Biografi Abu Daud dan Kitab Syarahnya Sunan Abi Daud

Advertisement

Kajian Kitab Syarh al-Hadis
Syarh Sunan Abi Daud li al-‘Aini karya Badruddin al-‘Aini
Oleh: Lina Halimah (07530056)

Tak diragukan lagi, kitab Sunan Abi Daud merupakan salah satu kitab rujukan hadis primer paling terkemuka bagi umat Islam. Tak terhitung pujian dan penilaian baik yang ditujukan pada kitab tersebut. Maka tak heran, banyak ulama’ yang mencurahkan perhatiannya dalam menyusun kitab syarah bagi Sunan Abi Daud ini, diantaranya ’Aun al-Ma’bud karya Muhammad Syams al-Haqq Abu al-Thayyib dan Mā’alim al-Sunan karya Abu Sulaiman Hamd ibn Muhammad ibn Ibrahim al-Khathabi.

Tulisan ini akan memfokuskan bahasannya pada kitab Syarh Sunan Abi Daud karya Badruddin al-’Aini dan hal-hal yang berkaitan dengan kitab tersebut, seperti latar belakang penyusunan kitab, sistematika serta metode penyusunannya, jumlah hadis yang disyarahi di dalamnya, metodologi dan pendekatan yang digunakan dalam mensyarahi hadis-hadis yang terdapat dalam Sunan Abi Daud, dan isu-isu lain yang sekiranya masih terkait, tentunya dengan tidak pula menafikan informasi mengenai penulisnya juga. Semoga tulisan ini dapat memberi sedikit warna bagi perkembangan kajian Islam, syarh hadis khususnya.

Sekilas tentang Pengarang Kitab Syarh Sunan Abi Daud li al-‘Aini

Al-Aini, memiliki nama lengkap Mahmud ibn Ahmad ibn Musa ibn Ahmad ibn Husain ibn Yusuf ibn Mahmud al-‘Aintabi al-Halbi al-Qahiri al-Hanafi, akan tetapi beliau lebih masyhur dengan sebutan al-‘Aini, Abu al-Tsana’ ibn Syihab, Abu Muhammad, ataupun Badruddin.[1] Beliau lahir pada bulan Ramadhan tahun 762 H/1361 M, selang empat tahun sebelum kelahiran Imam al-Maqrizi, di sebuah negara kecil yang bernama Aintab yang terletak antara kota Halb dan Anthokiyah (Suriah).[2]

Diceritakan bahwa beliau, pada masa kecilnya, telah mulai mendalami al-Qur’an. Kepada gurunya, al-Syaikh Muhammad al-Ra’i ibn al-Zahid, ia mempelajari ilmu sharf, bahasa Arab dan mantik. Selain itu, kepada al-Badr dan Mahmud ibn Ahmad al-’Aintabi al-Wa’izh ia mendalami ilmu sharf dan fara’idh. Lebih jauh, dalam bidang nahwu ia belajar kitab al-Mufashshil dan al-Taudhi’ serta al-Tanqih kepada al-Atsir Jibril ibn Shalih al-Baghdadi, yang merupakan salah seorang murid dari al-Tuftazani. Ia juga belajar kitab al-Mishbah kepada Khairuddin al-Qashir, dan Dhau’ al-Mishbah kepada Dzu al-Nuun.[3]

Biografi Abu Daud dan Kitab Syarahnya

Dilihat dari daftar panjang ilmu-ilmu yang dipelajari dan dikuasainya, tampaknya bahasa menyedot perhatian terbesarnya. Bahasa memang menjadi perhatian utamanya, karena menurutnya, bahasa merupakan kunci pembuka segala ilmu. Di samping memperdalam bahasa Arab, ia juga mempelajari bahasa Turki, dan bahkan bisa menguasainya. Kendati demikian, ilmu-ilmu lain juga tak luput dari perhatiannya, terutama fiqh.[4]

