Makalah Metode Muqāranah (komparatif) dalam Memahami Hadis Nabi

Advertisement
Oleh: Muhammad Julkarnain 

A. Pendahuluan

Graduasi perkembangan keilmuan hadits dari periode ke periode menandai tanggung jawab serta kesungguh-sungguhan ulama terhadap hadits. Seiring dengan masa pembukuan hadits (abad ke-2 H.) yang masih bersifat akomodatif ini. ulama pada umumnya hanya sekedar mengumpulkan, kemudian menuliskannya dalam sebuah kitab, tanpa adanya kritik atau penelitian secara detail. Disamping itu, hadits Nabi Saw. masih bercampur pula dengan perkataan sahabat dan fatwa-fatwa tabi’in.

Syarah hadits tak ubahnya tafsir antara syarah dan tafsir memiliki kesamaan karena di anggap sama-sama berfungsi untuk memberikan pengertian dan penjelasan. Pada masa-masa awal kebutuhan terhadap pemahaman mendalam mengenai hadits nyaris tak ada masalah hal ini sangat beralasan karena aktivitas mensyarahi-meskipun belum di istilahkan dengan syarah- hadits secara oral langsung dari Nabi sebagai Syarih al-Hadits yang menjadi figur sentral ditengah umat.

Makalah Metode komparatif dalam Memahami Hadis Nabi

Kajian syarah hadis era klasik memposisikan al-Dirāsah al-Muqāranah fi Syarh al-Hadīs pada posisi penting fase pensyarahan hadis. Metode ini tentunya sangat menarik untuk diteliti secara komprehensif yang dengan penelitian terhadap penggunaan metode ini pada gilirannya memberikan gambaran yang jelas tentang bagaimana pertentangan ulama klasik terhadap masalah-masalah penting yang berdasar pada hadis nabi yang tertuang dalam kitab-kitab syarah. 

B. Metode dan Pemahaman: Beberapa Definisi Metode Muqāranah

1. Metode dan Metodologi

Kata “metode” berasal dari bahasa Yunani methodos, yang berarti cara atau jalan. Dalam bahasa Inggris, kata ini ditulis method, dan bangsa Arab menerjemahkannya dengn tharīqat dan manhaj. Dalam bahasa Indonesia, kata tersebut mengandung arti: cara teratur yang digunakan untuk melaksanakan suatu pekerjaan agar tercapai sesuai dengan yang dikehendaki; cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan. Sedangkan metodologi berasal dari bahasa Yunani methodos yang berarti cara atau jalan, logos artinya ilmu. Kata metodologi dalam Kamus Besar Bahasa Indosesia diartikan sebagai ilmu tentang metode; uraian tentang metode.

2. Metode Syarh al-Muqāranah 

Kata syarah (Syarh) berasal dari bahasa Arab, Syaraha-Yasyrahu-Syarhan yang artinya menerangkan, membukakan, melapangkan. Istilah syarh biasanya digunakan untuk hadis, sedangkan tafsīr untuk kajian Al-Qur’an. Dengan kata lain, secara substansial keduanya sama (sama-sama menjelaskan maksud, arti atau pesan); tetapi secara istilah, keduanya berbeda. Istilah tafsir (tafsīr) spesifik bagi Al-Qur’an (menjelaskan maksud, arti, kandungan, atau pesan ayat Al-Qur’an), sedangkan istilah (syarh) meliputi hadis (menjelaskan maksud, arti, kandungan, atau pesan hadis) dan disiplin ilmu lain. Jadi maksud dari metodologi pemahaman (syarh) hadis ialah ilmu tentang metode memahami hadis. Dengan demikian, kita dapat membedakan antara dua istilah, yakni metode syarh: cara-cara memahami hadis, sementara metodologi syarh: ilmu tentang cara tersebut. Dengan merujuk kepada metode yang ditawarkan ulama klasik maka metode yang digunakan oleh pensyarahan hadis ada tiga, yaitu metode tahlīlī, metode ijmālī, dan metode muqāran. Adapun untuk melihat kitab dari sisi bentuk pensyarahan, digunakan teori bentuk syarh bi al-ma’tsur dan syarh bi al-ra’y. Sedangkan dalam menganalisis corak kitab digunakan teori kategorisasi bentuk syarh fiqhy, falsafy, sufy, atau lugawy. 

