Studi Pemikiran Ali Musthafa Yaqub pada Kritik Hadis

Advertisement
 

Pendahuluan 

Meneliti kebenaran suatu berita, merupakan bagian dari upaya membenarkan yang benar dan membatalkan yang batil. Kaum muslim sangat besar perhatiannya dalam segi ini, baik untuk penetapan suatu pengetahuan atau pengambilan suatu dalil. Terlebih jika hal itu berkaitan dengan riwayat hidup Nabi mereka atau ucapan dan perbuatan yang dinisbahkan kepada beliau.[1] Secara de facto hadis sebagian periwayatnnya berlangsung secara mutawatir dan sebagian lagi secara ahad, begitu pula masalah kodifikasi hadis yang resmi pun baru dirintis pada masa khalifah Umar bin Abdul Aziz (w. 110 H/ 720 M) melalui usaha keras Muhammad bin Muslim bin Syihab al-Zuhri (w. 124 H/742 M).[2] Atas fakta historis inilah nampaknya Ali Musthafa Yaqub dengan gigih membantah asumsi-asumsi orientalis, tidak hanya sampai pada ranah ini beliau juga berusaha men-teorisasi metode-metode kritik hadis terkait problem orisinalitas hadis Nabi.
 
Pemikiran Ali Musthafa Yaqub pada Kritik Hadis

Tidak hanya menelisik bagaimana metode-metode kritik hadis yang ditawarkan oleh Ali Musthafa Yaqub, dalam makalah ini juga penulis akan melacak, mengungkap arah serta metodenya dengan meneliti melalui kritik-kritik yang dilontarkannya kepada kritikus hadis lainnya. 
 
Baca juga Artikel Hadis Lainnya:
  1. Metode Fazlur Rahman dalam Memahami Hadis
  2. Contoh Makalah Pemikiran Islam di Bidang Hadis
  3. Peranan Muhammad Yunus dalam kajian Hadis Indonesia
 
a. Aktivitas Keilmuan dan Karir Pendidikan Ali Musthafa Yaqub

Ali Musthafa Yaqub, lahir di Batang 1952. Setelah tamat SMP beliau mengikuti arahan orang tuanya untuk belajar di pondok pesantren. pada tahun 1966 beliau mondok di pondok pesantren Seblak, Jombang sampai pada tingkat tsanawiyah, 1969, kemudian beliau melanjutkan dipondok pesantren “Tebu Ireng” Jombang yang jarak dari sekolah awalnya hanya ratusan meter saja. Beliau berhasil menyelesaikan studi-nya pada fakultas syari’ah universutas Hasyim Asy’ari, di pesantren tersebut pula ia menekuni kitab-kitab kuning di bawah asuhan para kiai antara lain, almarhum K.H. Idris Kamali, almarhum K.H. Adlan Ali, almarhum K.H. Shobari dan al-Musnid K.H. Syansuri Badawi dipeantren ini pula beliau mengajar bahasa Arab. 

Pada tahun 1976 beliau kembali mengembara untuk mencari ilmu pada fakultas syari’ah Universitas Islam Imam Muhammad bin Saud, Riyadh, saudi Arabia, sampai tamat dengan mendapatkan ijazah licance pada tahun 1980, masih pada kota yang sama ia melanjutkan lagi di Universitas King Saud pada jurusan tafsir dan hadis sampai tamat dengan memperoleh ijazah master, 1985 . Di Universitas inilah Ali Musthafa Yaqub bertemu dengan Muhammad Musthafa al-A’zamiyang menjabat guru besar hadis dan Ilmu hadis di Universitas King Saud. Pendidikannya di Universitas ini memberikan keistimewaan sendiri bagi Ali Musthafa Yaqub karena bisa bertemu dan belajar secara langsung dengan pakar hadis kenamaan ini selama menempuh pendidikannya di Riyadh, selain aktif di Kampus, Ali Musthafa Yaqub juga aktif pada kegiatan ekstra kampus terutama pada organisasi kemahasiswaan Indonesia di Riyadh yang tergabung dalam wadah Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI). Dalam organisasi ini, Ali Musthafa Yaqub pernah menjadi ketua umum. Keaktifannya pada PPI dijalaninya saat menempuh S-1 di Universitas King Saud, Riyadh. Hubungan Ali Musthafa Yaqub dan Muhammad Musthafa al-A’zami tetap terjalin dengan baik semasa masih di bawah bimbingan Muhammad Musthafa al-A’zami ataupun saat ini. Ali Musthafa Yaqub sangat menghormati gurunya ini namun hal ini tidak berarti bahwa Ali Musthafa Yaqub begitu saja mengikuti pandangan Musthafa al-A’zami. Pada bagian-bagian tertentu beliau mengkritik pandangan gurunya ini. Hubungan baik ini menjadikan Muhammad Musthafa al-A’zami memberi izin kepada Ali Musthafa Yaqub untuk menerjemahkan bukunya yang berjudul Studies in Hadis Literature. Ali Musthafa Yaqub menerjemahkan buku ini dari bahasa Arab yang berjudul Dirasat fi al-Hadis al-Nabawi wa Tarikh Tadwinih. Salah satu kritik Ali Musthafa Yaqub terhadap gurunya adalah dukungan muhammad Musthafa al-A’zami, kritik tersebut ditandai dengan ungkapan Musthafa Yaqub: 

“salah satu ulama yang mendukung al-Albani, kendati mungkin tidak secara total adalah guru kami sendiri adalah Muhammad Musthafa al-A’zami.” 

Menurut pengakuannya Musthafa Yaqub tentang studinya di Saudi Arabia didorong oleh K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), tidak diketahui secara pasti apa pertimbangan Gus Dur atas dorongan ini. Apakah karena di Universitas tersebut ada Muhammad Musthafa al-A’zami sehingga harusa ada orang Indonesia yang belajar langsung kepadanya dan Gus Dur adalah orang pertama yang memperkenalkan pemikiran Muhammad Musthafa al-A’zami di Indonesia.[3] 

Setelah pengembaraan menuntut ilmu sudah selesai, beliau langsung kembali ketanah air, dan hingga saat ini beliau telah mengajar diberbagai perguruan tinggi, seperti: Institut Ilmu al-Qur’an (IIQ), Institut Studi Ilmu al-Qur’an ( ISIQ d/h PTIQ), pengajian Tinggi Islam Masjid Istiqlal, Pendidikan Kader Ulama (PKU) MUI, Sekolah Tinggi Ilmu Da’wah (STIDA) al-Hamidiyah, dan IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, dan kemudian pada tahun 1989 bersama keluarganya beliau mendirikan pesantren Darussalam di desa kelahirannya. 

b. Aktivitas Non Akademik dan Organisasi Kemasyarakatan Ali Musthafa Yaqub

Selain kegiatan keilmuan dan akademisi di kampus, Ali Musthafa Yaqub juga aktif di berbagai organisasi kemasyarakatan yakni di MUI, beliau bertindak sebagai Anggota Komisi Fatwa, sekjen Pimpinan Pusat Ittihadul Muballighindan anggota Dewan Syari’ah Nasional. Prestasi Ali Musthafa Yaqub di dunia akademik dan keilmuan ternyata berimbas positif bagi karier di luar akademik. Hal ini terlihat dari keanggotaanya di MUI pusat sebagai anggota komisi fatwa. Komisi ini yang menentukan arah kebijakan MUI dalam berbagai fatwa yang bisa dikeluarkan MUI dan bisa dikatakan bahwa ruh MUI berada pada komisi ini. Tentunya keberadaan Musthafa Yaqub pada komisi ini atas pertimbangan pada keahlian dan prestasi yang diraihnya. Posisi Musthafa Yaqub pada komisi ini bukanlah suatu hal yang aneh, sebab pendahulunya Prof. K.H. Ibrahim Hosen yang juga promotornya meraih jabatan guru besar di IIQ pernah dikomisi ini dengan posisi sebagai komisi fatwa. Aktifitas lainnya, Ali Musthafa Yaqub juga aktif memberikan seminar sebagai pembicara tentang hadis dan kritik hadis juga tema-tema keIslaman lainnya: 

1. Simposium Kitab Kuning dan Lektur Islam yang diselenggarakan oleh ICMI 1994. 
2. Diskusi Kajian Kitab yang diselenggarakan oleh PBNU !986. 
3. Seminar Nasional Temu Ilmiah Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) 1988. 
4. Musyawarah Nasional Ittihadul Muballighin, Juli 1990. 

