Fiqih dakwah, Kajian lengkap bagi da'i yang Akan Berceramah

Advertisement
Fiqih dakwah, Kajian lengkap bagi da'i yang Akan Berceramah

A. DEFINISI DAKWAH

Secara harfiah dakwah berasal dari kata da’a, yad’u, da’watan yang artinya ‘panggilan, seruan, ajakan’. Maksudnya adalah mengajak dan menyeru manusia agar mengakui Allah SWT sebagai tuhan yang benar, lalu menjalani kehidupan sesuai dengan ketentuan-ketentuan-Nya yang tertuang dalam Al-Qur’an dan sunnah. Dengan demikian, target dakwah yang dimaksud adalah mewujudkan sumber daya manusia yang bertaqwa kepada Allah SWT dalam arti yang seluas-luasnya.

Dalam kehidupan masyarakat, khususnya kehidupan umat Islam, dakwah memiliki kedudukan yang sangat penting. Dengan dakwah, bisa disampaikan dan dijelaskan ajaran Islam kepada masyarakat sehingga mereka menjadi tahu mana yang haq dan mana yang batil, selanjutnya umat memiliki keberpihakan kepada segala sesuatu bentuk yang haq dengan segala konsekuensinya dan membenci yang batil sehingga selalu berusaha menghancurkan kebatilan. Manakala hal ini sudah terwujud, maka kehidupan yang baik (hasanah)di dunia dan di akhirat akan tercapai.

Baca Juga: Makalah Pengertian Dakwah

B. KEWAJIBAN DAKWAH

Sungguh, dakwah bukan hanya tanggung jawab para ustadz, ulama, kyai, atau guru agama semata. Dakwah memiliki kedudukan yang sangat penting, maka secara hukum dakwah menjadi kewajiban yang harus diemban oleh setiap muslim. Ada banyak dalil yang bisa kita jadikan rujukan untuk mendukung pernyataan wajibnya melaksanakan tugas dakwah, baik dari Al-Qur’an maupun hadits Nabi. Diantaranya ialah firman Allah

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl:125)

Yang dimaksud dengan hikmah ialah Perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dengan yang bathil.

Pada ayat yang lain Allah SWT juga berfirman

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf (kebaikan) dan mencegah dari yang munkar (kejelekan) merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali-Imron: 104)

Ma'ruf ialah segala perbuatan yang mendekatkan kita kepada Allah; sedangkan Munkar ialah segala perbuatan yang menjauhkan kita dari pada-Nya.

Rasulullah SAW juga bersabda:

بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً (رواه أحمد و البخاري والترمذي)

"Sampaikanlah dariku walau satu ayat” (HR. Ahmad, Bukhori, Tirmidzi)

C. KEUTAMAAN DAKWAH

Apabila dakwah bisa kita tunaikan dengan sebaik-baiknya, banyak keutamaan yang akan kita peroleh, diantaranya sebagai berikut:

1. Memperoleh derajat yang tinggi di sisi Allah SWT dengan dikelompokkan pada kelompok umat terbaik (khairu ummah) sebagaimana yang disebutkan Allah SWT dalam surat Ali Imron ayat 110 di atas

2. Memperoleh pahala yang sangat besar. Hal ini karena dalam suatu hadits Rasulullah SAW disebutka. “Barang siapa yang menunjukkan suatu kebaikan, maka baginya seperti pahala orang yang mengerjakannya”. (HR. Ahmad, Abu Daud, Muslim, dan Tirmidzi)

3. Terhindar dari laknat Allah SWT. Hal ini dinyataka Allah SWT dalam firman-Nya surat Al Maidah ayat 78-79 yang artinya, “Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam. yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.”

4. Memperoleh rahmat dan kasih sayang Allah SWT. Hal ini merupakan sesuatu yang sangat di damba oleh tiap muslim dalam hidupnya di dunia maupun di akhirat. Allah SWT berfirman.