Karya-karyanya terhitung banyak, diantaranya: ‘Umdah al-Qāri Syarh Shahîh al-Bukhāri, Syarh Sunan Abi Daud li al-‘Aini, Maghāni al-Akhyār fî Rijāl Ma’āni al-Atsār, Tārîkh al-Badr fî Aushāf Ahl al-‘Ashr, Mabāni al-Akhbār fî Syarh Ma’āni al-Atsār, Thabaqāt al-Hanafiyyah, dan lain-lain.[5]

Ia wafat pada malam Selasa, 4 Dzulhijjah 855 H/1451 M dan dimakamkan di masjid dekat universitas yang telah membesarkan namanya, al-Azhar, Mesir.[6]

Mengenal Kitab Syarh Sunan Abi Daud li al-‘Aini

Kitab ini merupakan salah satu kitab syarh alternatif atas Sunan Abi Daud, di samping ‘Aun al-Ma’bud karya Abu Thayyib, yang dinilai merupakan karya terbaik dalam hal ini. Diantara karya-karya ulama yang lain yang berusaha mensyarahi Sunan Abi Daud ialah: Mā’alim al-Sunan karya Abu Sulaiman Hamd ibn Muhammad ibn Ibrahim al-Khathabi, Fath al-Wadûd ‘alā Sunan Abi Daud karya Abu al-Hasan al-Sindi, Ta’lîqāt al-Mahmûd karya Fajr al-Husain Kanjuhi, Ghāyah al-Maqshûd fî Halli Sunan Abi Daud karya Muhammad Syams al-Haq, dan sebagainya.

Sang muhaqqiq, Abu al-Mundzir Khalid ibn Ibrahim al-Mishri boleh dibilang berjasa besar dalam ‘menyempurnakan’ kitab ini.[7] Karena, sebagaimana diakui oleh al-‘Aini dalam kitab syarhnya yang lain, ‘Umdah al-Qārî, bahwa ia belum sempat menyelesaikan kitab syarhnya terhadap Sunan Abi Daud, dikarenakan kesibukannya dan kebingungannya mengenai pembatasan dan pemilahan materi dalam kitab syarhnya tersebut.[8]

Adapun dalam penyempurnaannya, Abu al-Mundzir merujuk pada karya-karya lain yang merupakan syarh dari Sunan Abi Daud juga, yaitu: (1) al-Dhau’ al-Lāmi’ karya al-Sakhawi, (2) al-Badr al-Thāli’ karya al-Syaukani, (3) Syadzarāt al-Dzahab karya Ibn al-‘Imad, (4) Kasyf al-Zhunûn dan (5) al-A’lām karya al-Zarkali.[9]

Sistematika Penulisan Kitab Sunan Abi Daud

Abu al-Mundzir mengawali kitab ini dengan memaparkan berbagai pendapat, yang sebagian besar memang memuji, para ulama terkait kitab Sunan Abi Daud. Ia tak lupa mencantumkan biografi panjang pengarang kitab, yakni Badruddin al-‘Aini.

Selanjutnya, masih dalam Muqaddimah, ia menjelaskan panjang lebar mengenai konsep-konsep ulûm al-hadîs yang dipergunakan Abu Daud dalam kitab sunannya. Ia juga memaparkan perangkat-perangkat dan langkah-langkah yang digunakannya dalam men-tahqiq kitab Syarh Sunan Abi Daud li al-‘Aini tersebut.

Kitab ini terdiri dari enam juz, termasuk juga daftar isi kitabnya. Adapun materi hadisnya terbagi kepada empat bagian besar, yakni: (1) Kitāb al-Thahārāh, terbagi kepada 131 bab; (2) Kitāb al-Shalāh, terbagi kepada 353 bab; (3) Kitāb al-Janā’iz, terbagi kepada 79 bab; Kitāb al-Zakāh, terbagi kepada 44 bab. Jika dibandingkan dengan karyanya dalam bidang syarh hadis yang lain, yakni ‘Umdah al-Qārî Syarh Shahîh al-Bukhārî, karyanya ini cenderung jauh lebih ringkas, karena di dalamnya hanya memuat 1818 hadis saja.[10] Hal ini memang wajar, karena memang kitab ini merupakan kitab syarh yang belum sempat terselesaikan, sehingga tidak semua hadis dalam Sunan Abi Daud disyarahi di dalamnya, lain halnya dengan ’Umdah al-Qari’.

