Indahnya Kata-kata Bijak Tentang Kesabaran dalam Islam Terbaru 2015

Advertisement

Kesabaran (al-Sabr) sering diidentikkan dengan sikap pasrah, pasif dan nrimo, sehingga berkonotasi pada sikap negatif. Padahal, dalam tradisi tasawuf ia dijadikan sebagai salah satu maqam untuk meraih derajat puncak kesufian para pengembara ruhani.

Tingkat kesabaran seseorang dalam menghadapi hal-hal yang menyinggung perasaan berbeda-beda. Ada yang tersinggung sedikit saja sudah meluap, dan ada pula yang sekalipun menghadapi kesukaran ia tetap sabar berkat pikiran yang mantap dan kehalusan serta kebaikan perangainya.

Watak asli yang ada pada seseorang memang besar sekali peranannya adalah orang yang mudah marah atau tenang, apakah ia berfikiran keruh atau jernih dan sebagainya. Namun antara kepercayaan terhadap diri sendiri dan kesabaran dalam menghadapi kesalahan orang lain terdapat kaitan erat. Seorang manusia besar yang telah mencapai tingkat kessempurnaan ia akan tambah berlapang dada, bertambah besar pula kesabarannya.[1]

kata motivasi sabar dan ikhlas

Tulisan ini berusaha mengungkap seputar Sabar, yang mencakup

Ø Hakikat dan Makna Sabar
Ø Esensi Sabar
Ø Keutamaan Sabar dan Urgensinya
Ø Jenis-jenis Sabar
Ø Derajat Kesabaran
Ø Waktu dan Rintangan Bersabar
Ø Tokoh Teladan Sabar
Ø Sabar dan Kaitannya dengan Iman
Ø Term-term yang identik dengan Sabar
Ø Relevansinya
Ø Kiat untuk Bersabar
Ø Kesabaran Rasanya Pahit, tetapi Akibatnya Manis bagaikan Madu; sebuah refleksi

Bentuk Pengungkapan Kata Bijak Sabar dalam Al-Quran

Untuk mengetahui gambaran yang jelas tentang bentuk isytiqaq kata sabar dalam Al-quran, maka dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

1) Kata Sabar dalam Fiil Madhi


a. Sabara terulang sebanyak dua kali, yakni pada QS. al-Syu’ara’[42]: 43, dan al-Ahqaf [46]: 35.
b. Sabaru terulang sebanyak 15 kali, yaitu pada QS. al-An’am[6]: 34, al-A’raf[7]: 137, Hud [11]: 11, an-Nahl[16]: 42, 96, 110, al-Mu’minun[23]:111, al-Furqan[25]: 75, al-Ankabut[29]: 59, as-Sajadah[32]: 24, Fussilat[41]: 35, ar-Rad[13]: 22, al-Qasas[28]:54, al-Hujurat[49]: 5, dan al-Insan[76]:12.
c. Sabarna, terulang sebanyak dua kali, yaitu pada QS. Ibrahim[14]: 21 dan al-Furqan[25]:42
d. Sabartum, terulang sebanyak dua kali yaitu pada QS. ar-Rad[13]:24 dan an-Nahl[16]: 126.

2) Kata Sabar dalam Fiil Mudhari’

a. Tasbiru tertulis sekali dalam QS. al-Kahfi[18]: 68.
b. Tasbiru terulang sebanyak enam kali yaitu pada QS. at-Tur[52]: 16, al-Furqan[25]: 20, Ali-Imran[3]: 110, 125, 186 dan QS. an-Nisa’[4]: 25.
c. Nasbiranna tertulis sekali dalam QS. Ibrahim[4]: 12
d. Nasbiru tertulis sekali dalam QS. al-Baqarah[2]: 61.
e. Yasbiru tertulis sekali dalam QS. Yusuf[12]: 91.
f. Yasbiru tertulis sekali dalam QS. Fussilat[41]:24.

3) Kata Sabar dalam Isim Fa’il
a. As-Shabirun terulang sebanyak tiga kali yaitu dalam QS. al-Qasas[28]: 85, az-Zumar[39]: 10 dan al-Anfal[8]: 65.
b. As-Shabirin terulang sebanyak 15 kali yaitu dalam QS al-Anbiya’[21]:185, as-Saffat[37]:102, al-Baqarah[2]: 153, 155, 177, 249, Ali-Imran[3]: 17, 142, al-Anfal[8]: 46, 66, an-Nahl[16]: 126, al-Hajj[22]: 35, al-Ahzab[33]: 35 dan Muhammad[47]: 31.
c. Sabbar terulang sebanyak empat kali yaitu dalm QS. Ibrahim[14]: 5, Luqman[31]: 31, Saba’[34]: 19, dan al-Anfal[8]: 66
d. Shabiran tertulis sebanyak dua kali yatu dalam QS. Al-Kahfi[18]: 69 dan Sad[38]: 44.

