Artikel Islami Korelasi Pengertian Amanah dan Keimanan (Kepercayaan)

Advertisement

Artikel Islami Korelasi Pengertian Amanah dan Keimanan (Kepercayaan)

“إنّ الله يأمركم أن تؤدوا الأَمانا ت إلى أهلها وإذا حكمتم بين الناس أن تحكموا بالعدل إِنّ الله نِعمّا يعظكم به إنّ الله كان سميعا بصيرا "

Kepercayaan terhadap Tuhan adalah fitrah yang melekat pada manusia. Bahkan suatu masyarakat primitif pun memiliki sistem kepercayaan serta melakukan berbagai ritus pemujaan kepada “Tuhan” mereka, atau apapun sebutan lainnya yang dipandang sebagai sumber kekuatan dan kehidupan di alam raya. Fenomena-fenomena kehidupan dunia, seperti kenikmatan, bencana, kebaikan, keburukan, sakit, penderitaan, dan ketakberdayaan, maupun keajaiban-keajaiban yang tak dapat dijelaskan oleh nalar semakin mengukuhkan hati manusia untuk mempercayai bahwa ada zat yang jauh lebih berkuasa daripadanya, yang kemudian memunculkan berbagai aliran kepercayaan. Agama pun dianggap sebagai suatu keharusan.

Iman, amanah. Percaya dan kepercayaan. Dua kata yang berakar dari akar yang sama, ﻥ-ﻡ-ﺃ. Kata iimaan terambil dari aamana-yu’minu yang berarti percaya, beriman, setia. Dari pola tersebut terbentuklah kata iimaan. Dan tahukah kita bahwa dasar dari akarnya juga serupa dengan pembentuk kata amaanah. Jika iimaan terbentuk dari pola aamana-yu’minu, kata amaanah terbentuk dari pola amuna-ya'munu. Sungguh, dua kata yang sederhana, berasal dari akar kata yang sama, serta sebenarnya bersesuaian dan mengandung kekuatan yang amat besar.

Pengertian Amanah dan Keimanan (Kepercayaan)

Pengertian iimaan (kemudian diserap kedalam bahasa Indonesia menjadi iman) yang lebih gamblang terurai di dalam hadis yaitu percaya kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan kepada qadar yang baik maupun yang buruk. Lebih dalam lagi, para ulama memberikan definisi hakikat iman. Menurut mereka, iman adalah “Mengikrarkan dengan lisan, membenarkan dengan hati, dan mengerjakan dengan anggota badan.” Ketiga hal ini merupakan pengertian iman. Satu dengan yang lainnya tidak dapat dipisahkan.

Lalu bagaimana dengan Amanah?

Bukankah Sang Khalik menciptakan setiap makhluk-Nya dengan mengemban misi? Misi dari-Nya itulah yang menjadi amanah, kepercayaan-Nya kepada setiap ciptaan-Nya. Amanah-Nya cukup satu, secara umum, yaitu hanya mengabdi kepada-Nya. Amanah ini menjadi "mandat mutlak" dari-Nya kepada setiap makhluk. Pantaskah mengabaikan mandat dari Sang Pencipta?

Tulisan ini disusun untuk mengkaji ragam makna amanah serta hubungannya dengan Iman. Agar pengkajian dapat lebih terfokus, pemakalah akan membatasi pembahasan, dengan rumusan masalah sebagai berikut:
Apa sajakah ragam makna amanah?
Bagaimana hubungan antara Iman dengan amanah?
Bagaimana nabi-nabi Allah mengejawantahkan sifat amanah dalam hidup mereka?
Bagaimana peranan sifat amanah di masa kini?

Hadis mengenai Amanah

Shahih Bukhari, kitab الإيمان , no. 32 [1]

حدثنا سليمان أبو الربيع قال حدثنا إسماعيل بن جعفر قال حدثنا نافع بن مالك بن أبي عامر أبو سهيل عن أبيه عن أبي هريرة عن النبي صلى الله عليه وسلم قال آية المنافق ثلاث إذا حدث كذب وإذا وعد أخلف وإذا اؤتمن خان

Dari Abu Hurairah r.a, dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Tanda orang munafik itu ada tiga, yaitu: Apabila berbicara berdusta, apabila berjanji menyalahi, dan apabila dipercaya, berkhianat."

