Pengertian Nalar Bayani dalam Ushul FIqih

Advertisement
Pengertian Nalar Bayani dalam Ushul FIqih

Mengutip statement Prof. DR. H. M Amin Abdullah, Rektor UIN Sunan Kalijaga hingga sekarang (2008) dalam bukunya Islamic Studies Di Perguruan Tinggi:

" Filsafat ilmu yang dikembangkan di barat seperti rasionalisme, empirisme dan pragmatisme tidak begitu cocok untuk dijadikan kerangka teori dan analisis terhadap pasang-surut dan perkembangan Islamic studirsebut lebih t tatblogi keies. Perdebatan s dan sebagian pada wilayah humanities dan social sciences, sedangkan isamic studies lasical humanities. Untuk itu diperlukan perangkat kerangka analisis epistemologis yang has untuk pemikran islam yakni apa yan g disebut oleh muhamad abid al jabiri dengan epistemologi bayani, irfani dan burhani " [1]

Sangat menarik apa yang telah dikembangkan oleh Muhammad Abid Al Jabiri [2] yang berupaya merekontruksi epistemologi studi-studi keislaman (islamic studies) dengan mensitematisir pelbagai aliran pemikran dalam sejarah islam. Terdapat tiga aliran islam yang cukup menonjol dalam perkembangan intelektual ilmu-ilmu keislaman. Yaitu, pertama , pemikiran-pemikiran filsafat yang jelas-jelas lebih menekankan pada penggunaan akal dan rasio dengan bukti-buti yang nyata. Kedua, pemikiran islam atau tauhid yang lebih menekankan pada teks-teks naqliyah dengan sedikit bumbu akliyah .ketiga, pemikran tasawuf yang lebih menekankan pada penggunaan rasa atau dzauq dengan bukti-bukti yang sulit untuk dipertanggungjawabkan. [3]

Pengertian Nalar Bayani

Model pertama pada ketiga ranah pemikiran di atas paling tidak dapat dikatagorikan sebagai paradigma burhani (karena lebih menekankan pada rasio dan bukti empiris). Model kedua lebih cocok untuk dimasukkan dalam paradigma bayani (karena lebih menekankan pada peranan penjelasan terhadap otoritas nash dan teks suci). Sedangkan model ketiga lebih baik dimasukkan dalam paradigma 'irfani (karena lebih menekankan pada peranan intuisi, qalb, dlamir dan dzauq)[4]

Epistemologi bayani, irfani dan burhani yang has untuk pemikiran islam selalu dihubungkan dengan Muhammad Abed Al Jabiri. Hali ini didasarkan pada kedua karya monumental beliau, yakni takwinul al aqli alaraby dan bunyah al aql al arabi : dirasat tahliliyah naqdiyah linudzum al ma'rifat fi altsaqafat al 'arabiyah yang menurut penulis dianggap cukup representative untuk melihat struktur fundamental kefilsafatan ilmu kajian-kajian keislaman dalam dataran humanities, sedangkan buku ketiganya al aql al siyasi al'arabi merupakan pengejawentahan dari konsep-konsep dan paradigma humanities dalam pemikiran keislaman dalam wilayah kehidupan sosial politik yang konkrit dalam masyarakt muslim.[5]

Dalam makalah ini penulis akan megkaji lebih dalam mengenai peran dan gerak-gerik dari epistemologi bayani dengan memberi penekanan secara khusus pada nalar bayani yang menyinggung dimensi fikih atau usul fikih. Hal ini juga karena menurut Muhammad Abid Al Jabiri ,corak epistemologi bayani didukung oleh pola piker fikih dan kalam. Sehinga sangat rentan sekali apabila dalam pengajaran agama islam di lembaga-lembaga pendidikan baik formal maupun non formal dimana corak pemikiran islam model bayani sangatlah mendominasi dan bersifat hegemonik sehingga sulit berdiaog dengan tradisi epistemologi irfani dan burhani.

