Kontekstualisasi Pemahaman Hukum Hadis Kumis dan Jenggot

Advertisement

Asbab al-wurudh Hadis Kumis dan Jenggot

Bukhori Muslim menceritakan dari Maimun bin Mahran yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar berkata bahwasannya Rasulullah ingat akan orang Majusyi yang selalu membiarkan misai (kumis) dan memangkas jenggotnya. Maka Rasulullah pun menyuruh untuk berbeda dengan mereka. Diceritakan dari Ibn Al-Nujjar yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas berkata, ada seseorang datang menemui Rasulullah dari negri ‘ajam, Ia memangkas jenggotnya dan memelihara kumisnya. Maka Rasulullah pun bersabda: “jauhilah hal semacam itu. Akan tetapi potonglah kumis kalian dan biarkan jenggot kalian”.[1]dalam versi yang lain di sebutkan bahwa Muslim No. 380 juga memiliki asba al-wurudh yakni sebagai berikut ;

Bazzar menceritakan dari Hadis yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah bahwasannya Rasulullah melihat seseorang yang kumisnya panjang (lebat). Kemudian beliau berkata : “Maka bersihkanlah sebagaimana engkau bersiwak. Jadikanlah siwak hanya pada mulut dan jangan sampai melebihi batas. Oleh karena itu cukurlah kumismu.”[2]

Syarah Hadis Kumis dan Jenggot

Perbedaan pemahaman diantara ulama’ salaf tentang hukum memotong kumis dan memanjangkan jenggot sangatlah beragam. Sejauh penelusuran penulis, fuqoha’ abad pertengahan cenderung memaknai hadis ini secara tekstual sesuai dengan yang tersurat dalam zahir hadis (meskipun ada yang menyalahinya seperti yang akan dipaparkan nanti). Yaitu dengan mengatakan bahwa memotong kumis dan memelihara jenggot adalah sebuah keharusan bagi orang muslim. Walaupun banyaknya ragam lafadz yang dipakai dalam menunjukkan makna “memotong”, juga menjadi sesuatu hal yang menimbulkan banyak pertentangan di antara mereka. 

Ibn Hajar berkata: “Dengan pengertian bahwa makna a’fu (aslinya) adalah membiarkan, maka membiarkan jenggot berarti “memperbanyak”nya. ini adalah pendapat jumhur yang benar (di antara pendapat lainnya).[3] 

Pada intinya, mayoritas Ulama’ dan ahli fiqih secara tegas menyatakan bahwa mencukur jenggot itu haram. Ibnu Hazm berkata, “Para ulama sepakat bahwa mencukur jenggot merupakan perbuatan mutslah yang terlarang.” Mutslah adalah perbuatan memperburuk atau membuat jelek. Tidaklah diragukan bahwa wajah adalah anggota tubuh yang mulia, karena di sana terdapat sejumlah indera. Wajah juga merupakan sumber/pusat ketampanan. Pada wajah terdapat ciptaan Allah yang indah yang seharusnya dijaga dan diperlakukan secara istimewa. Tidak malah dihinakan dan dibuat agar tampak buruk/jelek[4].
Pemahaman Hukum Hadis Kumis dan Jenggot

Dalam Al Ikhtiyarot Al Ilmiyyah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (Dan beliau mengikuti mazhab Imam Ahmad -ed) berkata, “Diharamkan mencukur jenggot berdasar berbagai hadis yang shahih dan tidak seorang ulama pun yang membolehkannya.” Ibnu Abidin dari kalangan ulama Hanafiah dalam Roddul Muhtar menyatakan, “Diharamkan bagi laki-laki memotong jenggot.” Dalam Al Umm Imam Syafi’i menegaskan haramnya mencukur jenggot. Dari kalangan Malikiyyah, Al ‘Adawi menukil pernyataan Imam Malik, “Itu termasuk perbuatan orang-orang Majusi.” Ibnu ‘Abdil Bar dalam At Tamhid berkata, “Diharamkan mencukur jenggot. Tidak ada yang melakukannya kecuali laki-laki yang bergaya seperti perempuan.” (Lihat Minal Hadiin Nabawi I’faul Lihyah, edisi terjemahan berjudul Jenggot Yes, Isbal No - Media Hidayah)[5] Pendapat lain yang lebih moderat mengatakan , sebagaimana yang tertulis dalam kitab ‘aunul ma’bud menyatakan [6]: 

“Ketahuilah bahwa dalam permasalahan memotong kumis terdapat banyak sekali variasi kata yang dipakai. Diantaranya adalah : qoshshun, halqun*, taqshirun, juzzun, ihfa’un, dan nahiikun. Perbedaan ini berimbas pada munculnya perbedaan pendapat di antara para ‘ulama. Sebagian mengunggulkan memotong saja (tanpa mencukur habis pen.), sedang sebagian yang lain memilih makna kedua. Tetapi sebagian lain (yang moderat) memahami perbedaan tersebut sebagai bagian dari bolehnya melakukan keduanya (dengan kondisi dan situasi tertentu).

