammad al-Mahariby, Walid bin Muslim, Yahya bin Sulaim,[11] Muhammad bin Yazid al-Wasithy, Muhammad bin al-Hasan al-Muzny al-Wasithy, Yazid bin Harun, Ali bin ashim, Syu’aib bin Harb, Miskin bin Bukair, Anas bin ‘iyadl al-Laitsy, Ishaq bin al-Azraq, Muadz bin Muadz, Muhammad bin Basyr, Zaid bin al-Hubbab, Muadz bin Hiayam, Abdul A’la al-Syami, Muhammad bin Abu Ady, Abdullah bin Numair, Abdullah bin Bakr, Muhammad bin Idris, al-Syafi’i, Abu Ashim, Abdur Razzaq, Abu Na’im, Affan, Husain bin Ali al-Ju’fy, Abu al-Nadlr, Yahya bin Adam, Abu Abdurrahman al-Muqri’, Hajjaj bin Muhammad, Abu ‘Amir al-Aqdy, Abdus Shamad bin Abdul Warits, Rauh bin Ubadah, Aswad bin Amir, Wahab bin Jarir, Yunus bin Muhammad, Sulaiman bin Harb, Ya’qub bin Ibrahim bin Sa’d, Qutaibah bin Sa’id, Ali bin al-Madiny, Abu Bakar bin Abu Syaibah, Harun bin Ma’ruf,[12] dan lain-lain.

Murid-murid Ahmad bin Hanbal

Murid-muridnya adalah Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Muslim bin al-Hajjaj al-Naisabury, Abu Daud, Ibn Mahdi, al-Syafi’i, Abul Walid, Abdur Razaq, Waki’, Yahya bin Ma’in, Ali bin al-Madiny, al-Husai bin Mansyur,[13] Ahmad bin al-Hasan, Ibnu Majah, al-Nasa’i, al-Turmudzi, dua anak beliau (Shalih dan Abdullah), sepupunya (Hanbal bin Ishaq), Abdul Razaq, al-Hasan bin Musa al-Asyab, Abu Abdillah al-Syafi’i, Ali bin al-Madiny, Yahya bin Muayyan, Duhaim, Ahmad bin Shalih, Ahmad bin Abu al-Hawary, Muhammad bin Yahya al-Dzahily, Ahmad bin Ibrahim al-Dauraqy, Ahmad bin al-Farrat, al-Hasan bin al-Shabah al-Bazzar, al-Hasan bin Muhammad bin al-Shabah al-Za’farany, Hajjaj bin al-Syair, Raja’ bin Murajja, Salmah bin Syabib, Abu Qalabah al-Raqasyi, al-Fadhl bin Sahl al’A’raj, Muhammad bin Manshur al-Thusy, Ziyad bin Ayyub, Abbas al-Daury, Abu Zar’ah, Abu Hatim, Harb bin Ismail al-Kirmany, Ishaq al-Kusaj, Abu Bakar al-Atram, Ibrahim al-Harby, Abu Bakar al-Murawwidzi, Abu Zar’ah al-Dimasyqy, Baqy bin Mukhlid, Ahmad bin Ashram al-Mughfily, Ahmad bin Manshur al-Ramady, Ahmad bin Mula’ib, Ahmad bin Abu Khaitsumah, Musa bin Harun, Ahmad bin Ali al-Abbar, Muhammad bin Abdullah Muthayyan, Abu Thalib Ahmad bin Humaid, Ibrahim bin Hani’ al-Naisabury, anaknya (Ishaq bin Ibrahim), Badar al-Maghazily, Zakaria bin Yahya al-Naqid, Yusuf bin Musa al-Harby, Abu Muhammad Fauran, ‘Ubdus bin Malik al-‘Athar, Ya’qub bin Bukhtan, Muhanni bin Yahya al-Syami, Hamdan bin Ali al-Warraq, Ahmad bin Muhammad al-Qadly al-Burty, al-Husain bin Ishaq al-Tustary, Ibrahim bin Muhammad bin al-Harits al-Ashbahany, Ahmad bin Yahya Tsa’lab, Ahmad bin al-Hasan bin Abdul Jabbar al-Shufy, Idris bin Abdul Karimal-Haddad, Umar bin Hafsh al-Sadusy, Abu Abdullah Muhammad bin Ibrahim al-Busanjy, Muhammad bin Abdurrahman al-Samy, Abdullah bin Muhammad al-Baghawy,[14] dan lain-lain.

B. MIHNAH DAN KEHIDUPAN POLITIK AHMAD BIN HANBAL

Keteguhan di Masa Penuh Cobaan:

Telah menjadi keniscayaan bahwa kehidupan seorang mukmin tidak akan lepas dari ujian dan cobaan, terlebih lagi seorang alim yang berjalan di atas jejak para nabi dan rasul. Dan Imam Ahmad termasuk di antaranya. Beliau mendapatkan cobaan dari tiga orang khalifah Bani Abbasiyah selama rentang waktu 16 tahun.

Pada masa pemerintahan Bani Abbasiyah, dengan jelas tampak kecondongan khalifah yang berkuasa menjadikan unsur-unsur asing (non-Arab) sebagai kekuatan penunjang kekuasaan mereka. Khalifah al-Makmun menjadikan orang-orang Persia sebagai kekuatan pendukungnya, sedangkan al-Mu’tashim memilih orang-orang Turki. Akibatnya, justru sedikit demi sedikit kelemahan menggerogoti kekuasaan mereka. Pada masa itu dimulai penerjemahan ke dalam bahasa Arab buku-buku falsafah dari Yunani, Rumania, Persia, dan India dengan sokongan dana dari penguasa. Akibatnya, dengan cepat berbagai bentuk bid’ah merasuk menyebar ke dalam akidah dan ibadah kaum muslimin. Berbagai macam kelompok yang sesat menyebar di tengah-tengah mereka, seperti Qadhariyah, Jahmyah, Asy’ariyah, Rafidhah, Mu’tazilah, dan lain-lain.

Kelompok Mu’tazilah, secara khusus, mendapat sokongan dari penguasa, terutama dari Khalifah al-Makmun. Mereka, di bawah pimpinan Ibnu Abi Daud, mampu mempengaruhi al-Makmun untuk membenarkan dan menyebarkan pendapat-pendapat mereka, di antaranya pendapat yang mengingkari sifat-sifat Allah, termasuk sifat kalam (berbicara). Berangkat dari pengingkaran itulah, pada tahun 212, Khalifah al-Makmun kemudian memaksa kaum muslimin, khususnya ulama mereka, untuk meyakini kemakhlukan al-Qur’an.

Sebenarnya Harun al-Rasyid, khalifah sebelum al-Makmun, telah menindak tegas pendapat tentang kemakhlukan al-Qur’an. Selama hidupnya, tidak ada seorang pun yang berani menyatakan pendapat itu sebagaimana dikisahkan oleh Muhammad bin Nuh, Aku pernah mendengar Harun al-Rasyid berkata, Telah sampai berita kepadaku bahwa Bisyr al-Muraisiy mengatakan bahwa al-Qur’an itu makhluk. Merupakan kewajibanku, jika Allah menguasakan orang itu kepadaku, niscaya akan aku hukum bunuh dia dengan cara yang tidak pernah dilakukan oleh seorang pun?? Tatkala Khalifah al-Rasyid wafat dan kekuasaan beralih ke tangan al-Amin, kelompok Mu’tazilah berusaha menggiring al-Amin ke dalam kelompok mereka, tetapi al-Amin menolaknya. Baru kemudian ketika kekhalifahan berpindah ke tangan al-Makmun, mereka mampu melakukannya.

