Makalah Memahami Hadis Nabi dengan metode Ijtihad

Advertisement
 
Oleh: Zulfa ‘Afifah

A. Pendahuluan

Hadis Nabi merupakan sumber kedua setelah al-Qur’an dalam ajaran Islam. Dari segi dalalah-nya, al-Qur’an sama dengan hadis, masing-masing ada yang qath’i al-dilalah dan ada yang zhanni al-dilalah. Hanya saja al-Qur’an pada umumnya bersifat global sedangkan hadis bersifat terperinci. Di samping itu al-Qur’an berbeda dengan hadis Nabi dari segi periwayatan, al-Qur’an seluruhnya bersifat qath’i al-wurud. Sedang hadis Nabi, pada umumnya zhanni al-wurud.

Dalam pembahasan hadis terdapat kajian yang dikenal dengan istilah syarah hadis. Secara historis term atau istilah syarah hadis merupakan hasil dari sebuah proses tansformatif dari istilah yang telah ada sebelumnya yaitu fiqh al-hadis (karenanya pula, ulama yang berijtihad dalam memahami hadis Nabi Saw. disebut pula sebagai fuqahâ’ jamak dari fâqih). Kata syarah ini umumnya digunakan pada penjelasan terhadap sesuatu yang dijadikan obyek studi di segala bidang ilmu pengetahuan khususnya studi agama yang menggunakan bahasa Arab. Di samping itu syarah hadis ini bersifat konkrit operasional yaitu berwujud tulisan dalam beberapa kitab yang berisi penjelasan ulama dari hasil pemahaman mereka terhadap suatu hadis.
 
Memahami Hadis Nabi

Pada periode Rasulullah Saw. syarah hadis tidak secara tegas berdiri sendiri di luar matan hadis Saw. mengingat penjelasan Rasulullah Saw. terhadap sunnahnya pun dituliskan sebagai satu rangkaian matan hadis itu sendiri atau dituliskan sebagai matan hadis yang berdiri sendiri. Namun seperti halnya dalam menafsirkan al-Qur’an, hadis juga bisa ditafsiri (disyarahi) agar suatu hadis dapat dipahami sebagaimana mestinya. Para ulama’ salaf telah banyak melakukan pemahaman atau pensyarahan terhadap hadis. Salah satu upaya yang dilakukannya yaitu melalui ijtihad dengan penalaran akal sehat yang lebih lanjut akan dijelaskan pada pembahasan selanjutnya.

B. Pemahaman atas hadis nabi dalam sejarah

Para sahabat generasi pertama menyandarkan fatwa-fatwa mereka pada nash al- Qur’an dan hadis Nabi Saw. Bila mereka tidak menemukan sandarannya dalam al-Qur’an dan hadis nabi Saw. mereka melakukan ijtihad dengan membuat analogi-analogi (Qiyas). Dalam hal ini, digunakan pendekatan ra’yu (rasio) dengan berpegang pada prinsip-prinsip umum yang terdapat dalam al-Quran dan hadis. Spesifikasi mengenai kajian hadis pada saat itu dilakukan dengan menggunakan pendekatan rasional. Justifikasi bagi pendekatan rasional ini, lazimnya adalah hadis masyhur yang diriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal ketika ia diutus Nabi saw. ke Yaman yang berbunyi:
 
حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ عُمَرَ عَنْ شُعْبَةَ عَنْ أَبِي عَوْنٍ عَنْ الْحَارِثِ بْنِ عَمْرِو ابْنِ أَخِي الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ عَنْ أُنَاسٍ مِنْ أَهْلِ حِمْصَ مِنْ أَصْحَابِ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا أَرَادَ أَنْ يَبْعَثَ مُعَاذًا إِلَى الْيَمَنِ قَالَ كَيْفَ تَقْضِي إِذَا عَرَضَ لَكَ قَضَاءٌ قَالَ أَقْضِي بِكِتَابِ اللَّهِ قَالَ فَإِنْ لَمْ تَجِدْ فِي كِتَابِ اللَّهِ قَالَ فَبِسُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَإِنْ لَمْ تَجِدْ فِي سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَا فِي كِتَابِ اللَّهِ قَالَ أَجْتَهِدُ رَأْيِي وَلَا آلُو فَضَرَبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَدْرَهُ وَقَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَفَّقَ رَسُولَ رَسُولِ اللَّهِ لِمَا يُرْضِي رَسُولَ اللَّهِ 

