Buku Handbook of Early Muhammadan Tradition dan Kitab Miftah Kunuz al-Sunnah Muhaqqiq Fu’ad Abd al-Baqi Effendi

Advertisement
Buku Handbook of Early Muhammadan Tradition dan Kitab Miftah Kunuz al-Sunnah Muhaqqiq Fu’ad Abd al-Baqi Effendi
Pendahuluan

Dalam sejarah penulisan kitab-kitab hadis ada beberapa metode yang ditempuh ulama, di antaranya; metode jami’, sunan, muwatta’at, mustadrak, mustakhraj, musnad, mu’jam, athraf dan lain sebagainya. Para ulama dalam menentukan pilihan metodenya tentu dilandasi berbagai argumentasi dan latar belakang yang berbeda-beda.[1]

Miftah Kunuz al-Sunnah adalah salah satu kitab berbentuk kamus hadis yang berguna untuk melakukan metode takhrij al-hadits berdasarkan tema/pokok hadis. Namun, seiring berjalannya waktu, kitab ini mulai lenyap di kalangan pembaca dikarenakan kalah bersaing dengan teknologi modern.

Buku Handbook of Early Muhammadan Tradition dan Kitab Miftah Kunuz al-Sunnah

Dari kegelisahan itulah penulis mencoba untuk melakukan lebih dalam lagi kajian sekilas tentang sejarah kehidupan pengarang kitab Miftah Kunuz al-Sunnah beserta pentahqiqnya, dan telaah lebih dekat tentang kitab ini. Karena bagaimanapun juga kitab ini merupakan harta ‘warisan’ yang ditinggalkan ulama yang sungguh-sungguh dan gigih dalam mengkaji hadis.

Setting historis A. J. Wensinck; pengarang kitab


Nama lengkap pengarang kitab a Handbook of Early Muhammadan Tradition adalah Arent Jan Wensinck (1882-1939). Seorang orientalis yang berasal dari Belanda. Ia alumni dari Universitas Leiden dan jadi profesor bahasa-bahasa Semit, termasuk bahasa Arab di Universitas itu. Jasanya dalam dunia perkamusan hadis begitu besar. Beliaulah salah satu penyusun utama kamus hadis. Semasa hidupnya, ia sering berkunjung ke Mesir, Suriah dan Lebanon. Semasa hidupnya pula, ia belajar kepada Houstma, De Goeje, Snouck Hougronje,[2]dan di kemudian hari ia menggantikan posisi Snouck Hougronje di Universitas Leiden pada tahun 1927.[3]

Adapun karya ilmiahnya yang pertama adalah risalah sarjana tingkat pertama dengan judul Muhammed en de Joden te Medina dalam bahasa Belanda (Leiden, Brill, 1908). Pada tahun 1916, ia menegaskan obsesinya di majalah ZDMG, dengan menyusun Konkordasi Indeks Kosa Kata Alfabetis dari hadis-hadis Nabi SAW. yang terdapat dalam kutub al-sittah, Musnad Darimi, Ahmad bin Hanbal, dan Muwatta’ Imam Malik. Dalam mewujudkan obsesinya ini, ia mengorganisir 38 pakar dari berbagai negara. Sedangkan dananya berasal dari Akademi Ilmu Pengetahuan di Amsterdam, yayasan-yayasan Belanda lain, dan yayasan-yayasan Akademi di Eropa. Juz pertama selesai dikerjakan pada tahun 1936, dari huruf alif hingga huruf ha. Sejak tahun 1932, proyek raksasa ini ditangani kemudian diikuti oleh jilid selanjutnya hingga sempurna.

Selain karya monumental tersebut, pada tahun 1927, ia menyusun matan hadis-hadis Nabi SAW. secara alfabetis (a Handbook of Early Muhammadan Tradition). Karya inilah yang kemudian disalin ke dalam bahasa Arab oleh Muhammad Fu’ad ‘Abd al-Baqi dengan judul Miftah Kunuz al-Sunnah pada tahun 1934. Sedangkan cetakan asli diterbitkan di Leiden oleh penerbit Brill.

