Pengertian Hukum dan Syarat Melakukan Ijtihad

Advertisement
Pengertian, Hukum dan Syarat Melakukan Ijtihad
Para ulama memahami pengertian ijtihad dalam tinjauan bahasa dan istilah sebagai berikut;
إِسْتِفْرَاغُ الْوَسْعِ فِي تَحْقِيْقِ أَمْرٍ مِنَ الْأُمُوْرِ مُسْتَلْزِمٍ لِلْكَلْفَةِ وَالْمَشَقَّةِ. وَلَهَذَا يُقَالُ إِجْتَهَدَ فُلاَنٌ فِي حَمْلِ حَجَرِ الْبَزَّارَةِ, وَلاَيُقَالُ إجْتَهَدَ فِي حَمْلِ خَرْدَلَةٍ.
Upaya (seorang mujtahid) menghabiskan tenaga yang banyak dalam mengungkap satu masalah dari beberapa masalah yang diwajibkan pada masalah-masalah berat dan sulit. Sehingga seorang dikatakan, bahwa orang itu berusaha keras mengangkut batu biji-bijian, namun tidak dikatakan orang itu berusaha keras mengangkut satu biji sawi.
إِسْتِفْرَاغُ الْوَسْعِ فِي طَلَبِ الظَّنِّ بِشَيْءٍ مِنَ الْأَحْكَامِ الشَّرْعِيَّةِ عَلَى وَجْهٍ يُحْسِنُ مِنَ النَّفْسِ الْعَجْزِ عَنْ الْمَزِيْدِ فِيْهِ
Upaya (seorang mujtahid) menghabiskan tenaga yang banyak untuk pengoptimalan pengunaan nalarnya pada suatu perkara diantara hukum-hukum syari’at menjadi lebih baik, karena kelemahan hukum syari’at itu sehingga melengkapi kekurangannya. [1]
Dalam kamus Mu’jam al-Wasit, Ulama fiqh mengartikan ijtihad sebagai;
إِسْتِفْرَاغُ الْفَقِيْهِ الْوُسْعَ لِيَحْصُلَ لَهُ ظَنٌّ بِحُكْمٍ شَرْعِيٍّ
Pengertian Hukum dan Syarat Ijtihad

Upaya seorang ahli fiqh menghabiskan tenaga yang banyak untuk menemukan hukum fiqh melalui kekuatan nalar pada hukum syari’at.[2]
Pengertian lain, ijtihad menurut arti kata (etimologi) diambil dari akar kata dalam bahasa Arab “jahada”. Bentuk kata masdarnya Jahdun artinya kesungguhan atau sepenuh hati atau serius. Contohnya dapat kita temukan dalam surah al-An’am/6: 109.
وَأَقْسَمُوْا بِاللهِ جَهْدَ أَيْمَانِهِمْ
Artinya: Mereka bersumpah dengan Allah sesungguh-sungguh sumpah.[3]
Bila kata jahada dihubungkan dengan bentuk masdarnya tersebut, pengertiannya berarti “kesanggupan yang sangat” atau ”kesungguhan yang sangat”.
Bila arti kata (etimologi) ini dihubungkan dengan arti istilah (definitif) tentang ijtihad, akan terlihat keserasian artinya kerena pada kata ijtihad itu memang terkandung arti kesanggupan dan kemampuan yang maksimal dan harus dilakukan dengan kesanggupan serta sepenuh hati.[4]

Hukum Berijtihad
Secara umum, hukum berijtihad itu adalah wajib. Artinya, seseorang mujtahid wajib melakukan ijtihad untuk menggali dan merumuskan hukum syara’ dalam hal-hal yang syara’ . Namun tidak menetapkannya sebagai suatu kepastian hukum yang harus dipegangi oleh orang lain, karena kebenarannya bersifat fiktif, artinya berkemungkinan hasil ijtihad itu bisa benar dan bisa salah.
Perintah berijtihad ini diungkapakan dalam firman Allah, dalam Q.S. al-H{asyr/59: 2.
فَاعْتَبِرُوْا يَا أُوْلِى الْأَبْصَارِ
Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, wahai orang-orang yang memiliki pandangan.[5]
Syarat-syarat mujtahid dapat dikelompokkan ke dalam beberapa bagian sebagai berikut. Pertama, persyaratan umum (al-syurut al-‘ammah), yang meliputi:
1. baligh,
2. berakal sehat,
3. kuat daya nalarnya, dan
4. beriman atau mukmin.
Kedua, persyaratan pokok (al-syurut al-asasiyyah), yaitu syarat-syarat mendasar yang menuntut mujtahid supaya memiliki kecakapan:
1. mengetahui al-Quran,
2. memahami sunnah,
3. memahami maksud-maksud hukum syari’at, dan
4. mengetahui kaidah-kaidah umum (al-qawa’id al-kulliyyat) hukum Islam.
Ketiga, persyaratan penting (al-syurut al-hammah), yakni beberapa persyaratan yang penting dimiliki mujtahid. Syarat-syarat ini mencakup:
1. menguasai bahasa Arab,
2. mengetahui ilmu usul al-fiqh,
3. mengetahui ilmu mantik atau logika, dan
4. mengetahui hukum asal suatu perkara (al-bara’ah al-asliyah).
Keempat, persyaratan pelengkap (al-syurut al-takmiliyah) yang mencakup:
1. tidak ada dalil qat’i bagi masalah yang diijtihadi,
2. mengetahui tempat-tempat khilafiyyah atau perbedaan pendapat, dan memelihara kesalehan dan ketaqwaan.[6]
Seorang mujtahid setidaknya harus menguasai persoalan yang berkaitan dengan masalah yang ia akan fatwakan dan masalah-masalah lain yang berkaitan. Namun mujtahid tidak dituntut mengetahui masalah-masalah fiqh yang tidak berkaitan dengan pembahasan. Seorang mujtahid mutlak (perorangan) dapat berijtihad pada masalah-masalah yang umum yang di permasalahkan orang banyak, tapi tidak menjadi syarat bagi mereka harus menguasai semua hukum-hukum yang berkaitan dengan masalah-masalah lain dan mengusainya, karena penguasan hukum seluruhnya merupakan keterbatasan setiap manusia. Seorang mujtahid besar sekelas Imam Malik bin Anas pernah diajukan kepadanya 40 masalah hukum fiqh, ia mengatakan 36 masalah yang ditanyakan kepadanya, ia jawab “saya tidak tahu” (laa adri).[7]

[1] Saifuddin Abi al-Hasan dan ‘Ali ibn Abi ‘Ali ibn Muh}ammad, op. cit., h. 309.
[2] Majma’ al-Lugha al-‘Arabiyah, Mu’jam al-Was}it} , Jilid I (Mesir: tth.), h. 147.
[3] Departemen Agama RI, Alquran dan Terjemahannya, op. cit., h. 141.
[4] Amir Syarifuddin, Ushul Fiqh , Jilid 2 (Cet. 1; Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999), h. 223-224.
[5] Departemen Agama RI, Alquran dan Terjemahannya, op. cit., h. 545.
[6]Amir Mua’llim dan Yusdani, Ijtihad dan Legislasi Muslim Kontemporer. (Yogyakarta: UII Press. 2005), h. 58.
[7]Saifuddin Abi al-Hasan dan ‘Ali ibn Abi ‘Ali ibn Muhammad, op. cit., h. 310.


0 Response to "Pengertian Hukum dan Syarat Melakukan Ijtihad"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!