Mengamalkan Hadis tertolak (dhoif) dan Hadis diterima Nuruddin ‘Itr

Advertisement
oleh: Muhammad Julkarnain

Pendahuluan

Sebagai upaya aktualisasi nilai-nilai Islam dengan merujuk pada al-sunnah al-Nabawiyyah sebagai the second source of law (sumber hukum ke-dua) oleh umat maka hadits dituntut untuk senantiasa memberikan jawaban atas segala problematika kehidupan. Keadaan demikian menuntut pemikir-pemikir (termasuk Muhadditsin) untuk bekerja ekstra agar hadits baik validitasnya secara sanad maupun matan benar-benar terukur. 

Nuruddin ‘Itr merupakan salah satu dari pemikir Muslim yang mencoba menyusun secara sistematis ilmu-ilmu hadits yang terangkum dalam kitabnya منهج المقد في علوم الحديث sebagai tawaran terhadap wacana keilmuan Islam khususnya dalam bidang hadits.
Mengamalkan Hadis tertolak (dhoif) dan Hadis diterima Nuruddin ‘Itr 2

Melalui makalah ini, penulis mencoba membaca, memahami pemikiran beliau tentng hadits dengan harapan bisa memberikan kontribusi positif bagi para pengkaji hadits.

1. Hadits yang diterima Nuruddin ‘Itr

Beliau membagi hadits yang diterima menjadi 5, yaitu hadits Shahih, hadits hasan, hadits shahih Li ghairih dan hadits hasan li ghairih. Tidak jauh berbeda dengan ulama lainnya beliau mendefinisikan hadits shahih adalah hadits yang tidak memunculkan pertentangan antara ahli hadits yang terhindar dari cacat. 

Secara definitif beliau menyatakan tentang hadits Shahih adalah sebagai berikut: “Hadits Shahih adalah hadits yang sanadnya bersambung dengan rawi yang ‘adil dan dhabit hingga akhir sanad serta tidak adanya syadz dan terkena ‘Illat.”

Pertama,Hadits shahih mengharuskan adanya al-Talaqqiy antara periwayat hadits . jika tidak tersambungnya sanad maka hadits tidak dapat dikatakan shahih karena tidak adanya perantara. Yang kedua, yang seharusnya ada pada hadits yang shahih adalah al-‘Adalah al-Ruwah (keadilan periwayat) hal ini menjadi bagian penting suatu riwayat dapat diterima. Rawi dalam meriwayatkan hadits shahih tentu orang yang bertaqwa kepada Allah dan menghindarkan dirinya dari muru’ah. Yang ketiga, Dhabit adalah orang yang menjaga hadits melalui hafalan (Dhabt al-Shadr) dan menjaga hadits melalui tulisan (Dhabt al-Kitabah). Selain itu periwayat ang meriwayatkan hadits shahih tidak memudakan (Tasahhul) pada saat tahammul wa al-Ada. Yang keempat, tidak mengandung syadz, yaitru penyimpanagn yang dilakukan oleh perawi tsiqat terhadap orang yang lebih kuat darinya. Yang kelima, tidak ada ‘illat yang mencacatkannya seperti memursalkan yang maushul,memuttashilkan yang munqathi’ ataupun yang memarfu’kan yang mauquf.[1]

Contoh hadits shahih yang memenuhi syarat menurut Nuruddin ‘Itr:
 
حدثنا قتيبة بن سعيد حدثنا جرير عن عمارة بن القعقاع بن شبرمة عن أبي زرعة عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: جاء رجل إلى رسول الله صلى الله عليه و سلم فقال يا رسول الله من أحق الناس بحسن صحابتي ؟ قال ( أمك ) . قال ثم من ؟ قال ( ثم أمك ) . قال ثم من ؟ قال ( ثم أمك ) . قال ثم من ؟ قال ( ثم أبوك )[2] 

Hadits ini jika diteliti melalui jalur sanadnya adalah shahih dengan rawi yang adil, dan dhabit, hal ini ditandai dengan dua Imam yang tersohor yaitu Bukhari dan Muslim, kedua guru beliau ini adalah ibn Qutaybah bin sa’id yang dikategorikan tsiqah dan Jarir ibn Abd al-Hamid yang dikategorikan tsiqah Shahih al-Kitab, dan ‘amarah bin al-Qa’qa yang juga tsiqah,begitu pula Abu Zar’ah.[3] Jadi, Rijal al-Sanad pada hadits ini semuanya adalah tsiqah. Jadi menurut Nuruddin hadits ini adalah Shahih li dzatihi ditandai dengan rawi-rawi yang dikenal menurut muhadditsin begitu pula matan yang juga disepakati.[4]
Beliau berpendapat dengan menyandarkan kepada Ulama’, Fuqaha, Ushuliyyun bahwa hadits Shahih wajib untuk diamalkan. Lebih lanjut tulis beliau mengenai hadits ahad tentang wajib atau tidaknya untuk diamalkan. Sebenarnya mengenai masalah kewajiban pengamalan terhadap hadits ahad ulama berbeda pendapat lebih-lebih jika dihadapkan pada masalah akidah, hukum mengenai halal dan haram. Dengan merujuk kepada kebanyakan ‘ulama Nuruddin ‘Itr berpendapat bahwa tidak mutlaq kewajiban kecuali dengan dalil yang pasti yakni al-Qur’an dan hadits mutawattir.[5]