Untuk memaksa kaum muslimin menerima pendapat kemakhlukan al-Qur’an, al-Makmun sampai mengadakan ujian kepada mereka. Selama masa pengujian tersebut, tidak terhitung orang yang telah dipenjara, disiksa, dan bahkan dibunuhnya. Ujian itu sendiri telah menyibukkan pemerintah dan warganya baik yang umum maupun yang khusus. Ia telah menjadi bahan pembicaraan mereka, baik di kota-kota maupun di desa-desa di negeri Irak dan selainnya. Telah terjadi perdebatan yang sengit di kalangan ulama tentang hal itu. Tidak terhitung dari mereka yang menolak pendapat kemakhlukan al-Qur’an, termasuk di antaranya Imam Ahmad. Beliau tetap konsisten memegang pendapat yang hak, bahwa al-Qur’an itu kalamullah, bukan makhluk.

Al-Makmun bahkan sempat memerintahkan bawahannya agar membawa Imam Ahmad dan Muhammad bin Nuh ke hadapannya di kota Thursus. Kedua ulama itu pun akhirnya digiring ke Thursus dalam keadaan terbelenggu. Muhammad bin Nuh meninggal dalam perjalanan sebelum sampai ke Thursus, sedangkan Imam Ahmad dibawa kembali ke Bagdad dan dipenjara di sana karena telah sampai kabar tentang kematian al-Makmun (tahun 218). Disebutkan bahwa Imam Ahmad tetap mendoakan al-Makmun.

Sepeninggal al-Makmun, kekhalifahan berpindah ke tangan putranya, al-Mu’tashim. Dia telah mendapat wasiat dari al-Makmun agar meneruskan pendapat kemakhlukan al-Qur’an dan menguji orang-orang dalam hal tersebut; dan dia pun melaksanakannya. Imam Ahmad dikeluarkannya dari penjara lalu dipertemukan dengan Ibnu Abi Duad dan teman-temannya. Mereka mendebat beliau tentang kemakhlukan al-Qur’an, tetapi beliau mampu membantahnya dengan bantahan yang tidak dapat mereka bantah. Akhirnya beliau dicambuk sampai tidak sadarkan diri lalu dimasukkan kembali ke dalam penjara dan mendekam di sana selama sekitar 28 bulan? atau 30-an bulan menurut yang lain-. Selama itu beliau shalat dan tidur dalam keadaan kaki terbelenggu.

Selama itu pula, setiap harinya al-Mu’tashim mengutus orang untuk mendebat beliau, tetapi jawaban beliau tetap sama, tidak berubah. Akibatnya, bertambah kemarahan al-Mu’tashim kepada beliau. Dia mengancam dan memaki-maki beliau, dan menyuruh bawahannya mencambuk lebih keras dan menambah belenggu di kaki beliau. Semua itu, diterima Imam Ahmad dengan penuh kesabaran dan keteguhan bak gunung yang menjulang dengan kokohnya.

Sakit dan Wafat Ahmad bin Hanbal

Pada akhirnya, beliau dibebaskan dari penjara. Beliau dikembalikan ke rumah dalam keadaan tidak mampu berjalan. Setelah luka-lukanya sembuh dan badannya telah kuat, beliau kembali menyampaikan pelajaran-pelajarannya di masjid sampai al-Mu’tashim wafat.

Selanjutnya, al-Watsiq diangkat menjadi khalifah. Tidak berbeda dengan ayahnya, al-Mu’tashim, al-Watsiq pun melanjutkan ujian yang dilakukan ayah dan kakeknya. Dia pun masih menjalin kedekatan dengan Ibnu Abi Daud dan teman-temannya. Akibatnya, penduduk Bagdad merasakan cobaan yang kian keras. Al-Watsiq melarang Imam Ahmad keluar berkumpul bersama orang-orang. Akhirnya, Imam Ahmad bersembunyi di rumahnya, tidak keluar darinya bahkan untuk keluar mengajar atau menghadiri shalat jamaah. Dan itu dijalaninya selama kurang lebih 5 tahun, yaitu sampai al-Watsiq meninggal tahun 232 H.

Sesudah al-Watsiq wafat, al-Mutawakkil naik menggantikannya. Selama 2 tahun masa pemerintahannya, ujian tentang kemakhlukan al-Qur’an masih dilangsungkan. Kemudian pada tahun 234 H, dia menghentikan ujian tersebut. Dia mengumumkan ke seluruh wilayah kerajaannya larangan atas pendapat tentang kemakhlukan al-Qur’an dan ancaman hukuman mati bagi yang melibatkan diri dalam hal itu. Dia juga memerintahkan kepada para ahli hadits untuk menyampaikan hadits-hadits tentang sifat-sifat Allah. Maka demikianlah, orang-orang pun bergembira pun dengan adanya pengumuman itu. Mereka memuji-muji khalifah atas keputusannya itu dan melupakan kejelekan-kejelekannya. Di mana-mana terdengar doa untuknya dan namanya disebut-sebut bersama nama Abu Bakar, Umar bin al-Khaththab, dan Umar bin Abdul Aziz.

Menjelang wafatnya, beliau jatuh sakit selama sembilan hari. Mendengar sakitnya, orang-orang pun berdatangan ingin menjenguknya. Mereka berdesak-desakan di depan pintu rumahnya, sampai-sampai sultan menempatkan orang untuk berjaga di depan pintu. Akhirnya, pada permulaan hari Jumat tanggal 12 Rabi’ul Awwal 241 M dalam usia 77 tahun,[15] beliau menghadap kepada rabbnya menjemput ajal yang telah dientukan kepadanya. Kaum muslimin bersedih dengan kepergian beliau. Tak sedikit mereka yang turut mengantar jenazah beliau sampai beratusan ribu orang. Ada yang mengatakan 700 ribu orang, ada pula yang mengatakan 800 ribu orang, bahkan ada yang mengatakan sampai satu juta lebih orang yang menghadirinya. Semuanya menunjukkan bahwa sangat banyaknya mereka yang hadir pada saat itu demi menunjukkan penghormatan dan kecintaan mereka kepada beliau.

C. LATAR BELAKANG METODE AHMAD BIN HANBAL DAN MADZHAB HANBALI


Ahmad bin Hanbal, selain sebagai seorang muhaddits, juga ia terkenal sebagai seorang fuqaha (ahli fiqh) dan menjadi salah satu Imam dari Madzhab Hanbali. Sebagaimana ketiga Imam lainnya; Syafi'i, Hanafi dan Maliki, oleh para muridnya, ajaran-ajaran Imam Ahmad ibn Hanbal dijadikan patokan dalam amaliyah (praktek) ritual, khususnya dalam masalah fiqh. Sebagai pendiri madzhab tersebut, Imam Hanbali memberikan perhatian khusus pada masalah ritual keagamaan, terutama yang bersumber pada Sunnah.