Imam al-qurthuby mengatakan : yang dimaksud dengan hadis qoshshu asy syarib adalah mengambil bagian kumis yang panjangnya melebihi bibir atau boleh saja memanjangkan kumis dengan catatan, itu tidak mempersulit ketika makan dan tidak menjadi tempat terkumpulnya kotoran (dan atau terlihat jorok). Masih menurut al qurthuby, juzzun dan ihfa’un maknanya adalah sebagaimana makna qoshshun yang disebutkan di atas. Dan bukanlah maksudnya dengan mencukur habis”

Ibn Sayyid memiliki pendapat berbeda (dengan mayoritas ulama’) dengan mengatakan bahwa makna dari hadis ini adalah memperpanjang dengan (batasan) mengambil yang panjang dan tak terawat (al ishlah). [7]

Walaupun banyak diketemukann pendapat ulama’ tentang keharaman mencukur jenggot, penulis memahami bahwa itu semua dikarenakan kondisi ulama’ masa itu yang tidak jauh berbeda dengan kondisi di zaman Nabi SAW. Tetapi munculnya perkataan yang moderat sebagaimana yang diungkapkan oleh al-thobary tersebut juga menunjukkan adanya ulama’ yang tidak hanya melihat dari redaksi dan formulasi kata saja, tetapi lebih jauh, mereka memahami hadis nabi dengan berbagai sudut pandang.

Meninjau Ulang Hadis; dalam Pemahaman Masyarakat tentang Kumis dan Jenggot

Banyak orang mengatakan bahwa memanjangkan jenggotnya merupakan sebuah keharusan demi mendapatkan predikat bahwa ia telah mengikuti sunah sebagaimana yang di syariatkan oleh agama islam. 

Disadari memang, hadis tersebut oleh sebagian umat Islam mereka pahami secara tekstual. Mereka berpendapat bahwa Nabi telah menyuruh semua kaum laki-laki untuk memelihara kumis dengan memangkas jenggot dengan memanjangkannya. Mereka memandang bahwa ketentuan itu merupakan salah satu kesempurnaaan dalam mengamalkan ajaran Islam.[8]

Perintah Nabi tersebut memang relevan untuk orang-orang Arab, Pakistan, dan lain-lain yang secara ilmiah mereka dikaruniai rambut yang subur, termasuk di bagian kumis dan jenggot. Tingkat kesuburan dan ketebalan rambut milik orang-orang Indonesia tidak sama dengan milik orang-orang arab tersebut. Banyak orang Indonesia yang kumis dan jenggotnya jarang.

Atas kenyataan itu, maka hadis tersebut harus dipahami secara kontekstual. Kandungan hadisnya bersifat lokal. Dengaan mengutip sejumlah hadis Nabi di atas, ternyata pemahaman terhadap pelbagai petunjuk hadis Nabi bila dihubungkan dengan latar belakang terjadinya, ada yang harus diterapkan secara tekstual dan ada yang harus diterapkan secara kontekstual. Dalam pada itu, kandungan hadis diatas tidak bisa dipahami hukumnya secara universal.

Catatan Kaki

[1] Lihat: Al-Bayan Wa Al-Ta’rif Fi Asbabil Wurud... hlm. 291 jilid II (Hadis No. 971) 
[2] Lihat: Al-Bayan Wa al ta’rif Fi Asbabil wurud.....hlm. 100 Jilid I (Hadis No. 74) 
[3] Lihat : Ibn hajar al ‘asqolany, fath al bary CD ROM. al-Maktabah al-Shamilah. Kutub el-Barnamij fi syuruh al hadis, Vol : 16, hal : 484 
[4]http://delss.wordpress.com/2007/11/25/hukum-mencukur-jenggot-memotong-kumis/ diakses tanggal 25 oktober 2008 
[5] http://www.indonesiaindonesia.com/f/6731-hukum-memotong-jenggot/ 
[6]Muhammad Syamsul Haq, ‘Aunul ma’bud CD ROM. al-Maktabah al-Shamilah. Kutub el-Barnamij fi syuruh al hadis, Vol 11, hal. 168 

* meskipun seperti inilah keterangan yang disampaikan dalam kitab tersebut, namun hingga makalah ini diselesaikan, penulis belum menemukan sebuah hadis tentang syarib yang menggunakaan lafadz halq. 
[7]Lihat : Ibn hajar al ‘asqolany, fath al bary CD ROM. al-Maktabah al-Shamilah. Kutub el-Barnamij fi syuruh al hadis, Vol : 16, hal : 484 
[8] Lihat : Syuhudi Ismail. Hadis Nabi yang tekstual dan kontekstual. (Jakarta: PT bulan bintang, 1994). Hlm. 68



0 Response to "Kontekstualisasi Pemahaman Hukum Hadis Kumis dan Jenggot"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!