Mahmud Yunus dan Peranannya Dalam Kajian Hadis di Indonesia

Advertisement
Oleh:Lathif Rifa’i 1320510039


A. PENDAHULUAN

Upaya penelusuran sejarah perkembangan kajian hadis di Indonesia belum dilakukan secara sistematis. Hal ini bisa diduga disebabkan oleh beberapa hal. Pertama, kenyataan bahwa kajian hadis tidak seintens kajian keislaman yang lain, seperti al-Qur’an, fiqh, akhlak, dan sebagainya. Kedua, kajian hadis bisa dikatakan berkembang sangat lambat, terutama bila dilihat dari kenyataan bahwa para ulama Nusantara telah menulis di bidang hadis sejak abad ke-17. Namun demikian, seperti terlihat kemudian, tulisan-tulisan tersebut tidak dikembangkan lebih jauh. Kajian hadis setelah itu mengalami kemandekan hampir satu setengan abad lamanya.[1]

Kajian hadis mendapatkan perhatian kembali pada paruh terakhir abad ke-19 dengan dimasukkannya kajian hadis dalam kurikulum pesantren-pesantren dan madrsah-madrasah. Kajian hadis di pesantren lebih ditekankan pada pengajaran materi hadis yang berkaitan dengan pengamalan ajaran Islam di berbagai bidang: akidah, ibadah, dan akhlak. Sedangkan kajian terhadap ‘ilm mustalah al-hadis\ sebagai alat untuk meneliti kualitas hadis masih mendapatkan perhatian kecil. Perhatian yang lebih besar terhadap ‘ilm mustalah al-hadis muncul menjadi kebutuhan ketika organisasi-organisasi Islam yang menyebut mereka sebagai pembaharu mulai didirikan. Mereka menekankan pentingnya kembali kepada al-Qur’an dan hadis dalam rangka memperbaiki praktek keagamaan masyarakat dari pengaruh bid’ah dan khurafat. yang terlihat menonjol dalam kajian hadis pada fase ini adalah Persatuan Islam yang dipelopori oleh A. Hasan. Tokoh terakhir ini berusaha mengkaji hadis-hadis yang menjadi dasar berbagai praktek keagamaan. Namun demikian, secara umum bisa dikatakan bahwa praktek penelitian hadis belum menjadi kecenderungan yang kuat pada fase ini. Penelitian hadis baru menjadi kecenderungan pada fase berikutnya.[2]

Pada fase berikutnya, kajian hadis memasuki babak baru dengan mulai didirikannya Perguruan Tinggi Islam, yaitu pada masa pasca kemerdekaan Indonesia. Kajian hadis–baik materi maupun‘ilm mustalah al-hadis—pada fase ini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kajian di bidang lain.
 
Mahmud Yunus Dalam Kajian Hadis di Indonesia

Penyebaran hadis di Indonesia sudah ada semenjak abad ke-17. Hal ini dibuktikan dengan adanya beberapa kitab hadis yang ditulis oleh Nur al-Din al-Raniri dan Abdurrauf al-Singkili. Meskipun dua karya tersebut lebih dikatakan sebagai kitab hadis yang tujuan utamanya adalah sebagai pembinaan keberagamaan, terutama fiqh dan akhlak. Kajian hadis secara khusus baru ditemukan pada abad ke 19 yang ditandai dengan munculnya Syaikh Mahfudz al-Tirmisi (yang oleh sebagian besar sejarawan) disebut dengan ulama hadis Indonesia.[3] Sejak itulah kajian hadis di Indonesia mengalami perkembangan. Hal ini dibuktikan dengan dimulainya pengajaran beberapa kitab hadis di beberapa pesantren tradisional, seperti di Tebuireng Jombang yang dimotori oleh KH. Hasyim Asy’ari. Perhatian terhadap kajian hadis mencapai puncaknya pada abad 20 yang ditandai dengan adanya beberapa kitab hadis yang dijadikan sebagai bahan ajar kurikulum di pesantren, surau, dan madrasah.[4]
 
Dari Syaikh Mahfudz al-Tirmisi dan Syaikh Hasyim Asy’ari inilah kemudian terbentuk jaringan ulama hadis Indonesia. Di antara ulama yang mempunyai latar belakang pesantren yang kuat sekaligus menjadi tokoh atau ulama hadis di Indonesia adalah KH. Hasyim Asy’ari, Syaikh Yasin al-Fadani, dan lainnya. Sementara itu, di antara cendekiawan muslim yang menggeluti kajian hadis maupun ilmunya adalah Prof. Dr. Mahmud Yunus, Prof. Dr. TM. Hasbi ash-Shiddieqy, Prof. Dr. Syuhudi Ismail, Prof. Dr. Ali Mustafa Ya’qub, dan lainnya. Dalam makalah singkat ini, penulis akan membahas salah satu tokoh hadis Indonesia, yaitu Prof. Dr. Mahmud Yunus serta peranannya dalam kajian hadis di Indonesia.

B. RIWAYAT HIDUP PROF. DR. H. MAHMUD YUNUS, M.A

Mahmud Yunus dikenal sebagai salah seorang mufassir Indonesia yang mampu menafsirkan al-Qur’an 30 Juz lengkap.[5] Karena itu, oleh sebagian orang, Mahmud Yunus dimasukkan kedalam salah satu tokoh yang berpengaruh pada abad 20 atau—bahkan mungkin bisa dikatakan—salah satu tokoh pembaharu dalam bidang tafsir dibumi Nusantara (Indonesia) yang menghiasi sejarah perjalanan tafsir Indonesia.[6] Di samping itu, Mahmud Yunus juga dikenal sebagai tokoh pembaharu pendidikan di Indonesia. Beliau memiliki jasa yang sangat besar dalam meningkatkan sistem pendidikan yang masih dapat dirasakan sampai saat ini.

