Biografi dan Cara Pengambilan Hukum As-Syatibi

Advertisement

Biografi dan Cara Pengambilan Hukum As-Syatibi
Asrul Muh. Darwis

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Islam adalah agama yang memiliki dua aspek pokok, yakni akidah dan syariat.[1] Kedua aspek ini tidak dapat dipisahkan antara satu dengan lainnya. Keterkaitannya tidak hanya pada bentuk pengalaman, tetapi juga pada dasar-dasar pemikiran yang berkembang.

Sejak masa Nabi Muhammad saw kedua aspek tadi menyatu sepenuhnya. Syariat yang diajarkan tidak lain adalah bentuk dari pengalaman akidah yang ditanamkan terlebih dahulu. Saat itu, para sahabat Nabi tampaknya belum member pemisahan jelas antara akidah dan syariat sebagai objek pembahasan yang berdiri sendiri. pada masa Rasulullah saw. pemikiran tentang akidah dan syariat belum muncul ke permukaan karena Nabi menjadi referensi langsung atas setiap masalah yang muncul. Namun demikian, para sahabat yang berdiam di luar Madinah mencoba berijtihad, misalnya, Muadz Ibn Jabal yang diangkat sebagai hakim di Yaman.[2] Perlu dicatat bahwa penggunaan ijtihad seperti itu masih sangat terbatas pada lapangan syariat saja dan hal itu yang menjadi landasan pemikiran fikih pada masa selanjutnya. Namun, setidaknya kita dapat menegaskan bahwa saat itu ijtihad sudah menjadi sumber ketiga, sesudah Al-Qur’an dan Sunnah bagi fikih Islam.

Sejak masa awal Islam, pemahaman tentang hukum sedikit banyaknya diwarnai oleh paham-paham teologis. Untuk mengetahui bagaimana paham-paham teologis memengaruhi ushul fikih dan paham teologis mana yang dapat mendorong tanggung jawab manusia dalam menjalankan hukum taklif, kita perlu meneliti karya-karya di bidang ushul fikih yang disusun pada periode sebelumnya. Tanpa mengesampingkan sejumlah karya ushul fikih yang lain, sebuah karya di bidang ushul fikih yang sangat sarat dengan nuansa teologis adalah kitab al-Muwafaqat karya al-Syathibi, seorang ulama Andalus yang hidup sekitar tiga abad sesudah masa penulisan kitab-kitab standar yang telah disebutkan.

Alasan mengapa kitab al-Muwafaqat banyak berkaitan dengan permasalahan teologi adalah karena al-Syathibi mengusung tema kemaslahatan manusia sebagai tema utama dalam karyanya itu. Al-Syathibi berpendapat bahwa mashlahah adalah yang melandasi kesempurnaan hidup manusia untuk dapat memperoleh segala kebutuhan jasmani dan akliah secara mutlak sehingga merasakan kenikmatan hidup.

Biografi Hukum As-Syatibi

Al-Syathibi menyebut ada tiga macam mashlahah, yaitu dharuriyyat, h}ajiyyat, dan tah}siniyyat. Dharuriyyat adalah segala yang mesti ada demi kehidupan dan kemaslahatan manusia, baik duniawi maupun ukhrawi. Dengan kata lain, andai kata dharuriyyat ini tidak terwujud, kehidupan manusia akan punah dan kenikmatan di akhirat pun akan hilang. Dalam berbagai karya di bidang ushul fikih, kemaslahatan dharuriyyat ini meliputi lima aspek, yaitu memelihara agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta.[3] Kelima aspek tersebut menjadi tujuan utama bagi semua agama. Sedangkan, yang dimaksud h}ajiyyat adalah segala kebutuhan manusia dalam memperoleh kelapangan dan menghindarkan diri dari kesulitan dalam hidupnya, meski kemaslahatan umum tidak menjadi rusak.[4] Terakhir, tah}siniyyat adalah segala yang layak dan pantas menurut akal sehat. Tegasnya, tah}siniyyat adalah segala hal etis yang bernilai baik.