4) Kata Sabar dalam Fiil Amr

a. Isbir terulang sebanyak sembilan belas kali yaitu dalam QS. Yunus[10]: 109, Hud[11]: 49, 115, ar-Rumr[20]: 60, Luqman[31]: 17, Sad[38]: 17, Gafir[40]: 55, 77, Qaf[50]:39, at-TA’raf[7]: 87, 128, Sad[38]: 6, at-Tur[52]: [52]: 48, al-Ma’arij[70]: 5, al-Mudatsir[74]: 7, an-Nahl[14]: 127, al-Kahfi[18]: 28, Taha[20]: 130, al-Ahqaf[46]: 35, al-Qalam[69]: 48, al-Muzammil[73]: 10 dan al-Ihsan[76]: 24..
a. Isbiru terulang sebanyak enam kali yaitu dalam QS. Al- 16, Ali Imran[3]: 200, dan al-Anfal[8]: 46.
b. Istabir terulang sebanyak tiga kali dalam QS. Maryam[19]: 65, Taha[20]: 132 dan al-Qamar[54]: 27.
c. Shabiru tertulis sekali dalam QS. Ali-Imran [3]: 200.

5) Kata Sabar dalam Isim Masdar (infinitif)

Tertulis dalam satu bentuk sebanyak 14 kali yaitu dalam QS. Yusuf [12]: 18, 83, al-Balad [90]: 17, al-‘Asr [103], al-Baqarah [2]: 45, 153, al-A’raf [17]: 126, al-Kahfi [18]: 67, 72, 75, 78, 82, al-Baqarah [2]: 250, an-Nahl [16]: 127.[2]

Sungguh Allah telah banyak berfirman dalam al Qur’an bahwa sabar merupakan suatu sifat yang utama untuk dimiliki oleh setiap manusia.

Sabar dalam Kehidupan

Makna dan Hakikat Mutiara Sabar 

Kata “sabar” diambil dari bahasa Arab صبر . Dalam pengertian istilahi, term tersebut dimaknai dengan mencegah dalam kesempitan, memelihara diri dari kehendak akal dan syara’ dan dari hal yang menuntut untuk memeliharanya. Bisa diartikan pula dengan menahan diri (nafsu) dari keluh kesah, meninggalkan keluhan atau pengaduan kepada selain Allah.[3]

Sabar adalah keadaan seseorang berlapang dada menerima apa yang terjadi (hal yang tidak diinginkan) adapun kalau hal itu tidak dapat dipungkiri serta percaya penuh bahwa semua itu dari Allah adapun Al-Ghazali mengartikan sabar lebih menitikberatkan pada sifat-sifat suatu perbuatan yang tidak baik (tidak pada suatu kejadian yang menimpa seseorang) yaitu dengan meninggalkan segala macam perbuatan yang diinginkan oleh nafsu atau syahwat, dan perbuatan yang tidak memberikan manfaat baik didunia dan diakhirat. [4]

Mencermati sabar dalam pandangan tasawuf maka sabar erat kaitannya dengan kesabaran dalam menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi segala larangannya serta dalam menerima segala cobaan yang ditimpakan. Tidak menunggu-nunggu datangnya pertolongan dari Tuhan. Dengan sabar ini para sufi sengaja dan menyiapkan diri bergelimang dengan berbagai macam cobaan, kesulitan dan derita dalam hidupnya dengan sikap sabar dengan tanpa adanya keluhan sedikitpun. Jadi, meskipun dalam banyak uraian tentang kesabaran mencerminkan sikap pasif dan pasrah, namun tidak selalu memberi pengertian bahwa sikap sikap tersebut terlebih dahulu tanpa didasari usaha dan upaya.[5] Anggapan tersebut jelas keliru. Sikap sabar tidak identik dengan sifat pasif, tetapi justru aktif.[6]

Sabar merupakan derajat utama pula bagi orang-orang yang menempuh jalan menuju Allah (suluk). Semua kedudukan agama itu pada dasarnya dapat disusun menjadi tiga hal, yaitu ma’rifat, hal ihwal dan amal perbuatan. Ma’rifat adalah pokok yang dapat menimbulkan hal ihwal. Sehingga diibaratkan bahwa ma’rifat itu seperti pohon, hal ihwal itu dahannya dan amal perbuatan adalah buahnya. Oleh karena itu sabar hanya akan dapat dilakukan dengan sempurna jika seseorang telah menguasai ma’rifat.[7]

Dari beberapa makna tersebut diatas jelas bahwa sabar tidak identik dengan sikap lemah, menerima apa adanya atau menyerah, tetapi merupakan usaha tanpa mengenal lelah atau gigih yang menggambarkan kekuataan jiwa pelakunya sehingga mampu mengalahkan atau mengendalikan hawa nafsunya. Sabar juga bukan berarti mengedepankan seluruh keinginan sampai terlupakan di bawah sadar sehingga dapat menimbulkan kompleks-kompleks kejiwaan, tetapi pengendalian keinginan yang dapat menjadi hambatan bagi pencapaian sesuatu yang luhur( baik) dan mendorong jiwa sehingga pelakunya mencapai cita-cita yang didambakan. [8]