Artinya: “Rasulullah ketika akan mengutus Muadz ke Yaman bersabda: Bagaimanakah kamu akan mengambil keputusan ketika dihadapkan pada permasalahan? Muadz menjawab: Aku akan memutuskan dengan kitabullah (jawab Muadz). Jika tidak kau temukan dalam kitabullah? Dia menjawab: dengan sunnah utusan-Nya jika tidak kau temukan dalam sunah utusan-Nya dan dalam kitab-Nya? Dia menjawab: Aku akan berusaha dengan nalarku dan tidak akan keluar dari jalan yang lurus. Rasul menepuk pundak Muadz seraya bersabda: Segala puji milik Alloh yang memberi petunjuk utusan rasul-Nya terhadap perkara yang membuatnya ridho”.
 


Dari hadis tersebut di atas dapat diperoleh kesimpulan bahwa sumber-sumber hukum Islam adalah al-Quran dan Sunnah, jika di dalam al-Quran dan Sunnah tidak terdapat ketentuan hukum sesuatu, maka diusahakan hukumnya melalui ijtihad. Oleh karena itu, sejauh perkembangannya dalam ruang lingkup pensyarahan terhadap suatu hadis, ijtihad juga dilakukan setelah melalui seperti tahap mensyarahi hadis yang dikompromikan dengan al-Qur’an, hadis dengan hadis kemudian hadis dengan ijtihad yang mana hal itu dimaksudkan agar memperoleh pemahaman hadis secara sempurna dan komprehensif.

Secara historis, pada masa sahabat generasi pertama, muncullah sekelompok orang yang memberikan fatwa-fatwa hanya dengan dasar al-Qur’an dan hadis, tanpa mau melangkah lebih jauh dari itu. Perhatian besar mereka tertuju pada periwayatan hadis-hadis. Mereka adalah kelompok yang bepegang pada arti lahiriyah nash tanpa mencari illat yang terdapat pada masalah-masalah yang mereka hadapi. Pada masa yang relatif masih dekat dengan kehidupan Rasulullah Saw. dan persoalan-persoalan belum begitu kompleks, sikap seperti ini dapat dipahami. Sebab, persoalan-persoalan yang timbul masih dapat ditampung oleh hadis-hadis Nabi Saw. Tetapi, perkembangan selanjutnya, ketika kehidupan semakin kompleks, pencarian pemecahan dengan semata-mata mengandalkan pada hadis, bisa jadi tidak memadai lagi. Agaknya itu pula yang menjadi sebab mengapa hadis-hadis ahad memperoleh kedudukan yang sangat penting dikalangan kelompok ini.

Pendekatan rasional mereka jauhi dengan alasan bahwa al-Qur’an itu mengandung kebenaran yang bersifat mutlak sedangkan kebenaran rasio adalah nisbi. Sesuatu yang nisbi tidak akan mungkin menjelaskan sesuatu yang mutlak. Karena keengganan mereka menggunakan akal inilah, maka ‘Ali Sami al-Nasysyar memberi julukan ahl-hasyw kepada mereka, artinya orang yang berpikir gampang-gampangan lantaran mereka tidak mau menggunakan interpretasi rasional. (‘Ali Sami Al-Nasysyar, 1981; hlm. 249-150).