Sumber Pengambilan Data Sunan Abi Daud

Masih dalam Muqaddimah Abu al-Mundzir mengemukakan hasil penelitiannya terhadap kitab syarh tersebut. Setelah melalui proses penelaahan yang panjang, pada akhirnya ia berkesimpulan bahwa al-‘Aini –dalam menyusun kitab syarhnya– banyak mengutip dari berbagai kitab syarh, takhrij, rijal, maupun bahasa.[11] Kitab-kitab tersebut diantaranya: dalam bidang syarh hadis diantaranya ialah Ma’ālim al-Sunan fi Syarh Sunan Abi Daud karya al-Khattabi, Syarh Shahîh Muslim karya al-Nawāwî, Mukhtashar al-Sunan karya al-Mundzirî; dalam hal takhrij al-hadis diantaranya ialah Nashab al-Rāyah fî Takhrîj Ahādîs al-Hidāyah; dalam ilmu gharib al-hadis diantaranya ialah al-Nihayah fi Gharib al-Hadis wa al-Atsar karya Ibn al-Atsir; dalam bidang bahasa diantaranya ialah al-Shahāh; dalam hal ilmu rijal al-hadis diantaranya ialah al-Kamāl fî Asmā’ al-Rijāl karya Abdul Ghani al-Maqdisi; dan lain-lain. Sumber-sumber ini terkadang ia sebutkan penukilannya, akan tetapi di lain tempat terkadang ia tidak menyebutkannya.

Metode Pensyarahan Hadis Kitab Sunan Abi Daud

Adapun metode yang digunakan al-‘Aini dalam kitab Syarh Sunan Abi Daud li al-‘Aini adalah antara lain:

- Mencantumkan hadis dari Sunan Abi Daud, ditandai dengan huruf ‘ص’ pada awal hadis (hadis disertai dengan sanadnya secara lengkap).
- Memulai pensyarahan dengan tanda ‘ش’ pada awal paragrafnya.
- Menjelaskan isi hadis dari kalimat per kalimatnya, terutama dari segi nahwu-sharafnya.
- Terkadang memaparkan informasi singkat mengenai rawi dalam hadis, disertai dengan petunjuk cara membaca namanya.
- Terkadang menambahkan beberapa pendapat pribadinya, ditandai dengan simbol ‘صح’
- Terkadang menampilkan beberapa perbedaan pendapat di kalangan ulama dalam suatu hal.
- Pada akhir pensyarahan menyebutkan mukharrij selain Abu Daud yang juga meriwayatkan hadis yang disyarahi

Contoh 1: Kitab al-Thahārāh, bab al-Istinjā’ bi al-Mā’[12]

32- ص- حدثنا وهب بن بقية، عن خالد الواسطي، عن خالد- يعني: الحذاء- عن عطاء بن أبي ميمونة، عن أنس بن مالك: " أن رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دخل حائطاً ومعه غُلام معه ميضأةٌ ، وهو أصْغرُنا، فوضعها عند السّدرة، فقضى حاجتهُ، فخرج علينا وقد استنجى بالماء ".

Syarah:
- Wahb ibn Baqiyah ibn Utsman ibn Sabur ibn ‘Ubayd ibn Adam ibn Ziyad ibn Dhab’ ibn Qays ibn Sa’d ibn ‘Ubadah Abu Muhammad al-Wasithi, dikenal dengan sebutan “Wahban”, gurunya antara lain: Khalid ibn ‘Abdullah, Ja’far ibn Sulaiman, Hasyim ibn Basyir, Nuh ibn Qays; adapun muridnya antara lain ialah Imam Muslim, Imam Abu Daud, Hanbal ibn Ishaq, dan lain-lain. Ia lahir pada 155 H dan wafat pada 239 H.

