Posisi Ijtihad pada Masa Nabi

Advertisement
Posisi Ijtihad pada Masa Nabi


Pada masa Nabi, apabila suatu pertanyaan atau suatu peristiwa yang belum ada hukumnya, maka nabi menunggu wahyu turun. Kemudian adakalanya wahyu pun turun untuk menerangkan hukum tersebut. Apabila wahyu belum turun, Nabi pun berijitihad dengan berpedoman kepada ruh syari’at kemaslahatan umat dan permusyawaratan, dan jika ijtihad nabi tidak tepat atau tidak benar, maka segera turun wahyu untuk membetulkannya. Jadi, ijtihad pada masa Nabi pun sudah berlaku, walaupun dalam lapangan yang sangat terbatas, mengingat wahyu masih turun.

Mengenai ijtihad yang dilakukan Nabi sendiri, terdapat perbedaan pendapat dikalangan ulama. Ulama Asy’riah dan Muktazilah berpendapat, bahwa Nabi tidak berijtihad terhadap penetapan hukum yang belum ditetapkan oleh al-Qur’an. Maksudnya, Nabi menunggu wahyu untuk menetapkan hukum itu, tidak berijtihad sendiri. Sebaliknya Jumhur Ahli Ushul berpendapat, bahwa Nabi boleh melakukan ijtihad. Kedua pendapat ini akan dikemukakan alasan masing-masing, Sebagai berikut;

Posisi Ijtihad pada Masa Nabi

Pertama: pendapat yang mengatakan bahwa Nabi tidak berijtihad, beralasan: Firman Allah swt., dalam surat an-Najm/53: 3-4.

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى.إِنْ هُوَ إلاَّ وَحْيٌ يُوْحَى

Artinya: Dan dia tidak berkata menurut kemaun hawa hawa nafsunya sendiri. Perkataan itu tidak lain adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).
Kalau Nabi dibenarkan berijtihad, tentu Nabi tidak perlu menunggu wahyu sewaktu ada pertanyaan, sehingga turun ayat seperti: masalah perang di bulan haram, masalah minuman yang memabukkan dan masalah menstruasi/haid. Allah berfirman:

¬¬يَسْئَلُوْنَكَ عَنِ الشَّهْرِ الْحَرَامِ قِتَالٍ فِيْهِ قُلْ قِتَالٌ فِيْهِ قُلْ قِتَالٌ فِيْهِ كَبِيْرٌ (البقرة :217 )

Berpegang kepada ijtihad kurang kuat dibanding berpegang kepada wahyu, sebab berpegang kepada ijtihad, memungkinkan orang berbuat salah, sedangkan berpegang kepada wahyu tidak demikian.

Kedua: Jumhur Ahli Ushul berpendapat, bahwa Nabi boleh melakukan ijtihad dengan alasan-alasan:
Firman Allah swt.,dalam surat al-Hasyr/59: 2.

فَاعْتَبِرُوْا يَاأُوْلِى الأَبْصَارِ

Maka hendaklah kemu mengambil I’tibar wahai orang-orang yang mempunyai pandangan (akal).

Kalau dibenarkan dan diperkenakan berijtihad bagi para mujtahid yang mungkin ijtihadnya itu benar atau salah, maka apakah Rasul yang terjaga dari perbuatan salah tidak dibenarkan berijtihad?. Kemudian apabila ternyata ijtihad beliau itu salah, maka segera dibenarkan oleh Allah. Dengan demikian tidak perlu ragu-ragu berijtihad untuk menyelesaikan suatu masalah.

Mencegah ijtihad berarti melemahkan daya nalar, sedangkan al-Qur’an mengisyaratkan supaya manusia ini berpikir, tidak terkecuali Nabi Muhammad sebagai pembawa wahyu Allah.

Kenyataan menunjukkan bahwa Nabi pernah melakukan ijtihad seperti:
Soal tawanan perang Badar, Nabi mengambil keputusan (berijtihad) untuk menerima tebusan bagi tawanan perang, tetapi tidak dibenarkan keputusan itu oleh Allah. Firman Allah Q.S. al-Anfal/8: 67.
مَاكَانَ لِنَبِيٍّ أَنْ يَكُوْنً لَهُ آسْرَى حَتَّى يُثخِنَ فِى الأَرْضِ

Artinya: Tidaklah pantas bagi Nabi mengadakan tawanan, sebelum ia dapat melumpuhkan musuh di muka bumi.
Daftar Rujukan
Departemen Agama RI. Alquran dan Terjemahannya. Diponegoro: Al-Hikmah, 2008.
Hasan, Muhammad Ali. Perbandingan Madzhab. Cet. 2; Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 1998.
Syarifuddin, Amir. Ushul Fiqh. Jilid, 2, Cet, 1; Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999.

0 Response to "Posisi Ijtihad pada Masa Nabi"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!