Untuk mengembangkan kajian hadis di Indonesia Musthafa Yaqub beserta teman-temannya mendirikan Lembaga Pengkajian Hadis Indonesia (LePHI) dimana Musthafa Yaqub bertindak sebagai direktur. Tujuan lembaga ini adalah sebagai laboratorium kajian hadis dan riset untuk pengembangan hadis masa depan.[4] 

c. Karya-karya Ali Musthafa Yaqub 

Aktivitas tulis menulis Musthafa Yaqub telah dimulai semenjak masih menjadi mahasiswa tingkat sarjana di Saudi Arabia. Menurut pengakuannya, motivasi utama untuk menulis saat itu hanya untuk mengetahui apakah tulisannya sudah layak dimuat atau belum. Tulisan-tulisannya telah mencakup berbagai pengetahuan Islam mulai al-Qur’an, hadis, tafsir, fiqh, haji dan sebagainya. Hasil tulisannya ini kemudian dibukukan dengan judul Islam Masa Kini. Hampir sebagian besar tulisan Musthafa Yaqub dalam bentuk artikeldimuat dalam majalah Amanah dan harian umum ibu kota. Artikel yang telah dimuat tersebut kemudian dirangkum menjadi sebuah buku yang kemudian banyak diterbitkan oleh Pustaka Firdaus Jakarta. Ali Musthafa Yaqub telah banyak melahirkan karya baik buku maupun terjemahan ataupun karya suntingan, antara lain yaitu, Nasihat Nabi Kepada Pembaca dan Penghafal al-Qur’an (1990), Imam Bukhari dan Metodologi Kritik dalam Ilmu Hadis (1991), Kritik Hadis (1995), Sejarah dan Metode Dakwah Nabi (1997), Peran Ilmu Hadis dalam pembinaan Hukum Islam (1999), Kerukunan Umat dalam persfektif al-Qur’an dan al-Hadis (2000), Islam Masa Kini (2001), Fatwa-fatwa Kontemporer (2002), M.M Azami pembela Eksistensi Hadis, Hadis-hadis Bermasalah (2003), Hadis-hadis Palsu seputar Ramadhan (2003).[5] 

Kritik Hadis Menurut Ali Musthafa Yaqub 

Menurut Prof. K.H. Ali Musthafa Yaqub, sebagaimana ditulisnya dalam bukunya Kritik Hadis perihal anggapan atau kesan masyarakat yang memaknai Kritik Hadis sebagai upaya untuk melecehkan kedudukan dan fungsi hadis dalam agama Islam. Mereka menganggap bahwa term kritik Hadis yang pada gilirannya selalu dikonotasikan negatif.[6] Lanjut -tulis beliau-, anggapan ini tentulah tidak benar, sebab kritik hadis yang dalam terminologi Ilmu Hadis disebut Naqd al-Hadis[7] adalah upaya untuk menyeleksi hadis sehingga dapat diketahui mana Hadis yang Shahih dan man Hadis yang tidak Shahih. Istilah ini juga tidak berasal dari barat akan tetapi istilah Kritik Hadis datang dari ulama Islam sendiri, Imam ibn Hatim al-Razi (w. 327 H) dalam kitabnya al-Jarh wa al-Ta’dil menyebutkan istilah kritik dan kritikus Hadis (al-Naqd wa al-Nuqad).[8] 

Dengan menggunakan presfektif sejarah beliau memetakan sejarah perkembangan kritik hadis dimulai dengan tradisi kritik Hadis pada masa rasul, kritik matan hadis, kritik sanad Hadis dan kritik hadis sebagai warisan intelektual. 

Pertama, Tradisi Kritik Hadis telah terjadi pada masa awal Islam yaitu pada masa Nabi Muhammad saw., hal ini dirasa mudah karena rasul sebagai figur sentral masih hidup ditengah masyarakat pada saat itu, sehingga jika sahabat menemukan masalah perihal Hadis Nabi maka dengan mudah dapat langsung ditanyakan kepada Nabi. Berikut indikator tradisi Kritik Hadis pada masa Nabi: 

“Suatu malam ketika Umar bin al-Khattab sedang berbincang-bincang tentang adanya kabar bahwa ratu Ghassan sedang mempersiapkan pasukannya untuk menyerbu kaum Muslimin, tiba-tibu pintu rumah beliau diketuk keras oleh seorang yang belum diketahui identitasnya . Apakah Umar sudah tidur? Begitu terdengar suara lantang dari luar pintu. Maka dengan penuh tanda tanya, Umar berjalan untuk membukakan pintu . begitu pintu dibuka, beliau terkejut karena yang mengetuk pintu keras-keras dan berteriak tadi adalah tetangganya sendiri, seorang Anshar dari keluarga Umayyah bin Zayd. Ia baru pulang mengikuti pengajian Nabi Muhammad saw. Ada apa, apakah pasukan Ghassan sudah datang ? tanya Umar memburu. Tidak, jawabnya, ada peristiwa yang lebih gawat dari itu, tambahnya. Apakah itu? Tanya Umar. Rasulullah saw. telah menceraikan istri-istrinya, jawabnya. Umar tercengang mendengar jawaban itu bukan karena salah seorang dari istri Nabi itu adalah putri Umar sendiri yang bernama Hafsah, melainkan benarkah Nabi saw melakukan hal itu. Untuk meyakinkan kebenaran berita itu, esok harinya pagi-pagi benar Umar menghadap Nabi saw. dan setelah diizinkan masuk, Umar bertanya kepada Nabi saw., Apakah anda telah menceraikan istri-istri anda ?”. sambil menegakkan kepalanya dan memandangi Umar, Nabi menjawab , “tidak.” Begitulah, akhirnya Umar mengetahui bahwa Nabi saw. hanya bersumpah untuk tidak mengupuli istri-istrinya selama satu bulan.”[9] 

Berdasarkan riwayat diatas, telah ada kritik Hadis yang telah dilakukan oleh Umar terhadap kebenaran berita yang dating dari Rasulullah saw. yang merupakan embrio Kritik Hadis (Naqd al-hadis) yang terus berkembang hingga saat ini. Proses kritik atas Hadis ini tentu tidak dimaksudkan untuk mencurigai para rawi yang meriwayatkan Hadis akan tetapi untuk memastikan apakah benar Hadis yang diriwayatkan oleh seorang rawi itu benar-benar dari Rasulullah atau tidak. 

Kedua, Kritik Matan Hadis (Naqd al-Matn al-Hadis)[10]. Analisis mengenai awal kemunculan dan perkembengan kritik matan hadis merupakan hal baru. Secara praktis, aktivitas kritik matan telah dilakukan oleh generasai sahabat.[11] Embrio Kritik Matan Hadis sesungguhnya telah dilakukan oleh para sahabat. Sebagai contoh dapat disimak reaksi ‘Aisyah tatkala mendengar sebuah Hadis yang disampaikan oleh ibn Abbas dari Umar, bahwa menurut versi Umar Rasulullah bersabda:[12] إن الميت ليعذب ببكاء أهله عليه [13],” sesungguhnya mayat itu akan disiksa karena ditangisi ditangisi keluarganya”, tentang hal ini, serta merta ‘Aisyah membantah dengan berkata: “semoga umar dirahmati Allah” , Rasulullah tidak pernah bersabda bahwa mayat orang mukmin itu akan disiksa karena ditangisi keluarganya , akan tetapi beliau bersabda: 

إن الله يزيد الكافر ببكاء أهله عليه [14] “sesungguhnya Allah akan menambah siksa orang kafir karena ditangisi keluarganya”. Komentar ‘Aisyah selanjutnya, cukuplah bagi kalian sebuah ayat yang menyatakan bahwa seseorang tidak akan pernah menanggung dosa orang lain. 