B. Rumusan Masalah

Berangkat dari latar belakang masalah tersebut maka yang dijadikan fokus permasalahan dalam penulisan makalah ini adalah:

1. Bagaimana pandangan al-Syathibi tentang maslahah mursalah?
2. Bagaimana pemikiran al-Syathibi dalam al-Muwafaqat?

BAB II
PEMBAHASAN

A. Riwayat Singkat al-Syathibi

Nama lengkapnya adalah Abu ish}aq Ibrahim Ibn Musa al-Gharnathi, dan lebih dikenal dengan sebutan al-Syathibi[5] Al-Syathibi adalah filosof hukum Islam dari Spanyol yang bermazhab Maliki. Kecuali ia berasal dari suku Arab Lakhmi, sampai sekarang belum diketahui dengan pasti latar belakang keluarganya, sedangkan nama al-Syathibi itu berasal dari nama negeri asal keluarganya, Syathibah.[6] Meski dinisbahkan kepada nama negeri itu, diduga keras bahwa dia tidak lahir di sana karena kota Jativa telah berada di tangan kekuatan Kristen, dan segenap umat Islam telah keluar dari sana sejak tahun 645 H/1247 M.[7]

Sampai sekarang, tanggal kelahiran al-Syathibi juga belum diketahui dengan pasti. Pada umumnya, orang yang berbicara mengenai hal ini hanya menyebut tahun wafatnya, yakni tahun 790 H/1388 M.[8]

Meski demikian dapat diduga bahwa al-Syathibi lahir dan menjalani hidupnya di Granada pada masa kekuasaan Yusuf Abu al-Hajjaj (1333-1354 M) dan Sultan Muh}ammad V (1354-1391).[9] Dugaan ini berdasar pada perbandingan antara tahun kewafatan al-Syathibi dengan periode kekuasaan dua Sultan Granada tersebut. Al-Syathibi juga dikenal dengan gelar al-Gharnathi.[10]

Granada sendiri awalnya adalah sebuah kota kecil yang terletak di kaki gunung Syulair yang sangat kental dengan saljunya.[11] Karena Granada ini kota kecil dan sangat dingin, maka orang-orang muslim saat itu lebih memilih pindah ke kota Birrah sebuah kota yang terletak tidak jauh dari Granada dari pada tinggal di Granada.

Ketika Imam Syathibi hidup, Granada diperintah oleh Bani Ahmar.[12] Bani Ahmar sendiri adalah sebutan untuk keturunan dan keluarga Sa’ad bin Ubadah, salah seorang sahabat Anshar. Sedangkan laqab Ahmar ditujukan kepada salah seorang rajanya yang bernama Abu Sa’id Muhammad as-Sadis (761-763H) karena memiliki warna kulit kemerah-merahan. Orang Spanyol menyebut Abu Sa’id ini dengan al-Barmekho yang dalam bahasa Spanyol berarti warna jeruk yang kemerah-merahan.[13]

Ketika Bani Ahmar berkuasa, kehidupan masyarakat jauh dari kehidupan yang islami bahkan mereka dipenuhi dengan berbagai khurafat dan bid’ah. Kondisi ini semakin parah ketika Muhammad al-Khamis yang bergelar al-Ghany Billah memegang kekuasaan.[14] Bukan hanya seringnya terjadi pertumpahan darah dan pemberontakan, akan tetapi pada masa itu juga setiap ada orang yang menyeru kepada cara beragama yang sebenarnya malah dituding telah keluar dari agama bahkan acap kali mendapat hukuman yang sangat berat.