Di samping mereka terdapat sekelompok orang yang memahami persoalan yang mereka hadapi secara rasional dengan tetap berpegang pada nash al-Qur’an dan hadis. Berdasar prinsip-prinsip yang ada pada keduanya, mereka memberikan fatwa-fatwa mereka dalam berbagai persoalan. Karena itu, tak jarang mereka “mengorbankan” hadis ahad lantaran dipandang bertentangan dengan al-Qur’an. Kelompok pertama disebut sebagai ahl-hadis, sedangkan kelompok yang kedua disebut sebagai ahl al--ra’y (Nurcholis Madjid, 1995: hlm. 243). Mayoritas ulama Hijaz adalah ahl al-hadis, sedangkan mayoritas ulama Irak dan negeri-negeri yang jauh dari Hijaz adalah ahl al-ra’y. Istilah Hijazi dan Iraqi mengacu pada dikotomi ini. Dalam bidang fiqih, mazhab Ahmad Bin Hanbal termasuk dalam kategori yang pertama, sedangkan mazhab yang lainnya, dengan tekanan yang bervariasi, dapat digolongkan pada kelompok kedua. Pendekatan Ahmad bin Hanbal, dalam semua bidang, sangat tekstualis, sementara itu, Faruq Abu Zaid menyebut kelompok pertama sebagai al-muhafizhun (kaum ortodoks), sedang kelompok kedua sebagai al-mujaddidun (kaum pembaharu). 

Selanjutnya berbagai cara dilakukan oleh para ulama’ guna memperoleh pemahaman yang baik dan benar. Oleh karena itu, pada perkembangan kemudian, salah satu jalan yang ditempuh yakni mensyarahi suatu hadis. Di sinilah peran para ulama’ menjadi terealisasikan yaitu mencurahkan segala ilmu yang mereka miliki dan atas kemampuan ijtihadnya sehingga pada akhirnya diperoleh suatu hukum-hukum yang digali dari suatu hadis tersebut.
C. Historisitas pemahaman dengan syarah hadis

Embrio kelahiran syarah dimulai sejak Nabi saw. sampai lahirnya tradisi syarah secara spesifik dan terpisah. Pada masa ini syarah belum dapat berdiri sendiri melainkan menjadi satu kesatuan teks (matn) hadis saw. Namun demikian, dapat dinyatakan bahwa embrio syarah hadis telah muncul pada era ini, walaupun belum memiliki format yang terbakukan. 

Seiring dengan masa kodifikasi hadis (abad ke-2 H) para ulama pada umumnya hanya sekedar mengumpulkan, kemudian menuliskannya dalam sebuah kitab, tanpa adanya kritik atau penelitian secara detail. Di samping itu, hadis Nabi masih bercampur dengan perkataan sahabat dan fatwa-fatwa tabi’in. Sehingga tradisi yang berkembang pada saat itu hanya sebatas dalam upaya menjaga hadis. 

Pada abad ke-3 H, para ulama’ berupaya menyusun kembali kitab hadis dengan spesifikasi yang lebih sistematis dan lebih kritis dari upaya kodifikasi hadis pada kitab-kitab sebelumnya. Pada waktu itu, yang menjadi sumber ilmu ialah al-Qur’an dan hadis, hadis sebagai kegiatan tafaqquh fi al-din, sebagai penjelas al-Qur’an, terkadang juga tradisi sebelum munculnya kitab Syarah, hadis dijadikan sebagai penjelas dalam Kitab Tafsir al-Thabari dll.

Pada abad ke-4 Hijriyah inilah mulai muncul ulama’-ulama’ yang menonjol dalam kegiatan memelihara dan mengembangkan hadis yang telah terhimpun dalam kitab-kitab yang sudah ada. Mereka mempelajarinya, menghafalnya, memeriksa dan menyelidiki sanad-sanadnya, dan memberikan komentar atau penjelasan terhadap kitab-kitab hadis tersebut. Dalam konteks yang terakhir inilah penulisan syarah hadis dilakukan. Banyak ulama’ hadis yang memberikan komentar atau syarah terhadap enam hadis standar (al-kutub al-sittah) yakni, Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abi Dawud, Sunan al-Turmudzi, Sunan al-Nasa’i dan Sunan Ibn Majah. Bahkan ada syarah kitab selain enam di atas seperti al-Muwatta’ karya Imam Malik. Pada periode-periode berikutnya muncul banyak sekali kitab-kitab. Syarah dalam fiqih dan hashiyah (penjabaran atas syarah) sebagai imbas dari perkembangan mazhab. 