Menyimak kasus di atas, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa kritik matan Hadis, yaitu dengan mencocokkannya kembali dengan apa yang pernah beliau dengar sendiri dari Nabi saw., kemudian membandingkannya dengan riwayat al-Qur’an yang kemudian muncul dua versi periwayatan dalam Hadis tersebut. Menurut versi Umar, seseorang yang mati akan disiksa apabila ia ditangisi keluarganya, baik yang mati itu muslim atau kafir. Sementara menurut versi ‘Aisyah, mayat yang disiksa itu apabila ia kafir, sedangkan mayat Muslim tidak disiksa. Karena baik Umar maupun Aisyah tidak mungkin berdusta, maka kedua versi ini tetap diterima sebagai hadis Shahih. Kontroversi Hadis seacam ini akhirnya melahirkan cabang ilmu hadis baru disebut Ikhtilaf al-Hadis, yaitu ilmu yang menjelaskan Hadis-hadis yang kontroversial, baik kontroversinya itu sesama Hadis, dengan al-Qur’an, maupun dengan akal. Imam al-Syafi’i (w. 204 H) tercatat sebagai orang yang berandil besar dalam masalah ini karena beliau merupakan orang pertama membahas maslah ini dan menulis kitab Ikhtilaf al-Hadis.[15] Dipenghujung –tulisannya – Musthafa Yaqub, perihal kritik matan hadis yang kontroversial baik dengan al-Qur’an juga akal tidak begitu saja tertolak, menurutnya perlu ada pembacaan lebih lanjut dengan menggunakan cabang-canbang ilmu hadis yang akan memberikan jawaban-jawaban yang komprehensif. 

Ketiga,- masih dalam persfektif sejarah – yang mewarnai sejarah perkembangan kritik sanad Hadis ( Naqd al-Sanad). Berdasarkan pada terminologi kritik yang digunakan dalam ilmu Hadis, secara sederhana dapat dipahami bahwa penyeleksian yang ditekankan pada aspek sanadnya, sehingga dengan istilah tersebut melahirkan Shahih al-isnad dan Dha’if al-Isnad.[16] 

kritik sanad Hadis menurut Musthafa Yaqub, sejak terbunuhnya Umar bin al-Khattab pada tahun 24 H tidak banyak mempengaruhi perkembangan ilmu kritik Hadis. Namun terbunuhnya Utsman bin ‘Affan pada tahun 36 H, begitu pula terbunuhnya al-Huseyn bin Ali pada tahun 61 H, yang diiringi oleh lahirnya kelompok-kelompok politik dalam tubuh umat Islam, sangat berpengaruh terhadap perkembangan ilmu kritik Hadis. Karena untuk memperoleh legitimasi dengan menggunakan dari Hadis Nabi saw. apabila Hadis yang dicarinya tidak ditemukan kemudian mereka kemudian membuat Hadis palsu.[17] Hal yang sangat tendensius dan rentan atas tumpangan politis-ideologis pada masa-masa ini, menuntut para ulama untuk menyeleksi, memilih dan memilih dengan tidak hanya melalui kritik matan tetapi juga kritik sanad Hadis. Imam Muhammad bin Sirin (33-110 H) menuturkan, “ pada mulanya kaum Muslimin tidak pernah mempertanyakan sanad (transmisi Hadis), Namun setelah terjadinya fitnah yaitu terbunuhnya Utsman bin Affan, apabila mendengar Hadis mereka selalu menanyakan dari mana siapa Hadis itu diperoleh. Apabila Hadis diperoleh dari Ahl al-Sunnah, Hadis tersebut akan diterima sebagai dalil Agama, namun jika Hadis tersebut diperoleh dari para Ahli Bid’ah, maka Hadis tertolak.[18] Mengenai urgensi sanad Hadis dengan mengutip perkataan Abdullah bin al-Mubarak (w. 181 H), “ Sistem Sanad itu merupakan bagian yang tak terpisahkan dari Agama Islam, sebab tanpa adanya sistem sanad setiap orang dapat mengatakan apa yang dikehendakinya.”[19] Dengan memberikan kriteria yang sangat ketat bagi para rawi yang Hadisnya dapat diterima - menurutnya - sistem isnad merupakan keistimewaan umat Islam dibanding agama-agama lainnya. 

Kritik Ali Musthafa Yaqub atas Kritik Hadis Orientalis 

a. Kritik terhadap Ignaz Goldziher 

Ignaz Goldziher [20] adalah salah seorang orientalis yang secara tegas menganggap bahwa kritik hadis yang dilakukan oleh ulama klasik tidak dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah karena kelemahan metodenya. Lebih lanjut, Ignaz menegaskan bahwa para ulama klasik lebih menggunakan metode kritik sanad, dan kurang menggunakan metode kritik matan. Dengan ini Goldziher hanya menawarkan metode kritik matan dalam kritik hadis.[21] Menanggapi hal ini Musthafa Yaqub meng-counter pendapat yang dialamatkan kepada ulama klasik, dengan berpendapat bahwa sebenarnya para ulama hadis klasik telah menggunakan metode kritik matan, menurutnya, apa yang dikatakan oleh Goldziher tersebut bersumber pada perbedaan metode yang digunakan antara ulama klasik dan metode Goldziher dalam kritik matan. Kritik matan yang dimaksudkan oleh Goldziher adalah bahwa kritik matan perlu menyertakan berbagai aspek, seperti politik, sains, sosio kultural. Tidak lepas dari kritik Goldziher adalah Kitab Shahih al-Bukhari, menurutnya Imam Bukhari dalam kitabnya tersebut hanya melakukan kritik sanad tanpa melakukan kritik matan. Sehingga setelah dilakukan kritik matan oleh Goldziher , hadis tersebut ternyata palsu.[22] Kemudian bagian penting untuk dikaji adalah perihal kritik Ignaz Goldziher seputar tuduhan pemalsuan hadis oleh al-Zuhri yang juga tak luput dari kritik balik Musthafa Yaqub terhadapnya. Menurut Musthafa Yaqub (kritiknya terhadap Goldziher), pemalsuan hadis oleh al-Zuhri adalah karena Ignaz Goldziher dengan berani mengubah teks-teks yang berkaitan dengan al-Zuhri yang pada gilirannya memberikan kesan bahwa al-Zuhri memang mengakui sebagai pemalsu hadis, bagian kata-kata al-Zuhri yang dikutip Goldziher adalah “Inna Haula’i al-Umara akharuna ‘ala kitabah ahadis”. Kritik Musthafa Yaqub atas kutipan yang disitir oleh Goldziher terdapat pada kata ahadis tanpa ‘al’ yang dalam bahasa Arab ia menunjukkan makana definitif, dengan bersumber pada literatur, seperti dalam kitab Sa’d ibn ‘Asakir kata yang benar dalam hadis tersebut adalah al-Ahadis. Penafsiran dari Musthafa Yaqub secara lengkap atas ungkapan al-Zuhri adalah bahwa para pejabat telah memaksanya untuk menuliskan hadis-hadis Nabi yang pada saat itu sudah ada namun belum terhimpun dalam suatu buku. Sedang dalam penafsiran Goldziher adalah bahwa para pejabat telah memaksanya menulis hadis yang belum pernah ada pada saat itu[23] hingga akhirnya ia sampai pada tesis bahwa apa yang disebut hadis itu diragukan otentisitasnya sebagai sabda Nabi Muhammad saw. Berangkat dari kekhawatirannya terhadap ketidak percayaan umat terhadap hadis Nabi sebagaimana yang dikatakannya dengan istilah “robohnya satu pilar umat Islam (al-Hadis)”, dengan menyandarkan pendapatnya terhadap tiga tokoh ulama hadis kontemporer, yaitu: Prof. Musthafa al-Siba’i (guru besar Universitas Damaskus) dalam bukunya al-Sunnah wa Makanatuha fi Tasyri’i al-Islam, Prof. Dr. Muhammad ‘Ajjaj al-Khatib dengan karya al-sunnah qabl al-Tadwin dan Prof. Dr. Muhammad Musthafa Azami dalam bukunya Studies in Early Hadith Literature, beliau mengalamatkan kritiknya terhadap Goldziher dengan alasan bahwa tidak ada bukti-bukti historis yang memperkuat teori Goldziher, bahkan justru sebaliknya, para ahli tarikh berbeda pendapat tentang kelahiran al-Zuhri, antara 50-58 H. menurutnya, adalah sangat tidak logis karena al-Zuhri pada saat itu baru berumur 10 sampai 18 tahun. Karenanya sangat tidak logis seorang anak yang baru berumur belasan tahun sudah populer sebagai seorang intelektual dan memiliki reputasi ilmiah diluar daerahnya dimana ia mampu mengubah pelaksanaan ibadah haji ke Jerusalem[24], lagi pula pada saat yang bersamaan di Syam tentunya masih banyak sahabat dan Tabi’in, yang tidak mungkin mereka diam saja melihat kejadian tersebut.[25] 

