Makalah Nasikh dan Mansukh dalam Kajian Hadis

Advertisement

Oleh:Lathif Rifa’i 1320510039

A. Pendahuluan

Islam sebagai agama “bungsu” dari deretan agama samawi yang pernah ada (Yahudi dan Nasrani), hadir sebagai penyempurna “agama kakak” tersebut. Kesempurnaan Islam dibuktikan dengan diturunkannya al-Qur’an sebagai doktrin langit yang maha suci kepada Nabi Muhammad SAW dan dibumikan kepada seluruh umat manusia sebagai petunjuk utama dan pertama dalam mengarungi hidup dan kehidupan yang kemudian diikuti dengan sunnah nabi (hadis) setelah al-Qur’an. Bahwa hadis merupakan sumber hukum kedua setelah Al-Qur’an hampir sudah menjadi sebuah konsensus seluruh umat Islam (kecuali segelintir golongan yang dikenal dengan sebutan kelompok Ingkar Sunnah). Sabda, tingkah laku, dan ketetapan Nabi saw. menjadi sebuah penjelas sekaligus penuntun kehidupan dan keberagamaan umat Islam di seluruh penjuru dunia.
 
Nasikh dan Mansukh dalam Kajian Hadis

Posisi hadis sebagai sumber hukum kedua setelah al-Qur’an membuat kajian tentangnya seakan tak pernah lapuk dimakan zaman. Sejak era al-khulafa’ al-Rasyidun sampai hari ini para cendikiawan muslim dari berbagai kolong langit masih terus mengkaji hadis dan ilmu hadis. Salah satu kajian hadis yang selalu menarik perhatian para sarjana adalah kajian yang berkaitan dengan al-nasikh wa al-manshukh. Meskipun kajian ini termasuk kajian klasik, akan tetapi kajian ini memiliki daya tarik yang cukup luar biasa untuk dikaji di era modern ini. Setidaknya hal ini bukan hanya disebabkan karena kajian ini merupakan wilayah kajian hukum fikih (legal-formal), atau juga merupakan kajian-kajian teologis, maupun wilayah kajian ushul fikih. Melainkan, disebabkan juga karena al-nasikh wa al-manshukh juga merupakan bagian dari salah satu metode dalam menyikapi hadits-hadits yang secara zahir kontradiktif.

A. Pengertian Al-Nasikh dan Mansukh dalam Hadis

Dalam kitabnya al-Idah li Nasikh al-Qur’an wa Mansukhuh Ubay Muhammad Makki bin Abi Talib al-Qaysi menerangkan makna etimologis kata “naskh ” kepada tiga macam arti. Pertama, kata naskh diartikan dengan naql diambil dari kata naskh al-kitab (menukil dari satu kitab ke kitab lain). Sehubungan dengan makna yang demikian ‘Ali al-Awsi merujuk pada ayat: Inna kunna nastansikh ma kuntum ta’malun. Dengan makna ini naskh tidak mengubah apa yang di-naskh. Kedua, kata naskh berarti menghapuskan sesuatu untuk kemudian menempati posisinya. Makna demikian diambil dari perkataan nasakhat al-syams al-zilla. Merujuk makna naskh yang demikian al-Zarkasyi dalam al-Burhan fi ‘Ulum al-Qur’an dan al-Zarqani dalam Manahil al-‘Irfan fi ‘Ulum al-Qur’an mengutip ayat: fayansakh allah ma yulqi al-syaitan. Di sini apa yang di-naskh menjadi hilang dan posisinya digantikan oleh yang me-naskh . Ketiga, kata naskh berarti menghapuskan sesuatu tanpa pengganti yang diambil dari perkataan nasakhat al-rih al-asar. Dengan pengertian demikian, maka baik yang me-naskh maupun yang di-naskh sama-sama hilang.[1]

Selain arti al-naql dan al-izalah (arti kedua dan ketiga) al-Zarkasyi menambahkan makna al-tahwil dan al-tabdil untuk kata naskh.[2] Tentang makna al-tahwil dicontohkan dengan perkataan tanasakh al-mawaris. Sedangkan untuk makna al-tabdil dicontohkan dengan ayat wa iza baddalna ayah makana ayah. Tetapi contoh yang terakhir ini tentu saja tidak tepat karena di dalam ayat tersebut tidak terdapat kata naskh.
Adapun pengertian secara terminologi, maka naskh menurut ahli ushul adalah syara’ mengangkat (membatalkan) hukum syar’I dengan suatu dalil yang datang kemudian. Sedangkan dalam konteks kajian hadis, ilmu nasikh al-hadis adalah ilmu yang membahas hadis-hadis yang bertentangan yang tidak dapat dipertemukan lalu sebagiannya dipandang nasikh dan sebagiannya dipandang mansukh dan yang nyata kemudian nasikh.

