Biografi dan Pemikiran Kassim Ahmad dalam Hadis

Advertisement

Biografi dan Pemikiran Kassim Ahmad dalam Hadis

Di zaman modern, terkenal tokoh Inkar al-Sunnah di berbagai daerah, seperti Taufiq Shidqi di Mesir, Garrah Ali dan Gulam Ahmad Parwez di India-Pakistan, Kassim Ahmad di Malaysia, Rasyad Khalifah di Amerika, Haji Abdurrahman, Ustadz H. Sanwani, dan Ir. Irham Sutarto di Jakarta, Dailami Lubis di Sumatera Barat, dan untuk Medan juga sudah ada, baik yang terus terang menolaknya maupun yang menolaknya secara ilmiah. Paham Inkar al-Sunnah pun tak elak terdengar dalam perkembangan dunia Islam. Aliran-aliran politik dan teologi seperti Mu’tazilah, Syi’ah, Khawarij dan sebagainya pada abad kedua hijriyah. Sebagian dari mereka menolak hadis yang dijadikan sebagai sumber hukum Islam. Mereka berpendapat bahwa hadis bersifat zhanny, sementara al-Qur’an bersifat qath’iy.

Kassim Ahmad, seorang sarjana muslim Malaysia yang dikenal sebagai ‘anti hadis’. yang mengaku dirinya muslim dan mencintai agama Islam, tapi tidak meyakini hadis bersumber dari Nabi dan menolak hadis sebagai sumber hukum Islam. Dia penulis buku Hadis Satu Penilaian Semula yang kemudian diterjemahkan dalam bahasa Inggris, Hadith: A Re-Evaluation, yang terbit pada tahun 1986. Beliau terpengaruh dengan Rasyid Ridla yang secara terang-terangan menolak hadis. Beliau juga merupakan pengikut orientalis yang setia. Beliau mengeluarkan hujjah secara ilmiah melalui pendekatan logika dan pendekatan historis dalam pemikirannya tentang hadis. Akan tetapi, akhirnya beliau menerima hadis meskipun pada batas-batas tertentu. Pemikiran ini membawa kesan negatif dan tanggapan dari Ulama’ Islam dan masyarakat Malaysia.

Untuk lebih jelasnya, mari kita mencoba mengorek biografi beliau beserta dengan pemikirannya tentang Hadits, dari sana akan diketahui proses bagaimana akhirnya beliau lambat laun menerima hadis yang dijadikan sebagai sumber hukum Islam yang kedua.

Biografi Kassim Ahmad
Nama lengkapnya adalah Kassim bin Ahmad. Lahir pada tanggal 9 september 1933 di Bukit Pinang, daerah kota Setar utara propinsi Kedah Malaysia. Ayahnya bernama Ahmad bin Ishaq, sementara ibunya bernama Ummi Kalthom binti Haji Ahmad. Kedua orang tuanya berasal dari wilayah Melayu Pattani, Thailand. Kakeknya, Lebai Ishak Lebai The, seorang guru agama dan petani yang kini tinggal di Seberang Perai, Pulau Pinang. Kassim Ahmad menikah dengan seorang perempuan yang bernama Sharifah Fauziah binti Yussof Alsagoff, anak kedua dari seorang polisi pada tahun 1960.

Semenjak sekolah tingkat dasar sehingga sekolah tingkat menengah, beliau selalu mendapat pujian dari guru-gurunya karena beliau sudah dikenal sebagai seorang pelajar yang gigih, rajin, dan pintar. Beliau juga punya peran penting dalam dunia keorganisasian dalam sekolah tingkat dasar maupun menengah.

Pada tahun 1952, beliau sudah tertarik dalam dunia filsafat Islam. Ketika masuk Universitas Singapura pada tahun 1954/1955 beliau bergaul dengan golongan liberal. Golongan sosialis Marxis dan mulai tertarik dengan teori-teori Marxis dalam membebaskan rakyat dari penjajahan dan kemiskinan. Kecintaannya pada Marxisme ini tidak tanggung-tanggung. Setelah meninggalkan Universitasnya, Kassim Ahmad bekerja sebagai peneliti di Dewan Bahasa dan Pustaka di Kuala Lumpur yang kemudian menjabat sebagai Dosen di sebuah Pusat Pengajian Timur dan Afrika (London School of Oriental and African Studies), University of London selama empat tahun.

Biografi dan Pemikiran Kassim Ahmad

Sekembalinya ke Malaysia, beliau mengajar di sekolah menengah di Pulau Pinang karena beliau merupakan seorang yang berjiwa besar dan tidak terlalu suka berpengaruh dengan undang-undang yang menekannya sehingga diangkat sebagai Ketua Partai Sosialis Rakyat Malaysia (PSRM) selama lima tahun hingga tahun 1981, beliau ditahan di bawah Akta Keamanan Dalam Negeri.

