Corak Ijtihad pada Masa Sahabat dan Tabiin

Advertisement
Corak dan Pola Ijtihad pada Masa Sahabat dan Tabiin


Para ulama secara bulat sepakat pembolehan orang melakukan ijtihad setelah masa Nabi, namun mereka tidak sependapat, apakah sahabat juga boleh memberikan ijtihad semasa hidup Nabi? Pada umumnya, dari sisi rasio ulama mengatakan boleh saja sahabat melakukan ijtihad semasa Nabi. Sebagian kelompok kecil ulama mengatakan tidak boleh. Perbedaan mereka di dasarkan kepada tiga hal;

Pertama: pembolehan sahabat memutuskan hukum dan pemerintahan dibelakang Nabi, sebagian ulama setujuh membolehkan secara penuh dan sebagian lain tidak menyetujui.
Corak Ijtihad pada Masa Sahabat dan Tabiin 2

Kedua; sebagian ulama membolehkan sahabat berijtihad sendiri, jika tidak ada larangan untuk hal itu, sebagian lain mengatakan, tidak cukup para sahabat tidak ada larangan berijtihad, namun mereka juga harus mendapat izin ijtihad dari Nabi langsung. Ulama lain memilih tidak berkomentar apakah sahabat boleh atau tidak berijtihad semasa hidupnya Nabi.

Ketiga: ulama berbeda pendapat bahwa pembolehan ijtihad secara umum oleh teks ayat dan hadis, termasuk di dalamnya ijtihad sahabat di masa Nabi. Sebagian ulama mengatakan teks ayat dan hadis pembolehan ijtihad termasuk di dalamnya ijtihad para sahabat di masa Nabi, sebagian memilih tidak memberi komentar.

Pengarang buku al-Ahkam fi Ushul al-Ahkam Imam Saifuddin Abi al-Hasan memilih pendapat, bahwa para sahabat boleh berijtihad secara penuh semasa hidup Nabi, termasuk di depan dan dibelakang Nabi, namun ijtihad mereka bersifat zanny (dugaan) bukan qat’y (pasti).

Pembolehan ijtihad para sahabat, dapat dilihat pada ucapan Nabi memuji ijtihad yang pernah dilakukan Abu Bakar terhadap kasus Abi Qatadah yang telah membunuh seorang laki-laki musyrik pada salah satu peperangan. Abu Bakar kemudian mengambil rampasan harta yang dimiliki orang itu lalu memberikan rampasan itu kepada Abi Qatadah karena ia telah membunuh musuh Allah dan Rasul-Nya. Nabi lalu memuji tindakan Abu Bakar dengan ucapan ” Abu Bakar telah benar melakukan fatwanya”, pada saat, belum ada pendapat atau ijtihad yang pernah dilakukan sahabat sebelumnya.

Kasus lain, Nabi memerintahkan dua orang sahabatnya Amru bin ‘Ash dan Uqbah bin Amir al-Juhani untuk menyelesaikan pertikaian orang lain. Nabi lalu berkata kepada keduanya; ”jika kalian berdua benar dalam memutuskan perkara, maka kalian mendapatkan sepuluh pahala, namun jika salah, kalian mendapatkan hanya satu pahala.

Rujukan sahabat dalam berijtihad kelihatannya mereka mengikuti cara ijtihad yang ditunjukkan oleh Nabi semasa hidupnya. Bila menghadapi suatu persoalan yang memerlukan jawaban hukum, pertama kali selalu mencarikan jawabannya dari ayat-ayat Al-Qur’an, baik menurut yang tersurat dalam lahir lafadznya, maupun dari yang tersirat dibalik lafadz itu. Bila mereka tidak menemukan jawabannya dalam al-Qur’an, mereka mencari jawabannya dari sunnah yang ditinggalkan Nabi. Bila tidak mereka temukan dalam sunnah, baru menggunakan ra’yu (opini). Dalam penggunaan ra’yu ini sedapat mungkin mereka mencari padannanya dalam al-Qur’an dan sunnah untuk menerapkan berdasarkan kias (qiyas). Bila qiyas ini tidak dapat mereka gunakan karena tidak ada padanannya dalam nas, mereka menggunakan maslahat sebagai rujukan dalam menetapkan hukumnya.

Dalam menetapkan hukum berdasarkan ijtihad ini, kadang-kadang para sahabat bermusyawarah lebih dahulu sehingga hukum yang ditetapkan itu merupakan hukum yang telah disepakati, sebagaimana kesepakatan mereka dalam menetapkan jabatan khalifah untuk Abu Bakar, yang mulanya merupakan pendapat pribadi. Adakalahnya juga hukum yang dihasilkan melalui ijtihad itu hanya berbentuk pendapat pribadi dan tidak melalui suatu musyawarah, dalam hal ini timbul pendapat hati sahabat lainnya yang tidak sama dengan pendapat sebelumnya. Contoh dalam hal ini hak ibu dalam kewarisan bila bersama dengan ayah dan istri atau suami. Zaid ibn Tsabit menetapkan hak ibu adalah sepertiga sisa harta, sedangkan menurut Ibnu Abbas hak ibu adalah sepertiga harta.
Ijtihad pada Masa Imam Tabi’in

Masa tabi’in adalah suatu masa sesudah sahabat. Tabi’in itu, pengertiannya secara arti kata adalah “pengikut”, sedangkan dalam hal arti yang biasa digunakan adalah “orang-orang yang mengikuti sahabat”. Tabi’in tidak pernah bertemu dengan Nabi, tetapi mereka bertemu dan mendapati orang-orang yang langsung bertemu dengan Nabi.

