Telaah Seputar Pengertian Akhlak dalam Islam

Advertisement

Telaah Seputar Pengertian Akhlak dalam Islam

Adalah sangat logis ketika ada sebuah syair Arab yang menyatakan bahwa “ Tegaknya suatu bangsa tergantung pada akhlaknya, apabila akhlaknya rusak , maka binasalah bangsa itu.[1]” Dari ungkapan tersebut sangat jelas peran akhlak dalam kehidupan manusia sangat penting, akhlak dapat membentuk sebuah peradaban umat manusia, dan menjadi warisan sejarah untuk generasi berikutnya, apakah peradaban tersebut dinilai positif dimata generasi selanjutnya atau mungkin sebaliknya.

Pengertian Akhlak dalam Islam

Ketika berbicara realita yang terjadi dalam kehidupan manusia pada saat sekarang ini, tentunya akan akan timbul sebuah pertanyaan, apakah ini yang akan kita wariskan kepada anak cucu kita? Pertanyaan tersebut sangat sederhana akan tetapi mempunyai nilai filosofis yang dalam maknanya. Salah satu dari nilai tersebut adalah memberikan isyarat kepada kita agar memberikan suatu hal yang terbaik, dan dapat dikenang sepanjang sejarah. Tidak dapat dipungkiri manusia sering melakukan hal- hal yang bisa mendatangkan kemudhorotan bagi dirinya sendiri, akan tetapi perbuatan masih dikerjakan. Banyak dijumpai dalam kehidupan kita sehari-hari selalu mementingkan kepentingan pribadi diatas kepentingan orang lain, padahal kita tahu Nabi SAW pernah bersabda : “Tidak sempurna iman seseorang, jika ia tidak mencintai oramng lain sebagaiman ia mencinatai dirinya sendiri.” hadits tersebut mengajarkan kepada umat manusia agar menjunjung tinggi rasa soledariatas antar sesama, karena tidak dapat dielakkan bahwa manusia tidak bisa hidup tanpa bantuan orang lain. Yang terpenting dari tiu semua adlah bagaimana kita memposisikan diri, kapan menjadi makhluk individu dan makhluk sosial.
  1. Pengertian iman dan akhlak 
  2. Ruang lingkup Akhlak dalam Islam 
  3. Hadits – hadits tentang akhlak 
  4. Korelasi Iman dan Akhlak 
  5. Bagaimana cara mengkorelasikan keduanya 
  6. Macam – macam Akhlak yang terpuji merupakan cerminan dari keimanan
Pengertian iman dan akhlak dalam islam 

Secara etimologi, iman berarti pembenaran hati. Adapun secara terminologi, iman adalah membenarkan dengan hati, mengikrarkan dengan lisan, dan mengamalkan dengan anggota badan. Definisi ini adalah pendapat para jumhur. Diantaranya Imam Syafi’i, beliau meriwayatkan ijma’ para sahabat, tabi’in, dan orang-orang sesudah mereka dan sezaman dengan beliau atas pengertian tersebut.

“Membenarkan dengan hati” maksudnya menerima segala apa yang diwahyukan Allah melalui Rasulullah dengan penuh keyakinan. 

“Mengikrarkan dengan lisan” maksudnya mengucapkan dua kalimat syahadat La ilaha illallah wa anna muhammadan Rasulullah” (Tidak sesembahan yang haq kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah).

“Mengamalkan dengan anggota badan” maksudnya, jika hati telah mengamalkan dalam bentuk keyakinan maka anggota badan yang akan mengamalkannya dalam bentuk ibadah-ibadah yang sesuai dengan fungsi mereka masing-masing.

Kaum salaf menjadikan amal termasuk dalam pengertian keimanan. Jadi tiga pernyataan diatas merupakan keadaan yang tak terpisahkan. Iman itu harus diyakini dengan hati, diucapkan dengan lisan, dan diamalkan dengan angggota badan. Iman sendiri nantinya bisa bertambah dan berkurang seiring dengan bertambah dan berkurangnya amal sholeh seseorang.