Setelah berhenti menjadi guru, beliau menjadi penulis, wartawan dan guru bebas hingga sekarang. Minat Kassim Ahmad dalam bidang politik, falsafah dan agama telah memperkenalkannya pada gerakan politik-filsafah La Rouche di Amerika Serikat, Partai Baath dan Saddam Hussein di Iraq dan kepada Rashad Khalifa. Beliau telah menghadiri konferensi organisasi yang diadakan oleh Rasyad Khalifa dan dari sinilah beliau tertarik untuk menulis tentang agama (khususnya hadits).

Sebenarnya Kassim Ahmad bukanlah tokoh malaysia yang pertama mengembangkan ajaran Dr. Rasyad Khalifa, melainkan pertama kali memperkenalkan ajaran Dr. Rasyad Khalifa di Malaysia adalah Dr. Yusuf Nor, menurut beliau segala bentuk rahasia-rahasia yang terpendam dalam al-Qur’an selama ini dapat diketahui melalui akal dan benda-benda elektronika seperti yang dilakukan Dr. Rasyad Khalifa. 

Karya Karya Kassim Ahmad

Rasa cinta yang dimiliki beliau terhadap dunia sastra telah menjadikannya sebagai seorang penyair dan penulis yang terkenal meskipun terkesan kontroversi. Sekitar tahun 1984 beliau berhenti menjadi ketua partai dan memusatkan perhatiannya pada bidang penulisan, baik berupa buku maupun artikel. Beliau pernah mendapat anugerah ijazah kehormatan Dokter Persuratan oleh Universitas Kebangsaan Malaysia pada tahun 1985 dan anugerah penyair Gabungan Penulis-penulis Nasional (GAPENA) tahun 1987. Beliau masuk UMNO pada tahun 1986. Dalam UMNO, beliau mencoba membawa reformasi tetapi tidak berhasil dan akhirnya beliau meninggalkan bidang politik sejak tahun 1992.

Di antara karya beliau yang berbentuk buku adalah Dialog dengan Sastrawan buku ini diterbitkan di Kuala Lumpur oleh penerbit Pena pada tahun 1979, Quo Vadis Bangsaku? Yang juga diterbitkan di Kuala Lumpur oleh Media Indah pada tahun 1989, Teori Sosial Modern Islam (1984). Ini adalah hasil tulisannya selama dalam tahanan, Hadits Satu Penilaian Semula (1986), Hadits-Jawapan kepada Pengkritik (1992). Beliau juga menerbitkan dua buah esai tentang filsafat, sebuah kritikan terhadap Marxisme terbitan Dewan Bahasa (1975). Bukunya tentang Hadits yang pada mulanya mendapat sambutan namun kemudian beliau dianggap “murtad” oleh Ulama muslim, buku ini diterjemahkan dalam bahasa Arab dan Inggris (1997). Beliau juga menerjemahkan al-Qur’an dalam bahasa Melayu dan menulis riwayat hidup tentang dirinya. Juga membuat edisi baru dalam karya besar Abdullah Munsyih yang diberi judul Hikayat Abdullah. Di samping itu, beliau menjadi presiden Jama’ah al-Qur’an sejak tahun 1985 di Koperasi Pelaut Pulau Pinang sejak tahun 1987.

Pemikiran Kassim Ahma mengenai Hadis

Kassim Ahmad mendefinisikan hadis yang berarti ‘berita atau khabar’. Sedangkan sunnah berarti ‘undang-undang atau perbuatan’. Akan tetapi beliau tidak mengartikan hadis ini secara mendetail. Dalam literatur hadis, ‘hadis’ mempunyai makna sebuah laporan tentang apa yang dahulunya telah dikatakan atau dibuat-buat oleh Nabi Muhammad. Dengan demikian, walaupun hadis pada dasarnya merujuk kepada amalan Nabi, tetapi juga memiliki makna yang sama.[1] Sebagiannya secara terang-terangan bertentangan dengan ajaran al-Qur’an dan bukan berasal dari Nabi, bahkan merupakan rekayasa dari musuh-musuh Islam untuk menyesuaikan mereka dari ajaran yang sebenarnya.

Hadis menurutnya juga ialah perkataan dan perbuatan Nabi di luar al-Qur’an tetap ada. Misalnya, Piagam Madinah ini adalah ijtihad Nabi untuk mendirikan kota Madinah yang berdasarkan ajaran-ajaran Tuhan. Tetapi kebanyakan yang dikatakan dalam kitab Bukhari dan seterusnya, sebagiannya secara terang-terangan bertentangan dengan ajaran al-Qur’an dan bukan berasal dari Nabi, bahkan merupakan rekayasa dari musuh-musuh Islam untuk menyesatkan mereka dari ajaran yang sebenarnya.

