Makalah Memahami Hadis Nabi dengan Pendekatan Bahasa

Advertisement
Muhammad Badru zaman (07530065)


Sejauh perbincangan mengenai hal ihwal hadis atau sunnah, pertanyaan seputar “bagaimana memahami Hadis atau Sunnah” merupakan bagian yang paling klimaks. Lantaran dari pertanyaan ini akan diturunkan jawaban-jawaban yang mencoba meneropong segala sesuatu yang dinisbatkan pada Muhammad SAW., baik ucapan, perbuatan maupun ketetapannya dalam statusnya sebagai Utusan Allah. Oleh karenanya Imitatio Muhammadi merupakan standar etika dan tingkah laku, yang darinya setiap individu muslim menjadikan rule of live dalam bersikap dan menyikapi kehidupan mereka.

Dalam upaya meneropong segala polah-tingkah Kanjeng Nabi Muhammad, barangkali bagi generasi Islam awal (sahabat) tak banyak menemui hambatan, sebab mereka hidup sezaman dengan Beliau. Sehingga bila ada permasalahan yang terkait dengan agama dan khususnya sosial kemasyarakatan mereka bisa segera merujuk kepada Rasulullah. Ditambah tingkat kepesatan soal dunia yang relatif sederhana, sehingga problem yang mereka hadapipun sederhana.
 
Memahami Hadis Nabi dengan Pendekatan Bahasa

Hal yang relatif sama, terjadi pada generasi Tabi’in. Dimana mereka hidup tak jauh dari zaman Nabi, lagi pula masih banyak warisan sejarah yang hidup maupun warisan nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi yang telah diciptakan oleh Nabi dan sahabatnya.
 
Baca juga Artikel Hadis Lainnya:


Tentu, hal demikian diatas tak segampang generasi muslim muta`akhirin yang hidup 13-14 H(19-20 M) abad kemudian. Dimana geriap dunia melahirkan seambrek pertanyaan yang pelik dan rumit. Tidak hanya untuk dicari jawabannya tetapi juga mengidentifikasinya. Saking kompleknya banyak hal yang tak tersentuh oleh wilayah agama yang dalam hal ini adalah Hadis sebagai sumber nilai dan ajaran kedua, sekaligus fungsinya sebagai bayan ta`kid, bayan tafsir atau bayan murad terhadap al-Quran.

Kondisi ini benar-benar menantang kaum muslimin. Sehingga sederetan pakar yang tergabung dalam kelompok modernisme dan kontemporer berusaha memetakan. lebih tepatnya menghidupkan kembali ruh hadis atau sunah tersebut melalui pendekatan-pendekatan mutakhir, dan dalam kali ini pendekatan yang menjadi pembahasan adalah pendekatan bahasa.

Penelitian atau pemahaman hadis melalui pendekatan bahasa guna mengetahui kualitas hadis tertuju pada beberapa objek: pertama, struktur bahasa; artinya apakah susunan kata dalam matan hadis yang menjadi objek penelitian sesuai dengan kaidah bahasa arab atau tidak? Kedua, kata-kata yang terdapat dalam matan hadis, apakah menggunakan kata-kata yang lumrah dipergunakan bangsa Arab pada masa Nabi Muhammad SAW atau menggunakan kata-kata baru, yang muncul dan dipergunakan dalam literatur Arab? Ketiga, matan hadis tersebut menggambarkan bahasa ke-Nabian. Keempat, menelusuri makna kata-kata yang terdapat dalam matan hadis, dan apakah makna kata tersebut ketika diucapkan oleh Nabi Muhammad SAW sama makna yang dipahami oleh pembaca atau peneliti.

Tujuan Dan Urgensi Bahasa Sebagai Pendekatan Dalam Memahami Hadis Nabi

Di dalam penelitian kualitas hadis terutama matan hadis, terdapat kaedah-kaedah keshahihan matan hadis yang sangat mengacu kepada kaedah kebahasaan. Yakni, yang sangat menentukan hadis tersebut berkualitas maqbul atau mardud, di dalam hadis tersebut terdapat Syudzudz atau ‘illat.