2. Hadits yang Tertolak Nuruddin ‘Itr

Salah satu hadits yang tertolak menurut Nuruddin ‘Itr adalah hadits dha’if. Tidak berbeda dengan ulama pada umumnya beliau mendefinisikan hadits dha’if adalah sebagai berikut: “Hadits dha’if adalah hadits yang tidak memenuhi syarat hadits yang diterima (maqbul).”[6] 

Dengan apa yang telah beliau tulis dalam kitabnya beliau juga mneyertakan mengenai hukum pengamalan mengenai hadits dha’if dengan merujuk kepada beberapa pendapat ulama.

Mengenai pengamalan hadits dha’if, ulama tentang ini berbeda pendapat, antara lain yaitu:

1. Pengamalan secara mutlak hadits dha’if baik mengenai masalah halal dan haram dengan syarat tidak ada yang lainnya. Sebagian ulama yang berpendapat demikian adalah Imam Ahmad dan Abu Dawud, keduanya berpendapat bahwa hadits dha’if lebih kuat daripada ra’yu seseorang.[7]

2. Hadits dha’if bisa di amalkan dalam rangka fadha’il, pendapat ini menurut jumhur ulama dari kalangan muhadditsin, Fuqaha. Disepakati pula oleh Imam al-Nawawi dan Syaikh ali-al-Qari dan ibn Hajar al-Haytami.

3. Hadits dha’if tidak dapat diamalkan secara mutlak karena meskipun dalam rangka fadha’il A’mal. Hal ini berdasarkan pendapat al-Qadhi abu Bakar, ibn ‘Arabi.

C. Sifat Periwayatan dan Syarat Penyampaian Hadits

Penyampaian hadits (ada’ al-hadits) adalah menyampaikan dan mengajarkan hadits kepada pencari hadits dengan salah satu cara penyampaiannya. Menurut beliau orang yang telah menerima hadits dengan cara apapun berhak menyampaikannya dengan cara apapun juga, dan tidak disyari’atkan ia menyampaikannya dengan cara yang sama ketika ia menerimanya.[8] 

Sehubungan dengan masalah ini para ulama mengemukakan beberapa cabang pembahasan yang semuanya kembali kepada suatu prinsip yang mendasar dalam periwayatan, yaitu unsur penyampaian hadits.[9] 

Penyampaian hadits ada akalanya berdasarkan hafalan periwayatnya dan ada kalanya berdasarkan dengan tulisannya. Tentang hal ini para muhadditsin sangat berhati-hati dengan kedua bentuk itu. Mereka tidak memperbolehkan seorang rawi meriwayatkan kecuali jika telah terbukti kebenarannya. Maka bila yang terjadi adalah hal-hal sebaliknya atau meragukan suatu hadits, maka ia tidak boleh meriwayatkan kecuali hadits yang telah diteliti. Dan jika ia ragu berarti meriwayatkan sesuatu yang tidak dapat dipastikan keasliannya dari Nabi saw dan dikhawatirkan telah terjadi perubahan padanya, sehingga ia termasuk orang yang terkena ancaman Nabi saw yaitu orang-orang yang berdusta dalam meriwayatkan hadits. Lalu hadits yang diriwayatkan itu termasuk prasangka, dan prasangka itu adalah perkataan yang paling dusta. Dengan merujuk kepada pendapat Ibn al-Shalah, beliau mengatakn bahwa sedikitnya periwayatan hadits sedang kan kelompok lain memperlonggarnya sehingga berlebih-lebihan dalam meriwayatkan hadits.[10] 

Beliau-Nuruddin ‘Itr- dalam hal ini berpegang terhadap pendirian jumhur yakni mengambil jalan tengah antara yang terlampau sedikit dan berlebihan dalam periwayatan. 

Dari pernyataannya tentang periwayatan hadits ini-menurut penulis- dapat dipastikan bahwa beliau adalah salah ahli hadits yang bersikap moderat dalam mengkaji hadits. 