Beberapa sarjana hadis modern, berusaha untuk membuktikan bahwa hadis sudah dicatat semasa Nabi masih hidup, kemudian dihafal dari suatu generasi ke generasi yang lain sampai abad kedua hijriyah hingga dilakukannya kodifikasi secara resmi. Hadis sebenarnya sudah muncul beberapa decade dan dikumpulkannya secara resmi dua setengah abad kemudian, bukan atas perintah Nabi, tetapi oleh sebab-sebab lain yang melarang untuk mencatat hadis. Ahl al-Hadis mengatakan terdapat juga larangan mencatat hadis oleh Nabi karena khawatir bercampur-aduknya hadis dengan al-Qur’an. Namun menurut mereka, kemudian larangan ini dibatalkan. Ada sebuah sumber sejarah yang menyatakan bahwa khalifah Abu Bakar pernah membakar catatan hadis karena khawatir hadis-hadis itu tidak benar. Khalifah Umar juga telah membatalkan rencananya untuk mengoleksi hadis karena khawatir umat Islam akan berpaling dari al-Qur’an pada hadis.[2]

Kassim Ahmad menonjolkan Imam Syafi’i seolah-olah sebagai pencipta tunggal buku fiqh dengan menunjukkan kesalahfahaman pengertian tentang fiqh Islam dan melalui pendekatan sejarah pun tidak terlihat fakta sejarah secara totalitas, melainkan dari segi kelemahannya saja. Sehingga menimbulkan kesimpulan yang kurang adil terhadap hadis shahih yang hanya diklaim sebagai palsu, bid’ah, khurafat dan tradisi jahat yang harus dibuang meskipun diakui sebagai sejarah. Namun Kassim Ahmad tidak mengakui hadis sebagai suatu ajaran. Ini karena pendekatan yang didahului dengan rasa su’udzon sehingga hasilnya sangat subjektif. Beliau mengajarkan kritikan dari penentang teori Syafi’i mengenai teori keselarasan hadis, dalam uraiannya yang agak berbelit-belit, hadis tidak boleh bertentangan dengan al-Qur’an atau hadis dengan hadis. Jika terdapat pertentangan antara hadis dengan hadis, ini hanyalah lahiriyah saja. Kenyatannya dengan teori ini tidak dapat menyelamatkan hadis. Singkatnya, Nabi sebagai utusan tuhan yang harus ditaati secara muthlak atas perintahnya mempunyai kuasa untuk menjelaskan hal-hal yang dinyatakan secara umum dalam al-Qur’an. Dengan demikian, tidak ada pertentangan antara hadis dengan al-Qur’an. Kadangkala keliahatan bertentangan karena keadaan yang berbeda atau karena laporan yang tidak lengkap dan kontradiksi yang sebenarnya tidak ada. Syafi’i tidak memberikan contoh dengan jelas untuk membuktikan teori keselarasan hadisnya yang diuraikan hanyalah apa yang dikatakan oleh ahl al-Hadis.

Misalnya mengenai hukuman zina di mana hukuman dalam al-Qur’an bertentangan dengan hukuman dalam hadis.[3] Sebagaimana dalam QS. al-Nur: 2. Sedangkan dalam hadis adalah: Syafi’i menjelaskan kontradiksi ini dengan mengatakan hadis Rasul menentukan hukuman dera seratus kali untuk pezina yang belum menikah disahkan, tetapi dimansuhkan untuk yang telah menikah dan hukuman rajam untuk pezina yang sudah menikah disahkan. Ini jelas terbukti hadis bertentangan dengan hukum al-Qur’an dan hadis berfungsi untuk menguatkan dan membatalkan hukum al-Qur’an. Yang aneh adalah di tempat lain syafi’i tidak membenarkan hadis membatalkan al-Qur’an dan al-Qur’an yang boleh membatalkan hadis. Beliau menegaskan hanya bahwa al-Qur’an yang boleh membatalkan al-Qur’an dan hanya hadis boleh membatalkan hadis. Di sini jelas bahwa teori keselarasan hadisnya tidak bisa dijadikan hujah.[4]

Latar Belakang kemunculan Kassim Ahmad dalam Menilai Hadis

Pada latar belakang pendidikan, dapat diketahui bahwasanya beliau adalah sarjana sosial. pada tahun 1985 beliau tertarik untuk mengkaji hadis setelah terpengaruh oleh bukunya Rashad Khalifa “The Computer Speaks” dan “Qur’an, Hadith and Islam” yang secara ilmiah membuktikan bahwa al-Qur’an, lengkap, terperinci sehingga manusia tidak lagi memerlukan penjelasan dari hadis. Beliau mengkaji hadis kurang lebih selama tiga bulan sehingga beliau yakin kalau hadis menyimpang dari ajaran Nabi Muhammad dan tertolak sama sekali.[5]