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah SWT dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah SWT; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-Taubah: 71)

5. Memperoleh keberuntungan baik di dunia maupun di akhirat sebagaimana yang telah disebutkan di dalam surat Ali Imran ayat 104 di atas.

D. TAHAPAN DAKWAH
Dalam menunaikan tugas dakwah, ada tahapan-tahapan yang harus diperhatikan dan ditempuh. Setidaknya ada tiga tahapan yang harus ditempuh. Pertama, ta’rif “penerangan/propaganda”. Tahap ini adalah memperkenalkan, menggambarkan ide dan menyampaikannya kepada khalayak ramai pada setiap lapisan masyarakat. Kedua, takwin “pembinaan atau pembentukan”. Yaitu tahap pembentukan, pemilihan pendukung dakwah, menyiapkan mujahid dakwah serta mendidiknya. Ketiga, tanfidz, “pelaksanaan” yaitu tahap beramal, berusaha dan bergerak guna mencapai tujuan dalam dakwah. Itulah yang disebutkan oleh Syeikh Musthafa Masyhur dalam bukunya Tariqud Da’wah.

Fiqih dakwah, Kajian lengkap bagi da'i yang Akan Berceramah 21
Dengan demikian, dakwah merupakan perjalanan yang panjang dan berliku. Karena itu para aktifis dakwah harus menyiapkan diri semaksimal mungkin agar bisa menunaikan tugas ini dengan baik dan siap menghadapi segala tantangannya.

E. RETORIKA DAKWAH

Penyampaian ajaran Islam secara lisan pada umumnya dilakukan dengan ceramah, pidato, atau khutbah, meskipun ada juga yang dalam bentuk dialog. Ceramah dan khutbah sebenarnya sama saja, tapi pada masyarakat kita sedikit dibedakan. Ceramah kesannya bebas, seperti pengajian umum, peringatan hari-hari besar Islam, kuliah subuh, ceramah tarawih, dan lain-lain. Sedangkan khutbah terasa lebih khusus dan ritual sifatnya, seperti khutbah jumat, khutbah idul fitri, idul adha, dan khutbah nikah.

Untuk bisa berceramah atau berkhutbah dengan baik setidaknya ada tiga hal yang harus kita perhatikan:

1. Persiapan da'i

Dalam berceramah atau berkhutbah persiapan menjadi hal penting terutama bagi pemula atau yang belum berpengalaman, bahkan bagi yang sudah berpengalaman sekalipun. Beberapa langkah-langkah persiapan yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut:

a. Mempersiapkan mental. Persiapan mental meliputi: pertama, harus disadari bahwa apa yang akan kita sampaikan merupakan tanggung jawab yang mulia, yaitu meneruskan tugas para nabi dalam berdakwah, penting dan memang dibutuhkan oleh masyarakat, karena masyarakat membutuhkan bimbingan kehidupan yang baik yang didasari pada ajaran Islam. Kedua, yakin bahwa apa yang disampaikan merupakan sesuatu yang benar. Ketiga, yakin bahwa kita orang yang paling pantas menyampaikan masalah yang benar itu. Keempat, menyadari bahwa kita memiliki kemampuan untuk melakukan tugas ini dan meyakinkan diri sendiri akan kemampuan itu. Kelima, tidak peduli cemoohan orang-orang yang suka mengkritik. Keenam, tanamkan prinsip masa bodoh atau cuek dalam hal-hal yang tidak prinsip bila menghadapi keadaan yang tidak kita perkirakan sebelumnya, misalnya pakaian kita dianggap terlalu sederhana atau kurang memenuhi standar forum, usia kita dianggap terlalu muda, dan sebagainya

b. Memahami latar belakang jama’ah. Memahami latar belakang jama’ah memiliki arti yang sangat penting untuk mengetahui gambaran keadaan jama’ah. Dari sini kita bisa menentukan tema yang tepat untuk disampaikan kepada jama’ah. Untuk mengetahui keadaan jama’ah kita bisa menanyakan kepada pengurus atau panitia yang mengundang kita.

