Biografi dan Pendidikan Muhammad Rasyid Ridha

Advertisement

Biografi dan Pendidikan Muhammad Rasyid Ridha

Sayyid[1] Muhammad Rasyid Ridha[2] dilahirkan di Qalmun, suatu kampung sekitar 4 km dari Tripoli, Lebanon, pada 27 Jumadil ‘Ula 1282 H. Dia adalah seorang bangsawan Arab yang mempunyai garis keturunan langsung dari Sayyidina Husain, putra Ali bin Abi Thalib dan Fatimah putri Rasulullah SAW.

Keluarga Ridha dikenal oleh lingkungannya sebagai keluarga yang taat beragama serta menguasai ilmu-ilmu agama, sehingga mereka juga dikenal dengan “syaikh”. Salah seorang kakek Rasyid Ridha, yaitu Sayyid Syaikh Ahmad, sedemikian patuh dan wara’-nya sehingga seluruh waktunya hanya digunakan untuk membaca dan beribadah, serta tidak menerima tamu kecuali sahabat-sahabat terdekat dan ulama’, itu pun terbatas pada waktu-waktu tertentu. Ketika Rasyid Ridha mencapai umur remaja, ayahnya telah mewarisi kedudukan, wibawa, serta ilmu sang nenek sehingga Rasyid Ridha banyak terpengaruh dan belajar dari ayahnya, sebagaimana yang ditulis olehnya dalam buku hariannya yang dikutip oleh Ibrahim Ahmad Al-‘Adawi:

Biografi Muhammad Rasyid Ridha

“ ketika saya mencapai umur remaja, saya melihat di rumahkami pemuka-pemuka agam Kristen dari Tripoli dan Lebanon. Bahkan saya lihat pula pendeta-pendeta, khususnya pada hari-hari raya. Saya melihat ayahku rahimahullah berbasa-basi dengan mereka sebagaimana beliau berbasa-basi dengan para pemuka-pemuka masyarakat Islam. Ayahku menyebut apa yang beliau ketahui tentang kebaikan-kebaikan mereka secara obyektif, tetapi tidak dihadapan mereka. Ini adalah salah satu sebab mengapa saya menganjurkan untuk bertoleransi serta mencari titik temu dan kerja sama antara semua penduduk negeri atas dasar keadilan, kebijakan yang dibenarkan oleh agama, demi kemajuan negara”[3]. 

Pendidikan Muhammad Rasyid Ridha

Disamping orang tuanya sendiri, Rasyid Ridha juga memperdalam ilmunya kepada sekian banyak guru. Taman-taman pendidikan, yang ketika itu dinamai al-Kuttab, menjadi tempat pembelajaran dimasa kecilnya, disana diajarkan membaca al-Qur’an, menulis, dan dasar-dasar menghitung. Setelah tamat, Ridha melanjutkan pendidikannya di madrasah Ibtidaiyah di Tripoli (Lebanon) yang mengajarkan Nahwu, Sharaf, Aqidah, Fiqh, berhitung, dan ilmu bumi. Saat proses pembelajaran, bahasa pengantar yang digunakan adalah bahasa Turki dan mereka disiapkan untuk menjadi pegawai-pegawai pemerintah. 

Setahun kemudian, yaitu pada tahun 1299 H/1822 M, Rasyid Ridha pindah ke sekolah Islam Negeri yang merupakan salah satu sekolah terbaik pada saat itudan menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa pengantar selain bahasa-bahasa yang lain. Sekolah ini didirikan dan dipimpin oleh seorang ulama’ besar Syam ketika itu, yaitu Syaikh Husain Al-Jisr. Syaikh inilh yang kemudian mempunyai andil besar terhadap pola pemikiran Ridha, karena hubungan antara keduanya tidak terhenti meskipun kemudian sekolah itu ditutup oleh pemerintah Turki. Syaikh Husain juga memberikan kesempatan kepada Ridha untuk menulis di beberapa surat kabar di Tripoli, kesempatan itulah yang kelak mengantarkannya memimpin majalah Al-Manar.

Pada tahun 1314 H/1897 M, Syaikh Al-Jisr memberikan kepada Rasyid Ridha ijasah dalam bidang ilmu-ilmu agama, bahasa dan filsafat. Selain guru tersebut, Rasyid Ridha juga belajar pada guru-guru lain, walaupun pengaruh mereka kepadanya tidak sebesar pengaruhnya. Guru-guru tersebut antara lain:

1. Syaikh Mahmud Nasyabah, seorang ahli dalam bidang hadis yang mengajarkannya sampai selesai sehingga Ridha mampu menilai hadis-hadis yang dhaif dan maudhu’.
2. Syaikh Muhammad Al-Qawijiy, seorang ahli hadis yang mengajarkan salah satu kitab karangannya dalam bidang hadis.
3. Syaikh Abdul Ghani al-Rafi, guru yang mengajarkan sebagian kitab Nail al-Authar.
4. Al-Ustadz Muhammad al-Husaini; dan
5. Syaikh Muhammad Kamil al-Rafi. 