Beliau mempelajari hadis dikarenakan adanya rasa su’udhan terhadap hadis dan meragukan validitas hadis yang diusahakan para ahl al-Hadis dengan metode ilmiah yang cukup relevan. Beliau menerapkan metode generalisasi sebagaimana berlaku dalam perhatian social karena banyaknya hadis palsu yang beredar pada akhir abad kedua dari awal abad ketiga hijriyah akibat situasi politik yang kurang menguntungkan, maka hadis shahih yang dikodifikasikan pada waktu itu semuanya dianggap palsu. Beliau mengkaji hadis selama delapan bulan saja, padahal menurut beliau kajian ini sepatutnyalah memerlukan waktu kurang lebih dua tahun.

Dalam buku Hadis Satu penilaian Semula, pada pendahuluan disebutkan bahwa latar belakangnya adalah:

ü Pengumpulan Kutub al-Sittah baru terjadi pada akhir abad kedua dan permulaan abad ketiga Islam (antara 200-250 tahun) setelah wafatnya Nabi
ü Adanya teori Imam Syafi’i tentang sunnah umat Islam diterima sebagai penjelas al-Qur’an yang kemudian dikenal sebagai ijma’ ulama
ü Taqlid terhadap pemikiran Rasyad Khalifa
ü Penyebab umat Islam menjadi lemah dibanding yang lain itu karena perpecahan yang terjadi dalam intern
ü Adanya salah faham dari pengkritik kajiannya

Kassim Ahmad Menolak Teori Ahli Hadis
Menurut Kassim Ahmad, Ahl al-Hadis yang muncul pada abad kedua hijriyah setelah lebih seratus tahun Nabi wafat, hadis mendapat kedudukan dan perannya dari al-Qur’an karena hadis tidak punya kedudukan dalam al-Qur’an. Ia tertolak dengan sendirinya. Di sini ada empat alasan mengenai hal tersebut:

1. Hujjah sunnah merupakan wahyu

Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah QS. al-Baqarah: 129

رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آَيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Dari ayat di atas, Syafi’i menafsirkan perkataan “hikmah” sebagai hadis Nabi yakni setelah Nabi membacakan ayat-ayatnya kemudian itu mengajarkan kitab al-Qur’an dan hikmah yaitu rahasia dan faedah syari’ah yang terkandung dalam al-Qur’an yang akhirnya merupakan penjelasan al-Qur’an yang berupa hadis Nabi. Jika artinya sama, tidak perlu lagi disebut beriringan. Sedangkan hikmah yang diartikan sengaia ‘bijaksana’ hanya disebut secara terpisah. Sebagaimana dalam kitabnya al-Risalah. Hal ini Kassim Ahmad menganggap al-hikmah sebagai salah satu nama al-Qur’an seperti al-Isra’: 39 dan perkataan hikmah atau hakim dengan maksud bijaksana seperti dalam QS. Ali Imran: 58, QS. Yasin: 1-2, QS. al-Zukhruf: 1-4 dan lain-lain.[6]

Perkataan sunnah dan hadis menurut Kassim Ahmad seperti dalam QS. al-Fath: 23, QS. al-Tahrim: 3, QS. al-Jasiyah: 6, QS. al-Zumar: 23, QS. al-Waqi’ah: 77-81, QS. al-Mukminun: 39, QS. Luqman: 6. Semuanya tidak merujuk kepada perkataan atau perbuatan Nabi. Hal ini didasarkan pada firman Allah QS. al-Najm: 3-4
وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى (3) إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى (4)

Ayat di atas menjelaskan bahwa yang diucapkan di sini adalah merujuk kepada proses wahyu, bukan perkataan Nabi. Segala ucapan religius senanatiasa di bawah bimbingan Tuhan karena Rasul tidak boleh mengajarkan yang salah. Kalaupun ada yang salah, maka Tuhan akan menegurnya seperti dalam QS. ‘Abasa: 1-10 dan QS. al-Ahzab: 37.