Dalam hal ini Metode Muqāranah yang dimaksudkan oleh penulis begitupula apa yang telah disayaratkan oleh ulama, adalah metode memahami hadis dengan cara:(1) membandingkan hadis yang memiliki redaksi yang sama atau mirip dalam kasus yang sama atau memiliki redaksi yang berbeda dalam kasus yang sama. (2) Membandingkan berbagai pendapat ulama syarah dalam mensyarah hadis. 

Jadi metode ini dalam memahami hadis tidak hanya membandingkan badis dengan hadis lain, tetapi juga membandingkan pendapat para ulama (pensyarah) dalam mensyarah hadis. Diantara Kitab yang menggunakan metode muqarin ini adalah Shahih Muslim bi Syarh al-Nawawi karya Imam Nawawi, Umdah al-Qārī Syarh Sahih al-Bukhari karya Badr al-Dīn Abu Muhammad Mahmud al-’Aini, dan lain-lain.

Baca juga Artikel Hadis Lainnya:
  1. Makalah Metode Hermeneutik dalam Syarah Hadis Nabi SAW
  2. Makalah Metode Ijmali dalm Syarah Hadis Nabi SAW
  3. Makalah Metode Tahlili dalam Kajian Hadis Nabi SAW
  4. Makalah Kajian Hadis Metode Nasikh Mansukh

C. Ciri-ciri Metode Muqāranah dalam memahami hadis

1). Membandingkan analitis redaksional (mabahits lafziyyah) dan perbandingan periwayat periwayat, kandungan makna dari masing-masing hadis yang diperbandingkan. 

2). Membahas perbandingan berbagai hal yang dibicarakan oleh hadis tersebut. 

3). Perbandingan pendapat para pensyarah mencakup ruang lingkup yang sangat luas karena uraiannya membicarakan berbagai aspek, baik menyangkut kandungan (makna) hadis maupun korelasi (munasabah) antara hadis dengan hadis. 

Ciri utama metode ini adalah perbandingan, yakni membandingkan hadis dengan hadis, dan pendapat ulama syarah dalam mensyarah hadis karena dengan metode ini diharapkan akan dijumpai banyak pendapat yang dengannya akan dijumpai pemahaman yang luas.

D. Langkah-langkah Metode Muqārin

Metode ini diawali dengan menjelaskan pemakaian mufradat (suku kata), urutan kata, kemiripan redaksi. Jika yang akan diperbandingkan adalah kemiripan redaksi misalnya, maka langkah-yang ditempuh sebagai berikut : 

1). Mengidentifikasi dan menghimpun hadis yang redaksinya bermiripan, 

2). Memperbandingkan antara hadis yang redaksinya mirip tersebut, yang membicarakan satu kasus yang sama, atau dua kasus yang berbeda dalam satu redaksi yang sama, 

3). Menganalisa perbedaan yang terkandung di dalam berbagai redaksi yang mirip, baik perbedaan itu mengenai konotasi hadis maupun redaksinya, seperti berbeda dalam menggunakan kata dan susunannya dalam hadis, dan sebagainya, 

4). Memperbandingkan antara berbagai pendapat para pensyarah tentang hadis yang dijadikan objek bahasan.

E. Contoh Aplikasi Muqāranah (Komparasi) dalam memahami Hadis Nabi: Studi Kitab Syarah ‘Umdah al-Qārī

Salah satu kitab yang menggunakan Syarh muqarin adalah Umdah al-Qārī Syarh Shahih al-Bukhari karya Badr al-Din Abu Muhammad Mahmud bin Ahmad al-’Aini.22

1) Sketsa Biografis Pengarang Kitab

Beliau adalah Badr al-Dīn Mahmūd al-‘Ainī, selain sebagai seorang ahli hadis beliau juga seorang sejarawan. Kota asal beliau adalah Halab, beliau dilahirkan pada tahun 762 H didaerah Darb pada tanggal 17 ramadhān. selain di Halab karir keilmuan beliau dikenal di kota-kota besar seperti Mesir, Damaskus dan Quds.