B. Al-Nasikh dan Mansukh dalam Hadis

Realitas menunjukkan bahwa terdapat sejumlah hadis Nabi yang satu dengan yang lainnya tampak bertentangan atau kontradikitif. Terhadap hadis-hadis tersebut, para ulama pakar hadis telah berusaha memahaminya agar hilang kesan kontradiktifnya. Dalam rangka itulah mereka telah merumuskan berbagai teori. Teori yang pertama dan mendapat prioritas adalah teori al-jam’u (teori kompromi dan akomodasi). Teori ini dibangun atas asumsi bahwa tidak mungkin segala yang berasal dari Nabi baik pernyataannya, perbuatannya maupun persetujuannya saling kontradiktif. Dengan teori ini semua hadis yang tampak kontradiktif itu dicarikan penyelesaiannya baik dengan cara menentukan keumuman dan kekhusususannya ataupun dengan cara lainnya. Akan tetapi, dalam kenyataannya tidak semua hadis yang tampak kontradiktif itu dapat diselesaikan dengan teori al-jam’u.[3]

Karena teori al-jam’u tidak selalu mampu menyelesaikan hadis-hadis yang tampak kontradiktif, maka ditempuhlah teori-teori alternatif lainnya.[4] Di antara teori lain yang cukup dikenal dan banyak diaplikasikan oleh pakar hadis adalah teori naskh (penghapusan, pembatalan) dan teori tarjih (menentukan yang terkuat).

Jika dibandingkan antara keduanya, nampaknya teori naskh lebih banyak diaplikasikan daripada teori tarjih. Hal ini terbukti dengan banyaknnya karya-karya para ulama yang secara spesifik menghimpun hadis-hadis yang dianggapnya sebagai nasikh (hadis yang menghapus) dan mansukh (hadis yang dihapus). Di antara karya-karya tersebut adalah kitab al-Nasikh dan al-Mansukh karya Qatadah bin Di’amah al-Sadusi (w. 118 H), Nasikh al-Hadis wa Mansukhuhu karya al-Hafiz Abu Bakr Ahmad bin Asram (w. 261 H) al-Nasikh wa al-Mansukh min al-Hadis karya Abu Hafs ‘Umar bin Ahmad al-Baghdadi yang lebih dikenal dengan Ibnu Syahin (w. 385 H), yang lebih lengkap lagi adalah kitab I’tibar fi al-Nasikh wa al-Mansukh min al-A<sar karya Au Bakr Muhammad bin Musa al-Hazimi al-Hamzani (w. 584 H).[5] Pada tahun 1993 terbit karya ‘Izzuddin Husain al-Syaikh dengan judul Mukhtasar al-Nasikh wa al-Mansukh fi Hadis Rasulillah saw.[6]

Sebagaimana disinggung di atas, teori ini dimaksudkan untuk memahami petunjuk atau kandungan hadis-hadis Nabi yang tampak saling bertentangan. Prinsip kerja teori ini adalah menentukan manakah hadis yang tergolong sebagai nasikh dan manakah hadis yang tergolong hadis mansukh.

Teori naskh yang banyak dipakai dan dikembangkan dalam kajian hadis, sesungguhnya bukanlah suatu teori yang secara khusus lahir dalam bidang ini. Pada mulanya ia merupakan teori yang muncul dan dipakai oleh para ulama dalam memahmai dan menetapkan hukum (istinbat al-hukm) dari teks-teks al-Qur’an dan hadis. Karena itu, diskursus tentang studi naskh , selain dalam studi hadis, banyak dijumpai pula dalam studi dan literatur usul al-fiqh dan ‘ulum al-Qur’an. Ulama yang dianggap sebagai pelopor dan diakui memiliki kemahiran untuk mengetahui hadis yang nasikh dan mansukh adalah Imam Syafi’i.