Menurut Ibnu Qayyim, salah seorang pengikut madzhab Hanbali, ada lima landasan pokok yang dijadikan dasar penetapan hukum dan fatwa madzhab Hanbali antara lain:[16]

Nash (Al-Qur'an dan Sunnah). Jika ia menemukan nash, maka ia akan berfatwa dengan Al-Qur'an dan Sunnah dan tidak berpaling pada sumber lainnya.

fatwa sahabat yang diketahui tidak ada yang menentangnya.

jika para sahabat berbeda pendapat, ia akan memilih pendapat yang dinilainya lebih sesuai dengan Al-Qur'an dan Sunnah Nabi SAW. Jika ternyata pendapat yang ada tidak jelas persesuaiannya dengan Al-Qur'an dan Sunnah, maka ia tidak akan menetapkan salah satunya, tetapi mengambil sikap diam atau meriwayatkan kedua-duanya.

mengambil Hadits mursal (Hadits yang dalam sanadnya tidak disebutkan nama perawinya), dan Hadits dla’if (Hadits yang lemah, namun bukan maudlu')

Qiyas, atau analogi, digunakan bila tidak ditemukan dasar hukum dari keempat sumber di atas.

Pada awalnya madzhab Hanbali hanya berkembang di Baghdad. Baru pada abad ke-6 H, madzhab ini berkembang di Mesir. Perkembangan pesat terjadi pada abad ke-11 dan ke-12 H, berkat usaha Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) dan Ibnu Qayyim (w. 751 H). Kedua tokoh inilah yang membuka mata banyak orang untuk memberikan perhatian pada fiqh madzhab Hanbali, khususnya dalam bidang muamalah. Kini, madzhab tersebut banyak dianut umat Islam di kawasan Timur Tengah.

D. PUJIAN DAN PENGHORMATAN ULAMA’ LAIN TERHADAP IMAM AHMAD BIN HANBAL

Menurut Imam al-Syafi’i: sewaktu beliau meninggalkan kota Iraq, Baghdad, sementara itu tidak aku tinggalkan di kota tersebut orang yang lebih wara’, lebih faqih, dan lebih bertakwa dari pada Ahmad bin Hanbal.

Qutaibah berkata: Sufyan al-Tsauri wafat, maka hilanglah kewara’an ummat. Imam Syafi’i wafat, maka hilanglah sunnah-sunnah dan Imam Ahmad wafat menyebarlah kebid’ahan. Imam Ahmad adalah Ulama’ pewaris Nabi yang benar menempati posisinya sebagai penuntun ummat.

Ishaq bin Rahawaih: Ahmad bin Hanbal adalah Hujjah antara Allah dengan Hamba-Nya di ruang lingkup bumi ini.

Yahya bin Muayyan: Ahmad bin Hanbal adalah seorang yang ahli Hadits, Hafal al-Qur’an, Alim, Wara’, Zuhud, serta berpengetahuan luas. Sebagian dari kita (manusia) menginginkan seperti layaknya Ahmad bin Hanbal yang taqwanya tidak ada yang membandingi dan cara berpikirnya yang logis.

Hilal bin ‘Alâ berkata: Allah swt telah menganugrahkan kepada umat ini dengan empat Imam. Imam Syafi’i, ahli Hadits serta mampu menginterpretasikannya, juga menjelaskan antara yang mujmal dan mufashshal, khusus dan umumnya, nasikh dan mansukhnya. Abi Ubaid yang telah menjelaskan keasingannya. Yahya bin Muayyan telah menghilangkan kebohongan dalam Hadits. Dan Ahmad bin Hanbal yang bersabar dalam mihnah (ujiannya sangat berat), tapi beliau sangat sabar dan istiqamah. Kalaulah tidak ada mereka, maka celakalah ummat ini.

Abu Bakar al-Atsram berkata: “tidaklah aku melihat orang yang paling mengetahui dalam sunnah kecuali Imam Ahmad bin Hanbal”.

Abdurrahman al-Nasâî: “Imam Ahmad bin Hanbal ialah ulama pandai dalam Hadits, fiqh, wara, zuhud dan sabar”

Abdul Wahhab al-Warraq berkata: Aku tidak pernah melihat orang yang seperti Ahmad bin Hanbal. Orang-orang bertanya kepadanya, Dalam hal apakah dari ilmu dan keutamaannya yang engkau pandang dia melebihi yang lain? Al-Warraq menjawab, Dia seorang yang jika ditanya tentang 60.000 masalah, dia akan menjawabnya dengan berkata, “Telah dikabarkan kepada kami atau Telah disampaikan hadits kepada kami”.

Ahmad bin Syaiban berkata: Aku tidak pernah melihat Yazid bin Harun memberi penghormatan kepada seseorang yang lebih besar daripada kepada Ahmad bin Hanbal. Dia akan mendudukkan beliau di sisinya jika menyampaikan Hadits kepada kami. Dia sangat menghormati beliau, tidak mau berkelakar dengannya

Sebagian Ulama’ berpendapat bahwa penganut madzhab Hanbali tidak banyak dikarenakan beliau terlalu keras/ekstrim berpegang pada riwayat. Madzhab Hanbali dipandang tidak dapat mencukupi kebutuhan masyarakat yang menghadapi persoalan yang terus berkembang karena terlalu sempit dalam menggunakan Qiyas, atau istihsan dan Maslahah Mursalah sebagaimana pada madzhab lain.

Menurut Asghar Ali Engineer Imam Abu Hanifah adalah seorang yang liberal dan modernis, sementara Imam Malik seorang yang konservatif (Imam Muhafidhin), Imam Syafi’i seorang moderat dan Imam Ahmad bin Hanbal tergolong kaku dan ortodoks.[17]

E. KITAB MUSNAD AHMAD BIN HANBAL


Kitab Musnad adalah apabila seorang penyusun memasukkan semua Hadits yang pernah dia terima, dengan tanpa adanya penyaringan dan penjelasan tentang tingkatan Hadits-Hadits yang terdapat di dalamnya.[18] Dengan pengertian yang lain kitab Musnad adalah kitab yang Hadits-hadits di dalamnya disebutkan berdasarkan nama Shahabat yang pertama kali masuk Islam, berdasarkan nasab, dan lain-lain yang nantinya akan dijelaskan lebih lanjut.

Imam Ahmad, selain seorang muhadits, fuqaha juga ulama yang produktif dalam tulis menulis, karya beliau yang paling terkenal dan Masterpiecenya ialah al-Musnad sekitar 60 tahun dan itu sudah dimulainya sejak tahun 180 saat pertama kali beliau mencari Hadits. Selain itu ada juga buku yang lainnya, seperti Tafsîr, an-Nâsikh Wa al-Mansûkh, al-Muqaddam wa al-Muakhar Fî Kitâbillâh, Jawâb al-Qur’an, al-Manâsik al-Kabîr, al-Manâsik al-‘Shagîr, kitab al-Radd ala al-Jahmiyah wa al-Zindiqah (Bantahan kepada Jahmiyah dan Zindiqah), dan yang lainnya. Sementara kitab yang tersebar sampai sekarang, yang di himpun kembali oleh Imam Abu Daud dan Rasyid Ridla ialah kitab: Kitâb al-Shalât, Kitâb Shagîr, Kitâb al-‘Sunnah, Risâlatu Shagîrah, Kitâb al-Wara’, Kitâb al-Zuhud, kitab al-‘Ilal wa al-Rijal, kitab al-Asyribah, satu juz tentang Ushul al-Sittah, Fadhail al-Shahabah.dan yang lainnya.