Epistemologi Bayani

Al Jabiri sangat menekankan epistemologi pemikiran Arab kontemporer sebagai jalan untuk menghadapi modernitas. Al Jabiri memetakan perbedaan prosedural antara pemikiran yang bermuatan ideologis dengan epistemologis filsafat Arab. Menurutnya, muatan epistemologis filsafat Arab-Islam, yakni ilmu dan metafisika memiliki dunia intelektual berbeda dengan muatan ideologisnya, karena pada muatan yang kedua (muatan ideologis) terkait dengan konflik sosio-politik ketika ia dibangun. Kedua istilah itu (epistemologis-ideologis) sering dipakai Jabiri dalam studinya tentang Akal Arab. Seorang tokoh bisa saja menggunakan pisau pemikiran yang sesuai untuk memecahkan problematika yang dihadapinya.[6]

Sistem pengetahuan bayani dibangun di atas warisan Islam “murni” yakni bahasa dan agama (yang tereduksi dalam bentuk wahyu). Bayani adalah sebuah model metodologi berfikir yang didasarkan atas teks. Teks suci al qur'anlah yang mempunyai otoritas penuh untuk memberikan arah tujuan dan arti kebenaran, sedangkan menurut metodologi ini rasio (akal) hanya berperan-fungsi sebagai pengawal bagi keamanan otoritas teks tersebut. Nalar bayani telah membesarkan disiplin fiqh dan teologi (ilmu kalam),

Tradisi bayani menyandarkan kebenaran pada otoritas teks seperti yang berkembang dalam Usuh Fiqh, Ushul Hadits, dan Tafsir. Nalar burhani berkembang dalam tradisi ilmu pasti dan sosial yang kebenarannya menuntut burhan (bukti), baik bukti empiris (indrawi), maupun logis. Pemikiran kedokteran Ibnu Sina atau teori ashabiyyah Ibn Khaldun berkembang dalam tradisi ini. Sementara dalam nalar irfani kebenaran dicapai dengan riyadah (melatih intuisi) hingga Sang Kebenaran (al-Haq, Allah SWT) menyingkapkan “kebenaran” kepada kita. Tradisi irfani lebih berkembang di kalangan sufi.

Kebenaran-kebenaran tersebut di mana saja (Barat atau Timur) diacu sesuai dengan objek yang dihadapi. Masing-masing ada level dan tempatnya. Fiqh yang didominasi nalar bayani pada level tertentu memerlukan nalar burhani karena Fiqh membutuhkannya dalam Falak dan Waris. Sementara Tasawwuf yang irfani juga sangat dekat dengan penjelasan-penjelasan logis falsafi.

Dalam sejarah, Bayani dilakoni oleh para Fuqoha (para pakar hukum islam praktis) dan Teolog (para pakar akidah islam), terutama yang bermazhab Syafi'iyah, Malikiyah, Hanbaliyah, dan Asy'ariyah. Dalam batas-batas tertentu, Muhammad Abid Al-Jabiri juga melihat pengaruh epistemologi Irfani dalam kesadaran umat Islam. Irfani ditandai dengan kepercayaan bahwa kebenaran itu bersifat intuitif. Kecenderungan ini terlihat dalam kesadaran para sufi

Jabiri mencatat adanya sebuah problematika struktural mendasar pemikiran dalam struktur Akal Arab, yaitu kecenderungan untuk selalu memberi otoritas referensial pada model masa lampau (namuzhaj salafi). Kecenderungan inilah yang menyebabkan wacana agama terlalu berbau ideologis dengan dalih otentisisme (ashalah). Padahal menurutnya, dalam membangun model pemikiran tertentu, pemikiran Arab tidak bertolak dari realitas, tetapi berangkat dari suatu model masa lalu yang dibaca ulang. Menurut Muhammad Abid Al Jabiri, tradisi (turats) dilihat bukan sebagai sisa-sisa atau warisan kebudayaan masa lampau, tetapi sebagai “bagian dari penyempurnaan” akan kesatuan dalam ruang lingkup kultur tersebut, yang terdiri atas doktrin agama dan syariat, bahasa dan sastra, akal dan mentalitas, dan harapan-harapan. Tradisi bukan dimaknai sebagai penerimaan secara totalitas atas warisan klasik, sehingga istilah otentisitas menjadi sesuatu yang debatable.