Dalam riwayat lain, "Sekalipun ia melakukan shaum, shalat dan mengaku sebagai seorang muslim."

Hadis-hadis senada diriwayatkan pula di tempat-tempat lain, yaitu: Bukhari 2485, 2544, 5630; Muslim 89, 90; Tirmidzi 2555; Nasai 4935; Ahmad 8331, 8793, 10504.[2]

Perlu diingat, pembahasan berikutnya hanya perihal amanah-khianat saja yang akan dikedepankan, sedang mengenai dua ciri yang lain mungkin dapat kita kaji dalam makalah berikutnya.

Ragam Makna Amanah dan Hubungannya dengan Iman

Kaum awam cenderung mengartikan amanah secara sempit, yakni terbatas pada pengertian ”menjaga titipan dengan baik”. Padahal, dalam perspektif Islam, amanah memiliki makna yang jauh lebih besar dan luas. Dalam sebuah hadis Nabipun diriwayatkan:

عن ابن عمر رضي الله عنهماَ يقول سمعت رسول الله صلعم يقول كلكم راع وكلكم مسئول عن رعيته الإمام راع ومسئول عن رعيته والرجل راع في أهله وهو مسئول عن رعيته والمرأة راعية في بيت زوجها ومسئولة عن رعيتها والخادم راع في مال سَيّده ومسئول عن رعيته قال وحَسِبْتُ أن قد قال والرجل راع في مال أبيه ومسئول عن رعيته وكلكم راع ومسئول عن رعيته [3]

Ibnu Umar r.a berkata: "Aku mendengar Rasul SAW bersabda:”Setiap kamu adalah pemimpin, dan masing-masing bertanggung jawab terhadap apa yang dipimpinnya. Oleh karena itu, seorang imam adalah pemimpin dan ia bertanggung jawab terhadap pengikutnya; seorang laki-laki itu pemimpin dalam keluarganya, dan ia bertanggung jawab terhadap anggota keluaeganya; seorang wanita )istri itu penjaga rumah suaminya, dan ia bertanggung jawab untuk menjaganya dan seorang pelayan (pembantu) itu pengelola terhadap kekayaan tuannya, dan ia bertanggung jawab terhadap kekayaan tuannya.”

Maka, selayaknyalah bagi kita untuk memahami ragam makna amanah. Berikut pemakalah akan memaparkan sebagian maknanya:

1. Amanah hakikatnya adalah kewajiban agama yang diwanti-wanti kepada kaum Muslimin agar dijaga baik-baik, bahkan dianjurkan pada setiap Muslim untuk memohon inayah (pertolongan) Allah agar dapat memeliharanya dengan sebaik mungkin.

2. Barang titipan yang dipercayakan pada kita untuk dijaga baik-baik dan kemudian akan diserahkan kembali pada yang berhak menerimanya saat diminta, tentunya merupakan salah satu makna amanah juga.

3. Menempatkan sesuatu pada tempatnya juga termasuk dalam pengertian amanah. Antara lain, tidak menyerahkan atau mempercayakan kedudukan kecuali pada orang yang benar-benar mumpuni serta berhak.

4. Termasuk makna amanah pula, jika seseorang tidak menyalahgunakan jabatan yang dipercayakan padanya untuk menarik keuntungan pribadi atau kepentingan golongannya. Karena, usaha “menggemukkan perut” ataupun “menebalkan kantong” menggunakan aset umum merupakan upaya penyelewengan tanggung jawab dan tentu saja perbuatan dosa.

