Makalah Biografi dan Metode Imam Hanafi dalam Dalalah

Advertisement

Biografi dan Metode Imam Hanafi dalam Dalalah
Abdul Syatar, Muhammad Nur. S, Mulyanti Mattalitti

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Al-Qur'an sebagai kitab suci yang terakhir merupakan petunjuk abadi untuk kebahagiaan umat manusia sepanjang masa. Di dalamnya terkandung ajaran yang dibutuhkan manusia untuk mengatur totalitas kehidupannya. Kebenaran al-Qur'an sebagai petunjuk abadi dan universal dalam menetapkan hukum suatu senantiasa memperhatikan konteks sosial yang berkembang dalam masyarakat.

Sangat logis bila dalam suatu masalah, al-Qur'an hanya berbicara dalam konteks global dan penganutnya mengembangkan sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Oleh karena itu, al-Qur'an yang diturunkan secara bertahap sesuai dengan kapasitas intelektual dan momentum psikologis yang dihadapi manusia juga sangat sesuai dengan akal.[1]

Hal tersebut dimaksudkan agar hukum-hukum yang terkandung dalam al-Qur'an, menjadi pedoman hukum-hukum yang hidup dalam masyarakat karena pemahaman atasnya harus sejalan dengan prinsip-prinsip dan metode-metode. Penetapan hukum yang ada di tengah masyarakat begitu banyak, sehingga menghasilkan beberapa produk hukum yang bermacam-macam sesuai kebutuhan manusia. Hukum dalam al-Qur'an bagai air zam-zam yang tak habis-habisnya digunakan oleh jutaan umat manusia.

 Biografi dan Metode Imam Hanafi

Untuk mengkaji semua itu membutuhkan sebuah ilmu yang memadai khususnya ilmu bahasa Arab sebagai bahasa yang digunakan al-Qur'an itu sendiri dari ilmu bahasa itu akan menghasilkan penafsiran al-Qur'an yang bermacam-macam seperti ilmu fikih, ilmu tafsir, usul fikih dan lain-lain. Usul fikih misalnya banyak pembahasan yang ada di dalamnya termasuk apa yang akan dibahas dalam makalah ini yaitu tentang dilalah, ini adalah salah satu pembelajaran yang urgen dalam ilmu usul fikih karena dengannya kita dapat mengistinbatkan hukum dari ayat al-Qur'an, inilah bukti bahwa al-Qur'an sangat relevan untuk semua zaman dan tempat.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut dapat ditarik batasan dan rumusan permasalahan sebagai berikut:

1. Bagaimana pengertian dalalah?
2. Bagaimana dalalah ‘ibarat al-nas, isyarat al-nas, dalalat al-nas dan dalalat al-iqtida’?

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Dalalah


Secara umum dalalah berarti memahami sesuatu atas sesuatu. Kata ‘sesuatu’ yang disebutkan pertama disebut madlul berarti ‘yang ditunjuk’. Adapun hubungannya dengan hukum, yang disebut madlal adalah hukum itu sendiri. Kata ‘sesuatu’ yang kedua disebut dalil, bermakna ‘yang diberi petunjuk’. Dalam kaitannya dengan hukum, dalil itu disebut ‘dalil hukum’[2].

Dalam ilmu usul fikih dapat ditegaskan bahwa dalalah adalah pengertian yang ditunjuk oleh suatu lafal kepada makna tertentu. Pembahasan tentang dalalah memiliki peranan penting dalam ilmu logika dan usul fikih. Dalam berfikir dengan pola dalalah tidak mesti melihat atau mengamati sesuatu itu secara langsung tetapi cukup menggunakan petunjuk dan isyarat yang ada. Pola berfikir dengan menggunakan petunjuk dan isyarat disebut dengan berfikir dalalah.[3]

B. Macam-Macam Dalalah


Dalalah atau petunjuk lafal memiliki beberapa macam, tetapi dalam pembagiannya tidak ada kesepakatan yang sama dari ulama usul fikih, sehingga terdapat beberapa pendapat dalam pembagian dalalah tersebut, dan menurut ulama Hanafiyah dalalah dibagi dalam empat bagian.