Perihal pengubahan terhadap pelaksanaan ibadah haji ke Jerusalem juga terkait tuduhan Goldziher terhadap al-Zuhri yang menurutnya adalah pemalsu hadis, Ali Musthafa Yaqub terus melayangkan kritiknya dengan argumen lain yang juga sangat otoritatif untuk meruntuhkan teori Goldziher, menurutnya teks hadis itu sendiri sebagaimana termaktub dalam kitab Shahih al-Bukhari tidak ada satu isyaratpun yang menunjukkan bahwa ibadah haji dapat dilakukan di Quds (Jerussalem), yang ada hayalah ‘keistimewaan’ terhadap Masjid al-Aqsha dan hal ini adalah wajar dan sangat beralasan mengingat masjid tersebut pernah dijadikan kiblat pertama bagi umat Islam. Lebih lanjut (kritiknya) bahwa Goldziher hanya mengalamatkan tuduhannya kepada al-zuhri saja, padahal hadis tersebut diriwayatkan oleh delapan belas orang selain al-Zuhri.[26] 

Terlihat dari kririk-kritik yang dilancarkan oleh Ali Musthafa Yaqub penulis berpendapat bahwa kritik yang dilakukannya adalah berdasarkan data-data referensial yang jelas dan dapat dipertanggung jawabkan, namun juga tak jarang pemikirannya dipengaruhi oleh Prof. Dr. Musthafa Azami. 

b. Kritik terhadap Teori “Projecting Back” Joseph Schahct 

Josep Schacht[27] adalah sederet nama orientalis yang juga secara intens terhadap kajian hadis. Dalam mengkaji hadis Nabi, Schacht lebih banyak banyak menyoroti aspek sanad ( transmisi, silsilah keguruan) daripada aspek matan. Kitab-kitab yang dipakai oleh Schacht adalah kitab al-Muwaththa karya Imam malik, kitab al-Muwaththa karya Imam Muhammad al-syaibani, kitab al-Umm dan al-Risalah karya Imam al-Syafi’i. Schacht menegaskan bahwa hukum Islam belum eksis pada masa al-Sya’bi (w. 110 H), penegasan ini memberikan pengertian bahwa apabila ditemukan hadis-hadis yang berkaitan dengan hukum islam, maka hadis-hadis itu adalah buatan orang-orang yang hidup sesudah al-Sya’bi. Ia berpendapat bahwa hukum Islam baru dikenal semenjak masa pengangkatan para qadhi (hakim agama), karena para khalifah dahulu tidak pernah mengengkat qadhi, pengangkatan qadhi baru dilakukan pada masa dinasti Bani Umayyah.[28] Lebih lanjut, menurut Schacht pada akhir abad pertama (715-720 M) pengangkatan qadhi itu ditujukan kepada orang-orang ‘spesialis’ yang berasal dari kalangan taat beragama. Karena orang-orang spesialis ini semakin bertambah, hingga akhirnya mereka berkembang menjadi aliran fiqh klasik hal ini terjadi pada dekade-dekade pertama abad kedua hijriah. Keputusan-keputusan hukum yang diberikan pada qadhi ini memerlukan legitimasi dari orang-orang yang memiliki otoritas lebih tinggi. Karenanya mereka tidak menisbahkan keputusan-keputusn itu kepada dirinya sendiri, melainkan menisbahkannya pada tokoh-tokoh sebelumnya. Misalnya, orang-orang Iraq menisbahkan pendapat pendapat-pendapat mereka kepada Ibrahim al-Nakha’i (w. 95 H). Perkembangan berikutnya, pendapat para qadhi itu tidak hanya dinisbahkan kepada tokoh-tokoh terdahulu yang jaraknya masih dekat, melainkan dinisbahkan kepada tokoh-tokoh yang lebih dahulu. Selanjutnya, untuk memperoleh legitimasi yang lebih kuat, pendapat-pendapat itu dinisbahkan kepada tokoh yang memiliki otoritas yang lebih tinggi, misalnya Abdullah bin Mas’ud dan pada tahap terakhir, pendapat-pendapat itu dinisbahkan kepada Nabi Muhammad. Dari sini dapat dipahami bahwa rekonstruksi terbentuknya sanad hadis menurut Josep Schacht yaitu dengan memproyeksikan pendapat-pendapat itu kepada tokoh-tokoh dibelakang (projecting back). 

Tentang hal ini, Musthafa Yaqub mengkritik bangunan teori ini dengan mula-mula menganggap bahwa Schacht dalam mengkaji hadis memulai dengan tidak menggunakan kitab primer yaitu kitab hadis, melainkan kitab Fiqh seperti yang tersebut diatas. 

Perihal kesimpulan yang dihasilkan oleh Josep Schacht melalui bukunya The origin of muhammadan Juresprudence dan An Introduction to Islamic law dengan tesis bahwa hadis terutama yang berkaitan dengan hukum Islam adalah buatan para ulama abad ketiga hijriah, ia mengatakan: “we shall not meet any legal tradition from the prophet which can be considered authentic”. Dengan menukil pendapat gurunya Musthafa Azami, Musthafa Yaqub mengemukakan penelitian Azami tentang hadis-hadis Nabawi yang terdapat dalam naskah-naskah klasik. Diantaraya adalah naskah milik Suhayl bin Abu Shalih (w. 138 H). Naskah Suhayl ini berisi 49 hadis. Sementara Azami meneliti para rawi yang hadis-hadis tersebut sampai kepada generasi Suhayl, yaitu pada jenjang ketiga (al-Thabaqah al-Tsalitsah). Musthafa A’zami membuktikan bahwa pada jenjang ketiga, jumlah para rawi berkisar antara 20 sampai 30 orang rawi, sementara domisili mereka (para periwayat) yang terpencar-pencar dan berjauhan, antara India sampai Maroko, antara Turki sampai Yaman sementara redaksi hadis yang disampaikan sama. Maka Musthafa A’zami berkesimpulan sangat mustahil menurut ukuran situasi dan kondisi pada saat itu mereka berkumpul untuk membuat hadis palsu sehingga redaksinya sama begirtu pula mustahilnya mereka membuat hadis secara mandiri kemudian oleh generasi berikutnya diketahui bahwa hadis mereka sama.[29] 

Teori-teori dan Metode Kritik Hadis Ali Musthafa Yaqub 

Teorisasi dan metode yang telah dirumuskan oleh Musthafa Yaqub untuk mendeteksi otentisitas hadis sebagai panduan metodologi yakni pendekatan awal melalui kritik sanad. Tolok ukur pendekatan yang pertama ini adalah, pertama; sanad yang bersambung (muttashil) dari periwayat terakhir yang membukukan hadis sampai pada Nabi; kedua, periwayat terdiri dari dari orang-orang yang memiliki sifat ‘adil dan dhabit. Menurut Musthafa Yaqub kriteria ini menurut Musthafa Yaqub adalah baligh, tidak fasiq dan selalu menjaga kehormatan dirinyadan dhabit adalah kuat ingatannya, tidak pelupa, tidak dungudan tidak sering melakukan kekeliruan. Kriteria ini disebut tsiqah. Dengan rumusan yang idealis seperti ini, sebenarnya mudah dipertanyakan tentang unsur-unsur kemanusiaan seperti bahwa periwayat juga pernah lupa atau keliru menyampaikan hadis, Ali Musthafa Yaqub tidk menghindar dari pendapat semacam ini, oleh karenanya, Ali Musthafa Yaqub menunjukkan metode identifikasi ke-dhabit-an periwayat yang disebut metode perbandingan, yakni; 

a. Memperbandingkan hadis-hadis yang diriwayatkan oleh sejumlah sahabat Nabi. 