2. Hujjah kepada Rasul berarti berpegang teguh pada hadis

Teori ini berkaitan dengan perintah Tuhan supaya orang mukmin mentaati Rasul, tetapi Kassim Ahmad malah menafsiri sebagai berpegang pada hadis. Seperti dalam QS. al-Nisa’: 59

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

Pada surat di atas, ahl al-hadis menjelaskan bahwa pendapat mereka terhadap hadis sebagaimana yang dikemukakan oleh pendukung hadis. Pertama, Nabi harus diikuti tanpa syarat, baik sebagai Rasul maupun sebagai pemimpin dan hakim. Kedua, patuh kepada Rasul berarti taat kepada Allah dan risalah yang dibawa oleh Rasul yakni al-Qur’an, tugas Rasul hanyalah menyampaikan wahyu dan Tuhan datang kepada manusia yang diwakili oleh Rasulnya.[7] Ada ayat al-Qur’an yang menyuruh manusia tunduk sepenuhnya kepada Tuhan yang berbunyi pada QS. al-Zumar: 54:

وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ

3. Hujjah Nabi sebagai penafsir al-Qur’an

Ahl al-Hadis meyakini bahwa Muhammad sebagai Nabi bukan hanya menerima dan menyampaikan wahyu saja tetapi juga menjelaskan wahyu. Penjelasannya dapat diperoleh dari hadis. Tanpa hadis, umat Islam tidak dapat memahami dan menjalankan perintah Tuhan. Jika keterangan Nabi terhadap hal-hal yang mujmal tidak terpelihara, niscaya nas-nas al-Qur’an tidak dapat digunakan lagi. Dengan demikian, akan gugurlah sebagian nas-nas al-Qur’an yang wajib diikuti dan kita tidak dapat mengetahui maksud Allah.

Akan tetapi, menurut Kassim Ahmad yang dimaksusdkan adalah tugas Nabi sebagai pemimpin dalam konsep Ulil Amri. Mustahil Nabi bisa melaksanakannya secara muthlak yang berlaku untuk sepanjang zaman karena al-Qur’an adalah ilmu Tuhan yang penafsirannya hanya dapat dicapai sedikit demi sedikit melalui kajian saintifik dan pemikiran rasional dalam jangka waktu yang panjang.[8]

Dalam membela paham Inkar al-Sunnah ini, Kassim Ahmad membuat keterangan yang lebih mengacaukan lagi. Menurut dia, ibadah-ibadah agama, salat, puasa, zakat, haji telah diajarkan Tuhan kepada Nabi Ibrahim dan pengikut-pengikutnya dan diturunkan dari mereka kepada generasi demi generasi sampai kepada Nabi Muhammad dan pengikut-pengikutnya. Menurutnya, orang Arab juga telah melakukan salat sebelum Muhammad. Hal ini didasarkannya kepada ayat al-Qur’an, “Shalat mereka di rumah suci tidak lain daripada penipuan dan kesesatan.” Keterangan Kassim Ahmad ini berarti bahwa salat yang diwajibkan kepada kaum Muslim sama persis dengan shalat yang diwajibkan kepada Nabi Ibrahim dan juga orang Arab sebelum kebangkitan Nabi Muhammad saw. Sementara Kristen Ortodok Syiria sendiri men-klaim salatnya tujuh kali sehari semalam. Mereka juga ada rukuk dan sujudnya walaupun bentuknya sedikit berbeda dengan yang diwariskan Nabi saw. Misalnya, ketika rukuk, mereka meletakkan telapak tangannya di kening. Sekiranya Kassim Ahmad benar dalam klaimnya bahwa salat sudah ada sebelum Islam, cara yang mana yang benar. Setidaknya sekarang sudah ada tiga cara salat. Salat versi Nabi, versi Inkar Sunnah, dan versi Kristen Ortodok Siria. Di kalangan Inkar Sunnah juga ada versi lima kali dan ada versi tiga kali saja. Bahkan, salat versi Kassim Ahmad bebas. Untuk memilih satu atau yang lain dari versi-versi yang berbeda ini apa landasannya. Keterangan al-Qur’an sifatnya umum, tidak mendetail. Bagi kaum Muslim landasannya jelas keterangan hadis Nabi saw. Bagi Inkar al-Sunnah tentunya pikiran dan hasil musyawarah sebagaimana yang dilakukan kelompok Inkar Sunnah di Jakarta. Ketentuan salat seperti ini adalah filsafat, bukan agama. Yang dinamakan ibadah itu adalah perbuatan yang ditentukan Allah. Untuk merespon hal ini Kassim Ahmad membuat keterangan tambahan. Setelah menerangkan dengan yakin bahwa salat itu berpunca dari amalan Nabi Ibrahim yang diwariskan kepada generasi-genarasi sesudahnya, Kassim Ahmad mengatakan bahwa namun demikian al-Qur’an juga menyatakan beberapa perincian kaedah salat.