Korupsi merupakan salah satu bentuk pengkhianatan terhadap tanggung jawab. Dapat kita bayangkan, alangkah tersia-sianya uang yang digelapkan para pejabat yang tak bertanggung jawab? Tentu uang yang tidak sedikit itu semestinya milik kaum lemah dan fakir, atau dapat digunakan untuk kemaslahatan umum, ataupun untuk menbantu menggairahkan sistem perekonomian bangsa yang amat terpuruk sekarang ini.

... ومن يغلل يأ ت بِما غل يوم القيامة ثم توفى كل نفس ما كسبت وهم لا يظلمون

“...Dan barang siapa yang berkhianat ia akan muncul pada hari kiamat dengan membawa apa yang telah dikhianatinya, kemudian setiap orang akan memperoleh pembalasan setimpal atas apa yang telah diperbuatnya. Mereka tidak diperlakukan secara zalim.“ [QS. Ali Imran: 161]

Sebaliknya, pemimpin yang berpegang teguh pada ketentuan-ketentuan hokum Allah dalam menjalankan tugasnya dan menjauhkan dirinya dari berbuat khianat terhadap amanah yang diembankan di atas pundaknya, di mata Allah ia dipandang sebagai pejuang yang membela dan menegakkan kebenaran agama Allah. Dengan sangat ketat, Islam mewajibkan pemeluknya agar menjauhkan diri dari penyalahgunaan kekuasaan dan sangat keras menolak tiap bentuk pencaharian rizki yang tidak halal.[4]

5. Termasuk dalam pengertian amanah juga, ketika seseorang harus menjaga dan berusaha sekuat-kuatnya agar ia dapat melaksanakan tugas kewajiban yang dipikulkan padanya dengan baik dan sempurna. Ia harus mencurahkan segenap tenaga dan kesanggupannya untuk memenuhi tugas sebaik-baiknya. Benarlah, bahwa hal itu memang merupakan amanah yang amat dijunjung tinggi oleh Islam, yakni seseorang harus ikhlas dalam melaksanakan tugas yang menjadi kewajiban dan tanggung jawabnya, ia harus memperhatikan kualitas pekerjaan yang dilakukannya, dan ia harus menjaga baik-baik hak orang lain yang dipercayakan kepadanya. Betapapun kecil kewajiban yang harus dilaksanakan, jika hal itu dipandang remeh, pasti akan merugikan dirinya bahkan orang lain, dan lebih serius lagi dapat mengakibatkan rusaknya kehidupan umat.[5]

Berkhianat terhadap kewajiban memiliki tingkat keburukan yang berbeda-beda. Yang paling buruk ialah khianat terhadap agama, kaum Muslim dan Negara. Dalam riwayat Muslim disebutkan:

“Bagi setiap pengkhianat akan ditancapkan bendera pada duburnya setinggi pengkhianatan yang telah dilakukan. Tiada pengkhianatan yang lebih besar dosanya daripada seorang penguasa yang zalim.”

6. Amanah juga berarti memelihara anggota tubuh yang telah dikaruniakan Allah pada kita, beserta kenikmatan-kenikmatan lain yang khusus dianugerahkan pada kita. Harta benda serta anak-anak adalah salah satunya. Dengan merenungi kesemuanya tadi, kita akan benar-benar menyadari bahwa itu semua merupakan titipan Ilahi yang amat berharga, yang harus dimanfaatkan untuk mendekatkan diri kepada-Nya dan mencapai ridha-Nya. Dan andaikata kita diuji lewat karunia-karunia tersebut, kita tidak pantas untuk merasa cemas maupun gelisah karena takut kehilangan milik kita, karena sebenarnya Allah-lah yang jauh lebih berhak atasnya. Ialah pemilik sesungguhnya, bahkan diri kita sekalipun, adalah milik-Nya sendiri dan akan kembali pada-Nya. Sikap possessive yang timbul di diri kita terhadap hal-hal yang kita anggap sebagai milik kita itu, akan membuat kita kikir dan membangkang terhadap titah Allah, dan mungkin dapat menjerumuskan kita pada perbuatan maksiat.[6]