D. Sanggahan Nuruddin ‘Itr terhadap keraguan Otentisitas Hadits Nabi

Keberadaan hadits dalam proses kodifikasinya sangat berbeda dengan al-Quran yang sejak awal mendapat perhatian secara khusus baik dari Rasulullah saw maupun para sahabat berkaitan dengan penulisannya. Bahkan al-Qur'an telah secara resmi dikodifikasikan sejak masa khalifah Abu Bakar al-Shiddiq yang dilanjutkan dengan Utsman bin Affan yang merupakan waktu yang relatif dekat dengan masa Rasulullah. Sementara itu, perhatian terhadap hadits tidaklah demikian. Upaya kodifikasi hadits secara resmi baru dilakukan pada masa pemerintahan Umar bin Abd. al-Aziz khalifah Bani Umayyah yang memerintah tahun 99-101 Hijriyah, waktu yang relatif jauh dari masa Rasulullah saw. Kenyataan ini telah memicu berbagai spekulasi berkaitan dengan otentisitas hadits. Beberapa penulis dari kalangan orientalis menjadikan hal ini sebagai sasaran tembak untuk membangun teorinya yang mengarah pada peraguan terhadap otentisitas hadits. Goldziher misalnya, dalam karyanya Muhammedanische Studien telah memastikan diri untuk mengingkari adanya pemeliharaan hadits pada masa sahabat sampai awal abad kedua hijriyah. Sebuah pertanyaan yang diajukan, benarkah bahwa otentisitas hadits patut diragukan mengingat kodifikasi hadits baru dilakukan pada akhir abad pertama hijriyah. 

Tentang Penulisan hadits yang merupakan ucapan, perbuatan, dan persetujuan serta gambaran sifat-sifat Rasulullah saw baik sifat khalqiyah atau khuluqiyah adalah suatu yang melekat pada diri Nabi. Keberadaannya selalu menyertai di setiap event yang dialami oleh Rasulullah saw. Setiap event dari episode kehidupan Rasul saw adalah hadits. Dari sinilah kebanyakan para peneliti Muslim berkesimpulan bahwa menuliskan hadits secara lengkap tentu sulit, karena sama artinya dengan menuliskan setiap peristiwa dan keadaan yang menyertai Rasulullah. Para sahabat yang hidup menyertai Rasulullah bisa jadi merasa tidak perlu mencatat setiap peristiwa yang mereka alami bersama Rasulullah saw. Apa yang mereka alami akan terekam secara otomatis dalam ingatan mereka tanpa harus dicatat, karena mereka terlibat dalam berbagai peristiwa tersebut. Selain itu tradisi menghafal ketika itu merupakan tradisi yang sangat melekat kuat sehingga banyak kejadian-kejadian lebih banyak terekam dalam bentuk hafalan. Demikian pula Rasulullah saw secara khusus juga memberikan anjuran untuk menghafalkan hadits serta menyampaikannya pada orang lain sebagaimana sabdanya “semoga Allah memperindah wajah orang yang mendengar perkataan dariku lalu menghafalkannya serta menyampaikannya (pada orang lain)”, Mungkin saja orang yang membawa informasi itu menyampaikan kepada orang yang lebih faqih darinya, bisa jadi pula orang yang membawa informasi itu bukan orang yang faqih.[11]

Di luar adanya rekaman hadits dalam bentuk hafalan yang dilakukan oleh para sahabat Rasulullah saw, tidak menutup kemungkinan ada beberapa peristiwa yang berhubungan dengan Rasulullah, yang dirasa perlu dicatat, terekam pula dalam bentuk catatan sahabat. Tentang adanya pencatatan ini Imam Bukhari telah meriwayatkan dari Abu Hurairah sebagai berikut: “Dari Abu Hurairah ra beliau berkata; tidak ada seorang dari sahabat Nabi yang lebih banyak meriwayatkan hadits dariku selain Abdullah bin Amr bin Ash, karena sesungguhnya dia mencatat hadits sedangkan aku tidak”.[12] Tentang penulisan hadits oleh Abdullah bin Amr ini, diriwayatkan bahwa beliau menulis hadits dengan sepengetahuan Rasulullah saw, bahkan Rasulullah saw memerintahkannya sebagimana riwayat dari Ibnu Amr berikut: “Dari Abdullah bin Amr beliau berkata: ?Saya menulis setiap yang saya dengar dari Rasulullah saw untuk saya hafalkan, maka orang-orang Quraiys mencegahku dengan berkata; ?apakah kamu menulis segala sesuatu yang kamu dengar dari Rasulullah saw ? Sedangkan Rasulullah saw adalah manusia yang kadang-kadang berbicara dalam keadaan marah dan kadang-kadang dalam keadaan ramah?, maka akupun menghentikan penulisan itu, dan mengadukannya pada Rasululah saw, maka sambil menunjuk mulutnya beliau bersabda, ?Tulislah! Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, tidak keluar darinya (maksudnya lisan Rasulullah) kecuali yang hak”[13] 

Catatan hadits dari Abdullah bin Amr inilah yang beliau namai dengan al-Shahifah al-Shadiqah. Beliau sangat menghargai tulisan ini sebagaimana pernyataannya: “Tidak ada yang lebih menyenangkanku dalam kehidupan ini kecuali al-shadiqah dan al-wahth, adapun al-Shadiqah adalah shahifah yang aku tulis dari Rasulullah saw.”[14] 

Selain al-Shahifah al-Shadiqah, ditemukan beberapa riwayat tentang adanya shahifah-shahifah yang ditulis oleh sahabat ketika Rasulullah masih hidup antara lain Shahifah Ali bin Abi Thalib, sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Bukhari pada Kitabul Ilm bab Kitabat al-Ilm, demikian juga shahifah Sa’ad bin Ubaddah. Sekitar Larangan Penulisan hadits Sebagaimana telah disebutkan, adanya kegiatan penulisan hadits telah berlangsung semenjak Rasulullah saw masih hidup. Bahkan ada riwayat yang menunjukkan bahwa Abdullah bin Amr menulis hadits atas restu dari Rasulullah sendiri. 