Metode ini membandingkan hadis riwayat al-Mughirah dan hadis riwayat Muhammad bin Maslamah. Kasusnya adalah mencari jawaban atas pertanyaan hak waris seorang nenek. Atas pertanyaan ini Abu Bakar berkata bahwa dalam al-Qur’an tidak disebutkan perinciannya juga dalam hadis Nabi. Kemudian Abu Bakar menanyakan pada sahabat perihal hak waris bagi nenek. Al-Mughirah menjawab: saya pernah melihat Nabi memberikan seperenam dari harta pusaka untuk nenek. Saksi dari kasus ini adalah Muhammad bin Maslamah.[30] Hal ini sama dengan konsepsi yang ditawarkan oleh Muhammad abduh.[31] 

b. Memperbandingkan hadis yang diriwayatkan oleh seorang periwayat pada masa yang berlainan. 

Metode ini diterapkan ‘Aisyah r.a untuk menanyakan hadis pada ‘Abdullah bin ‘Amr. Satu tahun kemudian ‘Aisyah r.a menanyakan kembali hadis yang pernah ditanyakan pada setahun lalu, dan ternyata ‘Abdullah bin Amr tidak mengurangi atau menambah hadis tersebut . ‘Aisyah berkomentar: ‘Abdullah bin Umar adalah benar.[32] 

c. Memperbandingkan hadis-hadis yang diriwayatkan oleh periwayat-periwayat yang berasaldari seorang guru hadis.[33] 

Metode ini diterapkan ibn Ma’in yang mencocokkan hadis-hadis yang diriwayatkan oleh murid-murid Hammad bin Salamah. Hadis-hadis itu kemudian dicocokkan dari satu murid yang satu kemurid yang lain.[34] 

d. Memperbandingkan hadis yang diajarkan oleh seorang guru dengan guru-guru yang lain. 

Metode ini diterapkan Sufyan , ketika mengajarkan suatu hadis, menuturkan bahwa hadis diterimanya dari al-Zuhri. Namun pernyataan Sufyan mengundang protes muridnya yang mendengar Malik mengatakan Sufyan menerima hadis itu dari al-Miswar bin Rifa’ah. Sufyan menjawab: saya benar-benar menerima hadis dari al-Zuhri.[35] 

e. Memperbandingkan antara hadis-hadis yang tertulis didalam buku dengan yang tertulis dalam buku yang lain atau dengan hafalan hadis.[36] 

Metode ini diterapkan oleh ‘Abd al-Rahman al-Ashbahani yang pernah mengajarkan suatu hadis yang menurutnya dari Abu Hurayrah. Pernyataan ‘Abd al-rahman al-Ashbahani ini dikritik oleh Abu Zur’ah karena keliru dan ternyata dari Abu Sa’id.[37] 

f. Memperbandingkan hadis dengan ayat-ayat al-Qur’an. 

Ali Musthafa Yaqub berpendapat, kritik model ini sudah muncul sejak dini. Ali Musthafa Yaqub mencontohkan khalifah ‘Umar bin al-Khaththab pernhah menolak hadis yang disampaikan Fatimah binti Qays yang ditalak suaminya dan kata Umar bin al-Khaththab : Nabi tidak memberikan hak nafaqah dan tempat tinggal kepadanya. Umar berpendapat hadis yang disampaikan oleh Fatimah binti Qays bertentangan dengan al-Qur’an. Oleh karenanya, Umar tetap memberi hak nafaqah dan tempat tinggal pada wanita seperti itu.[38] 
Aplikasi Metode Kritik Sanad dan Matan 

a. Metode Induktif 

Metode induktif merupakan bentuk penalaran dengan memadukan teks hadis dengan teks lain (al-Qur’an dan hadis) atau fakta. Tujuannya agar teks hadis berbicara sendiri apa adanya. Meskipun kriteria Musthafa Yaqub tentang matan hanya dua yakni matan tidak syadz dan tidak ada ‘Illah,namun dalam praktiknya tidak hanya kategori ini yang dijadikan tolok ukur otentisitas hadis. Diantara contoh aplikasi dari kritik hadis yang dilakukan oleh Musthafa Yaqub, antara lain, yaitu tentang jumlah rakaat shalat tarawih, 

Masalah bilangan rakaat pada shalat tarawih, menjadi kajian serius yang dilakukan oleh Musthafa Yaqub karena selain seringkali menjadi masalah kontroversial, juga masalah ini merupakan masalah ibadah yang dilakukan oleh umat Muslim pada bulan Ramadhan. Adapun redaksi hadis tersebut, yaitu: 

عن ابن عباس قال كان النبي صلي الله عليه وسلم يصلي في رمضان عشرين ركعة والوتر 

Kemudian beliau menyertakan pula hadis yang menyatakan bahwa Rasul shalat sebanyak delapan rakaat: 

عن جابر بن عبد الله قال : جاء ابي بن كعب الي النبي صلي الله عليه وسلم فقال : يا رسول الله انه كان مني الليلة شيئ يعني في رمضان قال : وما ذاك يا أبي ؟ قال : نسوة في داري قلن انا لا تقرأ القرأن فنصلي بصلا تك قال : فصليت بهن ثماني ركعات ثم أوترت قال : فكأن شيبة الرضا ولم يقل شيئا 

Diperjelas dengan hadis: 

صلي بنا رسول الله صلي الله عليه وسلم ليلة في رمضان ثماني ركعات والوتر 

Ketiga hadis ini, menurutnya tidak bisa untuk dijadikan dalil shalat tarawih baik dua puluh rakaat atau sebelas rakaat, karena sanad hadis tersebut lemah.[39] Setelah melontarkan pendapatnya, lebih lanjut beliau menunjukkan hadis yang menyatakan bahwa shalat tarawih dua puluh rakaat atau sebelas rakaat benar jika menggunakan hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari, sebagai berikut: 

من قام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه[40] 


Menurut Musthafa Yaqub hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari semua adalah shahih, sehingga dapat dipastikan otentisitas hadis ini tidak perlu dipersoalkan. [41] berkaitan dengan hadis ‘Aisyah yang dijadikan dalil shalat tarawih, Ali Musthafa Yaqub mengkritik, menanggapi hal ini, Ali Musthafa Yaqub mengajukan tiga pendapat: pertama; kalangan yang menggunakan hadis Aisyah sebagai dalil shalat tarawih umumnya tidak membaca hadis ini secara utuh sehingga menimbulkan kesimpulan yang berbeda, redaksi hadis tersebut adalah: 

أنه سأل عائشة رضي الله عنها كيف كانت صلاة رسول الله صلى الله عليه و سلم في رمضان ؟ فقالت ما كان رسول الله صلى الله عليه و سلم يزيد في رمضان ولا في غيره على إحدى عشرة ركعة يصلي أربعا فلا تسل عن حسنهن وطولهن ثم يصلي أربعا فلا تسل عن حسنهن وطولهن ثم يصلي ثلاثا . قالت عائشة فقلت يارسول الله أتنام قبل أن توتر ؟ . فقال يا عائشة إن عيني تنامان ولا ينام قلبي [42] 

Jika dibaca utuh, konteks hadis tersebut berbicara tentang shalat witir. Kedua, untuk memperkuat kesimpulan bahwa dalil yang ‘Aisyah yang telah diriwayatkan oleh ‘Aisyah adalah dalil tentang shalat witir, terdapat hadis yang menerangkan hal tersebut: 

كَانَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم - يُصَلِّى مِنَ اللَّيْلِ ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً مِنْهَا الْوِتْرُ وَرَكْعَتَا الْفَجْرِ [43] 

Ketiga, umumnya kalangan yang tarawih sebelas rakaat menggunakan hadis ‘Aisyah sebagai dalil sehingga menurut Musthafa Yaqub, jika mereka konsekuen mengikuti sunnah Nabi, harus shalat sebelas rakaat setiap malam baik ramadhan atau bukan. Untuk memperkuat argumennya Musthafa Yaqub mengutip hadis ‘Aisyah, sebagi berikut: 

كَانَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّى وَأَنَا رَاقِدَةٌ مُعْتَرِضَةٌ عَلَى فِرَاشِهِ ، فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يُوتِرَ أَيْقَظَنِى فَأَوْتَرْتُ [44] 

Terlepas dari persoalan diatas bagi Musthafa Yaqub yang terpenting dati shalat shalat tarawih adalah tidak berorientasi pada angka dengan dalil yang tidak menentukan jumlah rakaat shalat tarawih. Namun, disisi lain terdapat pendapat yang agak berbeda dari Nashiruddin al-Albani yang menyebutkan bahwa shalat tarawih lebih dari sebelas rakaat sama halnya dengan shalat zuhur lima rakaat. Pada hal ini Ali Musthafa Yaqub mengkritik al-Albani bahwa jika shalat tarawih dua puluh rakaat menyalahi sunnah Nabi, tentu Ubay bin Ka’ab dan Umar al-Khaththab diprotes sahabat yang lain, bahkan menurut Musthafa Yaqub, Ahmad Dahlan pendiri organisasi Muhammadiyyah juga shalat tarawih dua puluh rakaat.[45] 

b. Memprioritaskan salah satu antara kritik Sanad dan Matan 

Pada hadis-hadis tertentu Ali Musthafa Yaqub memprioritaskan pada salah satu aspek antara kritik matan dan kritik sanad, berikut contoh-contohnya: 

1. Prioritas pada kritik sanad 

Tentang tidurnya orang berpuasa adalah ibadah: 

نوم الصائم عبادة ، وصمته تسبيح ، وعمله مضاعف ، ودعاؤه مستجاب ، وذنبه مغفور[46] 

Dengan meneliti sanad hadis ini terlebih dahulu, Musthafa Yaqub mengklaim hadis ini palsu karena memiliki sanad yang lemah, karena diantara periwayatnya ada yang berdusta dan pemalsu hadis.[47] 

2. Prioritas pada kritik Matan 

Tentang ziarah tiga masjid, Ali Musthafa Yaqub mengalamatkan kritiknya pada kalangan yang menggunakan hadis: من حج البيت ولم يزرنى فقد جفانى[48] sebagai dalil, kualitas hadis ini adalah palsu dengan alasan bahwa hadis ini mengandaikan ziarah kemakam Nabi wajib seperti wajibnya haji, dan ini bertentangan dengan ajaran Islam secara umum, dengan mencari hadis lain yang shahih beliau menambahkan dan memberikan jawaban: 

ولا تشد الرحال إلا ثلاثة مساجد مسجد الحرام ومسجد الأقصى ومسجدي[49] 

Lebih lanjut, menurutnya perjalanan ibadah haji adalah dengan menggunakan hadis shahih, tidak dengan menggunakan hadis palsu seperti diatas.[50] 


Kesimpulan 

Dari uraian diatas dapat disimpulkan beberapa hal tentang pemikiran Hadis menurut Menurut Musthafa Yaqub yang penulis menspefikasinya hanya dalam hal kritik sanad dan kritik matan hadis. 

Kritik Hadis perihal anggapan atau kesan masyarakat yang memaknai Kritik Hadis sebagai upaya untuk melecehkan kedudukan dan fungsi hadis dalam agama Islam. Mereka menganggap bahwa term kritik Hadis yang pada gilirannya selalu dikonotasikan negatif. Kritik hadis yang dalam terminologi Ilmu Hadis disebut Naqd al-Hadis adalah upaya untuk menyeleksi hadis sehingga dapat diketahui mana Hadis yang Shahih dan man Hadis yang tidak Shahih. Istilah ini juga tidak berasal dari barat akan tetapi istilah Kritik Hadis datang dari ulama Islam sendiri, Imam ibn Hatim al-Razi (w. 327 H) dalam kitabnya al-Jarh wa al-Ta’dil menyebutkan istilah kritik dan kritikus Hadis (al-Naqd wa al-Nuqad). 

Konstruksi metodologis Musthafa Yaqub dalam mendeteksi otentisitas hadis melalui kritik sanad, menurut penulis sangatlah ketat tapi tidak pada kritik matan, hal ini ditandai dengan kepercayaan beliau terhadab kitab yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari yang menurutnya semuanya berkualitas shahih tanpa terkecuali. Dengan kapasitas beliau sebagai seorang ahli hadis kenamaan tentu tidaklah bijaksanaberasumsi tanpa melakukan telaah kritis. 

Pengaruh keserjanaan Musthafa A’zami pada Ali Musthafa Yaqub memberikan implikasi tehadap metodologi kritik hadis Musthafa Yaqub. Ali Musthafa Yaqub nampaknya masih belum dapat independen sepenuhnya dari Musthafa A’zami, hal ini ditandai dengan sejumlah pemikiran Ali Musthafa Yaqub yang mengadopsi Muhammad Musthafa al-A’zami. 

Terkait masalah mendasar mengenai kritik hadis juga tentang kritik-kritik hadis orientalis yang menjadi pijakan awal pembuatan makalah ini, maka dengan kajian mengenai pemikiran Musthafa Yaqub tentang kritik hadis ini bermuara pada tesa bahwa apa yang dilakukan oleh Musthafa Yaqub tidak serta merta bersifat apologis tetapi juga lebih tepat jika diletakkan pada paradigma Ilmiah yang dialogis-teoritis-metodologis. 
Penutup 

Tentu dalam pembahasan ini, kami akui masih sangat jauh dari sempurna. Dalam pembacaan tentang pemikiran hadis ini, jujur kami akui kami masih belum dapat menangkap seluruh informasi yang ada dikarenakan keterbatasan penulis, sehingga masih banyak tentang pemikiran Ali Musthafa Yaqub yang perlu dan penting untuk terus dikaji mengingat beliau adalah ahli hadis kenamaan yang dimiliki bangsa ini. 

Demikianlah sedikit-banyak uraian yang dapat disampaikan penyusun sehubungan dengan Ali Musthafa Yaqub dan pemikirannya tentang hadis. Layaknya manusia biasa, kekurangan tak bisa dihindari. Untuk itu, penyusun sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi perbaikan makalah yang selanjutnya. Terima kasih! 



Daftar Pustaka 

Al-Ghazali, Muhammad. Al-Sunnah Bayn Ahl al-Fiqh wa Ahl al-Fuqaha, terj. Muhammad al-Baqir. Bandung: Mizan, 1994. 

Azani, Muhammad. “Metode Kritik Hadis Indonesia: Studi Pemikiran Ali Musthafa Yaqub”, Skripsi fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga,Yogyakarta, 2007. 

Azani, Muhammad. “Kritik Hadis Indonesia: Studi Pemikiran Ali Musthafa Yaqub” dalam jurnal Studi Ilmu-Ilmu Al-Qur’an dan Hadis Vol. 8, No. 2, Juli 2007. 

Suryadi, Metodologi Ilmu Rijalil Hadis. Yogyakarta: Madani Pustaka Hikmah, 2003. 

Azami, Muhammad Musthafa. Manhaj al-Naqd ‘Ind al-Muhadditsin. Arab Saudi: maktabah al-Kautsar.1990. 

Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, DVD ROM al-Maktabah al-Syamilah ( Solo: Pustaka Ridwana, 2004) . 

Al-Bayhaqi. Syu’ab al-Iman, DVD ROM al-Maktabah al-Syamilah ( Solo: Pustaka Ridwana, 2004). 

