Katak Bijak Islami Tentang Malu dalam Kehidupan Manusia 2016

Advertisement


Dalam Islam, setiap perbuatan baik tidak akan memiliki nilai religius tanpa didasari kepercayaan (keimanan) kepada Allah SWT. Seorang non-Muslim bisa saja memiliki amal baik, namun tanpa menyandarkan amal baiknya kepada Yang Satu, maka perbuatan baiknya hanyalah bersifat duniawi semata.

Sebaliknya, seorang Muslim yang berbuat baik akan memiliki keuntungan dua dimensi; dimensi duniawi dan ukhrowi (keakhiratan). Ini pada gilirannya akan menciptakan rasa tawadhu’ (rendah hati) di hati seorang Muslim, bukan sikap sombong dan pongah, karena ia sadar bahwa amal baiknya semata karena timbul dari keimanannya pada Allah, bukan karena dirinya sendiri. Dan karenanya, seorang Muslim tidak patut berbangga diri apalagi sombong atas segala perbuatan baiknya.

Hayâ yang secara literal positif bermakna “rasa malu, rasa segan dan sikap sopan” oleh Rasulullah disebut sebagai bagian dari keimanan. Ini artinya, seorang Muslim sangat dianjurkan memiliki sifat haya’. Hayâ dalam arti rasa malu adalah identik dengan sifat harga diri (murū’ah). Ketika kita mengatakan, “Dia tak tahu malu.” Hampir dapat dipastikan maksudnya adalah “Dia tak punya harga diri.”

Katak Mutiara Islami Tentang Kehidupan Manusia dalam Hadis

Rasa malu dan harga diri merupakan sifat mulia apabila dikaitkan dengan sifat-sifat mulia yang lain seperti kejujuran, kedermawanan, kesederhanaan dan kepedulian sosial. Kita merasa malu dan merasa tak punya harga diri apabila kita tidak jujur, tidak dermawan, tidak hidup sederhana dan tidak atau kurang peduli pada sesama yang membutuhkan uluran tangan kita.

Orang Jepang terkenal dengan sikap semacam ini. Sering kita mendengar berita di media seorang pejabat tinggi yang mengundurkan diri karena dituduh korupsi sekalipun belum terbukti. Orang India terkenal dengan sikap sederhana dan kepedulian sosialnya. Orang Eropa terkenal dengan rasa malu untuk korupsi dan bangga hidup sederhana dan merakyat. Bangsa Eropa Barat terkenal dengan sikap disiplin dan bersihnya.

Sikap hayâ semacam ini tampak kurang mendapat perhatian dari umat Islam Indonesia. Padahal, sebagaiman tersebut dalam hadits di atas, ia harus menjadi bagian dari keimanan serta Way of life (jalan hidup) kita. Beberapa hal tersebut di ataslah yang merupakan landasan dasar ditulisnya makalah ini.

Pengertian Hayâ’ Secara etimologi, Al-Hayâ’ (malu) berasal dari kata al-hayâtu (hidup) dan dari kata al-hayâ (air hujan). Imam al Wahidy pernah berkata: kata istihyâ’ itu berasal dari kata al-hayâtu, jadi al-hayâ’ itu dari kuatnya panca indera, halus (nyaman) serta enak dipandangnya suatu kehidupan. Al-Hayâ’ adalah malu, murūah, kehormatan dan lain-lain. Al-Hayâ’ (malu) adalah perubahan dan kekalahan diri yang dialami manusia akibat rasa takut dicela. Sedangkan terminoloi, Hayâ’ (malu) adalah sifat yang mendorong diri menghindari hal yang buruk dan mencegah ketidak-optimalan dalam memberikan hak kepada pemiliknya. Dalam pengertian yang lain Al-Hayâ’ (malu) adalah akhlak yang sesuai dengan sunnah yang membangkitkan fikiran untuk meninggalkan perkara yang buruk sehingga akan menjauhkan manusia dari kemaksiatan dan menghilangkan kemalasan untuk menjalankan hak Allah. Makna tersebut didasarkan atas hadis Nabi SAW:

إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلَامِ النُّبُوَّةِ الْأُولَى إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ

Artinya: “Sesungguhnya termasuk yang didapati manusia dari perkataan para nabi terdahulu adalah, ‘Jika engkau tidak malu maka lakukanlah sekehendakmu’. Dari beberapa definisi tetntang al-hayâ’ di atas dapat disimpulkan bahwa para ulama’ tidak jauh beda dalam mndefinisikan kata tersebut. Hakikatnya al-hayâ’ itu mendukung suatu konsep yang besar karena kata al-hayâ’ itu merujuk kepada sifat yang mendorong seseorang meninggalkan perkara-perkara yang buruk serta berhias diri dengan menjalankan amal-amal yang baik.

Hadis Tentang Īmân Dan Hayâ’; Hayâ’ sebagian dari Īmân (Kata Bijak Islami Tentang Kehidupan Manusia)

Dalam kitab-kitab primer hadis terdapat banyak hadis yang membahas masalah hayâ’ dan īman, khususnya kaiatannya hayâ’sebagai bagian dari īman. Berikut adalah salah satu hadis yang menerangkan bahwa hayâ’ termasuk cabang dari īman:


حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ الْجُعْفِيُّ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو عَامِرٍ الْعَقَدِيُّ قَالَ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ بلالٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيمَانِ.

Artinya: Diriwayatkan dari Abdulah bin muhammad al ju’fī, ia berkata: aku telah diceritai (mendapatkan hadis dari) oleh abu amir al ‘aqdī, ia berkata: sulaiman bin bilal telah menceritakan kepadaku dari abdillah bin dinar dari abī shalih dari abī hurairah r.a dari nabi Muhammad saw. ia bersabda : iman itu satu bidl’ dan enam puluh cabang, dan iman adalah cabang dari iman. (H.R. Imam Bukhari).