Mahmud Yunus dilahirkan dari pasangan Yunus B. incek dan hafsah binti Imam Sami’un, Mahmud Yunus lahir pada tanggal 10 februari 1899 M/30 Ramadhan 1316 H, di desa Sunggayang, Batusangkar (Kabupaten Tanah Darat) sebuah daerah dikawasan Minangkabau, Sumatra Barat. Ayahnya adalah seorang imam, sedangkan ibunya adalah anak dari Engku Gadang M.Thahir bin Ali pendiri serta pengasuh surau si wilayah tersebut. Mahmud Yunus tumbuh dikalangan keluarga yang taat beragama.[7] Dengan bahasa yang lebih sederhana Mahmud Yunus bisa dikatakan “Anak Surau”, mangingat –dimasa kecilnya- hampir sebagian waktu beliau dihabiskan untuk beribadah, belajar ataukah bermain –untuk anak seumuran itu- diwilayah surau. Perjalanan awal hidup Mahmud Yunus inilah yang pada akhirnya akan mencatatkan nama beliau sebagai ulama sekaligus intelek (Ulama’-Intelek) dalam khazanah pendidikan islam Indonesia.[8]
 
Pada saat Mahmud Yunus masih kecil, Ayah dan Ibunya bercerai. Ia pun ikut Ibunya, dan tinggal bersama kakeknya (yang punya surau itu). Itu sebabnya pada usia tujuh tahun (1906), Mahmud Yunus mulai belajar al-Quran pada sang Kakek, Engku Gading. Walau hanya belajar disebuah surau, Yunus tetap antusias dalam belajar baik agama maupun umum. Ditempat ini Yunus memulai pendidikannya dengan belajar Alquran dan bahasa Arab, yang langsung ia peroleh dari kakeknya sendiri. Dan salah satu hal yang paling membuat kakeknya terkesan adalah bahwa Yunus mampu menamatkan al-Qur’an kurang dari satu tahun.[9] Dari sini, melihat situasi sosial yang melatarbelakangi kehidupannya telah membentuk karakternya menjadi sosok yang ikut mengisi perjalanan sejarah islam Indonesia dan sejarah perjalanan khazanah tafsir indonesia. Ia telah berfikir dan berbuat untuk menjawab problema sosial, bangsa dan agamanya dengan memilih jalur pendidikan sebagai sisi yang ia anggap paling strategis pada waktu itu.

a. Perjalanan Intelektual Mahmud Yunus

Sejak kecil, Mahmud Yunus dikenal dengan anak yang cerdas, kiprah hidupnya seringkali diinspirasi oleh kisah-kisah yang sering ia baca menjelang tidur. Sebagaimana yang penulis jelaskan diatas, bahwa sejarah awal perjalanan pendidikannya beliau mulai dari kakeknya sendiri, namun karena ingin mendalami ilmu yang lebih, beliau akhirnya memilih untuk belajar di madrasah milik H. M Thaib Umar (seorang Ulama yang terkenal pada masa itu) di Tanjung Pauh Sunggayang. Madrasah ini bernama Madras School. Di sekolah ini, ia mempelajari ilmu Nahwu, ilmu Sharaf, Berhitung dan Bahasa Arab. Siang hari ia belajar disana dan malam harinya mengajar di Surau kakeknya.[10]

Selain mengajar ditempatnya sendiri, Mahmud Yunus juga dipercaya oleh Thalib Umar untuk mengajar santrinya –yang masih yunior tentunya-, hal ini terbilang jarang, artinya mendapat kepercayaan lansung dari seorang Kiai untuk mengajar dipondoknya, hal ini bukan tanpa alasan mengningat daintara santri yang ada, Mahmud Yunus merupakan yang paling jenius dan kemampuan keagamaannya berada diatas rata-rata dibandingkan teman sebayanya. Dan terbilang luar biasa , mengingat Ketika seusia itu -usianya baru 16-17 tahun (yaitu tahun 1917) , Mahmud Yunus sudah mampu mengajar beberapa kitab, antar lain al-Mahally, al-Fiyah ibn Aqil dan Jam’al Jawami.[11] Namun sebelum itu, Mahmud Yunus sendiri dibawah asuhan H.M Thaib Umar telah mempelajari beragam kitab dengan serius, Antara lain, Fath al-Qarib, Iqna’, Fath al-Wahhab, Fath al-Muin, Alfiyah Ibnu Aqil, asymuni, Taftazani, Umm al-Barahin, Balaghah kitab al-Jauhar al-Maknun, Talkhish, jam’u al-Jawami, Ihya Ulumuddin dan Minhaj al-A’bidin.[12] 

Walaupun dipercaya untuk mengajar, namun Mahmud Yunus tetap rendah hati dan tidak melupakan tugas utamanya sebagai seorang santri yakni belajar, dia pun secara khusus tetap mengikuti kajian Khalaqah yang diadakan oleh sang guru. Di tangan Thaib Umar ini Yunus dapat mempelajari pelbagai disiplin keilmuan Islam. Selain ilmu-ilmu keagamaan yang ia dapatkan, Ia juga mewarisi semangat pembaharuan sang guru. Pada tahun 1917, Syekh H.M. Thaib Umar sakit. Karena itu, Mahmud Yunus secara langsung ditugasi untuk menggantikan gurunya memimpin Madras School.[13]