c. Menentukan masalah. Ceramah yang baik adalah ceramah dengan materi permasalahan atau pembahasan yang jelas, sehingga ceramah tersebut tidak simpang siur, karena memiliki target yang jelas. Jika pembahasan terlalu luas maka penceramah atau mubaligh bisa memberikan batasan permasalahan

d. Mengumpulkan bahan. Setelah tema ditentukan, langkah berikutnya adalah mengumpulkan bahan agar pembahasan materi ceramah bisa disampaikan dengan wawasan yang luas dan ilustrasi yang tepat. Bahan-bahan bisa diperoleh dari al qur’an, hadits, atau buku-buku rujukan yang lain.

e. Menyusun sistematika. Bila tema sudah ditentukan dan bahan-bahan dikumpulkan, maka untuk mempermudah pembahasan, diperlukan sistematika uraian pembahasan beserta dalil-dalilnya serta data yang lain untuk menguatkan argumentasi. Secara umum sistematikanya terdiri dari: Pertama, pendahuluan, berisi hamdalah hingga amma ba’du dan kalimat-kalimat inti yang mengantarkan kepada pembahasan. Kedua, pembahasan dengan sub tema dan dalil-dalil dari ayat atau hadits yang harus ditulis dan dihafal dengan baik. Ketiga, penutup yang berisi kesimpulan materi atau saran untuk jama’ah dan permohonan ma’af jika ada yang kurang berkenan. Semua ini harus dicatat dengan sebaik-baiknya terutama bagi para pemula yang harus mencatat lebih detail mulai dari hamdalah hingga amma ba’du dan dali-dalil meskipun dali-dalil tersebut sudah dihafal karena bisa jadi pada saat akan disampaikan tiba-tiba lupa, bila ada catatan tentu bisa menghindari kemandekan pembicaraan.

f. Menjaga dan mempersiapkan kondisi fisik. Disamping kesiapan akal dengan menguasai materi yang hendak disampaikan,seorang penceramah juga perlu mempersiapkan kondisi fisiknya agar tetap prima selama ceramah berlangsung. Demikian juga pakaian yang dikenakan harus pantas dan enak dilihat agar menyenangkan orang yang melihatnya.

g. Analisis pendengar. Ketika seorang mubaligh tiba di tempat acara, saat itulah dia harus membaca jama’ahnya. Terkadang keadaan jama’ah cocok dengan apa yang diceritakan pengurus atau sebaliknya. Di sinilah seorang penceramah harus mampu menganalisis jama’ahnya meskipun hanya sekilas, dan sekiranya materi yang hendak disampaikan tidak cocok dengan keadaan jama’ah, seorang mubaligh harus segera mempersiapkan gaya berceramah bahkan mungkin harus merubah tema yang hendak disampaikan, di sinilah letak pentingnya seorang mubaligh mempunyai buku catatan khusus untuk materi ceramah, kemana dia pergi dia selalu membawanya sehingga dia siap memberikan ceramah kapanpun dia diminta.

2. Pelaksanaan Pidato

Setelah persiapan tersusun dengan baik, maka ada beberapa hal yang harus diperhatikan saat ceramah/khutbah sedang berlangsung:

a. Tampil dengan penuh percaya diri. Meskipun dalam dakwah kita menuntut jama’ah menggunakan prinsip “perhatikan apa yang dibicarakan, jangan melihat siapa yang berbicara”, namun penampilan yang mengesankan tetap diperlukan. Misalnya dengan menggunakan pakaian yang pantas, wajah yang ceria, pandangan yang ramah, tutur kata yang baik. Daya tarik dari sisi ini merupakan sesuatu yang sangat penting, sebab bagaimana mungkin ceramah kita akan didengar jama’ah bila mereka sudah tidak tertarik dengan penampilan kita.