Esensi Kata Bijak Sabar dalam Kehidupan

Esensi sabar adalah keteguhan yang mendorong hidup beragama, dalam menghadapi dorongan hawa nafsu. Itu ialah karakteristik manusia yang terkomposisi dari unsur malaikat dan binatang. Binatang hanya dikuasai oleh dorongan-dorongan nafsu birahi, sedangkan para malaikat tidaklah dikuasai oleh hawa nafsu. Mereka semata-mata diarahkan pada kerinduan untuk menelusuri keindahan kehadirat ketuhanan dan dorongan kearah derajat kedekatan dengannya. Mereka bertasbih mensucikan Allah s.w.t. sepanjang siang dan malam tiada henti. Pada diri mereka tidak ada dorongan hawa nafsu.[9] Sementara pada diri manusia dan binatang cenderung mengikuti hawa nafsunya. Jika manusia dapat mengendalikan hawa nafsu, maka berarti ia telah mencapai tingkatan sabar.

Keutamaan Sabar dan urgensinya dalam Islam

Sabar adalah kekuatan jiwa yang harus dimiliki setiap muslim . Tanpa memiliki sifat sabar seseorang tidak akan mampu menghadapi berbagai macam godaan dan bisikan dunia dengan segala macam yang ditawarkannya meniscayakan adanya bujuk rayu yang senantiasa hadir menggugah hawa nafsu yang tanpa kesabaran tentu kita akan terjerambab dalam lembah hitam dunia, tak hanya itu dalam hidup dan kehidupan seringkali kita dihadapkan oleh peristiwa yang tak selalu sesuai dengan apa yang kita inginkan . Dalam syair Arab dikatakan  “saya berkehendak begitu, kamu begitu, kita begitu tapi Dia (Allah ) berkehendak lain”.[10]

Manusia tanpa pengejewantahan atas konsep sabar yang ditawarkan menurut pendapat penulis adalah seorang manusia yang menjalani kehidupan hanya berpangkal pada kekecewaan, kesedihan karena hakikatnya semua yang terjadi adalah bukan kehendak kita karena kehendak kita tidak selamanya identik dengan kehendak Tuhan.

Allah telah menyatakan bahwa orang yang tidak memiliki kesabaran akan menderita kerugian, seperti misalnya dalam QS. Al Ashr: 1-3.[11] Sabar merupakan senjata yang paling ampuh bekal yang paling berguna dan penolong yang paling besar. Sabar adalah cahaya yang menerangi jalan orang mukmin sehingga ia tidak kebingungan saat menghadapi berbagai kendala dan problem.

Kata Sabar sebagai Jalan menuju Keselamatan

Peran sabar amat dibutuhkan bagi manusia untuk menghadapi setiap rintangan atau kebimbangan untuk membela agama Allah dengan menegakkan syariat-Nya. Sebab, kebimbangan dan keraguan tersebut terkadang timbul manakala kita dihadapkan oleh bujuk rayu nafsu kesenangan duniawi atau bahkan banyak lagi yang semuanya merupakan jerat perangkap musuh-musuh Allah . oleh karena itu, Allah Azza wajalla dengan tegas menyatakan bahwa sabar adalah jalan menuju keselamatan , hal ini ditandai dengan firmannya QS. Ali Imran, 200 :

“ Hai orang-orang yang beriman, Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung ”.

Jenis-jenis Sabar Dalam Islam

1).Sabar dalam melakukan ketaatan

Seringkali kita menjumpai keadaan yang mempengaruhi jiwa kita yang disebabkan oleh nasihat-nasihat agama ataupun yang merupakan amal shaleh lainnya, sehingga kita menunjukkan komitmen kita akan hal itu,tetapi kita tidakmemiliki kesabaran untuk itu maka seseorang tidak mungkin dapat komitmen dalam ketaatan terhadap Allah selama ia tidak meghiasi diri dengan sifat sabar yag akan menolongya . karena pada dasarnya jiwa manusia itu tidak menyenangi hal-hal yang memberatkan.maka sungguh tanpa kesabaran seseorang tidak akan mampu melakukan apa-apa selain mengikuti hawa nafsunya. Maka dari, itulah seseorang harus membiasakan diri dengan bersabar. Rasulullah SAW bersabda : “Barang siapa yang berusaha sabar, maka Allah akan menjadikannya sabar”.[12]

2). Sabar dalam menghadapi kemaksiatan

Maksiat adalah sesuatu yang menjatuhkan seseorang dari Rabbnya sesungguhnya orang mukmin itu mencintai Allah maka ia tidak sabar berada jauh dari Rabbnya .seorang mukmin sejati tentunya senantiasa mengagungkan-Nya malu dan takut kepada-Nya untuk melakukan kemaksiatanyang didengar dan dilihat oleh Allah sementara ia mendapat nikmat dari-Nya.di antara contoh yang menggambarkan besarnya pengaruh iman terhadap kesabaran seseorang menghadapi kemaksiatan adakah kisah yang terjadi pada zaman khalifah Umar bin Khatab, yaitu ketika ada seorang wanita muda di tinggal suaminya pergi untuk berjihad.