Al-Suyuthi, Jam’ al-Jawami’. DVD ROM al-Maktabah al-Syamilah ( Solo: Pustaka Ridwana, 2004). 

Abbas, Hasjim. Kritik Matan Hadis versi Muhaddisin dan Fuqaha.Yogyakarta; Teras. 2004. 

Amin, Kamaruddin. Menguji Kembali Keakuratan Metode Kritik Hadis, Jakarta: PT Mizan Publik. 2009. 

A. Salam, Bustamin M. Isa H. Metodologi Kritik Hadis. Jakarta: Raja Grafindo Persada. 2004. 

Badawi, Abdurrahman. Ensiklopedi Tokoh Orientalis. Yogyakarta: LkiS. hlm. 2003. 

Juynboll, G.H.A. Kontroversi Hadis di Mesir, terj. Ilyas Hasan, Bandung: Mizan. 1999. 

Mandzur, Ibn. Lisan al-Arab. DVD ROM al-Maktabah al-Syamilah ( Solo: Pustaka Ridwana, 2004) 

Nahw ‘Ilm al-Lughah Khash bi ‘Ulum al-Syar’iyyah , DVD ROM al-Maktabah al-Syamilah ( Solo: Pustaka Ridwana, 2004). 

Sumbulah, Umi. Kritik Hadis: Pendekatan historis Metodologis. Malang: UIN- Malang press,.2008. 

Tadrib al-Rawi fi Syarh al-Taqrib. DVD ROM al-Maktabah al-Syamilah ( Solo: Pustaka Ridwana, 2004). 

Catatan kaki

[1] Muhammad al-Ghazali, al-Sunnah al-Nabawiyah baina Ahli al-Fiqh wa ahli al-Hadits, terj. Muhammad al-Baqir, Studi Kritis Atas Hadits Nabi SAW, (Bandung: Mizan, 1994), hlm. 25. 
 
[2] Suryadi, Metodlogi Ilmu Rijal Hadis, Yogyakarta:Madani Pustaka Hikmah, 2003, hlm. 1. 
 
[3] Muhammad Azani, “ Metode Kritik Hadis Indonesia: Studi Pemikiran Ali Musthafa Yaqub”, skripsi Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, 2007, hlm. 26-29. 
 
[4] Muhammad Azani, “ Metode Kritik Hadis Indonesia...,hlm.32-33. 
 
[5] Muhammad Azani, “ Metode Kritik Hadis Indonesia...,hlm. 34-35. 
 
[6] Ali Musthafa Yaqub, Kritik Hadis..., (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2008), hlm. xiv. Kajian kritik sanad hadis akan memberikan pemahaman yang holistik jika diawali dengan dengan melihat makna dengan istilah kritik. Kritik dalam konteks ilmu hadis, tidak sinonim dengan istilah kritik yang secara umum digunakan oleh orientalis. Dalam persfektif orientalis, kritik dimaksudkan sebagai upaya memberikan semacam “kecaman”, yang pada akhirnya dapat melahirkan pelecehan terhadap eksistensi hadis. Lahirnya pemaknaan demikianlah tampaknya yang telah diciptakan oleh orientalis untuk dikembangkan, agar umat Islam meragukan otentisitas dan orisinalitas hadis sebagai sumber dari Rasulullah . dengan demikian, istilah kritik dalam terminologi tersebut selalu berkonotasi negatif, lihat : Umi Sumbulah, Kritik Hadis: Pendekatan historis Metodologis, (Malang: UIN- Malang press, 2008), hlm. 25 
 
[7] Al-Naqd dikalangan Muhadditsin ia berarti upaya menyeleksi hadis-hadis shahih dari hadis-hadis dha’if. Penilaian terhadap para rawi apakah ia tsiqah ataukah memiliki cela. Lihat: Muhammad Musthafa Azami, Manhaj al-Naqd ‘Ind al-Muhadditsin, (Saudi Arabia: Maktabah al-Kautsar), hlm. 5. Lihat juga :Hasjim Abbas, Kritik Matan Hadis versi Muhaddisin dan Fuqaha, (Yogyakarta; Teras, 2004) dan Nahw ‘Ilm al-Lughah Khash bi ‘Ulum al-Syar’iyyah Juz VII, hlm. 246, yang mendefinisikan Naqd al-Hadis sebagai berikut: الحكم على الرواة تجريحا أو تعديلا بألفاظ خاصة ذات دلائل معلومة عند أهله، والنظر في متون الأحاديث التي صح سندها لتصحيحها، أو تضعيفها، ولرفع الإشكال عما بدا مشكلا من صحيحها، ودفع التعارض بينها، بتطبيق مقاييس دقيقة “Penetapan status cacat atau ‘adil pada perawi Hadis dengan mempergunakan idiom khusus berdasar bukti-bukti yang mudah diketahui oleh para ahlinya, dan mencermati matan-mayan hadis sepanjang shahih sanad-nya untuk tujuan mengakui validitas atau menilai lemah, dan upaya menyingkap kemusykilan pada matan Hadis yang shahih serta mengatasi gejala kontradiksi antar matan dengan mengaplikasikan tolok ukur yang detail”. 

[8] Ali Musthafa Yaqub, Kritik Hadis...hlm. xiv. 
[9] Ali Musthafa Yaqub, Kritik Hadis...hlm. 1-2. 

[10] Menurut bahasa, lafadz Matn berasal dari bahasa Arab yang berarti punggung jalan (muka jalan) tanah yang tinggi dan keras. matn menurut ilmu Hadis adalah penghujung sanad, yakni sabda Nabi Muhammad saw. yang disebut sesudah habis disebutkan sanad. Matn Hadis adalah isi Hadis. Matn terbagi menjadi tiga, yaitu ucapan, perbuatan, dan ketetapan Nabi Muhammad saw. lihat : Bustamin M. Isa H. A. Salam, Metodolgi Kritik Hadis, (Jakarta: Raja Grafindo Persada), hlm. 89, lihat juga: Ibn Mandzur, Lisan al-Arab, juz II, hlm. 294. DVD ROM al-Maktabah al-Syamilah ( Solo: Pustaka Ridwana, 2004) yang mendefinisikan matn sebagai berikut : هو ما صَلُبَ من الأَرض وارتفع والرَّجِيلَة القويةُjika kata Matn al-Hadis, sebagaimana dikutip al-Thibbiy, seperti yang dinukil oleh Musfir al-Damini, adalah ألفاظ الحديث التي تتقوم بها المعاني , lihat juga: Tadrib al-Rawi fi Syarh al-Taqrib, Juz I, hlm.V. DVD ROM al-Maktabah al-Syamilah ( Solo: Pustaka Ridwana, 2004). 

[11] Umi Sumbulah, Kritik Hadis; Pendekatan Historis Metodologis, (Malang: UIN Malang-Press), hlm. 94 

[12] Umi Sumbulah, Kritik Hadis...hlm. 96. 

[13] Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Bab. Qawl al-Nabi, Juz 1, hlm.432. DVD ROM al-Maktabah al-Syamilah ( Solo: Pustaka Ridwana, 2004) . 
 
[14] Imam Muslim, Shahih Muslim, Bab. Al-mayyit yu’adzdzibu bi Buka’i Ahlihi, Juz. VI, hlm. 67. 
 
[15] Ali Musthafa Yaqub, Kritik Hadis...hlm. 3. 

[16] Umi Sumbulah, Kritik Hadis...hlm. 27. 
 
[17] Ali Musthafa Yaqub, Kritik Hadis...hlm. 4. 

[18] Ali Musthafa Yaqub, Kritik Hadis...hlm. 4. 
 
[19] Ali Musthafa Yaqub, Kritik Hadis...hlm. 4. 
 