7. Amanah juga menjaga suasana majlis, maksudnya tidak mengungkap hal-hal tertentu yang semestinya dirahasiakan. Banyak sekali tali silaturahmi yang terputus, kemaslahatan yang terbengkalai, dikarenakan perbuatan orang-orang yang tidak menjaga bahkan meremehkan amanat pertemuan. Mereka dengan seenaknya mengumbar rahasia-rahasia suatu majlis, yang mereka termasuk di dalamnya, baik dengan tidak menyebutkan sumber maupun terang-terangan.[7]

Majlis adalah amanah, maka harus dijaga baik-baik dengan mengindahkan tata krama dan kaidah-kaidah agama serta membelanya jika di dalamnya terdapat orang-orang yang berkhianat dan berniat mengacau. Tetapi ada tiga jenis pertemuan yang tidak wajib dibela, bahkan kita kaum Mu’min diharamkan untuk berpartisipasi di dalamnya, yaitu: Pertama, untuk menumpahkan darah secara tidak sah dan haram; Kedua, untuk perbuatan mesum (farjun haram); Ketiga, untuk merampas hak milik orang lain tanpa hak.[8]

8. Bagi pasangan suami-istri, amanah berarti menjaga rahasia pasangannya dan tidak membocorkan ke orang luar mengenai apa yang terjadi dalam kehidupan rumah tangganya. “Ringan mulut” dalam menceritakan perihal pasangannya hanya dilakukan orang-orang yang berbudi rendah dan tidak pantas disebut Mu’min. Rasul SAW telah bersabda:

ﺇﻦﱠ ﻣﻦ ﺃﻋﻇﻡ ﺍﻷﻣﺎﻧﺔ ﻋﻧﺩﺍﷲ ﻳﻭﻡﺍﻟﻘﻳﺍﻣﺔ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﻳﻓﺿﻰ ﺇﻟﻰﺍﻣﺮﺃﺗﻪ ﻭﺗﻓﺿﻰ ﺇﻟﻳﻪ ﺛﻡﱠ ﻳﻧﺷﺭﺳﺭﱠﻫﺎ
- ﺭﻭﺍﻩ ﺃﺣﻤﺩ ﺑﻦ ﺣﻧﺑﻞ -

“Pengkhianatan terbesar terhadap amanat di sisi Allah pada hari kiamat ialah: Suami mengutarakan rahasianya pada istri dan istri mengutarakan rahasianya pada suami, kemudian si suami menyebarluaskan rahasia istrinya.”[9]

Sikap terpercaya atau amanah juga memiliki hubungan timbal balik dengan sikap-sikap yang lain, seperti disebutkan dalam sebuah hadis:

- ﺍﺤﻤﺪ ﺭﻭﺍﻩ - ﻟﻪ ﻻﻋﻬﺪ ﻟﻤﻥ ﺪﻳﻥ ﻭﻻ ﺃﻤﺎﻧﺔ ﻻ ﻟﻤﻥ ﺇﻳﻤﺎﻥ ﻻ ﻘﺎﻝ ﺇﻻ ﺭﺳﻭﻝﺍﷲ ﺧﻂﺏ ﻤﺎ

Orang beriman atau amana pastilah orang yang jujur, karena ia memberikan rasa aman bagi orang di sekitarnya. Dengan demikian bila ada orang yang mengaku beriman tapi tidak jujur atau tidak memberikan rasa ketrentaman/ketenangan maka keimanannya masih perlu ditinjau ulang, sudahkah ia beriman secara baik atau belum.

Iman adalah sumber energi jiwa yang senantiasa memberikan kita kekuatan untuk bergerak menyemai kebaikan, kebenaran dan keindahan sepanjang kehidupan. Ia juga memberi kekuatan untuk bergerak mencegah kejahatan, kebatilan dan kerusakan di muka bumi. Iman memberi inspirasi kepada pikiran kita, maka lahirlah bashiirah. Kecerdasan yang paling hakiki berupa mata hati yang paling murni memandang sesuatu, menyaksikan dan memberi hujah akan apa yang dilihat.