Al-Syathibi tumbuh dewasa di Granada dan sejarah intelektualitasnya terbentuk di kota yang menjadi ibu kota kerajaan Banu Nasr ini. Masa mudanya bertepatan dengan pemerintahan Sultan Muhammad V al-Gani Billah yang merupakan masa keemasan bagi Granada. Kota ini menjadi pusat perhatian para sarjana dari semua bagian Afrika Utara. Waktu itu, banyak ilmuwan yang mengunjungi Granada, atau berada di Istana Banu Nasr, di antaranya seperti Ibn Khaldun dan Ibn al-Khatib.[15]

Al-Syathibi hidup di masa banyak terjadi perubahan penting. Granada pada abad ke-14 mengalami berbagai perubahan dan perkembangan politik, sosio-religius, ekonomi dan hukum yang nantinya akan berpengaruh terhadap pola pikir dan produk pemikiran hukum Al-Syathibi[16]

Hampir semua ulama yang hidup pada masa itu adalah orang-orang yang tidak memiliki latar belakang ilmu agama yang cukup dan bahkan tidak jarang meraka yang tidak tahu menahu persoalan agama diangkat oleh raja sebagai dewan fatwa. Oleh karena itu, tidaklah heran apabila fatwa-fatwa yang dihasilkan sangat jauh dari kebenaran.

Imam Syathibi bangkit menentang dan melawan para ulama Granada saat itu. Ia mencoba meluruskan dan mengembalikan bid’ah ke sunnah serta membawa masyarakat dari kesesatan kepada kebenaran. Perseteruan sengit antara Imam Syathibi dan para ulama Granada saat itu tidak dapat dielakkan. Setiap kali Imam Syathibi berfatwa halal, mereka sebaliknya, berfatwa haram tanpa melihat terlebih dahulu kepada nash. Karena itulah, Imam Syathibi kemudian dilecehkan, dicerca, dikucilkan dan dianggap telah keluar dari agama yang sebenarnya.

Hal lain yang disoroti Imam Syathibi adalah praktek tasawwuf para ulama saat itu yang telah menyimpang. Mereka berkumpul malam hari, lalu berdzikir bersama dengan suara sangat keras kemudian diakhiri dengan tari dan nyanyi sampai akhir malam. Sebagian dari mereka ada yang memukul-mukul dadanya bahkan kepalanya sendiri. Imam Syathibi bangkit mengharamkan praktek tersebut karena dinilai telah menyimpang dari ajaran yang sesugguhnya. Menurut Imam Syathibi, setiap cara mendekatkan diri yang ditempuh bukan seperti yang dipraktekkan Rasulullah saw. dan para sahabatnya adalah bathil dan terlarang.[17]

Fatwa Syathibi tentang praktek tasawwuf yang menyimpang ini juga dikuatkan oeh salah seorang ulama ahli tasawwuf saat itu Abul Hasan an-Nawawi. Ia mengatakan bahwa barangsiapa yang melihat orang yang mendekatkan diri kepada Allah Swt dengan jalan yang keluar dari Ilmu Syari’ah, maka janganlah mendekatinya.[18]

Imam Syathibi juga menyoroti ta’ashub berlebihan yang dipraktekan para ulama Granada dan masyarakat Andalusia saat itu terhadap madzhab Maliki. Mereka memandang setiap orang yang bukan madzhab Maliki adalah sesat. Sebagaimana diketahui bersama bahwa masyarakat Andalus memegang erat madzhab Maliki ini sejak raja mereka Hisyam al-Awwal bin Abdurrahman ad-Dakhil yang memerintah dari tahun 173-180H menjadikan madzhab ini sebagai madzhab resmi negara.[19]

Menurut salah satu riwayat, kecenderungan Hisyam al-Awwal untuk mengambil madzhab Maliki ini adalah ketika dia bertanya kepada dua orang ulama yang satu bermadzhab Hanafi serta yang lain bermadzhab Maliki. Hisyam al-Awwal saat itu bertanya: “Dari mana asalnya Abu Hanifah itu?” Ulama Hanafi menjawab: “Dari Kufah”. Lalu ia bertanya kembali kepada ulama Maliki: “Dari mana asal Imam Malik?” Ulama Maliki ini menjawab: “Dari Madinah”. Hisyam lalu berkata: “Imam yang berasal dari tempat hijrah Rasulullah saw. cukup bagi kami”.[20]