Al Bidl’ menurut imam al nawawi adalah hitungan antara tiga sampai sepuluh atau mulai tiga sampai sembilan.

Hubungan Īmân Dan Sifat Malu dalam Kehidupan Manusia

Īmân itu mempunyai lebih dari 60 cabang, sebagaimana tertera dalam hadis yang diriwayatkan imam Bukari di atas, dan yang termasuk salah satu cabang dari īmân adalah hayâ’. Jadi sifat hayâ’ (malu) yang dimiliki oleh umat Islam merupakan bagian dari cabang īmân. Maknanya, kalau seseorang itu mempunyai malu, īmân-nya berada di dalam tahap yang selamat.

Dalam sebuah hadis yang lain Rasulullah SAW bersabda : "Asal iman ialah telanjang (tanpa pakaian). Pakaiannya ialah takwa dan perhiasannya ialah malu."

Berdasar hadis tersebut di atas, hayâ’ (malu) merupakan sifat yang paling mulia yang diberikan Allah SWT. kepada hamba-Nya. Seseorang yang memiliki sifat hayâ’ (malu) mampu menahan dirinya dari melakukan perbuatan yang keji. Oleh sebab itu sifat hayâ’ (malu) menjadi pelengkap kesempurnaan seseorang insan. Sebuah perumpamaan; jika hayâ’ (malu) itu 50% dari īmân, maka 50% selebihnya adalah taqwa. Hayâ’ (malu) dan taqwa adalah dua sifat yang menjadikan seseorang mempunyai 100% ke- īmân -an. Taqwa di sini tidak berarti takut kepada Allah SWt saja, melainkan lebih dari itu. Taqwa kepada Allah SWT. harus diikuti dengan melakukan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Menurut Ibnu Maskawaih, sifat hayâ’ (malu) merupakan sikap yang dapat mempertahankan diri dari melakukan dosa. Orang yang malu, takut melakukan perbuatan yang tidak baik. Hakikatnya sifat ini salah satu sifat pribadi rang yang beriman.

Katak Motivasi Islami Tentang Kehidupan Manusia dalam Hadis

Hayâ’ (malu) adalah salah satu refleksi iman. Lebih dari itu, īmân dan hayâ’ (malu) akan selalu hadir bersama-sama. Apabila yang satu hilang, maka yang lain akan hilang pula. Semakin kuat iman seseorang, semakin tebal pulalah malunya. Dan sebaliknya semakin tipis sifat maludalam diri seseorang maka semakin lemah pula imannya. Rasulullah SAW bersabda:

الحياء والإيمان قرناء جميعا فإذا رفع أحدهما رفع الأخر.

Artinya: "Sifat haya' (malu) dan iman itu adalah seiringan. Apabila diangkat salah satu daripadanya, maka yang lain akan terangkat juga." (HR Baihaqi). Setiap orang islam wajib menjaga sifat malunya demi menjaga stabilitas iman terhadap Allah SWT. Di samping itu, hati juga perlu dijaga, kerana pada hatilah terletak īmân dan hayâ’ (malu) itu. Rasulullah s.a.w bersabda yang bermaksud: "Ingatlah, sesungguhnya pada tubuh badan manusia itu ada secuil daging. Jika baik daging itu, maka baiklah keseluruhan anggota jasadnya tetapi jika rosak daging itu maka rosak jugalah keseluruhan anggota jasadnya. Yang demikian itu ialah hati" (Riwayat Bukhari). Malu yang bersifat imani ini hanya didapati melalui proses makrifatullah yaitu mengenal Allah SWT. Yakni mengenal sifat-sifat-Nya serta ilmu-Nya yang melampaui segala maklumat yang tersembunyi di hati manusia. Orang yang benar-benar makrifat (mengenal) Allah pasti akan merasa malu. Malu yang akan menjadikan manusia malu kepada Allah, taat beribadah, wara’, dan berperibadi yang baik, di hadapan khalayak ramai atau waktu bersendirian.

Yusuf Qardlawi berkata: “Īmân yang tertanam di dada memberi inspirasi positif kepada seserang untuk berlaku dan beramal shalih. Īmân yang benar mebawa pribadi ke arah perubahan jiwa dan cara berpiir positif. Perubahan jiwa tersebut merupakan suatu revolusi dan pembaharuan tentang tujuan hidup, pandangan hidup, cita-cita, keinginan-keinginan dan kebiasaan”. Dari pemaparan Yusuf Qardlawi di atas, jelaslah bahwa hayâ’ merupakan salah satu elemen dasar yang dapat menjadikan sempurnanya īmân seseorang. Īmân tidak akan sempurna sebelum sifat hayâ’ tertanam dalam jiwa seorang mukmin. Apabila sifat hayâ’ sudah tidak terdapat dalam jiwa seorang mukmin, maka niscaya īmân sebagai sebuah unsur yang dapat merubah jiwa manusia dan senantiasa mendorongnya untuk memilih dan menjalankan kebenaran serta membeci dan meninggalkan segala macam keburukan sesuai dengan petunjuk Allh SWT, juga tidak dapat menjadi sempurna dan mahkan mungkin tidak dapat tersimpan atau tertanam dalam jiwa mukmin tersebut.