Iman adalah cahaya yang menerangi dan melapangkan jiwa kita, maka lahirlah taqwa. Menaati yang diimani karena merasa takut akan murka dan azab-Nya. Konsekuensi logis dari keyakinan terhadap yang diimani sehingga segala perintah didirikan semata karena-Nya dan segala larangan ditinggal demi mencegah murka-Nya.

Iman adalah bekal yang menjalar di seluruh bagian tubuh kita, maka lahirlah harakah. Perbuatan, pergerakan yang menjadi pembuktian akan apa yang kita imani. Bukan pergerakan biasa, tetapi wujud nyata yang kasat mata dari apa yang ada di hati.

Iman menghujam di setiap sanubari dan harus ada demi menjalankan amanah-Nya. Amanah dipercayakan kepada kita karena Sang Pemberi Amanah Maha Mengetahui akan iman kita.[10]

Nabi-Nabi Allah Penyandang Sifat Amanah


Sikap ini telah dicerminkan dalam kehidupan Rasul, bahkan pada masa mudanya, yaitu sebelum diutus menjadi nabi, Rasul SAW amat dikenal di kaumnya dengan sebutan ”al-amin”, orang yang jujur, terpercaya. Gambaran-gambaran ini juga dibuktikan Nabi Musa AS ketika Ia menolong dua anak perempuan Nabi Syu’aib yang akan memberi minum binatang ternaknya dan Ia memperlakukan kedua gadis tersebut dengan baik. Perbuatannya yang tulus tersebut membuatnya dipercaya untuk mengurusi kekayaan dan urusan keluarga itu, karena sifat amanah yang melekat padanya tidak perlu dipertanyakan lagi. Hal dikisahkan dalam QS. Al-Qasas ayat 24-26.

Pengalaman serupa juga dialami Nabi Yusuf AS saat Ia diangkat sebagai pejabat pemerintahan, setelah Ia terlepas dari tuduhan keji Zulaikha, yang membuatnya dipenjarakan. Akan tetapi raja memiliki asumsi lain tentangnya. Lewat perbincangannya dengan Yusuf serta pengamatannya terhadap pembicaraan dan pembawaan Yusuf, ia menemukan sifat amanah dalam diri Yusuf, hingga iapun yakin untuk memberi Yusuf kedudukan terhormat dalam pemerintahannya.

Hal-hal serupa tentunya dialami pula oleh nabi dan rasul Allah selainnya. Mereka diangkat dan dipilih dari golongan orang-orang yang terpercaya hingga mampu menjaga dan menunaikan hak-hak Allah dan hamba-Nya dalam berbagai situasi dan kondisi, terlebih sosok Nabi Muhammad SAW sebagai sentra uswah al-hasanah bagi kita, umatnya.

Kontekstualisasi hadis Amanah dan Keimanan

”MEMILIH PEMIMPIN YANG TEPAT”

Apabila kita merujuk ke Al Qur'an, ternyata pedoman yang disampaikan oleh Al Qur'an merupakan isu terkini. Seperti yang boleh jadi telah kita ketahui, kualitas seorang pemimpin tidak hanya pada nilai intelektual di ijazah (IQ), tetapi juga pada nilai-nilai emosional dan, yang terpenting, spiritual.

Mungkin kita perlu flash back ke rezim Orde Baru, pada isu utama di 1998 ketika era presiden Soeharto tumbang, ketika “isu kepercayaan“ merupakan isu sentral di segala segi kehidupan bagsa kita, terutama politik dan ekonomi.

Dapat kita bayangkan bagaimana gentingnya keadaan pada saat itu ketika kepercayaan dunia luar terhadap ekonomi kita dalam titik terendah seiring ambruknya bank dan hilangnya kepercayaan rakyat terhadap tokoh politik Orde Baru.