Mulai saat itu, seolah sudah merupakan amar resmi, masyarakat Andalus memegang kokoh madzhab Maliki. Saking berlebihannya ta’asub mereka, mereka tidak lagi mengenal bahkan cenderung tidak bersahabat dengan madzhab-madzhab lainnya terutama madzhab Hanafi sehingga Muhammad Fadhil bin Asyur melukiskan mereka: “Mereka tidak lagi mengenal selain al-Qur’an dan al-Muwatha’ Imam Malik”.[21]

Para ulama yang tidak bermadzhab Maliki saat itu tidak pernah lepas dari cercaan bahkan penyiksaan seperti yang dialami oleh al-Alammah Baqa bin Mukhlid, seorang ulama besar bermadzhab Hanafi. Imam Syathibi melukiskan ulama ini sebagai ulama besar yang tidak ada tandingannya saat itu, ia pernah belajar dari Abu Hanifah, Ahmad bin Hambal dan ulama-ulama lainnya yang berada di luar Andalus. Namun, sayang meninggal karena hukuman dari amir saat itu.[22]

Sekalipun Imam Syathibi seorang ulama Maliki bahkan Muhammad Makhluf menjadikannya sebagai ulama Maliki tingkatan ke-16 cabang Andalus[23] namun ia tetap menghargai ulama-ulama madzhab lainnya termasuk madzhab Hanafi yang saat itu selalu menjadi sasaran tembak nomor satu. Bahkan, dalam berbagai kesempatan ia sering menyanjung Abu Hanifah dan ulama lainnya. Kitab al-Muwafaqat sendiri yang akan kita bahas sengaja disusun oleh Imam Syathibi dalam rangka menjembatani ketegangan yang terjadi saat itu antara Madzhab Maliki dan Hanafi.

Dari aspek politik, perubahan sosial yang terjadi pada abad ke-14 disebabkan berakhirnya masa chaos pada abad ke-13 ketika terjadi invasi Mongol ke wilayah Timur Muslim dan pesatnya perkembangan Kristen di Barat Muslim. Dari penelitian Muhammad Khalid Mas’ud, keberhasilan Sultan Muhammad V dalam menciptakan stabilitas politik dapat dipahami dari dua faktor. Pertama, keberhasilannya menjaga stabilitas politik luar negerinya, sejumlah kerajaan Kristen di utara dan rival sesama kekuasaan Muslim di Afrika Utara, dengan cara selalu mengganti perjanjian-perjanjian damai dan intrik-intrik dalam istana, friksi-friksi yang berlomba-lomba mencuri kekuasaan. Kedua, selalu memegang kendali kekuatan militer di internal kerajaan.[24]

Stabilitas politik ini menghasilkan situasi yang damai dan salah satu manfaatnya dalam dunia keilmuan adalah terkondisikannya kesempatan yang lebih luas untuk melakukan evaluasi dan produksi pemikiran. Hal ini terlihat dengan lahirnya karya-karya masterpiece para intelektual muslim. Di Afrika Utara, Ibnu Khaldun (784 H/ 1382 M) menulis filsafat sejarah, di Syiria, Ibnu Taimiyah (728 H/ 1328 M) mengkaji ilmu politik dan teori hukum, di Persia, al-‘Iji (754 H/ 1355 M) meresistematisir teologi Sunni, dan di Spanyol, Al-Syathibi memproduksi filsafat hukum Islam.[25]