Karena itu, Kassim Ahmad harus memutar logika lagi pada penjelasannya selanjutnya. Ini merupakan ketarangan puncak dan final tentang cara shalat di kalangan Inkar al-Sunnah. Bahkan, dapat dikatakan bahwa inilah kesimpulan dari seluruh pemahaman ibadah dan agama menurut Inkar al-Sunnah. Karena itu, analisis terhadap masalah salat versi Inkar al-Sunnah ini dikemukakan agak panjang agar dapat dijadikan tolok ukur kerangka berpikir Inkar al-Sunnah secara keseluruhan. Memang kelompok Inkar al-Sunnah selalu berpegang kepada ayat-ayat yang bersifat umum dan mengeksploitasi maknanya kepada hal-hal yang bersifat detail. Dalam QS. al-Baqarah yang dikemukakannya sendiri disebutkan bahwa melaksanakan shalat dan zakat.

Perintah shalat dan ketentuannya seperti yang dilakukan umat Islam sekarang, tidak diterima oleh Nabi ketika isra’ mi’raj, tetapi diajarkan secara terperinci oleh Nabi Ibrahim. Bahkan ibadah puasa, zakat, dan haji diajarkan oleh Tuhan kepada Nabi Ibrahim kemudian diwarisi dari generasi ke generasi yang lain sehingga sampai kepada Nabi Muhammad dan pengikutnya.[9]

Menurut Kassim Ahmad, ada dua hikmah Tuhan tidak merincikan bentuk dan ketentuan shalat dalam al-Qur’an. Pertama, karena ketentuan ini telah diajarkan kepada Nabi Ibrahim dan pengikutnya, kemudian diikuti oleh umat Nabi Muhammad. Kedua, karena bentuk dan ketentuan shalat tidak begitu penting dan Tuhan ingin memberikan keringanan kepada umat Nabi Muhammad untuk melakukan shalat dalam keadaan apa saja seperti dalam perjalanan jauh, dalam peperangan, sakit atau di ruang angkasa mengikuti cara yang sesuai.[10]

4. Hujjah Nabi sebagai Uswatun Hasanah

Menurut ahl al-hadis, Nabi merupakan suri tauladan yang baik bagi umat Islam dan ini perlu diikuti dengan berpegang pada hadis Nabi. Sebagaimana dalam firman Allah QS. al-Ahzab: 21

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآَخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Menurut Kassim Ahmad, jika melihat pada konteks ayat di atas ternyata tidak merujuk pada setiap gerak-gerik dan kelakuan Nabi dapat dibuktikan dengan penggunaan ungkapan yang serupa dua kali untuk Nabi Ibrahim yang berpegang teguh kepada agama tauhid sebab tingkah laku dan gerak-gerik itu dipengaruhi oleh faktor budaya, situasi, dan kondisi dimana orang itu hidup, akan tetapi hal tersebut merujuk kepada keyakinan Nabi akan pertolongan dan kemenangan Tuhan. Ungkapan Uswatun Hasanah di situ berarti pegangan, pendirian, dan perjuangan.[11]

Kassim Ahmad dalam mengkritik hadis bersumber pada fakta sejarah bahwa ketika Nabi wafat pada II hijriyah (632H), al-Qur’an yang diturunkan oleh Allah melalui perantaraan jibril kepada Muhammad telah tercatat dan disusunnya di bawah arahan wahyu dan Tuhan telah menegaskan dalam al-Qiyamah: 17

إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآَنَهُ

Tetapi sebaliknya, catatan hadis yang bersumber dari Nabi seperti yang dilakukan olehnya terhadap al-Qur’an tidak ada. Sedangkan hadis-hadis shahih yang dikumpulkan Bukhari dan Muslim khususnya tidak lebih dari pendapat mereka sendiri. Inilah penyebab kontroversi yang tidak berkelanjutan mengenai hadis dan itu hanyalah dugaan dan sangkaan sebagaimana yang telah diucapkan oleh Nabi. Singkatnya, perkataan Nabi tidak bisa diyakini kebenarannya melainkan hanya al-Qur’an saja yang bisa diyakini kebenarannya dari Tuhan.[12]

Menurut Kassim Ahmad, kebanyakan hadis muncul pada masa tabi’in dan tabi’ al-tabi’in yaitu empat puluh atau lima puluh tahun setelah kewafatan Nabi dan kritik isnad berawal satu setengah abad setelah periwayat pertama, kedua, dan ketiga tidak dapat ditelusuri hingga sampai kepada Nabi. Menurut beliau juga, ahl al-hadis mengatakan bahwa mereka itu hanya merekayasa atau hanya mengada-ada. Di samping itu, ahl al-hadis telah mempertahankan keadilan para sahabat melalui konsep ta’dil, yakni pada akhir abad ketiga dan awal abad keempat hijrah. Mereka menganggap bahwa para sahabat terpelihara dari kesalahan ketika mereka meriwayatkan dan mendengar langsung dari nabi. Menurutnya, ini sangat tidak tepat dan menyalahi ketentuan ilmiah. Dengan demikian, kritik hanya pada isnad saja tidak memadai tetapi juga perlu kritikan pada matan. Hadis yang sanadnya sempurna tetapi matannya cacat harus dinilai sebagai hadis yang lemah dan tidak bisa dijadikan hujjah.