Karena di tinggal lama oleh suaminya, ia merasa kesepian sehingga terbitkah gejolak nafsunya sebagai manusia normal yang seandainya ia tidak sadar bahwa Allah saelalu mengawasinya, tentulah ia tidak akan maelakuka perbuatan yang haram. Hanya rasa takutnya kepada Allahlah yang mampu menjadikannya mampu menahan diri dari perbuatan dosa itu. Imannya telah menghantarkannya kepada kesabarannya. Jadi keimanan juga berperan penting dalam kesabaran.

3). Sabar dalam menghadapi cobaan dan rintangan

Allah berfirman dalam surat al Baqarah:155-157 ” Sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kamu dengan sedikit ketakutan , kelaparan, kekurangan harta dan jiwa serta buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira pada orang-orang yang sabar. (yaitu) Orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan,‘ innalillahi wa inna ilaihi raaji’un.’ Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabb mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk”

Alkisah, dahulu kala di kalangan Bani Israil ada seorang laki-laki ahli fiqh, berilmu dan ahli ibadah. Ia mempunyai seorang istri yang sangat cantik. Ketika istrinya meninggal ia sangat terpukul, sehingga ia mengunci diri untuk tidak keluar rumah. Mendengar ia berbuat seperti itu, maka datanglah seorang wanita Bani Israil untuk menemuinya. “ Tuan, aku punya masalah aku ingin minta fatwa kepada tuan, dan aku tidak puas kecuali aku mendengar jawabannya langsung dari engkau”. Karena wanita itu terus menerus memintanya, maka ia pun menerimanya. Sang wanita berkata, “ Tuan, aku pernah meminjam perhiasan dari tetanggaku. Ia lama aku pakai. Kemudian tetanggaku itu memintanya, apakah aku harus menyerahkannya?” si Laki-laki itu menjawab, “Ya, engkau harus mengembalikannya.” Maka wanita itu menukas, “ Semoga Allah memelihara tuan. Kalau begitu, apakah tuan bersedih ketika Allah mengambil miliknya yang dipinjamkan kepada tuan. Bukankah ia lebih berhak untuk mengambilnya ?” Laki-laki itu paham maksud ucapan si wanita.[13]

Dari kisah diatas, kita dapat mengambil ibrah bahwa segala sesuatu yang kita miliki didunia pasti akan kembali kepada-Nya karena pada hakikatnya yang berhak atas apa yang telah diciptakan ialah maha yang menciptakan apa yang telah ia ciptakan dan Allah memiliki otoritas penuh dalam hal ini. Seringkali kali kita merasa bahwa Tuhan tidak adil dengan menimpakan apa yang sama sekali tidak pernah kita harapkan bahkan mungkin sama sekali tidak pernah terbayang sebelumnya terbayang dalam benak kita. Perlu diingat bahwa segala sesuatu yang kita anggap baik belum tentu baik dihadapan Allah begitu pula sebaliknya, apa yang seringkali kita anggap tidak baik belum tentu tidak baik pula dihadapan Allah.

Derajat kesabaran dalam Al-Qur'an dan Hadis

Tingkatan tertinggi adalah terkekangnya seluruh dorongan hawa nafsu hingga tidak memiliki kekuatan sama sekali untuk kontra. Hal ini dicapai dengan kesabaran yang kontinyu dan mujahadah yang terus menerus. Mereka termasuk golongan yang disinyalir(dalam al Qur’an) surat al Ahqaf: 13, Fusshilat: 30: “ Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah", Kemudian mereka tetap istiqamah, mka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita”.

Kepada golongan tersebut Allah menyeru “ Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya”.

Tingkatan terendah adalah kokohnya dorongan-dorongan hawa nafsu dan tersisihnya dorongan agama. Hawa nafsu memenangkan kompetisi antara kalbu dan hawa nafsu, sehingga kalbu pun menyerah pada nafsu. Mereka termasuk golongan yang disinyalir dalam al Qur’an dalam surat as Sajdah:

“ Dan kalau kami menghendaki niscaya kami akan berikan kepada tiap- tiap jiwa petunjuk, akan tetapi Telah tetaplah perkataan dari padaKu: "Sesungguhnya akan Aku penuhi neraka Jahannam itu dengan jin dan manusia bersama-sama ”.

