Sejarah dan Faktor Perbedaan Pendapat Para Imam Mazhab

Advertisement
Sejarah dan Sebab-sebab Perbedaan Pendapat Para Imam Mazhab
Perjalanan sejarah fikih Islam, dikenal beberapa mazhab fikih. Berdasarkan keberadaannya, mazhab fikih ada yang masih utuh dan dianut masyarakat tertentu, namun ada pula yang telah punah. Mazhab Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah terdiri atas empat mazhab populer yang masih utuh sampai sekarang yaitu, Mazhab Hanafi, Mazhab Maliki, Mazhab Syafi’i dan Mazhab Hanbali. Sejarah mencatat terdapat enam fase dari perkembangan fikih yaitu :
fikih pada era kenabian, merupakan ‘asru al-tasyri’ (masa turnnya syariat).
Era al-Khulafa al-Rasyidun, pada periode ini fikih masih tetap seperti periode pertama (era kenabian) meskipun telah meluasnya wilayah Islam dan bercampurnya orang–orang Arab dengan orang–orang asing turut menghadirkan tuntutan bagi perkembangan kajian fikih. Sehingga mulailah terjadi dari sahabat dalam memahami nas. Dimulai sejak wafatnya Nabi Muhammad saw. pada tahun 11 Hijriyah dan berakhir ketika Muawiyah bin Abu Sofyan menjabat sebagi khalifah pada tahun 41 Hijriyah.
Periode ketiga adalah fikih dalam era sigar al-sahabah dan tabi’in. perluasan wilayah Islam dengan sendirinya menjadikan para fukaha tersebar di seluruh daerah yang telah dibuka sehingga memberikan pengaruh tersendiri pada perkembangan fikih. Di antara pengaruh itu yang terpenting adalah munculnya dua kecenderungan ahli Hijaz di Madinah dan ahli ra’yu di Irak, dimana keduanya sama mengkaji fikih dengan metodenya yang khusus. Dimulai tahun 41 Hijriyah dan berakhir hingga awal abad kedua hijriyah.

 Sejarah dan Faktor Perbedaan Pendapat Para Imam Mazhab  2
Periode keempat adalah Fikih pada era keemasan yang dtandai dengan perkembangan gerakan ilmiah dan kodifikasi ilmu dalam Islam, mencapai puncaknya dengan munculnya empat mazhab fikih dalam Islam yang hingga kini tetap menjadi kerangka rujukan umat Islam. Di masa ini pula mulai dirintis penulisan tafsir, hadis, fikih dan usul fikih.
Periode kelima adalah fikih dalam era jumud dan stagnasi. Lemahnya kekuasaan kaum muslimin dan terpecah–pecahnya kekuatan mereka banyak mempengaruhi kemacetan dan kejumudan fikih. Pada periode ini muncul fatwa ulama yang terkenal bahwa “pintu ijtihad telah ditutup” dan terjadilah fanatisme yang berlebihan terhadap mazhab–mazhab tertentu.
Periode keenam adalah fikih dalam era kebangkitan kembali dimulai sekitar abad ke 13 Hijriyah hingga sekarang ini yang ditandai dengan menipisnya fanatisme mazhab dan adanya usaha keras fukaha dan mujtahid untuk menghidupkan kembali kajian fikih.
Sebab–sebab terjadinya perbedaan Pendapat Imam Mazhab
Pada masa ketiga, mulai timbul munazarah (pertukaran pikiran) dan perselisihan paham yang luas dan mengakibatkan timbulnya khitta–khitta baru dalam mentasyrikkan hukum. Terjadinya perselisihan paham di masa sahabat itu karena perbedaan paham dan perbedaan nas yang sampai pada mereka dalam soal hadis tidak sama, dan karena itu pula terjadi perbedaan pandangan tentang maslahah yang menjadi dasar bagi penetapan suatu hukum, di samping itu juga karena perbedaan lingkungan atau tempat tinggal. Hal-hal tersebut yang menimbulkan perbedaan fatwa dan hukum walaupun mereka sepakat dalam menetapkan dasar–dasar tasyrik yang umum, disamping itu perbedaan dalam furu’ (cabang) walaupun mereka sepakat dalam hal pokok.