Kritik Hadis Ala Kassim Ahmad
Menurut Kassim Ahmad, kelemahan umum yang terjadi pada hadis adalah pernyataan bahwa hadis itu merupakan terkaan atau perkiraan terhadap apa yang telah dilakukan dan diucapkan Nabi. Hadis merupakan pendapat manusia yang tidak terjamin kebenarannya, berbeda dengan al-Qur’an yang telah dijamin kebenarannya oleh Tuhan.[13]

Menurutnya, kelemahan hadis dari segi matan dapat dianalisa dari tiga arah, yaitu: dari arah kontradiksi tidaknya dengan al-Qur’an, sejarah, serta analisis ilmu pengetahuan dan akal sehat.[14] Dari pendapatnya ini dapat ditarik kesimpulan bahwa syarat-syarat hadis shahih yang dapat diterima adalah lebih menekankan dari segi matan, tidak boleh bertentangn dengan al-Qur’an, harus sesuai dengan fakta sejarah, serta sejalan dengan dengan ilmu pengetahuan dan akal sehat. Selain itu beliau juga mengkritik tentang lemahnya kritik isnad yang dilakukan oleh ulama hadis, ini terlihat pada penilaian tentang ta’dil sahabat, di mana para ulama hadis menilai bahwa sahabat itu terpelihara dari kesalahan dalam menyampaikan hadis Nabi, dalam artian keadilan para sahabat tidaklah diragukan lagi (hal yang sangat mustahil sahabat melakukan kebohongan), menurut beliau konsep seperti ini tidak dapat diterima dan menyalahi kaidah saintifik.[15]

Bagaimanapun cara Kassim menilai hadits-hadits adalah berlainan sekali dari cara-cara yang ditempuh oleh para ahli hadis. Hadis yang benar menurutnya ia hadis-hadis yang tidak mengikat kita, yakni hadis-hadis yang tidak bersifat hukum. Hadis yang bersifat ini "boleh juga" dianggap sebagai hadis. Dengan menggunakan kata-kata "boleh juga" Kassim seungguhnhya telah memperlihatkan pertentangan yang mengamuk dalam pikirannnya. Sebenarnya ia berpendirian muthlak bahwa semua hadis tidak benar atau "ajaran palsu yang dikaitkan dengan Nabi Muhammad SAW".[16] Tetapi hati kecilnya tidaklah dapat menolak kebenaran hadis-hadis yang berbentuk piagam, perjanjian atau surat- surat. Oleh karena itu ia memaksakan kompromi di antara kedua kekuatan yang berkecamuk dalam pikirannya dengan merumuskan bahwa hal-hal itu "boleh juga" dianggap hadis. Tetapi hadis-hadis yang bersifat hukum yang mengikat umat Islam ia tolak mentah-mentah.[17]

Penilaian yang dilakukan Kassim Ahmad membuahkan makna, bahwasanya diantara apa-apa yang dikatakan oleh Nabi Muhammad SAW ada juga yang benar seperti hal-hal yang menyangkut sejarah, perjanjian, piagam atau surat-surat. Akan tetapi disamping itu ada juga yang dikatakan beliau itu sebenarnya adalah kepalsuan seperti hal-hal yang berkaitan dengan hukum dan kehidupan orang banyak. Bagi Kassim yang menjadi ukuran adalah kepentingan manusia, dimana perkataan-perkataan Rasulullah SAW yang akan mengikat manusia adalah hadits-hadits palsu. Dengan demikian bagi Kassim diri pribadi Muhammad SAW tidaklah menjadi hitungan dan pertimbangannya dalam menentukan benar tidaknya suatu Hadits. Sebaliknya, bagi ahli-ahli Hadits diri pribadi beliau adalah merupakan faktor yang menentukan. 

Adalah merupakan suatu ajaran pokok dalam Islam bahwa Nabi Muhammad SAW adalah manusia suci tanpa cela, sebagaimana juga halnya dengan semua nabi-nabi lainnya yang mendahului beliau. Beliau tentu saja tidak akan pernah mengatakan suatu hal yang tidak benar atau kebohongan. Oleh karena itu tugas yang dilakukan ahli hadits ialah memeriksa semua perkataan Rasulullah SAW yang disebutkan sebagai hadis. Kalau suatu hadis betul-betul bersumber dari beliau, maka hadis itu adalah benar. Tetapi kalau suatu hadis tidak berasal dari beliau, maka hadis itu adalah palsu. Dalam hal ini tidaklah ditentukan atau dipersoalkan apakah hadis itu berkaitan dengan hukum, sejarah, perjanjian, surat-surat ataupun nubuwat.