Secara jelas dan lengkap Prof. DR. H. M Amin Abdullah, Rektor UIN Sunan Kalijaga hingga sekarang (2008) dalam bukunya Islamic Studies Di Perguruan Tinggi menggambarkan skema keilmuan bayani sebagai berikut:

Ushul Fikih Dalam Bingkai Epistemologi Bayani


Bagi Muhammad Abid Al Jabiri dalam bukunya naqdu al naqli al arabi sebagai aktivitas keilmuan, nalar bayani atau bayan adalah aphoris dari proses penampakan dan menampakkan (al dhuhur dal al idhhar) serta aktuvitas memahami dan memahamkan (al fahm dan al ifham atau al tafhim). Sebagai epistemologi, bayan adalah kumpulan prinsip dasar, ketentuan dan kekuatan yang menentukan orientasi orang yang mencari pengetahuan dalam medan kognitif-retoris tanpa didasari dan tanpa bisa mengambil pilihan lain.

Apabila seseorang mengkaji ushul fikih lebih dalam paling tidak ia dalam hal ini dapat menijau dari tiga hal, yakni pertama, sudut pandang ilmu-ilmu keislaman lainya. Kedua, sudut pandang ruang lingkup. Dan ketiga, sudut pandang aplikasinya dalam masyarakat islam.Namun tidak menutup kemungkinan Ushul fikih bagi sebagian ulama' dianggap sebagai diskursus yang hanya membicarakan tentang hokum-hukum yang bersifat doktrinal. [8]

Pada kaitannya dengan trilogi epistemologi al jabiri ushul fikih berda di luarnya. memang al jabiri secara umum memasukkan ushul fikih dalam epistemology bayani. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa pendekatan bidilalati al nash. Tekstual, atau bayani memenpati posisi utama dalam kajian ushul fikih. Namun demikian, pada kenyataannya pendekatan di atas bukanlah satu-satunya pendekatan yang ada dalam ushul fikih. Karena ternyata masih ada pendekatan lain termasuk di dalAmnya yaitu epistemologi burhani .[9]

Nalar bayani yang lebih menekankan pada penjelasan dan pengotak-atikan bahasa untuk memperoleh penjelasan dan hukum, sangatlah tampak pengaruhnya jelas dalam kajian ushul fikih. Terlebih yang masuk dalam madzhab Malikiyyah, syafi'iyyah dan hanabilah karena hanafiyyah lebih cenderung mengikuti nalar ilmiyah burhani dalam berijtihad, ber-istinbat dan ber-istidlal.

Sebagai contoh konkrit adalah adanya perbedaan ushuliyyun dan fuqaha' dalam masalah saksi nikah, apakah dalam akad nikah keadilan saksi merupakan yang harus dipenuhi sebagaimana hadis nabi:

لانكاح إلا بولي وشاهدي عدل

Artinya: "Tidaklah sah suatu pernikahan sehinmgga dengan adanya wali dan dua orang saks yang adil."