Berbeda dengan Imam Malik dalam kitab Muwaththa’nya, Imam Ahmad bin Hanbal tidak mencantumkan dalam Musnad-nya hal-hal yang berkaitan dengan fiqh para Shahabat maupun Tabi’in. Hadits-Hadits di dalamnya pun hanya memuat yang shahih saja yang ada dalam Kutub al-Sittah, yang mana Hadits Hasan dan Dlaif tidak termasuk di dalamnya. Imam al-Suyuthi berkata: semua yang ada pada Musnad Ahmad itu Haditsnya maqbul, kalau pun di dalamnya ditemukan Hadits yang dlaif maka itu mendekati hasan (bisa dibilang Hadits hasan li ghoiri).[19]

Hal ini sebagaimana yang Ia ungkapkan: “dalam menulis kitab al-Musnad ini, saya bermaksud menghimpun hadits-hadits yang masyhur, sehingga apabila aku bermaksud untuk meriwayatkan seluruh hadits yang shahih menurutku. Maka saya tidak meriwayatkan Musnad ini kecuali sejumlah kecil hadits saja, akan tetapi, aku tidak meninggalkan hadits yang dha’if, jika dalam bab yang bersangkutan tidak ada hadits yang mewakilinya”. Dari sini jelas adanya bahwa dalam Musnad itu terdapat hadits yang dla’if, hal ini sebagaimana diakui oleh Imam Ahmad sendiri.

Seorang yang merupakan satu-satunya Ulama’ Hadits dari Mesir pun mentahqiq kitab Musnad beliau, kemudian mentakhrij Hadits yang terdapat di dalamnya kemudian di kasih tanda titik serta memberikan harokat sehingga muncullah faharis yang dapat memudahkan para pembaca. Syaikh Ahmad bin Abdurrahman mencoba untuk membuat bab-bab yang disandarkan pada Zawaid Abdullah bin Ahmad yang kemudian diberi nama “al-Fath al-Rabbany li Tartibi Musnad Ahmad bin Hanbal al-Syaibany” yang kemudian menjadi 7 bagian,[20] yakni: tauhid dan ushuluddin, fiqh (mencakup al-ibadah, al-muamalah, hukum dan keputusan, adat kebiasaan seseorang dan tingkah lakunya), Tafsir al-Qur’an,[21] al-targhib, al-tarhib, sejarah dan hari kiamat dan keadaan di alam akhirat. Hal ini sangat efektif karena sudah ada tema-tema tersendiri, kitab ini dicetak di Mesir yang berjumlah 24 juz, yang awal percetakannya pada tahun 1353 H yang kemudian berkembang pesat. Kitab tersebut juga sudah diperbanyak oleh team Dar Ihya’ al-Turats al-Araby Beirut-Lebanon[22] yang kemudian dijelaskan pula dalam syarahnya “Bulugh al-Amany min Asror al-Fath al-Rabbany”.

Musnad ini berpatok pada Hadits-Hadits yang ada pada al-Kutub al-Sittah, Mu’jam al-Thabrany al-Kabir, Musnad al-Bazzar, Musnad Abu Ya’la al-Muwashaly, serta atas inspirasi dari Imam Ahmad sendiri.

Selain itu, dalam Ashah-ul Asânîd (silsilatu sanad) Imam Ahmad berbeda dengan Imam-imam sesudahnya, seperti Imam Bukhari. Artinya, Ashah-ul Asanîdnya Imam Ahmad berbeda dengan Ashah-ul Asânîd-nya Imam Bukhari. Seperti asha-ul Asânîd-nya Imam Ahmad dan Ishaq bin Rahawayh ialah Zuhri dari Salim dari bapaknya. Sementara Imam Bukhari ialah Malik dari Nafi’ dari Ibnu Umar.

Latar belakang penulisan kitab Musnad Ahmad bin Hanbal

Pada abad ke-3 H, dimana tidak ditulis kecuali Hadits-Hadits Nabi SAW saja, sehingga mulai disusun kitab-kitab Musnad yang bersih dari fatwa-fatwa, seperti Musnad Imam Ahmad bin Hanbal. Walaupun demikian, masih tercampur dengan Hadits-Hadits dla'if bahkan maudlu', sehingga pada pertengahan abad-III ini para ulama’ membuat kaidah-kaidah dan syarat-syarat Hadits shahih. Sehingga muncul ide-ide untuk mengumpulkan yang shahih-shahih saja yang dipelopori oleh Imam Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Bardizbah al-Bukhari (Imam Bukhari) dengan karyanya Jami' al-Shahih dan disusul oleh muridnya Imam Muslim bin Hajjaj bin Muslim al-Qusyairi an-Naisaburi (Imam Muslim), sehingga abad ini merupakan abad keemasan bagi Hadits dengan munculnya para ahli Hadits terkemuka dan disusunnya Kutub al-Sittah (6 kumpulan Hadits) yang memuat hampir seluruh Hadits-Hadits yang shahih. Maka dari itu Musnad Ahmad bin Hanbal hanya termasuk dalam Kutub al-Tis’ah, karena di dalamnya terdapat Hadits-Hadits yang tidak semuanya berkualitas shahih.

Metode Penyusunan Musnad Ahmad bin Hanbal

Beliau menyusunnya berdasarkan tingkatan keterdahuluan seorang shahabat dalam masuk Islam dan kedudukannya dari aspek keagamaan. Beliau memulai dengan menyebutkan sepuluh shahabat, dengan mendahulukan para khalifah atas yang lainnya, kemudian Ahli Badr, kemudian Ahli Hudaibiah, dst.

Berdasarkan sumbernya, Hadits-Hadits yang terdapat di dalam Musnad Ahmad dapat terbagi menjadi 6 macam:[23]

Hadits yang diriwayatkan Abdullah dari ayahnya, Ahmad bin Hanbal, dengan mendengar langsung. Hadits semacam ini paling banyak jumlahnya.

Hadits yang didengar Abdullah dari ayahnya, Ahmad bin Hanbal, dan dari orang lain. Hadits semacam ini sedikit jumlahnya.

Hadits yang tidak didengar dan tidak dibacakan Abdullah kepada ayahnya, tetapi Abdullah menemukannya dalam kitab sang ayah yang ditulis dengan tangan. Hadits semacam ini juga sedikit jumlahnya.

Hadits yang diriwayatkan Abdullah dari selain ayahnya. Hadits-Hadits ini oleh ahli Hadits disebut Zawaid Abdullah.

Hadits yang diriwayatkan oleh Hafidz Abu Bakar al-Qathi’i, selain Abdullah dan ayahnya al-Imam Ahmad. Ini disebut dengan Zawaid al-Qathi’iy.

Akan tetapi, kami menemukan urutan dalam kitab Musnad Ahmad bin Hanbal adalah sebagai berikut:[24]

§ مسند العشرة المبشرين بالجنة

- 1أخبرنا الشيخ أبو القاسم هبة الله بن محمد عبد الواحد بن أحمد بن الحصين الشيباني قراءة عليه وأنا أسمع فأقر به قال أخبرني أبو علي الحسن بن علي بن محمد التميمي الواعظ ويعرف بابن المذهب قراءة من أصل سماعه قال أخبرنا أبو بكر أحمد بن جعفر بن حمدان بن مالك القطيعي قراءة عليه قال ثنا أبو عبد الرحمن عبد الله بن أحمد بن محمد بن حنبل رضي الله عنهم قال حدثني أبي أحمد بن محمد بن حنبل بن هلال بن أسد من كتابه قال حدثنا عبد الله بن نمير قال أخبرنا إسماعيل يعني بن أبي خالد عن قيس قال قام أبو بكر رضي الله عنه فحمد الله وأثنى عليه ثم قال : يا أيها الناس إنكم تقرؤون هذه الآية { يا أيها الذين آمنوا عليكم أنفسكم لا يضركم من ضل إذا اهتديتم } وأنا سمعنا رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول إن الناس إذا رأوا المنكر فلم يغيروه أوشك أن يعمهم الله بعقابه