Sesudah kekuasaan tasyrik dikendalikan oleh para mujtahidin seperti Imam–imam mazhab yang empat beserta sahabat–sahabatnya, terjadi perbedaan paham yang tadinya terbatas, menjadi luas tidak terbatas lagi pada sebab–sebab yang tiga, melainkan melampaui batas–batas yang lain bahkan mengenai sumber dan kecenderungan dalam segi membahas. Perselisihan tidak lagi terbatas pada masalah-masalah furu’iyah, bahkan terjadi pula dalam soal pokok. Ada tiga pokok yang mendasari perbedaan paham diantara mujtahidin (imam-imam mazhab) adalah :
Perbedaan Pendapat karena Dasar–Dasar Tasyrik
Hal ini terjadi perselisihan mengenai jalan menerima hadis dan dasar–dasar yang dipergunakan untuk mentarjihkan hadis dan dasar–dasar lainnya.
Para imam berbeda (berlainan) pendapat tentang jalan menerima hadis itu. Mujtahidin Irak seperti Abu Hanifah dan sahabat–sahabatnya berhujah dengan hadis mutawatirah dan masyhurah, dan mentarjihkan hadis-hadis yang diriwayatkan oleh fukaha yang kepercayaan.
Mujtahidin Madinah seperti Malik dan sahabat–sahabatnya mentarjihkan hadis–hadis yang diriwayatkan oleh ulama–ulama Madinah dan meninggalkan hadis–hadis ahad yang menyalahi amalan–amalan ulama Madinah.
Imam yang lain berhujah dengan hadis–hadis yang diriwayatkan oleh perawi–perawi yang adil, kepercayaan, baik dari golongan fukaha maupun baik yang sesuai dengan amalan ulama Madinah, ataupun tidak.
Ulama Irak menetapkan masyhur di tempat mutawatir, mereka menjadikannya pen-takhsis al-Qur’an dan pen-taqyid yang mutlak, sedangkan ulama lain tidak memberikan yang masyhur kekuatan mutawatir, mereka berbeda pula dalam mendefinisikannya.
Sedangkan ahli tasrik berhujah dengan hadis mursal, yaitu hadis yang diriwayatkan oleh tabi’in dengan tidak menyebutkan sahabat yang menerima dari Rasul yang menyampaikan kepadanya, yakni dengan mengatakan Rasulullah menyuruh begini atau melarang begitu, tidak menegaskan bahwa dia mendengar sendiri dari Nabi (sedang dia tidak mengalami masa nabi).
Ikhtilaf tentang jalan menerima hadis ini menimbulkan perbedaan pendirian yaitu sebagian ulama menerima sesuatu hadis dan yang lainnya menolak hadis itu, dan sebagian ulama memandang rajih suatu hadis, dan sebagian lain memandang marjuh (lemah) hadis itu.
Imam Malik mengambil makna yang beliau pandang kuat dari fatwa–fatwa itu, akan tetapi tidak berpegang kepada seorang saja. Dan beliau tidak menyalahi fatwa itu.
Imam Syafi’i memandang bahwa fatwa sahabat itu adalah fatwa yang merupakan hasil ijtihad orang–orang yang tidak ma’sum. Oleh karena itu kadang–kadang beliau mengambil salah satu dari fatwa sahabat dan kadang–kadang beliau memberi fatwa yang berbeda dengan fatwa sahabat.
Terdapat pula perbedaan pandangan dan penilaian terhadap kias, mazhab Hanafi lebih banyak menggunakankias dibanding dengan mazhab Malik, Syafi’I dan Ahmad ibn Hambal.
Perbedaan Pendapat karena Kecenderungan dalam ber-istinbat
Kalangan ahli ijtihad melahirkan dua kecenderungan dalam berijtihad, yakni :
Kecenderungan ahli (ulama) Hijaz, dan
Kecenderungan ahli (ulama) Irak.
Ulama–ulama Hijaz dalam beberapa hal pemakaian rasio (rakyu) terbatas, sedangkan ulama Irak tidak membatasi pemakaiannya. Tetapi tidak berarti bahwa ulama Hijaz sama sekali tidak memakai kias, demikian pula dengan ahli rakyu sama sekali tidak memakai hadis.