Definisi Akhlak

Secara etimologi Akhlak merupakan bentuk jam’ dari kata khuluq yang berarti budi pekrti, perangai, tingkah laku atau tabi’at.[2] Secara terminologi Akhlak dapat diartikan ( beberapa pendapat para ulama’) diantaranya sebagai berikut :

a. Imam Al-ghozali

فالخلق عبارة عن هيئة فى النفس راسخة,عنهاتصدرالافعال بسهولةويسرمن غيرحاجة إلى فكرورؤيةز

Artinya: Akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan perbuatan- perbuatan dengan gampang dan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan

b. Ibrahim Anis 

الخلق حال للنفس راسخة,تصدرعنها الاعمال من خير أوشرمن غير حاجة 
إلى فكرورؤية.

Artinya: Akhlak adlah sifat yang tertanam dalam jiwa, yang dengannya lahirlah macam- macam perbuatan, baik atau buruk, tanpa membuthkan pemikiran dan pertimbangan.

c. Abdul karim Zaidan

مجموعة من المعاني والصفات المستقرة فى النفس وفى ضوءهاوميزانها
يحسن الفعل فى نظرالانسان إو يقبح,ومن ثم يقدم عليه أويحجم عنه.

Artinya: (Akhlak) adlah nilai – nilai dan sifat-sifat yang tertanam dalam jiwa, yang dengan sorotan dantimbangannya seseorang dapat menilai perbuatannya baik atau buruk, untuk kemudian memilih atau meninggalkannya.

Dari keterangan- keterangan diatas haruslah Akhlak bersifat konstan, spontan, tidak temporer dan tidak memerlukan pemikiran dan pertimbangan serta dorongan dari luar. Meskipun dari beberapa definisi diatas kata akhlak bersifat netral belum menunjukkan kepada yang baik dan buruk, akan tetapi pada umumnya bila disebut sendirian, tidak dirangkai dengan sifat tertentu, maka yang dimaksud adalah akhlak yang mulia. Misalnya apabila ada seseorang yang berlaku kurang sopan kita mengatkannya,” kamu tidak berakhlak.” Padahal sesungguhnya tidak sopan itu adalah akhlaknya.

Ruang Lingkup Akhlak Islam

Ruang l;ingkup akhlak dalam islam sangat luas, salah seorang ulam yang bernama Muhammad Abdullah Draz dalam kitabnya Dustur al-Akhlaq fi al-Islam, membaginya kedalam lima bagian : 

a. Akhlak pribadi ( al-Akhlaqu al Fardiyah )

· Apa yang diperintahkan (al-Awaamir)
· Apa yang dilarang (al-Nawaahi) 
· Apa yang dibolehkan (al- Mubahat)
· Akhlak dalam keadaan darurat (al-Mukhalafah bi al - Idhthirar) 

b. Akhlak berkeluarga (al-Akhlaqu al-Usariyah)

· Kewajiban timbal balik orang tua dan anak (wajibat nahwa al-ushul wa al-furu)
· Kewaajiban suami istri (wajibat baina al-azwaj)
· Kewajiban terhadap karib kerabat (wajibat nahwa al-qarib)

c. Akhlak bermasyarakat (al-akhlak al-ijtima’iyah)

· yang di larang (al-mahdzurah)
· yang diperintahkan ( alawamir)
· kaidah- kaidah adab ( qawa’id al-adab)

d. Akhlak bernegara ( akhlak ad daulah)

· hubungan antara pemimpin dan rakyat ( alaqah baina rais wa as sy’b)
· hubungan luar negeri ( al alaqat al khorijiyah)

e. Akhlak beragama ( al akhlak ad dinniyah)

· kewajiban terhadap Allah SWT ( wajibat nahwa Allah )

Hadis Hadis Tentang Akhlak

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ الثَّقَفِيُّ قَالَ حَدَّثَنَا أَيُّوبُ عَنْ أَبِي قِلَابَةَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ

Artinya : Dari Anas bin MalikRA berkata Rasulullah SAW bersabda,” Ada tiga perkara yang jika terdapat pada seseorang maka ia akan merasakan manisnya iman ;Allah dan Rasul-Nya leabih dicintai melebihi yang lain, tidak mencintai seseorang melainkan karena Allah, dan benci jika kembali kedaalam jurang kekufuran sebagaiman ia benci mendapatkan tempat di neraka. ( HR Bukhori)

Adalah merupakan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori yang menceritakan tentang bagaiman seseorang dapat merasakan nikmatnya iman, umtuk lebih jelasnya tentang manisnya iman penulis akan mengupas hadits tersebut.

