Peranan Mazhab Fikih dalam Pembentukan dan Perkembangan Hukum Islam

Advertisement

Peranan Mazhab Fikih dalam Pembentukan dan Perkembangan Hukum Islam
Masa kemunculan mazhab-mazhab fikih ditandai dengan banyak ulama yang memberikan fatwa. Selain itu, para fukaha semakin banyak mempersoalkan masalah-masalah hukum untuk diberi jawabannya. Hal ini melahirkan banyak perbedaan pendapat mengenai masalah-masalah fikih. Banyaknya perbedaan semakin meningkatkan aktifitas fukaha di bidang fikih, sehingga memperkaya khazanah fikih Islam.
Pada masa ini, terjadi pembukuan fikih. Semua masalah yang berkaitan satu sama lain, dikumpulkan dalam satu tema dan bab khusus. Hukum-hukum fikih tersebut disertai landasan argumen-argumen penguat serta penjelasan tentang ilatnya. Fikih saat itu menjadi ilmu yang mencakup banyak masalah yang bersifat umum. Masalah-masalah tersebut ada yang sesuai dengan realitas saat itu, ada pula yang masih bersifat hipotesa. Usaha pembukuan fikih ini melahirkan beragam ensiklopedi fikih Islam lintas mazhab.
Selain pembukuan fikih, terjadi pula pembukuan usul fikih. Masing-masing mujtahid pada masa ini mengemukakan dasar-dasar pemikiran dan kaidah-kaidah dalam mengistinbat hukum dari dalil-dalil yang rinci. Kaidah-kaidah tersebut dilontarkan ditengah-tengah setiap masalah hukum. Imam Malik mengemukakan banyak kaidah dan dasar pemikirannya dalam kitab Muwatta’. Demikian pula Imam Abu Hanifah dan para muridnya terutama Imam Abu Yusuf menyusun sebuah kitab usul fikih mazhab Hanafi. Namun kitab yang disusun Abu Yusuf tidak sistematis seperti kitab al-Risalah karya Imam al-Syafi’i. Oleh karena itu, Imam al-Syafi’i dianggap sebagai orang pertama mengumpulkan masalah-masalah usul fikih dalam sebuah kitab yang tersusun secara sistematis dan kaidah-kaidahnya dipaparkan dalam format ilmiah.