تعليق شعيب الأرنؤوط : إسناده صحيح على شرط الشيخين

§ مسند الصحابة بعد العشرة

1702 - حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا محمد بن أبي عدى عن سليمان يعنى التيمي عن أبي عثمان عن عبد الرحمن بن أبي بكر قال : جاء أبو بكر رضي الله عنه بضيف له أو بأضياف له قال فأمسى عند النبي صلى الله عليه و سلم قال فلما أمسى قالت له أمي احتبست عن ضيفك أو أضيافك مذ الليلة قال أما عشيتهم قالت لا قالت قد عرضت ذاك عليه أو عليهم فأبوا أو فأبى قال فغضب أبو بكر وحلف أن لا يطعمه وحلف الضيف أو الأضياف أن لا يطعموه حتى يطعمه فقال أبو بكر ان كانت هذه من الشيطان قال فدعا بالطعام فأكل وأكلوا قال فجعلوا لا يرفعون لقمة الا ربت من أسفلها أكثر منها فقال يا أخت بني فراس ما هذا قال فقالت قرة عيني انها الآن لأكثر منها قبل ان نأكل قال فأكلوا وبعث بها إلى النبي صلى الله عليه و سلم فذكر أنه أكل منها

تعليق شعيب الأرنؤوط : إسناده صحيح على شرط الشيخين

§ مسند أهل البيت

1718 - حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا وكيع ثنا يونس بن أبي إسحاق عن بريد بن أبي مريم السلولي عن أبي الحوراء عن الحسن بن على قال : علمني رسول الله صلى الله عليه و سلم كلمات أقولهن في قنوت الوتر اللهم أهدني فيمن هديت وعافني فيمن عافيت وتولني فيمن توليت وبارك لي فيما أعطيت وقني شر ما قضيت فإنك تقضى ولا يقضى عليك إنه لا يذل من واليت تباركت ربنا وتعاليت

تعليق شعيب الأرنؤوط : إسناده صحيح رجاله كلهم ثقات

§ ومن مسند بنى هاشم

1763 - حدثنا عبد الله حدثني أبى ثنا وكيع ثنا سفيان عن عبد الملك بن عمير عن عبد الله بن الحرث عن العباس بن عبد المطلب انه قال : يا رسول الله عمك أبو طالب كان يحوطك ويفعل قال انه في ضحضاح من النار ولولا انا كان في الدرك الأسفل من النار

تعليق شعيب الأرنؤوط : إسناده صحيح على شرط الشيخين

§ مسند المكثرين من الصحابة

3548 - حدثنا أبو عبد الرحمن عبد الله بن أحمد بن محمد بن حنبل حدثني أبي ثنا هشيم ثنا مغيرة عن إبراهيم ثنا عبد الرحمن بن يزيد قال : رأيت بن مسعود رمى الجمرة جمرة العقبة من بطن الوادي ثم قال هذا والذي لا إله غيره مقام الذي أنزلت عليه سورة البقرة

تعليق شعيب الأرنؤوط : صحيح

§ مسند المكيين

15335 - حدثنا أبو عبد الرحمن عبد الله بن أحمد بن محمد بن حنبل بن هلال بن أسد الشيباني قال حدثني أبي أحمد بن محمد بن حنبل بن هلال بن أسد قال ثنا سفيان بن عيينة عن عبد الكريم عن عبد الله بن الحرث قال زوجني أبي في إمارة عثمان فدعا نفرا من أصحاب رسول الله صلى الله عليه و سلم فجاء صفوان بن أمية وهو شيخ كبير فقال إن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال : انهسوا اللحم نهسا فإنه أهنأ وأمرأ أو أشهى وأمرأ قال سفيان الشك مني أو منه

تعليق شعيب الأرنؤوط : حسن لغيره وهذا إسناد ضعيف لضعف عبد الكريم : وهو ابن أبي المخارق أبو أمية البصري وبقية رجاله ثقات رجال الشيخين

§ مسند المدنيين

16134 - حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا سفيان بن عيينة عن صفوان بن سليم عن نافع بن جبير عن سهل بن أبي حثمة يبلغ به النبي صلى الله عليه و سلم قال وقال سفيان مرة ان رسول الله صلى الله عليه و سلم قال : إذا صلى أحدكم إلى سترة فليدن منها ما لا يقطع الشيطان عليه صلاته

تعليق شعيب الأرنؤوط : إسناده صحيح رجاله ثقات رجال الشيخين

§ مسند الشاميين

16863 - حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا يزيد بن عبد ربه ثنا بقية بن الوليد حدثني ثور بن يزيد عن صالح بن يحيى بن المقدام بن معدي كرب عن أبيه عن جده عن خالد بن الوليد قال : نهى رسول الله صلى الله عليه و سلم عن أكل لحوم الخيل والبغال والحمير

تعليق شعيب الأرنؤوط : إسناده ضعيف

§ مسند الكوفيين

18114 - حدثنا عبد الله بن أحمد بن محمد بن حنبل حدثني أبي ثنا عفان ثنا حماد بن سلمة انا عاصم بن بهدلة عن زر بن حبيش قال غدوت على صفوان بن عسال المرادي أسأله عن المسح على الخفين فقال ما جاء بك قلت ابتغاء العلم قال الا أبشرك ورفع الحديث إلى رسول الله صلى الله عليه و سلم قال : ان الملائكة لتضع أجنحتها لطالب العلم رضا بما يطلب فذكر الحديث

تعليق شعيب الأرنؤوط : إسناده حسن من أجل عاصم بن بهدلة

§ مسند الأنصار

21123 - حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا يحيى بن سعيد عن سفيان حدثني حبيب يعنى بن أبي ثابت عن سعيد بن جبير عن بن عباس رضي الله عنهما قال : قال عمر علي أقضانا وأبي أقرؤنا وإنا لندع من قول أبي وأبي يقول أخذت من فم رسول الله صلى الله عليه و سلم فلا أدعه والله يقول { ما ننسخ من آية أو ننسها }

تعليق شعيب الأرنؤوط : إسناده صحيح على شرط الشيخين

§ باقي مسند الأنصار

22193 - حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا هدبة بن خالد ثنا همام بن يحيى وحماد بن الجعد عن قتادة عن أيمن عن أبي أمامة عن النبي صلى الله عليه و سلم : مثله أو نحوه

تعليق شعيب الأرنؤوط : حسن لغيره وهذا إسناد ضعيف لجهالة أيمن - وهو ابن مالك الأشعري

§ مسند القبائل

Contoh:

27199 - حدثنا عبد الله حدثني أبى قال ثنا وكيع عن يونس يعنى بن أبى إسحاق قال سمعت هذا الحديث من المغيرة بن عبد الله عن أبيه : نحوه

تعليق شعيب الأرنؤوط : إسناده ضعيف

Kedudukan Musnad Ahmad bin Hanbal

Hanbal berkata, Ahmad bin Hanbal mengumpulkan kami; aku, Shalih dan Abdullah, lalu membacakan Musnad kepada kami. Tidak ada orang lain yang mendengarkannya selain kami. Ia berkata, Kitab ini aku kumpulkan dan aku pilah dari 750.000 Hadits lebih. Hadits Rasulullah SAW yang diperselisihkan kaum Muslimin hendaknya merujuk kepadanya. Jika kamu mendapati, maka itu baik dan jika tidak, maka itu bukan hujjah.