b. Menguasai forum. Sebelum ceramah dimulai, seorang penceramah harus menguasai dirinya sendiri agar tidak gugup dan grogi. Jika dia sudah mampu menguasai dirinya sendiri insya Allah SWTdia akan mampu menguasai forum dengan mudah. Seorang penceramah perlu menatap seluruh sudut ruangan atau dengan kata lain menatap seluruh jama’ah yang hadir, mencoba pengeras suara dan memperbaiki posisi agar betul-betul tepat dengan posisi mulut.

c. Jangan menyimpang dari tema utama. Selama ceramah berlangsung, penceramah harus tetap berpijak pada tema utama yang sudah disiapkan jangan sampai melebar terlalu jauh. Banyak penceramah yang satu subbahasanya terlalu jauh melebar sehingga subtema yang dijanjikan hanya dibahas secara singkat.

d. Gaya yang orisinal. Penceramah hendaknya menggunakan gayanya sendiri. Jangan meniru penuh gaya orang lain. Hal ini akan mempermudah ceramahnya, sekaligus dapat menjaga wibawanya. Bagi pemula yang belum menemukan gaya yang cocok, makai dia harus banyak mengikuti dan mengevaluasi gaya dan penyampaian da’i yang lain, kemudian dia dapat memilih gaya yang cocok dengan dan sesuai dengan karakter dirinya.

e. Bersikap sederajat. Terutama kepada jama’ah yang dewasa dan intelektual, sebaiknya bersikap sederajat jangan terlalu menggurui. Karena itu dalam menyampaikan pesan hendaknya menggunakan istilah “kita” bukan “anda”, apalagi “kalian”. Sebaliknya bagi da’i atau penceramah jangan merasa rendah diri di hadapan para jama’ah meskipun di sana ada para pembesar, pimpinan, orang tua atau bahkan presiden

f. Mengatur intonasi dan tempo. Ceramah yang menarik adalah ceramah yang nadanya naik turun. Tidak datar atau tinggi terus menerus, dan juga berbicara tidak boleh terlalu cepat atau terlalu lambat.

g. Memelihara kontak dengan jama’ah. Hal ini dikarenakan untuk menjaga konsentrasi para pendengar, hal yang pada umumnya sering tidak diperhatikan oleh khatib adalah ceramah yang terlalu lama sehingga para pendengar jenuh sehingga kontak terputus

h. Pengembangan bahasan. Diantaranya, pemberian penjelasan yang sederhana dan mudah difahami, pemberian contoh yang relevan dengan pembahasan sehingga masalah yang dibahas semakin jelas dan konkret, pemberian analogi, atau perbandingan untuk dua hal, untuk menunjukkan persamaan atau perbedaan, pemberian testimoni, yaitu mengutip, baik ayat, hadits, kata mutiara, keterangan para ahli, tulisan di buku, atau di koran dan bulletin.

i. Memberi kesimpulan. Hal ini bisa dengan mengungkapkan beberapa masalah pokok yang sudah dibahas, atau menyampaikan pesan-pesan inti dari ceramah.

3. Langkah-Langkah Sesudah Ceramah

Meskipun ceramah sudah Berlangsung dengan baik menurut sang penceramah, bukan berarti tugasnya sudah selesai, ada beberapa hal yang harus dilakukan, pertama, turun dari podium/mimbar dan berjalan dengan tenang menuju tempat duduk yang semula. Kedua, kalau perlu cari informasi tentang respon jama’ah terhadap kemampuan dan isi ceramah namun hal ini perlu dilakukan dengan sehati-hati mungkin agar tidak terkesan bahwa kita ingin mencari pujian, padahal sebenarnya kita perlu masukan dan evaluasi. Ketiga, mengevaluasi sendiri ceramah yang sudah disampaikan misalnya dengan mendengar kembali rekaman ceramahnya.

Demikianlah secara umum bagaimana berceramah yang baik. Bagi para pemula yang ingin pandai berceramah tentu saja harus banyak berlatih, baik sendiri maupun secara bersama-sama. Untuk memudahkan dalam mengeluarkan kata-kata maka harus memiliki perbendaharaan kata yang banyak dan hal itu dapat dicapai dengan benyak membaca.