Dan juga mengingat hadis Nabi Muhammad SAW berbahasa Arab, maka diperlukan dan diwajibkan dalam memahaminya, menggunakan pendekatan bahasa (linguistik). Pendekatan dengan penelusuran bahasa, muhadditsin dapat membersihkan hadis Nabi Muhammad SAW dari pemalsuan hadis, yang muncul karena konflik politik dan perbedaan pendapat dalam bidang fiqh dan kalam. 

Melalui pendekatan bahasa:

1. Peneliti atau pengkaji dapat mengetahui dan memahami makna dari lafadz-lafadz hadis yang gharib dan juga mengetahui illat serta syadz.

Kerena hadis menggunakan bahasa Arab, maka langkah pertamayang diambil ialah memahami kata-kata sukar. Bagi para sahabat sebagai Mukhatab, apa yang disampaikan oleh Rasulullah, dari segi bahasa, tidak ada yang sulit. Para sahabat terdiri atas kabilah-kabilah, yang untuk menyebut sesuatu terkadang menggunakan dialek atau istilah yang berbeda-beda. Rasulullah dapat meneyesuaikan diri dalam hal ini. Ketika sampai kepada beberapa generasi, terasa bagi pemerhati hadis bahwa istilah itu asing; terlebih pemerhati hadis tidak seluruhnya menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa ibunya. Itulah sebabnya ulama hadis berkepentingan menyusun Ilm Gharib al-Hadis. Imam Ahmad bin Hanbal ketika ditanya mengenai makna kata “asing” dalam sebuah hadis, menyatakan “tanyalah kepada yang ahli Gharib al-Hadis, karena saya tidak suka berbicara hadis hanya mengenai perkiraan saja”.

Dari sini bisa disimpulkan bahwa, dengan pendekatan bahasa, seorang dapat mengetahui makna-makna yang ‘asing’, sehingga pendekatan bahasa sangatlah penting digunakan di dalam memahami hadis Nabi Muhammad SAW.

2. Memahami dan mengetahui makna dan tujuan hadis Nabi Muhammad SAW. Sudahlah sangat jelas sekali, bahwa keurgenan memahami hadis dengan menggunakan pendekatan bahasa ini, yaitu untuk mengetahui makna yang masih belum jelas (Gharib) ataupun kata-kata yang menggunakan makna sebenarnya dan kata-kata yang bermakna bersifat majaz. 

Menggunakan kata kiasan di dalam mengungkap sebuah ide merupakan gejala universal di semua bahasa, Arab, Inggris, Indonesia, dll. Dalam hadis sering dijumpai kata-kata kiasan seperti ini. Namanya juga kiasan, maka makna secara harfiyah tidak terjadi. Dalam ilmu Balaghah, menyebut “singa itu sedang berpidato” lebih tepat dan lebih ringkas serta lebih menggambarkan keutuhan dibanding dengan menyebutkan “si fulan yang gagah berani itu sedang berpidato”. 

Karena itu ketika membaca hadis, pertanyaan pertama setelah tidak ada kata-kata sukar ialah pernyataan ini berisi kiasan apa tidak. Tergesa-gesalah orang yang berkata bahwa kalimat yang terkandung di dalam hadis itu bertentangan dengan kenyataan atau tidak masuk akal karena hanya terdapat kata kiasan di dalam hadis. Misalnya hadis yang berbunyi:

. . . اعلموا أن الجنة تحت ظلال السيوف . . .

Artinya:” . . . ketahuilah bahwa surga itu di bawah bayang-bayang pedang . . .”

Kalimat ini tidak bisa tidak, harus dipahami sebagai kiasan. Mustahil bila surga itu benar-benar terdapat di bawah baynag-bayang pedang. Tetapi yang dimaksudkan dalam hadis ini, surga itu diraih dengan kerja keras, kesungguhan serta ketulusan seperti perjuangan berperang melawan musuh-musuh Allah SWT. 

3. Mengkonfirmasi pengertian kata-kata hadis. Hal lain yang sangat penting di dalam memahami hadis Nabi dengan benar ialah mengkonfirmasi kata-kata yang disebutkan dalam hadis, karena pengertiannya dapat berubah sesuai dengan perubahan situasi dan kondisi. Dan hal ini diketahui oleh orang-orang yang mempelajari perkembangan bahasa dan perkataannya dan pengaruh situasi dan kondisi terhadapnya.