Diantara guru-guru beliau, antara lain, yakni: orang tuanya sendiri Ahmād, Yusūf bin Mūsā al-Multhī, al-‘Ala al-Sīrāfī, al-Syama Muhammd al-Ra’ī, Mahmd bin Muhammād al-Antānī, Jibrīl bin Shālīh al-Bagdādhī, Khayr al-Dīn al-Qashīr, al-Hism al-Rahāwī, Isa bin al-Khash bin Mahmd al-Sarmāwī, Haydar al-Rūmī, Ahmad bin Khāsh al-Tarkī, al-Bulqīnī, Zayn al-Din al-‘Irāqī.

Berikut adalah beberapa dari murid beliau, yakni: Muhammad bin Abd al-Rahman al-Sakhawi dan Kamal al-Din bin al-Hamam. Diantara kitab-kitab yang telah ditulis selain umdah al-Qārī adalah: al-‘Ilm al-Hayb fi Syarh al-Kalam al-Thayyīb, al-Bināyah fī Syarh al-Hidāyah, al-Masā’il al-Badriyyāh , al-Maqāshid al-Tahwiyyāh, serta masih banyak lagi hasil karya tulis beliau.

2) Metode Muqāranah Kitab Syarah Umdah al-Qārī

Metode merupakan bagian penting dalam sebuah penelitian ataupun pemahaman karena metode memiliki peran yang besar terhadap produk pemahaman. Pembacaan terhadap metode ini dimaksudkan untuk menemukan tesis melalui proses analisa mendalam terhadap satu topik masalah yang dalam hal ini adalah kitab Umdah al-Qārī sehingga memberi manfaat bagi para pembaca untuk mengetahui pertentangan ulama klasik, juga langkah-langkah metodologis yang dilakukan oleh Badr al-Din al-‘Ainī dalam kitabnya:

( بيان اختلاف لفظه ) قد حصل من الطرق المذكورة أربعة ألفاظ إنما )الأعمال بالنيات( الأعمال بالنية العمل بالنية وادعى النووي في تلخيصه قلتها والرابع إنما الأعمال بالنية وأورده القضاعي في الشهاب بلفظ خامس الأعمال بالنيات بحذف إنما وجمع الأعمال والنيات قلت هذا أيضا موجود في بعض نسخ البخاري وقال الحافظ أبو موسى الأصبهاني لا يصح إسنادها وأقره النووي على ذلك في تلخيصه وغيره وهو غريب منهما وهي رواية صحيحة

أخرجها ابن حبان في صحيحه عن علي بن محمد العتابي ثنا عبد الله بن هاشم الطوسي ثنا يحيى بن سعيد الأنصاري عن محمد عن علقمة عن عمر قال قال رسول الله الأعمال بالنيات الحديث وأخرجه أيضا الحاكم في كتابه الأربعين في شعار أهل الحديث عن أبي بكر ابن خزيمة ثنا القعنبي ثنا مالك عن يحيى بن سعيد به سواء ثم حكم بصحته وأورده ابن الجارود في المنتقى بلفظ سادس عن ابن المقري حدثنا سفيان عن يحيى به إن الأعمال بالنية وإن لكل امرىء ما نوى فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله ومن كانت هجرته إلى دنيا الحديث وأورده الرافعي في شرحه الكبير بلفظ آخر غريب وهو ليس للمرء من عمله إلا ما نواه وفي البيهقي من حديث أنس مرفوعا لا عمل لمن لا نية له وهو بمعناه لكن في إسناده جهالة