[20] Ignaz Goldziher lahir lahir pada 22 juni 1850 disebuah kota di Hongaria. Berasal dari keluarga Yahudi yang terpandang dan memiliki pengaruh luas, tetapi tidak seperti keluarga Yahudi yang sangat fanatik saat itu. Pendidikannya dimulai dari Budapest, kemudian melanjutkan ke Berlin pada tahun 1869, hanya satu tahun ia disana, kemusian pindah ke universitas Leipzig. Salah satu guru besar ahli ketimuran yang bertugas di universitas tersebut adalah Fleisser, sosok orientalis yang sangat menonjol saat itu. Dia termasuk pakar filologi. Dibawah asuhannya Goldziher memperoleh gelar doktoral tingkat pertama tahun 1870 dengan topik risalah “ Penafsir Taurat yang berasal dari Yahudi Abad Tengah.” Banyak dari karya Ignaz Goldziher yang membahas masalah keIslaman yang dipublisir dengan menggunkan bahasa Jerman, Inggris dan Prancis bahkan sebagian diterjemahkan kedalam bahasa Arab . dan yang paling berpengaruh dari karya-karya tulisnya adalah buku Muhammadanische Studien yang menjadi rujukan utama dalam penelitian hadis di Barat. Menurut Prof. Dr. Muhammad Musthafa Azami , Ignaz Goldziher adalah orientalis pertama yamg melakukan kajian tentang hadis yang kemudian disusul oleh orientalis lain seperti Josep Schacht (1902-1969). Lihat: Ali Musthafa Yaqub, Kritik Hadis...hlm. 14., lihat juga: Abdurrahman Badawi, Ensiklopedi Tokoh Orientalis, (Yogyakarta: LKiS), hlm. 151. 
 
[21] Ali Musthafa Yaqub, Kritik Hadis, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2008), hlm. 15. 

[22] Ali Musthafa Yaqub, Kritik Hadis...hlm. 15. 

[23] M. Azani, “Kritik Hadis Indonesia: Studi Pemikiran Musthafa Yaqub pada Kritik Hadis”, dalam jurnal Studi Ilmu-Ilmu Al-Qur’an dan Hadis Vol. 8, No. 2, Juli 2007. 

[24] Terkait dengan kritik Ignaz Goldziher, menurutnya untuk mewujudkan usaha politis, Abd Malik bin Marwan menugaskan Ibn shihab al-Zuhri, dan bukan sabda Nabi Muhammad saw., meskipun hadis tersebut tercantum dalam kitab Shahih al-Bukhari yang telah diakui otentisitasnya oleh Umat Muslim bahkan diakui sebagai kitab yang paling otentik setelah al-Qur’an. Lihat: Ali Musthafa Yaqub, Kritik Hadis...hlm. 16. 
 
[25] Ali Musthafa Yaqub, Kritik Hadis...hlm. 17. 

[26] Ali Musthafa Yaqub, Kritik Hadis...hlm.17. 
 
[27] Adalah orientalis Jerman spesialis dalam bidan fiqh Islam, lahir pada 15 maret 1902 di Rottbur, Jerman.  

[28] Ali Musthafa Yaqub, Kritik Hadis...hlm.21. 

[29] Ali Musthafa Yaqub, Kritik Hadis...hlm.28. Lebih lanjut Musthafa A’zami berpendapat bahwa teori “Projecting Back” Josep Schacht, tidak logis mengingat fakta bahwa terdapat sejumlah riwayat yang sama dalam bentuk dan makna dalam literatur para muhaddits dari sekte-sekte Muslim yang berbeda-beda , yang berpecah-pecah hanya sekitar tiga puluh tahun setelah wafatnya Nabi. Seandainya semua hadis hukum dipalsukan pada abad kedua dan ketiga hijriah, maka tidak akan ada satu hadis yang dimuat bersama dalam sumber sekte-sekte yang berbeda ini. Lihat: Kamaruddin Amin, Menguji Kembali Keakuratan Metode Kritik Hadis, Jakarta: PT Mizan Publika, hlm. 139-140. 
 
[30] M. Azani, “Kritik Hadis Indonesia: Studi Pemikiran Musthafa Yaqub pada Kritik Hadis”, dalam jurnal Studi Ilmu-Ilmu Al-Qur’an dan Hadis Vol. 8, No. 2, Juli 2007. hlm. 351. 
 
[31] G.H.A. Juynboll, Kontroversi Hadis di Mesir, terj. Ilyas Hasan, Bandung: Mizan, hlm. 42. 

[32] M. Azani, “Kritik Hadis Indonesia: Studi Pemikiran Musthafa Yaqub...hlm. 352. 

[33] M. Azani, “Kritik Hadis Indonesia: Studi Pemikiran Musthafa Yaqub...hlm. 352. 

[34] M. Azani, “Kritik Hadis Indonesia: Studi Pemikiran Musthafa Yaqub...hlm. 352. 

[35] M. Azani, “Kritik Hadis Indonesia: Studi Pemikiran Musthafa Yaqub...hlm. 352. 

[36] M. Azani, “Kritik Hadis Indonesia: Studi Pemikiran Musthafa Yaqub...hlm. 352. 

[37] M. Azani, “Kritik Hadis Indonesia: Studi Pemikiran Musthafa Yaqub...hlm. 352. 

[38] M. Azani, “Kritik Hadis Indonesia: Studi Pemikiran Musthafa Yaqub...hlm. 353. Apa yang menjadi syarat bagi Musthafa Yaqub adalah sebagaimana yang disyaratkan oleh Nuruddin ‘Itr. Lihat : Nuruddin ‘Itr, Manhaj al-Naqd fi ‘Ulul al-Hadits, (Beirut, Dar al-Fikr al-Mu’ashir, 1997), hlm. 246. 

[39] Dalam kasus ini Musthafa Yaqub dikritik fatwa majlis tarjih Muhammadiyyah, karena ia dinilai mendha’ifkan hadis-hadis yang dijadikan sandaran dalam menentukan rakaat shalat tarawih, keterangan lebih lanjut dapat dilihat dalam bukunya, Ali Musthafa Yaqub, Hadis-hadis bermasalah (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2003), hlm. 8 
 
[40] Bukhari, Shahih al-Bukhari, Juz I, DVD ROM al-Maktabah al-Syamilah ( Solo: Pustaka Ridwana, 2004).  hlm.22. 
 
[41] M. Azani, “Kritik Hadis Indonesia: Studi Pemikiran Musthafa Yaqub...hlm. 360. 

[42] Imam Muslim, Shahih al-Muslim, Juz I, DVD ROM al-Maktabah al-Syamilah ( Solo: Pustaka Ridwana, 2004) hlm, 385. 

[43] Bukhari, Shahih al-Bukhari, Juz IV,DVD ROM al-Maktabah al-Syamilah ( Solo: Pustaka Ridwana, 2004).hlm, 412 

[44] Bukhari, Shahih al-Bukhari, Juz II ,DVD ROM al-Maktabah al-Syamilah ( Solo: Pustaka Ridwana, 2004).hlm, 378. 

[45] M. Azani, “Kritik Hadis Indonesia: Studi Pemikiran Musthafa Yaqub pada Kritik Hadis”, dalam jurnal Studi Ilmu-Ilmu Al-Qur’an dan Hadis Vol. 8, No. 2, Juli 2007, hlm. 359-362. 

[46]Al-Bayhaqi, Syu’ab al-Iman, Juz VIII ,DVD ROM al-Maktabah al-Syamilah ( Solo: Pustaka Ridwana, 2004).hlm, 462. 

[47] M. Azani, “Kritik Hadis Indonesia: Studi Pemikiran Musthafa Yaqub...hlm. 364. 
 
[48] Al-Suyuthi, Jam’ al-Jawami’/ al-Jami’ al-Kabir , Juz I ,DVD ROM al-Maktabah al-Syamilah ( Solo: Pustaka Ridwana, 2004).hlm, 22629. 
 
[49] Bukhari, Shahih al-Bukhari, Juz I,DVD ROM al-Maktabah al-Syamilah ( Solo: Pustaka Ridwana, 2004).hlm, 400. 

[50] M. Azani, “Kritik Hadis Indonesia: Studi Pemikiran Musthafa Yaqub...hlm. 365-366. 
 

0 Response to "Studi Pemikiran Ali Musthafa Yaqub pada Kritik Hadis"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!