Adakalanya orang memberikan istilah terhadap perkataan untuk menunjukkan satu pengertian tertentu, dan masalah istilah ini tidak perlu dipertentangkan. Hanya saja yang patut dikhawatirkan adalah perkataan yang tersebut di dalam hadis juga dalam Al-Qur’an diartikan dengan istilah baru ini. Di sinilah timbulnya kekeliruan. Misalnya perkataan tashwiir (menggambar/melukis) yang tersebut di dalam hadis Nabi. apa yang dimaksud dengan perkataan tersebut dalam hadis yang mengancam para pelukis dengan siksa yang berat? Orang-orang yang biasa bergumul dengan hadis dan fiqh menganggap ancaman ini juga berlaku kepada mereka yang dikenal sekarang dengan istilah fotografer (dalam bahasa Arab disebut al-Mushawwir) yang menggunakan alat yang disebut kamera dan mengambil bentuk yang disebut foto (dalam bahasa Arab disebut shurah).

Apakah penamaan ini, yaitu menamakan fotografer sebagai Mushawwir dan pekerjaannya Tashwiir penamaan menurut bahasa? Seorangpun tidak akan mengira bahwa bangsa Arab ketika menggunakan perkataan ini untuk pertamakalinya terlintas di benaknya masalah ini. Maka penamaan ini bukannya menurut bahasa. 

Contoh Aplikasi 

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ الْمُسْنَدِيُّ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو رَوْحٍ الْحَرَمِيُّ بْنُ عُمَارَةَ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ وَاقِدِ بْنِ مُحَمَّدٍ قَالَ سَمِعْتُ أَبِي يُحَدِّثُ عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّي أَمْوَالَهُمْ إِلَّا بِحَقِّ الْإِسْلَامِ وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ

“Rasulullah SAW bersabda: Aku telah perintahkan untuk memerangi manusia sampai mengucapkan “Tiada Tuhan selain Allah”, barangsiapa yang mengucapkan “Tiada Tuhan selain Allah” terpeliharalah harta jiwanya daripadaku kecuali alasan yang membenarkannya dan hisabnya terserah pada Allah”.

Di awal matan hadis di atas, ada dua kata yang mengandung arti penting untuk memahami hadis tersebut, yaitu kata أمر dan أقاتل. Kata أمر adalah fi’il madhi yang berbentuk majhul yang berarti diperintahkan atau tuntutan untuk melakukan sesuatu. Adapun kata أقاتل adalah bentuk fi’il mudhari’ dari fi’il madhi قاتل yang berarti memerangi. Lafadz قاتل adalah shighat tsulatsi mazid dari mujarrad قتل yaitu dengan penambahan alif setelah huruf qaf. Menurut kaidah sharf penambahan alif ini mempunyai faedah li al-Musyarakah, yaitu pekerjaan yang dilakukan dua orang atau lebih yang saling memberikan aksi dan reaksi. Sedang kata قتل dilakukan oleh satu pihak saja, tanpa ada reaksi dari pihak lain.

Dengan demikian dapat dipahami, bahwa perintah memerangi manusia pada hadis di atas adalah setelah adanya aksi dari orang-orang musyrik. Dengan kata lain, aksinya muncul dari orang musyrik, bukan dari orang Islam. Secara bahasa dan sesuai makna asal dari perintah adalah wajib, maka perintah ini (dalam hadis di atas) mempunyai konsekuensi sebagi kewajiban, karena perintah ini keluar atau muncul dari orang yang lebih tinggi tingkatannya (dalam hal ini Nabi Muhammad) kepada orang yang lebih rendah (umat Islam). 

Mengenai lafadz الناس lafadz tersebut adalah lafadz yang mu’arraf dengan adanya ال. Ini menunjukkan arti bahwa orang yang diperangi adalah bukan semua orang, melainkan hanya orang yang telah dikhususkan, dalam hal ini ialah orang yang tidak mengucapkan syahadat yang memerangi orang Islam.