Abu Musa, Muhammad bin Abu Bakar al-Madiny berkata, Kitab ini merupakan pokok yang besar, dan sumber yang terpercaya bagi para ahli Hadits. Beliau memilahnya dari banyak Hadits dan apa-apa yang didengarnya. Beliau menjadikannya sebagai imam dan pegangan, dan di saat terjadi pertikaian, maka ia menjadi tempat berlindung dan pedoman.

Jumlah Hadits Dalam Musnad Ahmad bin Hanbal


Musnad Ahmad memuat 6 juz, sementara Hadits-Hadits yang diulang, maka jumlahnya ada 40.000 Hadits,[25] sedangkan tanpa pengulangan, maka ada 30.000[26] Hadits sebagai hasil menyaring lebih dari 750.000 Hadits. Dalam Musnadnya Imam Ahmad menghimpun 18 musnad dari 66 jalan.[27]

Jumlah Shahabat yang Sanadnya Dikeluarkan dalam Musnad

Abu Musa berkata, Adapun jumlah para shahabat, maka sekitar 700 orang laki-laki dan 100-an lebih wanita. Ibn al-Jazary berkata, Aku sudah menjumlah mereka, maka jumlahnya mencapai 690-an perawi laki-laki, tanpa perawi wanita. Lalu aku menjumlah para perawi wanita, maka jumlah mereka mencapai 96 orang. Musnad memuat sekitar 300 orang Shahabat, selain mereka yang belum disebutkan namanya, baik yang hanya disebut dengan Ibn atau pun nama-nama yang tidak diketahui (Mubham), dan selain mereka.

Al-Hafizh berkata di dalam mukaddimahnya, Di dalam Musnad tidak terdapat Hadits yang dinilai sebagai tidak memiliki asal (dasar, kecuali hanya 3 atau 4 Hadits saja), di antaranya Hadits Abdurrahman bin Auf, bahwa ia masuk surga dengan merangkak.

Tiga penilaian Ulama’ tentang derajat Hadis Musnad Ahmad bin Hanbal

Pertama, bahwa seluruh Hadits yang terdapat di dalamnya dapat dijadikan sebagai hujjah. Kedua, bahwa di dalamnya terdapat Hadits yang shahih, dlaif dan bahkan maudlu’. Ibn al-Jauzy menjelaskan bahwa di dalam Musnad Ahmad terdapat 29 Hadits maudlu’. Sementara menurut al-Iraqy terdapat 39 Hadits maudlu’. Ketiga, bahwa di dalamnya terdapat Hadits yang shahih dan dlaif, yang mendekati hasan. Di antara mereka yang berpendapat demikian adalah al-Dzahaby, Ibnu Hajar al-Asqalany, Ibnu Taimiyah dan al-Suyuthi.

Munculnya kitab al-Jami’ al-Musnad Ahmad bin Hanbal

Pada bulan januari 1914 pada masa al-Merza Basyir al-Din Mahmud Ahmad al-imam al-Haly, Imam Ahmad punya usaha untuk mencocokkan terhadap kaum Ahmadiyah. Mereka merespon akan usaha tersebut karena berkeinginan untuk mencari jalan bagaimana bisa mempermudah para pembaca dalam memahami Musnad Ahmad tersebut. Sehingga muncullah kitab al-Jami’ al-Musnad sebagai salah satu usaha dari Imam Ahmad sendiri. Dari sini dapat diambil point-point yang dianggap perlu ditegaskan bahwa:

§ Kitab ini sudah disusun secara tertib berdasarkan atas asas aqidah keislaman dan hukum syari’ah

§ Telah berbentuk bab-bab tertentu, serta mencantumkan adanya ayat-ayat al-Qur’an

§ Tiap bab mengandung Hadits-Hadits yang erat kaitannya dengan tema dalam bab yang dimaksudkan

§ Adanya hubungan (‘Alaqah) antar bab, oleh karena itu tidaklah diragukan jika ditemukan adanya pencantuman Hadits yang sama dalam bab yang berbeda, meskipun berbeda tapi masih ada keterikatan dengan yang lain.

§ Hampir sama dengan point sebelumnya, yakni pada tiap bab tidaklah jarang ditemukan pencantuman Hadits yang sama dikarenakan terkadang dalam salah satu hadits, tema yang diangkat tidak hanya satu.

§ Adanya pencantuman nomor halaman beserta juz pada tiap Hadits yang tertulis di sana.

§ Percetakan yang ada adalah al-Maimunah selain dari Idarah al-Sayyid Ahmad al-Baby al-Halby yang menghasilkan 6 jilid.

§ Adanya pencantuman tentang kualitas Hadits, apakah itu shahih, hasan, atau dlaif? Akan tetapi belum ditemukan adanya pencantuman tentang penilaian terhadap para sanad dalam Hadits-Hadits yang disebyutkan (al-Jarh wa al-ta’dil)-nya.

§ Adanya hubungan antar sanad dengan ziyadah al-Qathi’iy.

Kemudian ada pula faharis-faharis, yakni:

ü فهرس الأيات القرأنية الكريمة على ترتيب السور

ü فهرس الأحاديث النبوية الشريفة و الأثار على ترتيب حروف المعجم

ü فهرس مرويات عبد الله بن أحمد دون أبيه

ü فهرس لأسماء الصحابة مرتبا على نسق حروف المعجم

ü فهرس الأشعار و القوافي و الأرجاز

ü فهرس بأسماء الذين روى عنهم الإمام أحمد رحمه الله

Kelebihan dan kekurangan Musnad Ahmad bin Hanbal
o Sudah ada kitab yang bisa disebut sebagai penyempurna dari kitab Musnad Ahmad bin Hanbal. Yang di sana dudah adanya penertiban bab di dalamnya serta penomoran pada Hadits yang dicantumin

o Disusun berdasarkan nama shahabat yang pertama kali masuk Islam, yang kemudian disusul berdasarkan nasab dan seterusnya.

o Adanya faharis sehingga dapat mempermudah dalam mencari data

o Adanya keterangan kualitas hadits

o Termasuk kutub al-tis’ah

o Tidak adanya bab dalam musnad sehingga terasa sulit dalam mencari data, akan tetapi di sisi lain ada hal positifnya juga yaitu bisa melacak dari nama shahabat yang dimaksud.

o Hadits di dalamnya sebagian ada yang dlaif, bahkan ada yang menyebutnya maudlu’

o Dan lain-lain

F. PERHATIAN ULAMA’ TERHADAP MUSNAD AHMAD[28]

Al-Hafizh Abu Bakar Muhammad bin Abdullah bin al-Muhibb al-Shamith menyusunnya berdasarkan Mu’jam shahabat dan para perawi dari mereka seperti penyusunan kitab-kitab Athraf.

Al-Hafizh Abu al-Fida` Imaduddin Ismâil bin Umar bin Katsir mengambil Kitab Musnad melalui penyusunan yang dibuat Ibn al-Muhibb dan ia beri nama Jami al-Masanid Wa al-Sunan

Al-Hafizh Ibn Hajar juga menyusunnya berdasarkan metode penyusunan kitab Athraf, yang diberi nama Athraf al-Musnid al-Mutali Bi Athraf al-Musnad al-Hanbali. Kemudian ia menggabungkannya dengan sepuluh kitab dalam kitabnya âthaf as-Sadah al-Maharah al-Khayyirah Bi Athraf al-Kutub al-Asyarah.

al-Hafizh Syamsuddin al-Husaini dalam kitabnya al-Ikmal Biman Fi Musnad Ahmad Min al-Rijal Mimman Laisa Fi Tahdzib al-Kamal Li al-Mizzi memuat riwayat hidup para perawinya, kemudian memuat para perawinya juga dalam kitabnya al-Tadzkirah Bi Rijal al-Asyrah, yaitu al-Kutub al-Sittah; Muwaththa` Malik; Musnad Ahmad; Musnad al-Syafi’i dan Musnad Abu Hanifah. Al-Hafizh Ibn Hajar telah meringkasnya dalam kitabnya Tajil al-Manfa’ah, dengan memuat sebatas para perawi empat kitab Sunan.