Cara ulama tabi’in melakukan ijtihad adalah mengikuti cara yang sudah dirintis sebelumnya oleh sahabat. Mereka mempergunakan Al-Qur’an dan sunnah Nabi sebagai rujukan utama. Selanjutnya meraka mengikuti ijmak (ijma’) sahabat. Jika tidak ditemukan dalam ijmak (ijma‘) mereka berpedoman kepada hasil ijtihad pribadi dari sahabat yang mereka anggap kuat dalilnya, disamping itu, mereka menggunakan ra’yu sebagaimana yang dilakukan sahabat. Dalam menggunakan ra’yu sedapat mungkin mereka tempuh melalui qiyas, bila mereka menemukan padanan masalahnya dengan apa yang terdapat dalam nas. Bila tidak mungkin, mereka menempatkan maslahat umum sebagai bahan rujukan dalam berijtihad.

Dalam masa ini terlihat cara mereka melakukan ijtihad mengarah kepada dua bentuk, yaitu;

Kalangan sahabat yang lebih banyak menggunakan hadis atau sunnah dibanding dengan menggunakan ra’yu. Cara ijtihad seperti ini berkembang di kalangan ulama Madinah dengan tokohnya Sa’id ibn al-Musayyab. Kalangan sahabat ini kemudian berkembang dengan sebutan “Madrasah Madinah“.

Kalangan sahabat yang lebih banyak menggunakan ra’yu dibandingkan dengan penggunaan sunnah. Cara ijtihad seperti ini berkembang dikalangan ulama Kufah dengan tokohnya Ibrahim al-Nakha’i. Kalangan sahabat ini kemudian berkembang dengan sebutan “Madrasah Kufah“.

Kenapa ulama Madinah lebih banyak menggunakan hadis ketimbang ra’yu dan kenapa pula ulama Kufah atau Irak lebih banyak menggunakan ra’yu ketimbang hadis? Hal ini dapat dipahami dengan melihat kepada kondisi dan perkembangan masyarakat di dua lokasi yang berbeda ini.

Kufah atau Irak adalah suatu wilayah yang lebih maju kehidupan masyarakatnya, sehingga masalah hukum yang dihadapinya sangat kompleks. Letaknya yang berjauhan dengan pusat kedudukan Nabi menyebabkan Hadis Nabi yang sampai sangan terbatas. Hal inilah yang menyebabkan ulamanya dalam berijtihad lebih cenderung (terdorong) untuk menggunakan ra’yu. Sedangkan Madinah adalah suatu wilayah yang kehidupan masyarakatnya masih sederhana, sehingga masalah hukum yang dihadapinya tidak kompleks. Di sisi lain mereka hidup dikalangan kaum yang berdekatan dengan Nabi sehingga banyak mempunyai koleksi hadis. Karena diberikan jawabannya dengan Hadis Nabi yang banyak mereka ketahui, hal ini menyebabkan mereka tidak begitu terdorong untuk menggunakan ra’yu.

Hasil yang dicapai oleh ijtihad ulama tabi’in ini, meskipun mereka mengikuti petunjuk dari cara ijtihad ulama sahabat, namun dalam beberapa hal mereka berbeda pendapat dengan ulama sahabat, bahkan berbeda dengan apa yang berlaku pada waktu Nabi. Ali bin Abi Thalib dan sebagian ulama sahabat menerima kesaksian salah seorang suami isteri terhadap yang lain dalam peradilan. Begitu pula, mereka menerima kesaksian anak-anak terhadap orang tua dan kesaksian orang tua terhadap anak-anak mereka. Tetapi Qadhi Syureih dan sebagian ulama tabi’in tidak menerima kesaksian ini, karena adanya unsur tuhmah dan kecintaan yang akan mempengaruhi mereka dalam kesaksiannya.
Said ibn al-Musayyab juga memfatwakan bolehnya seseorang yang sedang junub untuk membaca al-Qur’an asal tidak menyentuhnya. Pendapat ini berbeda dengan pendapat sahabat sebelumnya.
Sumber Tulisan

Amir Mua’llim dan Yusdani, Ijtihad dan Legislasi Muslim Kontemporer, Yogyakarta: UII Press. 2005.
Departemen Agama RI. Alquran dan Terjemahannya. Diponegoro: Al-Hikmah, 2008.



0 Response to "Corak Ijtihad pada Masa Sahabat dan Tabiin"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!