Pada tahun 1924 M atau 1924-1930, Mahmud Yunus mendapat kesempatan belajar di Universitas al-Azhar, Kairo. Di sana ia mempelajari ilmu ushul fiqh, ilmu tafsir, fikih Hanafi dan sebagainya. Hanya dalam tempo setahun, dia berhasil mendapatkan Syahadah Alimiyah dari al-Azhar dan menjadi orang Indonesia kedua yang memperoleh predikat itu. Setelah lulus dari al-Azhar, Mahmud merasa bahwa ilmu yang didapatkannya hanya tentang Agama dan Bahasa. Maka ia pun tertarik untuk melanjutkan studinya guna mempelajari ilmu pengetahuan umum. Ia pun masuk ke universitas Darr al-Ulum, Mesir dan tercatat sebagai orang Indonesia pertama yang masuk Darr al-Ulum.[14] Kuliah Mahmud Yunus berakhir dengan lancar, tahun 1929, ia berhasil memperoleh diploma dengan spesialisasi di bidang pendidikan.[15] Setelah itu, dia kembali ke kampung halamannya di Sunggayang Batusangkar. 

b. Karir Intelektual-Organisasi Mahmud Yunus

Sejarah mencatat bahwa H.M Thaib Umar amat berpengaruh terhadap pembentukan keilmuan Mahmud Yunus. Melalui karya-karya gurunya itu, Mahmud dapat menyerap semangat pembaruan demi peningkatan kesejahteraan umat dan perkembangan Islam. Kedekatan Yunus secara pribadi dengan Thaib Umar membawanya ke forum rapat akbar Ulama Minangkabau pada tahun 1919 M di padang panjang. Ia datang menghadiri perkumpulan tersebut sebagai perwakilan H.M Thaib Umar. Setelah itu, Mahmud Yunus mulai sedikit terlibat dalam banyak forum atau organisasi pembaruan pada masa itu.[16]

Setelah kembali dari musafir untuk mencari ilmu inilah sangat terlihat aktifitas menulis ditengah kesibukannya dalam posisi sebagai pemimpin diberbagai instansi formal maupun non-formal. Kemampuan mengajar yang ia miliki sejak masih belajar di Batusangkar memantabkan karier ke-guru-annya terutama setelah ia kembali dari Mesir. Secara terus menerus Mahmud Yunus mengajar dan memimpin berbagai sekolah, yakni pada al-Jami’ah al-Islamiyah Batusangkar (1931-1932), Kuliyah Mu’alimin Islamiyah Noramal Islam Padang (1932-1946), Akademi Pramong Praja di Bukit Tinggi (1948-1949), Akademi Dinas Ilmu Agama (ADIA) Jakarta (1957-1980), menjadi Dekan dan Guru Besar pada fakultas Tarbiyah IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta (1960-1963), Rektor IAIN Imam Bonjol Padang (1966-1071). Atas jasa-jasanya dibidang pendidikan ini, pada 15 Oktober 1977, IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta menganugerahi Mahmud Yunus Doctor Honoris Causa dalam Ilmu Tarbiyah[17]

Selain itu Yunus juga sering berkunjung ke luar negri, baik sebagai tugas yang diberikan pemerintah kepada beliauu maupun atas undangan untuk menghadiri berbagai muktamar. Prof. DR. H. Mahmud Yunus juga banyak menulis buku, terutama buku pelajaran agama islam untuk anak-anak, termasuk pula tafsir dan terjemahan al-qur’an. Pada awal tahun 1970 kesehatan Mahmud Yunus menurun dan bolak balik masuk rumah sakit. Sepanjang hidupnya, Mahmud menulis tak kurang dari 43 buku. Pada tahun 1982, Mahmud Yunus meninggal dunia.[18]

c. Karya Monumental dan Aliran Pemikiran

Di masa hidupnya, Mahmud Yunus dikenal sebagai seorang pengarang yang produktif. Aktivitasnya dalam melahirkan karya tulis tak kalah penting dari aktivitasnya dalam lapangan pendidikan. Popularitas Mahmud Yunus lebih banyak dikenal lewat karangan-karangan, karena buku-bukunya tersebar di setiap jenjang pendidikam khususnya di Indonesia. Buku-buku Mahmud Yunus menjangkau hampir setiap tingkat kecerdasan. Karangan-karangannya bervariasi mulai dari buku-buku untuk konsumsi anak-anak dan masyarakat awam dengan bahasa yang ringan, hingga merupakan literatur pada perguruan tinggi.

Pada perjalanan hidupnya, ia telah menghasilkan buku sebanyak 82 buah meskipn sebagian menyebutkan karyanya hanya berkisar 43 buku. Dari jumlah itu, Yunus membahas berbagai bidang ilmu, yang sebagian besar adalah bidang-bidang ilmu agama Islam, seperti bidang Fiqh, bahasa Arab, Tafsir, Pendidikan Islam, Akhlak, Tauhid, Ushul Fiqh, Sejarah dan lain-lain. Namun melihat background kesejarahan intelektualnya dan perannya dalam dunia social-kependidikan aliran pemikiran beliau lebih dominan kepada pembaharuan pendidikan di Indonesia, hal ini –hemat penulis- nampaknya logis mengingat decade kehidupan beliau waktu itu berada dalam kondisi Negara Indonesia yang masih merintis dalam dunia pendidikan.[19] 

Di antara bidang-bidang ilmu yang disebutkan, Yunus lebih banyak memberi perhatian pada bidang pendidikan Islam, bahasa Arab (keduanya lebih banyak memfokus pada segi metodik), bidang Fiqh, Tafsir dan Akhlak yang lebih memfokus pada materi sajian. Sesuai dengan kemampuan bahasa yang ia miliki, buku-bukunya tidak hanya ditulis dalam bahasa Indonesia, akan tetapi juga dalam bahasa Arab. Ia memulai mengarang sejak tahun 1920, dalam usia 21 tahun. Karirnya sebagai pengarang tetap ditekuninya pada masa-masa selanjutnya. Yunus senantiasa mengisi waktu-waktunya untuk menulis, dalam situasi apapun.[20]
Adapun diantara karya-karya Mahmud Yunus ialah:

Bidang pendidikan:
- Pengetahuan umum dan ilmu mendidik
- Metode khusus pendidikan agama
- Pengembangan pendidikan Islam di Indonesia
- Pokok-pokok pendidikan dan pengajaran
- Al-Tarbiyyah wa al-Ta’lim
- Pendidikan di Negara Islam dan intisari pendidikan Barat.