1. Dalalah ibarat al-nas. Menurut arti istilah (terminologi) ulama adalah:

هي دلالة اللفظ على المعنى او الحكم المقصود من سوقه أو تشويعه أصلا أو تبعا

Artinya: Petunjuk lafal kepada sesuatu arti atau hukum yang dimaksud untuk arti asli maupun arti tab’i (ikutan)

Dikatakan demikian karena petunjuk lafal tersebut ditunjukkan pada arti yang jelasnya saja (zahiru al-nas) atau bermakna tekstualnya saja. Sebagaimana dikatakan Badran Abul Aini : Dalalah ibarat al-nas adalah petunjuk lafal pada artinya yang cukup jelas baik dimaksud sebagai arti asli maupun arti tab’i.[4]

Oleh sebab itu, ibarat al-nas mencakup semua lafal-lafal yang sudah jelas maknanya seperti;

- Al-Zahir
- Al-Nas
- Al-Muhkam
- Al-Mufassar

Semua lafal-lafal tersebut jelas maknanya dan tidak lagi membutuhkan faktor luar dalam memahami maksud maknanya. Dengan demikian, lafal dalam dalalah ibarat al-nas bukanlah petunjuk lafal kepada arti yang tidak jelas dan bukan pula petunjuk lafal kepada arti yang tersurat. Sehingga dalam memahaminya tidak perlu mencari arti yang tersembunyi pada lafal tersebut karena memiliki kejelasan makna.

Sebagaimana contoh dalm Q.S. al-Baqarah (2): 275;

وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

Terjemahan: Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba[5]

Dalalah ibarat al-nas dalam ayat tersebut menunjukkan dua arti, yakni arti asli dan arti tab’i. Adapun yang menjadi arti asli yang dipahami dengan dalalah ibarat al-nas dari ayat tersebut yaitu bahwa ‘jual beli tidak sama dengan riba’. Arti ini dikatakan sebagai arti asli, karena mula-mula dimaksudkan dengan susunan lafal nas adalah untuk menolak asumsi bahwa jual beli sama dengan riba seperti yang disebutkan pada ayat sebelumnya

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا

Terjemahan: “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba”

Sedangkan arti tab’i yang dipahami dengan dalalah ibarat al-nas adalah bahwa hukum jual beli adalah halal dan hukum riba adalah haram. Arti ini disebut dengan arti tab’i karena merupakan arti lain dari ayat tersebut yang dipahami dengan dalalah ibarat al-nas.[6]

Menurut Abd Wahab Khallaf, redaksi teks dalam Q.S. al-Baqarah (2): 275, menunjukkan dengan dalalah yang jelas atas dua makna, yang masing-masing makna dikehendaki dari susunan kalimatnya, yaitu pertama, meniadakan persamaan antara jual beli dengan riba, kedua bahwasannya hukum jual beli dihalalkan dan hukum riba diharamkan. Kedua makna itu dipahami dari susunan kalimat nas tersebut dan dimaksudkan dari susunannya, tetapi makna yang pertama dikehendaki secara asal dari susunannya, karena ayat tersebut dikemukakan untuk membantah opini orang-orang kafir yang mengatakan bahwasannya jual beli itu adalah seperti riba, sedangkan makna yang kedua dimaksudkan dari susunan kalimatnya secara mengikut, karena sesungguhnya penafian persamaan diikuti dengan penjelasan hukum masing-masing dari keduanya. Perbedaan hukum tersebut diambil kesimpulan bahwasannya kedua hal tersebut tidaklah sama. Kalau sekiranya Allah mencukupkan pada makna yang dikehendaki dari susunan kalimatnya saja secara asal. Niscaya Allah mengatakan, ….padahal jual beli itu tidaklah seperti riba.[7]

Contoh firman Q.S. al-Hasyr (59): 7;

وَمَا ءَاتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا

Terjemahan: “Dan apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah”[8]

Arti asli yang dipahami dengan dalalah ibarat al-nas adalah sesuatu yang diberikan Rasul dari harta rampasan ketika dilakukan pembagian maka terimalah dan yang dilarang bagimu dari harta rampasan itu maka tinggalkanlah. Arti ini dikatakan sebagai arti asli karena susunan lafal dalam ayat tersebut terkait dengan pembagian harta rampasan perang sebagaimana yang diterangkan sebelumnya;

مَا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَى رَسُولِهِ مِنْ أَهْلِ الْقُرَى فَلِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي الْقُرْبَى

Terjemahan: “Apa saja harta rampasan (fai) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim”

Sedangkan arti tab’i yang dapat dipahami dengan dalalah ibarat al-nas dari ayat tersebut adalah wajib taat kepada Rasulullah pada setiap yang diperintahkan dan yang dilarang.