Syaikh Ahmad bin Abdurrahm as-Saati menyusunnya berdasarkan kitab-kitab dan bab-bab untuk memudahkan para penuntut ilmu dalam mengambil manfaat Musnad. Ia menamakan kitabnya al-Fath al-Rabbani Bi Tartib Musnad al-Imam Ahmad bin Hanbal al-Syaibaniy, kemudian kembali mensyarahnya dan mentakhrij Hadits-Haditsnya dalam kitabnya yang diberi nama Bulugh al-Amany Min Asrar al-Fath al-Rabbany.

Syaikh Ahmad bin Muhammad bin Syakir juga memberikan perhatian kepada kitab Musnad Ahmad, dengan memberikan syarah Gharib-nya (kata-kata yang asing, unik) lalu menilai kualitasnya dari sisi keshahihan dan ke-dla’if-annya sesuai dengan ijtihad yang mampu dikerahkannya. Kemudian ia membuat Faharis (index) dengan membaginya kepada dua bagian: Faharis lafazh seperti faharis untuk tokoh dan semisalnya; Faharis Ilmiah seperti yang dibuatnya pada kitab al-Risalah karya Imam al-Syafi’i. Beliau wafat sebelum sempat menyempurnakannya. Apa yang telah dikerjakannya mencapai hampir ¼-nya (menurut yang kami ketahui, syarah ini telah dilanjutkan dan disempurnakan oleh murid-murid beliau.

KESIMPULAN DAN PENUTUP

Ahmad bin Hanbal adalah ulama’ terkemuka yang sudah tidak asing lagi di kalangan kita, beliau adalah tokoh yang sangat perfect pada zamannya. Kitab Musnad karangannya tetap digunakan sebagai bahan rujukan hingga masa sekarang, apalagi bagi kalangan pengkaji dalam bidang Hadits, seperti halnya kitab Shahih al-Bukhori, Shahih Muslim, Muwattha’ Imam Malik, dan lain-lain. Musnad tersebut yang disertai dengan adanya Faharis bisa memudahkan para pengkaji dalam menentukan data yang diinginkannya.

Berbeda dengan kitab Mushannaf yang Hadits-Haditsnya disusun berdasarkan urutan bab atau subjeknya, Hadits yang ada dalam kitab Musnad itu disusun berdasarkan urutan nama perawi pertamanya. Sementara kitab-kitab Shahih dan Sunan disusun secara Mushannaf.

Demikianlah isi paparan makalah kami. Dengan segala kerendahan hati, penulis sadar kalau makalah ini sangat jauh untuk dikatakan sempurna, baik tentang pemahaman kami yang kurang maupun data informasi yang kami peroleh setelah sedikit melakukan pengenalan akan biografi Imam Ahmad bin Hanbal beserta kitab Musnad-nya. Penulis masih merasa haus akan kajian mengenai dunia Hadits, patutlah makalah ini sebagai wujud awal dari pembelajaran kami sehingga untuk memperoleh data yang lebih komperhensif seharusnyalah kita lebih mengorek lebih kajian di dalamnya. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun guna evaluasi makalah yang akan datang.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Asqalany, Ibnu Hajar _______ CD-ROM al-A’lam Wa Tarajim al-Rijal. Taqrib al-Tahdzib. Dar al-Kutub al-Ilmiah
Al-Dzahaby _______ CD-ROM al-A’lam Wa Tarajim al-Rijal. Siyar al-A’lam al-Nubala’. Dar al-Fikr
Al-Hadi, Riyadl Abdullah Abd. 1992. Faharis Musnad al-Imam Ahmad bin Hanbal Abi Abdillah al-Syaibany. Muassasah al-Tarikh al-Araby: Dar Ihya’ al-Turats al-Araby
Al-Salih, Subhi. 1988. Ulum al-Hadits Wa Mushtolahuhu. Beirut: Dar al-Ilm Wa al-Malayin
CD-ROM al-Maktabah al-Syamilah
CD-ROM al-Mausu’ah al-Hadits al-Syarif, Global Islamic Software. 1991-1997.
http://aepay.blogspot.com/2007/08/imam-ahmad-bin-hanbal.html
http://muslim.or.id/?p=43
http://www.kotasantri.com/galeria.php?aksi=DetailArtikel&artid=174
http://superpedia.rumahilmuindonesia.net/index.php?title=Kategori:Musnad_Ahmad
http://Imam-Ahmad-Bin-Hanbal«Perwakilan-Pimpinan-Pusat-Persatuan-Islam(PERSIS)-Republik/Arab/Mesir.htm
http://www.indonesia.com/01/2008-imam-ahmad-bin-hanbal
http://IbnuRodjat.Multiply.com/reviews
http://Ulamasunnah.wordpress.com/2008/02/04/biografi-imam-ahmad-bin-hanbal
http://opi.110mb.com/haditsweb/sejarah/sejarah-singkat-imam-ahmad-bin-hanbal
Munawwwir, Ahmad Warson. 2002. Kamus al-Munawwir Arab-Indonesia Terkenal. Yogyakarta: Pustaka Progressif
Ibnu Hanbal, Ahmad _____ al-Jami’ al-Musnad. Rabwah al-Pakistan: Idarah al-Mushannifin
Yogyakarta, Dosen Tafsir Hadits Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga. 2003. Studi Kitab Hadits. Yogyakarta: TERAS dan TH-Press
Zahw, Muhammad Muhammad Abu. 1378 H. Al-Hadits Wa al-Muhadditsun aw Inayah al-Ummah al-Islamiyah al-Sunnah al-Nabawiyah. Al-Qahirah: al-Maktabah al-Taufiqiyah