Pada perkembangan selanjutnya muncul syarah era klasik dan syarah era kontemporer. Munculnya syarah hadis ini dimaksudkan agar diperoleh pemahaman hadis secara benar dengan yang dimaksudkan Nabi. Salah satu cara yang ditempuh yaitu dengan menggunakan berbagai metode-metode dan pendekatan-pendekatan agar diperoleh pencerahan-pencerahan, yakni misalnya dilakukan dibandingkan dengan al-Qur’an, hadis ataupun ijtihad para pensyarah itu sendiri. Pola-pola pencerahan seperti ini adalah suatu upaya yang harus dilakukan seorang pensyarah hadis dalam memberikan kontribusi secara langsung.

D. Pola pencerahan hadis dengan ijtihad

Sebelumnya uraian ini adalah pola pencerahan ijtihad secara umum. Kemudian karena dalam hal ini lebih ditekankan pada ijtihad sebagai pencerahan terhadap suatu hadis maka penjelasan ijtihad pada pembahasan ini adalah ijtihad para sahabat atau para ulama’ dalam memahami suatu hadis yang mana mereka tidak menemukan titik temu berdasarkan pemahaman literal atau tekstual suatu hadis, maka salah satu jalan yang mereka tempuh adalah berdasarkan pada keterangan-keterangan sahabat-sahabat terdahulu dan juga pendapat dari pensyarah sendiri.

Sebelum membahas lebih jauh mengenai ijtihad dalam syarah hadis terlebih dahulu akan dijelaskan tentang ijtihad itu sendiri.

a. Sejarah Ijtihad

Ijtihad sebenarnya dimulai sejak zaman rasulullah Saw. seperti yang sering tersurat dalam sebuah hadis riwayat Imam Bukhari, Imam Muslim, Ahmad bin Hanbal, An-Nasa’I, Imam Abu Dawud, dan Ibnu Majjah. Seperti contoh kasus pada Umar bin Khattab yang mencium isterinya pada saat berpuasa, dan beliau menganggap puasanya itu telah batal, kemudian beliaupun mempertanyaakan hal tersebut kepada rasulullah Saw. kemudian Rasulullah menjawab pertanyaan beliau dengan mengqiyaskan hal tersebut dengan praktek kumur-kumur pada saat berpuasa,sehingga beliau menarik suatu konklusi bahwa puasanya itu tidak batal dan Rasulullah pun menyuruh beliau meneruskan puasanya (HR. Ad-Damiri dari Umar bin Khattab).

Dari kasus seperti ini berarti pada masa Rasulullah telah diberlakukan ijtihad, adapula yang berpendapat bahwa strategi perang yang muncul dari nabi merupakan suatu hasil ijtihad, namun, setelah Nabi wafat para sahabatlah yang memilki peran untuk berijtihad saat terjadi sebuah problematika yang tidak terdapat dalam nash al-Qur’an maupun as-sunnah, meskipun sering terjadi perbedaan pendapat atas problem solver yang diusung, akan tetapi sebelum Nabi wafat beliau pernah bersabda : bahwa apapun hasil ijtihad seseorang apabila dilakukan secara maksimal itu akan mendapatkan pahala dari Allah SWT (HR. Imam Bukhari, Imam Muslim, Ahmad bin Hanbal, An-Nasa’I, Imam Abu Dawud, dan Ibnu Majjah). 

