Siapa Sajakah yang Boleh Berijtihad?

Advertisement
 Siapa Sajakah yang Boleh Berijtihad?


Persoalan utama dalam membahas perkembangan ijtihad adalah: sejak kapankah ijtihad itu sudah dimulai (berlaku); apakah pada masa kini ini masih berlaku dan bagaimana kemungkinan berlakukanya untuk masa mendatang.

Kalau membicarakan awal berlakunya ijtihad tentu kita akan menoleh ke masa paling dini dari keberadaan hukum Islam, yaitu semenjak masa kehidupan Nabi. Para ulama berbeda pendapat apakah Nabi boleh berijtihad pada masalah hukum syari’at yang tidak ditemukan petunjuk jelas dalam Al-Qur’an?

Ahmad bin Hanbal dan Qadi Abu Yusuf mengatakan, Nabi boleh berijtihad pada masalah-masalah yang tidak ditemukan dalil penunjukannya. Abu Ali al-Jabai dan anaknya Abu Hasyim mengatakan, Nabi tidak boleh berijtihad dalam hukum syari’at. Sementara Imam Syaf’i dalm kitabnya ar-Risalah membolehkan Nabi berijtihad dengan ijtihad tanpa batas, pendapat ini serupa dengan pendapat teman-teman Imam Syafi’i seperti al-Qadi ‘Abdu Jabbar dan Abu Al-Husain al-Basri. Sebagian ulama menilai bahwa nabi hanya boleh berijtihad dalam masalah kemeliteran dan perang, bukan pada masalah hukum syari’at.

Siapa Sajakah yang Boleh Berijtihad?

Pengarang buku al-Ahkam fi Ushul al-Ahkam Imam Saifuddin Abi al-Hasan memilih pendapat tentang pembolehan Nabi melakukan ijtihad pada masalah yang tidak ditemukan petunjuk dalilnya secara jelas. Baik dari sisi logika maupun dalil mendukung pendapat tersebut. Bahwa dari sisi logika, usaha ijtihad dapat bernilai ibadah kepada Allah bagi pelakunya, seperti sabda Nabi: 

حُكْمِيٌّ عَلَيْكَ أَنْ تَجْتَهِدَ وَتَقَيَّسَ 

Pada masalah penentuan hukum (yang tidak dijelaskan kepastian dalilnya), maka kalian boleh berijtihad dan berqiyas.

Hadis ini dari sisi logika, ijtihad tidak bertentangan dengan akal manusia. Dari sisi dalil baik al-Qur‘an dan hadis, keduanya mendukung usaha ijtihad dan menganjurakan pelaksanaanya, seperti pada firman Allah pada Q.S. al-Hasyr/59: 2.

 فَاعْتَبِرُوْا يَاأُوْلِى الأَبْصَارِ

Maka hendaklah kamu mengambil I’tibar wahai orang-orang yang mempunyai pandangan (akal).

Lafadz ulil abshar pada ayat ini berkonotasi umum dan berlaku untuk semua orang yang memiliki kafasitas untuk hal itu, sementara Nabi diantara mereka adalah orang yang lebih pantas dan lebih berkualitas. Dan ijtihad selain berlaku kepada Nabi, juga kepada Nabi-Nabi sebelumnya.Dan firman Allah pada ayat lain Q.S. an-Nisa/4: 105.

 إِنَّا أَنزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ بِمَا أَرَاكَ اللّهُ وَلاَ تَكُن لِّلْخَآئِنِينَ خَصِيماً 

Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat.

Rujukan Tulisan
Departemen Agama RI. Alquran dan Terjemahannya. Diponegoro: Al-Hikmah, 2008.
Syarifuddin, Amir. Ushul Fiqh. Jilid, 2, Cet, 1; Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999.

 

0 Response to "Siapa Sajakah yang Boleh Berijtihad?"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!