Kemunculan dan aplikasi teori naskh khusus dalam kajian hadis, nampaknya dibangun di atas asumsi bahwa perbedaan kandungan atau petunjuk hadis disebabkan oleh adanya proses perkembangan atau perubahan kebijakan Nabi ke arah yang lebih baik. Kebijakan Nabi yang tercermin dalam hadis-hadisnya, dan muncul lebih belakangan atau lebih akhir dalam persoalan yang sama, dianggap sebagai revisi atau ralat atas kebijakan sebelumnya. Karena itulah ia dianggap lebih tepat dan “harus” dipakai. Hadis-hadis dalam konteks ini kemudian biasa disebut dengan nasikh. Sedangkan hadis-hadis yang muncul sebelumnya dianggap telah kadaluwarsa alias tidak bisa dipakai, dan biasa dikenal dengan mansukh. Jadi, asumsi ini lebih didasarkan atas pertimbangan sejarah dan waktu munculnya hadis.[7]

C. Klasifikasi Naskh dalam Hadis

Terhadap asumsi adanya naskh antara hadis dengan hadis atau sunnah dengan sunnah, di kalangan ulama terdapat perbedaan pendapat. Mayoritas ulama membolehkan sebab apa yang semula ditetapkan oleh Rasulullah saw dan kemudian di-nasakh olehnya, dilakukan atas dasar ilham dari Allah SWT. Pendapat lainnya adalah bahwa sunnah sama sekali tidak bisa di-nasakh oleh sunnah; sunnah dapat di-nasakh jika ada indikator (perintah) dari Allah bukan berdasarkan ijtihad. Sedangkan menasakh al-Qur’an dengan sunnah, secara tegas Imam Syafi’i menolak dan tidak membenarkan sama sekali.[8]

Di samping itu, klasifikasi naskh dalam hadis dikenal ada empat macam, yaitu:

1. Naskh hadis yang mutawatir oleh hadis yang mutawatir
2. Naskh hadis yang ahad oleh hadis yang ahad
3. Naskh hadis ahad oleh hadis yang mutawatir
4. Naskh hadis yang mutawatir dengan hadis yang ahad[9]

Untuk tiga jenis klasifikasi yang pertama, dinilai boleh, sedangkan jenis yang keempat terdapat perbedaan pendapat sebagaimana dalam hal boleh tidaknya me-naskh al-Qur’an dengan sunnah ang berstatus ahad, tetapi mayoritas ulama menilai ketidakbolehannya.[10]

Dengan memperhatikan klasifikasi di atas, terlihat bahwa prinsip-prinsip teori naskh yang semula didasarkan pada asumsi sejarah atau waktu kemunculan hadis bergeser menyerupai prinsip dasar pada teori tarjih yang lebih menekankan pada perbandingan nilai atau status hadis.

D. Mengetahui Nasikh dan Mansukh

Dalam mengaplikasikan teori naskh dalam hadis untuk memahami hadis, terdapat metode yang dikenal di kalangan para ulama hadis untuk mengetahui adanya nasikh dan mansukh. Menurut pengalaman mereka, suatu hadis dapat dinyatakan mengandung kemungkinan adanya nasikh dan mansukh apabila terdapat tanda-tanda atau indikator (mu’arifat al-naskh) yang terdapat dalam teks atau matan hadis. Keberadaan indikator tersebut biasanya didasarkan pada:

Pertama, penjelasan dari Rasulullah saw. sendiri.[11] Sebagai contoh, adalah hadis yang diriwayatkan oleh Buraidah dalam Sahih Muslim:

“Aku pernah melarang kalian untuk berziarah kubur, (maka mulai sekarang) berziarahlah kalian ke kuburan, karena kalian dapat lebih mengingat akhirat.”

Kedua, penjelasan dari sahabat. Misalnya adalah pernyataan Jabir bin ‘Abdullah r.a. yang terdapat dalam Sunan al-Tirmizi, Abu Dawud, dan Ibn Majah:

“Yang terakhir dari dua perbuatan Rasulullah saw. adalah beliau tidak wudhu karena menyentuh (makanan) yang terkena api (telah dimasak).”