Karya lain Wensinck adalah kumpulan tulisan-tulisan lepas Snouck Hougronje dengan judul Verspreide Geschriften, dalam 6 jilid (1923-1927). The Muslim Creed, its Genesis and Historical Development (London: Cambridge the University Press, 1932). La Pansee de Ghazzali, diterbitkan secara anumerta (Paris: A. Maisonneuve, 1940). Asathir al-Qadisiyyin asy-Syarqiyyin, yang merujuk pada sumber-sumber bahasa Suryani, beberapa bagian sudah diterbitkan dan diterjemahkan olehnya dalam 2 jilid.[4]

Penilaian Terhadap Wensinck
· Ustadz Dr. Al-Gamrawi (dalam kitabnya Mursyid al-Muta’allim) mengatakan:”Adapun mengenai hadis, tidak diketahui siapa yang membuat kamus hadis pertama kali selain seorang orientalis yang bernama A. J. Wensinck”.[5]

Sekilas Tentang Muhaqqiq Handbook of Early Muhammadan Tradition


Nama lengkapnya adalah Muhammad Fu’ad Abd al-Baqi Effendi bin Shalih bin Muhammad.[6] Beliau lahir pada tanggal 8 Maret 1882 M/3 Jumadil Awwal 1299 H di desa Qaliyuby. Berasal dari keluarga yang terhormat berkebangsaan Mesir. Ayahnya berasal dari Qaman al-‘Arus, sedangkan ibunya berasal dari Barnabal. Semenjak al-Baqi lahir, ia beserta keluarganya tinggal di Mesir, hingga sampai pada usia –kurang lebih– lima tahun, ayahnya memboyongnya beserta keluarganya ke Sudan, dikarenakan tugas ayahnya sebagai pejabat Departemen Keuangan. Disana, ia bersekolah di Aswan selama kurang lebih satu setengah tahun. Setelah itu, ia dan keluarganya kembali ke Mesir dan al-Baqi meneruskan belajarnya di sana.

Al-Baqi masuk di Madrasah Ibtida’yyah‘Abbas hingga ujian akhir pada tahun 1312 H/1894 M. Namun ia tidak puas dengan itu, maka ia keluar dari sekolah ‘Abbas. Kemudian ia melanjutkan studinya di sebuah distrik di Amerika selama dua tahun. Di sana pun ia juga tidak menyelesaikan sekolahnya. Pada tahun 1317 H/1899 M, ia keluar kemudian bekerja sebagai tenaga pengajar Bahasa Arab di Sekolah Jam’iyat al-Misa’i al-Masykurah. Tak bertahan lama, ia meninggalkan pekerjaannya, lalu menjadi kepala sekolah di salah satu desa di pesisir Mesir. Ia mengabdikan dirinya di sekolah ini selama dua setengah tahun. Ia pun sempat menjadi pengajar Matematika, namun pada akhirnya, ia memilih mempelajari sastra di Madrasah al-Tahdhiriyah al-Kubra di Darb Al-Jamamiz, Mesir. Setelah beberapa tahun berkecimpung dalam dunia pendidikan, ia ikut andil dalam mengembangkan sebuah Bank Pertanian pada 3 Dzulhijjah 1323 H/30 Desember 1905 hingga tahun 1933.[7] Dan ia mulai tertarik dalam dunia hadis sejak umur 25 tahun[8]. Sejak itulah ia banyak bertemu dengan gurunya baik mendengarkan ataupun hanya membaca ilmu pengetahuan darinya. Dan pada tahun 1967 M/1388 H di Mesir, al-Baqi wafat dalam usia 90 tahun.

Guru dan Murid Fu’ad Abd al-Baqi[9]

Guru al-Baqi yang paling berperan dalam kehidupannya sebagai pengkaji kitab-kitab hadis adalah Muhammad Syakir; mantan wakil universitas al-Azhar, ‘Abdullah bin Idris al-Sanusi, dan Muhammad Rasyid Ridla. Terbukti sebagai tanda terimakasih dan penghormatannya kepada Ridla, al-Baqi meminta agar Ridla menyampaikan muqaddimahnya dalam Miftah Kunuz al-Sunnah.