Kehidupan Seseorang akan Hancur jika tidak Ada Sifat Malu

Orang yang tidak memiliki sifat malu, mereka akan tenggelam dalam setiap perbuatan keji dan mungkar. Mereka tidak akan malu lagi untuk melakukan kemaksiatan, malah dicanangkan ke merata ceruk dan berbangga dengannya. Jelasnya, apabila masyarakat Islam hilang rasa malu, mereka akan melakukan apa sahaja yang diinginkan. Problem nyata yang ada pada zaman sekarang adalah munculnya kejahatan dan kemungkaran yang semakin bertambah parah gara-gara hilangnya sifat malu pada umat akhir zaman ini. Lebih dari itu, kebanyakan hubungan sek (tanpa ada akad nikah, yang sering disebut “kumpul kebo”, zina dan lai-lain) sering melibatkan orang-orang Islam sendiri sebagai pelakunya. Kegawatan akhlak yang berlaku di kalangan masyarakat muslim sekarang ini, tidak jauh beda dengan yang berlaku di negara barat yang sudah hancur nilai moral dan akhlaknya. Keruntuhan peribadi manusia di akhir zaman ini telah menjadi bukti kebenaran yang direkamkan melalui lidah Rasulullah SAW, 1400-an tahun yang lalu. Sabda Rasulullah SAW: "Kiamat tidak akan terjadi sehinggalah rasa malu telah lenyap daripada anak-anak dan kaum perempuan.". Hilangnya sifat malu adalah awal dari kehancuran dan kebinasaan, dalam sebuah hadis yang diriwayatkan imam bukhari, Rasululah SAW menjelaskan:

إن الله عز وجل إذا أراد ان يهلك عبدا نزع منه الحياء ، فإذا نزع منه الحياء لم تلقه إلا مقيتا ممقتا ، فإذا لم تلقه إلا مقيتا ممقتا نزعت منه الأمانة ، فإذا نزعت منه الأمانة لم تلقه إلا خائنا مخونا ، فإذا لم تلقه إلا خائنا مخونا نزعت منه الرحمة ، فإذا نزعت منه الرحمة لم تلقه إلا رجيما ملعنا، فإذا لم تلقه إلا رجيما ملعنا نزعت منه ربقة الإسلام. ) رواه ابن ماجه)

Artinya: "Sesungguhnya apabila Allah SWT. menginginkan kehancuran (kebinasaan) seseorang hamba, maka Dia akan mencabut sifat malu dari dirinya. Apabila sifat malu tersebut sudah dicabut, maka engaku tidak akan mendapatinya kecuali sebagai pembenci dan dibenci. Apabila Apabila engaku tidak mendapatkannya kecuali sebagai seorang pembenci atau yang dibenci maka akan dicabut dari dirinya amanah. Apabila dicabut dari dirinya amanah , maka engkau tidaka akan mendapatinya kecuali sebagi seorang penghianat lagi dikhianati. Apabila engakau tidak mendapatkannya kecuali sebagai seoramng penghianat lagi dikhianati maka akan dicabut dari dirinya rahmat. Apabila dicabut dari dirinya rahmat maka engakau tidak akan mendapatkannya kecuali sebagai orang yang terkutuk lagi mengutuk. Apabila engkau tidak mendapatkannya kecuali sebagi orang yang terkutuk lagi mengutuk maka akan dicabut dari dirinya islam. (HR. Ibnu Majah).

Macam-macam Sifat Malu dalam Kehidupan Manusia

Secara garis besar hayâ’dalam syari’at islam dibagi menjadi tiga bagian, yaitu:

1. Hayâ’(Malu) Kepada Sesama Manusia


Al Faqih Abu Laits al samarqandi dalam kitabnya “Tanbihul Ghafilin” menjelaskan bahwa hayâ’ (malu) kepada sesama maksudnya menutup pandangan mata dari hal-hal yang tidak dihalalkan bagi seseorang.

Sifat malu pada tahapan ini akan menjadikan buah tindakan seseorang selalu mengarah kepada tingkah laku yang sesuai dengan etika, moral dan nilai-nilai luhur yang dijunjung oleh masyarakat. Sifat malu terhadap manusia ini akan menjadikan pemiliknya selalu bertindak dalam pikiran pantas atau tidaknya tindakan tersebut dilakukan. Setiap kelakuan selau didahului dengan satu pertanyaan, apakah ia pantas melakukan hal tersebut? Apakah rang yang sudah dewasa masih pantas melakukan apa yang dilakukan oleh orang yang masih remaja? dan sebagainya.

Sifat malu terhadap manusia sebenarnya mempunyai ketertarikan dengan harga diri seseorang, karena pada hakekatnya seseorang itu boleh melakukan apa saja, dengan catatan ia bertanggung jawab atas perbuatannya baik di dunia maupun di akhirat.

Allah SWT berfirman:Artinya: Lakukanlah apa yang kamu kehendaki, sesungguhnya Allah maha nelihat atasa apa yang kamu perbuat. (Q.S. Fussilat : 40)

Nabi Muhammad SAW bersabda:


حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ رَافِعٍ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ رِبْعِيِّ بْنِ حِرَاشٍ عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَمْرٍو أَبِي مَسْعُودٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلَامِ النُّبُوَّةِ الْأُولَى إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ.

Artinya: Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya ungkapan yang telah dikenal orang-orang dari ucapan nabi-nabi terdahulu adalah : Jika engkau tidak malu perbuatlah apa yang engkau suka. (H.R. Abu Daud). Rasa malu kepada orang lain membuat seseorang tidak menyakiti orang lain dan tidak ingin melakukan perbuatan dosa secara terang-terangan (diketahui oleh orang lain). Rasa malu seperti ini bisa lahir dari seseorang yang memiliki muru’ah (etika mulia) dan bisa juga lahir dari orang yang senang mendapat pujian orang lain. Abu Said Al-Khudry R.A berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya diantara orang yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah pada hari Qiyamat ialah seorang laki-laki yang bersetubuh dengan istrinya, kemudian ia menyebarluaskan rahasia istrinya.” (Hr. Muslim). Laki-laki sebagaimana digambarkan dalam hadits diatas adalah laki-laki yang tidak punya malu. Sehingga ia tidak segan untuk menceritakan sesuatu yang seharusnya dirahasiakan dan membuka sesuatu yang seharusnya dirahasiakan. Dalam sejarah dikenal bahwa sayyidina Ali bin Abi Thalib karramallahu Wajhahu, pernah mengeluarkan air madzī padahal ia belum tahu hukum tentang orang yang mengeluarkan air tersebut. Singkat cerita Ali merasa malu untuk bertanya hal tersebut secara langsung kepada rasul yang merupakan saudara (kakak) sepupu dan mertua beliau sendiri, akhirnya Ali memerintah salah seorang sahabat untuk menanyakan hal tersebut kepada Rasul, dan muncullah hadis berikut:

حدثنا مسدد قال حدثنا عبد الله بن داود عن الأعمش عن منذر الثوري عن محمد بن الحنفية عن علي قال كنت رجلا مذاء فأمرت المقداد أن يسأل النبي صلى الله عليه وسلم فسأله فقال فيه الوضوء.

2. Hayâ’(malu) kepada diri sendiri.

Malu pada diri sendiri merupakan tingkatan malu yang lebih tinggi dari pada malu kepada orang lain. Malu pada diri sendiri adalah perasaan malu yang bukan kepada orang lain, melainkan dia merasa malu kepada dirinya sendiri ketika melakukan perbuatan-perbuatan yang menurutnya itu kurang pantas dan tidak sepantasnya dilaksanakan. Kalau malu kepada orang lain masih memungjkinkan untuk berbuat hal-hal yang kurang panrtas dilakukan ketika tidak ada orang lain yang melihat, maka perasaan malu kepada diri sendiri tidak demikian. Seseorang yang punya malu kepada dirinya sendiri akan senantiasa malu bertindak jelek di mana dan kapanpun saja. Ia tidak peduli dalam keadaan sepi, ramai dan terang dimana ada salah seorang yang tahu. Jika sesorang punya rasa malu terhadap dirinya sendiri, maka ia akan punya malu kepada oerang lain.

Rasa malu kepada diri sendiri ditandai dengan sifat ’iffah (menjaga diri) dan selalu waspada terhadap dosa pada saat sendiri. Seorang ahli hikmah pernah berkata, ”Hendaknya rasa malu-mu kepada dirimu sendiri lebih besar dari rasa malu-mu kepada orang lain.” Seorang budayawan juga pernah berkata, ”Orang yang pada saat sendiri melakukan suatu perbuatan yang tidak mungkin dilakukannya pada saat dilihat orang lain karena malu, maka pada saat itu dirinya tidak memiliki harga sama sekali.

3. Hayâ’(malu) kepada Allah SWT.

Inilah tingkatan malu yang paling tinggi, yang telah dijadikan sebagai tolak ukur dalam dunia tasawwuf. Malu kepada Allah adalah suatu perasaan di mana seseorang tidak hanya sekedar malu pada orang lain dan malu kepada diri sendiri, melainkan lebih jauh dari itu ia telah menanamkan rasa malunya kepada dzat yang Maha Agung, Allah ‘Azza Wa Jalla. Tidak ada alasan sama sekali untuk tidak malu kepada Alah SWT. Alasan apakah yang bisa dibanggakan manusia untuk tidak berbangga diri di hadapan Allah? Tidak ada sama sekali! Ketika manusia lahir di dunai dalam keadaan telanjang tak berdaya, kemudian Allah dengan segenap belas kasihan-Nya memberikan kekuatan dan pakaian kepada manusia, apakah pantas manusia lalu mengingkari-Nya? Ketika manusia lahir ke dunia dalam keadaan miskin kemudian Allah memberikan rizki-Nya, apakah manusia tidak malu untuk tidak mensyukurinya? Tatkala manusia yang pada mulanya tidak ada kemudian Allah menciptakannya, apakah tidak malu kalau manusia tidak mnyembah dan bersujud dihadapan-Nya?

Rasa malu kepada Allah SWT mendorong orang untuk selalu menjalankan semua perintah-Nya dan meninggalkan semua larangan-Nya. Diriwayatkan bahwa Alqomah bin Ulatsah pernah berkata kepada Rasulullah saw, ”Ya Rasulullah, berilah nasehat kepadaku.” Maka Rasulullah saw bersabda, ”Hendaknya kamu merasa malu kepada Allah, niscaya Allah akan menjadikan orang-orang terhormat di kaummu merasa malu kepadamu.” Rasa malu yang sesungguhnya kepada Allah lahir dari aqidah yang bersih dan pemahaman agama yang benar.

Permisif dan Hayâ’

Permisif-isme adalah suatu perbuatan, sifat, atau sikap yang serba boleh dan serba mengizinkan, yaitu sikap serba boleh yang menjadikan gaya hidup atau kebiasaan dalam bertingkah laku. Di sini, halal dan haram, benar dan salah sudah tidak menjadi ukuran lagi. Yang menjadi ukuran adalah apa yang baik bagi dirinya, apa yang mereka sukai dan apa yang mereka inginkan.

Sedangkan Al Hayâ’ adalah rasa malu yang dirasakan seseorang sebelum ia melakukan perbuatan dosa. Budaya malu, malu pada diri sendiri, pada orang tua, pada masyarakat dan utamanya kepada Tuhan.

Kedudukan Hayâ’ Dalam Agama Islam

Sifat hayâ’ mempunyai posisi yang tinggi dalam keberagamaan seseorang, karena ia merupkan unsur dasar yang menjadikan baik dan buruknya akhlak seseorang. Rasulullah SAW bersabda:

حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الرَّقِّيُّ حَدَّثَنَا عِيسَى بْنُ يُونُسَ عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ يَحْيَى عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ لِكُلِّ دِينٍ خُلُقًا وَخُلُقُ الْإِسْلَامِ الْحَيَاءُ.