Orang-orang yang menggunakan nalar bayani dalam menjelaskan hadis di atas yang meliputi golongan Malikiyyah, syafi'iyyah dan hanabilah menjelaskan bahwa keadilan saksi merupakan syarat yang mutlak dalam pernikahan. Sehingga sebagai konsekuensinya apabila suatu pernikahan tanpa ada dua orang saksi yang adil maka niscaya nikahnya belum sah menurut syara'. Pendapat ini tentunya akan sangat berbeda dengan mereka yang menggunakan nalar burhani dalam beristidlal dan beristimbath terhadap hadis di atas, mereka kebanyakan berasal dari golongan hanafiyyah (para pengikut madzhab imam abu hanifah). Menurut mereka akad nikah tetap sah dengan tidak adanya dua orang saksi yang adil. [10]

Dalam diskursus ushul fiqh, khususnya dalam bab ijtihad dikenal beberapa sumber yang melatarbelakanginya, salah satunya dan merupakan sumber yang paling dominan adalah kaidah-kaidah kebahasaan. Kaidah-kaidah kebahasaan (nahwu sharf) itu juga mencakup sastra arab yang meliputi ilmu bayan, ilmu badi' dan ilmu ma'ani. Munculnya kaidah-kaidah kebahasaan tersebut di atas menurut hemat penulis adalah bentuk konkrit dari upaya memehami pesan-pesan agama (maqashid syar'iyyah) melalui teks. Berbagai hal dilakukan untuk menjelaskan isi kandungan teks, karena orang-orang yang masuk dalam ranah epistemologi bayani ini akan selalu menjadikan teks sebagi otoritas tertinggi dalam memahami pesan-pesan keagamaan khususnya yang berhubungan dengan dunia fikih.[11]

Problematika Nalar Bayani

Kelemahan bayani adalah ketika berhadapan dengan teks yang berbeda milik komunitas atau bangsa lain. Karena otoritas terletak ditangan teks sedangkan rasio hanya berfungsi sebagai pengawal, sementara sebuah teks belum tentu diterima oleh komunitas lain, maka pada saat berhadapan dengan pertentangan tersebut nalar bayani biasanya cenderung mengambil sikap dogmatik, defensif dan apologetik, ia demikian tertutup sehingga kadang sulit untuk bisa diajak berdialog yang sehat.[12]

Kelemahan yang paling mencolok dari tradisi nalar epistemology bayani atau tradisi berpikir tekstual keagamaan adalahvketika ia berhadapan dengan teks-teks keagamaan yang dimiliki oleh komunitas, kultur bangsa dan masyarakat yang beragama lain.[13]

Penutup

Epistemologi studi-studi keislaman (islamic studies) setelah direkontruksi dengan mensitematisir pelbagai aliran pemikran dalam sejarah islam dikelompokkan dalam tiga hal. pertama , pemikiran-pemikiran filsafat yang jelas-jelas lebih menekankan pada penggunaan akal dan rasio dengan bukti-buti yang nyata, dalam keilmuan islam pemikiran yang seperti ini dinamakan bayani. Kedua, pemikiran islam atau tauhid yang lebih menekankan pada teks-teks naqliyah dengan sedikit bumbu akliyah dalam keilmuan islam pemikiran yang seperti ini dinamakan bayani.Ketiga, pemikran tasawuf yang lebih menekankan pada penggunaan rasa atau dzauq dengan bukti-bukti yang sulit untuk dipertanggungjawabkan dalam keilmuan islam pemikiran yang seperti ini dinamakan 'irfani.

Sistem pengetahuan bayani dibangun di atas warisan Islam “murni” yakni bahasa dan agama (yang tereduksi dalam bentuk wahyu). Bayani adalah sebuah model metodologi berfikir yang didasarkan atas teks. Teks suci al qur'anlah yang mempunyai otoritas penuh untuk memberikan arah tujuan dan arti kebenaran, sedangkan menurut metodologi ini rasio (akal) hanya berperan-fungsi sebagai pengawal bagi keamanan otoritas teks tersebut. Nalar bayani telah membesarkan disiplin fiqh dan teologi (ilmu kalam),

Ternyata nalar bayani tidak bisa jauh dari kelemahan-kelemahan, salah satunya ketika berhadapan dengan teks yang berbeda milik komunitas atau bangsa lain. Pada saat berhadapan dengan pertentangan tersebut nalar bayani biasanya cenderung mengambil sikap dogmatik, defensif dan apologetik, ia demikian tertutup sehingga kadang sulit untuk bisa diajak berdialog yang sehat.