Kemudian setelah Nabi Muhammad wafat, maka kemudian untuk melakukan cek dan ricek tidak ada lagi. Musfir ‘Azmillah al-Damami menyebutkan tiga pilar utama sahabat menilai suatu matan hadis (dalam hal ini melalui syarah) , yaitu tidak bertentangan dengan al-Qur’an seperti dalam persoalan nikah mut’ah, tidak bertentangan dengan hadis lain seperti dengan cara muqaranah dengan cara memnbandingkan antar riwayat sesama sahabat. Hal tersebut dilakukan oleh Abu Bakr dan ‘Umar ibn al-Khattab. Contoh dari metode ini adalah upaya ‘Umar ibn al-Khattab dalam memberikan klarifikasi tentang seperenam bagian nenek, melalui ijtihad dengan penalaran akal sehat, seperti dalam persoalan masalah wudhu bagi orang yang membawa jenazah.

b. Definisi Ijtihad

Kata ijtihad berasal dari kata (jahada), kata ini beserta derivasinya berarti “pencurahan segala kemampuan untuk memperoleh suatu dari berbagai urusan”. Perkataan ini menunjukkan pekerjaan yang sulit dilakukan atau lebih dari biasa. Secara ringkas, ijtihad berarti sungguh-sungguh atau kerja keras untuk mendapat sesuatu. Berangkat dari definisi yang telah disebutkan mengindikasikan bahwa ijtihad merupakan sebuah proses, proses untuk mencapai suatu tujuan-tujuan yang sesuai dengan ketentuan Islam dengan cara menggali hukum syariat dari dalil-dalil al-Quran ataupun hadis.

Ijtihad merupakan salah satu cara berfikir secara mendalam dengan segenap kemampuan yang dimiliki untuk menginterpretasikan ayat-ayat al-Qur’an yang bersifat Dzanni, dengan menggunakan beberapa metode yang telah ditetapkan sebagai suatu problem solving atas suatu kasus yang belum terdapat dalam nash al-Qur’an ataupun as-sunnah, kemudian dilegitimasi lewat ijma’ para ulama, bila dianalogikan mungkin ijtihad ini bisa disebut pula filsafat, dengan sebuah indikator yang bersifat prinsipil dari segi paradigma berfikir sehingga terbentuklah suatu konklusi dalam sebuah kasus. 

Oleh karena itu, ijtihad dalam syarah hadis yaitu suatu cara berfikir sungguh-sungguh para ulama dengan segenap kemampuannya untuk menginterpretasikan atau mensyarahi suatu hadis agar diperoleh suatu pemahaman baru yang mungkin biasanya memunculkan suatu hukum-hukum baru.

c. Ruang lingkup ijtihad

Ruang lingkup ijtihad yang sangat luas, karena harus mencakup berbagai aspek: kata, frasa, kalmat, asbab al-wurud, munasabah, dan lain sebagainya yang dapat digunakan dalam bentuk yang ma’thur. 

Berdasarkan tsubut dan dilalah-nya hukum ditetapkan menjadi hukum qath’i dan hukum dzhanni. Para ulama’ sepakat ijtihad hanya boleh dilakukan pada jenis hukum yang bersifat dzhanni terlebih dalam memahami hadis. 

d. Tujuan Ijtihad dalam syarah hadis

Agar diperoleh suatu pemahaman baru yang mungkin biasanya memunculkan suatu hukum-hukum baru, mengaplikasikan maksud dari suatu hadis dan untuk memenuhi keperluan umat manusia akan pegangan hidup dalam beribadah kepada Allah SWT di suatu tempat tertentu atau pada suatu waktu tertentu.

E. Langkah-langkah menggunakan ijtihad dalam pemahaman hadis

1. Uji validitas hadis yang akan disyarahi

- Aplikasi kritik sanad hadis
- Aplikasi kritik matan hadis; 

Yakni, tidak bertentangan dengan petunjuk al-Qur’an, tidak bertentangan dengan hadis yang lebih kuat, tidak bertentangan dengan akal sehat, indra dan fakta sejarah dan susunan pernyataannya menunjukkan ciri-ciri kenabian.

2. Jika hadis tersebut shahih namun pada konteks saat hadis disyarahi belum bisa diaplikasikan maka langkah selanjutnya ialah menggunakan ijtihad.
F. Kitab-kitab metode Ijtihad dalam Memahami Hadis

Sepanjang pengamatan penulis, tidak ditemukan kitab yang secara khusus yang membahas mensyarahi hadis dengan ijtihad. Namun di berbagai kitab syarah hadis, dalam penjelasannya ditemukan suatu hadis yang di syarahi dengan ijtihad para ulama hadis.