Penilaian Terhadap al-Baqi

Muhammad Husein Haekal: Muhammad Fuad Abdul Baqi adalah seorang yang senantiasa terjaga di pertigaan malam (mendirikan shalat lail) dan berpuasa di siang hari. Jasanya bagi pengembangan Islam amat besar, karena buah karyanya akan menjadi rujukan bagi hampir seluruh disiplin Ilnu Islam, mulai Ushul Fiqh, Ulum al-Qur'an, Tafsir, dan lainnya.[10]

Manshur Fahmi: Karya Abdul Baqi merupakan penemuan paling mutahir di bidang al-Qur'an.[11]

 Penulis: al-Baqi adalah seorang yang sangat jenius, produktif (khususnya dalam bidang mu’jam) dan sangat luar biasa dikarenakan ia mampu menterjemahkan (a Handbook of Early Muhammadan Tradition menjadi Miftah Kunuz al-Sunnah) sebuah kitab berbahasa Inggris ke dalam bahasa Arab, yang mana ia tidak tahu apa-apa tentang bahasa itu, hingga kita bisa memahami maksud dan tujuan muallif menciptakan kitab tersebut.

Buah Karya Abd al-Baqi

Telah dikemukakan sebelumnya bahwa al-Baqi adalah seorang yang sangat luar biasa dan produktif dalam menciptakan sebuah kitab kajian hadis, khususnya dalam bidang mu’jam (perkamusan). karya-karyanya sangat berguna bagi orang-orang semasanya ataupun setelahnya. Diantara karya-karya beliau adalah: Al-Mu’jam Al-Mufahras li Alfâzh Al-Qur’ân Al-Karîm, Mu’jam Gharîb Al-Qur’ân Mustakhrijan min Shahîh Al-Bukhâri, Al-Lu’lu’ wa Al-Marjân fî mâ Ittafaqa ‘Alaih Al-Syaikhân.

Profesi beliau bukan hanya sebagai penulis, namun juga seorang muhaqqiq. Diantara kitab yang telah ditahqiq olehnya yaitu: Shahîh Muslim karya Abu al-Husain ibn Muslim al-Qusyairi al-Naisaburi, Sunan Ibn Mâjah karya Abu ‘Abdillah ibn Majah, Miftâh Kunûz Al-Sunnah karya A.J. Wensinck, Al-Mu’jam al-Mufahras li Alfazh Al-Hadis al-Nabawi karya A.J. Wensinck, Tafshîl Âyât Al-Qur’ân.

Latar Belakang Penulisan Kitab Miftah Kunuz al-Sunnah

Semenjak al-Baqi bertemu dengan Ridla (1341 H/1922 M) hingga ia wafat, selama itu pula terjadinya komunikasinya yang intens dengan Ridha. Hal ini menimbulkan pengaruh yang amat besar terhadap sepak terjangnya dalam kajian al-Qur’an dan Hadis, khususnya dalam bidang katalogisasi keduanya. Interaksi dan kecintaan awalnya terhadap manuskrip-manuskrip karya orientalis “Wensinck” tak luput dari keterlibatan Ridha di dalamnya.

Tahun 1928, Ridha tertarik dengan kitab Miftah Kunuz al-Sunnah karya A.J. Wensinck dalam Bahasa Inggris (versi Bahasa Inggrisnya berjudul Handbook Of Early Mohammadan Tradition) yang dimiliki oleh Ahmad Muhammad Syakir. Ia kemudian mengutus al-Baqi dan sepupunya untuk bertandang ke rumah beliau. Singkat cerita, dalam kunjungannya itu, ia meminjam kitab tersebut selama kurang lebih dua bulan. [12]

Ridha amat terkesan dengan kitab tersebut, begitu pula halnya al-Baqi yang amat mengaguminya. Tak heran, Ridha kemudian merekomendasikan al-Baqi untuk menterjemahkannya ke dalam Bahasa Arab, yang dengan senang hati disanggupi oleh al-Baqi. Ia mencurahkan seluruh perhatiannya untuk menterjemahkan kitab ini, dan menghabiskan waktu lima tahun, hingga akhirnya kitab tersebut rampung diterjemahkan tahun 1933 M/1352 H.