Tidak lebih baik dari rezim Soeharto yang dikenal sebagai “Bapak pembangunan“ itu, periode-periode sekarang pun kasus korupsi dan penyalahgunaan jabatan makin menjamur saja di Tanah Pertiwi ini. Geliat-geliat perubahan yang menyuarakan keadilan, kejujuran, demokrasi dan banyak lagi itupun seakan hanya terdengar gaungnya saja, jika dibandingkan dengan isu-isu penggelapan uang negara yang makin santer dibicarakan. Sebagai tambahan yang makin membuat miris, survey yang dibuat oleh Transparency International (TI) Indonesia sungguh mencengangkan. Survey mereka tahun 2006 mengungkapkan bahwa Indonesia adalah "negara terkorup ke-enam" se-dunia. Sungguh prestasi yang "membanggakan".

Dapat kita akui, bahwa Indonesia juga masih memiliki pemimpin-pemimpin yang “bersih“ lagi amanah, akan tetapi pemimpin-pemimpin yang “tak tahu malu“ pun tak kalah banyak dimiliki Indonesia.

Lalu bagaimana sebenarnya kriteria pemimpin yang tepat untuk kita embankan tanggung jawab memimpin, agar bangsa ini terbebas dari belenggu orang-orang tamak, atau, setidaknya menjadikannya lebih baik dari sekarang? Apakah fenomena itu murni kesalahan pemimpin-pemimpin kita?

Amanah, pemakalah meyakininya sebagai salah satu solusi dari pertanyaan di atas. Amanah adalah keutamaan yang amat besar lagi berat dan tidak mungkin dapat dipikul oleh orang yang lemah. Maka kita tidak boleh meremehkannya atau bahkan benar-benar tidak mengindahkannya. Mengenai beratnya beban amanah, Allah menggambarkannya dalam QS. Al-Ahzab ayat 72:

إِنا عَرَضْنَا الأمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَالجبَالِ فَأبَيْنَ أنْ يَحْمِلنهَا وَأشْفقنَ مِنْهَا وَحَمَلهَا الإنسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولا

"Sesungguhnya kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung; semuanya enggan untuk memikul amanat dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, lalu dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zhalim dan amat bodoh." (Al Ahzab : 72)

Kepemimpinan, jabatan, ataupun tugas-tugas dan pekerjaan pada umumnya, wajib dipandang sebagai amanah yang tidak dapat disepelekan pertanggungjawabannya.

Melalui penelaahan Quraish Shihab atas QS. Al-Baqarah ayat 124, ia menggarisbawahi dua hal. Pertama, kepemimpinan dalam perspektif al-Qur’an bukan sekadar kontrak sosial antara sang pemimpin dengan rakyatnya, tapi juga merupakan ikatan perjanjian antara dia dengan Allah, atau dengan kata lain, amanah dari Allah. Kedua, kepemimpinan menuntut keadilan, karena adil adalah lawan dari aniaya, hal yang paling tabu dilakukan oleh seorang pemimpin.[11]

Lebih lanjut lagi, selain amanah, untuk membangun kepemimpinan yang baik, ada lima sifat lain yang hendaknya dimiliki pemimpin, yang diperolehnya dari menafsirkan QS. Al-Sajdah: 24 dan QS. Al-Anbiya’: 73; yaitu:
Sabar dan tabah.
Mengantarkan rakyatnya pada tujuan dengan petunjuk Allah.
Sifat-sifat baik, yang telah membudaya pada diri.
’Abidin, taat beribadah.
Optimis, penuh keyakinan.[12]

Untuk diangkat dalam suatu jabatan yang melibatkan rakyat, semua pemimpin harus melibatkan rakyatnya. Dengan demikian, sang pemimpin dituntut untuk memahami dan memperhatikan kehendak mereka. Jangankan manusia biasa, para rasul sekalipun tidak akan diutus kecuali mampu memahami bahasa (lisan dan pikiran umatnya):

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ فَيُضِلُّ اللهُ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

”Kami tidak pernah mengutus seorang rasulpun kecuali dengan bahasa kaumnya.“ [QS. Ibrahim: 4]

Maka pemimpin adalah cerminan rakyatnya. Pemimpin yang baik adalah yang memahami aspirasi rakyatnya, dan jika ia dipilih sendiri oleh rakyatnya, semestinya ia disenangi, atau minimalnya, tidak dibenci.