Tingkatan pertengahan adalah orang yang tidak bersungguh-sungguh melakukan penyerangan. Dalam peperangan itu, kemenangannya silih berganti. Adakalanya dia menang, tapi pada saat lain dia kalah. Inilah para mujahid yang disebut: ” (mereka) mencampur-baurkan pekerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk...”.

Masing-masing ketiga kesabaran di atas itu dirigkas lagi menjadi dua:

1. Sabar jasmani, yakni kesabaran dalam menerima dan melaksanakan perintah-perintah keagamaan yang melibatakn anggota tubuh seperti dalam ibadah haji, peperangan dan penyakkiit-penyakit jasmani.

2. Sabar ruhani ‘ yaitu kemampuan menahan kehendak hawa nafsu, meliputi; sabar menyangkut kesenangan duniawi, sabar untuk melirik kekayaan orang lain, sabar untuk tidak marah dan dendam.[14]

Waktu dan rintangan bersabar mengadapi Cobaan

Ada yang salah dalam praktek keseharian dan menyebutnya dengan sabar ketika berlalunya sebuah peristiwa. Lalu kapan waaktunya sabar itu? Sabar dibutuhkan pads waktun sebelum , sedang dan sesudah berbuat atau bersikap. Sabar pada sebelum dan awal perbuatan yaitu upaya untuk meluruskann niat dan mengukuhkan tekad serta merancang perbuatan. Sabar sedang atau beserta perbuatan adalah sebuah harapan hingga tercapai dengan sempurna dan sukses perbuatan tersebut.

Kisah Keteladan Tokoh yang Bersabar

Al qur’an mengisahkan beberapa tokoh yang sangat dikenal kesabarannya, diantaranya;

Kisah Kesabaran Nabi Ayyub as,- Kesabarannya dalam menjalani cobaan hidup berupa penyakit yang dideritanya sehingga ia sampai ditinggalkan keluarganya. Ia selalu mengembalikan segala urusannya kepada Allah dengan bertaubat dan beristigfar sehingga Allah memberi pahala dan imbalan berupa terlepasnya dari penyakit, duka cita kesusahan, karena kerabatnya telah kembali kepadanya setelah sekian lama meninggalkannya bahkan keturunannya bertambah banyak sampai dua kali lipat dari jumlah sebelumnya. Keadaan tersebut berubah karena sikapnya yang tidak pernah mengeluh dan bersabar.

Kisah Kesabaran Ya’qub as,- Kesabaran Ya’qub dengan hilangnya Yusuf karena dibuang oleh saudara-saudaranya yang iri dan dengki kepada Yusuf. Di sini Ya’qub benar-benar diuji kesabarannya dan ternyata memang ia dapat berlaku sabar dengan kesabaran yang baik yaitu kesabaran yang tidak ada keluh kesah. Kedukaan Ya’qub tidak hanya itu saja, ia kembali di uji harus berpisah dengan anaknya, yaitu Bunyamin. Karena ia ditahan Yusuf (raja Mesir) karena dalam karungnya terdapat piala raja yang sengaja dimasukkan Yusuf agar ia dapat menahan saudaranya itu.

Duka dan kesedihannya tersebut masih dinilai dalam batas kewajaran manusiawi, tidak sampai melampaui batas denagn menampakkan kegelisahan dan sikap yang tidak diridhai, namun sebaliknya ia bersikap ridha dan menerima qadha’ dan qadarnya.

Kisah Kesabaran Yusuf as,- Ia adalah figur penyabar yang dicontohkan dalam al Qur’an. Dia diuji oleh Allah yaitu mmendapatkan tipu muslihat perbuatan kakak-kakaknya, tipu daya dari Zulaikha, masuk penjara beberapa tahun tanpa kesalahan, dan berpisah dengan ayahnya, Ya’qub dan saudara-saudaranya. Akan tetapi bersabar dan tabah. Ia adukan seluruh persoalan hanya kepada Allah.

Kisah Kesabaran Ismail as,- Kesabaran nabi Ismail tatkala ia dengan tegas menjawab mimpi ayahnya, Allah memerintahkan kepada ibrahim untuk menyembelih ismail.

Kisah Kesabaran Nabi Nuh,- yaitu ketika ia dalam berdakwah kepada kaumnya selama 950 tahun dalam menyampaikan risalah dan tauhid kenabiaan. Yang didapat hanyalah cacian, hinaan dan ejekan yang didapatkannya, hanya beberapa orang yang mau mengikuti ajarannya. Sehingga Allah menurunkan adzab yang besar kepada kaumnya.

Kisah Kesabaran nabi ibrahim yaitu ketika ia dibakar oleh kaumnya yang tidak mau mengikuti ajarannya. Sehingga dengan kesabarannya itulah Allah menghilangkan panasnya api tersebut.

Kisah Kesabaran Nabi Musa,- yaitu ketika ia mendapat godaan, penderitaan dan ujian yang dialaminya. Seperti ketika harus menghadapi Fir’aun yang sangat kejam.