Tak hanya sampai di situ. Dikarenakan kegandrungan dan kekagumannya akan karya-karya monumental para orientalis terkait katalogisasi al-Sunnah, usai merampungkan terjemah kitab Miftah Kunuz al-Sunnah, ia memutuskan untuk menterjemahkan kitab al-Mu’jam al-Mufahras li Alfazh al-Hadis al-Nabawi karya A.J. Wensinck. Ia pun berkirim surat dengannya, guna menyampaikan niatannya untuk menterjemahkan karyanya itu ke dalam Bahasa Arab, sekaligus meminta izin darinya. A.J. Wensinck, tak hanya membalas surat dan memberi izin padanya, bahkan menghadiahkan al-Baqi jilid satu dari karyanya (al-Mu’jam al-Mufahras li Alfazh al-Hadis al-Nabawi), yang menunjukkan adanya pemberian otoritas yang besar pada al- Baqi untuk mentashih kitabnya. Dengan cermat, ia melakukan pembacaan dan penelitian yang mendalam terhadap kitab Wensinck tersebut. Dalam hal ini al-Baqi tidak hanya menterjemahkan saja, namun juga mengoreksi berbagai data yang salah yang kemudian ia kembalikan pada Wensinck.

Miftah Kunuz al-Sunnah; Objek kajian, metodologi, sistematika


Objek kajiannya adalah topik-topik masalah hadis yang terdapat dalam kitab-kitab hadis yang menjadi rujukan dari kitab ini. Karena Miftah Kunuz al-Sunnah merupakan kamus hadis yang disusun berdasarkan tema/topik masalah (maudlu’). Kitab ini berguna bagi pengkaji yang tidak hafal matan hadis. Bahasa asli dari kitab ini adalah bahasa Inggris dengan judul a Handbook of Early Muhammadan Tradition yang dikarang oleh A. J. Wensinck. Kamus hadis yang berbahasa Inggris tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Arab yang memakan waktu selama 5 tahun oleh Muhammad Fu’ad ‘Abd al-Baqi Effendi pada tahun 1934 M yang diterbitkan di sebuah percetakan di Lahore pada tahun 1398 H/1978 M.

Selanjutnya, setiap halaman kamus terbagi dalam tiga kolom. Setiap kolom memuat topik, baik yang berkenaan dengan masalah-masalah yang berkaitan dengan petunjuk Nabi maupun yang berkenaan dengan permasalahan yang berkaitan dengan nama. Untuk setiap topik biasanya disertakan beberapa subtopik, dan untuk setiap subtopik dikemukakan data hadis dan kitab yang menjelaskannya. Perlu ditegaskan di sini bahwa berbagai hadis yang ditunjuk oleh kamus ini belum dijelaskan kualitasnya. Untuk mengetahui kualitasnya diperlukan penelitian tersendiri. Walau demikian, kitab ini sangat berperan penting dalam mengkaji hadis. tanpa Miftah, para pengkaji akan kesulitan dalam mengkaji dan memahami hadis. Dengan kitab inilah akan mempercepat proses kajian hadis.

Adapun yang menjadi rujukan kamus ini tidak hanya kitab-kitab hadits saja, tetapi juga kitab-kitab sirah Nabi. Kitab ini merupakan kamus untuk 13 kitab hadis primer, yaitu; Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, Musnad al-Imam Ahmad bin Hanbal, Sunan al-Darimi, Sunan Abi Daud al-Sijistani, Sunan al-Tirmidzi, Sunan al-Nasa’i, Sunan Ibnu Majah, Muwatta’ karya Imam al-Malik, Musnad karya Abi Daud al-Thayalisi (w. 204 H), Sirah Ibnu Hisyam(w. 218 H), al-Magazi karya Imam Muhammad bin Amr al-Waqidi(w. 207 H), dan Thabaqat al-Kabir karya Muhammad Ibnu Sa’ad (w. 230 H). Adapun Musnad Imam zaid bin Ali bin al-Husain bin Ali bin Abi Thalib (w. 122 H) merupakan kitab fiqih di kalangan ulama al-Zaidiyah dari Syi’ah.