Catatan Kaki

[1] M. Amin Abdullah, Islamic studies (Yogyakarta:Pustaka Pelajar,2006) hal. 200

[2] Muhammad al-Jabiri lahir di Figuig, sebelah selatan Maroko pada tahun 1936. dan pendidikannnya dimulai dari tingkat ibtidaiyah di madrasah Burrah Wataniyyah, yang merupakan sekolah agama swasta yang didirikan oleh oposisi kemerdekaan. Setelah itu ia melanjutkan pendidikannya di sekolah menenggah dari tahun 1951-1953 di Casablanca dan memperoleh Diploma Arabic high School setelah Maroko merdeka. Sejak awal al-Jabiri telah tekun mempelajari filsafat. Pendidikan filsafatnya di mulai tahun 1958 di univeristas Damaskus Syiria. Al-Jabiri tidak bertahan lama di universitas ini. Setahun kemudian dia berpindah ke universitas Rabat yang baru didirikan. Kemudian dia menyelesaikan program Masternya pada tahun 1967 dengan tesis Falsafah al-Tarikh Inda Ibn Khaldun, di bawah bimbingan N. Aziz Lahbabi ( w.1992), dan gurunya juga seorang pemikir Arab Maghribi yang banyak terpengaruh oleh Bergson dan Sarter.Al Jabiri muda merupakan seorang aktvis politik berideologi sosialis. Dia bergabung dengan partai Union Nationale des Forces Populaires (UNFP), yang kemudian berubah menjadi Union Sosialiste des Forces Populaires (UNSFP). Pada tahun 1975 dia menjadi anggota biro politik USFP. Di samping aktif dalam politik, Jabiri juga banyak bergerak di bidang pendidikan. Dari tahun 1964 dia telah mengajar filsafat di Sekolah Menengah, dan secara aktif terlibat dalam program pendidikan nasional. Pada tahun 1966 dia bersama dengan Mustafa al-Qomari dan Ahmed Sattati menerbitkan dua buku teks, pertama tentang pemikiran Islam dan kedua mengenai filsafat, untuk mahasiswa S1

[3] M.Amin Abdullah dkk, Madzhab Jogja Menggagas Paradigma Ushul Fiqh Kontemporer (Yogyakarta:Arruz Press),hlm 40

[4]http://maftuhin.wordpress.com/category/political-islam/

[5] http://www.imm.or.id/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=245

[6] Http://kemonbaby.multiply.com/sistem-islam3kj=9kl;,/

[7] M. Amin Abdullah, Islamic studies (Yogyakarta:Pustaka Pelajar,2006) hal 215-216

[8] M.Amin Abdullah dkk, Madzhab Jogja Menggagas Paradigma Ushul Fiqh Kontemporer (Yogyakarta : Arruz Press) hlm 50-51

[9] M.Amin Abdullah dkk, -----------------hlm 50-51

[10] Abdurrahman Al Jazairy ,Kitabul Fiqhi 'Ala Al Madzhib Al Arba'ah, Beirut:Darul Fikr,t.th. hlmn 718

[11] Muhsien Labib, Hukum Islam, Malang : Yayasan Al Kautsar,hlm 51

[12] . (untuk lebih lanjut lihat Farid Esack, Qur'an, Liberation and Pluralism: 2006)

[13]. Studi yang cukup mendalam tentang ini lebih lanjut lihat Farid Esack, "mendefinisikan kembali diri sendiri dan orang lain: iman, islam dan kufr, juga al quran dan kaum lain : pluralisme dan keadilan, dalam bukunya yang diterjemahkan ke dalam bahasa indonesia menjadi Al Quran, Liberalisme, Pluralisme: Membebaskan Yang Tertindas, Bandung: Mizan,2001



0 Response to "Pengertian Nalar Bayani dalam Ushul FIqih"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!