Sabar dan Kaitannya dengan Iman

Kesabaran termasuk dalam kategori keimanan, karena keimanan dikaitkan pada pengetahuan dan perbuataan sekaligus. Sedangkann seluruh amal perbuatan yang membentangkan dua sisi; preventif dan ekspresif; penyucian dan penghiasan diri, hanya bisa tuntas dengan kesabaran.

Bila iman bertambah mantap di dalam hati, bertambah pula kesabaran seseorang. Ia pun akan lebih mampu membuang rasa amarah dan nafsu hendak mencelakakan orang lain yang beerbuat salah terhadap dirinya.

Kedudukan seorang muslim disisi Allah banyak tergantung pada kesanggupannya mengendalikan diri, membuang amarah, mengekang lidah, menghindari soal-soal yang tidak berguna, dan menyesali kekeliruan atau kesalahannya.[15]

Term-term lain yang identik dengan kata Bijak sabar

1) ‘Iffah,- Term iffah diartikan dengan sampainya pada suatu keadaan dimana jiwa menahan terhadap mengalahkan nafsu, mencegah, menahan terhadap sesuatu yang tidak halal, tidak baik atau dalam pengertian lain meninggalkan hawa nafsu yang hina; mensucikan jiwa raga.

Sikap tersebut sebagaimana disinggung membutuhkan sikap sabar dan qana’ah yang serius. Sebab tanpa itu, tidak tercapai kepada maksud. Sikap tersebut pendek kataa mengandung pengertian untuk sabar, berqana’ah, baik dalam cara berpakaian maupun ucapan.

2) Hilm,- Term hilm berarti memelihara diri dari tabi’at terhadap bangkitnya kemarahan. Didalam al-quran, term yang mengandung pengertian hilm dengan arti sabar beserta isytiqaqnya terulang sebanyak 15 kali.

3) Qana’ah, Term “al-alqani” baik dalam pengertian bahasa, istilah, hingga kajian tasawuf dan tafsir sangat identik dengan term “sabar” yang di dalamnya mengandung pengertian adanya sikap menahan diri dari keluh kesah. Dalam pemaknaannya, ia mencakup aspek rela, menerima, puas, dan tidak meminta-minta yang itu semua cenderung kepada sikap dan prilaku sabar dalam hal menerima rizki yang sedikit sebagai perlawanan dari sifat rakus.

4) Zuhud, Term zuhud dalam pengertian bahasa, istilah, para mufassirin, dan tasawuf terdapat kesamaan visi, dimana terdapat unsur-unsur yang saling mendukung dengan term sabar, yaitu dalam hal menghadapi kesulitan hidup, dan dalam berupaya untuk tidak menjadi hamba dunia.[16]

Relevansi Potret Persekongkolan Musuh-musuh Allah untuk menguras Kesabaran Kita

Atas nama kebebasan berpikir, orang-orang kafir dan penganut ajaran batil menodai kemurnian akidah Islam dan mencoreng keutuhan dienullah yang hanif. Secara tidak langsung, umat Islam diajak untuk mengikuti Barat baik dalam pola pikirnya, kebudayaannya, maupun sistemnya. Padahal sistem, kebudayaan dan gaya hidup mereka yang realistis sama sekali terpisah dari ajaran Islam. Mereka melakukan hal itu agar kita melepaskan diri dari akidah, agar kita menjadi ekor mereka, meninggalkan syariat, nilai-nilai dan akhlaq kita.

Atas nama metode, mereka menyeru wanita-wanita kita untuk mencopot pakaian takwa dan menggantinya dengan pakaian jahiliyah yang merangsang dan mempertontonkan aurat yang disuruh Allah agar ditutupi Mereka mengatakan bahwa busana setan ini lebih baik daripada jilbab dan mereka mengklaim bahwa pakaian transparan itu menarik dan membuat cantik wanita, sepertinya kecantikan itu muncul karena telanjang atau kegenitan dalam berpenampilan dan menjauhkan diri dari agama Allah. Apa yang mereka serukan ini tidak lain adalah perbuatan setan yang menuju ke arah Jahannam, maka tidak boleh bagi kita untuk mendengarkan seruannya jika kita ingin mendapat surga di akhirat.

Dengan alasan seni, musuh-musuh Allah berusaha menyebarkan nyanyian-nyanyian cinta yang cengeng, tarian-tarian yang merangsng, kisah-kisah asmara yang penuh kecabulan dan memprouksi film-film yang mengajarkan kekerasan, percintaan, dan kebebasan pergaulan muda-mudi . mereka dengan segenap daya berusaha menanamkan kepada generasi muda, anak-anak dan orang tua kita bahwa yang disebut seni adalah adegan dari penampilan seperti itu, adegan dan penampilan yang lepas dari nilai-nilai agama, adegan dan penampilan yang membangkitkan syahwat.