- Khalid ibn Mahran al-Hudza’ Abu al-Munazil al-Bashri al-Qurasyi, dan disebutkan bahwa ia merupakan seorang pemuka Bani Majasyi’. Gurnya antara lain adalah: Abu ‘Utsman al-Nahdiy, Atha’ ibn Abi Maymunah, Atha’ ibn Abi Rabbah, dan lain-lain. Adapun muridnya diantaranya adalah: Muhammad ibn Sirrin, al-A’masy, Manshur, Ibn Juraij, al-Tsauriy, Syu’bah, dan lainnya. Menurut Ibn Mu’ayyan: Tsiqah, sedang menurut Ahmad: Tsabt. Ia wafat pada 148 H. seluruh Imam yang enam meriwayatkan hadis darinya.

- ‘Atha’ ibn Maymunah al-Bashri, budaknya Anas ibn Malik, dikatakan juga nahwa ia adalah budak ‘Imran ibn Hushayn. Gurunya antara lain adalah: Anas ibn Malik, Abu Rafi’ al-Sha’igh, adapun muridnya antara lain: Khalid al-Hudza’, Rawah ibn al-Qasim dan Syubah. Menurut Abu Zur’ah: Tsiqah, adapun menurut Abu Hatim: Yahtaj bihaditsihi. Ibn ‘Adiy berpendapat: Dari sebagian hadis yang diriwayatkannya terdapat hadis munkar. Ia wafat pada 131 H. Seluruh imam yang enam meriwayatkan hadis darinya, kecuali al-Tirmidzi.

(الحائط) : البستان من النخيل , jama’nya adalah " الحوائط ", yang dimaksud dengan الحائط adalah tembok.

(ميضأة) : dengan mengkasrahkan mim dan memfathahkan huruf setelah Dhad, merupakan suatu wadah air yang dipergunakan untuk berwudhu. Dan sabda Nabi " معه ميضأة "adalah kalimat yang menjadi ‘sifat’ bagi " غلام ".

(وهو أصغرنا) : kalimat yang menempati posisi sebagai ‘hal’ terhadap " غلام "; maksudnya, beliau masuk bersama seorang anak laki-laki, adapun ‘hal’nya bahwa anak tersebut lebih muda umurnya pada saat itu.

(فوضعها عند السدرة) : maksudnya ialah وضع الميضأة بحضرة السدرة. السدرة di sini bermakna semacam tumbuhan atau dedaunan.

(فقضى حاجته) : maksudnya ialah Rasul membuang hajatnya.

(وقد استنجى بالماء) : Jumlah fi’liyah yang menempati posisi sebagai ‘hal’. Dan sebagaimana telah diketahui bahwa jika terdapat jumlah fi’liyah yang bertakdir sebagai ‘hal’ sedang fi’ilnya merupakan fi’il madhi mutsbit, dan harus menggunakan ‘قد’ sebagai penguat atau penegas, sebagaimana dalam kalimat (جاء زيد قد ضحك) dan dalam salah satu ayat al-Qur’an (أوْ جاءُوكُمْ حصرتْ صُدُورُهُمْ), maka maksudnya adalah قد حصرت, yakni telah benar-benar hadir dalam hati mereka…

Dalam hadis ini terkandung beberapa faidah, yakni:

Pertama, membiasakan untuk menjauh dari orang lain ketika akan membuang hajat.
Kedua, terhalang dari pandangan orang lain ketika sedang membuang hajat.
Ketiga, kebolehan untuk minta ditemani oleh salah seorang teman saat hendak membuang hajat.
Keempat, kebolehan menemani orang-orang shalih dan para ahl al-fadhl, dalam rangka bertabarruk melalui mereka.
Kelima, kebolehan untuk minta ditemani oleh anak kecil saat membuang hajat.
Keenam, kebolehan beristinja’ dengan air, dibolehkan juga jika hanya menggunakan batu. Akan tetapi orang-orang berbeda pendapat dalam hal ini. Adapun jumhur ulama’, baik ulama’ salaf maupun khalaf, berpendapat bahwa yang paling afdhal adalah menggabungkan antara istinja’ dengan air dan dengan batu. Akan tetapi, jika tidak memungkinkan, maka diperbolehkan menggunakan apapun yang ditemuinya kala itu, meski memang yang lebih afdhal adalah dengan menggunakan air. Imam Hubaib al-Maliki manyatakan: ”Tidaklah diperkenankan menggunakan batu, melainkan bagi mereka yang tidak memperoleh air.”