Dan contoh lain yang terdapat dalam kitab Syarh Sunan Abu Daud li al-‘Aini Kitab al-Thahārāh, bab al-Istinjā’ bi al-Mā’:
 
32- ص- حدثنا وهب بن بقية، عن خالد الواسطي، عن خالد- يعني: الحذاء- عن عطاء بن أبي ميمونة، عن أنس بن مالك: " أن رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دخل حائطاً ومعه غُلام معه ميضأةٌ ، وهو أصْغرُنا، فوضعها عند السّدرة، فقضى حاجتهُ، فخرج علينا وقد استنجى بالماء ".

Syarah:

(الحائط) : البستان من النخيل , jama’nya adalah " الحوائط ", yang dimaksud dengan الحائط adalah tembok.

(ميضأة) : dengan mengkasrahkan mim dan memfathahkan huruf setelah Dhad, merupakan suatu wadah air yang dipergunakan untuk berwudhu. Dan sabda Nabi " معه ميضأة "adalah kalimat yang menjadi ‘sifat’ bagi " غلام ".

(وهو أصغرنا) : 
 
قوله: " وهو أصغرنا " جملة وقعت حالاً عن " غلام " ؛ لأن تقدير الكلام: ودخل معه غلام، والحال أنه أصغرنا في السن في هذا الوقت. قوله: " فوضعها عند السدرة " أي: وضع الميضأة بحضرة السدرة؛ لأن " عند " للحضرة، و " السدرة " - بكسر السين-: شجرة النبق.
 
قوله: " فقضى حاجته " أي: قضى رسول اللّه حاجته.

قوله: " وقد استنجى بالماء " جملة فعلية وقعت حالاً، وقد علم أن الجملة الفعلية إذا وقعت حالاً وكان فعلها ماضياً مثبتاً، لا بد فيه من " قد " إما محققة أو مقدرة، نحو: جاء زيد قد ضحك، وقوله تعالى: (أوْ جاءُوكُمْ حصرتْ صُدُورُهُمْ) أي: قد حصرت، وذلك لأن الماضي من حيث إنه منقطع الوجود عن زمن الحال، مناف للحال المتصف بالثبوت، فلا بد من " قد " ليقرب به من الحال، فإن القريب من الشيء في حكمه، وجوز البعض الترك مطلقاً إذا وجد الواو، والأصح ما قلنا.
 
ويستفاد من هذا الحديث فوائد، الأولى: استحباب التباعد لقضاء الحاجة عن الناس. والثانية: الاستتار عن أعين الناظرين. والثالثة: جواز استخدام الرجل الفاضل بعض أصحابه في حاجته. والرابعة: استحباب خدمة الصالحين وأهل الفضل، والتبرك بذلك. والخامسة: جواز استخدام الصغار. والسادسة: جواز الاستنجاء بالماء، واستحبابه، ورجحانه على الاقتصار على الحجر. وقد اختلف الناس في هذه المسألة، والذي عليه الجمهور من السلف والخلف أن الأفضل أن يجمع بين الماء والحجر، فإن اقْتصر اقْتصر على أيهما شاء، لكن الماء أفضل، لأصالته في التنقية، وقد قيل: إن الحجر أفضل. وقال ابن حبيب المالكي: لا يجزئ الحجر إلا لمن عدم الماء. وحديث أنس هذا أخرجه البخاري ومسلم.

Terlihat dari pola pensyarahannya bahwa al-‘Aini cenderung berkutat pada aspek bahasanya, yang menurutnya sendiri merupakan ‘perangkat’ mendasar yang mesti digunakan dalam memahami hal apapun (“kunci pembuka segala ilmu”). 
 
