Ijtihad pada Masa Imam Madzhab dan Setelahnya

Advertisement
Ijtihad pada Masa Imam Madzhab
Ijtihad pada imam madzhab ini merupakan ijtihad pengembangan dari masa tabi’in dengan cara meletakkan dasar dan prinsip-prinsip pokok dalam berijtihad yang kemudian disebut “ushul”. Langka dan metode yang mereka tempuh dalam berijtihad melahirkan kaidah-kaidah umum yang dijadikan pedoman oleh generasi berikutnya dalam mengembangkan pendapat pendahulunya. Sehingga dimasa inilah lahir dari tangan imam-imam mazhab cara berpikir yang sistematis dan terinci dan operasional yang disebut dengan “fiqh”.
Dalam berijtihad, imam madzhab, langsung merujuk kepada dalil syara’ dan menghasilkan temuan orisinal. Karena antar para mujtahid itu dalam berijtihad menggunakan ilmu ushul dan metode yang berbeda, maka hasil yang mereka capai juga tidak sama. Jalan yang ditempuh seorang mujtahid dengan menggunakan ilmu ushul dan metode tertentu untuk menghasilkan suatu pendapat tentang hukum, kemudian disebut “madzhab” dan tokoh mujtahidnya dinamakan “imam madzhab”. Diantara imam madzhab yang terkenal seperti yang telah diungkapkan pada tokoh-tokoh madzhab.

Ijtihad pada Masa Imam Madzhab

Para mujtahid madzhab ini dalam usaha menggali dan merumuskan hukum suatu masalah yang dihadapi di samping merujuk kepada dalil syara’, juga selalu memperhatikan situasi dan kondisi di tempat mujtahid itu berada sehingga semua hukum hasil ijtihadnya itu dapat diikuti serta diamalkan oleh pengikutnya, dan ketentuan hukum sebagai norma teoritis selalu aktual dalam kehidupan sesuai dengan waktu dan tempat berlakunya.
Hasil ijtihad para imam madzhab itu setelah melalui penyempurnaan di tangan murid-muridnya, disusun secara sistematis sehingga menghasilkan kitab-kitab fiqh madzhab. Ketentuan hukum dalam kitab-kitab fiqh itulah yang diikuti para pengikutnya sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari dan jadi rujukan para hakim dalam menyelesaikan perkara. Kita-kitab fiqh peninggalan imam madzhab ini merupakan salah satu faktor utama bagi kelangsungan dan perkembangan pemikiran mazhab tersebut hingga sekarang.
Beberapa metode ijtihad yang digunakan para ulama mujtahid ini dalam mengelurkan hukum syari’at, selain apa yang dijelaskan dalam nas al-Qur’an dan Hadis, para ahli mengerahkan segenap kemampuan nalarnya yang disebut ijtihad. Namun tidak semua ulama mujtahid menggunakn metode ijtihad yang sama, sehingga seorang mujtahid bisa berbeda hasil temuannya dengan ulama yang lain. Perbedaan metode tersebut ditentukan oleh jenis petunjuk dan bentuk pertimbangan yang dipakai oleh masing-masing mujtahid dalam berijtihad. Beberapa metode ijtihad itu adalah;
Istihsan (memperhitungkan sesuatu yang lebih baik)
Maslahah al-Mursalah (perintah atau larangan yang mengandung kebaikan).
Istishab (cara yang ditempu oleh ulama fiqh, saat tidak menemukan penyelesaian masalah)
‘Adat atau ‘Urf (kebiasaan orang), Madzhab Shahabi (ucapan/pendapat sahabat)
Syar’u Man Qablana (syari’at sebelum kita), dan
Saddu al-Zari’ah (tujuan perbuatan yang dituju, yaitu baik atau buruk).
Ijtihad pada Masa Sesudah Imam Madzhab
Kegiatan ijtihad pada masa sesudah imam madzhab hampir tidak ada, kalau tidak mau dikatakan ijtihad pada masa ini kehilangan daya nalar dan aktualisasinya. Masa ini yang terjadi hanyalah ber-taqlid (mengikut pendapat sebelumnya), tanpa ada upaya rumusan pendapat baru.
Beberapa penyebab yang melatari kelesuhan ijtihad pada masa ini, diantaranya;
Ulama tidak berupaya gigih mengeluarkan hukum, namun mereka digampangkan mengikuti apa yang telah ditetapkan imam madzhab sebelumnya, kadang-kadang tanpa mempertanyakan relevansi dan ketepatannya. Kondisi dan kompleksitas masalah saat fatwa itu dikeluarkan telah berubah dan berbeda dengan masa sekarang, sehingga terbuka untuk menguji dan mempertanyakan relevansi dengan kondisi sekarang ini.
Masyarakat sekarang ini diuntungkan dengan peninggalan kitab-kitab fiqh imam-imam madzhab sebagai rujukan dalam pembinaan dan perkembangan hukum, serta penerapannya. Dalam perkembangan selanjutnya menorehkan dampak negatif dalam citra perkembangan ijtihad. Para pengikut madzhab ini cukup membuka kitab-kitab itu, sehingga tidak perlu dan terdorong untuk berijtihad. Hal ini akhirnya melemahkan bahkan menghilangkan daya ijtihad.
Masuknya hukum kolonial di negara jajahan barat, menambah parah perkembangan ijtihad dan pemberlakuan hukum Islam, yang diterapkan sebagi hukum positif, telah menggeser posisi hukum di negara Islam. Di beberapa negara, fiqh yang dulunya melingkupi seluruh bidang hukum, akhirnya yang tersisa sebagai hukum positif hanyalah fiqh ahwǡl al-syakhsiyah yang melingkupi pernikahan dan perkawinan dan kewarisan, disamping soal ibadah. Sehingga dengan berlakunya hukum Barat hanpir disemua negeri yang beragama Islam , maka bidang fiqh di luar ibadat dan ahwǡl al-syakhsiyah, seperti fiqh mu’malat, jinayat, murafa’at atau peradilan dan siyasah kehilangan daya positifnya dan hanya tinggal sebagai pedoman yang tidak mengikat. Hal ini berarti bahwa hanya dalam bidang yang terbatas itu umat Islam mengikuti dan menjalankan hukum Allah. Masa ini berlangsung sangat lama dan sudah barang tentu berdampak negatif terhadap perkembangan dan pelaksanaan hukum Islam (fiqh).
Dampak dari ketiga alasan kelemahan ijtihad di atas, maka kegiatan ulama sekarang ada yang giat membuat syarah (menjelaskan dan menerangkan) kitab fiqh madzhab yang ada, sehingga kitab aslinya dalam bentuk sederhana, lebih luas dan mudah dipahami. Kemudian kitab fiqh ini diperluas lagi oleh ulama lainnya dalam bentuk kitab hasyiyah (menjelaskan sisi-sisi pokok bahasan). Selanjutnya kitab-kitab fiqh yang telah disyarah dan dihasyiyahkan secara panjang lebar itu dibuat ringkasannya yang disebut khulasah. Kegiatan syarah, hasyiyah dan khulasah tersebut mewarnai kegiatan ulama sekarang.
Sumber Tulisan
al-Ghazali, Imam. al-Mustahsfi min ‘ilmi al-Ushul. Jilid. 1; Bairut: mu’assasah al-risalah, th. 1997.
Hasan, Muhammad Ali. Perbandingan Madzhab. Cet. 2; Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 1998.

0 Response to "Ijtihad pada Masa Imam Madzhab dan Setelahnya"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!