Selain itu ada juga riwayat yang menunjukkan bahwa Rasulullah memerintahkan menulis hadits untuk Abu Sah sebagimana sabdanya: Bersabda Rasulullah saw: “tulislah (khutbahku) untuk Abu Syah.”[15] 

Di luar hal ini ada riwayat yang menunjukkan pula bahwa Rasulullah saw melarang penulisan hadits sebagaimana hadits dari Abu Sa’id al Khudri dari Abu Sa’id Al-Khudri, sesungguhnya Rasulullah saw bersabda “Janganlah kalian semua menulis dariku, barang siapa menulis dariku selain al-Quran maka hendaklah menghapusnya”[16] 

Adanya larangan penulisan hadits ini secara lahir kontradiksi dengan fakta penulisan hadits dan perintah penulisan hadits. Dalam menyikapi kontradiksi tersebut para ulama berbeda pendapat. Dalam hal ini setidaknya terdapat tiga pendapat antara lain; (a) Hadits pelarangan telah di-nasakh dengan hadits perintah, hal ini didasarkan atas fakta bahwa hadits perintah khususnya hadits Abu Syah disampaikan setelah Fath al-Makkah, (b) larangan bersifat umum, sedangkan perintah bersifat khusus, yaitu berlaku bagi para sahabat yang kompeten menulis, hal ini karena kebanyakan sahabat adalah ummiy atau kurang mampu menulis sehingga dikhawatirkan terjadi kesalahan penulisan, (c) pendapat ketiga menyatakan bahwa larangan bersifat khusus yaitu menulis hadits bersama dengan al-Quran, karena hal ini dapat menimbulkan kerancuan. 

Menurut Nurudin ‘Itr, pendapat yang menyatakan bahwa hadits tentang pelarangan telah di-mansukh dengan hadits perintah tidak dapat menyelesaikan persoalan. Karena seandainya larangan penulisan hadits telah di-nasakh dengan hadits perintah niscaya tidak ada lagi sahabat yang enggan menulis hadits sesudah wafat Rasulullah saw. 

Bagi para pencari hadits, hal ini akan menjadi argumen mereka menghadapi para sahabat yang enggan menulis hadits, sebab para pencari hadits ini sangat besar keinginannya untuk membukukan hadits. Karena itu, jalan penyelesaiannya adalah bahwa penulisan hadits pada dasarnya tidak dilarang. Adanya larangan penulisan hadits tidak lain karena adanya illat khusus. Ketika ‘illat itu tidak ada, maka otomatis pelarangan tidak berlaku. Illat yang dimaksud adalah adanya kekhawatiran berpalingnya umat dari al-Quran karena merasa cukup dengan apa yang mereka tulis. 

Untuk memperkuat argumen ini Nurudin ‘Itr mengutip pernyataan Umar bin Al-Khaththab sebagai mana diriwayatkan oleh Urwah bin Zubair: Kata Umar: “Sesungguhnya saya pernah berkeinginan untuk menuliskan sunnah-sunnah Rasulullah saw, tetapi aku ingat bahwa kaum sebelum kamu menulis beberapa kitab lalu mereka menyibukkan diri dengan kitab-kitab itu dan meninggalkan kitab Allah. Demi Allah saya tidak akan mencampuradukkan kitab Allah dengan sesuatu apapun buat selama-lamanya."

Proses kodifikasi hadits adalah proses pembukuan hadits secara resmi yang dikoordinasi oleh pemerintah dalam hal ini adalah Khalifah, bukan semata-mata kegiatan penulisan hadits, karena kegiatan penulisan hadits secara berkesinambungan telah dimulai sejak Rasulullah saw masih. Berangkat dari realitas ini adanya tuduhan bahwa hadits sebagai sumber yurisprudensi diragukan otentisitasnya atau tidak otentik merupakan tuduhan yang tidak beralasan karena tidak sesuai dengan fakta yang sebenarnya. Tentang adanya larangan penulisan Hadits hal ini patut dimaknai larangan secara khusus yaitu menuliskan hadits bersama al-Quran dalam satu tempat sehingga dikhawatirkan menimbulkan kerancuan, atau menyibukkan diri dalam penulisan hadits sehingga mengesampingkan al-Quran.[17] 

E. Faktor Eksternal dalam Periwayatan Hadits menurut Nuruddin ‘Itr[18]

Selain aspek internal aspek eksternal[19] menurut Nuruddin ‘Itr menjadi bagian yang sangat penting dalam ha-ihwal periwayatan Hadits hal ini ditandai dengan kriteria yang sangat ketat perihal periwayat hadits. 