الأول احتجت الأئمة الثلاثة به في وجوب النية في الوضوء والغسل فقالوا التقدير فيه صحة الأعمال بالنيات والألف واللام فيه لاستغراق الجنس فيدخل فيه جميع الأعمال من الصوم والصلاة والزكاة والحج والوضوء وغير ذلك مما يطلب فيه النية عملا بالعموم ويدخل فيه أيضا الطلاق والعتاق لأن النية إذا قارنت الكناية كانت كالصريح وقال النووي تقديره إنما الأعمال تحسب إذا كانت بنية ولا تحسب إذا كانت بلا نية وفيه دليل على أن الطهارة وسائر العبادات لا تصح إلا بنية وقال الخطابي قوله إنما الأعمال بالنيات لم يرد به أعيان الأعمال لأنها حاصلة حسا وعيانا بغير نية وإنما معناه أن صحة أحكام الأعمال في حق الدين إنما تقع بالنية وأن النية هي الفاصلة بين ما يصح وما لا يصح وكلمة إنما عاملة بركنيها إيجابا ونفيا فهي تثبت الشيء وتنفي ما عداه فدلالتها أن العبادة إذا صحبتها النية صحت وإذا لم تصحبها لم تصح ومقتضى حق العموم فيها يوجب أن لا يصح عمل من الأعمال الدينية أقوالها وأفعالها فرضها ونفلها قليلها وكثيرها إلا بنية وقال البيضاوي الحديث متروك الظاهر لأن الذوات غير منتفية والمراد به نفي أحكامها كالصحة والفضيلة والحمل على نفي الصحة أولى لأنه أشبه بنفي الشيء نفسه ولأن اللفظ يدل بالتصريح على نفي الذات وبالتبع على نفي جميع الصفات فلما منع الدليل دلالته على نفي الذات بقي دلالته على نفي جميع الصفات وقال الطيبي كل من الأعمال والنيات جمع محلى باللام الاستغراقية فأما أن يحملا على عرف اللغة فيكون الاستغراق حقيقيا أو على عرف الشرع وحينئذ إما أن يراد بالأعمال الواجبات والمندوبات والمباحات وبالنيات الإخلاص والرياء أو أن يراد بالأعمال الواجبات وما لا يصح إلا بالنية كالصلاة لا سبيل إلى اللغوي لأنه ما بعث إلا لبيان الشرع فكيف يتصدى لما لا جدوى له فيه فحينئذ يحمل إنما الأعمال بالنيات على ما اتفق عليه

وقال أصحابنا أي ما الأعمال محسوبة لشيء من الأشياء كالشروع فيها والتلبس بها إلا بالنيات وما خلا عنها لم يعتد بها فإن قيل لم خصصت متعلق الخبر والظاهر العموم كمستقر أو حاصل فالجواب أنه حينئذ يكون بيانا للغة لا إثباتا لحكم الشرع وقد سبق بطلانه ويحمل إنما لكل امرىء ما نوى على ما تثمره النيات من القبول والرد والثواب والعقاب ففهم من الأول إنما الأعمال لا تكون محسوبة ومسقطة للقضاء إلا إذا كانت مقرونة بالنيات ومن الثاني أن النيات إنما تكون مقبولة إذا كانت مقرونة بالإخلاص انتهى

“ (Hadis tentang al-Niyāt ), dengan menjelaskan perbedaan lafadz tentang hadis ini (tentang al-Niyāt). Pada lafadz Innama al-A’mal bi al-Niyāt (sesungguhnya segala perbuatan itu diawali dengan niat) yang perbuatan-perbuatan yang dilakukan diawali dengan niat hal ini berdasarkan pada pendapat al-Nawawī berpendapat dalam kitab al-Talkhīsh, pendapat ini juga didukung oleh ulama-ulama lain seperti al-Qadhā’i dalam al-Syihāb, mengomentari pendapat-pendapat para ulama, nampaknya Badr al-Din al-‘Aini menunjukkan pendapatnya dengan menukil riwayat al-Bukhari dan mengatakan bahwa hadis ini adalah merupakan hadis gharīb hal ini sebagaimana dikatakan oleh Abu Musā al-Ashbahānī bahwa sanad dari hadis ini adalah lā Yashihhu al-Sanad meskipun al-Nawawi dalam al-Talkhīsh-nya berpendapat bahwa riwayat ini merupakan riwayat shahīh. Ibn Hibban dalam Shahīh-nya dari ‘Ali bin Muhammad al-‘Atabi telah menceritakan dari ‘Abdullah bin Hāsyim al-Thūsī, telah menceritakan yahya bin Sa’id al-Anshārī, dari Muhammad dari alqamah, dari umar telah berkata Rasulullah saw: “ segala perbuatan diawali dengan niat”, hadis ini pun diriwayatkan oleh al-Hakim dalam kitabnya al-Arba’īn fī Syī’ari ahl al-Hādits dari Abu Bakar ibn Khuzaymah telah menceritakan al-Qan’anī, telah menceritakan Mālik, dari Yahya bin Sa’id dengan pendapat yang sama yaitu mengkategorikan hadis ini sebagai hadis yang shahīh. Dengan lafadz yang berbeda Ibn al-Jārud dalam kitab al-Muntaqā dari Ibn al-Muqrī, telah menceritakan dari Sufyān dari Yahya “ “Inna ma al-A’māl bi al-Niyah wa Inna Li Kulli amrī mā Nawā faman kānat hijratuhu ila Allāh wa Rasūlihi wa man kānat Hijratūhu ila al-Dunyā….” (sesungguhnya segala perbuatan itu diawali dengan niat, dan sesungguhnya segala sesuatu itu didapat dengan apa yang diniatkannya, barang siapa hijrahnya kepada Allah, dan barang siapa yang hijrahnya kepada dunia…. ), hadis ini juga dikutip oleh al-Rafi’ī dalam kitabnya Syarh al-Kabīr denganberpendapat bahwa hadis ini merupakan hadis gharīb, dalam hal ini dengan riwayat yang dikutipnya mengatakan bahwa” orang yang melakukan sesuatu bukanlah karena wanita akan tetapi dengan sesuatu yang diniatkannya” . masih terkait dengan hadis ini al-Bayhaqī dengan hadis yang diriwaytkan oleh Anas dan merupakan hadis marfū’ bahwa “ tidaklah merupakan amal bagi orang yang tidak berniat bagi orang yang beramal”, meskipun hadis ini menurut Badr al-Din al-‘Ainī hadis ini sanadnya lemah.