BAGIAN KEDUA DA’I

A. DEFINISI DAI


Secara bahasa da’i adalah bentuk isim fa’il dari kata da’a - yad’u - da’watan. Jadi secara bahasa da’i artinya orang yang memanggil atau menyeru. Sedangkan secara istilah da’i adalah seorang yang menyeru manusia kepada kebenaran, yakni ajaran agama Islam yang telah ditutunkan oleh Allah SWT melalui Rasul-Nya yang terdapat dalam Al-qur’an dan As-Sunnah.

B. KEPRIBADIAN DA’I

1. Hubungan yang dekat dengan Allah SWT Dai adalah pembawa misi dari Allah SWT Karena itu mutlak bagi seorang da’i untuk memperkokoh hubungan yang dekat dengan Allah SWT, apalagi dakwah itu sendiri memang bermaksud mendekatkan manusia kepada Allah SWT Hubungan yang dekat dari seorang da’i kepada Allah SWT adalah dalam bentuk tumbuhnya rasa selalu diawasi dan dilihat oleh Allah SWT Tumbuhnya perasaan ini akan membuat da’i tidak berani melakukan hal-hal yang nyeleweng dari apa yang telah ditetapkan Allah SWT. Untuk menumbuhkan rasa dekat dengan Allah, ajaran Islam seperti sholat, puasa, zakat, serta bentuk-bentuk ibadah yang lain harus dilaksanakan seorang muslim apalagi seorang da’i.

2. Seorang da’i harus sabar dalam dakwahnya. Seorang da’i harus bersabar daam berdakwah dan bersabar dalam menghadapi rintangan dan gangguan dakwah serta bersabar terhadap tantangan dakwah. Seorang da’i harus bersabar dalam dakwah artinya terus menekuni dakwah dan tidak bosan bahkan dia harus terus menerus berdakwah mengajak manusia kepada jalan Allah SWT sesuai dengan kemampuannya dan selalu melibatkan diri dalam berbagai aktifitas dakwah yang lebih bermanfaat dan lebih mengena. Seorang da’i harus bersabar dalam menekuni dakwah dan tidak boleh bosan dalam menyampaikan dakwah. Sebab apabila seorang da’i ditimpa kebosanan, maka dia akan merasa lelah kemudian meninggakan dakwah, akan tetapi apabila dia tetap beristiqomah dalam berdakwah maka dia akan meraih pahala orang-orang yang bersabar dan mendapatkan hasil yang memuaskan. Renungkanlah firman Allah SWT yang ditujukan kepada Nabi-Nya:

تِلْكَ مِنْ أَنبَاء الْغَيْبِ نُوحِيهَا إِلَيْكَ مَا كُنتَ تَعْلَمُهَا أَنتَ وَلاَ قَوْمُكَ مِن قَبْلِ هَذَا فَاصْبِرْ إِنَّ الْعَاقِبَةَ لِلْمُتَّقِينَ 

”Itu adalah di antara berita-berita penting tentang yang ghaib yang kami wahyukan kepadamu (Muhammad); tidak pernah kamu mengetahuinya dan tidak (pula) kaummu sebelum ini. Maka bersabarlah; Sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa”(Q.S. Huud: 49).

Seorang da’i harus bersabar dalam menghadapi rintangan dakwah dari para penentang dan musuh dakwah, karena setiap orang yang berdakwah mengajak kepada Allah SWT pasti mendapatkan tantangan sebagaiman firman Allah:

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ وَكَفَى بِرَبِّكَ هَادِيًا وَنَصِيرًا

”Dan seperti itulah, Telah kami adakan bagi tiap-tiap nabi, musuh dari orang-orang yang berdosa. dan cukuplah Tuhanmu menjadi pemberi petunjuk dan penolong” (Q.S. Al-Furqon: 31).