Bidang bahasa Arab
- Pelajaran bahasa Arab I
- Pelajaran bahasa Arab II
- Pelajaran bahasa Arab III
- Pelajaran bahasa Arab IV
- Durus al-Lughah al-‘Arabiyyah ‘ala Thariqati al-Haditsah I
- Durus al-Lughah al-‘Arabiyyah ‘ala Thariqati al-Haditsah II
- Metodik khusus bahasa Arab
- Kamus Arab Indonesia

Dalam Bidang tafsir:
- Tafsir al-Qur’an al-Karim (30 juz)
- Tafsir al-Fatihah
- Tafsir ayat akhlak
- Juz ‘Amma dan terjemahannya

Dalam Bidang akhlak:
- Keimanan dan Akhlak I
- Keimanan dan Akhlak II
- Keimanan dan Akhlak III
- Keimanan dan Akhlak IV
- Beriman dan Budi Pekerti
- Lagu-lagu Baru Pendidikan Agama/Akhlak, Dll.

C. KITAB ’ILM MUSTALAH AL-HADIS

1. Isi dan Sistematika Penulisan
Kitab ini merupakan karya satu-satunya Mahmud Yunus dalam bidang hadis. Dalam prakatanya, beliau tidak menyebutkan latar belakang disusunnya buku ini, hanya saja beliau berharap buku ini menjadi pegangan dalam mempelajari hadis.

Dalam buku ini, secara garis besar, isinya dapat dikategorisaikan sebagai berikut:

a) Hadis dan Periode Perkembangannya.
Dalam bagian ini dijelaskan mengenai pengertian hadis, kedudukan hadis terhadap al-Qur’an[21], sejarah periwayatan dan pembukuan hadis[22], serta tingkatan-tingkatan kitab hadis, penjelasan tentang hadis qudsi.

b) Ilmu Mustalah al-Hadis
Bagian ini memaparkan tentang pengertian Ilmu Mustalah al-Hadis\ yang terbagi dalam dua macam, yaitu dirayah dan riwayah[23], klasifikasi hadis berdasarkan kuantitas periwayat, klasifikasi hadis berdasarkan kualitas periwayatan, dan macam-macam dari hadis da’if.

c) Periwayatan Hadis
Bagian ini menjelaskan tentang penerimaan dan periwayatan hadis (tahammul wa al-ada’)[24], al-jarh wa al-ta’dil, dan naskh dalam hadis[25].

Manhaj yang digunakan beliau dalam menyusun bukunya adalah memberikan penjelasan singkat seputar istilah-istilah dengan cara meringkas dari berbagai literatur yang terdahulu. Singkatnya penjelasanya mencakup definisi dan keterangan seperlunya terhadap permasalahanya.

2. Kitab ‘Ilm Mustalah al-Hadis; Kajian Hadis di Pesantren dan Madrasah

Hadis merupakan mata pelajaran yang relatif baru di pesantren. Kitab-kitab hadis standar tidak dijadikan rujukan. Hanya sejak abad ke-19 dan seterusnya, para ulama mengumpulkan dan menerjemahkan kitab al-Arba’in al-Nawawiyah karya Abu Zakariya al-Nawawi.[26]

Meskipun demikian, pemikiran hadis di Indonesia merupakan hal yang relatif baru. Van Der Berg yang melakukan penelitian tentang pesantren-pesantren di wilayah Nusantara pada tahun 1886 tidak menyebutkan hadis sebagai salah satu mata pelajarannya. Hal ini kemudian disimpulkan oleh Martin Van Bruinessen bahwa pada saat itu, hadis belum menjadi salah satu mata pelajaran di pesantren. Lebih lanjut Martin menjelaskan bahwa para santri memang banyak menjumpai banyak hadis selama mengikuti pelajaran, sebab tidak ada karya fikih yang tidak didukung oleh argumen-argumen hadis, tetapi hadis-hadis tersebut sudah diproses dalam bidang ilmu lain.[27]

Seiring dengan gencarnya gerakan purifikasi di Indonesia yang mana abad 19 M merupakan sebuah periode transisi dan dialog kritis antara kelompok sufi dan kaum modernis yang disimbolkan dan dipengaruhi oleh ide-ide Muhammad ibn `Abd al-Wahhab yang menjadi perintis ajaran Wahhabiyyah, maka sejak abad 20 mata pelajaran hadis mendapatkan perhatian yang cukup besar.[28]

Perhatian yang besar terhadap mata pelajaran hadis pada abad 20 ini ditandai dengan adanya kitab-kitab hadis yang dijadikan bahan ajar di surau, madrasah dan pesantren. Mahmud Yunus mencatat bahwa menjelang tahun 1900-an kitab-kitab hadis sudah banyak dimasukkan ke dalam kurikulum di madrasah dan pesantren di wilayah Nusantara.[29]