Artinya: "Sesungguhnya setiap agama memiliki akhlak dan akhlak Islam itu adalah malu." (HR. Ibn Majah)

Sebab pentingnya sifat malu (hayâ’) dan tingginya kedudukannya, maka ia merupakan karakteristik islam dan juga semua agama tauhǐd terdahulu. Hayâ’ merupakan salah satu dari sekian syari'at-syari'at terdahulu yang tidak dihapus. Hadis-hadis Nabi juga menjelaskan bahwa salah satu dari warisan Nabi-Nabi terdahulu adalah ungkapan “ apabila kamu tidak malu maka lakukanlah sesuatu dengan sesukamu”.

Dan cukuplah untuk menunjukkan betapa kedudukan malu sangat tinggi, penilaian bahwa ia merupakan sebagian dari iman dan jalan menuju surga. Lawan dari hayâ’ adalah badzâ' (ucapan cabul, jorok). Rasulullah SAW bersabda:

حَدَّثَنَا يَزِيدُ أَخْبَرَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْحَيَاءُ مِنْ الْإِيمَانِ وَالْإِيمَانُ فِي الْجَنَّةِ وَالْبَذَاءُ مِنْ الْجَفَاءِ وَالْجَفَاءُ فِي النَّارِ.

Artinya: "Malu merupakan bagian dari iman dan iman itu di ada surga, sedangkan badzâ' (ucapan cabul) itu merupakan bagian dari jafâ' (tabi'at kasar) dan jafâ' (tabi'at kasar) itu di neraka." (HR. Imam Ahmad).

Hayâ’ (Rasa Malu) yang syar’ǐ Dan ghoiru syar’ǐ dalam Kehidupan Manusia

Para ulama berpendapat bahwa malu menurut syari’at adalah malu yang selalu bergandengan dengan ilmu dan niat yang baik. Ia adalah motivator untuk melakukan perintah dan meninggalkan larangan. Ia yang menyebabkan para tokoh dihargai dan dihormati. Sementara malu bukan menurut syari’at sebagaimana dikatakan al-Hafizh Ibn Hajar al Asqallani R.A, "Dan tidak dapat dikatakan, "Betapa banyak sifat malu yang dapat mencegah dari mengatakan kebenaran atau melakukan kebaikan, sebab itu bukanlah malu secara syari'at (malu 'syar'i'). Ia juga mengatakan, " Adapun sesuatu yang menjadi sebab ditinggalkannya perkara syari'at, maka hal itu dicela dan bukan merupakan malu 'syar'i' tetapi kelemahan dan kehinaan. " Dengan kata lain malu yang dimiliki seseorang dapat bernilai positif (terpuji) dan bisa negatif (tercela). Malu yang terpuji atau syar’i ialah malu yang membuat seseorang dapat menahan dirinya dari perbuatan dosa atau membuatnya lebih sempurna dalam menjalankan agama Allah. Misalnya; seorang ibu yang belum lancar membaca Al-Qur’an merasa malu kepada anaknya yang sudah fasih dan merdu dalam membaca Al-Qur’an padahal ia belum tamat sekolah Dasar. Setelah itu, ia belajar dengan serius dan akhirnya dalam waktu tidak lama, kualitas bacaannya melebihi anaknya. Rasa “malu” ibu tersebut sangat terpuji, sebab telah memotivasinya menjadi lebih baik. Sedangkan malu yang tercela dalam pandangan syari’at ialah malu yang dapat menghalangi seseorang mendapatkan kebaikan di dunia atau pahala di akhirat. Misalnya; seorang bapak menghadiri majlis taklim di masjid. Sementara ada salah satu masalah penting yang disampaikan oleh pembicara yang belum difahaminya, tetapi ia tidak mau bertanya karena merasa malu kepada hadirin yang lain. Akhirnya ia pulang dengan membawa ketidaktahuannya. Rasa “malu” bapak tersebut sangat tidak terpuji, sebab telah membuatnya tetap dalam kebodohan. Ibarat pepatah mengatakan, “Malu bertanya sesat di jalan.” Rasulullah saw. adalah teladan seorang pemalu. Namun rasa malu beliau selalu dalam bingkai keterpujian. Bahkan rasa malu beliau sudah melekat kuat sejak sebelum beliau diutus menjadi Rasul. Jabir bin Abdullah ra bercerita: Ketika perbaikan Ka’bah sedang dikerjakan (sebelum Muhammad diutus menjadi Rasul), Nabi dan ’Abbas (paman beliau) bertugas mengangkut batu. Abbas berkata kepada Nabi, “Letakkan kainmu diatas pundakmu untuk landasan batu.” Maka beliau melakukannya dan langsung jatuh pingsan sambil kedua matanya membelalak ke langit. Setelah sadar, beliau langsung berdiri dan berkata, “Mana kainku? Mana kainku?.” Akhirnya beliau menutup badannya dengan kain tersebut. (HR. Muslim).

Hal-hal yang dapat menumbuhkan sifat Hayâ’.

Hal-hal yang dapat dilakukan dalam rangka menumbuh-kembangkan sifat hayâ’ dala diri seorang muslim adalah:

1. Menjaga seluruh anggota badan (jawârih) dari sesuatu yang dilarang Allah SWT. Rasuullah SAW bersabda:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَحْيُوا مِنْ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ قَالَ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نَسْتَحْيِي وَالْحَمْدُ لِلَّهِ قَالَ لَيْسَ ذَاكَ وَلَكِنَّ الِاسْتِحْيَاءَ مِنْ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ أَنْ تَحْفَظَ الرَّأْسَ وَمَا وَعَى وَالْبَطْنَ وَمَا حَوَى وَلْتَذْكُرْ الْمَوْتَ وَالْبِلَى وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ تَرَكَ زِينَةَ الدُّنْيَا فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَقَدْ اسْتَحْيَا مِنْ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ.