الرواية عند المحدثين حمل الحديث و نقله و اسناده الي من عزي اليه بصيغة من صيغ الأداء

Periwayatan (hadits) menurut para muhadditsin adalah membawa dan menyampaikan hadits dengan menyandarkan kepada orang yang menjadi sandarannya, dengan menggunakan salah satu bentuk kalimat periwayatan.[20]

Periwayatan hadits, seperti tahammul wa al-ada (menurut Nuruddin ‘Itr) merupakan bagian yang sangat penting dalam cabang ilmu hadits karena ilmu mengenai periwayatan merupakan petunjuk yang membantu kepada kajian yang lebih sistematis dan terperinci sebagaimana yang telah dilakukan oleh para ulama ketika menerima dan menyampaikan hadits.

Bagian penting lainnya adalah tentang pengkaji meliputi kecakapan, keikhlasan, ketepatan, kesungguhan dalam menyebarkan hadits denagn penuh rasa tanggung jawab, merupakan aspek penting yang harus ada pada pengkaji hadits. Beliau (Nuruddin itr) tentang rawi dan periwayatan dalam hadits, sebagai berikut. 

1. Etika mengkaji Hadits

Hal-hal yang berbeda dari apa yang di tulis oleh Nuruddin ‘Itr adalah faktor eksternal pengkaji hadits. Jika selama ini kajian terhadap hadits lebih terfokus kepada metode dalam memahami hadits maka dalam mengkaji hadits menurut beliau adalah perlunya etika untuk memahami hadits.

Baca Juga Artikel Lainya:
  1. Memahami Hadis Nabi dengan metode Ijtihad
  2. Memahami Hadis Nabi dengan Pendekatan Bahasa

Bagi pengakaji hadits, keikhlasan adalah sifat pertama yang yang seharusnya dimiliki. Oleh karena itu seorang pengkaji hadits seharusnya menempatkan seluruh usahanya dalam mengkaji hadits adalah semata-mata untuk mendapat ridha Allah swt.[21]

Para pencari ilmu lebih-lebih para pencari hadits, hendaklah berhati-hati dalam mengkaji dan mencari hadits. Beliau sangat menekankan bagi pengkaji hadits untuk tidak menjadikan pekerjaan ini sebagai batu loncatan untuk hal-hal duniawi.[22]

Ibn al-Shalah berkata, “salah satu cara yang paling mudah ditempuh untuk memperbaiki niat dalam mencari hadits adalah seperti cara yang ditunjukkan oleh riwayat Abu ‘Amr Ismail bin Nujayd bahwa ia pernah bertanya kepada Abu Ja’far Ahmad bin Hamdan – kedua orang terakhir ini adalah hamba yang shaleh. “Dengan niat yang bagaimana aku menulis hadits?” Abu Ja’far berkata, “bukankah telah kamu riwayatkan bahwa menyebut orang-orang shaleh dapat menurunkan rahmat?” Abu Amr berkata, “ betul!” lalu Abu Ja’far berkata, “Rasulullah saw. adalah pemuka orang-orang shaleh.[23]

Para pencari hadits mesti meningkatkan kesungguhandan ketekunannya dalam mempelajari hadits dari orang-orang yang masyhur ilmunya, agama dan wara’-nya, meskipun mereka berada di luar institusi ilmiahnya. Oleh karena itu, sudah seharusnya bagi peneliti untuk bersungguh-sungguh dalam mengkaji hadits.[24] 

Waki’ bin al-Jarrah, guru Imam Syafi’I berkata, “ bila kamu ingin menghafalkan hadits, maka amalkanlah ia.”[25] 

Para pencari hadits harus menghormati guru-guru dan setiap orang yang menjadi sumber hadits mereka. Hal ini harus dilakukan untuk mengagungkan hadits dan ilmu. Selain itu, mereka harus menjaga nama baik para guru.

Bagi para pengkaji hadits juga, sudah seharusnya tidak mengabaikan ilmu Musthalah al-Hadits agar dapat mengetahui pokok dan cabang-cabang hadits untuk dapat menguraikan istilah-istilah penting yang yang digunakan oleh para ahli hadits. 