Di antara-kitab-kitab hadis tersebut yaitu, Matn al-Arba’in al-Nawawiyyah karya Abu Zakariya Yahya al-Nawawiy, Mukhtashar ibn Abi Jamrah li al-Bukhariy Karya Abu Muhammad Abdullah ibn Sad ibn Abu Jamrah al-Azdiy, Riyad al-Shalihin karya Abu Zakariya Yahya al- Nawawiy pula, Bulûgh al-Marâm min Adillah al-Ahkâm karya Ibn Hajar al-‘Asqalaniy (773-852), Jawahir al-Bukhariy karya Syaikh Mushthafa Muhammad Imarah, Nayl al-Awthar Syarh muntaqa al-Akhbar karya Muhammad ibn ‘Ali ibn Muhammad al-Syaukaniy, al-Tajrid al-Sharih li Ahadits al-Jami’ al-Sahih karya Abû al-‘Abbas Ahmad ibn Ahmad ibn ‘Abd Al-Latif al-Syarajiy al-Zabidiy, Sahih Muslim karya Imam Muslim, Sahih al-Bukhariy karya Imam al-Bukhâaiy, Subul al-Salam syarh Bulughul Maram min Adillah al-Ahkam karya Muhammad ibn Isma’il al-Kahlaniy al-Shan’aniy (1059-1182 H). Bahkan di Tanjungpura Langkat (Sumatera Utara) terdapat Madrasah Muuallimin Aziziyah yang cukup tinggi dalam menyusun rencana pengajarannya. Madrasah ini menggunakan Fath al-Bariy sebagai rencana mata pelajaran hadis. Sayangnya madrasah ini tidak berumur panjang. Berdiri tahun 1923 dan pada tahun 1944 terpaksa ditutup.[30]

Seperti terlihat di atas, kitab-kitab hadis induk yang digunakan sebagai mata pelajaran hanya dua, yaitu Sahih al-Bukhariy dan Sahih Muslim. Sementara yang lainnya merupakan kitab ringkasan, antologi dan syarh. Kitab Mukhtashar ibn Abî Jamrah li al-Bukhariy, Jawahir al-Bukhariy dan al-Tajrid al-Sharih li Ahadits al-Jami’ al-Sahih, seperti yang tertera dalam judulnya, merupakan kitab ringkasan (mukhtashar). Ketiga-tiganya adalah ringkasan dari al-Jami’ al-Sahih karya al-Bukhariy yang populer dengan nama Sahih al-Bukhaiy. Sementara yang termasuk dalam kategori antologi yaitu: Matn al-Arba`’in al-Nawawiyyah, Riy\adl al-Salihin dan Bulughul Maram min Adillah al-Ahkam. Sedangkan yang kategori Syarh ialah Subul al-Salam, Nayl al-Awtar dan Fath al-Bariy.[31]

Di samping itu pada masa-masa ini sudah dimulai pula beberapa rencana pelajaran hadis yang tidak memakai kitab-kitab yang ditulis oleh penulis-penulis Arab sebagaimana di atas, tetapi merupakan hasil seleksi dari guru atau pengajar setempat yang dinukil dari kitab-kitab hadis. Madrasah tertentu hanya menawarkan tema-tema dalam pembelajaran sedangkan matn hadisnya diserahkan kepada kecenderungan dan pilihan guru atau pengajarnya.[32]

Sedangkan materi ilmu-ilmu hadis (‘ilm mustalah al-hadis\) yang dipakai pada masa itu, masih menurut catatan Mahmud Yunus ialah: Matn al-Bayquniyyah karya berbentuk nadm yang ditulis oleh ‘Umar ibn Muhammad ibn Futuh al-Bayquniy, Syarh al-Baiquniyyah karya ‘Athiyyah al-Ajhuriy, Minhah al-Mughits karya Hafid Hasan Mas’udiy, Mustalah al-Hadis\ karya Mahmud Yunus, Nukhbah al-Fikar fi Musthalah Ahl al-Atsar karya Ibnu Hajar al-‘Asqalaniy.[33]

Dengan demikian, hadis semakin menempati tempat yang penting pada abad ke-20. Seperti diungkapkan oleh Howard M. Federspiel dalam hasil penelitiannya terhadap literatur hadis sampi tahun 1980-an, paling tidak terdapat empat jenis (genre) literatur hadis di Indonesia.[34] Pertama, literatur ilmu hadis yang berisi analisis terhadap hadis yang berkembang pada masa awal Islam untuk menentukan keotentikan dan kepalsuannya. Kedua, literatur terjemahan terhadap kitab hadis yang disusun pada masa klasik (620-1250) dan masa pertengahan Islam (1250-1850). Ketiga, berisi antologi hadis pilihan yang diambil dari kitab-kitab kumpulan hadis, yang dipilih dan ditulis ulang oleh penulis Indonesia. Keempat, berisi kumpulan hadis yang digunakan sebagai sumber hukum dan materi pelajaran di sekolah-sekolah Islam.[35] Dari kategori di atas, buku ‘Ilm Mustalah al-Hadis\ karya Mahmud Yunus dapat dimasukkan dalam kategori keempat. Hal ini barangkali terkait dengan tujuan dari pengajaran hadis di pesantren dan madrasah itu sendiri. Tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan pengamalan keagamaan di pesantren dan madrasah, bukan untuk membekali para murid untuk dapat melakukan penelitian hadis secara mandiri. Sehingga bisa dilihat bahwa literatur ‘Ilm Mustalah al-Hadis dalam pesantren dan madrasah masih bersifat pengantar.[36]

3. Kitab ‘Ilm Mustalah al-Hadis dalam Perkembangan Literatur Hadis di Indonesia

Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya, literatur hadis sampai akhir 1980-an terlihat masih dalam proses pembentukan, di mana berbagai karya terus bermunculan yang genre-nya belum terbentuk secara utuh.[37] Seperti dituturkan oleh Federspiel, sejak tahun 1930-an banyak sarjana muslim menerjemahkan kitab-kitab hadis ke bahasa Indonesia.