Selain mencari ilmu, Rasyid Ridha juga merupakan seorang yang mempunyai kepribadian alim dalam beribadah. Masjid tempat khalwat dan membaca kakeknya (Syaikh Sayyid Ahmad) dijadikan Ridha sebagai tempat belajar dan beribadah. Dalam buku hariannya Rasyid Ridha menulis:“Aku selalu berusaha agar jiwaku suci dan hatiku jernih, supaya aku siap menerima ilmu yang bersifat ilham, serta berusaha agar jiwaku bersih sehingga mampu menerima segala pengetahuan yang dituangkan kedalamnya”.[4] 

Ridha gemar membaca dan mempelajari kitab Ihya’ ‘Ulum al-Din karya al-Ghazali. Perbuatan inilah yang sangat mempengaruhi, jiwa, sikap dan tingkah lakunya. Ridha sangat berhati-hati dalam bersikap, ini dilakukan demi menjaga dirinya agar terjauh dan tidak hanyut dengan sifat-sifat yang tercela, beliau menjadi pemuda yang “nyufi” dalam kehidupan sehari-harinya, dan tarikat Naqsabandiyah dijadikan sebagai wadah dalam penguat spritualnya.

Pertemuan Rasyid Ridha dengan Muhammad Abduh

Pada saat Rasyid Ridha memulai perjuangan dakwahnya di kampung halamannya, baik melalui pengajian-pengajian maupun tulisan-tulisan, Muhammad Abduh sedang memimpin gerakan pembaharu di Mesir. Gerakan yang digagas oleh Abduh dan Jamaluddin al-Afghani menekankan perubahan-perubahan yang terjadi pada masyarakat islam melalui tulisan-tulisan yang diterbitkan oleh majalah Al-Urwah Al-Wutsqa. Majalah tersebut sampai ditangan Rasyid Ridha yang kemudian menjadikannya tertarik untuk membaca dan mengikuti alur pemikiran yang digagas di dalamnya. 

Kekagumannya kepada Muhammad Abduh bertambah mendalam sejak ia bertemu langsung pada pertama kalinya, yaitu ketika Syaikh Muhammad Abduh berkunjung ke Tripoli untuk menemui temannya Syaikh Abdullah al-Barakah yang mengajar di Al-Khanutiyah pada tahun 1885 H. pada saat itu juga Abduh sedang mengajar dan aktif dalam dunia tulis-menulis.

Pertemuan kedua terjadi pada tahun 1312 H/1894 M. Juga di Tripoli dan pada beberapa tahun kemudian yakni 1315 H/1898 H mempertemukannya kembali di Kairo Mesir. Setelah rangkaian pertemuan tersebut, Ridha mempunyai gagasan untuk menerbitkan suatu surat kabar yang mengelola masalah sosial, budaya, dan agama. 

Pada mulanya, gagasan tersebut tidak mendapat persetujuan dari Abduh, karena pada saat itu di Mesir sudah terdapat banyak surat kabar dan tema yang diusungpun dianggap tidak begitu menarik. Akan tetapi, dengan tekad yang begitu kuat, Rasyid Ridha akhirnya dapat menerbitkan surat kabar tersebut yang kemudian diberi nama Al-Manar pada 22 Syawal 1315 H/17 Maret 1898 M. 

Hubungan monologis maupun dialogis yang terjalin diantara Abduh dan Ridha sangat mempengaruhi pola pikir Ridha. Pembahuruan dan kebangkitan senantiasa disuarakan dan dijadikan semangat perjuangan oleh Ridha.

Selain tafsir Al-Manar, Muhammad Rasyid Ridha berhasil menulis beberapa karya ilmiah yang lain, diantaranya: Al-Sunnah wa Al-Syi’ah, Al-Wahdah Al-Islamiah, Haqiqah al-Riba, Risalatu Hujjah Al-Islam Al-Ghazali, Zikra al-Maulid al-Nabawi, Nida’ li Al-Jins Al-Lathif, Tarikh Al-Ustadz Al-Imam, Al-Azhar wa Al-Manar, Al-Hikmah Al-Syar’iah fi Muhakamat Al-Dadiriyah wa al-Rifa’iyah, dan sebagainya. 

Catatan Kaki

[1] Sayyid merupakan sebuah gelar yang pada permulaannya diberikan kepada semua yang mempunyai garis keturunan langsung dengan rasulullah. Pada perkembanganya, sayyid digunakan oleh kaum arab untuk memberikan julukan bagi ketua (ra’is) atau pemimpin (imam) suatu kebaikan. Seperti dikatakan sayyiduna, sayyidu qaum, dan sebagainya. Lihat : Ibnu al-Mandzur, Lisan al-Arab,(CD al-Maktabah al-Syamilah),juz III, hlm. 231. 

[2] Nama lengkapnya adalah Muhammad Rasyid bin Ali bin Ridha bin Muhammad bin Syamsyuddin al-Qalamuni. Lihat: Saiful Amin Ghafur, Profil Para Mufasir Kontemporer, (Yogyakarta: Pustaka Insan Madani, 2008), hlm. 145. 

[3] Ibrahim Ahmad al-Dahlawiy, Rasyid Ridha: al-Imam al-Mujahid, (Kairo: Mathba’ah Mishr, 1964) dalam M. Quraisy Syihab, studi kritis Tafsir Al-Manar, (Bandung: Pustaka Hidayah, 1994), hlm.60. 

[4] Ibrahim Ahmad al-Dahlawiy, Rasyid Ridha: al-Imam...hlm. 32.


0 Response to "Biografi dan Pendidikan Muhammad Rasyid Ridha"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!