Begitu banyak jalur sanad yang meriwayatkan hadits ini, dan kedhbitan para rawi (tsiqah), hadits ini mempunyai kedudukan sebagai hadits shahih.

Korelasi Iman dan Akhlak

Dalam agama islam akhlak mempunyai kedudukan yang sangat penting dan keistimewaan tersendiri, keistimewaan itu adalah sebagai berikut :

1.Rasulullah SAW menempatkan penyempurnaan akhak yang mulia sebagai misi pokok risalah islam
2. Akhlak merupakan salah satu ajaaran pokok islam
3. Akhlak yang baik akan memberatkan timbangan kebaikan seseorang nanti pada hari kiamat.
4. Rasulullah SAW menjadikan baik buruk sebagai ukuran kualitas iman
5.Islam menjadikan akhlak yang baik sebagai bukti dan buah dari ibadah kepada Allah SWT
6.Nabi Muhammmad SaW selalu berdoa agar Allah membaikkan akhlak beliau

Demikian eratnya hubungan keduanya sampai- sampai Nabi bersabda dalam haditsnya, yang diriwayatkan oleh imam Bukhori bahwa kenikmatan atau manisnya iamn akan didapatkan oleh manusia jika ia sanggup menjalankan konsep ynag ditawarkan oleh Nabi yaitu :

· Allah dan Rasul-Nya leabih dicintai melebihi yang lain
· Tidak mencintai seseorang melainkan karena Allah
· dan Benci jika kembali kedaalam jurang kekufuran sebagaiman ia benci mendapatkan tempat di neraka

Cara Mengkorelasikan Aklak dan Keimanan

Dalam fiman-Nya Allah SWT menegaskan bahwa jiwa yang bersih akan menumbuhkan perbuatan baik terdapat pada surah al A’raf ayat 58 yang berbunyi :

والبلد الطيبات يخرج نباته بإذن ربه والذي خبث لايخرج إلانكدا كذلك نصرف الإيت لقوم يشكرون 

Artinya : “ pada bumi yang subur tumbuh tanman – tanamannya dengan izin tuhan. Tetapi pada tanha yang gersang tanaman- tanamannya tiada tumbuh, melainkan dengan hidup merana. Begitulah kami jelaskan kepada kaum yang bersyukur.

Dalam ayat ini dijelaskan, di tanah yang subur akan tumbuh tanaman – tanaman yang baik, cepat besar dan membuahkan hasil. Dan sebaliknya pada bumi yang tidak subur, tanha yang gersang, tanaman- tanamannya tiada yang tumbuh melainkan dengan hidup merana, bagai kerak tumbuh di batu, hidup segan mati tak mau.

Hati yang suci dan jiwa yang bersih ( keimanan yang dimiliki selalu terjaga), digambarkan sebagai bumi yang subur.sebaliknya hati dan jiwa yang kotor diumpamakan seabgai bumi yang gersang. Dari jiwa yang subur akan tumbuh denagan subur amal dan perbuatan baik, berguna bagi kemanusiaan.dari jia yang kotor dan hati yang jahat, sukar diharapkan lahirnya perbuatan – perbuatan baik. Kalau ada hanya sedikit sekali dan dengan susah payah.[3]

Iman merupakan sebuah kekuatan yang sanggup menjaga manusia dari perbuatan – perbuaatan rendah dan nista, juga merupakan kekuatan yang mendorong manusia kearah perbuatan yang mulia dan terpuji. Dari titik tolak itulah seruan Allah yang memerintahkan manusia agar mendambakan kebajikan dan menghindari kejahatan dan menjadikannya tuntutan iman yang bersemayam di lubuk hati.