Pada masa ini, hadis menjadi bagian dari kurikulum pesantren dan madrasah. Teks-teks dalam bahasa Indonesia ditulis untuk kepentingan ini. Namun demikian, teks-teks tersebut dilihat dari sisi isi tidaklah memuat hal-hal yang baru. Isinya hanyalah apa yang pernah dipelajari pada pesantren-pesantren sebelumnya dan bersandar pada teks-teks arab.

Literatur ‘Ilm Mustalah al-Hadis yang ditulis seperti terlihat di atas—termasuk di dalamnya kitab ‘Ilm Mustalah al-Hadis karya Mahmud Yunus—selain dari sisi isi tidak memuat hal-hal baru, juga belum membahas kritik hadis secara tuntas. Teori kritik hadis yang dikemukakan hanya mencakup kritik sanad dan matan yang diarahkan untuk mengetahui tingkat otentisitas hadis. Sedangkan pengembangan kritik matan yang diarahkan untuk fiqh al-h{adis\ belum mendapat perhatian.[38]

Tafsir terhadap hadis juga belum intens dilakukan. Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa bidang kajian hadis ini baru dalam taraf kelahirannya. Kajian terhadap hadis mendapatkan perhatian yang lebih intens pada fase berikutnya ketika hadis menjadi bagian dari mata kuliah yang diajarkan di perguruan tinggi Islam yang mulai didirikan pasca Indonesia merdeka.[39]

4. Kitab ‘Ilm Mustalah al-Hadis\ sebagai Bahan Materi Ajar di Lembaga Pendidikan Islam Indonesia

Kajian hadis di Indonesia mulai menemukan momentumnya ketika pada abad ke-20 banyak kitab hadis yang dijadikan bahan ajar di lembaga-lembaga pendidikan Islam di Indonesia. Pada awalnya kajian hadis ini banyak digunakan sebagai materi ajar di surau, pesantren dan madrasah. Dalam bidang materi hadis, literatur yang digunakan meliputi kitab primer[40], antologi hadis[41], kitab syarh[42], dan dalam bidang literatur ‘ilm mustalah al-hadis\, seperti kitab Baiquniyah, Syarh-nya Minhat al-Mughis, ‘Ilm mustalah al-hadis, dan Nubhat al-Fikr li Ibn Hajar al-‘Asqalani.

Materi hadis yang diajarkan pada fase awal ini lebih menitikberatkan pada aspek ajaran Islam yang terkait dengan fiqh dan akhlak sebagai bentuk pengamalan praktis umat Islam di kehidupan sehari-hari. Sehingga karena kecenderungan inilah materi-materi hadis diarahkan ke model materi yang praktis, sedangkan dalam kajian ‘Ilm mustalah al-hadis lebih bersifat sebagai pengantar karena kecemderungan ini.

Kemudian pada tahap lanjutan, sejalan dengan munculnya gerakan Muslim modernis pada abad ke 20, hadis semakain menempati tempat yang terpenting, ditandai dengan banyaknya karya hadis yang ditulis oleh penulis Indonesia. Karya-karya tersebut ditujukan untuk memenuhi kebutuhan materi bagi pendidikan tinggi Islam, seperti IAIN, madrsah, dan pesantren. 

D. Kesimpulan

Kajian hadis di Indonesia telah mengalami beberapa tahap perkembangan. Dalam sejarah perkembangannya, dapat ditemukan beberapa tokoh yang dianggap berperan dalam pengembangan kajian hadis di Indonesia. Salah satunya adalah Mahmud Yunus dengan karyanya ‘Ilm Mustalah al-Hadis.

Mahmud Yunus hidup pada awal abad ke 20 yang pada saat itu kajian hadis mulai muncul kembali setelah mengalami kemandekan dalam waktu yang lama. Pada fase ini, kajian hadis masuk dalam kurikulum pessantren dan madrasah, serta perguruan tinggi. Kajian hadis di pesantren dan madrasah lebih ditekankan pada pengajaran materi hadis yang berkaitan dengan pengamalan ajaran Islam. Pada fase ini juga, kajian teerhadap ‘Ilm Mustalah al-Hadis\ sebagai alat untuk menguji kualitas hadis masih mendapatkan perhatian yang kecil.