2. Isyarah al-nas menurut arti istilah (terminologi) ulama usul adalah:

دلالة اللفظ على معنى أوحكم غير مقصود للشارع لا اصالة ولا تبعا لكنه لازم عقلى ذاتى

Artinya: Petunjuk lafal terhadap makna atau hukum yang tidak dimaksudkan oleh Syari’, bukan arti asli, juga bukan tab’i, tetapi kelaziman terhadap sesuatu

Menurut Abu Zahrah dalalah isyarah al-nas yaitu dengan menyimpulkan satu hukum dari arti yang dipahami dengan dalalah ibarat al-nas. Contoh ini dapat dilihat dalam Q.S. al-Baqarah (2): 236;

لا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِنْ طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ مَا لَمْ تَمَسُّوهُنَّ أَوْ تَفْرِضُوا لَهُنَّ فَرِيضَةً

Terjemahan: “Tidak ada kewajiban membayar (mahar) atas kamu, jika kamu menceraikan isteri-isterimu sebelum kamu bercampur dengan mereka dan sebelum kamu menentukan maharnya"[9]

Arti yang dipahami dengan dalalah ibarat al-nas adalah boleh menalak istri yang belum digauli serta belum ditentukan maharnya. Dari arti tersebut dapat disimpulkan hukum lain bahwa perkawinan tanpa ditentukan maharnya terlebih dahulu adalah sah. Karena talaknya sah maka pernikahannya juga sah karena talak yang sah itu dari pernikahan yang sah. Hukum ini dapat dipahami dari istilah isyarat al-nas karena hukum itu tidak tertera dalam ayat tetapi merupakan suatu kelaziman baik secara akal maupun kebiasaan. عثلا أوعرفا

Contoh yang lain firman Allah Q.S: al-Baqarah (2) : 233;

وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

Terjemahan: “Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf”[10]

Dipahami dengan dalalah ibarat al-nas dari ayat ini adalah bahwa kebutuhan nafkah makan dan pakaian anak-anak adalah menjadi kewajiban ayah. Jika demikian, sudah semestinya nafkah anak sepenuhnya menjadi kewajiban ayahnya sendiri. Arti ini dipahami dengan isyarat al-nas karena dipahami dengan jalan mengambil kelaziman dari arti yang asli yang dipahami dengan dalalah ibarat al-nas yang disebutkan sebelumnya.

3. Dalalat al-nas menurut istilah ulama usul adalah;

أن يفهم نفس اللفظ ثبوت الحكم الوا قعة المنطوق بها لوا قعة أخرى غير مذكروة لاشتراكها فى المعنى يدرك العالم باللغة أنه العلة التى استوجت ذلك الحكم

Artinya: Petunjuk lafal kepada berlakunya suatu hukum yang disebut oleh lafal itu kepada peristiwa lain yang tidak disebutkan hukumya oleh suatu lafal karena ada persamaan makna yang dipahami oleh ahli bahasa bahwa itu adalah ilat yang menjadi sebab adanya hukum itu.[11]

Perlu dijelaskan bahwa ilat dalalat al-nas adalah jelas dan dapat dipahami dari susunan kalimat atau bahasa dari nas itu sendiri dan bukan ilat yang dihasilkan dari ijtihad.

Atas dasar ini ulama membedakan antara dalalat al-nas dan kias. Ilat dalalat al-nas dapat dipahami dari lafal atau dari sisi bahasa. Sementara ilat dalam kias tidak bisa dipahami kecuali dengan jalan ijtihad.[12] Namun demikian Imam Syafi’i menyamakan antara dalalat al-nas dan kias karena hukum dihasilkan oleh keduanya berdasarkan dengan ilat.