Kiat untuk Menumbuhkan Sifat Sabar dalam Kehidupan Sehari-Hari

 Memahami arti kehidupan dunia dengan sebenarnya
 Menyadari eksistensi diri
 Keyakinan akan pahala yang lebih baik
 Keyakinan akan terbebas dari musibah
 Meneladani orang-orang yang sabar
 Berhati-hati terhadap kendala-kendala kesabaran antara lain; tergesa-gesa, marah-marah, rasa susah dan sedih yang mendalam, dan putus asa.[17]

Indahnya Kata Bijak Sabar dalam Hadis

Kesabaran Rasanya Pahit, tetapi Akibatnya Manis bagaikan Madu;

Sebuah Refleksi,- Syaikh ‘Abdul Qadir Jailani ra. berkata: Betapa sering Engkau berkata: “Apa yang harus kulakukan dan bagaimana caranya?” lalu dikatakan kepadamu: “tetaplah di tempatmu, dan jangan melanggar batas yang telah ditentukan, hingga datang kelonggaran kepadamu dari Dia yang memerintahkanmu untuk tetap berada di tempat di mana kamu berada.

Allah SWT berfirman QS Ali Imran: 200 "Hai orang-orang yang beriman, Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung"

Wahai mukmin, Allah telah memerintahkan kepadamu untuk bersabar, saling berpesan dengan kesabaran, saling menjaga ikatan, menjaga batasan-batasan yang ditentukan Allah, lalu Allah memperingatkanmu agar tidak meniggalkan kesabaran. Dia mengatakan: dan takutlah kepada Allah untuk meninggalkannya – yaitu meninggalkan kesabaran – karena kebaikan dan keselamatan ada dalam kesabaran. Rasulullah SAW bersabda: ”kedudukan sabar terhadap iman, bagaikan kepala terhadap tubuh. Juga dikatakan bahwa pahala segala seuatu sesuai dengan ukurannya, kecuali pahala sabar, karena sabar itu pahalanya tidak terbatas.

Sebagaimana firman Allah SWT (QS. 39:10) Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang berriman. bertakwalah kepada Tuhanmu". orang-orang yang berbuat baik di dunia Ini memperoleh kebaikan. dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya Hanya orang-orang yang Bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.

Apabila engkau sudah takut kepada Allah SWT, dengan menjaga kesabaran dan batasan-batasan yang telah ditentukan-Nya, maka ia akan melimpahkan apa yang telah dijanjikan-untukmu. Sebagaiman firman Allah dalam (_QS 65:2-3) "Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya".

Tetaplah sabar sehingga engkau termasuk orang-orang yang tawakkal kepada-Nya sampai Allah memberikan kelapangan kepadamu. . karena Allah telah berjanjiakian memberikan kecukupan kepadamu, dalam firman-Nya: “barang siapa bertawakkal kepada Allah, maka Dia cukupkan bagi-Nya .

Lalu dengan kesabaran dan tawakkalmu, engkau termasuk orang-orang yang berbuat kebaikan, dan dengan itu Allah akan mencintaimu sebagaimana dalam firman-Nya: “sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan”(QS 5:13).

Kesabaran adalah pangkal semua kebaikan dan keselamatan , baik didunia maupun di akhirat, karena darinya seorang mukmin naik kepada tingkatan ridha dan menerima lalu fana dalam semua perbuatan Allah sebagaimana keadaan badaliyyah dan ghaibah.

Maka, hati-hatilah, jangan sampai engkau meninggalkan kesabaran, sehingga engkau akan terhina didunia dan akhirat, dan luput dari kebaikan keduanya.

Kesimpulan

Sabar yang dalam pengertiannya adalah menahan diri dari melakukan perbuatan maksiat atau hal yang dibenci oleh Allah, merupakan sifat yang terpuji, mulia, dan tentu saja diridhai, namun berat untuk dilaksanakan karena dengan berbagai gangguan dan kendala yang siap menghadang, sehingga untuk mewujudkan perilaku sabar dibutuhkan upaya yang sunnguh-sungguh dalam diri manusia. Oleh sebab itu, merupakan sebuah kekeliruan jika sabar diidentikkan dengan sikap pasrah, pasif dan nrimo, sehingga berkonotasi pada sikap negatif.

Segala perbuatan yang akan dilakukan harus dibangun dan dilandasi oleh keyakinan yang kuat. Sebaliknya tanpa itu, prilaku sabar relatif sulit akan tercapai. Dengan keyakinan itulah, maka term sabar yang dideskripsikan dalam al-Quran yang sarat dengan materi yang mengedepankan pentingnya unsur keyakinan dan keimanan tersebut akan mudah diterima dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Selain itu, keyakinan lain yang harus ditumbuhkan dalam diri adalah bahwa prilaku sabar yang kita perankan di dunia ini berimplikasi dan berakibat bagi pelakunya di dunia dan akhirat. Diantara sekian banyak keyakinan-keyakinan yang perlu dibangun adalah yakin akan adanya pahala di sisi Allah dan yakin akan terbebas dari musibah bagi siapa yang dapat berlaku sabar.[18]

