Pengertian eskatologi dalam Islam

Advertisement

Pengertian Eskatologi dalam Islam

Dalam kamus bahasa Indonesia disebutkan bahwa, yang dimaksud dengan “eskatologi” adalah ilmu tentang akhir riwayat/ kehidupan manusia; ilmu kematian manusia.[1] Dalam dunia islam kita kenal berbagai macam riwayat (al – qur’an & hadits )yang membicarakan tentang kehidupan setelah mati.

Adapun yang menjadi landasan dalam memotret dan mengklasifikasikan persoalan esskatologi ini adalah berdasarkan konsep eskatologi islam secara umum. Eskatologi islam secara sederhana diklasifikasikan menjadi dua bagian : akhir dunia dan akhirat. Dalam kontek akhir dunia, pembahasan eskatologi islam tertuju pada konsep mengenai kiamat. Namun sebelum kiamat ini, dikenal pula sosok eskatologi (eschatological figures) islam, yaitu : Ya’juj dan Ma’juj, Imam mahdi, Dajjal, dan Isa. Sedangkan dalam kontek akhirat, pembahasannya tertuju pada konsep hari kebangkitan, konsep pengadilan, serta konsep surga dan neraka.

Defenisi eskatologi dalam Islam

Dalam pembahasan akhirat ini, sebagian besar ahli tafsir juga menyebutkan detail mengenai kepercayaan kepada Alam barzakh ( alam antara ) antara kematian, kebangkitan, dan pengadilan akhir. Terkait dengan konsep kematian, terdapat indikasi didalam al – qur’an bahwa pengalaman dan wujud eksistensial manusia terdiri dari dua kematian dan dua kehidupan. Kematian pertama iaah masa sebelum manusia dilahirkan, sedang kematian yang kedua adalah kematian manusia setelah manusia dilahirkan. Adapun kehidupan pertama adalah kehidupan di dunia, sedang kehidupan kedua adalah kehidupan di akhirat. Kematian pertama, karena terkesan mitologis,dan bukan merupaknan rangkaian kehidupan, maka tidak termasuk dalam bidaang garapan eskatologi. Begitulah agaknya gambaran umum tentang eskatologi islam.[2]

Hal ini sebagimana yang ditulis antara lain oleh William J. Hamblin dan Daniel C. Peterson, Toshihiko Izutsu, H.P. Owen, dan Cyril Glasse. Dari semua sumber acuan teoritis ini, penulis mengkasifikasikannya menjadi :

a) Kematian;
b) Alam barzakh;
c) Hari kiamat; dan
d) Surga dan Neraka

Konsep – konsep eskatoogi Islami

Pembahasan mengenai kematian tanpaknya tidak bisa semata – mata didekati oleh sebuah konsep/ ranah rasional – ilmiah. Ada sebuah ungkapan menarik yang menyatakan “ Dan akhirnya ada suatu teka – teki penuh dengan rasa kesakitan,yaitu teka – teki mati. Teka – teki itu tidak ada obatnya pada waktu ini, dan kiranya tidak akan obatnya di kelak kemudian hari.” ( Sigmund Freud)[3] bila hanya mengandalkan rasionalitas atau indrawi, akan “gagal” mengkonsepsikan kematian.

Islam, dalam hal ini Al – Qur’an, memiliki seperangkat argumen untu merespon pandangan bahwa kematian adalah akhir dari segalanya. Namun, respon Al –Qur’an ini tidaklah diperuntukkan bagi keseluruhan masyarakat arab jahiliyah. Sebab, melalui syair – syair yang masih terpelihara sampai kini,ada indikasi kuat yang menunjukkkan bahwa sebagian diantara mereka telah beriman kepada Allah dan menerima doktrin kebangkitan – kembali. Jadi, yang menjadi sasaran Al –Qur’an adalah mereka yang hanya benar –benar tidak mengakui doktrin akhir, atau yang dalam istilah Toshihiko izutsu yang menganut doktrin nihilisme. Dengan demikian, sejak masa – masa awal,Al –Qur’an sebetulnya telah mengajukan berbagai argument untuk membungkam para pengingkar doktrin akhir. Fazlur Rahman mengeksplorasi, paling tidak, tiga argument dimaksud :

Pertama, bahwa Allah telah menciptakan bumi dan segala bentuk kehidupan yang bjumlahnya tidak terhitung atau tidak diketahui, sehingga hal ini direnungkan, berarti Allah dapat pula menciptakan manusia yang baru dan bentuk kehidupan lain yang tidak pula diketahui. Kedua, Sebagaimana menciptakan percikan api dari kayu – kayuan hijau ( yang basah) Allah dapat pula membuat mati dan hidup secara bergantian,yang kelihatannya mustahil karena dihasilkan dari sesuatu yang berlawanan. Hal ini, terbukti bahwa Dia menciptakan siang dan malam,silih berganti,seperti yang diperbuat – Nya terkait dengan kebangkitan dan kejatuhan bangsa – bangsa. Jika kedua fenomena tersebut adalah “alami “ hingga tak perlu dipersoalkan, maka fenomena kebangkitan kembali dan penciptaan bentuk – bentuk kehidupan yang baru,harus pula dipandang sebagai kenyataan yang ‘ Alami’.

Ketiga, contoh yang khas yang diberika Al –Qur’an tentang fenomena tersebut, bumi yang menjadi subur di musim semi setelah ia ‘ mati’ di musim salju.

Rahman dalam hal ini telah melakukan eksplorasi yang bersifat deskriptif – analistis. Akan tetapi ini sebenarnya belum merangkum semua argument yang diajukan Al –qur’an. Dinilah tampaaknya Al- Ghozali melengkapinya. Al –Ghozali mempunyai tiga argument yang kiranya luput dari pantauan Rahman, yaitu :

Pertama, bahwa sanya Al-qur’an menantang para pengingkar untuk memikirkan sesuatu yang kelihatan sangat mustahil tetapi bagi Allah sangat mudah diwujudkan. Tantangan semacam ini sudah sering disampaikan melalui berbagai konteks, dan selalu terbukti akan kebenarannya. Kedua, kekuasaan Allah tidak dapat terelakkan yaitu dengan mampu membuat Ashhab al-kahf hidup selam ratusan tahun. Hal ini memberi kesan bahwa apapun yang dikehendaki Allah pasti terjadi. Ketiga, mengembalikan sesuatu yang sudah ada sebelumnya pada dasarnya tidaklah berbeda dengan memulai sesuatu untuk yang kedua kalinya.

Dengan demikian, ada proses saling melengkapi antara kedua tokoh dalam upaya – upaya menggali argument – argument Al –qur’an untuk menjelaskan eksistensi kehidupan akhirat. Jadi, penjelasan ini menyiratkan suatu konsep “ sunnatullah “ bahwa kematian dan kehidupan merupakan proses yang terjadi secara alami menurut kehendak- Nya. Jika demikian halnya, maka tentu kematian dan kehidupan adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan.

Catatan Kaki
[1] Budiono M.A,Kamus Populer Internasional ( Surabaya: Alumni, 2005) hal.162
[2] Sibawai , Eskatologi Al Ghozalidan Fazlur Rahman, (Yogyakarta : Islamika, 2004 ) hal 21
[3] Prof. Dr. D.E. Trueblood,Filsafat Islam, disadur oleh Prof. Dr. H. M. Rasjidi,( Jakarta : Bulan Bintang, 2002 ) hal.211

0 Response to "Pengertian eskatologi dalam Islam"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!