Contohnya ketika Allah swt. melarang suatu perbuatan, bukan sekedar perbuatan itu yang dilarang, tetapi yang lebih penting lagi adalah apa yang ditimbulkan setelah pekerjaan itu dilakukan atau kesan apa yang ditimbulkan setelah pekerjaan itu terjadi, apakah menimbulkan manfaat atau mudarat, mafsadat atau mashlahat dari akibat inilah muncul suatu hukum, wajib, haram dan lain-lain.

Contoh firman Allah swt Q.S. al-Isra (17): 23;

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ

Terjemahan: Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah"[13]

Lafal ‘ah’ atau al-ta’fif satu ungkapan untuk menyatakan ketidak senangan atau penolakan atas perintah orang lain dan ucapan itu dapat menyakiti hati atau perasaan orang lain, sementara dalam pandangan Islam menyakiti perasaan sama hukumnya dengan menyakiti badan, bahkan terkadang dampaknya lebih besar lagi, apalagi kalau yang melakukan itu adalah anak kepada orang tuanya. Ini dipahami dari pemahaman bahasa semata tanpa ada unsur ijtihad di dalamnya.

Demikian pulalah kalimat الضرب memukul dari sisi bahasa kata ‘memukul’ adalah kata yang sudah dipahami oleh semua orang baik bentuknya maupun tujuannya, dan tujuannya adalah untuk memberikan rasa sakit seseorang baik fisik maupun perasaan dan lebih menyakitkan lagi jika kalau itu dilakukan oleh seorang anak kepada orang tuanya. Dipahami makna الضرب dan tujuannya tidak membutuhkan ijtihad, hanya dipahami dari sisi bahasa dan asar yang ditimbulkannya.

Oleh sebab itu التأفيف dan الضرب meskipun bentuknya berbeda tetapi mempunyai kesamaan pada akibat yang ditimbulkannya, bahkan sakit yang ditimbulkan oleh الضرب terhadap fisik dan jiwa itu leih besar daripada kata أف, maka الضرب itu lebih haram lagi. Oleh sebab itu dengan dalalah al-nas perbuatan-perbuatan tersebut dilarang.

Contoh lain firman Allah swt QS. An-Nisa (5) : 10

إِنَّ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَالَ الْيَتَامَى ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ نَارًا وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرًا

Terjemahan: “Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka)”[14]

Arti ayat yang dipahami dengan dalalah ibarat al-nas adalah haram makan harta anak yatim secara lalim sedangkan ilat larangan yang diambil dari ayat tersebut adalah karena perbuatan itu merupakan pelanggaran terhadap harta anak yatim, yang ia tidak mampu melawan tindakan pelanggaran itu dan ilat ini sama akibatnya pada perbuatan-perbuatan yang tidak disebut oleh ayat di atas, seperti membakar, menenggelamkan dan seterusnya, karena akibatnya sama yaitu melenyapkan harta anak yatim, dengan dalalat al-nas perbuatan-perbuatan tersebut juga sebagai perbuatan melanggar hukum.

4. Dalalat al-Iqtida’ menurut istilah ulama usul adalah;

دلاله اللفظ على معنى مقدر لازم المعنى المنطوق متقدم عليه مقصود للمتكلم يتوقف على تقديره صدق الكلام أوصحته عقلا وشرعا

Artinya: Petunjuk lafal terhadap suatu makna yang dipahami dari makna yang ditakdirkan kepada berlakunya suatu hukum sebagaimana yang dimaksudkan oleh Syari’. Kebenaran dan kesahihan makna tersebut sangat tergantung kepada makna yang ditakdirkan itu baik secara syara maupun secara akal.

Contoh sabda Rasulullah saw.:

رفع عن امتى الخطء والنسيان وما استكرهوا عليه

Artinya: “Diangkat dari umatku, kesalahan, dan lupa dan apa yang dipaksakan atasnya”

Secara lahir hadis tersebut menunjukkan bahwa, kesalahan, sifat lupa dan dipaksa, tidak akan menimpa seseorang, tetapi ini bertentangan dengan kenyataan karena manusia bukanlah makhluk yang ma’sum. Begitupulah ketika manusia melakukan sesuatu karena lupa atau dipaksa, maka sesungguhnya pekerjaan itu tidaklah diangkat atau dihapus karena pekerjaan itu tetap ada.