Beberapa tahun sebelumnya, jatuhnya kekuasaan dinasti Muwahhidun menyebabkan chaos politik di Spanyol. Dalam kondisi krisis ini ada dua tokoh yang muncul ke panggung politik, Ibn Hud di Marcia dan Ibn al-Ahmar di Arjona. Ibn Hud adalah rival politik Ibn Ahmar setelah runtuhnya dinasti Muwahhidun. Setelah sempat menguasai sejumlah kota seperti Almeria, Malaga, Granada, Seville dan sebagian besar Spanyol, Ibn Hud dilantik oleh penguasa dinasti Abasiyyah yaitu al-Muntasir Billah. Namun selang beberapa tahun, Ibn Ahmar berhasil merebut tampuk kepemimpinan Ibn Hud kemudian memproklamirkan kemerdekaannya pada tahun 634 H dan menyatakan diri sebagai Sultan Andalusia dengan menyandang gelar al-Galib Billah. Al-Galib Billah yang menjadi cikal Bani Nasr atau Bani Ahmar, menjadikan Granada sebagai pusat pemerintahan.[26]

Bani Nasr membangun pondasi politiknya dengan cukup kuat, terbukti bertahan sampai dua abad. Hubungan diplomatik dengan luar negeri yang Kristen, Ferdinand III penguasa Castille, ditandai dengan ditandatanganinya perjanjian perdamaian atau genjatan senjata pada tahun 643 H. Namun di sisi lain, dia juga menyerukan jihad kepada suku-suku Afrika dan meminta back up kekuatan Bani Marin di Maroko, sebagai dinasti terkuat pasca dinasti Muwahidun. Kondisi strategis ini bertahan hingga kekuasaan beralih ke putra mahkota yaitu al-Gani Billah atau Sultan Muhammad V.[27]

Al-Syathibi menulis sejumlah karya. Berikut adalah daftar karya al-Syathibi yang dapat dilacak dalam beberapa literature klasik. Karyanya itu mencakup dua bidang: sastra arab dan jurisprudensi.

(a) Syarh} Jalil ‘ala al-Khulas}a fi al-Nah}w.
(b) ‘Unwan al-Ittifaq fi‘Ilm al-Isytiqaq.
(c) Kitab Us}ul al-Nah}w.
(d) Al-Ifadat wa al-Irsyadat/ Insya’at.
(e) Kitab al-Majlis.
(f) Kitab al-I‘tisam.
(g) Al-Muwafaqat.
(h) Fatawa.[28]

Dari beberapa karya al-Syathibi di atas, saat ini dua karyanya telah diterbitkan, yaitu al-Muwafaqat dan al-I’tisham. karya-karyanya yang lain diketahui hanya melalui beberapa catatan sejarah.[29] Selain itu, terdapat satu manuskrip yang tersimpan di Universitas Leiden tentang pengobatan yang juga dinisbahka kepada al-Syathibi Namun, ada dugaan bahwa naskah ini sebenarnya ditulis oleh seorang murid al-Syathibi yang bernama Ibn al-Khathib.[30] jadi, kami berpendapat bahwa, untuk sementara ini, hanya dua karya al-Syathibi yang sampai ke tangan kita, yakni al-Muwafaqat dan al-I’tisham.

Al-Muwafaqat merupakan karya monumental al-Syathibi, yang di dalamnya tertuang konsep teologi dan ushul fikih tentang mashlahah. Kitab ini untuk pertama kalinya diterbitkan di Tunis, diedit oleh Shalih al-Qa’iji, ‘Ali al-Syanufi, dan Ah}mad al-Wartatani pada tahun 1302 H/1884 M.

B. Pemikiran al-Syathibi dalam al-Muwafaqat.

Tema sentral pemikiran al-Syathibi adalah mashlahah. Jadi, kajian atas pemikirannya dalam al-Muwafaqat tentunya bertumpu pada konsepnya tentang kemaslahatan manusia dan karakter pemikiran al-Syathibi adalah dalil kulli dan qudsi. Di samping terkait dengan masalah teologis, konsep ini juga menjadi masalah penting dalam ushul fikih.[31]

Berbeda dengan ulama sebelumnya, al-Syathibi menjadikan mashlahah sebagai konsep dasar yang menjadi inti dari segenap pemikiran ushul fikih-nya. Ia tidak sekedar memakai istilah mashlahah sebagai teknis rasional dalam menetapkan hukum. Tetapi lebih dari itu, ia memandangnya secara teologis sebagai tujuan Allah swt dalam menciptakan hukum.[32]