Peranan Mazhab dalam Pembentukan dan Perkembangan Hukum Islam

Secara singkat dapat dikatakan bahwa era ini telah meninggalkan khazanah fikih Islam yang sangat kaya. Pemerintah Islam saat itu mendapatkan aturan-aturan hukum Islam di segala lini kehidupan. Bahkan kekayaan fikih tersebut masih dijadikan rujukan oleh mayoritas muslim hingga saat ini.
Tokoh-tokoh Mazhab Suni.
Mazhab-mazhab fikih yang muncul pada periode kelahiran mazhab-mazhab, tidak terbatas pada empat mazhab terkenal yaitu, Mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali. Taha Jabir al-‘Alawaniy berkesimpulan bahwa saat itu muncul sekitar tiga belas mazhab yang semuanya berafiliasi sebagai mazhab Suni. Namun hanya sembilan mazhab saja yang dapat diketahui dengan jelas dasar-dasar dan metode fikihnya yang mereka pergunakan. Dengan kata lain, dari tiga belas mazhab yang muncul saat itu, hanya sembilan mazhab yang masuk nominasi untuk memperoleh legitimasi dari generasi berikutnya. Para imam mazhab-mazhab fikih itu adalah:
Pertama: Imam Abu Sa‘id Hasan ibn Yasar al-Basriy (wafat 110 H).
Kedua: Imam Abu Hanifah al-Nu‘man ibn Sabit ibn Zutiy (wafat 150 H).
Ketiga: Imam al-Awza‘iy Abu ‘Amr ‘Abd al-Rahman ibn ‘Amr ibn Muhammad (wafat 157 H).
Keempat: Imam Sufyan ibn Sa‘id ibn Masruq al-Sawriy (wafat 160 H).
Kelima: Imam Lays ibn Sa‘ad (wafat 175 H).
Keenam: Imam Malik ibn Anas al-Asbahiy (wafat 179 H).
Ketujuh: Imam Sufyan ibn ‘Uyaynah (wafat 198 H).
Kedelapan: Imam Muhammad ibn Idris al-Syafi‘iy (wafat 204 H).
Kesembilan: Imam Ahmad ibn Muhammad ibn Hanbal (wafat 241 H).
Urgensi Mazhab dan Perlukah Mazhab.
Perbedaan memahami hukum Islam yang bersifat parsial (furu‘) adalah suatu keniscayaan yang tidak terelakkan. Perbedaan tersebut sesuai dengan karakter agama Islam, bahasa Arab, manusia dan alam. Allah swt., telah menjadikan hukum-hukum-Nya ada yang tersurat dalam teks, ada pula yang tersirat, ada teks yang qat‘i dan zanni, ada yang sarih dan muawwal. al-Qur’an dan hadis merupakan sumber utama ajaran Islam adalah berupa teks-teks yang perlu dipahami dan ditafsirkan. Pemahaman dan penafsiran terhadap al-Qur’an dan hadis sangat dipengaruhi oleh faktor bahasa seperti, lafal musytarak, ‘am, khas, mutlaq, muqayyad, sehingga sangat mungkin mengundang perbedaan. Demikian pula faktor manusia yang diciptakan dengan karakter dan kemampuan berbeda-beda. Keragaman karakter dan kecenderungan menyebabkan keragaman menilai dan bersikap. Hal ini sangat jelas terlihat pada karakter Abu Bakar dan Umar, juga antara Ibnu Abbas dan Ibnu Umar. Faktor lain yang memicu perbedaan adalah alam dan kehidupan manusia yang selalu berubah sesuai perbedaan waktu dan tempat.
Keragaman mazhab fikih sekarang lahir dari perbedaan dan keragaman yang telah menjadi keniscayaan dan tak terelakkan. Jika keberadaan mazhab tidak bisa dipungkiri, apakah bermazhab itu perlu? Sebelum menjawab perlu atau tidak bermazhab, terlebih dahulu harus diketahui pengertian bermazhab.
Istilah bermazhab tidak identik dengan bertaklid. Alasan paling penting adalah bahwa cakupan taklid sangat terbatas atau sempit dibandingkan dengan cakupan istilah bermazhab. Taklid biasanya didefinisikan dengan “Menerima pendapat orang lain tanpa mengerti argumentasi/dalilnya”. Selain itu, orang bertaklid biasanya dianggap tidak tersentuh oleh ijtihad, sehingga berbeda dengan bermazhab. Sebab dalam sejarahnya, banyak ulama terkemuka yang mengaku melakukan ijtihad, namun dalam waktu bersamaan juga mengaku bermazhab.
Wahbah al-Zuhayliy mengemukakan tiga pendapat ulama ushul fikih tentang keharusan bermazhab. Pertama, pendapat yang mengharuskan berpegang pada satu mazhab tertentu. Alasannya adalah bahwa orang yang meyakini suatu pendapat atau mazhab, berarti meyakini kebenaran mazhab tersebut. Oleh karena itu, wajib mengamalkan kebenaran yang diyakininya. Kedua, pendapat yang tidak mengharuskan berpegang pada satu mazhab tertentu. Bagi orang yang menganut suatu mazhab dapat berpindah ke mazhab yang lain. Mayoritas ulama beralasan bahwa Allah dan Rasul-Nya tidak mewajibkan berpegang pada satu mazhab tertentu. Tapi yang wajib adalah mengikuti ulama mana saja yang termasuk ahl al-zikr. Berpegang pada satu mazhab saja dapat membawa kesulitan dalam mengamalkan hukum Islam. Padahal mazhab itu adalah rahmat bagi umat Islam. Ketiga, jika sesorang berpegang pada satu mazhab dalam masalah tertentu, maka tidak boleh mengikuti mazhab lain dalam masalah yang sama. Adapun berkaitan masalah yang lain, boleh saja mengikuti mazhab yang berbeda. Pendapat ini dianut oleh al-Amidiy dan Kamal ibn al-Humam.
Jika mazhab diartikan sebagai hasil ijtihad seorang imam tentang hukum suatu permasalahan yang belum ditegaskan dalam nas, maka ulama yang mampu berijtihad wajib berijtihad dan mengamalkan hasil ijtihadnya. Sedangkan orang yang tidak mampu berijtihad, sebaiknya mengamalkan hasil ijtihad salah seorang imam mujtahid. Karena orang awam dan ulama yang belum mencapai derajat mujtahid bila diperbolehkan untuk tidak bermazhab, mereka akan memilih yang ringan dan mudah saja. Hal ini akan membawa akibat lepasnya tuntutan taklif.
Adapun mazhab dalam pengertian hasil ijtihad imam tentang kaidah-kaidah istinbat untuk menggali suatu hukum, maka ulama yang tidak mampu merumuskan kaidah-kaidah istinbat mereka harus bermazhab apabila hendak menggali hukum. Ulama yang tergolong mujtahid muntasib, mujtahid fatwa atau mujtahid tarjih wajib berpegang pada kaidah-kaidah istinbat yang dianut imamnya ketika melakukan istinbat hukum. Sedangkan orang awam dan ulama yang tidak mampu menggali hukum, tidak wajib bagi mereka bermazhab menurut pengertian kedua.
Catatan Tulisan
Rasyad Hasan Khalil, Tarikh al-Tasyri‘ al-Islamiy Adwar Taawwurihi wa Masadiruhu wa Mazahibuhu (t.t., t.p., 2002 M/1423 H), h. 124.
Lihat Sya‘ban Muhammad Isma‘il, al-Tasyri‘ al-Islamiy Masadiruhu wa Atwaruhu (Cet. II; Kairo: Dar al-Ittihad al-‘Arabiy li al-Tiba‘ah, 1985 M/1404 H), h. 357-358. Lihat pula Mun’im Sirry, Sejarah Fiqih Islam (Cet. II; Surabaya: Risalah Gusti, 1996), h. 62.
Taha Jabir al-‘Alawa.niy, Adab al-Ikhtilaf fi al-Islam (Cet. V; Virginia: Al-Ma‘had al-‘Alamiy li al-Fikr al-Islamiy, 1992 M/1413 H), h. 88.
Lihat Yusuf al-Qardawiy, al-Sahwah al-Islamiyyah bayn al-Ikhtilaf al-Masyru‘ wa al-Tafarruq al-Mazmum (Cet. V; Kairo: Dar al-Wafa’, 1994 M/1415 H), h. 59-70.
A. Qadri Azizy, Reformasi Bermazhab (Cet. II; Bandung: Teraju, 2003), h. 2.
Wahbah al-Zuhayliy, al-Rukhas al-Syar‘iyyah (Cet. I; Beirut: Dar al-Khayr, 1993 M/1413 H), h. 17-18.

0 Response to "Peranan Mazhab Fikih dalam Pembentukan dan Perkembangan Hukum Islam "

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!