Catatan Kaki

[1] Dalam CD-ROM al-A’lam Wa Tarajim al-Rijal. Siyar al-A’lam al-Nubala’. Juz 7, hlm 314 (No. 1876) terdapat penambahan nasab yakni “Syaiban bin Duhl bin Tsa’labah bin ‘Ukabah bin Sha’b bin Ali bin Bakar bin Wail.
[2] Ibnu Hanbal, Ahmad _____ al-Jami’ al-Musnad. Rabwah al-Pakistan: Idarah al-Mushannifin
[3] Menurut Abdullah bin Ahmad dan Ahmad bin Abu Khaitsumah bahwasanya Ahmad bin Hanbal lahir pada bulan Rabi’ul Akhir dalam CD-ROM al-A’lam Wa Tarajim al-Rijal. Siyar al-A’lam al-Nubala’. Juz 7, hlm 314 (No. 1876)
[4] Dosen Tafsir Hadits Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Studi Kitab Hadits. (Yogyakarta: TERAS dan TH-Press, 2003) hlm. 25
[5] Muhammad Muhammad Abu Zahw. Al-Hadits Wa al-Muhadditsun aw Inayah al-Ummah al-Islamiyah al-Sunnah al-Nabawiyah (Al-Qahirah: al-Maktabah al-Taufiqiyah, 1378 H), hlm. 351
[6] Ada juga yang mengatakan “pada usia 15 tahun”, yakni bertepatan dengan tahun dimana wafatnya Imam Malik dan Hammad bin Zaid dalam CD-ROM al-A’lam Wa Tarajim al-Rijal. Siyar al-A’lam al-Nubala’. Juz 7, hlm 314 (No. 1876)
[7] Dijelaskan dalam http://www.kotasantri.com/galeria.php?aksi=DetailArtikel&artid=174 bahwa Pertama kali, ia menikah dengan Aisyah binti Fadl dan dikaruniai seorang putra bernama Saleh. Ketika Aisyah meninggal, ia menikah kembali dengan Raihanah dan dikarunia putra bernama Abdullah. Istri keduanya pun meninggal dan Hanbali menikah untuk terakhir kalinya dengan seorang jariyah, hamba sahaya wanita bernama Husinah. Darinya ia memperoleh lima orang anak yaitu Zainab, Hasan, Husain, Muhammad, dan Said.
[8] Dijelaskan bahwa Ahmad bin Hanbal belajar dari beliau Cuma sebentar, bisa dibilang pelajaran yang diperoleh pun juga tidaklah banyak. Hal ini terdapat dalam CD-ROM al-A’lam Wa Tarajim al-Rijal. Siyar al-A’lam al-Nubala’. Juz 7, hlm 314 (No. 1876)
[9] Guru-guru yang telah disebutkan sampai ini adalah keterangan dari Dosen Tafsir Hadits Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Studi Kitab Hadits. (Yogyakarta: TERAS dan TH-Press, 2003) hlm. 26
[10] Inilah yang dikatakan “Fa aktsar” dalam Dosen Tafsir Hadits Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Studi Kitab Hadits. (Yogyakarta: TERAS dan TH-Press, 2003) hlm. 25
[11] Beliau hanya mengajar 1 hadits saja, terdapat dalam CD-ROM al-A’lam Wa Tarajim al-Rijal. Siyar al-A’lam al-Nubala’. Juz 7, hlm 314 (No. 1876)
[12] CD-ROM al-A’lam Wa Tarajim al-Rijal. Siyar al-A’lam al-Nubala’. Juz 7, hlm 314 (No. 1876)
[13] Dosen Tafsir Hadits Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Studi Kitab Hadits. (Yogyakarta: TERAS dan TH-Press, 2003) hlm. 26
[14] CD-ROM al-A’lam Wa Tarajim al-Rijal. Siyar al-A’lam al-Nubala’. Juz 7, hlm 314 (No. 1876)
[15] Ibnu Hanbal, Ahmad _____ al-Jami’ al-Musnad. Rabwah al-Pakistan: Idarah al-Mushannifin
[16] Dosen Tafsir Hadits Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Studi Kitab Hadits. (Yogyakarta: TERAS dan TH-Press, 2003) hlm. 30 dan dijelaskan pula keterangan pada http://www.kotasantri.com/galeria.php?aksi=DetailArtikel&artid=174
[17] Dosen Tafsir Hadits Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Studi Kitab Hadits. (Yogyakarta: TERAS dan TH-Press, 2003) hlm. 40
[18] Dosen Tafsir Hadits Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Studi Kitab Hadits. (Yogyakarta: TERAS dan TH-Press, 2003) hlm. 31
[19] Dalam Riyadl Abdullah Abdul Hadi, 1992. Faharis Musnad al-Imam Ahmad bin Hanbal Abi Abdillah al-Syaibany. Muassasah al-Tarikh al-Araby: Dar Ihya’ al-Turats al-Araby, hlm. 4 terdapat foot note yang menjelaskan bahwa sebagian Ulama’ berbeda pendapat mengenai isi kitab Musnad Ahmad. Di dalamnya mencantumkan tema (maudlu’) dalam Musnad beliau, meskipun hal itu jarang ditemukan atau malah ada juga yang mengatakan kalau tidak ada pencantuman tema sama sekali dalam Musnad beliau. Ibnu Hajar berkata dalam kitabnya Ta’jil al-Manfa’ah bi Rijal al-Arba’ah (Muwaththa’, Musnad Abu Hanifah, Musnad al-Syafi’i serta Musnad Ahmad) dijelaskan bahwasanya sebagian Ulama’ mengatakan kalau di dalamnya tidak adanya tema dalam Musnad tersebut.
[20] Muhammad Muhammad Abu Zahw. 1378 H. Al-Hadits Wa al-Muhadditsun Aw Inayah al-ummah al-Islamiyah al-Sunnah al-Nabawiyah. Al-Qahirah: al-Maktabah al-Taufiqiyah. Hlm. 376-377
[21] Dalam CD-ROM al-A’lam Wa Tarajim al-Rijal. Siyar al-A’lam al-Nubala’. Juz 7, hlm 314 (No. 1876)
dijelaskan kalau jumlah hadits dalam kitab tafsirnya 120.000 (2/3 dengan metode al-sima’, sementara sisanya menggunakan al-wijadah). Jumlah dalam musnadnya 30.000
[22] Riyadl Abdullah Abdul Hadi, 1992. Faharis Musnad al-Imam Ahmad bin Hanbal Abi Abdillah al-Syaibany. Muassasah al-Tarikh al-Araby: Dar Ihya’ al-Turats al-Araby, hlm. 5
[23] Dosen Tafsir Hadits Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Studi Kitab Hadits. (Yogyakarta: TERAS dan TH-Press, 2003) hlm. 33-34 dan juga pada Ibnu Hanbal, Ahmad _____ al-Jami’ al-Musnad. Rabwah al-Pakistan: Idarah al-Mushannifin
[24] CD-ROM al-Maktabah al-Syamilah, Kutub al-Mutun dan Riyadl Abdullah Abdul Hadi, 1992. Faharis Musnad al-Imam Ahmad bin Hanbal Abi Abdillah al-Syaibany. Muassasah al-Tarikh al-Araby: Dar Ihya’ al-Turats al-Araby, hlm. 4
[25] Muhammad Muhammad Abu Zahw. 1378 H. Al-Hadits Wa al-Muhadditsun Aw Inayah al-ummah al-Islamiyah al-Sunnah al-Nabawiyah. Al-Qahirah: al-Maktabah al-Taufiqiyah. Hlm. 370
[26] Dalam Riyadl Abdullah Abdul Hadi, 1992. Faharis Musnad al-Imam Ahmad bin Hanbal Abi Abdillah al-Syaibany. Muassasah al-Tarikh al-Araby: Dar Ihya’ al-Turats al-Araby, hlm. 3 dijelaskan kalau Hadits di dalam Musnad Ahmad berjumlah 27.100
[27] Http:\Imam Ahmad Bin Hanbal « Perwakilan Pimpinan Pusat Persatuan Islam (PERSIS) Republik Arab Mesir.htm dan Riyadl Abdullah Abdul Hadi, 1992. Faharis Musnad al-Imam Ahmad bin Hanbal Abi Abdillah al-Syaibany. Muassasah al-Tarikh al-Araby: Dar Ihya’ al-Turats al-Araby
[28]http://superpedia.rumahilmuindonesia.net/index.php?title=Kategori:Musnad_Ahmad yang diakses pada tanggal 14 februari 2009 pukul 13.10 WIB dan http://IbnuRodjat.Multiply.com/reviews

0 Response to "Biografi Karya dan Pemikiran Ahmad bin Hanbal di Bidang Hadis"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!