Artinya: "Malulah kamu terhadap Allah dengan sebenar-benarnya.!" Ibnu mas’ud melanjutkan perkataannya, Kemudian para sahabat berkata, "Demi Allah, alhamdulillah, kami sungguh merasa malu terhadap Allah subhanahu wata'ala, wahai Rasulullah. Beliau berkata, "Bukandemikian. Akan tetapi malu kepada Allah dengan sebenar-benar malu adalah dengan menjaga kepala dan apa yang ditangkapnya; menjaga perut dan apa yang dikandungnya (isinya) dan mengingat kematian dan cobaan. Siapa yang menginginkan akhirat, maka ia akan meninggalkan perhiasan dunia dan mementingkan akhirat ketimbang dunia.." Barangsiapa yang melakukan hal itu, maka berarti ia telah malu terhadap Allah dengan sebenar-benarnya."(HR.at-Turmudzi, dishahih kan al-Hakim, disetujui adz-Dzahabi).

2. Berusaha untuk selalu mensyukuri nikmat Allah SWT. Sifat Hayâ’ (malu) akan muncul sendiri dengan memikirkan nikmat-nikmat Allah SWT yang tidak terbatas, karena pada hakikatnya orang yang berakal sehat akan merasa malu untuk menggunakan nikmat Allah untuk berbuat maksiat kepadanya.

3. Meyakini dan merasa terus diawasi oleh Allah SWT. Kapan saja seorang hamba itu merasa Allah sedang melihat kepadanya dan berada dekat dengannya, ia akan mendapatkan ilmu muraqabatullaah karena rasa malunya kepada Allah.

4. Meningkatkan kualitas taqwa dala diri, karena takwa, īmān dan hayâ’ itu tidak dapat dipisahkan. Nabi bersabda :

حَدَّثَنَا وَكِيعٌ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ حَبِيبٍ عَنْ مَيْمُونٍ عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَوْصِنِي قَالَ اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعْ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ قَالَ أَبِي وَكَانَ حَدَّثَنَا بِهِ وَكِيعٌ عَنْ مَيْمُونِ بْنِ أَبِي شَبِيبٍ عَنْ مُعَاذٍ ثُمَّ رَجَعَ.

Artinya: Takutlah kamu kepada Allah di mana saja kamu berada dan ikutilah amal perbuatan yang jelek dengan amal perbuatan yang bagus, niscaya akan terhapus dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang bagus (H.R. Imam Ahmad)

Hal-hal yang dapat menghalangi sifat Hayâ’.

Adapun hal-hal yang dapat menghalangi sifat Hayâ’ secara umum adalah:

1. Melakukan perbuatan maksiat secara terang-terangan, apapun perbuatan maksiatnya.
2. Memiliki akhlak yang buruk seperti suka mencaci, fasiq, banyak bercanda, berucap kotor, sombong, dusta, menipu dan sejenisnya.
3. Tidak menghormati orang lain dan menghargai perasaan mereka.
4. Sifat dan sikap individual serta tidak peduli terhadap lingkungan.
5. Tidak berkata atau tidak terang-terangan dalam kebenaran, Allah berfirman:

……والله لا يستحيي من الحق …………

Artinya: “… dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar …” (Qs. Al-Ahzaab : 53)

Katak Bijak Islami Tentang Kehidupan Manusia dalam Hadis

Konsekwensi Hayâ’(Malu) Kepada Allah.

Melekatnya hayâ’ dalam jiwa seorang mukminmemerlukan usaha dan pemeliharan yang serius. Berikut adalah konsekuensi logis hayâ’ (malu) kepada Allah SWT, yaitu:

a. Memelihara kepala dari perbuatan yang terlarang.

Yang dimaksud dengan memelihara kepala adalah termasuk menjaga semua organ tubuh manusia yang berada di kepala, antara lain: mata, lisan, telinga dan pikiran. Dengan demikian orang orang yang merasa malu kepada Allah selalu menjaga:

1. Matanya; misalnya dengan menggunakannya untuk memperhatikan ciptaan Allah dalam rangka tafakkur fii kholqillah, menundukkan pandangannya agar tidak memandang sesuatu yang diharamkan, memalingkan pandangannya agar tidak memandang aib saudaranya.

Dalam sebuah hadith Qudsi, diriwayatkan dari Abdullah bin Mas'ud r.a bahawasanya Rasulullah s.a.w telah bersabda: "Sesungguhnya pandangan mata (yang diharamkan) merupakan panahan beracun daripada panahan Iblis.Barang siapa yang menundukkan pandangannya kerana takut kepada-Ku, akan Aku tukarkan (pandangan) dengan iman yang dapat dirasai kemanisannya dalam hati" (Hadith Riwayat Tabrani dan al-Hakim).

2. Lisannya; misalnya dengan memperbanyak tilawah Al-Qur’an, berdzikir kepada Allah, mengucapkan kalimat-kalimat thayyibah, memberi nasehat kepada orang lain, berbicara yang baik dan bermafaat
3. Telinganya; misalnya dengan mendengarkan bacaan Al-Qur’an, mendengarkan nasehat dan pengajian agama Islam, menutupnya apabila mendengar pembicaraan yang termasuk ghibah (menggunjing).

4. Pikirannya; misalnya dengan melakukan observasi terhadap keajaiban ciptaan Allah di alam semesta, mencermati problematika umat dan mencari solusinya, mengkaji sistem pendidikan yang sesuai dengan tuntutan dan tantangan zaman, melindungi pemikirannya dari ideologi sesat serta menjauhi memikirkan hal-hal yang tidak bermanfaat.