2. Etika Muhaddits

Muhaddits menjadi bagian integral dari hadits, sehingga kajian hadits sangatlah tergantung kepada muhaddits dalam mentransformasikan pemikirannya kepada muridnya. Dirasa urgen

karena hadits bermuara pada aktualisasi di masyarakat yang diyakini merupakan ajaran sekaligus sumber hukum dalam Islam. Masalahusnya bagi p ini tak luput dari perhatian Nuruddin ‘Itr. Menurut beliau, pertama sekali yang harus dimilik oleh Muhaddits adalah Ikhlas dan niat yang benar dalam megkaji hadits.[26] Menurut beliau, yang paling alim tentang hadits sudah seharusnya jauh dari sifat riya’ dan cinta dunia agar ia mendapat percikan kenabian dari Hadits Rasulullah saw.[27]

Menurut beliau ilmu-ilmu syari’ah adalah ilmu-ilmu yang mulia yang selaras dengan akhlak mulia dan perangai yang baik. Ilmu-ilmu ini menuntut bagi para pencari atau pengkajinya untuk memiliki sifat istiqamah dan perilaku yang baik. Sepatutnya bagi seorang muhaddits melebihi orang lain dalam hal inisebagaimana yang telah dilakukan oleh ulama hadits terdahulu, agar ia pantas menyandang penisbatan itu.[28]

Memelihara kecakapan mengajarkan hadits menjadi hal penting bagi para pengkaji hadits. Arti menjaga kecakapan disini adalah bahwa seorang muhaddits seharusnya tidak mau menghadiri suatu majlis untuk mengajarkan hadits kecuali bila ia benar-benar siap untuk itu. Mengenai kecakapan ibn al-Shalah berkata: “apabila hadits yang ia kuasai itu dibutuhkan, maka ia dengan senang dan siap untuk meriwayatkan dan menyebarkannya, pada usia berapapun.[29]

Dengan merujuk pada ulama terdahulu, beliau menekankan terhadap para muhadditsin untuk mengakhiri aktivitasnya ketika usia 80 tahun, karena pada umumnya orang yang telah mencapai usia ini daya ingatnya tidak lagi normal, aktivitas dan kreativitasnya menurun, serta pola pikirnya berubah. Bila khawatir terjatuh kedalam kesalahan meskipun belum mencapai usia tersebut maka hendaklah ia menghentikan kegiatannya.[30]

Merupakan bagian dari kesempurnaan akhlak para ulama. Mereka menghindari untuk tidak mendahului orang-orang yang lebih banyak memiliki keutamaan daripada mereka, baik karena usianya yang lebih tua maupun ilmunya yang lebih tinggi.[31]

Menurut beliau, sudah seharusnya jika seorang yang alim ditanya tentang sesuatu dan pada saat yang sama ia mengetahui ada orang alim lain yang lebih tua dan lebih utama untuk menjawabnya, maka ia hendaknya menunjukkan kepada yang bersangkutan untuk bertanya kepada ulama lain, karena agama adalah kejujuran dan kesetiaan.[32]

Hadits sebagai ucapan Rasulullah saw, maka sudah seharusnya bagi pengkaji hadits tertanam rasa hormat kepada hadits Rasulullah. Bentuknya adalah dengan mendatangi majelis-majelis pengkajian hadits dengan penuh kesiagaan, termasuk hal yang berhubungan dengan pakaian. Hal yang tak penting adalah bahwa bagi setiap muhadditsin untuk menelaah beberapa karya ilmiah yang lain, dengan mempersiapkan serta meragamkan metodepengajaran untuk menyampaikan setiap materi secara sistematis. Dengan merujuk kepada Hubayb bin Abi Tsabit beliau menegaskan bahwa setiap pengajar majelis ilmiah: “ di antara hal yang perlu dilembagakan adalah bahwa jika seseorang berbicara kepada kaumnya, hendaklah ia menghadap kepada mereka.”

Seorang muhaddits harus menggunakan sarana dan metode yang mempermudah peahaman dan memberikan kesan yang dalam, sebagaimana yang ditempuh Rasulullah saw. Dalam menyampaikan hadits kepada sahabat.[33]

Yang terakhir dari penegasan beliau adalah bahwa medan segala ilmu terhampar luas di depan matanya tanpa ia duga sebelumnya, mengingat bahwa setiap kurun menuntut metode, tema dan pola pikir sejalan dengan perkembangan pemikiran, etika dan ilmu manusia. Sungguh telah mengingkari perkataan orang yang berkata , “para pendahulu tidak menyisakan sesuatu apapun bagi orang yang datang kemudian.”

Lebih lanjut, beliau menekankan bahwa seorang muhadditsin memberikan sesuatu yang baru, baik dengan mengemukakan ide yang berdasarkan ijtihadnya denganmengubah sistematika yang telah usang, dengan memecahkan masalah dan menjelaskan kesulitannya, maupun dengan memperbaharui metode penyajian ilmu dengan metode yang sesuai dengan tuntutan zaman. Hendaknya tidak menulis apa yang tidak atau kurang ia kuasai karena jika ia melakukan ini maka ia telah menemui beberapa kegagalan dan berniat karena Allah agar apa yang telah ia tulis sebagai amal yang ikhlas dan diterima di sisi Allah dan bermanfaat bagi yang lainnya.[34] 

Kesimpulan dan Penutup

Dari uraian yang telah penulis tuliskan diatas, penulis berkesimpulan bahwa beliau meriupakan salah satu ulama hadits yang telah berhasil menyusun kitab mengenai ilmu-ilmu hadits secara sistematis. Menurut penulis dengan melihat kecenderungan beliau untuk menetapkan pendapatnya dengan berpegang kepada jumhur ‘ulama beliau termasuk pemikir hadits yang moderat. Yang paling menarik dari pemikirannya adalah bahwa beliau selain banyak memperbincangkan tentang metodologi mengenai ilmu hadits beliau juga tidak lupa membahas masalah person (pengkaji hadits) seperti apa yang telah beliau tulis dalam bab etika atau adab pencari/ pengkaji hadits. 