Hadis yang diriwayatkan oleh Anas ini diriwayatkan juga oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim.

Selanjutnya penulis akan mencoba membandingkan syarh di atas dengan pensyarahan yang dilakukan oleh Abu al-Thayyib dalam kitab syarhnya terhadap Sunan Abi Daud, yakni ‘Aun al-Ma’bud. Dengan tema yang sama (beristinja’ dengan air), penulis menemukan data pada kitab ’Aun al-Ma’bud dalam kitab al-Thaharah bab fi al-Istinja’ bi al-Ma’ Ba’da Qadha’ al-Hajah, juz I halaman 43.

Abu al-Thayyib dalam mensyarahi masalah yang sama, cenderung lebih ringkas jika dibandingkan syarh yang dikemukakan al-‘Aini dalam kitabnya. Abu al-Thayyib cenderung secara langsung mensyarahi kalimat per kalimat yang terdapat dalam hadis, adapun al-‘Aini terlebih dahulu bermain-main dengan sisi-sisi kebahasaannya, semisal kedudukan kalimat-kalimat tertentu dalam hadis tersebut menurut ilmu nahwu. Al-‘Aini bahkan tidak melewatkan pemaparan mengenai informasi rawi dalam hadis yang disyarahi, lain halnya dengan Abu al-Thayyib yang tidak mencantumkannya sama sekali. Dalam mensyarahi hadis tentang beristinja’ dengan air di atas, al-‘Aini bahkan menyebutkan beberapa faidah hadis tersebut, suatu hal yang dilewatkan oleh Abu al-Thayyib.

Akan tetapi, satu yang penulis garis bawahi, perbedaan pendapat mengenai masalah istinja’ dengan air jauh lebih banyak diungkapkan oleh Abu al-Thayyib ketimbang al-‘Aini. Abu al-Thayyib bahkan mengungkapkan lebih dari tiga pendapat yang berlainan dari berbagai ulama’ baik salaf maupun khalaf.[13]

Terlihat dari pola pensyarahannya bahwa al-‘Aini cenderung berkutat pada aspek bahasanya, yang memang, menurutnya sendiri, merupakan ‘perangkat’ mendasar yang mesti digunakan dalam memahami hal apapun (“kunci pembuka segala ilmu”). Adapun metode yang digunakan al-‘Aini dalam mensyarahi kitab Sunan milik Abu Daud, penulis menyimpulkan bahwa al-‘Aini menggunakan metode tahlili dalam kitab syarhnya tersebut, meski memang terdapat kecenderungan untuk menampilkan berbagai perbedaan pendapat (muqaran) pada beberapa tema tertentu, yang dalam hal ini telah penulis paparkan sebelumnya dengan contoh mengenai beristinja’ dengan air.

Meski begitu, penulis tidak lantas menafikan adanya indikasi bahwa al-‘Aini juga menggunakan metode selain tahlili atau muqaran dalam mensyarahi hadis dalam kitabnya tersebut. Dapat kita lihat pada contoh berikut bahwa al-‘Aini hanya secara global menjelaskan isi hadis di bawah.

Contoh 2: Kitab al-Janā’iz bab Husnu al-Zhān Lillāh ‘inda al-Maut [14]

13- باب: حسن الظن بالله عند الموت
1548- ص- نا مسدد، نا عيسى بن يونس، نا الأعمش، عن أي سفيان عن جابر بن عبد الله- رضي الله عنه- قال: سمعتُ رسول الله صلى الله عليه وسلم يقولُ قبلَ مَوتِه بثلاث، قال: " لا يموت أحدكم إلا وهو يُحْسِنُ بالله اَلظن" (1) .

Syarh:

Sulaiman tak lain adalah al-A’masy, dan Abu Sufyan memiliki nama Thalhah ibn Nafi’ al-Wasithi, dan keduanya sudah pernah diterangkan sebelumnya.