Lalu apa tugas kita? Apa yang mestinya kita lakukan sebagai rakyat, yang dipimpin?

Agar amanah dapat dilaksanakan dengan baik, kita harus memilih pemimpin-pemimpin terbaik. Jika kita menyingkirkan calon-calon yang kompeten serta jujur kemudian memilih calon-calon yang kurang becus berdasarkan pertimbangan demi egoisme pribadi, suap atau nepotisme, maka kita telah melakukan suatu penyelewengan dan kesalahan besar, dan secara tidak langsung ikut bertanggung jawab atas segala kekacauan yang ditimbulkan penguasa-penguasa tidak becus tadi.[13]

Umat yang tidak jujur dan tidak amanah ialah umat yang menyia-nyiakan dan tidak mengindahkan SDM-SDM yang kompeten dan terpercaya, meremehkan mereka dan mengutamakan orang-orang yang kemampuannya dibawah kemampuan mereka. Hadis Nabi SAW telah mengindikasikan bahwa sikap demikian merupakan gejala kerusakan yang amat mungkin terjadi pada akhir zaman. Riwayat dari Bukhari mengungkapkan:

“Seseorang datang pada rasulullah SAW dan bertanya: Ya Rasul, kapankah terjadinya kiamat? Beliau menjawab: Jika kejujuran telah lenyap dan tak ada orang yang dapat dipercaya, maka tunggulah saatnya kiamat! Orang tersebut bertanya lagi: Bagaimanakah hal itu bisa lenyap? Beliau menjawab: Jika urusan diserahkan pada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah saatnya kiamat.” [HR. Bukhari][14]

Diungkapkan juga dalam riwayat Hakim, bahwa sikap tersebut merupakan bentuk pengkhianatan bagi Allah, Rasul-Nya dan kaum Mu’minin.

ﻤﻦﺍﺳﺗﻌﻣﻝ ﺮﺠﻼ ﻋﻠﻰ ﻋﺼﺍﺒﺔ ﻮﻓﻴﻬﻡ ﻣﻦﻫﻮﺃﺮﻀﻰ ﷲ ﻣﻨﻪ ﻓﻗﺩ ﺧﺎﻦ ﺍﷲ ﻮﺮﺴﻮﻟﻪ ﻮﺍﻟﻣﯗﻣﻧﻴﻦ ( ﺍﻟﺤﺎﻜﻡ )

“Barang siapa yang mempekerjakan seseorang memimpin suatu kelompok, padahal di dalam kelompok itu terdapat orang yang lebih taqwa-nya pada Allah daripada yang dipekerjakan itu, maka orang yang mempekerjakannya telah mengkhianati Allah, rasul-Nya serta kaum Mu’minin”. [HR. Hakim][15]

Kesimpulan dan Penutup

Dari pembahasan di atas, setidaknya ada beberapa poin yang dapat kita simpulkan, antara lain:

1) Iman berarti sikap yang ditampilkan dengan percaya kepada Allah, nabi dan rasulnya, kitab-kitabnya, hari akhir serta takdir-Nya. Orang yang beriman berarti dalam dirinya tertanam kuat sifat amanah, percaya dan tanggungjawab atas berbagai nikmat yang diberikan Allah.

2) Amanah merupakan suatu sikap yang amat luas cakupannya. Ia memiliki dimensi makna dan aplikasi yang amat beragam. Seorang suami atau istri, anak atau orang tua, atasan atau bawahan, pemimpin atau rakyat, laki-laki atau perempuan, mereka memiliki amanah masing-masing yang harus dijaga baik-baik, dan kelak akan dimintai pertanggungjawaban di Hari Akhir.