Al-Syathibi sendiri juga dikenal sebagai pembaru di masanya. Rasyid Ridha’ mensejajarkan kedudukannya dengan Ibn Khaldun karena sumbangannya yang besar bagi pembaruan hukum.[33] Jika Ibn Khaldun dianggap besar karena karyanya, Muqaddimah, maka al-Syathibi dianggap besar karena karyanya, al-Muwafaqat, dan keduanya adalah pembaru dibidangnya.[34]

C. Mashlahah dalam Pandangan al-Syathibi


Ahli ushul fikih menamakan mashlahah sebagai tujuan Allah swt selaku Pencipta syariat (qashd al-Syari’).[35] Jadi secara teologis, pakar ushul fikih menerima paham yang mengatakan bahwa Tuhan mempunyai tujuan dalam setiap perbuatanNya. Hal ini sebenarnya merupakan masalah yang diperselisihkan dalam teologi Islam, bahka menjadi perbincangan dalam filsafat. Dalam filsafat agama, terdapat satu paham yang berpendapat bahwa segala kejadian di alam ini terjadi begitu saja tanpa dirancang sebelumnya. Paham ini disebut okkasionalisme.[36] Menurut paham ini, jika ada dua peristiwa yang kelihatannya serasi dan sejalan, hal itu sebenarnya terjadi secara seketika karena Tuhan memang menjadikan keduanya demikian, seperti dua buah jam dapat menunjukkan waktu yang sama karena sang pembuat menjadikannya demikian.[37] Majid Fakhri berpendapat bahwa paham ini dikembangkan oleh Asy’ariyyah yang dasar pemikirannya memandang bahwa Tuhan sebagai Penguasa langit dan bumi yang segala kemauanNya tak dapat ditolak dan tak dapat dijangkau akal. Dia dapat berbuat sesuatu tanpa tujuan tertentu. Intinya, segala kejadian di alam tergantung sepenuhnya pada kehendak mutlak Tuhan.[38]

Al-Syathibi juga menyebut pendapat al-Razi dan Mu’tazilah dalam al-Muwafaqat. al-Razi berpendapat bahwa Tuhan tidak mempunyai tujuan sama sekali dalam perbuatanNya. Sebaliknya, Mu’tazilah berpendapat bahwa Tuhan mempunyai tujuan dalam mengadakan syariat, yaitu untuk menjaga kemaslahatan manusia (mashalih} al-‘ibad).[39] Dengan menggunakan metode induksi, al-Syathibi tampaknya sependapat dengan Mu’tazilah bahwa Tuhan mengirimkan syariat dengan tujuan untuk menjaga kemaslahatan manusia.[40]

Al-Ghazali membuat batasan operasional maslalah-mursalah untuk dapat diterima sebagai dasar dalam menetapkan hukum Islam; pertama, maslahat tersebut harus sejalan dengan tujuan penetapan hukum Islam yaitu memelihara agama, jiwa, akal, harta dan keturunan atau kehormatan. Kedua, maslahat tersebut tidak boleh bertentangan dengan al-Qur’an, Sunah dan ijma’. Ketiga, maslahat tersebut menempati level daruriyah (primer) atau hajiyah (sekunder) yang setingkat dengan daruriyah. Keempat, kemaslahatannya harus berstatus qat’i atau zanni yang mendekati qat’i. Kelima, dalam kasus-kasus tertentu diperlukan persyaratan, harus bersifat qat’iyah, daruriyah,dan kulliyah.