Adapun makna dari hadis di atas ialah: Perbaguslah perbuatan-perbuatan kalian semua dengan berhusnuzhan kepada Allah. Barangsiapa yang buruk perbuatannya, maka sungguh ia telah bersu’uzhan kepada Allah. Berhusnuzhan kepada Allah merupakan suatu bentuk pengharapan dan permohonan maaf, karena sesungguhnya Allah adalah Maha Mulia, Ia mengampuni para hamba-Nya yang memiliki dosa.

Hadis di atas diriwayatkan juga oleh Imam Muslim dan Imam Ibn Majah.

Terlihat dalam syarh hadis di atas al-’Aini hanya sedikit menyinggung pembahasan mengenai informasi para rawi hadis, karena menurutnya rawi-rawi tersebut telah dijelaskan pada hadis dalm bab yang lebih terdahulu. Hal ini menandakan bahwa al-’Aini tidak mau mengulang-ulang suatu pembahasan dalam syarhnya, sementara pembahasan tersebut dapat kita temukan dalam bab sebelumnya.

Kelebihan dan Kekurangan Kitab Sunan Abi Daud

- Kelebihan

1. Kelengkapan materi yang disampaikan dalam syarh, meliputi penjelasan syakal, makna kata, kalimat, kaidah nahwu-sharaf, maupun informasi dasar tentang rawi.

2. Dalam pensyarahannya, sudah menggunakan simbol-simbol tertentu yang dapat lebih memudahkan pembaca untuk mengetahui dan membedakan pandangannya sendiri mengenai suatu masalah.

3. pensyarahannya terhitung lebih meluas, tak hanya sebatas menjelaskan makna kalimat per kalimat, tetapi terkadang juga menyebutkan keutamaan ataupun faidah yang terkandung dalam hadis.

- Kekurangan

1. Merupakan karya yang belum ‘terselesaikan’ dengan sempurna, sehingga penjelasan (syarh) al-‘Aini terhadap kitab sunan milik Abu Daud kemungkinan belum tersampaikan dengan baik.

2. Pada beberapa tempat malah cenderung lebih banyak membahas perihal rawi ketimbang makna kandungan hadisnya.

Kesimpulan

1. Badruddin al-’Aini merupakan salah satu ulama’ terkemuka yang ahli dalam bidang kebahasaan. Karyanya terhitung banyak, dalam bidang syarh hadis antara lain ’Umdah al-Qari’ Syarh Shahih al-Bukhari dan Syarh Sunan Abi Daud.

2. Kitab Syarh Sunan Abi Daud li al-’Aini ini merupakan kitab syarh hadis yang belum sempurna pengerjaannya, dikarenakan al-’Aini telah terlebih dahulu meninggal dunia sebelum sempet menyelesaikan karyanya yang satu ini.

3. dikarenakan al-’Aini merupakan tokoh yang expert dalam bidang bahasa, maka tak heran jika model pensyarahan yang dilakukannya dalam kitab syarhnya yang satu ini menggunakan pendekatan kebahasaan. Adapun dalam mensyarahi, sebagian besar ia menggunakan metode tahlili dalam kitabnya, meski memang terdapat pula hadis-hadis tertentu yang disyarahi dengan metode muqaran dan ijmali.

Daftar Bacaan

1. Abu al-Mundzir Khalid ibn Ibrahim al-Mishri, “Muqaddimah al-Tahqîq” dalam Badruddin al-‘Aini, Syarh Sunan Abi Daud li al-‘Aini juz 1 (Riyadh: Maktabah al-Rusyd, 1420 H/1999 M) dalam DVD-ROM al-Maktabah al-Syamilah.

2. Muhammad Syams al-Haqq Abu al-Thayyib, ‘Aun al-Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud dalam DVD-ROM al-Maktabah al-Syamilah.

3. www.dinul-islam.org, diakses tanggal 30 November 2009.


0 Response to "Biografi Abu Daud dan Kitab Syarahnya Sunan Abi Daud"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!