Jadi, setiap dakwah pasti mendapat tantangan dan rintangan dari para penentang, pendebat ataupun dari para penyebar syubhat, akan tetapi seorang da’i wajib untuk bersabar menghadapi orang-orang yang menetang dakwah, meskipun dakwah tersebut dituduh sebagai dakwah sesat dan bathil, padahal dakwah sesuai dengan petunjuk kitabullah dan tuntunan sunnah Rasulullah SAW maka seorang da’i harus bersabar dalam berdakwah.

3. Hendaknya seorang da’i berakhak dengan akhlak yang mulia. Akhlak mulia adalah salah satu dari kepribadian seorang da’i yang wajib adanya. Karena seorang da’i akan senantiasa menjadi pusat perhatian umatnya, terutama dalam berakhlak dan bertingkah laku. Maka haruslah seorang da’i memberikan contoh atau teladan kepada umatnya dengan menjaga perangai atau akhlaknya. Sehingga dengan begitu umat akan semakin mudah menerima dan mengikuti seruan da’i, tentunya untuk senantiasa berada pada jalan kebenaran yakni sesuai dengan yang dituntunkan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya.

4. Hendaknya seorang da’i menyingkap tabir pembatas antara dia dan masyarakat. Seorang da’i harus berani terjun ke tengah-tengah masyarakat dan berbaur bersama mereka, karena dengan begitu maka seorang da’i akan diterima oleh masyarakat. Ketika masyarakat sudah menerima itulah maka seorang da’i bisa mempengaruhi masyarakat dan membawa mereka kepada jalan Allah SWT dan menghindarkan mereka dari segala kemungkaran yang tentunya akan menyeret mereka kepada siksa Allah SWT.

5. Hendaknya seorang da’i lapang dada terhadap orang-orang yang menyelisihinya. Dalam perjalan dakwah seorang da’i pastilah ia akan menemukan rintangan, salah satu diantaranya adalah seseorang atau sekelompok orang yang membenci dan menyelisihi dakwahnya. Dalam hal ini sikap yang harus diambil oeh seorang da’i adalah bersikap lapang dada. Karena setiap orang mempunyai cara berpikir yang berbeda-beda, begitu juga dalam memahami ajaran Islam yang bersifat furu’. Selama perbedaan itu masih didasarkan pada dail yang bisa diterima, maka seharusnya kita saling bahu-membahu menegakkan syari’at Islam. Bukan malah saling mengklaim bahwa pemahamannya yang paling benar, bahkan menyalahkan pemahaman yang berbeda dengan dirinya. Itulah mengapa seorang da’i dituntut untuk memiiki kepribadian berlapang dada terhadap orang yang menyeisihinya.

C. JENIS-JENIS DA’I DAN KARAKTERISTIKNYA

1. Da’i yang takut pada Allah SWT dan juga faham syari’at Allah SWT. Da’i jenis yang pertama ini adalah pewaris para Nabi, membawa manusia ke jalan yang lurus dan wajib bagi kita untuk mengikutinya.

2. Da’i yang takut pada Allah SWT tapi tak faham syari’at Allah SWT. Da’i jenis yang kedua ini adalah da’i yang membawa manusia pada kegelapan di dunia dan bencana di akhirat dialah pembawa bid’ah dan kurafat di tengah-tengah umat. “haram bagi kita untuk mengikutinya”

3. Da’i yang tidak takut pada Allah SWT tapi faham syari’at Allah SWT. Da’i jenis yang ketiga ini adalah da’i yang paling berbahaya, karena dibalik kepandaiannya akan ilmu syari’at berusaha membawa manusia ke jalan neraka, mereka inilah para pengasung fikroh sekularisme, liberalisme, dan pluralisme. 
Mudahan artikel Fiqih dakwah, Kajian lengkap bagi da'i yang Akan Berceramah dapat membantu. Salam Penulis


0 Response to "Fiqih dakwah, Kajian lengkap bagi da'i yang Akan Berceramah"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!