Al-Zuhri menyatakan bahwa yang dimaksud dengan yang terakhir dari perbuatan Rasulullah ini merupakan nasikh bagi yang sebelumnya.[12] Menurut ulama pengikut Imam Syafi’i pernyataan sahabat atau periwayat tersebut tidak dapat dijadikan sebagai naskh karena boleh jadi dalam pernyataannya mengandung ijtihadnya sendiri yang mungkin keliru. Sedangkan yang lainnya berpendapat bahwa pe-naskh -an tersebut dapat dijadikan argumentasi, karena periwayat yang adil hanya meriwayatkan dari Rasulullah bukan dari perasaannya sendiri.

Untuk tanda atau cara yang pertama dan kedua yaitu berdasarkan penjelasan Nabi dan informasi dari sahabat, biasanya indikatornya relatif lebih jelas dan mudah ditangkap sebagaimana tercermin pada teks atau matan hadis. Sayangnya hadis-hadis yang termasuk dalam kedua kategori itu jumlahnya terhitung sedikit, dan belum tentu secara substansial merupakan nasikh mansukh.

Ketiga, sejarah munculnya hadis.[13] Misalnya hadis yang diriwayatkan oelh Abu Dawud dan Syadad bin Aus yang menyatakan: “Orang yang membekam dan dibekam hendaklah berpuasa.”

Menurut imam Syafi’i hadis tersebut di-naskh dengan hadis yang diriwayatkan oleh Muslim, Abu Dawud, al-Tirmizi dan al-Nasa’i dari Ibnu ‘Abbas yang menyatakan bahwa Nabi pernah berbekam sementara beliau sedang dalam keadaan ihram dan berpuasa. Peristiwa itu terjadi ketika Ibnu ‘Abbas menyertai Nabi ketika menunaikan ibadah haji wada’ tahun 10 H. Padahal pada sebagian sanad hadis yang diriwayatkan oleh Syadad dinyatakan peristiwa itu terjadi pada tahun ke 8 H.

Untuk mengetahui adanya naskh berdasarkan sejarah kemunculan hadis, diperlukan ilmu bantu lainnya. Dalam ‘Ulum al-Hadis yang berkaitan dengan hal tersebut adalah ilmu tentang tawarikh al-mutun, yaitu ilmu tentang awal dan akhir muncunya hadis, kapan atau di waktu apa hadis itu diucapkan datau perbuatan itu dilakukan oleh Rasulullah saw.

Sedangkan untuk mengetahui tarikh al-mutun ini biasanya ditempuh dengan cara mencermati keberadaan kata-kata dalam matan hadis yang dapat mengindikasikan waktu kemunculan hadis yang berangkutan. Kata-kata itu misalnya ibtida’ atau awwal qabliyah, ba’diyah atau kata-kata lainnya yang menunjukkan waktu.[14] Hanya saja untuk mengetahui tawarikh al-mutun dengan cara tersebut mengharuskan adanya kata-kata tersebut dalam matan hadis, sehingga untuk matan hadis lainnya yang tidak memuat kata tersebut tidak dapat dimasukkan. Hal lainnya adalah keberadaan kata-kata tersebut tidak selalu dapat membantu untuk menentukan naskh dalam hadis.

Keempat, berdasarkan konsensus (ijma’). Misalnya dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Mu’awiyah bin Abu Sufyan yang menyatakan, bahwa barangsiapa yang meminum khamr cambuklah (sampai empat kali), jika ia minum lagi maka bunuhlah.[15]

Hadis ini di-naskh dengan ijma’ untuk tidak melakukannya.[16] Menurut Imam Nawawi, para ulama hadis telah menyepakati bahwa petunjuk hadis tersebut telah di-naskh . Alasannya karena dalam hadis lain yang diriwayatkan oleh Tirmizi setelah kejadian tersebut, Nabi pernah mendatangi seorang yang meminum khamr yang keempat kalinya, Nabi hanya memukulnya dan tidak membunuhnya. Nawawi juga menginformasikan bahwa al-Zuhri pun telah meriwayatkan hadis Nabi yang serupa dari Qabisah bin Zu’aib. Karena itulah maka dihapuslah ketentuan harus membunuhnya itu sehingga menjadi dispensasi (rukhsah).