G. Contoh memahami hadis dengan ijtihad

Di kutip dari kitab Fath al-Bari bi Syarh shahih al-Bukhari sebagai berikut :

Hadis dalam shahih Bukhari no. 1
 
حَدَّثَنَا الْحُمَيْدِيُّ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الزُّبَيْرِ قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ الْأَنْصَارِيُّ قَالَ أَخْبَرَنِي مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ التَّيْمِيُّ أَنَّهُ سَمِعَ عَلْقَمَةَ بْنَ وَقَّاصٍ اللَّيْثِيَّ يَقُولُ سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَلَى الْمِنْبَرِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Syarah hadis:
 
)قوله : حدثنا الحميدي ) هو أبو بكر عبد الله بن الزبير بن عيسى , منسوب إلى حميد بن أسامة بطن من بني أسد بن عبد العزي بن قصي رهط خديجة زوج النبي صلى الله عليه وسلم , يجتمع معها في أسد ويجتمع مع النبي صلى الله عليه وسلم في قصي . وهو إمام كبير مصنف , رافق الشافعي في الطلب عن ابن عيينة وطبقته وأخذ عنه الفقه ورحل معه إلى مصر , ورجع بعد وفاته إلى مكة إلى أن مات بها سنة تسع عشرة ومائتين


Artinya:“Telah menceritakan kepadaku Al-Humaidy, Abdullah bin Zubair, berkata; Telah menceritakan kepadaku Sufyan berkata; Telah menceritakan kepadaku Yahya bin Sa’id al-Anshory berkata; Telah menyampaikan kepadaku bahwa Muhammad bin Ibrahim at-Taymiy mendengar ‘Alqamah bin Waqash al-Laytsiy berkata; Saya mendengar Umar bin Khatab RA di atas mimbar berkata; Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda; Sesungguhnya seluruh perbuatan itu tergantung dengan niat. Dan sesungguhnya setiap orang itu memiliki niat masing-masing, barang siapa yang hijarahnya karena urusan dunia atau perempuan yang ingin dinikahi maka hijrahnya itu atas niat apa dia hijrah“

“ Perkataannya (Telah menceritakan kepadaku Al-Humaidy) Beliau adalah Abu Bakar 

Abdullah bin Zubair bin ‘Isa. Dinasabkan pada Humaid bin Usamah keturunan Bani Asad Abd al- ‘Ara bin Qusay, nenek moyang Khodijah istri Nabi SAW. Nasabnya bertemu dengan Khodijah pada Asad dan bertemu dengan Nabi SAW pada Qusay. Beliau adalah Imam Besar dan Pengarang Kitab, teman dekat Syafi’I ketika mencari hadis dari Ibnu ‘Uyainah dan setingkatnya beliau belajar fiqh dari Syafi’i, pergi ke mesir bersama Syafi’i, setelah Syafi’I meninggal beliau kembali ke Makkah hingga beliau meninggal dunia di sana pada tahun 219”

Pada potongan teks Fath al-Bari bi Syarh shahih al-Bukhari diketahui bahwa pensyarah menjelaskan tentang hal ihwal yang berkaitan dengan rawi-rawi hadis
 
.... قال ابن دقيق العيد : نقلوا أن رجلا هاجر من مكة إلى المدينة لا يريد بذلك فضيلة الهجرة وإنما هاجر ليتزوج امرأة تسمى أم قيس , فلهذا خص في الحديث ذكر المرأة دون سائر ما ينوي به , انتهى ... 

Artinya :.... Ibnu Daqiq al-‘Id berkata : Banyak yang meriwayatkan, bahwa seorang laki-laki hijrah dari Makkah ke Madinah tidak karena menginginkan keutamaan hijrah, akan tetapi karena perempuan yang ingin dinikahinya, namanya Umu Qais. Oleh karena ini, dalam matan hadis disebut kata perempuan bukan niat-niat yang lainnya….