Langkah-Langkah Menggunakan Miftah Kunuz al-Sunnah

Langkah awal yang harus kita kerjakan adalah menentukan topik permasalahan hadis yang akan kita kaji. Misal, hadis yang dicari adalah yang memberi petunjuk tentang pemenuhan nazar. Dengan demikian, topik Yang dicari dalam kamus adalah topik tentang nazar.

Setelah dilakukan pelacakan, kita akan mendapatkan topik nazar termuat di halaman 497, kolom ketiga. Topik tersebut mengandung empat belas sub topik. Sub topik Yang dicari berada pada urutan kedua belas yakni (الأمر بالوفاء بالنذر) pada halaman 498, kolom ketiga. Data yang tercantum dalam sub topik adalah sebagai berikut: Sunan Abu Daud, nomor urut kitab (bagian) 21; nomor urut bab: 22. Sunan lbnu Majah, nomor urut kitab (bagian) 11;nomor urut bab: 18. Sunan Ad-Darimi, nomor urut kitab (bagian) 14; nomor urut bab: 1. Muwatta 'Malik, nomor urut kitab (bagian) 22 nomor urut bab: 3. Musnad Ahmad, juz ll, halaman 59; juz lII, halaman 419; dan juz VI, halaman 366 (dalam halaman itu hadis dimaksud dimuat dua kali). Kemudian, setelah data diperoleh, maka hadis yang dicari yakni hadis yang membahas pemenuhan nazar dilacak pada kelima kitab hadis di atas. Judul-judul kitab (dalam arti bagian) yang ditunjuk dalam data di atas dapat diperiksa pada daftar nama kitab yang termuat dalam kitab hadis yang bersangkutan.

Sekiranya topik yang dikaji berkaitan dengan nama orang, misalnya Abu Jahal, maka nama tersebut ditelusuri dalam kamus. Nama Abu Jahal ternyata terletak di halaman l5 kolom kedua, sub topiknya ada empat macam. Data untuk sub topik yang pertama, misalnya berbunyi sebagai berikut:

سوء معاملته للنبي ص.

Artinya:”Keburukan tingkah laku Abu Jahal terhadap Nabi SAW.” Dengan demikian untuk mengetahui keburukan tingkah laku Abu Jahal kepada Nabi Muhammad SAW. dapat diperiksa hadis-hadis yang termuat dalam: Shahih Muslim, nomor urut kitab (bagian) 50 pada nomor urut hadis 38; Musnad Ahmad juz II, halaman 370, data tersebut agar dikonfirmasikan dengan data yang dikemukakan sebelumnya dan sesudahnya; Sirah Ibnu Hisyam halaman 184.

Perlu diketahui bahwa kamus yang disusun oleh al-Baqi ini mengemukakan lafal hadis Nabi, baik dalam bentuk qauli maupun fi’li. Namun, hadis yang berupa qauli ini pun tidak seluruhnya dimuat.

Adapun riwayat Bukhari no. 5649:

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

Artinya:......bahwa Rasullulah bersabda, "(Ukuran) orang yang kuat (perkasa) itu bukanlah dari kekuatan orang itu dalam berkelahi, tetapi yang disebut sebagai orang yang kuat adalah orang yang mampu menguasai dirinya tatkala dia marah."

Setelah dilakukan pelacakan, ternyata hadis ini tidak dimuat dalam kamus. Padahal Imam al-Bukhari menyebutkan hadis tersebut dalam shahihnya pada juz 5 halaman 2267 dan nomor urut hadis 5763.[21]

Keunggulan dan Kekurangan Kitab Fu’ad Abd al-Baqi Effendi

· Miftah Kunuz al-Sunnah disusun secara alfabetis, sehingga sangat mudah untuk dipahami oleh pembaca. Dan dengan kitab ini, akan memudahkan seseorang dan merupakan cara yang cepat dan tepat untuk mengkaji hadis.