Demikianlah sedikit-banyak uraian yang dapat disampaikan penyusun sehubungan dengan Nuruddin ‘Itr dan pemikirannya tentang hadis. Layaknya manusia biasa, kekurangan tak bisa dihindari. Untuk itu, penyusun sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi perbaikan makalah yang selanjutnya. Terima kasih!

Daftar Pustaka

Al-Qur’an al-Karim.
‘Itr, Nuruddin. Manhaj al-Naqdi fi ‘Ulum al-Hadits. Dar al-Fikr al-Mu’ashirah, Beirut, 1997.
‘Itr, Nuruddin. Manhaj al-Naqd fi ‘Ulum al-Hadits,terj. Endang Soetari dan Mulyo, PT. Remaja Rosda Karya, Bandung, Tt.
Ajaj al-Khatib, Muhammad. Ushul al-Hadits. Terj. Qadirun Nur dan Ahmad Musyafiq. Gaya Media Pratama, Jakarta, 2007.
Munawwir, Ahmad Warson. Kamus al-Munawwir: Arab-Indonesia. Surabaya: Pustaka Progressif.1984.
Kitab Sahih Bukhari. DVD-Rom, al-Maktabah al-Syamilah, Global Islamic Software, 1991-1997.
Kitab Sahih Muslim. DVD-Rom, al-Maktabah al-Syamilah, Global Islamic Software, 1991-1997.
www.kampusislam.com

[1] Nuruddin ‘Itr, Manhaj al-Naqd fi ‘Ulul al-Hadits, (Beirut, Dar al-Fikr al-Mu’ashir, 1997), hlm. 243. Lihat juga Muhammad ‘Ajaj al-Khatib, Ushul al-Hadits, terj. Nur Ahmad Musafiq,(Jakarta, Yofa Mulia offset, 2007), hlm.277. 

[2] Imam Bukhari, Shahih al-Bukhari, No. 5626, Bab Man Ahaq al-Nas bi Husn, Juz 5, hlm. 2227, (DVD-Rom, al-Maktabah al-Syamilah, Global Islamic Software). 

[3] ibn Amru bin Jarir bin Abdullah al-Bajiliy. 

[4] Nuruddin ‘Itr, Manhaj al-Naqd fi ‘Ulul al-Hadits, (Beirut, Dar al-Fikr al-Mu’ashir, 1997), hlm. 244. 

[5] Nuruddin ‘Itr, Manhaj al-Naqd ... hlm. 246. 

[6] Nuruddin ‘Itr, Manhaj al-Naqd ... hlm.286 

[7] Nuruddin ‘Itr, Manhaj al-Naqd ... hlm. 291. Lihat juga: Muhammad ‘Ajaj al-Khatib, Ushul al-Hadits...hlm. 316. 

[8] Dalam hal penerimaan hadits beliau berpendapat bahwa penerimaan hadits yang paling tinggi tingkatannya adalah dengan cara sima’ah dengan berdasarkan kepada pendapat jumhur ulama. Lihat: Nuruddin ‘Itr, Manhaj al-Naqd ... hlm.198. 

[9] Unsur penyampaian hadits adalah meriwayatkan dan menyampaiakn hadits dengan satu cara penyampaiannya yang disertai kalimat pengantar yang menunjukkan cara penerimaannya. 

[10] Berdasarkan riwayat dari Imam Malik dan Abu Hanifah r.a. bahwa salah satu aliran yang keras mentakan bahwa tidak dapat dipakai hujjah kecuali hadits yang diriwayatkan berdasarkan hafalan dan ingatan rawinya. 

[11] Sunan Abi Dawud Juz III: hal 321 

[12] Shahih Bukhari Juz I (Kitabul Ilm): hal. 32. hadits tersebut diriwayatkan juga oleh al-Tirmidzi, Sunan al-Tirmidzi Juz V,: hal. 39) 

[13] Sunan Abi Dawud Juz III, hal. 318, Musnad Ahmad Juz II, hal. 162. 

[14] Sunan al-Darimi Juz I, hal. 127 

[15] Shahih Bukhari Juz 1, hal 31 

[16] Shahih Muslim Juz II, hal 710, Musnad Ahmad Juz III, hal 12 dan 21 

[17] www.kampusislam.com, diakses pada tanggal 20 April 2009. 