Oleh sebab itu apa yang dikabarkan Rasulullah saw. kepada umatnya menyalahi kenyataan, tetapi Rasulullah saw. tidak pernah mengucapkan kecuali kebenaran, maka dapat dipahami bahwa disitu ada makna yang harus ditakdirkan supaya makna menjadi sempurna yaitu (الاثم) dan (الحكم)

Maka seolah-olah Rasulullah saw. mengatakan رفع عن أمنى اثم أو حكم الخطاء maka yang dihapus adalah dosa atau hukum dan bukanlah pekerjaan itu. Maka penunjukkan nas kepada makna yang tersembunyi itulah yang disebut dengan iqtid{a’ al-nas.[15]

Contoh yang lain sabda Rasulullah saw.:

انما الأعمال با النيات

Zahir hadis menunjukkan bahwa tidak ada pekerjaan kecuali bila disertai dengan niat, tetapi itu tidak sesuai dengan kenyataan bahwa pekerjaan itu tetap ada meskipun tidak disertai dengan niat. Agar hadis tersebut menjadi sempurna maknanya maka ada lafal yang tersembunyai yaitu (الصحة) maka seolah-olah Rasulullah saw mengatakan انما صحة الاعال بالبه maka petunjuk nas kepada lafaz الصحة untuk meluruskan dan menyempurnakan makna hadis, itulah yang disebut dengan دلاله الا قتضاء .[16]

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan

Dengan menyimak uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa:

a. Dalalah adalah pengertian yang ditunjuk oleh suatu lafal kepada makna tertentu. dan menurut ulama Hanafiyah dalalah dibagi menjadi 4 bagian, yaitu:

1) Dalalah ibarat al-nas yaitu petunjuk lafal kepada sesuatu arti atau hukum yang mudah dipahami baik dimaksudkan untuk arti asli maupun tabi’i. Untuk mengetahui dalalah ibarat al-nas, kita harus mengetahui sebab turunnya ayat terlebih dahulu.

2) Dalalah isyarat al-nas yaitu petunjuk lafal kepada arti yang dipahami dengan jalan mengambil kelaziman dari arti yang dipahami dengan Dalalah ibarat al-nas.

3) Dalalah Dalalat al-nas yaitu petunjuk lafal kepada berlakunya suatu hukum yang disebut oleh lafal itu kepada peristiwa lain yang tidak disebutkan hukumnya dalam lafal tersebut tetapi ilat yang dipahami dari lafal itu sama dengan ilat suatu peristiwa yang tidak disebut hukumnya.

4) Dalalat al-iqtida’ adalah petunjuk lafal terhadap suatu makna yang dipahami dari makna yang ditakdirkan kepada berlakunya suatu hukum sebagaimana yang dimaksudkan oleh Syari’.


DAFTAR PUSTAKA


Abu Zahrah, Muhammad. Usul al-Fiqh. Kairo: Dar al-Fikr al-‘Arabi, 2006.
al-Duraisy, Muhammad Fathi. Al-Manahij al-Usuliyyah fi al-Ijtihad bi al-Ra’i, Beirut: al-Risalah, 1997.
Departemen Agama RI. Al-Qur'an dan Terjemahnya. Bandung: CV. Diponegoro, 2005.
al-Hanafi, Abd. Al-Mu’nim. Al-Mu’jam al-Falsafi. Kairo: Dar al-Syarqiyyah. 1990.
Khallaf, Abdul Wahab. Ilm Usul Fiqh. Kairo: Dar al-Hadis\, 2002.
al-Jibril. Isykaliyat al-Fikr al-Arabi al-Mu’ashir, Beirut, Markaz Dirasah al-Arabiyah. 1998.
al-Sayuti, Jalal al-Din. Kitab al-Nuqul fi Asbab al-Nuzul, Juz II. Bandung: al-Ma’arif, tth.
Syarifuddin, Amir. Ushul Fikih. Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1995.

0 Response to "Makalah Biografi dan Metode Imam Hanafi dalam Dalalah"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!