Kekurangan Kitab

· Tidak mencantumkan kualitas hadits, sehingga untuk mengetahui kualitasnya, pengkaji hadits perlu meneliti ulang.
· Kalah bersaing dengan teknologi modern. Adanya CD ROM atau yang lainnya menyebabkan Miftah ini jarang digunakan pengkaji hadis karena penggunaan Miftah memerlukan banyak waktu.
· Ada sebagian hadis yang tidak dimuat dalam kamus.

Peran Miftah dalam Kajian Hadis

Upaya mencari hadis terkadang tidak didasarkan pada lafal matan hadis, akan tetapi didasarkan pada topik masalah (maudlu’). Pencarian matan hadis berdasarkan topik masalah sangat menolong pengkaji hadis yang ingin memahami petunjuk-petunjuk hadis dalam segala konteksnya. Pencarian matan hadis berdasarkan topik masalah tertentu itu dapat ditempuh dengan cara membaca berbagai kitab himpunan kutipan hadis, namun berbagai kitab itu biasanya tidak menunjukkan teks hadis menurut para periwayatnya masing-masing. Padahal untuk memahami topik tertentu tentang petunjuk hadis, diperlukan pengkajian terhadap teks-teks hadis menurut periwayatnya masing-masing. Maka dengan bantuan kamus hadis tertentu, pengkajian teks dan konteks hadis menurut riwayat dari berbagai periwayat akan mudah dilakukan. Salah satu kamus hadis itu ialah Miftah Kunuz al-Sunnah. Kamus ini bisa diibaratkan dengan sebuah lemari yang terkunci rapat, tidak ada yang bisa membukanya kecuali dengan kunci tertentu. Maka al-Baqi-lah yang menciptakan kunci itu yaitu Miftah Kunuz al-Sunnah sebagai kunci kitab-kitab hadis.

Di depan telah disebutkan bahwa kitab ini berguna untuk memudahkan dan merupakan cara yang cepat dalam mengkaji hadis. Betapa tidak, ketika kita mendapatkan (misal) kitab Thabaqat karangan Ibnu Sa’id yang berjumlah delapan jilid. Dan pasti banyak hadis yang ditulis oleh pengarang. Kita akan kesulitan ketika mencari hadis yang kita maksud tanpa sebuah kamus.

Penutup

Dari pemaparan di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa A. J. Wensinck adalah pelopor penulisan kamus hadis yakni a Handbook of Early Muhammadan Tradition yang kemudian diterjemahkan oleh Muhammad Fu’ad Abd al-Baqi Effendi. Yang mana Miftah ini berguna untuk melaksanakan metode takhrij hadis dengan menentukan pokok/tema dalam hadis.

Sistematika penulisan kitab Miftah ini secara alfabetis. Namun, nilai atau kualitas hadis yang dimuat dalam kitab ini tidak dijelaskan. Maka untuk mengetahui kualitasnya perlu pengkajian tersendiri.

Terlepas dari kekurangan dan kelebihan kitab Miftah ini, yang jelas metode Miftah yang ditawarkan Wensinck maupun al-Baqi ini memberi warna tersendiri dalam studi kitab-kitab hadis, setidaknya dapat memudahkan para pengkaji hadis dalam menelusuri atau mencari hadis dari sumber kitabnya.

Daftar Pustaka


Al-Baqi , Muhammad Fu’ad Abd, Miftah Kunuz al-Sunnah. Lahore: Idarah Tarjuman al-Sunnah, 1978.

Tamam, Ahmad, ”Muhammad Fuad Abd al-Baqi: Fihrisah al-Qur’an dan al-Sunnah”, dalam http://www.Islamonline.com, diakses tanggal 5 Maret 2009.

Haekal, Muhammad Husein, Mu'jam Garib Al-Qur’ân Mustakhrijan min Shahîh Al-Bukhâri.