3) Banyak sekali sosok yang dapat kita teladani perihal berlaku amanah, terutama para Nabi dan Rasul Allah, orang-orang terpilih dan terpercaya yang senantiasa menjaga amanah sepanjang hayat mereka.

4) Sifat amanah sangat perlu ditumbuhsuburkan di zaman ini, mengingat semakin banyaknya orang-orang berkhianat atas apa yang dipercayaka pada mereka. Dengan menanamkan sifat-sifat mulia berdasarkan petunjuk al-Qur'an dan al-Sunnah, sosok insan kamil-pun tak mustahil diraih.

Akhirnya, mungkin hanya ini yang dapat pemakalah sajikan. Amat berlebihan kiranya jika makalah ini dikatakan sempurna, karena pasti masih banyak ditemukan kekeliruan-kekeliruan di sana-sini, yang disebabkan oleh keterbatasan pemakalah semata. Maka, dengan segala kerendahan hati, pemakalah mohonkan kritik maupun koreksi atas makalah ini, dengan harapan kesemuanya itu dapat menelurkan karya yang jauh lebih baik dari makalah ini. Dan semoga sedikit ilmu yang dituangkan dalam makalah ini dapat memberikan sumbangsih dan kontribusi yang berarti bagi peningkatan pengetahuan dan ketaatan kita kepada Ilahi Rabbi. Amin.

Catatan Kaki

[1] CD Mausu'ah al-Hadis al-Syarif al-Kutub al-Sittah
[2] CD Mausu'ah al-Hadis al-Syarif al-Kutub al-Sittah
[3] CD Mausu'ah al-Hadis al-Syarif al-Kutub al-Sittah, Shahih Bukhari, kitab al-jumu'ah, no. 844
[4] Muhammad Al-Ghazali, Akhlak Seorang Muslim, terj. Abu Laila dan Muhammad Tohir, (Bandung: Al-ma’arif, 1995), h. 89.
[5] Akhlak Seorang Muslim, h. 88.
[6] Akhlak Seorang Muslim, h. 91-92.
[7] Akhlak Seorang Muslim, h. 92.
[8] Musnad Ahmad bin Hambal, kitab باقي مسند المكثرين , no. 14166.
[9] Musnad Ahmad bin Hambal, kitab باقي مسند المكثرين , no. 11228.
[10]http://yusliani82.multiply.com/journal/item/6/Manfaat_yang_Diperoleh_Dari_Al_Quran_dan_Hadits_Tentang_Amanah, direkam pada 27 April 2008.
[11] M. Quraish Shihab, Secercah Cahaya Ilahi, (Bandung: Mizan, 2007), h. 67.
[12] Secercah Cahaya Ilahi, h. 69-70.
[13] Akhlak Seorang Muslim, h. 86.
[14] Akhlak Seorang Muslim, h. 87.
[15] Akhlak Seorang Muslim, h. 86.

Daftar Pustaka

Ghazali, Muhammad Al. Akhlak Seorang Muslim, terj. Abu Laila dan Muhammad Tohir. Bandung: Al-ma’arif. 1995.
http://yusliani82.multiply.com/journal/item/6/Manfaat_yang_Diperoleh_Dari_Al_Quran_dan_Hadits_Tentang_Amanah, direkam pada 27 April 2008.
Jatnika, Rakhmat. Sistem Ethika Islami (Akhlak Mulia). Jakarta: Pustaka Panjimas. 1996.
Muhibbin. Hadis-Hadis Politik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 1996.
Mujtaba, Saifuddin. 73 Golongan Sesat dan Selamat. Surabaya: Pustaka Progresif. 1992.
Qarni, Uwes Al. 60 Bahaya Lisan. Bandung: Remaja Rosdakarya. 1995.
Shihab, M. Quraish. Secercah Cahaya Ilahi. Bandung: Mizan. 2007.

“Saat kejayaan adalah saat iman, dan saat keruntuhan adalah saat hilangnya iman.”

0 Response to "Artikel Islami Korelasi Pengertian Amanah dan Keimanan (Kepercayaan)"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!