[18] Faktor eksternal yang penulis maksud adalah tentang kepribadian yang dimiliki oleh rawi termasuk etika atau adab yang seharusnya di miliki oleh pengkaji hadits sebagaimana yang telah ditulis oleh Nuruddin ‘Itr 

[19] Aspek internal adalah aspek yang meliputi redaksi, kandungan matan hadits, sedangkan aspek eksternal adalah meliputi perawi perihal kepribadiaanya. 

[20] Dengan demikian maka orang yang tidak menyampaiakan hadits yang dikuasainya tidak dapat disebut sebagai rawi. Demikian pula bila hadits yang diriwayatkannya tidak disandarkannya kepada orang yang mengatakannya. 

[21] Dalam hadits mutawattir disebutkan bahwa Nabi Muhammad saw bersabda: نضرالله امرا سمع ممقالة فبلغه (dikutip dari Kasyfu al-Khafa’), Sufyan al-Tsauri berkata, “tidak saya ketahui perbuatan yang lebih mulia daripada mencari hadits bagi orang yang ikhlas mencari ridha Allah.”lihat: Nuruddin ‘Itr, Manhaj al-naqd fi Ulum al-Hadits, terj. Endang Soetari dan Mulyo, (Bandung, PT. Remaja Rosda Karya, Tt), hlm. 171 

[22] وَرَجُلٌ تَعَلّمَ الْعِلْمَ وَعَلّمَهُ وَقَرَأَ الْقُرْآنَ. فَأُتِيَ بِهِ. فَعَرّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا. قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: تَعَلّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيكَ الْقُرْآنَ. قَالَ: كَذَبْتَ وَلَكِنّكَ تَعَلّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ عَالِمٌ. وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِئٌ. فَقَدْ قِيلَ. ثُمّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَىَ وَجْهِهِ حَتّىَ أُلْقِيَ فِي النّارِ. رواه مسلم عن أبي هريرة رضي الله عنه. 

“…dan seorang yang belajar dan mengajarkan ilmu dan membaca al-Qur’an maka dia dihadapkan kepada Allah yang Maha Adil. Lalu Allah menunjukkan kepadanya kenikmatan-kenikmatan-Nya dan ia pun mengenalnya. Allah berkata , “apakah yang kamu kerjakan untuk mendapatkannya? “ ia berkata, apakah yang kamu kerjakan untuk mendapatkannya ?” ia berkata , “aku belajar dan mengajarkan ilmu, dan aku membaca al-Qur’an demi engkau .”Allah berkata, “ bohong kamu! Kamu mempelajari ilmu supaya dijuluki sebagai orang yang berilmu, dan kamu membaca al-Qur’an supaya kamu dijuluki sebagai qari’, dan julukan itu telah kamu terima .” kemudian diperintahkan agar ia diseret dan dijerumuskan ke dalam neraka.”(HR. Muslim), lihat: DVD-Rom al-Maktabah al-Syamilah, Fatawa al-Syabkah al-Islamiyyah. Juz 11, hlm.195 

[23] Nuruddin ‘Itr, Manhaj al-Naqd fi ‘Ulum al-Hadits,terj. Endang Soetari dan Mulyo, (Bandung, PT. Remaja Rosda Karya, Tt), hlm. 172. 

[24] Nuruddin ‘Itr, Manhaj al-Naqd .... hlm. 172. 

[25] Nuruddin ‘Itr, Manhaj al-Naqd .... hlm. 172. 

[26]Keharusan bagi setiap pengkaji hadits untuk Ikhlas dengan mendasarkan pada al-Qur’an surah al-Bayyinah [98]: 5 وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus.” 

[27] Nuruddin ‘Itr, Manhaj al-Naqd .... hlm. 177. 

[28] Seperti dikatakan oleh penyair اهل الحديث هم اهل النبي و لمن لم يصحبوا انفسه انفسحوا صحبوا “ahli hadits adalah keluarga Nabi. Meskipun fisik mereka tidak bersama dengan beliau, namun jiwa mereka bersama beliau”. 

[29] Artinya adalah bahwa jika seseorang berhak memenuhi kriteria ini maka ia dianggap berhak mengajarkan dan menyebarkan ilmu hadits sesuai kemampuannya. 

[30] Nuruddin ‘Itr, Manhaj al-Naqd .... hlm. 178. 

[31] Ketika Ibrahim al-Nakha’i dan al-Sya’bi berkumpul maka Ibrahim tidak mau berbicara sepatah kata apapun. 

[32] Nuruddin ‘Itr, Manhaj al-Naqd .... hlm. 179. 

[33] Nuruddin ‘Itr, Manhaj al-Naqd .... hlm. 180. 

[34] Nuruddin ‘Itr, Manhaj al-Naqd .... hlm. 180


0 Response to "Mengamalkan Hadis tertolak (dhoif) dan Hadis diterima Nuruddin ‘Itr "

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!