Dari potongan teks Fath al-Bari bi Syarh shahih al-Bukhari di atas diketahui bahwa pensyarah menyebutkn sababu al-wurud hadis.
 
: …التبويب يتعلق بالآية والحديث معا , لأن الله تعالى أوحى إلى الأنبياء ثم إلى محمد صلى الله عليه وسلم أن الأعمال بالنيات لقوله تعالى { وما أمروا إلا ليعبدوا الله مخلصين له الدين } . وقال أبو العالية في قوله تعالى { شرع لكم من الدين ما وصى به نوحا } قال وصاهم بالإخلاص في عبادته
 
Artinya:….Tema ini berhubungan dengan ayat dan hadis secara bersamaaan, karena sesungguhnya Allah memberikan wahyu kepada para nabi kemudian kepada Muhammad SAW bahwa sesungguhnya seluruh amal itu dengan niat (dan tidak diperintahkan kepada suatu kaum kecuali hanya untuk beribadah kepada Allah yang memiliki agama). Abu al-‘Aliyah berkata; pada firman Allah (disyariatkan padamu sesuatu yang diwasiatkan pada Nuh dari agama) yakni wasiat ikhlas dalam menyembah-Nya .

Potongan teks di atas menunjukan bahwa pensyarah menyajikan al-Qur’an yang berhubungan dengan hadis.
 
,…. ومن ثم ورد : نية المؤمن خير من عمله , فإذا نظرت إليها كانت خير الأمرين . وكلام الإمام أحمد يدل على أنه بكونه ثلث العلم أنه أراد أحد القواعد الثلاثة التي ترد إليها جميع الأحكام عنده , وهي هذا و " من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد " و " الحلال بين والحرام بين " الحديث . ثم إن هذا الحديث متفق على صحته أخرجه الأئمة المشهورون إلا الموطأ

Artinya:...Dari pembahasan ini ada riwayat : niatnya orang mukmin lebih baik daripada perbuatannya, ketika anda cermati maka niat merupakan hal yang paling baik diantara dua perkara. Perkataan Imam Ahmad menunjukan bahwa sesugguhnya mengetahui tentang niat merupakan spertiga ilmu. Sesungguhnya beliau menghendaki tiga kaidah yang berlaku pada semua hukum menurutnya, yaitu; hadis ini, “barang siapa melakukan suatu perbuatan yang tidak merupakan perintah saya maka dia ditolak ”, dan “perkara halal itu jelas, perkara haram itu juga jelas”, Mayoritas Imam hadis yang masyhur kecuali Imam Malik mengklaim hadis ini shahih…

Selain mengaitkan dengan ayat al-Qur’an pensyarah juga mengaitkan dengan hadis lain yang berhubungan dengan hadis tersebut. 

. قوله : ( إنما الأعمال بالنيات ) كذا أورد هنا , وهو من مقابلة الجمع بالجمع , أي كل عمل بنيته . وقال ا الخوبي كأنه أشار بذلك إلى أن النية تتنوع كما تتنوع الأعمال كمن قصد بعمله وجه الله أو تحصيل موعوده أو الاتقاء لوعيده . ووقع في معظم الروايات بإفراد النية , ووجهه أن محل النية القلب وهو متحد فناسب إفرادها . بخلاف الأعمال فإنها متعلقة بالظواهر وهي متعددة فناسب جمعها , ولأن النية ترجع إلى الإخلاص وهو واحد للواحد الذي لا شريك له 

