Pengeritian Hadis dan Sunnah

Advertisement

Pengeritian Hadis dan Sunnah

Pengertian Sunah

Al- qur’an merupakan sumber primer dalam islam dan sumber skundernya adalah sunnah. Sunah ialah semua ucapan, perbuatan, taqrir dan sifat – sifat Nabi SAW. Menurut Zainun Kamal sunnah terbagi kedalam dua bagian ; pertama, sunah wahyu yaitu ucapan, perbuatan, dan sikap Nabi yang terkait dengan penjelasan apa yang secara umum, global, atau majemuk yang terdapat dalam al-qur’an. Kedua, sunah taklidiyah ( tradisi, adat istiadat ) yaitu ucapan, perbuatan, dan sikap Nabi yang tidak terkait dengan penjelasan ayat – ayat al-Qur’an. Sunah yang demikian terletak pada konteks eksistensi sosial dari pribadi historis, ia tidak mengikat umat yang datang sesudahnya.

Pengeritian Hadis dan Sunnah

Secara umum sunah terbagi dalam dua kategori yaitu ditinjau dari jumlah para rawi dan berasarkan kualitas sanad maupun matan. Dilihat dari jumlah para rawi sunah terbagi kedalam dua kategori yaitu :

a) Sunnah Mutawattir, Yaitu sunah atau hadis yang diriwayatkan oleh banyak perawi pada setiap tingkatan ( Thabaqah ), yang mana mereka mustahil sepakat untuk berdusta dan riwayat itu harus bersifat indrawi ( mahsus ).

b) Sunnah Ahad, Yaitu sunah atau hadis yang jumlah perawinya disetiap tingkatan tidak sampai ke tingkat mutawattir ( jika rawi yang meriwayatkan hadis tersebut hanya satu maka hadisnya disebut sebagi hadis gharib, jika terdapat dua periwayat hadisnya dinamakan hadis Aziz, dan jika hadis tersebut diriwayatkan oleh 3 orang rawi atau lebih hadisnya disebut hadis masyhur ).

Sedangkan hadis atau sunah yang ditinjau dari aspek kualitas sanad dan matan terbagi dalam tiga bagian yaitu :

a. Hadis Shahih Adalah hadis yang memenuhi kriteria tertentu ( berhubungan dengan sanad, diriwayatkan oleh perawi yang adil dan dhabit, tidak mempunyai cacat ( “illah ) dan tidak terdapat suatu yang ganjil ( syadz ).

b. Hadis Hasan
Adalah sebuah hadis yang memenuhi kriteria hadis shahih kecuali kualitas kedhabitan ( kuat hafalan dan lengkap catatan ) perawinya lebih rendah dari kualitas dhabit perawi pada hadis shahih.

c. Hadis Dha’if Yaitu sebuah hadis yang tidak memenuhi syarat atau kriteria hadis shahih, baik kurang satu syarat atau lebih.

Kedudukan Sunah dan Hadis

Sunah rasul merupakan sumber ajaran islam kedua setelah al-Qur’an yang berupa penjelasan dan pelaksanaan ajaran –ajaran al-Qur’an yang diberikan oleh Nabi Muhammad SAW, secara umum muhammadiyah membagi hubungan as-sunah dan al – Qur’an kedalam tiga bagian yaitu sebagai berikut :

Hadis sebagai Bayan Tafsir

Yakni sunah yang menerangkan ayat – ayat yang sangat umum, mujmal dam musytarak. Misalnya hadis yang menerangkan tatacara melakukan shalat :

صلوا كما رأيتمواني اصلي Merupakan sebuah tafsir dari ayat al-qur’an yang memerintahkan perintah shalat أقم الصلواة .

Hadis sebagai Bayan Taqriri

Yaitu sunah yang berfungsi untuk memperkokoh dan memperkuat pernyataan al-Qur’an. Misalnya hadis Nabi yang berbunyi “ صوموا لرئيته ... “ merupakan hadis yang memperkokoh ayat al-Qur’an pada surah al-Baqarah : 185

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ.

Artinya :” ( beberapa hari yang ditentukan itu ialah ) bulan Ramadhan, bulan yang didalamnya diturunkan ( permulaan ) al-Qur’an sebagi petunjuk bagi manusia dan penjelasan – penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda ( antara yang hak dan yang bathil ), karena itu, barang siapa diantara kamu hadir ( di negeri tempat tinggalnya ) di ulan itu, maka hendaklah ia berpuasa di bulan itu, dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan ( lalu ia berbuka ), maka ( wajiblah baginya berpuasa ), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari – hari yang lain. allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk – Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. ( QS. Al-Baqarah : 185 )

Hadis sebagai Bayan Taudhih

Sunah Nabi yang menerangkan maksud dan tujuan suatu ayat, misalnya pernyataan Nabi :” Allah tidak mewajibkan zakat melainkan supaya menjadi baik harta – hartamu.” Yang sudah di zakati merupakan taudhih terhadap ayat al-Qur’an yang berbunyi :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنَّ كَثِيرًا مِنَ الْأَحْبَارِ وَالرُّهْبَانِ لَيَأْكُلُونَ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ

Artinya : “ hai orang – orang yang beriman, sesungguhnya sebagian besar dari orang – orang alim Yahudi dan rahib – rahib Nashrani benar- benar memakan harta orang dengan jalan yang bathil dan mereka menghalang – halangi ( manusia ) dari jalan Allah. Dan orang – orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, ( bahwa mereka akan mendapat ) siksa yang pedih. ( QS. At-taubah : 34 )

0 Response to "Pengeritian Hadis dan Sunnah"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!