Dua nasihat tentang Nafsu dan Sabar

“Nafsu dapat menyebabkan penguasa menjadi budak;
Sabar bisa menyebabkan budak menjadi raja.[19]

Catatan Kaki[1] Muhammad al Ghazali, Akhlak Seorang Muslim( Bandung, Al Ma’arif: 1995) hlm 201
[2] . Fajrul Munawir, Konsep Sabar dalam Al-qur’an (Yogyakarta: TH Press, 2005), hlm.22-24.
[3] M. fajrul Munawir, Konsep sabar dalam al Qur’an ; Pendekatan Tafsir Tematik (Yogyakarta, TH Press. 2005)hlm.21
[4] Drs.S. Ansory al – Mansor, Cara Mendekatkan Diri kepada Allah (Jakarta , Fajar Interpratama offset,1997)hal 143
[5] M. Fajrul Munawir, Konsep Sabar dalam Al-qur’an (Yogyakarta: TH Press, 2005), hlm.5.
[6] Abdul Mustaqim, Akhlaq Tasawuf (Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2007) hal.74.
[7] Al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin (Surabaya: Gita Media Press, 2003) hal. 315
[8] Prof. dr Nasaruddin Umar, Tafsir social mendialogkan teks dengan konteks (Yogyakarta : eLSAQ Press, 2005) hlm. 37
[9] Terjemahan M. Luqman Hakim dan Hosen Arjaz Zamad (Risalah Gusti, 1996) hlm. 236
[10] Syaikh Syahhat bin Mahmud Ash-Shawi, Mahabbah Ilahiyah Menggapai Cinta Illahi (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2001), hlm.113
[11] Ibid, hlm. 115
[12] Syaikh Syahhat bin Mahmud Ash-Shawi, Mahabbah Ilahiyah Menggapai Cinta Illahi (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2001), hlm. 113-115.
[13] Syaikh Syahhat bin Mahmud Ash-Shawi, Mahabbah Ilahiyah Menggapai Cinta Illahi (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2001), hlm.118-125.
[14] Terjemahan M. Luqman Hakim dan Hosen Arjaz Zamad (Risalah Gusti, 1996) hlm.
[15] Muhammad al Ghazali, op. cit, hlm. 205.
[16] . Fajrul Munawir, Konsep Sabar dalam Al-quran (Yogyakarta: TH Press, 2005), hlm.40-60.
[17] Prof. dr Nasaruddin Umar, Tafsir sosial mendialogkan teks dengan konteks (Yogyakarta : eLSAQ Press, 2005) hlm.44
[18] Fajrul Munawir, Konsep Sabar dalam Al-quran (Yogyakarta: TH Press, 2005), hlm 72-73
[19] Imam Nawawi Al-Batani, Nashaihul Ibad; Menjadi Santun dan Bijak (Bandung: Irsyad Baitus Salam, 2005) hlm. 35

Daftar Pustaka
Mustaqim, Abdul. Akhlaq Tasawuf. Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2007.
Al Ghazali, Muhammad. Akhlak Seorang Muslim. Bandung: Al Ma’arif. 1995.
Al-Ghazali, Muhammad. Ihya’ Ulumuddin. Surabaya: Gita Media Press. 2003.
Munawir, M. Fajrul. Konsep sabar dalam al Qur’an ; Pendekatan Tafsir Tematik. Yogyakarta: TH Press. 2005.
Al – Mansor, Anshory. Cara Mendekatkan Diri kepada Allah. Jakarta: Fajar Interpratama offset. 1997.
Ash-Shawi, Syaikh Syahhat bin Mahmud. Mahabbah Ilahiyah; Menggapai Cinta Illahi. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. 2001.
Umar, Nasaruddin. Tafsir sosial mendialogkan teks dengan konteks. Yogyakarta : eLSAQ Press. 2005.
Terjemahan M. Luqman Hakim dan Hosen Arjaz Zamad. Risalah Gusti. 1996.
Izutsu, Toshihiko. _ . Mc Gil University Press. 1996.
Al-Bantani, Imam Nawawi. Nashaihul Ibad: Menjadi Santun dan Bijak. Bandung: Irsyad Baitus Salam. 2005.
Al-Jailani, Syaikh Abdul Qadir, Raihlah Hakikat, Jangan Abaikan Syai’at: Adab-adab Perjalanan Spiritual (terj.) Adab As-Suluk Wa At-Tawasshul Ila Manazil Al-Muluk, Bandung: Pustaka Hidayah, 2007.

Demikianlah Indahnya Kata-kata Bijak Tentang Sabar dalam Islam Terbaru 2015. Mudahan Kitda diberi kemudahan dalam menumbuhkan kesabaran dalam segala hal.

0 Response to "Indahnya Kata-kata Bijak Tentang Kesabaran dalam Islam Terbaru 2015"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!