Artinya: Sabda Nabi (Sesungguhnya seluruh perbuatan itu tergantung pada niat) seperti ini yang yang saya kehendaki; pernyataan itu merupakan perbandingan jamak dengan jamak, yakni setiap amal dengan niatnya. Al-Khoubi berkata; -seolah-olah dia menghendaki yang sama-“sesungguhnya niat itu bermacam-macam sebagaimana macam-macamnya ama, sepert halnya sesorang yang niat dalam melakukan suatu perbuatan karena Allah semata atau karena ingin mendapatkan janji Allah atau kerena takut dengan ancaman Allah. Ada beberapa riwayat yang menerangkan tentang tersendirinya niati. Satu fersi menyatakan; bahwa tempatnya niat adalah hati. Dan hati cuman ada satu Ini berarti niat hanya satul. Berbeda dengan amal, karena sesungguhnya amal tergantung pada dhohir dan macamnya banyak sekali. Karena sesungguhnya nait kembali pada Ikhlas yaitu satu untuk dzat yang satu, tidak ada serupa bagi-Nya...

Dari uraian di atas diketahui bahwa pensyarah menjelaskan hadis dengan menyajikan penjelasan tentang kosa kata, termasuk juga tata bahasa arab. Selain itu pensyarah menggunakan riwayat dari para ulama’ untuk menjelaskan hadis sehingga dapat disimpulkan syarah tersebut dipahami berdasarkan ijtihad pensyarah sendiri dan para ulama’-ulama’ yang terlebih dahulu mensyarahinya.

H. Kelebihan dan Kekurangan metode Ijtihad

Dari uraian di atas dapat diperoleh suatu keterangan mengenai kelebihan menggunakan ijtihad dalam syarah hadis, diantaranya:

o Hadis diterangkan meliputi sabab al-wurud, pemahaman-pemahaan yang pernah disampaikan oleh para sahabat, tab’in, tabi’ al-tabi’in dan para ahli syarah hadis lainnya dari berbagai disiplin ilmu seperti teologi, fiqih, bahasa, dan sastra sehingga diperoleh pemahaman yang komprehensif.
o Memberikan kesempatan yang longgar kepada pensyarah untuk menuangkan ide dan gagasannya sehingga tidak terlalu bersifat tekstual (memiliki ruang untuk menciptakan suatu pendapat baru).
o Dalam menganalisis suatu hadis akan dilakukan dengan usaha yang sungguh-sungguh dari pensyarah dengan pertimbangan-pertimbangan ilmu yang telah dimilikinya sehingga ilmu-ilmu yang dimilikinya dapat bermanfaat.

Kekurangan:

o Terkadang melahirkan syarah yang subyektif, seperti kecenderungan dan keterpihakan terhadap salah satu madzhab tertentu.
o Terdapat kemungkinan menimbulkan pendapat kontradiktif yang sulit untuk dipertemukan dengan pendapat-pendapat yang lain.
o Kemungkinan hanya relevan di masanya.

I. Kesimpulan 

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan; Ijthad dalam syarah hadis yaitu suatu cara berfikir sungguh-sungguh para ulama dengan segenap kemampuannya untuk menginterpretasikan atau mensyarahi suatu hadis agar diperoleh suatu pemahaman baru yang mungkin biasanya memunculkan suatu hukum-hukum.

Daftar Pustaka

Amir Syarifuddin, Ushul Fiqh , (Jakarta: Logos Wacana Ilmu).

Arifuddi Ahmad, Paradigma Baru Memahami Hadis Nabi, (Jakarta: Renaisan, 2005).

CD-ROM Al-Mausû’ah al-Hadîś al-Syarîf.

Muhammad Thahir al-Jawwabi, Juhûdul Muhadditsîn fi Naqdi Matnil Hadîtsin Nabawi asy-syarîf (Nasyrwa tauzi’ Muassasatul Karim bin ‘Abdillah, t.th).

Salahuddin al-Adhlabi, Manhaj Naqd al-Matn (Beirut: Dar al-Afaq al-Jadidah, 1403 H/ 1983).

Suryadi, dkk. Metodologi Penelitian Hadis. Yogyakarta: Pokja Akademik UIN Sunan Kalijaga. 2006.

Qardhawi, Yusuf. Ijtihad Kontemporer. Surabaya: Risalah gusti. 



0 Response to "Makalah Memahami Hadis Nabi dengan metode Ijtihad"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!