Berdasarkan persyaratan operasional yang dibuat oleh Imam al-Ghazali di atas terlihat bahwa Imam al-Ghazali tidak memandang maslahah-mursalah sebagai dalil yang berdiri sendiri, terlepas dari al-Qur’an, Sunnah dan ijma’. Imam al-Ghazali memandang maslahah-mursalah hanya sebagai sebuah metode istinbath (menggali/penemuan) hukum, bukan sebagai dalil atau sumber hukum Islam. Sedangkan ruang lingkup operasional maslahah-mursalah tidak disebutkan oleh Imam al-Ghazali secara tegas, namun berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Ahmad Munif Suratmaputra terhadap contoh-contoh kasus maslahah-mursalah yang dikemukakan oleh Imam al-Ghazali dalam buku-bukunya (al-Mankhul, Asas al-Qiyas, Shifa al-Galil, al-Mustafa) dapat disimpulkan bahwa Imam al-Ghazali membatasi ruang lingkup operasional maslahah-mursalah yaitu hanya di bidang muamalah saja.

Agak berbeda dengan Imam al-Ghazali, al-Syathibi hanya membuat dua kriteria agar maslahat dapat diterima sebagai dasar pembentukan hukum Islam.

1. Maslahat tersebut harus sejalan dengan jenis tindakan syara’, karena itu maslahat yang sejalan dengan jenis tindakan syara’ atau yang berlawanan dengan dalil syara’ (al-Qur’an, as-Sunnah dan ijma’) tidak dapat diterima sebagai dasar dalam menetapkan hukum Islam.

2. Maslahat seperti kriteria nomor satu di atas tidak ditunjukkan oleh dalil khusus. Jika ada dalil khusus yang menunjukkannya maka itu menurut al-Syathibi termasuk dalam kajian qiyas.

Jika dibandingkan persyaratan yang dibuat oleh Imam al-Ghazali dengan persyaratan yang dibuat oleh al-Syathibi di atas, maka persyaratan yang dibuat oleh al-Syathibi jauh lebih longgar. Ini merupakan suatu hal yang wajar karena al-Syathibi termasuk golongan ulama penganut mazhab malikiyah yang sering menjadikan maslahat sebagai dasar penetapan hukum Islam. Al-Ghazali dan al-Syathibi juga berbeda dalam memandang maslahahmursalah sebagai dalil dalam menetapkan hukum Islam.

Al-Ghazali memandang maslahah-mursalah sebagai dalil yang tidak berdiri sendiri, sebaliknya al-Syathibi malah memandang maslahah-mursalah sebagai dalil hukum yang berdiri sendiri.

Al-Syathibi berpendapat demikian karena metode istislah atau maslahah-mursalah dalam menetapkan hukum Islam tidak berdasarkan kepada nass tertentu, tetapi hanya berdasarkan maslahat yang sejalan dengan tujuan penetapan hukum syara’, sedangkan mengenai ruang lingkup operasional maslahah-mursalah, al-Syathibi dan Imam al-Ghazali mempunyai pendapat yang sama, yaitu hanya berlaku dalam bidang muamalah, dan tidak berlaku dalam bidang ibadah. Begitu juga dengan at-Tufi yang dianggap sebagai orang yang paling berani dan paling kontropersi pendapatnya tentang maslahat (bukan maslahah-mursalah), dia juga menetapkan bidang muamalah dan sejenisnya sebagai ruang lingkup operasional maslahah-mursalah.

Menurut at-Tufi maslahat tidak berlaku pada bidang ibadah, muqaddarad dan sejenisnya. At-Tufi membangun pendapatnya di atas, atas empat dasar sebagai berikut;

1. Akal manusia dapat menemukan dan membedakan mana maslahat dan mana mafsadat. Karena akal manusia dapat membedakan mana maslahat dan mana yang mafsadat.
2. Maslahat menurut at-Tufi merupakan dalil yang berdiri sendiri, terlepas dari nass.
3. Lapangan operasional maslahat sebagaimana disebutkan di atas, hanya dalam bidang muamalah dan adat, bukan pada bidang ibadah dan muqoddarod.
4. Maslahat merupakan dalil hukum Islam yang paling kuat, karena itu menurut at-Tufi, maslahat bukan hanya hujjah ketika tidak ada nass dan ijma’ melainkan harus pula didahulukan atas nass dan ijma’ ketika terjadi pertentangan di antara keduanya.