DAFTAR PUSTAKA

Abror, Indal. “Potret Kronologis Tafsir Indonesia,” Jurnal Esensia, Vol. 3, No. 2, Juli 2002. 
Azra, Azyumardi. “Islamisasi Nusantara: Penilaian Ulang” dalam Jurnal Lektur Keagamaan, Puslitbag Lektur Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI, Vol. 9. No. 1 Juni 2011.
. Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII: Melacak Akar-Akar Pembaruan Pemikiran Islam di Indonesia. Bandung: Mizan. 1999.
F. Saenong, Faried. “Al-Qur’an, Modernisme dan Tradisionalisme: Ideologisasi Sejarah Tafsir al-Qur’ân di Indonesia”, dalam Jurnal Studi Qur’an Vol. I, No. 3, 2006.
M. Federspiel, Howard. Kajian al-Qur’an di Indonesia; Dari Mahmud Yunus hingga Quraish Shihab, terj. Tajul Arifin . Bandung: Mizan. 1996.
. The Usage of Traditions of The Prophet in Contemporary Indonesia. Monograph in Southeast Asian Studies, Program for SAS, Arizona State University. 1993.
H. Johns, Anthony. “Tafsir Al-Qur’an Didunia Melayu-Indonesia: Sebuah Penelitian Awal” Terj. Syahrullah Iskandar dalam Jurnal Studi Qur’an Vol. I, No. 3, 2006.
Ibrahim, Sulaiman. Pendidikan dan Tafsir “Kiprah Mahmud Yunus dalam Pembaruan Islam. Jakarta: LEKAS. 2011.
Islah Gusmian, Khazanah Tafsir Indonesia; dari Hermeneutika Hingga Ideologi . Jaksel: Teraju, 2003.
Mohammad, Herry (dkk.). Tokoh-tokoh Islam Yang Berpengaruh Abad 20. Jakarta: Gema Insani Press. 2006.
Mustaqim, Abdul. Madzahibut Tafsir: Peta Metodologi Penafsiran al-Qur’an Periode Klasik Hingga Kontemporer. Yogyakarta: Nun Pustaka Yogyakarta. 2003.
Suprapto, H.M Bibit. Ensiklopedi Ulama Nusantara. Jakarta: Gelegar Media Indonesia. 2009.
Tim Penyusun IAIN Syarif Hidayatullah. Ensiklopedi islam Indonesia. Jakarta: Penerbit Djambatan. 1992.
Tsalis Muttaqin, ‘Khazanah Pemikiran Hadis Di Indonesia (Kajian Analisis Wacana)’, Tesis. UIN Sunan Kalijaga. 2009.
Van Bruinessen, Martin. Kitab Kuning Pesantren dan Tarekat: Tradisi-tradisi Islam di Indonesia, cet II. Bandung: Mizan. 1995.
Yunus, Mahmud. Sejarah Pendidikan (Jakarta: Hidakarya Agung, 1996) hlm 190.
. Sejarah Pendidikan Islam Di Indonesia. Jakarta: Hidakarya Agung. 1996.
. Tarjamah al-Quran al-Karim. Bandung: al-Ma’arif. 1967.