Ulama–ulama Irak dinamakan ahli rakyu karena dalam menetapkan hukum mereka memperhatikan maksud–maksud syariah dan sendi–sendi tasyrik. Mereka berpendapat bahwa segala hukum syariah ma’qul maknanya. Dan yang dimaksud dengan hukum adalah kemaslahatan umum. Dan semua hukumitu berpegang pada satu prinsip dan menuju kepada suatu tujuan. Karena itu tidak ada pertentangan antara nas dengan hukum. Atas dasar inilah mereka memahami nas dan mentarjihkan yang sebagian dari yang sebagian dan ber-istinbat dari yang tidak ada nas, walaupun kadang–kadang mereka mempergunakan nas tidak menurut lahirnya atau mentarjihkan sesuatu nas atas yang lain, berdasarkan kepada prinsip-prinsip umum dam maksud syariah.
Ulama–ulama Hijaz berusaha menghafal hadis dan fatwa–fatwa sahabat. Mereka menetapkan hukum berdasarkan kepada paham yang mereka peroleh dari ibarat, susunan kata dalam hadis dan perkataan sahabat dengan tidak membahas ilat–ilat (causalita) hukum. Apabila mereka memperoleh sesuatu pengertian dari nas yang tidak sesuai dengan pendapat akal, mereka berkata inilah nas dan karena itu pula mereka tidak meluaskan bidang kias.
Sebab–sebab yang menimbulkan dua kecenderungan itu adalah karena hadis dan fatwa–fatwa sahabat tidak banyak tersebar di Irak, sehingga penggunaan akal mendapat porsi yang lebih besar, lain halnya di Hijaz. Ulama-ulama Hijaz memperoleh as\ar yang cukup banyak yang dapat dijadikan pegangan. Di samping itu kota Irak pada itu adalah waktu kota yang penuh dengan kekacauan dan banyak terdapat hadi–hadis palsu, demikian pula dengan beraneka ragamnya muamalat, adat istiadat, lain halnya dengan Hijaz jarang sekali mendapatkan hal–hal baru, dan keadan masyarakat yang tidak sama dengan Irak.
Perbedaan Pendapat karena Prinsip Bahasa
Perbedaan paham antara para mujtahid selain karena dasar tasyrik dan kecenderungan mereka, juga karena pemahaman terhadap bahasa yang berbeda. Diantara mereka ada yang berpendapat, bahwa sesuatu nas itu menetapkan sesuatu hukum pada mantuq-nya (yang jelas ditunjuk oleh kata – kata itu) dan menimbulkan kontra hukum pada mafhum-nya (pengertian yang diambil dari keseluruhan susunan kalimat, bukan yang jelas ditunjuk oleh kata–katanya), ada pula yang tidak berpendapat demikian. Mereka berpendapat bahwa ‘am (kata–kata yang artinya umum) yang belum di-takhsis-kan (dibatasi dengan sesuatu ketentuan) itu, memberikan manpaat yakin dalam mencakup afrad–afradnya (bagian–bagian yang masuk dalam pengertian yang umum itu). Ada pula yang berpendapat bahwa ‘am yang belum ditakhsiskan tidak memberi faedah ‘am dalam mencakup semua afrad–afradnya.
Di antara mereka ada yang berpendapat, mutlak dipautkan dengan muqayyad, hanya apabila bersatu antara hukumnya dengan sebabnya. Adapula yang berpendapat bahwa amr (kata perintah), menunjukkan kepada yang wajib (al-‘amru li. Al-wujub) bukan menunjuk kepada sunat atau lainnya, kecuali ada qarinah (dalil yang menunjukinya). Sedangkan yang lain berpendapat bahwa amr itu hanya menunjuk kepada suruhan saja, bukan kepada yang lainnya. Qarinahlah yang menunjukkan kepada wajib atau sunat atau mubah.
Sebab–sebab perbedaan itu karena dipengaruhi oleh beberapa faktor : sosiologis, geografis, antropologis, dan physicologis.
Rujukan Tulisan
Mun’in A. Sirry, Sejarah fiqih islam (sebuah pengantar), cet. II, risalah Gusti,1995, h.20-21
Tengku Muhammad Hasby ash-Shieddiqy, Pengantar Ilmu Fiqh :cet. II, PT. Pustaka Rizqi Putra, Semarang, 1999, h.67-71.

0 Response to "Sejarah dan Faktor Perbedaan Pendapat Para Imam Mazhab "

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!