Pendapat pertama, Imam yang tiga terkait dengan hadis ini, menjadikan hadis ini sebagai dalil tentang kewajiban melakukan niat didalam berwudhu dan mandi, mereka yang berdalil dengan ini berergumentasi bahwa kebenaran suatu perbuatan tentulah dengan niat, hadis ini pula bermakna li al-Istighrāq al-Jinsi (mengandung keseluruhan jenis) maka niat didalam banyak perbuatan (amal), seperti: puasa, shalat, zakat, haji wudhu, dll. Termasuk juga amalan-amalan lain yang bersifat umum seperti talak. Dalam hal in al-Nawawi brpendapat bahwa sebuah perbuatan (amal) dapat dikatakan perbuatan jika ia mengandung niat, dan tidak dikatakan perbuatan (amal) jika tidak didalamnya mengandung niat, hal ini konsekuensi logisnya menurut al-Nawawī merupakan dalil bahwa thahārah dan semua ibadah lainnya tidaklah sah untuk dikatakan sebuah perbuatan atau amal jika tidak didahului dengan niat. 

Pendapat kedua, al-Khattābi, tentang “Inna ma al-A’māl bi al-Niyāt” tidak jauh berbeda dengan al-Nawawī, al-Khattābī dalam hal ini juga berpendapat bahwa hokum dari sebuah perbuatan (amal) terkait dengan kebenaran agama, bagian dari kebenaran agama adalah niat dalam setiap perbuatan karena niat merupakan (fāshilah/penghubung) benar atau tidaknya suatu perbuatan, karena niat yang benar dalam hal ibadah misalnya, shihhāh al-Niyah menjadi bagian terpenting, karena benarnya niat menunjukkan shihhah-nya sebuah perbuatan (amal) ibadah. Karena telah menjadi kebenaran umum bahwa tidak sahnya amal dari amal-amal yang meliputi amal al-Diniyyah baik perkataan, perbuatan, wajib maupun sunnah, sedikit atau banyak kecuali harus dengan niat. Adapun al-Thibbiy, dalam hal ini berpendapat tidak jauh berbeda dengan al-Khattābi yakni shihhah al-amal tergantung pada niatnya tergantung pada niat.