[1] Muh. Tashrif, Kajian Hadis di Indonesia (Ponorogo: STAIN Ponorogo Press, 2007), hlm. 17.
[2] Muh. Tashrif, Kajian Hadis, hlm. 18.
[3] Hasan Su’aidi, “Jaringan Ulama Hadis Indonesia”, makalah tidak diterbitkan.
[4] Muh. Tashrif, Kajian Hadis, hlm. 111.
[5] Sulaiman Ibrahim, Pendidikan dan Tafsir “Kiprah Mahmud Yunus dalam Pembaruan Islam”, (Jakarta: LEKAS, 2011) hlm. 84
[6] Tercatat beberapa pembaharuan besar yang beliau telah lakukan dan masih Nampak serta kita rasakan sampai sekarang, misalnya: Pembaharuan Metode Pengajaran Agama Islam dan Bahasa Arab, Memasukkan Pelajaran Agama ke Kurikulum Sekolah Pemerintah Memperjuangkan Sekolah Agama Pemerintah dan Merintis IAIN. Herry Mohammad (dkk.), Tokoh-tokoh Islam Yang Berpengaruh Abad 20, (Jakarta: Gema Insani Press, 2006). Hlm. 85-86. Catatan pembaharuan ini sebenarnya tidak bisa “lepaskan” dari peran serta keaktifan dari kawan-kawan Mahmud Yunus ketika beliau mulai merintis menunu indonesia yang lebih berpendidikan, mulai dari dasar, madrasah hingga perguruan tinggi. Lebih jelas mengenai teman-teman seperjuangan beliau, lihat: Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam Di Indonesia, (Jakarta, PT. Hidakarya Agung, 1996). Hlm. 1 
[7] Sulaiman Ibrahim, Pendidikan dan Tafsir, hlm. 5. Bandingkan dengan, H.M Bibit Suprapto, Ensiklopedi Ulama Nusantara, (Jakarta, Gelegar Media Indonesia, 2009) Hlm. 477-478. Lihat juga: Tim Penyusun IAIN Syarif Hidayatullah, Ensiklopedi islam Indonesia, (Jakarta, Penerbit Djambatan, 1992) Hlm. 593-594
[8] H.M Bibit Suprapto, Ensiklopedi Ulama Nusantara, Hlm. 477.
[9] Herry Mohammad (dkk.), Tokoh-tokoh Islam Yang Berpengaruh Abad 20, Hlm. 85-86. Yunus menambahkan bahwa Dalam sistim lama Pengajian Qur’an dikenal dengan istilah bahwa anak kecil yang sudah berumur 7 tahun harus diceraikan atau dipisahkan sama ibunya dan dibiarkan hidup di suarau atau tidur dan mengaji disana, bahkan bermain pun dikawasan surau, hal ini positip –hemat penulis- mengingat pada masa itu antusiasme pengajian Qur’an begitu besar sehingga perlu dilestarikan, termasuk dengan cara seperti ini. Dan cara seperti inilah yang sempat dialami oleh Mahmud Yunus. Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam Di Indonesia, Hlm. 34-35
[10] H.M Bibit Suprapto, Ensiklopedi Ulama Nusantara, Hlm. 478. Menurut Saiful Amin Ghofur Mahmud sempat masuk sekolah rakyat walaupun hanya betah sampai kelas tiga. Tahun 1908 M, ia memutuskan keluar karena pelajaran terlalu sering diulang dan menjemukkan baginya. Pada saat yang bersamaan, H.M. Thaib Umar mendirikan Madrasah School di Surau Tanjung Pauh. Tahun 1908, Mahmud pun dimasukkan oleh Ayahnya ke madrasah school tersebut. Di madrasah ini, ia belajar nahwu, sharaf, bahasa Arab dan matematika. Saiful Amin Ghofur, Profil Para Mufassir al-Quran, (Yogyakarta: Pustaka Insan Madani 2008), Hlm. 198 
[11] Herry Mohammad (dkk.), Tokoh-tokoh Islam Yang Berpengaruh Abad 20, Hlm. 86 bandingkan dengan, H.M Bibit Suprapto, Ensiklopedi Ulama Nusantara, Hlm. 478
[12] Sulaiman Ibrahim, Pendidikan dan Tafsir, Hlm. 5
[13] H.M Bibit Suprapto, Ensiklopedi Ulama Nusantara, Hlm. 478
[14]Selama Berada di kairo Mahmud Yunus tetap menjalin komunikasi dengan Diniyah School nya yang ia serahkan kepemimpinannya kepada temannya sebelum ia berangkat ke kairo. H.M Bibit Suprapto, Ensiklopedi Ulama Nusantara, Hlm. 478
[15] Herry Mohammad (dkk.), Tokoh-tokoh Islam Yang Berpengaruh Abad 20, Hlm. 86
[16] Saiful Amin Ghofur, Profil Para Mufassir al-Quran, Hlm. 198. H.M Bibit Suprapto, Ensiklopedi Ulama Nusantara, Hlm. 478
[17] Lebih jelasnya lihat : H.M Bibit Suprapto, Ensiklopedi Ulama Nusantara, Hlm. 478-480
[18] H.M Bibit Suprapto, Ensiklopedi Ulama Nusantara, Hlm. 480-481
[19] Aliran pemikiran ini tampak misalnya dalam berbagai karya beliau –yang penulis jelaskan berikutnya- yang bersinergi pada tiga terma besar, ilmu pendidikan –pendidikan islam-, sejarah pendidikan islam dan sejarah kebudayaan islam. H.M Bibit Suprapto, Ensiklopedi Ulama Nusantara, Hlm. 481
[20] Saiful Amin Ghafur, Profil Para Mufasir Al-Qur’an ,Hlm. 199-200
[21] Sunnah dalam hal ini mempunyai dua peranan terhadap al-Qur’an, yaitu sebagai penjelas dan pembuat hukum yang independen. Lihat Mahmud Yunus, ‘Ilm Mustalah, hlm. 2.
[22] Mahmud Yunus, ‘Ilm Mustalah, hlm. 9-12.
[23] Ilmu hadis riwâyah, yaitu suatu ilmu yang mencakup cara-cara penukilan, periwayatan, pemeliharaan dan pembukuan sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad saw, baik itu berupa perkataan, perbuatan, ikrar, maupun hal-hal lain yang dinisbatkan kepada Nabi. Manfaat mengetahui ilmu hadis riwâyah ini untuk menghindari salah kutip terhadap apa yang disandarkan kepada Nabi Muhammad saw. Di samping itu untuk mengetahui bagaimana seharusnya seseorang mengikuti perbuatan Nabi dan bagaimana cara menjaga hadis-hadis Rasulullah. Ilmu hadis dirâyah, yaitu: ilmu yang mencakup kaedah-kaedah untuk mengetahui keadaan sanad dan matn hadis. Obyek kajian ilmu hadis dirâyah adalah penelitian terhadap sanad dan matn hadis. Manfaatnya adalah untuk menetapkan apakah suatu hadis itu maqbûl (diterima) atau mardûd (tertolak) yang selanjutnya untuk diamalkan bagi yang maqbûl dan ditinggalkan bagi yang mardûd. Mahmud Yunus, ‘Ilm Mustalah, hlm. 1-2.
[24] Mahmud Yunus, ‘Ilm Mustalah, hlm. 21.
[25] Mahmud Yunus, ‘Ilm Mustalah, hlm. 25..
[26] Muh. Tashrif, Kajian Hadis, hlm. 20.
[27] Martin Van Bruinessen, Kitab Kuning Pesantren dan Tarekat: Tradisi-tradisi Islam di Indonesia, cet II (Bandung: Mizan, 1995), hlm 161.
[28] Tsalis Muttaqin, ‘Khazanah Pemikiran Hadis Di Indonesia (Kajian Analisis Wacana)’, Tesis, UIN Sunan Kalijaga, 2009, hlm. 37.
[29] Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta: Hidakarya Agung, 1996), hlm 60.
[30] Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan (Jakarta: Hidakarya Agung, 1996) hlm 190.
[31] Tsalis Muttaqin, ‘Khazanah Pemikiran Hadis’, hlm. 38.
[32] Tsalis Muttaqin, ‘Khazanah Pemikiran Hadis’, hlm. 39.
[33] Muh. Tashrif, Kajian Hadis, hlm. 23.
[34] Howard M. Federspiel, The Usage of Traditions of The Prophet in Contemporary Indonesia, Monograph in Southeast Asian Studies, Program for SAS, Arizona State University, 1993, hlm. 149.
[35] Muh. Tashrif, Kajian Hadis, hlm. 24.
[36] Muh. Tashrif, Kajian Hadis, hlm. 23.
[37] Howard M. The Usage, hlm. 128.
[38] Muh. Tashrif, Kajian Hadis, hlm. 27.
[39] Muh. Tashrif, Kajian Hadis, hlm. 28.
[40] Yang masuk dalam kategori ini misalnya Sahih al-Bukhari, S]ahih Muslim, Jawahir al-Bukhari, dll.
[41] Termasuk dalam kategori ini adalah Arba’in al-Nawawi, Riyad al-Salihin, Bulug al-Maram.
[42] Misalnya, Fath al-Bari, Subul al-Salam, Nayl al-Autar.



0 Response to "Mahmud Yunus dan Peranannya Dalam Kajian Hadis di Indonesia"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!