Termasuk tindakan menjaga kepala dari perbuatan maksiyat ialah seperti: tidak menggunakan kepala untuk bersujud kepada selain Allah, tidak ”menganggukkan atau menggelengkannya” kecuali jika diridhai oleh Allah SWT .

b. Menjaga perut dan semua organ tubuh yang berdekatan dengannya dari segala sesuatu yang diharamkan.

Orang yang merasa malu kepada Allah akan selalu menjaga:

1. Perutnya; agar jangan sampai makan atau minum sesuatu yang diharamkan oleh Allah.
2. Kedua kakinya; agar jangan sampai melangkah menuju tempat-tempat yang dimurkai oleh Allah serta jangan sampai menendang atau menginjak sesuatu yang mendatangkan kemaraha-Nya
3. Kedua tangannya; agar jangan sampai mengambil yang bukan haknya, memukulkan palu pada pengadilan yang tidak adil, menandatangani perjanjian atau kesepakatan yang dimurkai oleh Allah atau menyakiti orang lain dengan cara apapun.
4. Kemaluannya; agar jangan sampai melakukan bahkan mendekati zina dengan cara apapun
c. Memperhatikan masalah ‘aurat.

Di antara hal-hal yang dapat dilakukan oleh seorang mukmin dalam mempertahankan imannya adalah dengan meperhatikan masalah ‘auratnya, ‘Aurat menjadi bahasan yang paling serius di kalangan masyarakat muslim khususnya dalam tema-tema yang mengusung masalah akhlak dan fikih. Secara fitrah manusia merasa malu jika tidak berpakaian. Dan manusia tidak akan memamerkan auratnya tanpa pakaian kecuali fitrahnya telah rusak. Sedangkan rusaknya fitrah adalah akibat gangguan iblis dan tentaranya sebagaimana mereka menggda Adam dan hawa dalam firman Allah:

Artinya: Maka syaitan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. tatkala keduanya Telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka: "Bukankah Aku Telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu: "Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?" (Q.S. Al A’raf: 22)

Nabi SAW bersabda:


عن علي بن أبي طالب قال :قال رسو الله ص.م. لاتبرز فخذيك

Artinya : Raslullah bersabda “ janganlah menampakkan kedua pupumu.

Sesungguhnya telanjang adalah sifat asli dari hewan, manusia tidak punya kecenderungan kepadanya, jika sampai ada tentulah akan terjerumus dalam Lumpur kehewanan. Anehnya, para pembantu syaitan yang hidup di tengah-tengah kaum muslimin memberikan nama-nama kepada para muslimah di rumah, di jalan, di sekolah atau di mana saja yang mengenakan jilbab, kerudung atau baju yang tebal, julukan yang menyakitkan (fanatik, ortodok dan lainnya). Padahal wanita muslimah tidak mengenakannya kecuali untuk menjaga kemuliaannya, menjaga auratnya dan agar tumbuh darinya seluruh fitrah islami yang murni, serta agar jelas perbedaan dirinya dengan mereka yang telanjang seperti hewan.

d. Menyiapkan diri menghadapi kematian.

Setiap manusia pasti akan mati. Namun ia tidak pernah tahu tentang kapan dan dimana ia mati. Pengetahuan tentang itu hanyalah milik Allah swt. Dan setelah mati (ketika ruhnya berpisah meninggalkan jasadnya), ia diletakkan di dalam kubur. Sendiri. Sunyi. Setelah itu jasadnya menjadi tulang-belulang yang akhirnya hancur. Mengingat-ingat kematian seperti itu membuat setiap manusia merasakan bahwa dirinya adalah makhluk yang sangat kecil sehingga tidak pantas bersikap sombong ketika hidup di dunia dan membuat manusia merasakan bahwa dirinya adalah makhluk yang sangat lemah sehingga tidak layak apabila menindas orang lain saat berkuasa di dunia. Seharusnya ia banyak menundukkan wajahnya di hadapan Allah bila mengingat kondisi jasadnya ketika berada di dalam kubur.

Di dalam kubur, setiap manusia akan mendapat pertanyaan-pertanyaan seputar keyakinannya tentang eksistensi Allah sebagai Tuhan-nya, Muhammad saw sebagai teladannya, Islam sebagai way of life-nya dan sebagainya. Untuk bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, ia tidak bisa menyiapkan teks jawaban yang dihafal sejak masih hidup. Namun, lulus dan tidaknya menjawab pertanyaan di kubur ditentukan oleh sejauhmana manusia itu mentaati Allah dan Rasul-Nya serta mengikuti ajaran agama Islam. Maka orang yang malu kepada Allah akan disibukkan dengan ibadah dan amal shalih sebagai kunci jawaban agar sukses menghadapi pertanyaan kubur.

e. Menjauhi kemewahan duniawi.

Kehidupan akhirat adalah kehidupan yang baqa’ (abadi) sedangkan kehidupan dunia bersifat sementara, main-main, menipu dan fana’ (pasti hancur). Oleh sebab itu, orientasi hidup seorang mukmin adalah ukhrawi dan bukan duniawi. Orang yang memiliki orientasi ukhrawi, hidupnya dipenuhi dengan kesabaran ketika mendapat musibah dan kesyukuran ketika mendapat nikmat. Sementara orang yang orientasi hidupnya adalah duniawi, maka hidupnya diliputi dengan keluh kesah, keserakahan dan kesombongan serta semua urusan diukur dengan keuntungan materi dunia semata.