E. Kritik terhadap Teori Naskh dalam Kajian Hadis

Sebagai produk pemikiran manusia, pada kurun waktu tertentu teori naskh sering digunakan dan dianggap penting dalam memahami hadis-hadis yang tampak kontradiktif. Ini dianggap memiliki kekuatan di samping kelemahan atau keterbatasan. Kekuatan teori ini terutama terletak pada kemampuannya untuk memahami petunjuk atau kandungan hadis yang muncul lebih dahulu dan yang lebih akhir. Dengan bantuan ilmu tawarikh al-mutun, teori ini dapat membantu menjelaskan aspek historis kapan dan di mana suatu petunjuk hadis muncul.[17]

Di samping itu, dengan mengaplikasikan teori naskh, akan dihasilkan hadis-hadis yang dinilai nasikh dan mansukh. Dengan mengetahui nassikh dan mansukh, maka akan memberi manfaat dan hikmah. Di antara manfaat atau hikmah yang dapat diambil adalah untuk memelihara kemaslahatan-kemaslahatan umat, menunjukkan bahwa perkembangan pembentukan syari’at itu bertahap ke arah yang lebih sempurna sejalan dengan perkembangan dakwah dan situasi kondisi manusia, menguji apakah melaksanakan ataukah tidak, serta untuk kebaikan dan kemudahan.[18]

Sedangkan di antara kelemahan atau keterbatasan teori naskh antara lain bahwa tidak semua hadis yang tampak saling bertentangan itu dapat dipahami dengan teori ini. Hal ini dapat dipahami karena teori naskh terlalu bergantung pada harus adanya tanda-tanda yang terdapat dalam hadis yang diteliti.

Teori ini menimbulkan impliksi teoritis dengan menghasilkan hadis-hadis yang dianggap sebagai nasikh, dan hadis-hadis yang dianggap mansukh. Karena itu, hadis-hadis yang dianggap nasikh dapat diterima atau dapat dipakai sedangkan hadis-hadis yang dianggap mansukh diabaikan atau tidak dipakai. Adanya pengabaian terhadap sebagian hadis berarti sebagian nilai dan petunjuk yang terkandungnya pun tidak dipakai. Padahal, hadis-hadis yang dinilai mansukh itu mungkin saja kualitas sanad dan matannya sahih. Kenyataan ini merupakan perbedaan yang mencolok dengan teori al-jam’u yang menghendaki agar semua hadis yang terkesan kontradiktif dapat dipahami dengan cara menggabungkan atau mengkompromikannya, tanpa ada hadis yang diabaikan.[19]

Pengabaian hadis-hadis yang dianggap mansukh terjadi karena teor naskh terlalu didominasi oleh tolok ukur waktu atau sejarah kemunculan hadis. Dalam teori ini, logika kesejarahan lebih dilihat secara formal bahwa yang terbaru adalah yang terbaik dan harus dipakai, sedangkan yang lama tidak layak lagi dipakai. Memang ada yang menerapkan teori naskh dengan memperhatikan aspek kualitas hadis-hadis yang bersangkutan. Akan tetapi penerapan naskh dengan cara yang disebutkan belakangan ini akan tumpang tindih dengan teori tarjih dan membuka lebar peluang terjadinya klaim nasikh mansukh berdasarkan formalitas perbandingan status hadis dan kurang memperhatikan substansinya.[20]

Pemaknaan terhadap rasionalitas kemunculan suatu hadis atas kebijakan Nabi tidak tersentuh oleh teori ini. Hal ini dikarenakan teori naskh lebih menitikberatkan pada sisi tekstualnya dan kurang melakukan interpretasi secara kontekstual sehingga substansi yang terkandung dalam hadis seringkali tidak terjangkau.

Hal lainnya adalah teori ini telah membuka lebar peluang untuk secara mudah mengklaim hadis-hadis sebagai nasikh dan mansukh. Padahal kalau dicermati secara seksama hadis-hadis yang dianggap sebagai nasikh dan mansukh itu sebagian besar tidak didasarkan atas bukti-bukti atau argumnetasi yang kuat. Yusuf al-Qardawi menyatakan:

Kebanyakan dari hadis-hadis yang diasumsikan sebagai mansukh, apabila diteliti lebih jauh, ternyata tidaklah demikian. Hal ini mengingat bahwa di antara hadis-hadis, ada yang dimaksudkan sebagai ‘azimah (anjuran melakukan sesuatu walaupun terasa berat), dan ada pula yanh dimaksudkan sebagai rukhsah (peluang untuk memilih yang lebih ringan pada suatu ketentuan). Dan karena itu, kedua-duanya mengandung kadar ketentuan yang berbeda, sesuai dengan kedudukan masing-masing. Adakalanya sebagian hadis tergantung pada situasi tertentu, sementara yang sebagiannya lagi bergantung pada situasi lainnya. Jelas bahwa adanya perbedaan seperti itu tidak berarti adanya penghapusan atau naskh.[21]