Fahmi, Manshur, Al-Mu'jam Al-Mufahras li Alfazh Al-Qur'an al-'Azhim

Barkah, Muhammad Sayyid, “Muhammad Fuad Abd al-Baqi: Khadim al-Qur’an wa al-Sunnah”, dalam http://www.shareah.com, diakses tanggal 5 Maret 2009.

Badawi, Abdurrahman, dkk. Ensiklopedi Tokoh Orientalis. PT. LkiS Pelangi Aksara, 2003.

http://www. Shamela, diakses tanggal 1 Mei 2009.

Dosen Tafsir Hadis UIN Sunan Kalijaga. Studi Kitab Hadis. Yogyakarta: Teras, 2003.

Catatan Kaki

[1] Dosen Tafsir Hadis UIN Sunan Kalijaga, Studi Kitab Hadis (Yogyakarta: Teras, 2003), hlm. 259
[2] Dosen bahasa Arab di Universitas London
[3] Abdurrahman Badawi, dkk. Ensiklopedi Tokoh Orientalis (PT. LKiS Pelangi Aksara, 2003) hlm. 312
[4] Abdurrahman Badawi, dkk. Ensiklopedi Tokoh Orientalis, (PT. LKiS Pelangi Aksara, 2003) hlm. 312
[5] Lihat Muhammad Fu’ad Abd Al-Baqi, dalam Ta’rif bi al-Kitab Miftah Kunuz al-Sunnah, (Lahore: Idarah Tarjuman al-Sunnah).
[6]http://www.shamela. Diakses tanggal 1 Mei 2009
[7] Ahmad Tamam, ”Muhammad Fuad Abd al-Baqi: Fihrisah al-Qur’an dan al-Sunnah”, dalam http://www.Islamonline.com, diakses tanggal 5 Maret 2009.
[8] Lihat Muhammad Fu’ad Abd al-Baqi, dalam Muqaddimah kitab Miftah Kunuz al-Sunnah
[9] Penulis kesulitan dalam mencari data tentang murid-murid al-Baqi
[10] Muhammad Husein Haekal dalam Muqadimah kitab Mu'jam Garib Al-Qur’ân Mustakhrijan min Shahîh Al-Bukhâri.
[11] Manshur Fahmi dalam Pengantar Penerbit kitab Al-Mu'jam Al-Mufahras li Alfazh Al-Qur'an al-'Azhim.
[12] Muhammad Sayyid Barkah, “Muhammad Fuad Abd al-Baqi: Khadim al-Qur’an wa al-Sunnah”, dalam http://www.shareah.com, diakses tanggal 5 Maret 2009.
[13] Muhammad Fu’ad ‘Abd al-Baqi, Miftah Kunuz al-Sunnah (Lahore: Idarah Tarjuman al-Sunnah, 1978) hlm. 15
[14] Muhammad Fu’ad ‘Abd al-Baqi, Miftah Kunuz al-Sunnah...hlm. 15
[15]Muhammad Fu’ad ‘Abd al-Baqi, Miftah Kunuz al-Sunnah...hlm. 1
[16] Muhammad Fu’ad ‘Abd al-Baqi, Miftah Kunuz al-Sunnah...hlm. 5
[17] Muhammad Fu’ad ‘Abd al-Baqi, Miftah Kunuz al-Sunnah...hlm. 1
[18] Muhammad Fu’ad ‘Abd al-Baqi, Miftah Kunuz al-Sunnah...hlm. 10
[19] Muhammad Fu’ad ‘Abd al-Baqi, Miftah Kunuz al-Sunnah...hlm. 7
[20] Muhammad Fu’ad ‘Abd al-Baqi, Miftah Kunuz al-Sunnah...hlm. 76
[21] Lihat Shahih al-Bukhari dalam al-Maktabah al-Syamilah dan dalam CD ROM Mausu’ah terdapat pada hadis no. 5649

0 Response to "Buku Handbook of Early Muhammadan Tradition dan Kitab Miftah Kunuz al-Sunnah Muhaqqiq Fu’ad Abd al-Baqi Effendi"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!