Terkait dengan masalah yang sama yakni masih tentang masalah niat Badr al-Dīn al-‘Ainī juga mengutip pendapat yang menurut penulis bermuatan ideologi dengan istilah qāla Ashhābuna dengan mengutarakan argumen bahwa amal dengan sesuatu yang diusahakan tentang perbuatan termaksud adalah bagian yang tak terpisahkan karena apa yang diusahakan dari amal itu adalah seperti syarat yang digunakan untuk mengusahakan dari amal yang dikehendaki sehingga niat menjadi bagian penting dan harus dalam sebuah amal atau perbuatan karena segala sesuatu tergantung dengan apa yang diniatkannya sehingga ditolak, diterimanya amal tergantung dari niat, dan jika amal perbuatan diterima jika niat dilakukan dengan ikhlas. 

3) Umdah al-Qārī : Analisis Syarh al-Hadīts

Penulis dalam hal ini mencoba menganalisis, dengan menyertakan sampel yang menurut penulis representatif untuk bisa dijadikan contoh. Minimal dengan mengkaji contoh yang disertakan sebagai bahan analisis memberikan kita gambaran umum tentang studi komparatif (al-Dirāsah al-Muqāranah) dalam syarah hadis yang dalam hal ini kitab ‘Umdah al-Qārī adalah kitab syarah dengan corak muqāran. Berikut beberapa hasil analisis tentang hadis yang membahas masalah niat:

1) Menyertakan pendapat-pendapat ulama tentang kualitas hadis terlebih dahulu melakukan analisis.

2) Menampilkan beberapa pendapat yang saling bertentangan terkait masalah kualitas hadis, dalam hal ini Badr al-Dīn al-‘Ainī dengan merujuk kepada ulama tentang kualitas hadis lebih dominan kepada kritik sanad.

3) Pemaknaan yang dilakukan terkai dengan masalah niat dalam kitab syarah ini masih dalam bentuk pemaknaan secara lafzhiyyah hadis. Yang ditemukan oleh penulis adalah bahwa analisis terhadap masalah kebahasaan tidak secara sistematis runut sejak awal tetapi hanya jika ada kata-kata yang membutuhkan penjelasan lebih saja, jika ada maka dalam hal ini Badr al-Din al-‘Ainī menganalisis dengan kaidah kebahasaan dengan menjelaskan sifat suatu kata yang termaksud dalam hadis tersebut.

4) Mengemukakan syarah hadis yang diajukan oleh ulama lain disertai dengan kitab rujukannya.

5) Badr al-Din al-‘Ainī, sebagai penulis kitab biasanya memberikan penilaian terhadap kualitas suatu hadis meskipun bertentangan dengan ulama lain.

6) Dalam pensyarahannya al-‘Ainī menyebutkan pendapat yang bersumber dari Ashhābunā, kemungkinan yang dimaksud adalah sahabat-sahabat beliau yang bermadzhab sama. 

F. Kelebihan dan Kekurangan Metode Muqāranah (komparatif) dalam Memahami Hadis Nabi

Kelebihan Metode Muqāranah :

1). Memberikan wawasan pemahaman yang relatif lebih luas kepada para pembaca bila dibandingkan denga metode lain. 
2) Membuka pintu untuk selalu bersikap toleran terhadap pendapat orang lain yang terkadang jauh. berbeda. 
3) Pemahaman dengan metode muqarin sangat berguna bagi mereka yang ingin mengetahui berbagai pendapat tentang sebuah hadis. 
4) Pensyarah didorong untuk mengkaji berbagai hadis serta pendapat-pendapat para pensyarah lainnya. 

Kekurangan Metode Muqāranah:

1) Metode ini tidak relevan bagi pembaca tingkat pemula, karena pembahasan yang dikemukakan terlalu luas sehingga sulit untuk menentukan pilihan. 
2) Metode ini tidak dapat diandalkan untuk menjawab permasalah sosial yang berkembang di tengah masyarakat, karena pensyarah lebih mengedepankan perbandingan daripada pemecahan masalah 
3) Metode ini terkesan lebih banyak menelusuri pemahaman yang pernah diberikan oleh mama daripada mengemukakan pendapat baru.