Lebih lanjut al-Qardawi menjelaskan bahwa adanya hadis-hadis yang tampak kontradiktif itu merupakan kebijaksanaan syariat Nabi yang ditetapkan dalam rangka mensiasati situasi dan kondisi serta karena konsideran tertentu. Sehingga apabila sebab-sebab yang melatarbelakangi hadis berubah, maka hukumnya pun menjadi berubah.[22] Di sinilah letak pentingnya memasukkan analisis sosio-historis ke dalam teori naskh. Dengan demikian di samping menggunakan ilmu tawarikh al-mutun, untuk membantu mengetahui mana hadis yang muncul terdahulu dan mana yang muncul lebih akhir, teori ini pun perlu didukung dengan ilmu asbab al-wurud al-hadis untuk memahami sebab-sebab yang melatarbelakangi muncul atau terjadinya hadis atau kebijakan Nabi.[23]

Perlu ditegaskan bahwa pemakaian asbab al-wurud dalam analisis teori naskh seyogyanya tidak terpaku hanya berdasarkan informasi-informasi dari riwayat atau hadis yang jumlahnya terbatas. Hal itu karena informasi yang terkandung dalam hadis atau riwayat pada umumnya bersifat kasuistik, parsial atau mikro. Oleh karena itu, agar tidak terjebak ke dalam aplikasi teori naskh secara serampangan dan mudah mengklaim hadis-hadis sebagai nasikh dan mansukh. Pemahaman tentang latar belakang sosio-historis perlu dilakukan secara universal atau komprehensif.[24]

F. Penutup

Dari uraian di atas dapat dikemukakan bahwa teori naskh dalam kajian hadis telah banyak dilakukan. Kekuatan sekaligus kontribusi teeori ini dalam kajian hadis terutama karena kemampuannya untuk membantu dalam memahami sebagian hadis yang tampak bertentangan dengan cara mengetahui manakah hadis yang muncul lebih dahulu dan mana yang akhir.

Akan tetapi, teori naskh ini juga tidak terlepas dari kelemahan dan keterbatasan. Teori ini terlalu didominasi oleh pemakaian prinsip sejarah atau waktu kemunculan hadis, sehingga kurang bisa dikembangkan dan diaplikasikan dengan hasil yang memuaskan. Sebaliknya, yang terjadi adalah kecendrungan untuk mengklaim banyak hadis sebagai nasikh dan mansukh tanpa argumentasi yang kuat.

Oleh karenanya, agar tidak terjebak ke dalam aplikasi teori naskh secara parsial dan smudah mengklaim hadis-hadis sebagai nasikh dan mansukh, pemahaman tentang latar belakang sosio-historis perlu dilakukan secara universal atau komprehensif.

Daftar Pustaka

al-Khatib, ‘Ajjaj. Ushul al-Hadis ‘Ulumuhu wa Mustalahuh. Beirut: Dar al-Fikr. 1989.
Al-Qardawi, Yusuf. Bagaimana Memahami Hadis Nabi saw. Terj. Muhammad al-Baqir. Bandung: Karisma. 1993.
As-Sunnah sebagai Sumber IPTEK dan Peradaban; Diskursus Kontekstualisasi dan Aktualisasi Sunnah Nabi SAW. Terj. Setiawan Budi Utomo. Jakarta: Al-Kautsar. 1998.
al-Salih, Subhi. Mabahis fi ‘Ulu m al-Qur’an. Beirut: Dar al-‘ilmi li al-malayyin. 1988.
Al-Zarkasyi. al-Burhan fi ‘Ulum al-Qur’an. Juz II. Beirut: al-Maktabah al-‘Asriyyah. 2004
Baidhawi, Ahmad. Mengenal al-Thaba’thaba’I dan Kontroversi Nasikh-Mansukh. Bandung: Nuansa. 2005
Husein al-Syaikh, ‘Izz al-Din. Mukhtasar al-Nasikh wa al-Mansukh fi Hadis Rasulillah saw. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah. 1993.
Khalil al-Qattan, Manna’. Mabahs fi ‘Uum al-Qur’an, cet. 35. Beirut: Muassasah al-Risalah. 1998
Nurhaedi, Dadi. “Teori Naskh dalam Kajian Hadis”, dalam Jurnal Studi al-Qur’an dan Hadis Vol. 1, No. 1 Juli 2000.
Rahman, Fatchur. Ikhtisar Musthalahul Hadis. Bandung: al-Ma’arif. t.t.
Syahin, Ibnu. al-Nasikh wa al-Mansukh min al-Hadis. t.tp: Dar al-Wafa’. 1995
Syuhudi Ismail, M. Metodologi Penelitian Hadis Nabi. Jakarta: Bulan Bintang. 1992.

