Konsep Dasar Pemikiran Mazhab Sunni (4 Imam Mazhab)

Advertisement
Konsep Dasar Pemikiran Mazhab Sunni
Hal mendasar yang perlu diketahui adalah pengertian mazhab, baik menurut bahasa maupun istilah. Menurut bahasa, mazhab berarti pendirian (al-mu‘taqad), jalan atau sistem (tariqah) dan sumber atau pendapat yang kuat (al-asl). Sedangkan menurut istilah fikih, mazhab berarti pendapat salah seorang imam tentang hukum masalah-masalah ijtihadiah dan kaidah-kaidah istinbat (kaidah-kaidah yang diperlukan untuk menggali hukum) yang dirumuskan oleh seorang imam. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa mazhab berarti hasil ijtihad seorang imam (mujtahid) tentang hukum suatu masalah, atau tentang kaidah-kaidah istinbat.
Adapun istilah Suni adalah nama lain dari aliran Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah  yang dinisbahkan kepada aliran teologi Asy’ariah dan Maturidiah. Dinamai demikian, karena mereka berpegang kuat pada sunah Nabi saw. Mereka sangat percaya dan menerima hadis-hadis sahih tanpa memilih dan melakukan interpretasi lebih jauh. Istilah Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah  oleh Imam al-Asy’ari disebut sebagai ahl al-hadis\ wa al-sunnah atau ahl al-haqq wa al-sunnah. Namun dari semua itu, pemakaian istilah yang lebih populer adalah Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah atau Suni. Aliran ini tidak hanya dianut oleh para teolog saja. Selain teolog, di dalam aliran ini terdapat juga pakar-pakar dalam berbagai bidang keahlian, seperti pakar dalam bidang fikih. Pemikiran fikih Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah dapat diketahui melalui pemikiran fukaha yang dapat mewakili aliran tersebut. 

Konsep Dasar Pemikiran Mazhab Sunni

Dasar Pemikiran Mazhab Suni
Dasar pemikiran mazhab Suni dapat diketahui melalui pemikiran fukaha di kalangan aliran tersebut yang dipandang dapat mewakili pemikiran fikih mazhab suni secara umum. Dalam hal ini, dapat dirujuk pemikiran para ahli fikih seperti Imam Abu Hanifah, imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad ibn Hanbal.
a. Mazhab Hanafi,- Secara hirarkis, dasar-dasar pemikiran mazhab Hanafi adalah al-Qur’an sebagai sumber tasyrik yang utama. Kedua, hadis Rasulullah saw., yang memiliki kualitas sahih. Ketiga, ijma’. Keempat, pendapat para sahabat, dan kelima adalah’Urf karena kepada mereka al-Qur’an pertama kali diturunkan dan mereka pula yang paling banyak mengetahui sebab turunnya al-Qur’an. Selanjutnya dalan turuq istinbat” yang digunakannya   kias dan istihsan digunakan ketika ilat hukum tidak memenuhi persyaratan atau kias menyalahi nas atau ijmak.
b. Mazhab Maliki,- Dasar pemikiran Imam Malik seperti juga imam mazhab lainnya, berpegang pada dasar hukum utama, yaitu: al-Qur’an, sunah dan ijmak sahabat, ‘amal ahl al-Madinah, perkataan sahabat. Selain itu Imam Malik dalam mempergunakan turuq istinbat yaitu maslahah mursalah dan kias. Menurut Imam Malik, kias tidak terlalu penting walaupun bisa dijadikan sumber hukum alternatif. Imam Malik menekankan penggunaan ‘amal ahl al-Madinah karena dianggap sebagai periwayatan mereka terhadap hadis.
c. Mazhab Syafi’i,- Dasar-dasar pemikiran Imam al-Syafi’i dalam bidang fikih dapat disimpulkan dari kedua kitab monumentalnya, al-Risalah dan al-Umm. Dasar pemikiran al-Syafi’i tersebut dapat dijadikan dasar hukum bagi mazhabnya. Dasar-dasar tersebut yaitu: al-Qur’an dengan penekanan pada zahir nas (makna tekstual), kecuali jika ada dalil lain yang membatalkannya. Dasar kedua setelah al-Qur’an adalah sunah yang berkualitas sahih, kemudian  ijmak,  selanjutnya turuq istinbat yang diunakan adalah kias.
Ketiga dasar inilah yang digunakan Imam al-Syafi’i dalam ijtihadnya. al-Syafi’i menolak istihsan, maslahah mursalah, qaul sahabat dan ‘amal ahl al-Madinah yang bertentangan dengan teks hadis. Penolakannya terhadap dua dasar yang terakhir karena keduanya hanyalah hasil ijtihad yang dapat mengandung kesalahan.
d. Mazhab Hanbali,- Dasar pemikiran fikih Ahmad ibn Hanbal adalah al-Qur’an dan hadis, dengan penekanan pada pengertian zahir ayat. Selanjutnya fatwa sahabat  bila tidak ada nas dan tidak ada sahabat lain yang menentangnya. Apabila terjadi perbedaan antara fatwa satu sahabat dengan yang lainnya, maka diutamakan yang lebih dekat dengan al-Qur’an dan sunah. Imam Ahmad menggunakan hadis mursal pada masalah yang tidak memiliki dasar dari ketiga landasan sebelumnya. Adapun kias, dipergunakan ketika terpaksa dan tidak ada landasan sama sekali. Pada dasarnya, Imam Ahmad sangat melarang membuat fatwa yang tidak berdasar dari hadis, as\ar (ucapan atau praktek para sahabat), aqwal salaf (ucapan generasi sebelum Ahmad ibn Hanbal dari kalangan sahabat dan tabi’in).
Sumber Tulisan 
Haidar Bagir, et al., Ijtihad Dalam Sorotan (Cet. III; Bandung: Penerbit Mizan, 1994), h. 34. 
Abdul Azis Dahlan, et al., Ensiklopedi Hukum Islam Jil. I (Cet. I; Jakarta: PT Ichtiar Baru van Hoeve, 1996), h. 50-51.


0 Response to "Konsep Dasar Pemikiran Mazhab Sunni (4 Imam Mazhab)"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!