Batas-Batas Tekstual (Pendekatan Bahasa) Hadis

Batasan-batasan tekstual (normative) meliputi:

1. Ide moral/ ide dasar/tujuan di balik teks(tersirat). Ide ini ditentukan dari makna yang tersirat di balik teks yang sifatnya universal, lintas ruang waktu dan intersubyektif.
2. Bersifat absolute, prinsipil,universal, fundamental
3. Mempunyai visi keadilan, kesetaraan, demokrasi, mu’asyaroh bil ma’ruf.
4. Terkait relasi antara manusia dan Tuhan yang bersifat universal artinya segala sesuatu yang dapat dilakukan siapapun, kapanpun dan dimanapun tanpa terpengaruh oleh letak geografis, budaya dan historis tertentu. Misalnya “shalat”, dimensi tekstualnya terleak pada keharusan seorang hamba untuk melakukannya (berkomunikasi, menyembah atau beribadah) dalam kondisi apapun selama hayatnya. Namun memasuki ranah “bagaimana cara muslim melakukan shalat ?” sangat tergantung pada konteks si pelakunya. Maka tak heran bila terdapat berbagai macam kilafiyat pada tataran praktisnya.
 
Kekurangan Dan Kelebihan Pendekatan Bahasa dalam Memahami Hadis Nabi

Kelebihan-kelebihan menggunakan pendekatan bahasa ialah:

Ø Keyakinan bahwa teks-teks Islam adalah petunjuk terakhir dari langit yang berlaku sepanjang masa, mengandung makna bahwa di dalam teks yang terbatas tersebut memiliki dinamika internal yang sangat kaya, yang harus terus-menerus dilakukan eksternalisasi melalui interpretasi yang tepat.

Ø Dapat mengatahui makna-makna dari lafadz-lafadz yang Gharib serta memahami benar kalimat-kalimat yang bermakna haqiqi ataupun majazi.

Adapun kekurangannya yaitu: 

Ø Implementasi pemahaman terhadap nash secara tekstual seringkali tidak sejalan dengan kemaslahatan yang justru menjadi alasan kehadiran Islam itu sendiri.

Kesimpulan Dan Penutup 

Dari makalah singkat ini, penulis menyimpulkan bahwasannya memahami hadis dengan menggunakan pendekatan bahasa sangatlah diperlukan terlepas dari kekurangannya, tetapi merupakan langkah awal sebelum melakukan kontekstualisasi terhadap hadis.

Penelitian atau pemahaman hadis melalui pendekatan bahasa guna mengetahui kualitas hadis tertuju pada beberapa objek: pertama, struktur bahasa. Kedua, kata-kata yang terdapat dalam matan hadis, apakah menggunakan kata-kata yang lumrah dipergunakan bangsa Arab pada masa Nabi Muhammad SAW atau menggunakan kata-kata baru. Ketiga, matan hadis tersebut menggambarkan bahasa ke-Nabian. Keempat, menelusuri makna kata-kata yang terdapat dalam matan hadis, dan apakah makna kata tersebut ketika diucapkan oleh Nabi Muhammad SAW sama makna yang dipahami oleh pembaca atau peneliti.

Daftar Pustaka

Abdul Gafur, Waryono. Epistemologi Ilmu Hadis, dalam Wacana Studi Hadis Kontemporer, PT. Tiara Wacana Jogja.

Al-‘Aini, Badruddin. Syarh Sunan Abu Daud li al-‘Aini. DVD ROM Al-Maktabah Al-Syamilah.

Al-Bukhari, Shahih Bukhari CD ROM al-Mausu’ah Hadis al-Syarif.

Al-Khatib, Muhammad ‘Ajjaj. 2007. Ushul al-Hadis, terj. M. Qadirun Nur dan Ahmad Musyafiq Gaya Media Pratama: Jakarta.

Busyro, Muhtarom. 2007. Shorof Praktis “metode Krapyak” Putra Menara: Jogjakarta.

http:// media.isnet. org/islam/Quraish/Membumi/Hadis.html

Muntasyar, Abd al-Halim. 1960. Mu’jam al-Wasith, Al-Qahirah.

Qardhawi, Yusuf . 1994. Metode Memahami As-Sunnah Dengan Benar, terj. Saifullah Kamali, Jakarta: Media Dakwah.

Zuhri, Muh. 2003. Telaah Matan Hadis;Sebuah Tawaran Metodologis, Yogyakarta: LESFI.


0 Response to "Makalah Memahami Hadis Nabi dengan Pendekatan Bahasa"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!