Orang yang malu kepada Allah tidak akan menyibukkan diri dengan merawat ketampanan atau kecantikan fisiknya semata. Sebaliknya, ia akan menyibukkan diri dengan mengikhlaskan hatinya dalam setiap ibadah dan amalnya. Orang yang malu kepada Allah tidak hanya menginvestasikan hartanya untuk mendapatkan keuntungan di dunia yang tidak seberapa. Sebaliknya, ia akan memperbanyak investasi pahala melalui zakat, infaq, shadaqah waqaf dan sebagainya. Orang yang malu kepada Allah tidak akan sibuk dengan menghitung aib orang lain. Sebaliknya, ia akan menghabiskan waktu siang dan malamnya untuk melakukan muhasabah (introspeksi) agar bisa menemukan kesalahan dirinya lalu beristighfar kepada Allah.


Hikmah dari sifat Hayâ’ dalam Kehidupan Manusia

Hayâ’ yang baik membawa banyak kebaikan dan kelebihan kepada individu, masyarakat, dan negara ialah:

1. Allah mencintai sifat hayâ. Sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari: "Tiada siapa yang lebih malu berbanding dengan Allah."

2. Sifat hayâ itu merupakan lambang keagungan Islam sendiri sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Abu Daud r.a.:

إِنَّ لِكُلِّ دِينٍ خُلُقًا وَخُلُقُ الْإِسْلَامِ الْحَيَاءُ

Artinya: "Sesungguhnya setiap agama memiliki perangai, dan perangai bagi Islam ialah hayâ (malu)."

3. Sifat hayâ hanya membawa kebaikan, tidak membawa keburukan walau sedikit pun seperti yang dijelaskan oleh sabda Baginda SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari.

الحياء لا يأتي إلا بخير

4. Sifat hayâ merupakan pertanda iman seseorang.

5. Sifat malu atau hayâ ini akan mendapatkan mardhatillah serta syurga-Nya. Nabi Muhammad SAW berpesan yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari:

الْحَيَاءُ مِنْ الْإِيمَانِ وَالْإِيمَانُ فِي الْجَنَّةِ وَالْبَذَاءُ مِنْ الْجَفَاءِ وَالْجَفَاءُ فِي النَّار

Artinya : " hayâ (malu) itu datangnya dari iman, dan iman membawa kita ke jannah."

Kesimpulan

Hayâ’ (malu) adalah sifat yang mendorong diri menghindari hal yang buruk dan mencegah ketidak-optimalan dalam memberikan hak kepada pemiliknya. Hayâ’ termasuk salah satu cabang dari īmân. Karena hayâ’ (malu) merupakan salah satu refleksi īmân. Lebih dari itu, īmân dan hayâ’ (malu) akan selalu hadir bersama-sama. Apabila yang satu hilang, maka yang lain akan hilang pula. Semakin kuat iman seseorang, semakin tebal pulalah malunya. Dan sebaliknya semakin tipis sifat maludalam diri seseorang maka semakin lemah pula imannya. “Īmân yang tertanam di dada memberi inspirasi positif kepada seserang untuk berlaku dan beramal shalih. Īmân yang benar mebawa pribadi ke arah perubahan jiwa dan cara berpiir positif. Perubahan jiwa tersebut merupakan suatu revolusi dan pembaharuan tentang tujuan hidup, pandangan hidup, cita-cita, keinginan-keinginan dan kebiasaan Hilangnya sifat malu baik kepada diri sendiri, orang lain dan atau bahkan kepada Allah SWT adalah awal dari kehancuran dan kebinasaan seseorang yang berakibat kepada rusaknya sistem tatanan masyarakat.

Sifat hayâ’ mempunyai posisi yang tinggi dalam keberagamaan seseorang, karena ia merupkan unsur dasar yang menjadikan baik dan buruknya akhlak seseorang. Lebih dari itu hayâ’ merupakan suatu perangai yang tempat layaknya adalah surga dan merupakan syari’at para Nabi terdahulu.

Hayâ’ (malu) yang dibenarkan agama adalah malu yang selalu bergandengan dengan ilmu dan niat yang baik yang merupakan motivator untuk melakukan perintah dan meninggalkan larangan. Sedangkan malu yang tidak dibenarkan agama ialah malu yang dapat menghalangi seseorang mendapatkan kebaikan di dunia atau pahala di akhirat. Ada beberapa usaha yang dapat menumbuhkan sifat haya’, di antaranya adalah: pertama, Menjaga seluruh anggota badan (jawârih) dari sesuatu yang dilarang Allah SWT. kedua, Berusaha untuk selalu mensyukuri nikmat Allah SWT. Ketiga, Meyakini dan merasa terus diawasi oleh Allah SWT. Keempat, Meningkatkan kualitas taqwa dala diri.

DAFTAR PUSTAKA

Al Quran Al Karim

Al Hadis Al Syarif dalam:

· Shahih Bukhari
· Sunan Abu Daud
· Sunan Ibnu majah
· Sunan Tirmidzi
· Musnad Imam Ahmad

Ibnu Hajar Al Asqallani. tt. Fath al-Bari. beirut: dar al ma’rifat.

Imam Al Nawawi. tt. Shahih Muslim Bi Syarhi Al Nawawi. Beirut: Dar Al Fikr.

www.esnips.com

Muhammad al ghazali

Yuhanar Ilyas. 1999. Kuliah Akhlaq. Yogyakarta: LPPI.

Muhammad Chirzin. 1997. Konsep Dan Hikmah Akidah Islam. Yogyakarta: Mitra Pustaka.

Al Faqih Abu Laits Al Samarqandi. 1986. Tanbihul ghafilin diterjemahkan oleh Abu Imam Taqyuddin. Surabaya: Mutiara Ilmu.

Demikianlah Kata Mutiara Islami Tentang Kehidupan Manusia 2016 yang ada dalam Al-Qur'an dan Hadis. Mudahan bermanfaat