G. Rekomendasi

Untuk dapat memahami hadis dengan tepat, kelengkapan ilmu bantu mutlak diperlukan. Berkaitan dengan ilmu bantu daIam memahami hadis, Yusuf Al Qardawi memberikan beberapa pedoman, yaitu : 

1). Mengetahui petunjuk Al Qur'an yang berkenaan dengan hadis tersebut.
2). Menghimpun hadis-hadis yang se-tema.
3). Menggabungkan dan mentarjihkan antar hadis-hadis yang tampak bertentangan. 
4). Mempertimbangkan latar belakang, situasi dan kondisi hadis ketika diucapkan diperbuat serta tujuaannya. 
5). Mampu membedakan antara sasaran yang berubah--ubah dengan sasaran yang tetap. 
6). Mampu membedakan antara ungkapan yang bermakna sebenarnya dan bersifat metafora. 
7). Mampu membedakan antara hadis yang berkenaan dengan alam gaib (kasat mata) dengan yang tembus pandang. 
8). Mampu memastikan makna dan konotasi kata-kata dalam hadis. 

H. Kesimpulan dan Penutup

Dari uraian diatas dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut;

1. Metode Muqāranah yang dimaksudkan oleh penulis begitupula apa yang telah disayaratkan oleh ulama, adalah metode memahami hadis dengan cara:(1) membandingkan hadis yang memiliki redaksi yang sama atau mirip dalam kasus yang sama atau memiliki redaksi yang berbeda dalam kasus yang sama. (2) Membandingkan berbagai pendapat ulama syarah dalam mensyarah hadis.

2. Syarah hadis dengan metode muqāran memberikan pemahaman yang luas tentang suatu hadis. Syarah ini sangat cocok digunakan bagi kalangan akademisi/pengkaji hadis karena akan banyak informasi yang diperoleh akan tetapi tidak bagi para pemula. 

3. Kitab Umdah al-Qārī sebagai salah satu kitab yang bermetode muqārān sangat representatif untuk dijadikan rujukan, karena ia merupakan kitab syarah dengan tipe al-Tafshīlī. Dikatakan tafshīlī karena memuat beragam pendapat ulama tentang suatu topik permasalahan yang dibahas yang penjelasannya sangat terperinci sehingga otoritatif sebagai referensi bagi para pengkaji. 

Tentu dalam pembahasan kami di atas masih sangat jauh dari sempurna. Oleh karena itu saran konstruktif sangat penulis harapkan. Ungkapan di atas cukuplah sebagai penutup dari penulis. Penulis berterima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu dalam terselesaikannya makalah ini khususnya kepada bapak DR. K.H. Alfatih Suryadilaga, M.A yang selama ini membimbing kami dalam studi Membahas Kitab Hadits. Sebagai manusia yang penuh dosa dan salah, penulis memohon maaf sekiranya tulisan ini masih dirasa kurang, ada kekeliruan serta kesalahan di dalamnya. 

Daftar Pustaka

Ali, Nizar. Memahami Hadis Nabi (Metode dan Pendekatan Yogyakarta: Center for Educational Studies and Development (CESaD) YPI Al-Rahmah.

Ali, Nizar . (Ringkasan Desertasi) Kontribusi Imam Nawawi dalam Penulisan Syarh} Hadis. Yogyakarta.2007.

Abu Muhammad, Badr al-Din. Umdah al-Qārī, Bab Bada’ al-Wahy, Juz I, DVD ROM al-Maktabah al-Syamilah ( Solo: Pustaka Ridwana, 2004).

Al-Qardhawi, Yusuf . Bagaimana Memahami Hadis Nabi saw. edisi terjemahan (Bandung: Kharisma),1993.

Fuad Hasan dan Koentjaraningrat. Beberapa Asas Metodologi Ilmiah, dalam Koentjaraningrat (ed.), Metode-metode Penelitian Masyarakat. Jakarta: Gramedia.1997. 

Husain Munawwar, Said Agil dan Mustaqim,Abdul. Asbabul Wurud. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.2001.

Ulama’i, A. Hasan Asy’Ari .Sejarah dan Tipologi Syarah Hadits, dalam Teologia, volume 19, No. 2, Juli 2008.

Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa KBBI. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Cetakan ketiga, edisi III.2005.

www.sunnah.org, diakses pada taggal 4 januari 2009.

Yunus, Mahmud. Kamus Arab-Indonesia. Jakarta: Yayasan Penyelenggara Penterjemah Penafsir Al-Qur’an.1997.



0 Response to "Makalah Metode Muqāranah (komparatif) dalam Memahami Hadis Nabi"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!