Suatu hal lain yang tersirat dalam kutipan Kassim Ahmad itu ialah bahwa nilai-nilai hadis itu baginya hanyalah merupakan bahan kajian untuk mengetahui apa-apa yang terjadi di masa Rasulullah SAW. Sedangkan bagi ahli-ahli hadis yang berdaya upaya meneliti dan menyelidiki hadis-hadis adalah untuk diterapkan dalam kehidupan manusia Muslim, sejalan dengan sifat dan tujuan hadis itu sendiri. Pendek kata bagi Kassim hadis-hadis itu hanya merupakan konsumsi otak belaka, sedangkan bagi ahli hadis dan orang-orang Islam umumnya hadis-hadis itu merupakan busana yang dikenakan dalam menjalani kehidupan rohani. Dengan demikian terdapat perbedaan siang dan malam diantara pendapat-pendapat ahli hadits dan Kassim Ahmad. 

Menurutnya, menolak hadis bukan berarti hadis harus dibakar, akan tetapi buku hadis tetap ada dan hanya menjadi sebuah catatan sejarah sebagaimana buku sejarah yang lain. Akhirnya menurut beliau yang menjadi pedoman dalam kehidupan umat Islam hanyalah al-Qur’an, namun demikian kita boleh membaca buku-buku hadis dengan syarat kita tidak boleh menerima sesuatu yang kontradiksi dengan al-Qur’an, sejarah, kenyataan, sains dan akal. Walaupun akhirnya beliau membolehkan menerima sesuatu ide yang baik dari hadis karena Kassim sendiri mengakui bahwa ada banyak saran dan ada yang baik dalam hadis. sebab salah satu alasan timbulnya pemalsuan hadis karena alasan amr ma’ruf dan nahi munkar.[19]

Pada umumnya pemikiran Kassim tentang hadis telah memberikan kesan negatif terhadap masyarakat Islam khususnya Malaysia. Sebenarnya dengan keberaniannya yang menonjol yaitu keraguan keotentikan hadis, apakah benar-benar bersumber dari Nabi Muhammad saw telah membuat keributan sebagian ulama Islam dan masyarakat Malaysia. Hal ini disebabkan karena beliau adalah seorang muslim akan tetapi tidak meyakini hadis sebagai sumber kedua dari hukum Islam, karena itu maka tak heran apabila beliau diklaim oleh sebagian besar ulama sebagai Inkar al-Sunnah, dan terlebih lagi beliau dianggap ‘murtad’ oleh masyarakat Malaysia.

Kesimpulan
Kassim Ahmad, seorang sarjana muslim Malaysia yang dikenal sebagai ‘anti hadis’. yang mengaku dirinya muslim dan mencintai agama Islam, tapi tidak meyakini hadis bersumber dari Nabi dan menolak hadis sebagai sumber hukum Islam.

Kassim Ahmad berpendapat bahwa umat Islam telah meninggalkan Al-Qur'an dan menggantinya dengan hadis dan Sunnah. Karena mereka menjadikan hadis sebagai sumber hukum Islam yang kedua. Padahal menurut Kassim sendiri al-Qur’an sudah lengkap sehingga tidak perlu adanya penjelasan dari sumber yang lain. Akan tetapi beliau menerima hadis meskipun pada batas-batas tertentu. Tugas Nabi Muhammad semata-mata hanya menyampaikan al-Qur’an dan tidak lebih dari itu.

Demikianlah isi paparan makalah kami. Dengan segala kerendahan hati, penulis sadar kalau makalah ini sangat jauh untuk dikatakan sempurna, baik tentang pemahaman kami yang kurang maupun data informasi yang kami peroleh setelah sedikit melakukan pengenalan akan biografi Kassim Ahmad beserta pemikirannya tentang hadis. Patutlah makalah ini sebagai wujud awal dari pembelajaran kami sehingga untuk memperoleh data yang lebih komperhensif seharusnyalah kita lebih mengorek lebih kajian di dalamnya. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun guna evaluasi makalah mendatang.

Daftar Pustaka
Ahmad, Kassim. 1986. Hadis Satu Penilaian Semula. Malaysia: Media Intelek SDN BHD

CD ROM al-Maktabah al-Syamilah

Depag RI, al-Hikmah. 2006. Al-Qur’an dan Terjemahnya. Bandung: Diponegoro

Muchtar, Abdul Choliq. 2004. Hadis Nabi dalam Teori dan Praktek. Yogyakarta: TH-Press




0 Response to "Biografi dan Pemikiran Kassim Ahmad dalam Hadis"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!