[1] Lihat dalam Ahmad Baidhawi, Mengenal al-Thaba’thaba’I dan Kontroversi Nasikh-Mansukh (Bandung: Nuansa, 2005), hlm. 28. Lihat Ibnu Syahin, al-Nasikh wa al-Mansukh min al-Hadis (t.tp: Dar al-Wafa’, 1995), hlm. 29. Ibn Manzur, Lisan al-‘Arab (Kairo: Dar al Hadits, 2003),, hlm. 4407.
[2] Al-Zarkasyi, al-Burhan fi ‘Ulum al-Qur’an, Juz II (Beirut: al-Maktabah al-‘Asriyyah, 2004), hlm. 29. Manna’ Khalil al-Qattan, Mabahs fi ‘Uum al-Qur’an, cet. 35 (Beirut: Muassasah al-Risalah, 1998), hlm. 232.
[3] Dadi Nurhaedi, “Teori Naskh dalam Kajian Hadis”, dalam Jurnal Studi al-Qur’an dan Hadis Vol. 1, No. 1 Juli 2000, hlm. 90.
[4] M. Syuhudi Ismail, Metodologi Penelitian Hadis Nabi (Jakarta: Bulan Bintang, 1992), hlm. 142-145.
[5] ‘Ajjaj al-Khatib, Ushul al-Hadis ‘Ulumuhu wa Mustalahuh (Beirut: Dar al-Fikr, 1989), hlm. 289-290.
[6] Dadi Nurhaedi, Teori Naskh, hlm. 90.
[7] Dadi Nurhaedi, Teori Naskh, hlm 92.
[8] Subhi al-Salih, Mabahis fi ‘Ulu m al-Qur’an (Beirut: Dar al-‘ilmi li al-malayyin, 1988), hlm. 261.
[9] Ibnu Syahin, al-Nasikh wa al-Mansukh min al-Hadis, hlm. 32-33.
[10] Manna’ Khalil al-Qattan, Mabahs, hlm. 211-212.
[11] Manna’ Khalil al-Qattan, Mabahs, hlm. 234.
[12] Manna’ Khalil al-Qattan, Mabahs, hlm. 236-237.
[13] Manna’ Khalil al-Qattan, Mabahs, hlm. 234..
[14] Fatchur Rahman, Ikhtisar Musthalahul Hadis (Bandung: al-Ma’arif, t.t.), hlm. 130-131.
[15] Abu Dawud, Sunan Abu Dawud, kitab al-Hudud, bab Iza Tatabi’a fi al-Syurbu al-Khamri, hlm. 365.
[16] ‘Izz al-Din Husein al-Syaikh, Mukhtasar al-NaSikh wa al-Mansukh fi Hadis Rasulillah saw (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1993), hlm. 6.
[17] Dadi Nurhaedi, Teori Naskh, hlm 95.
[18] Manna’ Khalil al-Qattan, Mabahs, hlm. 240.
[19] Dadi Nurhaedi, Teori Naskh, hlm 96.
[20] Dadi Nurhaedi, Teori Naskh, hlm 96.
[21] Yusuf al-Qardawi, Bagaimana Memahami Hadis Nabi saw. Terj. Muhammad al-Baqir (Bandung: Karisma, 1993), hlm. 129.
[22] Yusuf al-Qardawi, As-Sunnah sebagai Sumber IPTEK dan Peradaban; Diskursus Kontekstualisasi dan Aktualisasi Sunnah Nabi SAW. Terj. Setiawan Budi Utomo (Jakarta: Al-Kautsar, 1998), hlm. 68.
[23] Dadi Nurhaedi, Teori Naskh, hlm 96.
[24] Dadi Nurhaedi, Teori Naskh, hlm 97.



0 Response to "Makalah Nasikh dan Mansukh dalam Kajian Hadis"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!