BAB III
PENUTUP

Al-Syathibi membuat dua kriteria agar maslahat dapat diterima sebagai dasar pembentukan hukum Islam.

1. Maslahat tersebut harus sejalan dengan jenis tindakan syara’, karena itu maslahat yang sejalan dengan jenis tindakan syara’ atau yang berlawanan dengan dalil syara’ (al-Qur’an, as-Sunnah dan ijma’) tidak dapat diterima sebagai dasar dalam menetapkan hukum Islam.

2. Maslahat seperti kriteria nomor satu di atas tidak ditunjukkan oleh dalil khusus. Jika ada dalil khusus yang menunjukkannya maka itu menurut al-Syathibi termasuk dalam kajian qiyas.

al-Syathibi menjadikan mashlahah sebagai konsep dasar yang menjadi inti dari segenap pemikiran ushul fikih-nya. Ia tidak sekedar memakai istilah mashlahah sebagai teknis rasional dalam menetapkan hukum. Tetapi lebih dari itu, ia memandangnya secara teologis sebagai tujuan Allah swt dalam menciptakan hukum

DAFTAR PUSTAKA

Al-Maraghi, ‘Abdullah Musthafa. al-Fath} al-Mubin, juz 2. Beirut: Muh}ammad Amin Dimaj, 1974.
Al-Mawsu’ah al-‘Arabiyyah al-Muyassarah. Mesir: Dar al-Qalam, 1965.
Al-Ubaidy, Hammady. al-Syathibi wa Maqashid al-Syari’ah
Asyur, Muhammad Fadhil bin, A’lam al-Fikr al-Islamy. Tunisia: Maktabah an-Najah.
Dawud, Abu. Sunan Ani Dawud bi Syarh} ‘Awan al-Ma ‘bud, juz 9. Beirut: Dar al-Fikr, 1979.
Daraz, ‘Abdullah (ed.),Al-Syathibi, al-Muwafaqat, juz 2. Beirut: Dar al-Fikr, t.t.
Dhuraib, Sa’ud Ibn Sa’d ‘Ali. al-Tanzim al-qadha’i fi al-Mamlakah al-‘Arabiyyah al-Su’udiyyah. Riyadh: Mathabi ‘Hanifah li al-Ubset, 1073 H.
Fakhri, Majid. “Occasionalism,” Encyclopaedia of Religion, vol. 11. New York: Macmillan Publishing Co., 1987.
Haq, Hamka. al-Syathibi; Aspek Teologis Konsep Mashlahah dalam Kitab al-Muwafaqat. Jakarta: PT. Gelora Aksara Pratama, 2007.
Hitti, Philip K. History of the Arabs, (London: The Macmillan Press, 1974), h. 549-550.
Imam Syathibi, al-I’tisham. Beirut: Dar al-Ma’rifah, 1982, juz I.
Khalid Mas’ud, Islamic Legal.
Makhluf, Muhammad. Syajarah an-Nur al-Zakiyyah. Beirut: Dar al-Kutub al-Araby, 1349 H.
Mas’ud, Muh}ammad Khalid. Islamic Legal Philosophy. Islamabad: Islamic Research Institute, 1977.
Ridha’, Rasyid. Tarikh al-Ustadz al-Imam al-Syaikh Muh}ammad ‘Abduh, juz 1. Mesir: Mathba’ah al-Manar, 1931.
Tennat, F. R. “Occasionalism” Encyclopaedia of Religion and Ethics, vol 9. New York: Charles Scribner’s Sons, t.t.
“Tarjamah al-Mu’allif” al-Syathibi, al-I’tisham, juz 1.
WWW.Biografi Imam-Syatibi.htm.



0 Response to "Biografi dan Cara Pengambilan Hukum As-Syatibi"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!