Rasul juga menjelaskan, iman yang kuat pasti melahirkan budi pekerti yang kuat pula. Sebaliknya rusaknya budi pekerti pasti akibat dari lemahnya iman, atau karena hilangnya iman disebabkan oleh terlampau besarnya perbuatan jahat dan kebodohan seseorang.[4]

Dari ajaran – ajaran tersebut jelaslah sudah bahwa islam datang untuk membawa manusia dengan langkah – langkah yang besar, pindah ke alam kehidupan yang cerah dan penuh dengan keutamaan serta adab kesopanan. Budi pekerti bukanlah seperti barang mewah yang kurang di perlukan. Ia merupakan tiang kehidupan yang diridhoi oleh agama dan membuat pelakunya dihormati orang.

Dalam menanggulangi masalah kejiwaan dengan maksud untuk memperbaikinya, Islam memandang hal itu dari dua sudut: 

didalam jiwa manusia sebenarnya terdapat fitrah yang baik, yaitu selalu menginginkan kebajikan dan akan merasa senang jika dapat mengerjakannya. Ia tidak menyukai kejahatan dan akan merasa sedih bila sampai terlibat didalamnya. Ia juga berpendapat, kelestarian eksistensinya tergantung pada kebenaran, begitu juga keselamatan hidupnya. 

jiwa manusia juga memiliki kecenderungan liar, ia ingin lari meninggalkan jalan yang benar,merasa puas kalau dapat melakukan sesuatu yang mendatangkan kemudhorotan dan yang akan menjerumuskannya kedalam lembah kehinaan. 

Jadi, pada dasarnya dalam diri setiap insan akan mempunyai dua sifat yang saling bertentangan antara yang satu dengan yang lainnya yaitu, kecenderungan untuk melakukan perbuatan yang terpuji dan kecenderungan melakukan perbuatan tercela.

Akhlak Terpuji Merupakan Cerminan Keimanan

Manusia akan melakukan apa saja demi mendapatkan apa saja yang menjadi keinginannya, begitu juga dengan keinginan manusia untuk bisa merasakan manisnya iman. Diantara sifat –sifat yang dapat mewujudkannya ialah :

1. jujur dan terpercaya ( amanah )
2. setia memenuhi janji
3. ikhlas 
4. dermawan 
5. murah hati 
6. lapang dada
7. sabar dan suka memaafkan
8. hidup suci dan hemat
9. kebersihan, kedehatan dan berhias
10. menjauhkan perasaan iri, dengki, hasut, ujub takabur, sombong dan lain sebagainya. 

Kesimpulan
Iman yang kuat pasti melahirkan budi pekerti yang kuat pula. Sebaliknya rusaknya budi pekerti pasti akibat dari lemahnya iman, atau karena hilangnya iman disebabkan oleh terlampau besarnya perbuatan jahat dan kebodohan seseorang. Sebagai penutup penulis menyadari bahwa dalam penyususunan makalah ini masih banyak dijumpai berbagai kekurangan, oleh sebab itu kami mengharapkan saran konstruktif guna perbaikan dalam penyusunan makalah yang akan datang.

DAFTAR PUSTAKA

An-Nawawi, Al-Imam abu Zakaria yahya bin Syaraf, Riyadush sholihin terj. Ahmad sunarto. Jakarta : Pustaka Amani.1999
HS, Fakhrudin.Membentuk Moral bimbingan al-Qur’an. (Jakarta : Bina Aksara 1985)
Al-Qur’an dan Terjemahannya. Bandung: PT. al-Ma’arif. 2005.
al-Husaini, Ibnu Hamzah al-Damsyiqi. Asbabul Wurud. Terj. H.M.Suarta widjaya B.A. dan Drs. Zafrullah Salim. Jakarta: Kalam Mulia. 2005.
al-Ghazali, Muhammad. Akhlak Seorang Muslim. Bandung: PT. Al-Ma’arif, 1995.
Musfah, Jejen. Indeks al-Qur’an Praktis. Jakarta: Hikmah. 2007.
As Samarqandi, Al faqih abu laits. Tanbighul ghofilin. Pustaka Amani



0 Response to "Telaah Seputar Pengertian Akhlak dalam Islam"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!